Di Hari Bonus Tahunan Cair, Suamiku Mengirim Rp72 Juta kepada Sahabat Masa Kecilnya—Malam Itu Aku Menghentikan Satu Pembayaran yang Selama Ini Menjaga Nama Baiknya di Mata Seluruh Keluarganya
Bagian 1 — Selama Dua Tahun Aku Membayar Perawatan Ibunya, Sampai Satu Transfer Besar Membuatku Berhenti Menjadi Penyangga Keluarga yang Tak Pernah Diakui
Hari ketika bonus tahunan suamiku cair, aku sedang duduk sendirian di meja makan dengan dua notifikasi terbuka di layar ponsel.
Notifikasi pertama berasal dari aplikasi bank.
Transfer berhasil: Rp72.000.000.
Penerima: Laras Prameswari.
Notifikasi kedua datang tiga menit kemudian dari Pusat Rehabilitasi Lansia Melati Senja di Bekasi.
“Yth. keluarga Ibu Ratna Kusumawati, mohon melakukan pembayaran paket perawatan bulan Januari sebesar Rp12.450.000 sebelum tanggal 28 untuk menghindari penghentian layanan perawat khusus.”
Aku menatap dua angka itu cukup lama.
Rp72 juta untuk Laras.
Rp12,45 juta untuk ibu kandungnya sendiri.
Arga pulang hampir pukul sepuluh malam.
Ia masuk sambil menelepon seseorang, suaranya lembut dengan nada yang sudah lama tidak kudengar ketika berbicara denganku.
“Iya, Ras. Jangan dipikirkan terus. Yang penting sekarang kamu dan ibumu bisa bernapas dulu. Soal uang nanti saja.”
Begitu melihatku, ia menutup telepon.
“Aku mau menjelaskan sesuatu.”
Aku menyandarkan punggung ke kursi.
“Silakan.”
Arga menarik napas.
“Ayah Laras baru meninggal. Banyak utang keluarga yang harus dibereskan. Ibunya syok, adiknya masih kuliah. Aku nggak mungkin diam saja melihat mereka kesusahan.”
“Jadi bonusmu kamu kirim semua?”
Ia sedikit mengerutkan kening, seolah pertanyaanku terasa tidak nyaman.
“Bukan soal semua atau tidak semua, Nad. Mereka sedang benar-benar butuh.”
Aku mengangguk.
“Baik.”
Mungkin jawabanku terlalu pendek.
Arga malah terlihat waspada.
“Kamu marah?”
“Tidak.”
“Serius?”
Aku tersenyum tipis.
“Kalau menurutmu itu benar, lakukan saja.”
Wajahnya langsung lebih santai.
Ia bahkan mendekat dan menepuk bahuku.
“Aku tahu kamu pasti mengerti. Kamu selalu paling punya empati.”
Kalimat itu hampir membuatku tertawa.
Empati.
Selama dua tahun terakhir, kata itulah yang paling mahal dalam pernikahan kami.
Dua tahun lalu, Ibu Ratna terkena stroke ringan yang membuat kaki kanannya lemah. Setelah beberapa bulan tinggal bersama kami, kondisinya makin sulit ditangani tanpa bantuan profesional.
Arga sendiri yang mengusulkan pusat rehabilitasi lansia.
Namun setelah menemukan tempat yang menurutnya “cukup bagus untuk Mama”, praktis seluruh urusan diserahkan kepadaku.
Uang muka?
Aku yang transfer.
Jadwal fisioterapi?
Aku yang atur.
Obat rutin?
Aku yang cek.
Popok dewasa, susu tinggi protein, pakaian, kontrol ke rumah sakit, pemeriksaan darah, sampai biaya ambulans ketika tekanan darahnya naik tengah malam?
Aku juga.
Setiap bulan Arga selalu mempunyai alasan.
“Tagihan kartu kredit lagi besar.”
“Proyek kantor belum cair.”
“Aku habis bantu teman.”
“Nanti aku ganti.”
Aku percaya.
Bukan karena aku bodoh.
Aku hanya berpikir, perempuan yang sedang dirawat itu tetap ibu dari suamiku.
Dalam dua tahun, Arga datang menjenguk tidak lebih dari enam kali.
Namun setiap Lebaran, ketika keluarga besar bertanya tentang kondisi Ibu Ratna, Arga akan menjawab paling lantang.
“Mama dapat perawatan terbaik. Saya nggak mungkin pelit untuk orang tua.”
Semua orang memujinya.
Dan aku biasanya diam sambil mengiris buah di dapur.
Keesokan paginya, aku datang ke Melati Senja sebelum berangkat ke kantor.
Manajer administrasinya, Bu Hesti, mengenalku dengan baik.
“Mbak Nadira? Ada masalah dengan pembayaran?”
“Bukan.”
Aku meletakkan map di mejanya.
“Saya mau mencabut rekening saya dari pembayaran otomatis.”
Bu Hesti menatapku.
“Semua layanan?”
“Semua yang menggunakan rekening saya.”
Ia tampak bingung.
“Termasuk perawat khusus Ibu Ratna?”
“Termasuk.”
Tangannya berhenti di atas keyboard.
“Mbak, kalau paket perawat khusus dihentikan, keluarga perlu menyediakan pendamping lain. Ibu Ratna masih perlu bantuan untuk mandi, berpindah dari tempat tidur ke kursi roda, dan minum obat.”
Aku mengeluarkan secarik kertas.
Di sana sudah kutulis nomor Arga.
“Mulai sekarang, hubungi anak kandungnya.”
Bu Hesti diam beberapa detik.
Selama ini, nomor darurat fasilitas itu adalah nomorku.
Nomor kedua juga nomorku.
Bahkan ketika mereka membutuhkan persetujuan mendadak untuk pemeriksaan, mereka meneleponku.
“Mbak yakin?”
“Sangat yakin.”
Aku menandatangani formulir perubahan penanggung jawab.
Sebelum pergi, aku naik ke lantai dua.
Ibu Ratna sedang duduk di dekat jendela sambil menyuruh seorang perawat mengupas apel lebih tipis.
Melihatku, ia langsung berkata,
“Nadira, minggu lalu Mama bilang mau daster baru. Kok belum dibawakan?”
Biasanya aku akan menjelaskan bahwa pesanannya terlambat.
Hari itu aku hanya menjawab,
“Belum beli.”
Ia menoleh cepat.
“Kamu makin lama makin pelupa.”
“Mungkin.”
“Apa Arga sudah transfer biaya bulan depan?”
Aku menatapnya.
“Mulai bulan depan, semua biaya Mama langsung dibicarakan dengan Arga.”
Wajahnya berubah.
“Maksudmu?”
“Nomor penanggung jawab sudah saya ganti.”
Ia tertawa kecil.
“Baguslah. Memangnya dari dulu seharusnya begitu. Arga itu anak berbakti. Kalau bukan karena dia sibuk kerja, Mama juga nggak perlu bergantung sama kamu terus.”
Aneh.
Aku tidak marah.
Untuk pertama kalinya, kalimat itu justru terdengar seperti izin.
“Iya, Ma.”
Aku tersenyum.
“Mulai sekarang Mama tidak perlu bergantung pada saya.”
Malamnya, Arga menelepon ketika aku sedang memindahkan sebagian tabunganku dari rekening bersama ke rekening pribadiku.
“Nadira, kamu ngapain?”
Suaranya tinggi.
Aku tetap mengetik.
“Kenapa?”
“Melati Senja telepon aku tiga kali!”
“Bagus.”
“Mereka bilang pembayaran Mama belum masuk.”
“Benar.”
“Biasanya kamu yang bayar dulu.”
Aku berhenti mengetik.
“Biasanya.”
“Terus sekarang kenapa tidak?”
Aku memandang layar laptop.
“Karena kamu punya Rp72 juta untuk menolong keluarga orang lain. Aku pikir berarti kondisi keuanganmu cukup baik untuk membiayai ibumu sendiri.”
Telepon mendadak sunyi.
Beberapa detik kemudian ia berkata,
“Jangan kekanak-kanakan.”
Aku hampir tersenyum.
“Aku tidak sedang marah.”
“Kamu jelas sedang balas dendam.”
“Tidak. Aku cuma berhenti menalangi.”
Arga menghela napas kasar.
“Uang itu sudah diberikan ke Laras. Masa aku minta kembali setelah keluarganya berduka?”
“Itu urusanmu.”
“Kalau Mama sampai telantar bagaimana?”
Pertanyaan itu membuat dadaku terasa dingin.
Dua tahun aku mendengar versi berbeda dari kalimat yang sama.
Kalau obat Mama habis bagaimana?
Kalau kontrol Mama terlambat bagaimana?
Kalau perawatnya berhenti bagaimana?
Jawabannya selalu satu.
Nadira akan membereskan.
“Nggak akan telantar,” kataku. “Dia punya anak laki-laki.”
Arga mematikan telepon.
Aku meneruskan pekerjaanku.
Malam itu aku membuka catatan pengeluaran dua tahun terakhir.
Biaya pusat rehabilitasi.
Obat.
Perawat tambahan.
Transportasi.
Fisioterapi.
Kebutuhan pribadi.
Totalnya membuatku terpaku.
Rp284.730.000.
Dari jumlah itu, transfer Arga yang benar-benar masuk kepadaku bahkan tidak sampai seperempatnya.
Aku membuat satu folder baru.
Namanya sederhana.
“Pengeluaran Keluarga Arga.”
Semua bukti transfer, kuitansi, percakapan, dan invoice kumasukkan ke sana.
Pukul tujuh pagi dua hari kemudian, bel rumah berbunyi panjang.
Ketika pintu kubuka, sebuah kendaraan medis berhenti di depan pagar.
Dua petugas sedang menurunkan kursi roda.
Di atasnya duduk Ibu Ratna.
Wajahnya kusut.
Di belakangnya berdiri Arga.
“Melati Senja tidak mau memperpanjang paket tanpa pembayaran,” katanya tajam.
Aku membuka pintu lebih lebar.
Ia mendorong kursi roda ibunya masuk.
Lalu berkata seolah sedang mengumumkan keputusan kantor,
“Untuk sementara Mama tinggal di sini.”
Aku tidak menjawab.
Arga meneruskan,
“Aku sudah bilang ke keluarga bahwa kamu akan mengurus Mama sampai aku bisa cari perawat baru.”
Aku menatapnya.
Ia bahkan tidak terlihat malu.
“Kamu sudah bilang ke keluarga?”
“Iya.”
“Tanpa tanya aku?”
“Nadira, jangan bikin semuanya rumit. Pekerjaanku sedang gila-gilaan. Kamu kan jam kerjanya lebih fleksibel.”
Ibu Ratna ikut menyahut dari kursi roda.
“Perempuan kalau sudah menikah memang harus tahu prioritas.”
Aku masih diam.
Kemudian Arga mengeluarkan ponsel.
“Oh ya, besok Mama kontrol jam sembilan. Aku ada presentasi. Kamu antar, ya.”
Aku menatap laki-laki yang selama tujuh tahun kupanggil suami.
Lalu aku mengambil tas kerjaku dari kursi.
“Tidak bisa.”
Ia mengernyit.
“Maksudmu?”
“Besok aku bekerja.”
“Terus Mama bagaimana?”
Aku membuka pintu.
“Bukankah kamu anaknya?”
Arga menatapku seolah aku baru saja melakukan sesuatu yang tidak masuk akal.
Dan sebelum aku keluar, ia mengucapkan kalimat yang akhirnya menghancurkan sisa kesabaranku.
“Kalau perlu, ambil cuti tanpa dibayar. Aku sudah bilang ke Mama dan keluarga kalau kamu yang akan menjaga beliau bulan ini.”
Aku berhenti.
Menoleh.
Dan untuk pertama kalinya selama pernikahan kami, aku sadar satu hal yang sangat sederhana.
Arga bukan tidak tahu aku lelah.
Dia tahu.
Dia hanya yakin aku tidak akan pernah berani berhenti.
#DramaKeluarga #KisahRumahTangga #RahasiaPernikahan #CeritaKehidupan #KisahPerempuan
Bagian 2 — Ketika Ibunya Pulang dan Rumah Kami Berubah Jadi Medan Kekacauan, Suamiku Baru Menyadari Berapa Mahal Harga Kepedulian yang Ia Abaikan
Aku tetap berangkat kerja.
Pukul sembilan lewat dua puluh, Arga menelepon sebelas kali.
Tidak kuangkat.
Pukul sepuluh, pesan masuk.
“Mama terlambat kontrol.”
Lima menit kemudian:
“Perawat panggilan yang kamu biasa pakai nomor berapa?”
Lalu:
“Obat pagi Mama yang warna putih yang mana?”
Aku membaca semuanya saat jam istirahat.
Tidak kubalas.
Bukan karena ingin membahayakan Ibu Ratna.
Semua obat sudah tersusun dalam kotak mingguan dengan label yang dulu kubuat sendiri. Nomor dokter dan klinik juga tertempel di pintu kulkas.
Arga hanya tidak pernah memperhatikan.
Siang itu ia akhirnya membatalkan setengah hari kerja untuk mengantar ibunya.
Malamnya ia pulang dengan wajah kusut.
“Mama ngomel sepanjang perjalanan.”
Aku sedang makan.
“Oh.”
“Katanya mobilku terlalu rendah. Susah naik turun.”
Aku mengangguk.
“Memang.”
“Kenapa kamu nggak pernah bilang?”
Aku hampir tersedak nasi.
“Karena setiap kali aku bilang sesuatu tentang ibumu, kamu menjawab, ‘Kamu atur saja yang terbaik.’”
Ia terdiam.
Hari ketiga, seorang perawat rumahan datang.
Tarifnya Rp650 ribu per dua belas jam.
Arga langsung protes.
“Semahal ini?”
Aku menatapnya.
“Perawat di Melati Senja lebih murah karena paket bulanan.”
“Kenapa nggak ambil yang delapan jam?”
“Karena ibumu perlu bantuan malam.”
“Kalau kita yang gantian?”
Aku tersenyum.
“Silakan.”
Malam pertama Arga berjaga, Ibu Ratna memanggilnya lima kali.
Minta ke toilet.
Minta air hangat.
Mengeluh posisi bantal.
Menuduh remote televisi hilang.
Pukul tiga pagi terdengar suara Arga dari ruang tengah.
“Ma, tolong tidur!”
Ibu Ratna membalas lebih keras.
“Kamu baru satu malam sudah marah? Nadira dulu nggak pernah bentak Mama!”
Aku yang sedang berbaring di kamar hampir tertawa.
Pagi berikutnya Arga tertidur di sofa dengan laptop masih menyala.
Aku pergi bekerja tanpa membangunkannya.
Drama yang sebenarnya dimulai pada akhir minggu.
Seorang bibi Arga mengirim pesan di grup keluarga.
“Nadira, katanya Ratna sekarang pulang tapi kamu jarang di rumah? Suami sibuk cari nafkah, seharusnya istri membantu.”
Yang lain ikut menimpali.
“Kasihan Arga.”
“Dia dari dulu paling sayang ibunya.”
“Jangan sampai orang tua jadi korban masalah suami istri.”
Aku membaca semuanya.
Biasanya aku akan diam.
Kali ini aku membuka folder di laptop.
Lalu mengirim sebuah file PDF.
Judulnya:
“Biaya Perawatan Ibu Ratna — 24 Bulan.”
Tidak ada kata-kata kasar.
Tidak ada sindiran.
Hanya angka.
Tanggal.
Invoice.
Rekening pengirim.
Di halaman terakhir kutulis:
Total pengeluaran: Rp284.730.000.
Dibayar Nadira: Rp219.180.000.
Dibayar Arga: Rp65.550.000.
Grup mendadak sepi.
Hampir dua puluh menit tidak ada satu pun pesan.
Kemudian Pakde Hendra menulis,
“Ini benar?”
Aku menjawab,
“Semua kuitansi terlampir.”
Arga menelepon kurang dari semenit kemudian.
“Kamu sengaja mempermalukan aku?”
“Aku menjawab keluarga.”
“Kamu nggak perlu buka semua pengeluaran!”
“Mereka bilang aku tidak membantu.”
“Kamu bisa jelaskan secara pribadi!”
Aku tertawa kecil.
“Selama mereka memuji kamu di grup, kamu tidak pernah meminta mereka bicara secara pribadi.”
Ia langsung diam.
Malam itu ia tidak pulang sampai lewat tengah malam.
Aku tidak bertanya ke mana.
Keesokan siangnya, sebuah pesan Instagram masuk dari akun Laras.
“Nadira, maaf menghubungimu. Aku rasa ada sesuatu yang perlu kita luruskan.”
Aku membaca.
Pesan berikutnya membuat jantungku berhenti sesaat.
“Aku baru tahu uang yang Arga kirim ternyata sedang kalian butuhkan untuk ibunya.”
Aku mengetik singkat.
“Dia bilang uang itu untuk membantu keluargamu setelah ayahmu meninggal.”
Laras lama membalas.
Lalu muncul tiga titik.
Hilang.
Muncul lagi.
Akhirnya sebuah pesan masuk.
“Nadira, ayahku memang meninggal empat bulan lalu. Tapi Rp72 juta itu bukan untuk biaya pemakaman atau pengobatan ibuku.”
Aku duduk tegak.
“Untuk apa?”
Laras mengirim foto dokumen.
Bukti pembayaran uang muka sebuah kios kecil di daerah Cibubur.
Nama penyewa: Laras Prameswari.
Sumber pembayaran: Arga Pratama.
Aku membaca nominalnya.
Rp72.000.000.
Pesan Laras masuk lagi.
“Arga bilang dia mau ikut modal usaha kopi yang sedang aku bangun.”
Tanganku mulai dingin.
Kemudian Laras menambahkan,
“Dia juga bilang kamu sudah tahu.”
Aku menutup mata.
Ternyata bahkan cerita tentang keluarga berduka pun hanya setengah kebenaran.
“Ada lagi?” tanyaku.
Laras tidak langsung menjawab.
Beberapa menit kemudian ia mengirim tangkapan layar percakapan mereka.
Aku membaca pesan dari Arga.
“Uang rumah tangga aman. Nadira selalu bisa mengatur.”
Pesan berikutnya:
“Soal Mama juga jangan khawatir. Nadira pasti bereskan. Dia dari dulu memang begitu.”
Aku menatap layar lama sekali.
Namun tangkapan layar terakhir adalah yang paling menyakitkan.
Laras pernah bertanya,
“Kalau Nadira keberatan bagaimana?”
Dan Arga menjawab:
“Dia marah paling dua hari. Setelah itu juga kembali ngurus semuanya.”
Aku membaca kalimat itu tiga kali.
Bukan pengkhianatan uang yang membuat dadaku terasa kosong.
Bukan pula Laras.
Melainkan kenyataan bahwa selama ini suamiku mengenal kebaikanku dengan sangat baik—
lalu menjadikannya jaminan bahwa ia bebas melakukan apa saja.
Saat pintu rumah terbuka malam itu, aku sudah duduk di ruang tamu.
Laptop terbuka.
Semua bukti tersusun.
Arga masuk, melihat wajahku, lalu berhenti.
Aku memutar layar ke arahnya.
Foto kuitansi kios terpampang jelas.
Wajahnya langsung berubah.
Aku belum mengatakan apa pun ketika Ibu Ratna keluar dari kamar menggunakan kursi roda.
“Ada apa?”
Aku menatap Arga.
Kemudian menekan tombol untuk menampilkan tangkapan layar terakhir di layar televisi.
“Tidak ada, Ma.”
Aku tersenyum tipis.
“Saya hanya ingin mendengar langsung dari anak berbakti Mama, kenapa dia menganggap saya seperti rekening darurat yang tidak pernah bisa mengatakan tidak.”
Bagian 3 — Satu Bukti dari Bank Membongkar Kebohongan Terakhir, Lalu Aku Memilih Hidupku Sendiri Saat Semua Orang Berhenti Membela Suamiku di Depan Keluarga
Arga mencoba mematikan televisi.
Aku mengambil remote lebih dulu.
“Biarkan Mama baca.”
“Nadira, cukup.”
“Kenapa? Kamu malu?”
Ibu Ratna menyipitkan mata ke layar.
Ia membaca percakapan itu pelan-pelan.
Kemudian menoleh kepada anaknya.
“Kamu kasih tujuh puluh dua juta ke perempuan itu?”
“Bukan kasih, Ma. Investasi.”
“Terus biaya Mama?”
“Aku mau bayar.”
“Kapan?”
Arga tidak menjawab.
Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, Ibu Ratna tidak membelanya.
Ia menunjuk layar.
“Ini kamu sendiri yang bilang Nadira pasti bereskan?”
“Ma…”
“Kamu kira istrimu mesin ATM?”
Kalimat itu nyaris membuatku tertawa karena datang dari orang yang selama bertahun-tahun juga terbiasa memintaku membereskan semuanya.
Namun setidaknya malam itu, kenyataan sudah tidak bisa disembunyikan.
Arga duduk di sofa.
“Nadira, aku memang salah karena nggak cerita soal investasi. Tapi aku melakukan itu untuk masa depan. Laras punya konsep bagus. Kalau kedainya berkembang, kita juga dapat keuntungan.”
“Kita?”
Aku membuka dokumen yang dikirim Laras.
“Namamu tidak tercantum sebagai pemilik.”
Arga terdiam.
“Tidak ada perjanjian investasi.”
Aku menggulir halaman.
“Tidak ada persentase keuntungan.”
Kemudian kutatap dia.
“Yang ada cuma bukti kamu membayar uang muka kios atas nama Laras.”
Wajahnya memucat.
Rupanya bagian itu pun tidak ia pahami.
Laras telah mengatakan kepadaku bahwa Arga memang menyebut uang tersebut “modal”, tetapi tidak pernah meminta kontrak resmi.
Ia terlalu yakin pada hubungan masa kecil mereka.
Persis seperti ia terlalu yakin kepadaku.
Bedanya, aku sudah berhenti menjadi orang yang menanggung akibat dari kecerobohannya.
“Aku bisa urus,” katanya.
“Silakan.”
“Nanti Laras akan mengembalikan.”
“Silakan.”
“Kita nggak perlu membuat masalah ini lebih besar.”
Aku menutup laptop.
“Tidak ada lagi ‘kita’ dalam urusan keuanganmu.”
Aku lalu mengeluarkan dua lembar dokumen.
Pertama, rincian pembagian rekening bersama yang sudah kukonsultasikan dengan penasihat hukum.
Kedua, surat permohonan mediasi perceraian.
Arga langsung berdiri.
“Kamu mau cerai gara-gara tujuh puluh dua juta?”
Aku menatapnya.
“Bukan.”
“Terus?”
“Aku mau cerai karena selama bertahun-tahun kamu menjadikan tanggung jawabmu sebagai tugasku, lalu menjadikan kesabaranku sebagai alasan untuk terus melewati batas.”
Ia kehilangan kata-kata.
Ibu Ratna menatapku lama.
Mungkin ia baru menyadari bahwa kali ini aku benar-benar selesai.
Dua minggu berikutnya menjadi minggu paling kacau dalam hidup Arga.
Karena tidak ada lagi aku yang membayar diam-diam, ia harus mencari solusi nyata.
Ia menjual motor touring yang selama ini jarang dipakai.
Menghentikan beberapa pengeluaran pribadinya.
Ia juga meminta dua saudara perempuannya ikut menanggung biaya perawatan Ibu Ratna.
Awalnya mereka menolak.
Namun setelah melihat laporan biaya dua tahun yang kukirim, tidak ada yang berani berkata bahwa itu hanya tugasku sebagai menantu.
Akhirnya mereka sepakat berbagi.
Ibu Ratna kembali ke pusat rehabilitasi berbeda di Depok dengan biaya yang lebih masuk akal.
Kali ini seluruh tagihan dibagi tiga anak kandungnya.
Namaku tidak tercantum sebagai penanggung jawab.
Tidak sebagai kontak darurat.
Tidak sebagai pembayar.
Tidak sebagai apa pun.
Laras sendiri menghubungiku seminggu kemudian.
Ia sudah membatalkan rencana membuka kios tersebut.
Sebagian uang muka memang hangus karena pembatalan kontrak, tetapi sisanya dikembalikan kepada Arga.
“Aku tidak mau ikut berada di tengah rumah tangga kalian,” katanya.
Aku tidak menyalahkannya.
Ia memang menerima bantuan yang seharusnya tidak diberikan Arga tanpa pembicaraan denganku.
Tetapi janji pernikahan bukan dibuat antara aku dan Laras.
Yang berjanji kepadaku adalah Arga.
Tiga bulan kemudian, proses perceraian kami selesai melalui kesepakatan.
Apartemen yang kami cicil bersama dijual.
Setelah sisa pinjaman dilunasi, bagian masing-masing dibagi sesuai kontribusi yang dapat dibuktikan.
Arga sempat mencoba meminta kesempatan terakhir.
Ia datang ke tempat kerjaku membawa bunga.
“Nad, aku sudah berubah.”
Aku melihat bunga itu.
Dulu mungkin aku akan menangis.
Hari itu aku hanya merasa tenang.
“Aku percaya kamu bisa berubah.”
Matanya langsung menyala.
“Tapi kamu tidak harus berubah untuk mendapatkanku kembali.”
Wajahnya jatuh.
“Berubahlah supaya nanti kamu tidak memperlakukan orang lain seperti kamu memperlakukanku.”
Aku mengembalikan bunganya.
Lalu kembali bekerja.
Enam bulan setelah perceraian, aku menyewa sebuah apartemen kecil tidak jauh dari kantorku.
Tidak mewah.
Hanya dua kamar.
Tetapi setiap benda di dalamnya kupilih sendiri.
Tidak ada tumpukan obat yang harus kuingat untuk orang yang tidak pernah mengucapkan terima kasih.
Tidak ada tagihan keluarga yang tiba-tiba menjadi kewajibanku.
Tidak ada piring kotor yang sengaja ditinggalkan karena seseorang yakin aku pasti akan mencucinya.
Suatu Sabtu pagi, aku duduk di balkon sambil minum kopi ketika sebuah pesan masuk dari Ibu Ratna.
Hubungan kami tidak lagi dekat, tetapi sesekali ia mengirim kabar.
“Nadira, Mama sudah bisa jalan beberapa langkah dengan tongkat. Terima kasih dulu kamu sudah banyak membantu.”
Aku membacanya beberapa detik.
Lalu membalas,
“Semoga Mama selalu sehat.”
Hanya itu.
Tidak ada kemarahan.
Tidak ada keinginan kembali.
Setelah pesan terkirim, aku mematikan layar ponsel.
Dulu aku berpikir rumah tangga yang baik adalah rumah tangga tempat seseorang rela menahan lelah demi semua orang.
Sekarang aku tahu aku salah.
Kebaikan tanpa batas sering kali tidak membuat orang semakin menghargai kita.
Kadang justru membuat mereka lupa bahwa kita juga manusia.
Arga kehilangan banyak hal setelah aku pergi.
Uang.
Kenyamanan.
Citra sebagai anak paling berbakti.
Dan seorang istri yang selama bertahun-tahun selalu membereskan akibat dari setiap keputusannya.
Sedangkan aku?
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tidak memenangkan pertengkaran.
Aku mendapatkan sesuatu yang jauh lebih penting.
Hidupku sendiri kembali.

