Bagian 3 — Aku Pergi Malam Itu Membawa Satu Koper, tetapi Dokumen Bank Membuktikan Mereka Selama Ini Hidup dari Uangku Sendiri Tanpa Aku Sadari

Avatar penulis
Cerita 02
18 menit baca 8,967 tayangan
Bagian 3 — Aku Pergi Malam Itu Membawa Satu Koper, tetapi Dokumen Bank Membuktikan Mereka Selama Ini Hidup dari Uangku Sendiri Tanpa Aku Sadari
Indeks

Bagian 3 — Aku Pergi Malam Itu Membawa Satu Koper, tetapi Dokumen Bank Membuktikan Mereka Selama Ini Hidup dari Uangku Sendiri Tanpa Aku Sadari

Aku tidak menangis.

Setidaknya bukan saat itu.

Aku berdiri di tengah ruang makan yang berantakan, memandangi suamiku seperti sedang melihat orang asing yang kebetulan memakai wajah laki-laki yang kunikahi empat tahun lalu.

“Jelaskan.”

Arga menelan ludah.

“Nai, rumah itu bukan seperti yang kamu pikir.”

“Rumah seharga delapan ratus enam puluh juta atas nama kakakmu, dibayar dari rekening rumah tangga kita, tetapi bukan seperti yang kupikir?”

“Niatnya investasi.”

Aku tertawa.

“Investasi milik siapa?”

Arga diam.

Maya mencoba mengambil alih.

“Memang atas namaku, tapi itu cuma sementara.”

Aku menoleh kepadanya.

“Kenapa sementara?”

“Karena…”

Ia melirik Arga.

Aku langsung mengerti.

“Karena pengajuan KPR atas nama Arga bermasalah?”

Arga mengepalkan rahang.

Ternyata benar.

Aku tahu suamiku pernah punya tunggakan kartu kredit sebelum menikah. Ia bilang semuanya sudah diselesaikan.

Rupanya riwayat kreditnya membuat bunga yang ditawarkan bank jauh lebih tinggi.

Maya memiliki pekerjaan tetap sebagai pegawai administrasi sekolah swasta dan catatan kredit yang bersih.

Jadi mereka menggunakan namanya.

Masalahnya, aku tidak pernah diberi tahu.

Lebih parah lagi, uang muka rumah itu hampir pasti bukan berasal dari Arga.

Aku membuka riwayat rekening lebih jauh.

Delapan bulan sebelum cicilan pertama, ada penarikan deposito sebesar Rp118 juta.

Aku ingat transaksi itu.

Arga mengatakan uang tersebut dipindahkan karena deposito lama sudah jatuh tempo dan akan dimasukkan ke produk investasi lain.

Aku menatapnya.

“Seratus delapan belas juta.”

Ia tidak menjawab.

“Uang muka rumah itu seratus delapan belas juta?”

Bu Ratih malah berkata,

“Kenapa kalau memang iya?”

Aku berpaling kepadanya.

Ia masih berdiri dengan kepala tegak, seolah akulah terdakwanya.

“Rumah itu nanti juga untuk keluarga.”

“Untuk keluarga siapa?”

“Ya keluarga Arga.”

Aku menunjuk diriku sendiri.

“Saya ini apa?”

Bu Ratih terdiam sebentar.

Hanya sebentar.

Lalu kalimat yang keluar dari mulutnya justru menjawab semua pertanyaan yang selama bertahun-tahun tidak berani kutanyakan.

“Kamu kan istri.”

Aku menunggu.

“Jadi?”

“Istri itu ikut suami.”

Ia menunjuk Maya.

“Kalau saudara kandung, darah tetap darah.”

Aku tidak mengatakan apa pun.

Ada jenis penghinaan tertentu yang justru terlalu sempurna untuk dibantah.

Ia membongkar dirinya sendiri.

Arga akhirnya maju.

“Nai, Mama lagi emosi.”

“Tidak.”

Aku menggeleng.

“Justru Mama kamu sedang sangat jujur.”

Aku mengambil koper.

Arga langsung menghadang.

“Kamu mau ke mana?”

“Hotel.”

“Jangan kekanak-kanakan.”

Aku berhenti.

“Yang memakai uang istrinya diam-diam untuk mencicil rumah atas nama kakaknya selama hampir setahun sedang menyebut istrinya kekanak-kanakan?”

“Aku bisa jelaskan!”

“Sudah.”

Aku menarik pegangan koper.

“Jelaskan pada pengacaraku.”

Wajahnya berubah.

“Naila.”

Untuk pertama kali ada kepanikan sungguhan di matanya.

“Kamu serius?”

Aku menatapnya.

“Empat tahun kamu mengajariku satu hal.”

“Apa?”

“Kalau aku terus mengalah, kalian akan terus mengambil.”

Aku berjalan menuju pintu.

Bu Ratih berteriak dari belakang.

“Keluar sekarang jangan harap bisa masuk seenaknya lagi!”

Tanganku berhenti di gagang pintu.

Aku berbalik.

“Mama yakin rumah ini milik Mama?”

Ia tersentak.

“Tentu!”

Aku mengangguk.

“Bagus.”

“Simpan keyakinan itu.”

Lalu aku pergi.

Di dalam taksi, aku akhirnya menelepon ibuku.

Aku mencoba menggunakan alasan yang sama seperti pagi tadi.

“Ma, penerbangannya…”

“Naila.”

Suara Mama menghentikanku.

Aku diam.

“Kamu habis menangis?”

Pertanyaan sederhana itu menghancurkan pertahananku.

Aku menutup mulut.

Tetapi isakku tetap keluar.

“Nak?”

Mama langsung panik.

“Ada apa?”

Aku tidak sanggup bercerita semuanya.

Aku hanya berkata,

“Ma… Naila capek.”

Di ujung sana hening beberapa detik.

Kemudian Mama berkata,

“Pulanglah.”

Aku menggigit bibir.

“Tiket mahal.”

“Bapakmu bilang jual motor juga dia mau kalau itu membuat anaknya pulang.”

Dari jauh aku mendengar suara ayah.

“Jangan lebay! Bilang saja tiket Bapak yang bayar!”

Aku tertawa sambil menangis.

Untuk pertama kalinya pagi itu, aku merasa masih memiliki rumah.

Aku tidak pulang ke Makassar hari itu.

Penerbangan sudah penuh.

Aku menginap di hotel dekat kantor sahabatku, Sinta, seorang pengacara yang sudah kukenal sejak kuliah.

Malam itu ia datang membawa laptop.

Aku menceritakan semuanya.

Dari transfer bulanan.

Deposito.

KPR Maya.

Sampai penggunaan rekening bersama tanpa persetujuanku.

Sinta tidak langsung bicara soal perceraian.

Ia bertanya satu hal terlebih dahulu.

“Kamu ingin menyelamatkan pernikahannya atau menyelamatkan dirimu dari pernikahan ini?”

Aku lama terdiam.

Empat tahun sebelumnya, jawabannya pasti yang pertama.

Bahkan pagi itu mungkin masih yang pertama.

Sekarang aku menjawab,

“Diriku.”

Sinta mengangguk.

“Kalau begitu jangan emosional.”

Ia membuka laptop.

“Mulai sekarang, dokumentasikan semuanya.”

Malam itu kami bekerja sampai hampir pukul dua pagi.

Aku mengunduh laporan mutasi dua tahun terakhir.

Dan semakin jauh kami memeriksa, semakin buruk kenyataannya.

Transfer enam juta lima ratus ribu rupiah kepada Maya hanya bagian paling mudah terlihat.

Ada pembayaran uang sekolah tiga anak Maya.

Ada pelunasan kartu kredit Bu Ratih.

Ada renovasi dapur rumah.

Ada pembelian kulkas dua pintu.

Ada iuran kendaraan Deni.

Bahkan biaya ulang tahun anak sulung Maya sebesar hampir Rp14 juta ternyata diambil Arga dari rekening kami.

Deskripsi transaksi selalu dibuat seolah pembayaran rumah tangga.

“Perawatan rumah.”

“Kebutuhan bulanan.”

“Dana keluarga.”

Aku merasa mual.

Selama ini aku bekerja keras karena berpikir kami sedang menyiapkan masa depan.

Aku menunda membeli laptop baru.

Aku jarang membeli pakaian mahal.

Aku menolak perjalanan kantor yang harus menambah biaya pribadi.

Ketika ibuku ingin mengganti atap rumah yang bocor, aku hanya bisa mengirim Rp5 juta karena mengira tabungan kami sedang ketat.

Sementara suamiku menggunakan uang itu untuk mencicil rumah kakaknya.

Aku menatap satu transaksi lama.

Rp42 juta.

Penerimanya sebuah dealer kendaraan.

Aku tidak mengenal transaksi itu.

“Sinta.”

“Hm?”

“Kakak iparku beli mobil bekas tahun lalu.”

“Berapa?”

“Kira-kira segini uang mukanya.”

Kami saling memandang.

Aku menghubungi bagian layanan bank.

Setelah proses verifikasi, aku mendapatkan detail penerima.

Benar.

Dealer yang sama.

Aku menutup mata.

Jumlah dana yang mengalir kepada keluarga Arga dalam dua tahun mencapai lebih dari Rp310 juta.

Belum termasuk kebutuhan makan sehari-hari.

Sinta bersandar.

“Rekening ini rekening bersama?”

“Namanya atas nama Arga, tapi kartu kedua dan akses mobile banking ada padaku. Sejak menikah, kami sepakat semua penghasilan masuk sini.”

“Berapa kontribusimu?”

“Rata-rata sekitar enam puluh delapan sampai tujuh puluh persen.”

“Slip gaji ada?”

“Ada.”

“Transfer gaji?”

“Ada semua.”

Sinta mengangguk.

“Bagus.”

Aku menatapnya.

“Bagus?”

“Bagus untuk bukti.”

Keesokan paginya, ada tiga puluh tujuh panggilan tak terjawab dari Arga.

Aku tidak membalas.

Pukul sembilan, sebuah pesan panjang masuk.

Ia meminta maaf.

Tetapi setelah tiga paragraf, permintaan maaf itu berubah menjadi pembelaan.

Rumah untuk Maya, katanya, adalah “investasi keluarga”.

Maya berjanji suatu saat akan mengembalikan uang muka.

Transfer sekolah anak-anak hanyalah bentuk bantuan sementara.

Ia tidak memberitahuku karena tahu aku “terlalu sensitif soal uang”.

Kalimat terakhir itu membuatku tertawa.

Bukan karena lucu.

Karena begitu sempurna menunjukkan bagaimana ia melihatku.

Uangku boleh digunakan tanpa izin.

Tetapi kalau aku keberatan, aku sensitif.

Siang harinya Arga datang ke hotel.

Aku menemuinya di lobi, bukan di kamar.

Ia terlihat tidak tidur.

“Ayo pulang.”

Itu kalimat pertamanya.

Aku menatapnya.

“Tidak.”

“Nai, kita suami istri.”

“Makanya saya ingin tahu kenapa suami saya membelanjakan ratusan juta uang keluarga tanpa bicara dengan istrinya.”

“Aku akan ganti.”

“Dengan apa?”

Ia terdiam.

Aku tahu gajinya.

Aku tahu cicilannya.

Aku tahu tabungannya.

Ia tidak punya kemampuan mengganti Rp310 juta dalam waktu dekat.

“Aku bisa jual sesuatu.”

“Rumah Maya?”

Wajahnya menegang.

“Itu nggak bisa langsung dijual.”

“Kenapa?”

“KPR belum…”

Aku mengangguk.

“Berarti investasi keluarga yang kamu banggakan itu bahkan tidak bisa menyelamatkan keluarga yang membayarnya.”

“Naila, jangan sinis.”

Aku menatap laki-laki di depanku.

“Arga, dua tahun lalu ketika aku kehilangan kehamilan kedua, dokter bilang kita sama-sama perlu mengurangi stres.”

Ia diam.

“Aku minta tiga minggu cuti tanpa gangguan.”

“Aku ingat.”

“Tiga hari setelah aku keluar dari rumah sakit, kakakmu datang membawa tiga anak karena AC rumahnya rusak.”

Arga menunduk.

“Aku masih pendarahan.”

Tak ada jawaban.

“Seminggu setelahnya, Mama menyuruhku memasak untuk pengajian dua puluh orang.”

“Nai…”

“Kamu bilang apa?”

Ia mengusap wajah.

Aku menjawab sendiri.

“‘Tolonglah sekali ini.’”

Mataku mulai panas.

“Ternyata hidupku selama empat tahun adalah kumpulan ‘sekali ini’ yang tidak pernah selesai.”

Ia meraih tanganku.

Aku mundur.

“Aku salah.”

“Benar.”

“Aku bisa berubah.”

“Aku percaya kamu bisa.”

Matanya langsung terangkat.

“Tapi?”

“Tapi aku tidak wajib menunggu.”

Ia menatapku beberapa saat.

Kemudian berkata pelan,

“Kamu mau cerai?”

Aku menjawab,

“Iya.”

Wajahnya seperti kehilangan warna.

Aku terbang ke Makassar keesokan harinya.

Sendirian.

Ketika pintu kedatangan terbuka, aku melihat ayah berdiri membawa papan kardus bekas.

Tulisan di atasnya dibuat dengan spidol:

SELAMAT DATANG ANAK BAPAK YANG KERAS KEPALA.

Aku tertawa.

Mama memukul lengan ayah.

“Kenapa ditulis begitu?”

“Biar gampang kelihatan.”

Aku belum sampai lima langkah ketika Mama memelukku.

Aku mencium bau minyak kayu putih di bajunya.

Bau yang sudah kukenal sejak kecil.

Aku menangis lagi.

Tetapi kali ini bukan karena dihina.

Bukan karena kalah.

Aku menangis karena setelah bertahun-tahun sibuk menjadi menantu yang “baik”, aku lupa bagaimana rasanya menjadi anak seseorang.

Ayah tidak bertanya macam-macam.

Ia hanya mengambil koperku.

“Pulang dulu.”

Di rumah, benar seperti yang dikatakannya, ada bandeng bakar.

Ada barongko buatan Mama.

Ada sambal mangga.

Dan di meja makan cuma ada tiga piring.

Tidak ada dua belas orang menunggu kulayani.

Tidak ada yang memintaku masuk dapur.

Tidak ada yang menilai kegunaanku berdasarkan seberapa banyak makanan yang bisa kumasak.

Saat aku hendak membantu membereskan piring, Mama menepuk tanganku.

“Duduk.”

“Ma, aku bisa bantu.”

“Kamu dari Jakarta ke sini bukan jadi pembantu Mama.”

Kalimat itu sederhana.

Tetapi aku hampir menangis lagi.

Tiga hari kemudian, perang sebenarnya dimulai.

Bu Ratih menelepon ibuku.

Entah dari mana ia mendapatkan nomor baru Mama.

Ia mengatakan aku kabur dari suami.

Mengatakan aku mempermalukan keluarga.

Mengatakan perempuan yang mengajukan cerai hanya karena uang berarti tidak memahami arti pernikahan.

Mama mendengarkan sampai selesai.

Lalu bertanya,

“Bu Ratih, kalau uang bukan masalah, rumah yang dibeli dari uang anak saya boleh dijual lalu uangnya dikembalikan?”

Bu Ratih langsung menutup telepon.

Ayah tertawa hampir satu menit ketika mendengarnya.

Tetapi masalahnya tidak sesederhana itu.

Arga mulai memindahkan sebagian saldo rekening.

Untung aku dan Sinta sudah mengantisipasi.

Semua laporan sebelumnya sudah kami simpan.

Aku memisahkan penghasilan baruku ke rekening pribadi.

Tagihan rumah yang memang menjadi kewajibanku tetap kubayar sampai status kami jelas.

Namun tidak satu rupiah pun lagi kukirim untuk Maya atau Bu Ratih.

Dampaknya muncul hanya dalam dua minggu.

Maya menghubungiku.

Pertama dengan nada manis.

“Nai, kita ini sebenarnya bisa bicara baik-baik.”

Aku menjawab,

“Apa yang mau dibicarakan?”

“KPR bulan ini.”

“Apa hubungannya dengan saya?”

Hening.

“Biasanya Arga…”

“Berarti hubungi Arga.”

“Arga bilang sekarang uangnya sedang…”

Aku menahan senyum.

“Sedang apa?”

Maya mulai kesal.

“Jangan pura-pura nggak tahu.”

“Rumah itu atas nama Kak Maya. KPR-nya juga atas nama Kak Maya.”

Aku berkata tenang,

“Selamat mencicil rumah sendiri.”

Ia langsung berubah.

“Kamu mau menghancurkan hidup orang?”

Aku hampir tertawa.

“Kak, saya bahkan tidak ikut menandatangani akad kreditnya.”

“Tapi uang muka—”

Ia berhenti.

Terlambat.

Aku menangkapnya.

“Uang muka kenapa?”

Maya diam.

Aku menyimpan rekaman percakapan yang secara hukum dapat kubahas lebih lanjut dengan pengacaraku sesuai prosedur yang berlaku.

Kemudian aku menutup telepon.

Satu bulan kemudian, Deni menghubungiku.

Bukan untuk marah.

Ia ingin meminta maaf.

Ternyata ia juga tidak mengetahui seluruhnya.

Maya selama ini mengaku rumah Tambun merupakan bantuan investasi dari Bu Ratih dan tabungan pribadinya.

Deni baru mengetahui sumber uang sebenarnya pada hari Lebaran itu.

Lebih mengejutkan lagi, rumah tersebut ternyata sejak awal direncanakan untuk diberikan kepada anak sulung mereka ketika dewasa.

Aku bertanya,

“Arga tahu?”

Deni mengangguk.

“Menurut Maya, tahu.”

Aku menutup mata.

Jadi ini bukan investasi sementara.

Bukan bantuan darurat.

Bukan aset keluarga.

Suamiku mengetahui bahwa tabungan kami digunakan untuk membangun warisan bagi anak kakaknya.

Sementara ketika aku bertanya kapan kami bisa membeli rumah kecil atas nama bersama, ia selalu menjawab:

“Nanti kalau tabungannya cukup.”

Ironisnya, tabungan itu tidak pernah cukup karena diam-diam dipakai untuk rumah orang lain.

Deni juga menceritakan sesuatu yang membuat semuanya semakin jelas.

Bu Ratih sering berkata bahwa karena Arga kemungkinan sulit punya anak, asetnya sebaiknya “diamankan di keluarga sendiri”.

Keluarga sendiri.

Frasa yang sama.

Berarti aku tidak pernah masuk di dalam definisi itu.

Proses perceraian berlangsung berbulan-bulan.

Arga awalnya menolak.

Kemudian ia berubah menjadi lembut.

Mengirim bunga.

Mengirim foto pernikahan.

Mengirim pesan panjang tentang masa-masa kami kuliah.

Saat itu tidak berhasil, ia mencoba menekan lewat keluarga besar.

Aku mendapat telepon dari paman.

Bibi.

Sepupu.

Semua mengatakan hal serupa.

“Namanya rumah tangga pasti ada salah paham.”

“Laki-laki memang kadang tidak peka.”

“Jangan menghancurkan pernikahan hanya karena keluarga mertua.”

Tak satu pun dari mereka menggunakan kalimat yang tepat.

Pengkhianatan finansial.

Pelanggaran kepercayaan.

Penghinaan terhadap kehilangan kehamilan.

Manipulasi.

Kebohongan.

Mereka menyebut semua itu “salah paham”.

Aku berhenti menjelaskan.

Sinta mengajariku satu hal.

“Kamu tidak perlu membuat semua orang memahami alasanmu sebelum kamu berhak menyelamatkan diri.”

Jadi aku berhenti mencari persetujuan.

Masalah terbesar muncul ketika pembagian aset dibahas.

Arga bersikeras rumah Bu Ratih tidak ada hubungannya denganku.

Aku setuju.

Sampai kami menemukan sesuatu.

Empat tahun lalu, tidak lama setelah menikah, rumah tersebut direnovasi besar-besaran.

Atap diganti.

Dapur dibongkar.

Lantai diganti.

Dibangun kamar tambahan.

Total hampir Rp190 juta.

Aku ingat jelas Arga mengatakan itu tabungan almarhum ayahnya.

Ternyata tidak.

Sebagian besar pembayaran kontraktor berasal dari rekening yang mendapat transfer dari deposito pernikahan kami.

Aku sendiri mentransfer Rp87 juta, karena saat itu Arga mengatakan uang tersebut digunakan sebagai dana renovasi “rumah yang nantinya akan menjadi tempat tinggal kami bersama”.

Aku bahkan masih memiliki percakapan WhatsApp.

Sinta menemukannya ketika kami mengekspor riwayat pesan lama.

Pesan Arga berbunyi:

“Nanti rumah ini juga jadi rumah kita. Anggap saja kita memperbaiki aset keluarga sendiri.”

Lucu.

Ketika butuh uangku, rumah itu “rumah kita”.

Ketika aku ingin pergi, Bu Ratih berteriak, “Ini rumah saya.”

Dokumen tidak memiliki ingatan selektif seperti manusia.

Tekanan finansial mulai menghantam keluarga Arga.

Tanpa penghasilanku, Arga tidak mampu menanggung semua kebiasaan lama.

Ia harus memilih antara cicilan KPR Maya, kebutuhan Bu Ratih, dan hidupnya sendiri.

Ia berhenti membayar uang sekolah tambahan keponakannya.

Maya marah.

Ia dan Arga bertengkar.

Kemudian Deni meminta agar rumah Tambun dijual atau dialihkan karena ia tidak mau keluarganya terus berada di tengah konflik.

Namun menjual rumah yang masih dalam masa kredit tidak semudah menjual motor.

Mereka mencoba mengambil alih cicilan.

Pengajuan Deni tidak langsung mulus karena masih memiliki pinjaman kendaraan.

Bu Ratih mulai panik.

Untuk pertama kalinya, orang-orang yang selama ini mengatakan “uang keluarga tidak perlu dihitung” mulai menghitung setiap rupiah.

Maya menelepon Arga setiap hari.

Bu Ratih menuduh Maya tidak tahu berterima kasih.

Maya balik menuduh ibunya yang sejak awal menjanjikan bahwa Arga akan membayar.

Deni akhirnya keluar dari rumah selama beberapa minggu karena muak mengetahui begitu banyak keputusan finansial dibuat di belakangnya.

Keluarga yang katanya kuhancurkan ternyata mampu menghancurkan dirinya sendiri begitu dompetku berhenti menopangnya.

Enam bulan setelah hari Lebaran itu, aku bertemu Arga untuk mediasi terakhir.

Ia terlihat jauh lebih kurus.

Kami duduk berhadapan.

Tidak ada Bu Ratih.

Tidak ada Maya.

Hanya kami.

Arga memandangi cincin di jarinya.

“Aku sekarang mengerti kenapa kamu marah.”

Aku tidak menjawab.

Ia tertawa hambar.

“Setelah kamu pergi, Mama dan Maya tetap minta semuanya berjalan seperti biasa.”

Ia mengusap wajah.

“Baru dua bulan aku sudah nggak tahan.”

Aku menatapnya.

“Itu yang saya jalani empat tahun.”

“Iya.”

Ia menunduk.

“Aku baru sadar.”

Kalimat itu tidak membuatku bahagia.

Justru menyedihkan.

Ia harus kehilangan istrinya terlebih dahulu untuk menyadari bahwa istrinya selama ini kelelahan.

“Aku selalu pikir selama aku nggak ikut menghina kamu, berarti aku nggak salah.”

Aku diam.

“Ternyata diamku bikin mereka merasa boleh melakukan apa saja.”

Untuk pertama kalinya sejak semua terjadi, ia mengatakannya dengan benar.

Tanpa “tapi”.

Tanpa “Mama cuma…”

Tanpa “Kamu juga…”

Ia melanjutkan,

“Aku juga salah soal uang.”

“Bukan salah.”

Aku memandangnya.

“Kamu berbohong.”

Ia mengangguk.

“Iya.”

“Kenapa?”

Lama ia diam.

Kemudian menjawab,

“Aku takut Mama menganggap aku berubah setelah menikah.”

Aku hampir tersenyum.

“Jadi supaya tidak dianggap berubah oleh ibumu, kamu mengkhianati istrimu?”

Arga menutup mata.

“Iya.”

Jawaban itu terdengar menyedihkan.

Tetapi setidaknya akhirnya jujur.

Ia mendorong sebuah map ke arahku.

“Apa ini?”

“Dokumen penjualan mobil.”

Aku membukanya.

Mobil yang selama ini digunakan Arga sudah dijual.

Sebagian dana digunakan untuk mengembalikan uang yang bisa dibuktikan berasal dari penghasilanku.

Ia juga memberikan dokumen kesepakatan bahwa ketika rumah Tambun berhasil dialihkan atau dijual, sebagian nilai yang berasal dari dana bersama harus dikembalikan sesuai penyelesaian hukum kami.

Jumlahnya tidak mengembalikan seluruh kerugianku.

Tetapi cukup besar.

Aku menutup map.

“Aku nggak minta kamu memaafkan.”

Arga berkata pelan.

“Aku cuma mau kali ini melakukan sesuatu dengan benar.”

Aku mengangguk.

“Terima kasih.”

Ia menatapku.

“Mungkin kalau waktu itu aku membelamu…”

Aku memotongnya.

“Jangan.”

Ia terdiam.

“Jangan buat versi hidup lain di kepala kita.”

Aku menarik napas.

“Yang terjadi sudah terjadi.”

“Jadi benar-benar selesai?”

Aku menatap laki-laki yang pernah sangat kucintai.

Aneh sekali.

Tidak ada kebencian lagi.

Hanya jarak.

“Iya.”

Aku melepas cincin.

Meletakkannya di meja.

“Sudah selesai.”

Perceraian kami resmi beberapa minggu kemudian.

Aku tidak merayakannya.

Aku juga tidak merasa menang karena sebuah pernikahan berakhir.

Tetapi ketika keluar dari gedung dan menghirup udara siang, aku merasa seperti seseorang akhirnya membuka jendela setelah ruangan tertutup bertahun-tahun.

Sinta menungguku di mobil.

“Gimana?”

“Selesai.”

Ia menyerahkan es kopi.

“Selamat datang kembali di hidupmu.”

Aku tertawa.

Setahun kemudian, hari kedua Lebaran datang lagi.

Kali ini pukul enam pagi aku sudah bangun di rumah orang tuaku di Makassar.

Bukan karena ada telepon darurat.

Bukan karena seseorang menyuruhku memasak dua belas menu.

Karena ayah memukul pintu kamar.

“Naila!”

Aku membuka pintu dengan rambut berantakan.

“Apa?”

“Cepat.”

“Kenapa?”

“Ikan bakarnya gosong.”

Aku melotot.

“Terus?”

“Bapak butuh saksi bahwa yang bakar Mama.”

Dari dapur Mama berteriak,

“Jangan fitnah orang pagi-pagi!”

Aku tertawa begitu keras sampai perutku sakit.

Rumah kecil itu ramai.

Sepupuku datang.

Keponakan-keponakan berlarian.

Tetapi tidak ada seorang pun menganggap aku pelayan.

Kalau makan, semua membantu.

Kalau piring kotor, semua membawa ke dapur.

Ayah malah mengusirku ketika aku terlalu lama berdiri.

“Kamu cuti.”

“Semua orang juga cuti.”

“Tapi kamu anak Bapak.”

Aku tersenyum.

Setelah perceraian, aku pindah sementara ke Makassar.

Enam bulan kemudian perusahaan memberiku kesempatan memimpin cabang baru di sana.

Aku menerima.

Aku menyewa apartemen kecil dekat kantor.

Kemudian, setelah dana penyelesaian dari aset pernikahan masuk, ditambah tabungan yang akhirnya bisa kukumpulkan tanpa bocor ke mana-mana, aku mengambil KPR rumah kecil atas namaku sendiri.

Dua kamar.

Halaman sempit.

Dapur sederhana.

Tidak mewah.

Tetapi ketika menandatangani akad kredit, aku menahan air mata.

Karena untuk pertama kalinya, uang yang kukumpulkan benar-benar sedang membangun masa depanku sendiri.

Aku tidak pernah mencari tahu secara aktif tentang keluarga Arga.

Namun kabar kadang datang melalui teman.

Rumah Tambun akhirnya dialihkan setelah hampir setahun penuh masalah.

Maya dan Deni masih bersama, tetapi Deni mengambil alih seluruh pengelolaan keuangan rumah tangga dan berhenti mengizinkan Maya membuat komitmen finansial atas nama keluarga tanpa persetujuan.

Bu Ratih menjual beberapa perhiasan untuk menutup sebagian kewajibannya.

Yang paling mengejutkan, Arga keluar dari rumah ibunya dan menyewa kamar kos dekat kantor.

Katanya ia mulai belajar mengatur penghasilan sendiri.

Untuk terapi fertilitas, ia tetap melanjutkannya.

Bukan lagi karena tuntutan ibunya.

Tetapi demi kesehatannya sendiri.

Aku tidak tahu apakah ia suatu hari akan menikah lagi.

Aku harap jika iya, ia sudah belajar satu hal:

Membela pasangan bukan berarti durhaka kepada keluarga.

Dan mencintai ibu bukan berarti membiarkan ibu menyakiti istri.

Sedangkan aku?

Aku akhirnya berhenti menganggap dua keguguranku sebagai bukti bahwa tubuhku gagal.

Aku kembali menemui dokter.

Bukan untuk segera mencoba punya anak.

Hanya untuk memeriksa kesehatanku sendiri.

Dokter berkata kondisi reproduksiku secara umum baik.

Mendengar itu, aku menangis di parkiran.

Bukan karena aku langsung ingin hamil.

Tetapi karena selama bertahun-tahun ada suara Bu Ratih di kepalaku.

“Tubuhmu lemah.”

“Kamu tidak bisa memberi keturunan.”

“Kamu bukan perempuan sempurna.”

Hari itu aku akhirnya membuang suara itu.

Aku mungkin akan menikah lagi.

Mungkin tidak.

Aku mungkin suatu hari mempunyai anak biologis.

Mungkin memilih jalan hidup lain.

Apa pun itu, nilainya tidak menentukan harga diriku.

Siang hari pada Lebaran itu, Mama meletakkan dua potong ayam di piringku.

“Kenapa dua?”

“Dulu waktu kecil kamu selalu berebut paha ayam sama Bapak.”

Ayah langsung protes.

“Itu fitnah lama.”

Aku tertawa.

Mama kemudian bertanya,

“Kamu bahagia sekarang?”

Pertanyaannya sederhana.

Aku melihat meja makan.

Ayah sedang mengupas mangga.

Mama membagi sambal.

Dari luar terdengar anak-anak tetangga menyalakan petasan kecil.

Ponselku tergeletak diam.

Tidak ada keluarga yang menelepon pura-pura sakit.

Tidak ada orang menyuruhku pulang untuk memasak.

Tidak ada suami yang menarik lengan bajuku sambil berkata,

“Sudahlah, mengalah saja.”

Aku memandang Mama.

“Iya.”

“Benar?”

Aku mengangguk.

“Sekarang benar-benar iya.”

Ayah menyodorkan mangga kepadaku.

“Nah, bagus.”

Lalu ia menunjuk dapur.

“Tapi kalau sudah bahagia, habis makan bantu Bapak cuci piring.”

Mama langsung melempar serbet ke arahnya.

“Anak baru pulang disuruh cuci piring!”

“Kan Bapak bilang bantu, bukan suruh sendiri!”

Kami bertiga tertawa.

Dan di tengah suara itu, aku akhirnya memahami sesuatu yang seharusnya kupahami sejak lama.

Keluarga bukan tempat di mana seseorang terus-menerus diminta berkorban supaya semua orang lain nyaman.

Keluarga bukan tempat di mana uangmu dianggap milik bersama, tetapi pendapatmu dianggap urusan pribadi.

Keluarga bukan tempat di mana luka paling dalam digunakan untuk membuatmu patuh.

Rumah juga bukan bangunan yang namanya tertulis pada sertifikat.

Rumah adalah tempat di mana ketika kamu pulang dalam keadaan hancur, seseorang tidak bertanya berapa banyak yang masih bisa kamu berikan.

Mereka hanya membuka pintu.

Memelukmu.

Dan berkata,

“Pulanglah.”

Empat tahun aku mempertahankan sebuah pernikahan karena takut dianggap gagal.

Pada akhirnya, keberanian terbesar yang kulakukan bukan mempertahankannya.

Melainkan mengakui bahwa sesuatu yang terus melukaiku memang sudah waktunya dilepaskan.

Lebaran tahun itu menjadi Lebaran pertamaku tanpa suami.

Tetapi anehnya, itulah pertama kalinya setelah bertahun-tahun aku tidak merasa sendirian.

Aku duduk di antara kedua orang tuaku, mengambil potongan ayam dari piring ayah sampai ia protes keras, lalu tertawa seperti anak perempuan yang akhirnya menemukan jalan pulang.

Dan kali ini, tidak ada satu telepon pun yang mampu membuatku berbalik.