Sebulan Sebelum Akad, Tunanganku Terbang Menemani Sahabat Wanitanya—Tujuh Bulan Kemudian Ia Pulang dan Menemukan Namanya Sudah Hilang dari Akta Anakku

Avatar penulis
Cerita 03
15 menit baca 9,581 tayangan
Sebulan Sebelum Akad, Tunanganku Terbang Menemani Sahabat Wanitanya—Tujuh Bulan Kemudian Ia Pulang dan Menemukan Namanya Sudah Hilang dari Akta Anakku
Indeks

Sebulan Sebelum Akad, Tunanganku Terbang Menemani Sahabat Wanitanya—Tujuh Bulan Kemudian Ia Pulang dan Menemukan Namanya Sudah Hilang dari Akta Anakku

Bagian 1 — Saat Aku Berjuang Melahirkan Sendirian, Arman Sedang Menemani Perempuan Lain; Namun Satu Pesan dari Rumah Sakit Mengubah Segalanya

Sebulan sebelum akad nikah kami, Arman membatalkan semuanya.

Bukan karena pekerjaan.

Bukan karena orang tuanya sakit.

Dan bukan karena kami bertengkar.

Ia membatalkan pernikahan karena seorang perempuan bernama Nadya.

Malam itu aku baru saja pulang dari klinik di Bandung dengan sebuah amplop putih di dalam tas.

Di dalamnya ada hasil pemeriksaan yang sudah kubaca mungkin dua puluh kali.

Aku hamil lima minggu.

Aku bahkan membeli kotak kecil untuk memberikan kejutan kepada Arman.

Tetapi ketika membuka pintu apartemen, aku justru melihat dua koper berdiri di ruang tamu.

Arman sedang memasukkan paspor ke tas selempangnya.

“Mau ke mana?”

Ia menatapku.

“Singapura.”

“Sekarang?”

“Nadya harus menjalani operasi. Kakaknya tidak bisa datang dan ibunya sedang sakit di Makassar. Dia sendirian.”

Tanganku yang memegang tas langsung dingin.

Aku mengenal Nadya.

Teman kuliah Arman.

Perempuan yang selama bertahun-tahun selalu disebutnya sebagai “sahabat seperti keluarga”.

Aku tidak pernah melarang mereka berteman.

Aku juga tidak pernah memeriksa ponsel Arman.

Tapi keberangkatannya malam itu berbeda.

Tiga puluh hari lagi kami menikah.

Undangan sudah tersebar.

Gedung sudah dibayar.

Kebaya sudah selesai.

Keluargaku dari Yogyakarta bahkan sudah membeli tiket ke Bandung.

Aku berdiri di depan pintu.

“Berapa lama?”

“Belum tahu.”

“Seminggu?”

“Mungkin lebih.”

“Arman.”

Aku menahan lengannya.

“Sebulan lagi kita akad.”

Ia menghela napas seperti akulah orang yang membuat keadaan menjadi rumit.

“Rani, Nadya sedang menghadapi operasi besar.”

“Dan aku tunanganmu.”

“Aku tahu.”

“Kalau begitu jangan pergi.”

Untuk pertama kalinya malam itu, Arman terlihat kesal.

“Kalau terjadi sesuatu pada Nadya sementara aku memilih tetap di sini hanya karena takut pesta pernikahan mundur, aku tidak akan memaafkan diriku sendiri.”

Aku terdiam.

Kalimat itu sederhana.

Tetapi anehnya, aku mengingatnya sampai sekarang.

Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri.

Berarti ada seseorang yang kehilangannya begitu ia takuti.

Dan ternyata orang itu bukan aku.

Tanganku perlahan melepaskan lengan bajunya.

Aku hampir mengatakan bahwa aku sedang hamil.

Hampir.

Tetapi sebelum sempat membuka mulut, ponselnya berbunyi.

Nama Nadya muncul.

Arman langsung mengangkat.

“Iya, Nad. Aku berangkat sekarang.”

Nada suaranya berubah lembut.

Aku berdiri hanya dua meter darinya.

Namun saat itu rasanya aku sudah tidak berada dalam hidupnya.

Sebelum pergi, Arman mencium keningku.

“Kita tunda akad beberapa bulan. Setelah keadaan Nadya stabil, aku pulang dan kita urus semuanya lagi.”

Aku menatap dua koper di belakangnya.

“Kalau aku membutuhkanmu?”

“Telepon aku.”

“Kalau tidak bisa dihubungi?”

Ia tersenyum kecil.

“Aku pasti bisa dihubungi.”

Ternyata itu adalah janji pertama yang ia langgar.

Dan bukan yang terakhir.


Pernikahan dibatalkan.

Aku sendiri yang menelepon vendor.

Aku sendiri yang menjelaskan kepada keluarga.

Aku sendiri yang menghadapi tatapan orang-orang.

Beberapa bertanya terang-terangan.

“Kenapa calon suamimu pergi menemani perempuan lain menjelang pernikahan?”

Aku selalu memberikan jawaban yang sama.

“Nadya sakit. Arman hanya membantu.”

Bahkan ketika Tante Mira bertanya,

“Memangnya Nadya tidak punya keluarga?”

Aku tetap membela Arman.

“Keadaannya rumit, Tante.”

Aku tidak tahu sedang meyakinkan mereka atau diriku sendiri.

Dua minggu setelah Arman pergi, aku memberitahunya tentang kehamilan.

Melalui video call.

Wajahnya langsung berubah.

“Kamu serius?”

Aku menunjukkan hasil USG.

Untuk beberapa detik ia tersenyum lebar.

Aku pikir ia akan mengatakan akan pulang.

Ternyata tidak.

“Rani, bertahan sebentar, ya. Setelah operasi kedua Nadya selesai, aku pulang.”

Aku menatap layar.

“Kapan?”

“Belum pasti.”

Aku mengangguk.

“Baik.”

Bulan pertama berlalu.

Kemudian bulan kedua.

Ketiga.

Setiap kali aku bertanya, selalu ada alasan baru.

Nadya mengalami komplikasi.

Nadya membutuhkan terapi.

Nadya tidak bisa tinggal sendiri.

Ada dokumen rumah sakit yang harus diurus.

Lalu Arman mulai sulit dihubungi.

Pesanku dibalas berjam-jam kemudian.

Kadang keesokan harinya.

Aku berhenti bertanya kapan ia pulang.

Sebaliknya, aku mulai belajar pergi ke dokter sendiri.

Membeli vitamin sendiri.

Memilih perlengkapan bayi sendiri.

Aku juga masih bekerja sebagai staf keuangan di perusahaan logistik karena setelah pembatalan pernikahan, tabunganku banyak tersedot biaya vendor yang tidak bisa dikembalikan.

Pada usia kandungan tujuh bulan, tekanan darahku naik.

Dokter memintaku mengurangi aktivitas.

Tiga hari kemudian, sekitar pukul dua dini hari, aku terbangun karena nyeri hebat.

Seprai di bawahku basah.

Aku menelepon Arman.

Tidak aktif.

Sekali.

Dua kali.

Tujuh kali.

Tidak aktif.

Akhirnya aku menelepon sahabatku, Dewi.

Empat puluh menit kemudian aku sudah berada di IGD.

Dokter mengatakan bayiku harus segera dilahirkan.

Aku masih sempat meminta perawat mencoba nomor Arman.

Tidak tersambung.

Aku memberikan nomor ibunya.

Tidak diangkat.

Saat pintu ruang operasi dibuka, aku melihat Dewi berlari di lorong sambil menangis.

“Rani!”

Aku hanya sempat mengatakan satu hal.

“Kalau terjadi apa-apa denganku, tolong jaga bayiku.”


Putraku lahir pukul 04.17.

Beratnya hanya 1,9 kilogram.

Ia harus masuk NICU.

Aku mengalami perdarahan setelah persalinan dan membutuhkan transfusi.

Ketika sadar, hal pertama yang kulihat adalah ayahku duduk di kursi dengan wajah yang tampak sepuluh tahun lebih tua.

“Ayah… bayiku?”

“Selamat.”

Ayah menggenggam tanganku.

“Anakmu selamat.”

Aku menangis.

Bukan karena Arman tidak ada.

Aneh sekali.

Saat itu aku bahkan tidak memikirkannya.

Selama tiga hari berikutnya, fokusku hanya satu.

Bertahan.

Hari keempat, Arman akhirnya menelepon.

Video call.

Aku mengangkatnya.

Di belakangnya terlihat kamar hotel dengan jendela besar.

Kemudian seorang perempuan melintas memakai cardigan abu-abu.

Nadya.

Arman segera mengubah sudut kamera.

“Rani, maaf. Ponselku bermasalah beberapa hari.”

Aku menatap wajahnya.

“Aku sudah melahirkan.”

Ia membeku.

“Apa?”

“Anak kita lahir empat hari lalu.”

“Kenapa kamu tidak bilang?”

Untuk beberapa detik aku benar-benar tidak tahu harus menjawab apa.

Lalu aku tertawa kecil.

“Aku meneleponmu sebelas kali.”

Wajahnya pucat.

“Bayinya bagaimana?”

“NICU.”

“Kamu?”

“Masih hidup.”

“Rani, jangan bicara begitu.”

Ia mengusap wajah.

“Aku cari penerbangan pulang.”

Aku mengangguk.

Tetapi tidak memintanya cepat.

Tidak menangis.

Tidak marah.

Karena sesuatu di dalam diriku sudah selesai.


Arman pulang lima hari kemudian.

Ia datang membawa boneka singa, beberapa baju bayi, dan sebuah kotak cokelat mahal.

Begitu melihat putranya melalui kaca NICU, matanya merah.

“Namanya siapa?”

Raka Pradana.”

Ia tersenyum.

“Raka Arman Pradana bagus.”

Aku tidak menjawab.

Arman menoleh.

“Maksudku nanti di akta.”

Aku hanya berkata,

“Akta kelahirannya sudah diurus.”

Senyumnya perlahan menghilang.

“Aku ayahnya.”

“Secara biologis, iya.”

“Apa maksudmu?”

Aku menatapnya.

“Arman, kita belum menikah.”

Ia diam.

Untuk pertama kalinya mungkin ia benar-benar memahami akibat dari keputusan yang dibuat tujuh bulan lalu.

Namun aku belum mengatakan bagian terpenting.

Karena dua hari sebelum Arman pulang, ketika aku masih berada di rumah sakit, seorang perempuan mengirim pesan kepadaku.

Nomornya tidak kukenal.

Pesannya hanya terdiri dari tiga kalimat.

Mbak Rani, saya perawat Indonesia yang sempat membantu Mbak Nadya di Singapura.

Saya rasa ada sesuatu yang seharusnya Mbak ketahui tentang alasan Pak Arman tidak bisa dihubungi ketika Mbak melahirkan.

Lalu muncul sebuah foto.

Tanganku langsung gemetar ketika membukanya.

Foto itu diambil tepat pada malam aku masuk ruang operasi.

Arman sedang berdiri di sebuah restoran.

Tidak ada rumah sakit.

Tidak ada keadaan darurat.

Di depannya ada Nadya.

Di meja mereka terdapat kue kecil dengan lilin, dua gelas minuman, dan sebuah kotak perhiasan.

Tetapi yang membuat darahku seperti berhenti mengalir adalah tulisan pada kartu di samping kue itu:

“Untuk enam bulan kita yang tidak akan pernah kulupakan.”

Aku mengangkat wajah dan menatap Arman yang masih berdiri di samping inkubator putraku.

Saat itu ia belum tahu bahwa foto tersebut sudah berada di ponselku.

Dan ia juga belum tahu aku sudah meminta seseorang memeriksa satu hal lain.

Siapa sebenarnya yang membayar enam bulan kehidupannya bersama Nadya di Singapura.

Lanjut ke Bagian 2—karena jawaban dari bank justru membuat pengkhianatan Arman jauh lebih buruk daripada perselingkuhan.

#DramaKeluarga #KisahRumahTangga #PengkhianatanCinta #CeritaViral #KisahPerempuan

Bagian 2 — Kukira Arman Hanya Mengkhianati Cinta, Sampai Mutasi Rekening Membuktikan Biaya Hidupnya Bersama Nadya Dibayar dari Tabungan Pernikahan Kami

Aku tidak langsung menunjukkan foto itu kepada Arman.

Aku ingin melihat seberapa jauh ia akan berbohong.

Dua hari setelah Raka keluar dari NICU, Arman datang ke rumah kontrakanku membawa satu mobil penuh perlengkapan bayi.

Popok.

Sterilizer.

Stroller.

Tempat tidur bayi.

Bahkan kursi mobil yang harganya hampir empat juta rupiah.

Ia memasang semuanya sendiri.

Malam pertama, Raka menangis pukul dua.

Arman langsung bangun.

“Biar aku.”

Ia menggendong putranya sambil berjalan mondar-mandir di ruang tengah.

Kalau orang lain melihat kami malam itu, mungkin mereka akan mengira Arman adalah ayah paling perhatian di dunia.

Tetapi aku hanya melihat seorang lelaki yang datang tujuh bulan terlambat.

Tiga hari kemudian ia berkata,

“Setelah kamu pulih, kita tentukan tanggal akad baru.”

Aku sedang melipat pakaian Raka.

“Tidak perlu.”

Tangannya berhenti.

“Apa?”

“Aku tidak mau menikah.”

Arman menatapku lama.

“Karena aku tidak ada saat kamu melahirkan?”

Aku hampir kagum.

Seolah hanya itulah kesalahannya.

Aku mengambil ponsel.

Membuka foto dari perawat itu.

Lalu meletakkannya di meja.

Wajah Arman berubah seketika.

“Dari mana kamu dapat ini?”

Bukan:

Itu bukan aku.

Bukan:

Kamu salah paham.

Pertanyaan pertamanya adalah dari mana aku mendapatkannya.

Aku menunjuk kartu di foto.

“Enam bulan?”

“Rani, dengarkan dulu.”

“Aku mendengarkan.”

“Nadya sedang dalam kondisi mental yang buruk. Malam itu adalah enam bulan sejak operasinya berhasil. Aku cuma ingin menghiburnya.”

“Kotak perhiasan?”

“Hadiah.”

“Untuk sahabat?”

Ia terdiam.

Aku mengangguk.

“Baik.”

Sikap tenangku membuatnya semakin gelisah.

“Kenapa kamu tidak marah?”

“Aku sedang menunggu dokumen.”

“Dokumen apa?”

Aku tidak menjawab.


Sebelum Arman pergi, kami memiliki rekening bersama untuk biaya pernikahan.

Aku menyetor sekitar Rp148 juta.

Arman sekitar Rp96 juta.

Rencananya uang itu digunakan untuk gedung, katering, dekorasi, dan uang muka rumah.

Setelah acara batal, Arman mengatakan sisa dana tetap aman.

Aku percaya.

Kesalahan terbesar dalam hidupku bukan mencintai Arman.

Melainkan mempercayai bahwa orang yang pernah kita cintai pasti akan memperlakukan uang kita dengan hormat.

Dewi membantuku mengumpulkan mutasi rekening yang secara sah masih bisa kuakses sebagai pemilik bersama.

Saat melihatnya, tanganku dingin.

Selama enam bulan Arman berada di luar negeri, ada puluhan transaksi.

Apartemen servis.

Restoran.

Transportasi.

Belanja.

Transfer berkala.

Totalnya lebih dari Rp173 juta.

Sebagian besar berasal dari rekening pernikahan kami.

Aku membaca satu per satu.

Lalu menemukan transaksi senilai Rp28,7 juta dari sebuah toko perhiasan.

Tanggalnya sama dengan foto tersebut.

Aku mencetak semuanya.

Malam itu Arman datang membawa bubur ayam untukku.

Aku meletakkan berkas di meja.

“Ini dokumen yang kutunggu.”

Ia membuka halaman pertama.

Wajahnya langsung pucat.

“Rani—”

“Uang pernikahan kita membayar apartemen kalian?”

“Nadya akan mengganti.”

“Restoran?”

“Rani…”

“Perhiasan?”

Ia menutup mata.

Aku menunjuk satu transaksi lagi.

“Rp28,7 juta.”

“Itu bukan seperti yang kamu pikir.”

Aku tertawa.

“Kalimat itu ternyata benar-benar ada di dunia nyata.”

Arman berdiri.

“Aku memang salah menggunakan uang tanpa bicara denganmu. Tapi aku tidak berselingkuh.”

“Enam bulan?”

“Bukan hubungan.”

“Lalu apa?”

Arman mengusap wajah dengan kedua tangan.

Kemudian berkata sesuatu yang bahkan lebih menyakitkan daripada pengakuan perselingkuhan.

“Aku bingung.”

Aku menatapnya.

“Bingung memilih?”

Ia tidak menjawab.

Itu sudah cukup.

Aku mengambil sebuah amplop dari laci.

“Ini rincian uang milikku yang kamu gunakan. Aku minta dikembalikan.”

Arman terlihat terkejut.

“Kamu serius menghitung uang denganku?”

“Ya.”

“Kita punya anak.”

“Justru karena aku punya anak.”

Aku menatapnya lurus.

“Aku tidak mau Raka tumbuh melihat ibunya menerima penghinaan hanya karena pelakunya kemudian meminta maaf.”


Keesokan harinya, masalah menjadi lebih besar.

Ibu Arman datang bersama kakaknya, Bu Ratih.

Aku mengira mereka ingin melihat Raka.

Ternyata Bu Ratih langsung berkata,

“Kami dengar kamu membatalkan rencana akad.”

Aku menuangkan teh.

“Benar.”

“Arman sudah mengakui kesalahannya.”

“Lalu?”

Bu Ratih tampak tersinggung.

“Lalu apa lagi? Kalian sudah punya anak.”

Aku tersenyum tipis.

“Memiliki anak tidak membuat kebohongan berubah menjadi kejujuran.”

Ibu Arman akhirnya bicara.

“Rani, Mama tidak membenarkan Arman. Tapi jangan hancurkan keluarga hanya karena satu kesalahan.”

Aku mengambil mutasi rekening.

Meletakkannya di depan mereka.

“Kalau satu kesalahan berlangsung enam bulan dan menghabiskan Rp173 juta, masih disebut satu?”

Bu Ratih langsung diam.

Ibunya membaca halaman demi halaman.

Wajahnya berubah.

“Arman menggunakan uangmu?”

“Uang bersama. Tapi sebagian besar setorannya dari saya.”

Arman yang sejak tadi berdiri dekat pintu akhirnya berkata,

“Aku akan ganti semuanya.”

“Bagus.”

Aku mengeluarkan surat pernyataan utang yang sudah disiapkan Dewi.

“Tanda tangan.”

Ruangan langsung sunyi.

Bu Ratih menatapku seperti aku baru saja menampar adiknya.

“Kamu meminta ayah anakmu menandatangani utang?”

“Ya.”

“Tidak tahu malu.”

Aku hampir menjawab ketika bel berbunyi.

Dewi membuka pintu.

Seorang perempuan berdiri di luar sambil membawa koper.

Nadya.

Wajah Arman langsung kehilangan warna.

“Apa yang kamu lakukan di sini?”

Nadya menatap Arman, kemudian aku.

“Aku datang karena kamu tidak menjawab telepon.”

Lalu matanya jatuh pada bayi di gendonganku.

Ekspresinya berubah.

“Jadi ini Raka?”

Aku belum pernah bertemu Nadya secara langsung.

Tetapi kalimat berikutnya membuat seluruh ruangan membeku.

Nadya menatap ibu Arman lalu berkata,

“Bu, saya rasa keluarga ini harus tahu satu hal.”

Ia membuka tasnya.

Mengeluarkan sebuah map.

“Arman tidak datang ke Singapura hanya untuk menemani saya berobat.”

Arman langsung merebut map itu.

“Nadya, cukup.”

Tetapi satu lembar kertas sudah terjatuh ke lantai.

Dewi mengambilnya.

Membacanya.

Kemudian menatapku dengan ekspresi yang belum pernah kulihat sebelumnya.

“Rani…”

“Apa?”

Dewi menyerahkan kertas itu.

Itu adalah salinan formulir penyewaan apartemen di Singapura.

Di bagian hubungan penghuni, Arman menuliskan Nadya sebagai:

Partner.

Namun ada dokumen kedua di belakangnya.

Dokumen yang membuat bahkan Nadya terlihat kebingungan.

Sebuah formulir pembukaan rekening.

Menggunakan tanda tanganku.

Padahal aku tidak pernah menandatanganinya.

Dan tiba-tiba aku memahami sesuatu.

Rp173 juta mungkin bukan seluruh uang yang telah Arman ambil.

Itu hanya bagian yang berhasil kutemukan.

Bagian 3 — Nadya Datang Membawa Bukti Hubungan Mereka, Tetapi Tanda Tangan Palsuku Justru Menjadi Kesalahan yang Membuat Arman Kehilangan Semuanya

Aku memotret dokumen itu sebelum Arman sempat mengambilnya.

“Aku tidak pernah tanda tangan ini.”

Arman diam.

Dewi berdiri di sampingku.

“Jangan sentuh dokumennya.”

Bu Ratih mulai panik.

“Memangnya itu apa?”

Aku membaca formulir tersebut lagi.

Namaku.

Nomor identitasku.

Tanda tangan yang dibuat menyerupai milikku.

Rekening itu digunakan sebagai bagian dari administrasi investasi yang sebelumnya pernah kami rencanakan bersama.

Namun aku tidak pernah menyelesaikan pengajuannya.

Arman rupanya melanjutkannya tanpa sepengetahuanku.

Nadya menatapnya.

“Kamu bilang uang di Singapura milikmu sendiri.”

Arman membentak,

“Diam dulu, Nad!”

Aku justru menatap Nadya.

“Berapa banyak yang dia keluarkan untukmu?”

Nadya terlihat malu.

“Aku tidak tahu persis.”

“Perhiasan Rp28,7 juta?”

Wajahnya berubah.

“Itu… cincin.”

Ruangan langsung sunyi.

Aku mengangguk perlahan.

“Jadi memang cincin.”

Arman maju.

“Rani, aku bisa jelaskan.”

Aku mengangkat tangan.

“Tidak perlu.”

Anehnya, mendengar kata cincin tidak lagi menghancurkanku.

Mungkin karena seseorang hanya bisa menghancurkan sesuatu yang masih utuh.

Perasaanku kepada Arman sudah retak jauh sebelum hari itu.

Sekarang aku hanya sedang membersihkan pecahannya.


Dewi membawaku menemui konsultan hukum dan pihak bank.

Setelah pemeriksaan dokumen dan riwayat transaksi, ditemukan beberapa pengajuan yang tidak pernah kuberikan persetujuan secara sah.

Aku memilih menempuh jalur resmi.

Bukan membuat keributan di media sosial.

Bukan mengancam Nadya.

Bukan mendatangi kantor Arman.

Aku hanya mengumpulkan bukti.

Mutasi rekening.

Pesan.

Dokumen.

Formulir.

Dan pengakuannya.

Setelah menerima surat resmi, Arman akhirnya berhenti mengatakan aku berlebihan.

Ia mengembalikan seluruh dana milikku yang terbukti digunakan tanpa persetujuan, termasuk biaya terkait yang disepakati dalam penyelesaian.

Untuk mendapatkannya, ia terpaksa menjual mobil yang selama ini sangat dibanggakannya.

Hubungannya dengan Nadya juga tidak bertahan.

Bukan karena aku merebut Arman kembali.

Aku tidak menginginkannya.

Nadya sendiri yang pergi.

Beberapa minggu kemudian ia mengirim satu pesan kepadaku.

Aku baru tahu banyak hal yang dia katakan kepadaku tentangmu tidak benar. Maaf.

Aku tidak membalas.

Aku juga tidak menyalahkannya sepenuhnya.

Tetapi aku tidak membutuhkan persahabatan dengannya.

Ada orang yang cukup kita maafkan dari kejauhan.


Arman masih meminta satu kesempatan.

Ia datang ke rumah ayahku ketika Raka berusia lima bulan.

Kali ini tanpa hadiah.

Tanpa bunga.

Tanpa keluarganya.

Hanya dirinya sendiri.

“Aku kehilangan arah, Ran.”

Aku sedang memasangkan kaus kaki pada Raka.

“Aku tahu.”

“Aku takut kamu tidak akan pernah memaafkanku.”

“Aku sudah memaafkanmu.”

Ia menatapku penuh harapan.

“Tapi memaafkan bukan berarti kembali.”

Harapan itu hilang.

Aku melanjutkan,

“Aku tidak mau menghabiskan hidup membencimu. Kamu tetap ayah biologis Raka dan urusan tanggung jawab terhadap anak kita selesaikan dengan baik. Tapi aku tidak akan menikah denganmu.”

“Tidak ada kesempatan sama sekali?”

Aku menatap lelaki yang pernah kupikir akan menjadi tempat pulangku.

Lalu teringat malam ketika aku didorong menuju ruang operasi.

Sebelas panggilan.

Tidak satu pun dijawab.

Sementara beberapa ribu kilometer dariku, lelaki ini menyalakan lilin untuk perempuan lain menggunakan uang yang kami kumpulkan untuk pernikahan.

“Tidak.”

Hanya satu kata.

Tapi setelah mengucapkannya, dadaku terasa ringan.


Setahun kemudian, hidupku tidak menjadi sempurna.

Aku masih sering kurang tidur.

Raka pernah demam tinggi hingga aku menangis di kamar mandi karena panik.

Aku masih bekerja.

Masih menghitung pengeluaran.

Masih harus belajar menjadi ibu setiap hari.

Tetapi rumah kecil kami tenang.

Aku menggunakan sebagian uang yang kembali untuk uang muka sebuah rumah sederhana di pinggiran Bandung.

Tidak besar.

Dua kamar tidur.

Halaman depannya bahkan hanya cukup untuk beberapa pot tanaman.

Tetapi sertifikatnya atas namaku.

Kuncinya ada di tanganku.

Dan tidak seorang pun bisa mengusirku dari sana.

Arman tetap diperbolehkan bertemu Raka sesuai kesepakatan yang kami buat.

Aku tidak pernah menggunakan anakku untuk menghukumnya.

Karena Raka bukan senjata.

Ia adalah alasan aku akhirnya belajar melindungi diriku sendiri.

Pada ulang tahun pertama Raka, ayahku datang membawa sebuah sepeda kecil.

Dewi membawa kue.

Rumah dipenuhi balon sederhana.

Ketika semua orang pulang, aku duduk di teras sambil menggendong Raka.

Anakku sudah mulai belajar memanggil,

“Mama.”

Tangannya menunjuk langit.

Aku mencium pipinya.

Di dalam rumah, ponselku berbunyi.

Pesan dari Arman.

Selamat ulang tahun untuk Raka. Terima kasih karena kamu tetap mengizinkanku menjadi bagian dari hidupnya. Aku tahu aku tidak berhak meminta lebih.

Aku membaca pesan itu.

Kemudian mematikan layar.

Tidak ada kemarahan.

Tidak ada keinginan membalas.

Hanya ketenangan.

Dulu aku mengira akhir bahagia berarti Arman pulang, meminta maaf, lalu kami kembali menjadi keluarga.

Ternyata aku salah.

Akhir bahagiaku bukan ketika lelaki yang meninggalkanku akhirnya memilihku.

Akhir bahagiaku adalah ketika aku berhenti menunggu untuk dipilih.

Aku memandang Raka yang tertidur di dadaku.

Lalu tersenyum.

Tujuh bulan aku menunggu Arman pulang.

Butuh waktu lebih lama untuk memahami bahwa sebenarnya, orang yang harus pulang selama ini adalah diriku sendiri.

Pulang kepada harga diriku.

Pulang kepada hidupku.

Dan kali ini, aku tidak akan meninggalkannya lagi.