BAGIAN 2 — FOTO LAMA ITU MEMBUKA RAHASIA TUJUH BELAS TAHUN, DAN AKU AKHIRNYA TAHU ALASAN REZA MENDEKATIKU SEJAK PERTEMUAN PERTAMA
Aku menatap foto itu begitu lama sampai suara gedoran Reza di pintu seolah menghilang.
Ibuku tampak jauh lebih muda. Rambutnya diikat sederhana, dan dia mengenakan seragam putih sebuah laboratorium.
Di sampingnya berdiri Reza.
Namun Reza dalam foto itu masih sangat muda.
Aku memperbesar gambar.
Di belakang mereka terdapat papan bertuliskan nama perusahaan keluarga Reza.
Tanganku menjadi dingin.
—Kenapa ibuku ada di sana?
Bu Ratih tidak menjawab.
Gedoran terdengar lagi.
—Laras! Buka pintunya!
Aku menoleh kepada Bu Ratih.
—Jawab aku. Apa hubungan ibuku dengan perusahaan kalian?
Bibirnya bergetar.
—Dia pernah bekerja di laboratorium yang menguji produk perusahaan kami.
Aku merasa napasku tercekat.
—Apa?
—Tujuh belas tahun lalu, ibumu adalah salah satu orang pertama yang menemukan masalah pada sampel makanan yang kemudian dikirim ke sekolah-sekolah.
Aku kembali melihat foto.
Mendadak aku teringat masa kecilku.
Ibuku pernah bekerja di sebuah laboratorium, tetapi ketika aku bertanya kenapa dia berhenti, jawabannya selalu sama.
“Tempat itu sudah tidak cocok untuk Ibu.”
Aku tidak pernah curiga.
—Kalau begitu, kenapa ada Reza di foto tahun 2018?
—Karena saat itulah dia menemukan ibumu lagi.
Jantungku serasa berhenti.
Di luar, suara Reza berubah.
—Laras, dengarkan aku! Ada hal yang bisa kujelaskan!
Aku segera menyalin seluruh isi USB ke laptop.
Kemudian aku mengunggah salinannya ke penyimpanan daring yang hanya bisa kuakses sendiri.
Bu Ratih menatapku.
—Apa yang kamu lakukan?
—Memastikan kalau mereka mengambil USB ini, bukti tidak ikut hilang.
Untuk pertama kalinya malam itu, tatapan Bu Ratih sedikit berubah.
Seolah-olah ketakutan yang selama bertahun-tahun menguasainya akhirnya memberi tempat bagi sedikit keberanian.
Aku membuka dokumen berikutnya.
Ada beberapa surel lama.
Salah satunya dikirim Reza kepada ayahnya pada 2018.
Aku membacanya.
“Aku sudah menemukan mantan petugas laboratorium itu. Dia tinggal bersama putrinya. Jangan hubungi mereka. Aku akan mencari tahu apa yang masih mereka simpan.”
Darahku terasa membeku.
Putrinya.
Aku.
Aku membuka surel berikutnya.
Beberapa bulan kemudian Reza menulis:
“Putrinya bekerja di bidang pengadaan makanan. Dia mungkin tahu cara membaca dokumen lama itu.”
Aku menutup mulut.
Pertemuanku dengan Reza dua tahun lalu tiba-tiba muncul di kepalaku.
Kami bertemu di sebuah pameran industri makanan.
Saat itu dia mengatakan pertemuan kami kebetulan.
Dia menjatuhkan kartu namanya di dekat mejaku, lalu bercanda bahwa mungkin takdir sedang memperkenalkan kami.
Ternyata bukan takdir.
Dia sudah tahu siapa aku.
—Jadi sejak awal…
Suaraku hampir tidak keluar.
—Dia mendekatiku karena ibuku?
Bu Ratih menangis.
—Awalnya, iya.
Aku memejamkan mata.
Semua makan malam.
Semua bunga.
Lamaran.
Pernikahan.
Apakah semuanya hanya sebuah penyelidikan panjang?
Pintu depan kembali digedor.
—Laras!
Kali ini aku berjalan mendekatinya.
Bu Ratih menahanku.
—Jangan.
—Aku tidak akan membuka pintu.
Aku berdiri beberapa langkah dari sana.
—Kenapa kamu menikahiku, Reza?
Keheningan berlangsung beberapa detik.
Lalu suaranya terdengar.
—Buka pintu. Kita bicara.
—Jawab dari sana.
—Tidak sesederhana itu.
Aku tertawa getir.
—Kamu menemukan ibuku pada 2018. Kamu tahu siapa aku sebelum kita berkenalan.
Sunyi.
Jawaban itu sudah cukup.
—Laras…
—Jadi benar.
—Awalnya aku hanya ingin mencari tahu apa yang ibumu simpan.
Bu Ratih menutup mata.
Dadaku terasa seperti dihantam sesuatu.
Namun Reza melanjutkan:
—Tapi setelah mengenalmu, semuanya berubah.
—Jangan gunakan kalimat itu untuk membenarkan kebohonganmu.
—Aku benar-benar mencintaimu!
—Kalau kamu mencintaiku, kenapa kamu tidak pernah mengatakan yang sebenarnya?
Tidak ada jawaban.
Aku kembali ke laptop.
Ada satu dokumen terakhir di folder Reza.
Sebuah catatan hasil pemindaian.
Isinya daftar beberapa berkas laboratorium lama yang belum pernah ditemukan keluarga Reza.
Di bagian bawah tertulis:
“Kemungkinan disimpan oleh mantan petugas laboratorium.”
Ibuku.
Tiba-tiba aku memahami semuanya.
Mereka menikahkanku dengan Reza bukan karena ingin mendapatkan hartaku.
Mereka menginginkan sesuatu yang mungkin disimpan ibuku.
Aku langsung menelepon Ibu.
Panggilan pertama tidak dijawab.
Kedua juga tidak.
Aku mulai panik.
Panggilan ketiga akhirnya tersambung.
—Laras?
Mendengar suaranya membuat lututku hampir lemas.
—Ibu di mana?
—Di rumah. Kenapa?
—Kunci semua pintu. Jangan bukakan untuk siapa pun.
Dia terdiam.
—Kamu sudah tahu?
Aku membeku.
—Tahu apa?
Keheningan panjang.
Kemudian ibuku berkata:
—Tentang perusahaan keluarga suamimu.
Aku hampir tidak percaya.
—Ibu tahu siapa Reza?
—Sejak pertama kali kamu menunjukkan fotonya.
—Kenapa Ibu diam saja?
Suaranya pecah.
—Karena Ibu berharap anak tidak harus menanggung dosa orang tuanya.
Aku menahan air mata.
—Ibu masih menyimpan bukti?
—Bukan di rumah.
Tiba-tiba terdengar suara keras dari luar.
Reza berteriak kepada seseorang.
Kemudian suara ayahnya terdengar.
—Hancurkan pintunya!
Bu Ratih langsung berdiri.
Aku memegang ponsel erat-erat.
—Ibu, dengarkan aku. Jangan pergi ke mana pun. Aku akan menghubungi pihak berwenang.
Namun ibuku justru berkata:
—Laras, ada sesuatu yang harus kamu ketahui. Bukti yang mereka cari selama tujuh belas tahun bukan hanya laporan laboratorium.
Aku terdiam.
—Lalu apa?
—Ada rekaman asli dari rapat malam ketika mereka memutuskan tetap mengirim produk bermasalah ke sekolah.
Aku menatap Bu Ratih.
Wajahnya berubah pucat.
—Siapa yang ada dalam rekaman itu?
Ibuku menarik napas panjang.
—Ayah Reza. Dua orang manajer lama. Dan seseorang yang selama ini tidak pernah dicurigai siapa pun.
Pada saat bersamaan, terdengar suara kaca pecah dari bagian depan rumah.
Bu Ratih menggenggam tanganku.
Ibuku melanjutkan dengan suara gemetar:
—Orang keempat itu adalah orang yang sekarang berdiri di sampingmu, Laras.
Aku perlahan menoleh.
Bu Ratih berdiri membeku.
Dan untuk pertama kalinya, aku tidak tahu apakah perempuan yang baru saja kuselamatkan itu korban…
atau bagian dari rahasia yang selama ini sedang kucari.
(Lanjutkan ke BAGIAN 3….)
