Bagian 3 — Mereka Mengira Aku Pulang Tanpa Bukti, Padahal Rekening, Data Keluarga, dan Satu Rekaman Malam Itu Membongkar Kebohongan Tujuh Tahun Penuh

Avatar penulis
Cerita 02
16 menit baca 12 tayangan
Bagian 3 — Mereka Mengira Aku Pulang Tanpa Bukti, Padahal Rekening, Data Keluarga, dan Satu Rekaman Malam Itu Membongkar Kebohongan Tujuh Tahun Penuh
Indeks

Bagian 3 — Mereka Mengira Aku Pulang Tanpa Bukti, Padahal Rekening, Data Keluarga, dan Satu Rekaman Malam Itu Membongkar Kebohongan Tujuh Tahun Penuh

Untuk pertama kalinya sejak aku tiba di rumah itu, Arga kehilangan kemampuan mengendalikan wajahnya.

Bibirnya mengeras.

Tangannya mengepal.

Tatapannya berpindah dari ponselku ke Nisa, lalu ke ibunya.

Aku mengenal ekspresi itu.

Itulah wajah yang biasanya muncul ketika ada sesuatu di rumah yang tidak berjalan sesuai rencananya.

Selama tujuh tahun aku menganggapnya sekadar sifat perfeksionis seorang pilot.

Hari itu aku baru mengerti.

Arga bukan hanya suka mengendalikan keadaan.

Ia terbiasa mengendalikan versi kebenaran.

“Nadia,” katanya pelan, “jangan bicara sembarangan soal perusahaan.”

“Aku tidak bicara sembarangan.”

“Data perusahaan rahasia.”

“Aku cuma bertanya apakah nama Nisa pernah kamu daftarkan sebagai tanggungan.”

“Tidak.”

Jawabannya terlalu cepat.

Aku mengangguk.

“Bagus.”

Aku mengangkat ponsel.

“Berarti kalau bagian kepatuhan perusahaan memeriksa, kamu tidak perlu takut.”

Arga bergerak hendak merebut ponsel.

Aku mundur.

Dua orang tamu justru berdiri di antara kami.

Salah satunya paman yang sebelumnya mempertanyakan hubungan kami.

“Jangan main tangan, Ga.”

Mungkin karena suasana sudah berubah.

Mungkin karena beberapa orang mulai sadar bahwa cerita “perempuan gila mengejar pilot beristri” tidak lagi masuk akal.

Atau mungkin karena dokumen yang kupegang jauh lebih sulit dibantah daripada air mata.

Bu Ratna masih mencoba menyelamatkan keadaan.

“Masalah rumah tangga jangan dibuka di depan orang banyak!”

Aku menatapnya.

“Tadi ketika Ibu menyebut saya perebut suami, Ibu tidak keberatan membuka masalah rumah tangga.”

Beliau terdiam.

Aku melanjutkan.

“Ketika orang-orang Ibu memukul saya dan mendorong anak saya, Ibu juga tidak bilang ini masalah pribadi.”

Beberapa kerabat menundukkan kepala.

Aku mendekati Kirana.

Ada goresan merah di pipinya dan kulit telapak tangannya lecet karena jatuh.

Hatiku seperti diremas.

Aku berjongkok.

“Kita pergi sekarang.”

“Papa ikut?”

Pertanyaan itu membuat seluruh tubuhku kaku.

Aku menatap putriku.

Aku tidak mau berbohong lagi.

“Tidak, Sayang.”

Matanya berkaca-kaca.

“Kenapa?”

Aku mengusap rambutnya.

“Karena Papa harus menyelesaikan akibat dari pilihannya.”

Aku menggandeng tangannya dan berjalan ke gerbang.

Tidak ada lagi yang berani menahan.

Di belakangku Arga memanggil.

“Nadia!”

Aku tidak menoleh.

“Nadia, kita bicara berdua!”

Aku tetap berjalan.

Baru ketika hampir masuk mobil, aku berhenti.

“Aku sudah tujuh tahun bicara berdua denganmu.”

Aku menoleh sekali.

“Masalahnya, selama tujuh tahun ternyata kamu selalu pulang dari percakapan kita untuk menjalani kehidupan lain.”

Kemudian aku masuk mobil.

Tujuan pertama kami bukan hotel.

Melainkan rumah sakit.

Dokter membersihkan luka Kirana dan memeriksa memar di lenganku.

Pipiku mulai membengkak.

Punggung tanganku memar karena ditarik.

Dokter mencatat semuanya.

Atas saran kakakku, malam itu juga aku membuat laporan mengenai kekerasan yang terjadi dan menyerahkan rekaman suara serta beberapa video dari tamu yang bersedia mengirimkan salinannya.

Aku tidak ingin menjadi pahlawan.

Aku hanya tidak mau kejadian itu diubah menjadi cerita lain besok pagi.

Karena aku sudah belajar satu hal.

Orang seperti Arga hidup dari ruang kosong antara kejadian dan bukti.

Jika ruang kosong itu dibiarkan, ia akan mengisinya dengan kebohongan.

Kami menginap di hotel dekat Pantai Losari.

Kirana tidak banyak bicara.

Ia duduk di atas tempat tidur sambil memeluk tas kecilnya yang talinya sudah putus.

Boneka kelinci yang diperebutkan Raka masih tergantung di sana.

Setelah mandi, ia bertanya,

“Ma, Papa punya anak lain?”

Aku duduk di sebelahnya.

“Iya.”

“Berarti Raka adikku?”

Aku mengangguk pelan.

“Secara darah, iya.”

“Papa sayang dia?”

Aku menelan ludah.

“Papa punya tanggung jawab pada semua anaknya.”

“Tapi Papa tadi bilang aku bukan anaknya.”

Aku tidak bisa menjawab beberapa detik.

Kemudian aku memeluknya.

“Yang Papa bilang tadi tidak benar.”

“Kenapa Papa bohong?”

Pertanyaan sederhana itu jauh lebih sulit daripada seluruh teriakan di pesta tadi.

“Karena kadang orang dewasa takut menerima akibat dari kesalahan yang mereka buat.”

Kirana menangis tanpa suara di pelukanku.

Malam itu ia tertidur sambil menggenggam tanganku.

Aku tidak tidur sama sekali.

Pukul satu dini hari, ponselku penuh pesan.

Arga menelepon dua puluh tiga kali.

Bu Ratna sebelas kali.

Nisa mengirim satu pesan.

Mbak Nadia, sebaiknya kita bicarakan baik-baik demi anak-anak.

Aku membacanya lama.

Demi anak-anak?

Tujuh tahun aku tidak tahu anaknya ada.

Enam tahun Kirana tumbuh dengan seorang ayah yang selalu “terbang” setiap Lebaran.

Ternyata sebagian penerbangan itu hanya alasan agar kami tidak pernah berada di kota yang sama.

Aku mematikan notifikasi.

Pagi berikutnya, Kak Dimas terbang dari Jakarta bersama seorang pengacara keluarga bernama Mira.

Kami bertemu di ruang rapat kecil hotel.

Mira tidak langsung bicara soal perceraian.

Ia meminta kronologi.

Tanggal pernikahan.

Rekening.

Aset.

Transfer.

Dokumen rumah.

Riwayat komunikasi.

Barulah aku menyadari betapa sistematis kebohongan Arga sebenarnya.

Selama menikah, kami mempunyai tiga rekening utama.

Satu rekening rumah tangga.

Satu tabungan bersama.

Satu rekening yang menurut Arga digunakan untuk kebutuhan profesinya—pelatihan, seragam, sertifikasi, dan biaya perjalanan.

Karena penghasilanku sendiri cukup tinggi sebagai konsultan keuangan, aku jarang mengawasi rekening terakhir.

Kesalahan terbesar dalam hidupku bukan percaya kepada suami.

Kesalahanku adalah percaya tanpa memverifikasi ketika begitu banyak hal mulai tidak masuk akal.

Dimas membuka laptop.

“Ini yang bikin aku curiga kemarin.”

Ia menunjukkan rangkaian transaksi.

Setiap menerima bonus tahunan, Arga memindahkan sebagian uang ke rekening lain.

Dari sana uang masuk ke rekening Nisa.

Jumlah total tujuh tahun hampir Rp2,4 miliar.

Belum termasuk rumah di Bintaro.

Rumah itu dibeli tiga tahun lalu seharga hampir Rp3,1 miliar.

Uang muka berasal dari tabungan bersama kami.

Aku ingat transaksi itu.

Arga bilang digunakan sebagai investasi properti melalui temannya.

“Kalau naik nanti kita jual,” katanya waktu itu.

Aku bahkan memujinya karena berpikir panjang.

Ternyata investasi itu adalah rumah untuk keluarga keduanya.

Mira bertanya,

“Ada bukti dia menyebut properti itu sebagai investasi milik kalian?”

Aku membuka percakapan lama.

Ada.

Banyak.

Bahkan ada pesan:

DP rumah investasi sudah kubayar dari tabungan kita. Nanti sertifikat menyusul.

Mira mencatat.

“Bagus. Jangan hapus apa pun.”

Kemudian Dimas membuka folder kedua.

Di sinilah situasinya berubah dari pengkhianatan rumah tangga menjadi sesuatu yang lebih serius.

Arga ternyata pernah mengirimkan foto dokumen ke email pribadinya.

Dimas menemukannya di komputer rumah kami setelah aku memberinya izin mengakses laptop keluarga yang tersinkronisasi.

Ada scan Kartu Keluarga.

Tetapi bukan KK kami.

Di sana tertulis:

Kepala keluarga: Arga Pradipta.

Istri: Nisa Mahendra.

Anak: Raka Aditya Pradipta.

Aku menatap layar.

“Ini apa?”

Mira memperbesar gambar.

“Belum tentu dokumen resmi.”

Dimas mengangguk.

“Kita sudah cek nomor dokumennya melalui jalur resmi yang tersedia. Ada kejanggalan format.”

Aku mulai memahami.

“Maksud kalian…”

“Bisa jadi dokumen itu dimanipulasi atau dibuat untuk keperluan tertentu.”

Mira segera menambahkan,

“Kita tidak menyimpulkan dulu. Biarkan pihak berwenang dan perusahaan memverifikasi.”

Tetapi aku sudah tahu kemungkinan jawabannya.

Arga membutuhkan dokumen agar Nisa dan Raka terlihat seperti keluarga resminya dalam situasi tertentu.

Salah satunya fasilitas perjalanan keluarga maskapai.

Mungkin juga administrasi sekolah.

Mungkin fasilitas kesehatan.

Mungkin lebih banyak lagi.

Siang itu Arga akhirnya muncul di hotel.

Sendirian.

Kami bertemu di lobi.

Aku meminta Mira dan Dimas duduk tidak jauh dari kami.

Arga kelihatan tidak tidur.

“Nadia, aku bisa jelaskan.”

Aku hampir tertawa mendengar kalimat paling tua dalam sejarah perselingkuhan manusia itu.

“Silakan.”

Ia duduk.

“Nisa itu masa laluku.”

“Sekarang dia tinggal di rumah yang dibeli pakai uang kita.”

Ia mengusap wajah.

“Dengarkan dulu.”

“Aku mendengarkan.”

“Nisa hamil sebelum aku menikah denganmu.”

Aku terdiam.

Ini berbeda dengan yang kuperkirakan.

Arga melanjutkan.

“Waktu itu hubungan kami sudah rusak. Dia bilang tidak ingin meneruskan. Aku pikir semuanya selesai.”

“Lalu?”

“Beberapa bulan setelah pernikahan kita, dia menghubungi Mama. Katanya anak itu milikku.”

“Dan kamu tes DNA?”

Arga diam.

“Arga.”

“Ya.”

“Anak itu memang anakmu?”

Ia mengangguk.

Aku merasakan nyeri yang aneh.

Bukan lagi seperti ditusuk.

Lebih seperti bagian tubuh yang terlalu lama terluka sampai kehilangan rasa.

“Jadi ketika aku hamil Kirana…”

“Aku baru tahu soal Raka.”

“Dan kamu memutuskan tidak memberitahuku.”

“Aku takut kehilangan kamu.”

Aku memandangnya.

“Tidak.”

Ia mengernyit.

“Kamu bukan takut kehilangan aku.”

Aku menunjuk meja di antara kami.

“Kamu takut kehilangan kehidupan nyaman yang aku berikan.”

Arga menegang.

“Aku sayang kamu.”

“Orang yang menyayangi istrinya tidak menghapus keberadaan istri dan anaknya di depan lima puluh orang.”

“Itu karena situasinya kacau!”

“Kacau karena siapa?”

Ia terdiam.

Aku melanjutkan.

“Kamu punya tujuh tahun untuk jujur.”

“Satu hari.”

“Satu bulan.”

“Satu tahun.”

“Tujuh tahun, Arga.”

“Setiap Lebaran kamu bohong soal jadwal.”

“Setiap tahun ibuku mengirim uang kepada ibumu karena merasa bersalah aku tidak datang.”

“Setiap tahun uang itu dipakai untuk apa?”

Ia membuang muka.

Aku sudah mendapat jawabannya.

“Rumah?”

Diam.

“Sekolah Raka?”

Diam.

“Biaya Nisa?”

Masih diam.

“Pesta kemarin?”

Arga akhirnya berbisik,

“Sebagian.”

Aku tertawa pendek.

Rasanya pahit.

“Berapa banyak yang ibumu tahu?”

“Mama cuma ingin Raka diakui.”

“Dengan cara membuat Kirana seolah bukan cucunya?”

“Bukan begitu.”

“Dia memberi anakku Rp300 ribu setiap Lebaran setelah menyuruh Kirana salim berkali-kali supaya sopan.”

Aku menatapnya.

“Sedangkan kemarin dia memberi Raka kalung puluhan juta di pesta yang sebagian dibayar uang keluargaku.”

Arga mulai kehilangan kesabaran.

“Kenapa semuanya harus dihitung pakai uang?”

“Karena kamu membangun kebohonganmu pakai uang kami.”

Ia berdiri.

“Nadia, cukup.”

Aku ikut berdiri.

“Belum.”

Aku mengeluarkan satu amplop.

“Pengacaraku akan menghubungimu.”

Wajahnya berubah.

“Kamu mau cerai?”

“Aku sudah memutuskan sejak kamu mengatakan Kirana bukan anakmu.”

“Kamu sedang emosi.”

“Justru untuk pertama kalinya aku sangat tenang.”

Ia mencoba memegang pergelangan tanganku.

Dimas langsung bangkit.

Arga melepaskan.

“Nadia, pikirkan Kirana.”

Aku mendekat sedikit.

“Aku sedang memikirkan Kirana.”

“Itulah sebabnya aku tidak mau dia tumbuh belajar bahwa cinta berarti menerima penghinaan berulang-ulang.”

Aku meninggalkannya di lobi.

Tiga hari kemudian kami kembali ke Jakarta.

Dari sana, semuanya bergerak cepat.

Tidak dramatis seperti sinetron.

Tidak ada polisi datang dengan sirene untuk menyeret seluruh keluarga.

Tidak ada hakim langsung memukul palu.

Yang ada adalah dokumen.

Panggilan.

Pemeriksaan.

Rekening yang ditelusuri.

Percakapan lama yang dibuka.

Saksi-saksi yang dimintai keterangan.

Dan bagi Arga, proses yang pelan justru jauh lebih mengerikan.

Video pesta menyebar di grup keluarga lebih dulu.

Lalu seseorang mengunggah potongan ketika Kirana memanggilnya Papa dan Arga menyangkal mengenal kami.

Aku tidak mengunggahnya.

Aku juga meminta teman-temanku tidak menyebarkannya.

Kirana sudah cukup terluka tanpa harus menjadi tontonan internet.

Tetapi video itu telanjur beredar.

Beberapa hari kemudian bagian kepatuhan maskapai menghubungiku secara resmi untuk mengklarifikasi informasi tertentu mengenai status keluarga dan fasilitas tanggungan.

Aku hanya menyerahkan apa yang diminta.

Tidak lebih.

Tidak kurang.

Dua minggu kemudian Arga dibebastugaskan sementara dari beberapa tugas operasional selama pemeriksaan internal berlangsung.

Bukan karena ia berselingkuh.

Perusahaan tidak mengurus moral rumah tangga pegawainya.

Masalahnya adalah data tanggungan, dokumen pendukung, dan penggunaan fasilitas staf yang diduga tidak sesuai.

Untuk seseorang yang selama ini sangat bangga pada seragam dan jabatannya, kehilangan akses sementara ke kokpit adalah pukulan besar.

Bu Ratna meneleponku malam itu.

Kali ini suaranya tidak lagi keras.

“Nadia, kasihan Arga.”

Aku sampai menutup mata.

Setelah semuanya, kalimat pertamanya tetap tentang Arga.

“Dia bisa kehilangan pekerjaan.”

“Saya tidak menentukan keputusan perusahaan.”

“Kamu yang melapor!”

“Saya hanya menjawab pertanyaan dengan jujur.”

“Bukankah kamu pernah sayang sama dia?”

Aku menjawab,

“Pernah.”

“Kalau begitu cabut semuanya.”

“Ibu juga pernah bilang sayang kepada Kirana.”

Beliau terdiam.

Aku melanjutkan.

“Tapi ketika cucu Ibu didorong sampai jatuh, Ibu tidak menghentikan siapa pun.”

“Nadia…”

“Ketika Arga bilang Kirana bukan anaknya, Ibu berdiri di sebelahnya.”

Tidak ada jawaban.

“Kita sama-sama sudah menunjukkan bentuk sayang kita masing-masing, Bu.”

Aku menutup telepon.

Urusan rumah di Bintaro lebih panjang.

Karena pembayaran awal dan beberapa cicilan dapat dilacak ke dana selama perkawinan, pengacaraku memasukkannya ke dalam sengketa pembagian aset.

Nisa awalnya bersikeras rumah itu hadiah pribadi dari Arga.

Sayangnya percakapan Arga denganku menyebut rumah tersebut sebagai “investasi kita”.

Ada juga aliran dana dari rekening bersama.

Pada akhirnya persoalan properti itu tidak bisa lagi ditutup dengan kalimat, “Itu urusan saya.”

Sementara itu, penyelidikan mengenai dokumen keluarga yang digunakan Arga berjalan terpisah.

Aku sengaja tidak ikut campur lebih jauh.

Aku sudah terlalu lama menghabiskan energi memikirkan hidupnya.

Sekarang tugasku adalah membangun hidupku sendiri.

Sidang perceraian berlangsung berbulan-bulan.

Arga sempat meminta kami berdamai.

Lalu meminta mediasi.

Lalu mengatakan akan meninggalkan Nisa.

Kemudian mengirim foto lama kami bertiga.

Suatu malam ia menulis:

Aku salah. Tapi tujuh tahun kita tidak mungkin tidak berarti apa-apa.

Aku menatap pesan itu lama.

Lalu membalas:

Tujuh tahun itu berarti banyak. Karena itu pengkhianatanmu juga sebesar tujuh tahun.

Setelah itu aku berhenti menjawab pesan pribadi yang tidak berkaitan dengan Kirana atau proses hukum.

Masalah hak asuh menjadi bagian yang paling menguras tenaga.

Aku tidak pernah ingin memutus hubungan Kirana dengan ayahnya sepenuhnya.

Ia tetap ayah biologisnya.

Tetapi aku meminta pola pertemuan yang aman dan bertahap karena Kirana mulai mengalami kecemasan setiap mendengar suara telepon Arga.

Kami membawa Kirana ke psikolog anak.

Sesi pertama, ia menggambar dua rumah.

Satu rumah besar berwarna biru.

Satu rumah kecil berwarna kuning.

Di rumah biru ia menggambar Papa, seorang perempuan, dan seorang anak laki-laki.

Di rumah kuning hanya ada aku dan dirinya.

Psikolog bertanya,

“Kenapa kamu tidak menggambar Papa di rumah kuning?”

Kirana menjawab,

“Karena waktu banyak orang lihat, Papa bilang dia tidak kenal aku.”

Aku menangis di parkiran setelah sesi itu.

Bukan di depan Kirana.

Aku duduk di dalam mobil selama hampir dua puluh menit sambil memegang setir.

Hari itulah aku benar-benar berhenti bertanya apakah aku terlalu keras kepada Arga.

Orang dewasa mungkin bisa berdebat tentang perselingkuhan, uang, adat keluarga, harga diri, dan kesalahan.

Tetapi seorang anak hanya mengingat satu hal.

Apakah ayahnya memilih memegang tangannya ketika semua orang menyerangnya.

Arga tidak memilih Kirana.

Beberapa bulan kemudian, putusan perceraian kami selesai.

Pengaturan hak asuh dan kewajiban keuangan anak ditetapkan melalui proses hukum.

Pembagian aset membutuhkan waktu lebih panjang, tetapi sebagian besar aliran dana sudah cukup jelas untuk dinegosiasikan.

Rumah yang kutempati bersama Kirana tetap menjadi tempat kami.

Aset lain dibagi sesuai penyelesaian yang disepakati melalui kuasa hukum.

Soal rumah Bintaro, Arga akhirnya memilih melepas kepentingannya melalui penyelesaian finansial agar sengketa tidak terus berlarut.

Jumlah yang kuterima tidak mengembalikan tujuh tahun.

Tidak ada uang yang bisa.

Tetapi setidaknya uang yang selama ini diambil diam-diam dari masa depan Kirana tidak seluruhnya hilang.

Kasus kekerasan di pesta juga berjalan.

Beberapa orang yang memukul dan menarikku datang meminta maaf setelah mengetahui ada video dari berbagai sudut.

Aku menerima permintaan maaf dari mereka yang benar-benar mengaku salah.

Tetapi proses terhadap tindakan yang sudah dilaporkan tetap kubiarkan berjalan sesuai jalurnya.

Yang paling mengejutkan justru Bu Ratna.

Enam bulan setelah kejadian, beliau datang ke Jakarta.

Sendirian.

Tidak memakai kebaya mahal.

Tidak membawa rombongan.

Hanya sebuah tas dan kotak kecil.

Aku menemuinya di kafe, bukan di rumah.

Beliau mendorong kotak itu kepadaku.

Di dalamnya ada gelang emas kecil milik Kirana yang pernah beliau simpan di Makassar.

“Neneknya salah.”

Aku tidak menjawab.

Beliau menangis.

“Saya terlalu ingin cucu laki-laki.”

Aku menatap perempuan yang selama bertahun-tahun kusebut Mama.

“Keinginan Ibu punya cucu laki-laki bukan masalah.”

“Yang menjadi masalah adalah Ibu menganggap cucu perempuan boleh dikorbankan untuk mendapatkannya.”

Beliau menunduk.

“Saya malu.”

“Bagus.”

Beliau terkejut.

Mungkin berharap aku mengatakan tidak perlu merasa begitu.

Aku tidak melakukannya.

“Rasa malu kadang berguna kalau membuat seseorang berhenti mengulangi kesalahan.”

Beliau mengusap air mata.

“Boleh saya bertemu Kirana?”

“Belum.”

Wajahnya jatuh.

“Kenapa?”

“Karena Kirana masih takut.”

Aku mengambil kotak gelang itu.

“Kalau suatu hari psikolognya menilai dia siap dan Kirana sendiri mau, saya tidak akan menghalangi.”

Beliau mengangguk perlahan.

Sebelum pergi beliau berkata,

“Nisa juga meninggalkan Makassar.”

Aku tidak bertanya.

Tetapi beliau tetap menjelaskan.

Setelah kebohongan terbongkar, hubungan Nisa dan Arga ikut hancur.

Ternyata hidup sebagai “istri yang diakui keluarga” jauh berbeda ketika uang, rumah, fasilitas perjalanan, dan perlindungan Bu Ratna tidak lagi mengalir seperti sebelumnya.

Nisa membawa Raka tinggal bersama keluarganya.

Aku tidak merasa menang mendengar itu.

Raka tetap anak kecil.

Ia tidak memilih lahir dari situasi tersebut.

Aku bahkan meminta pengacaraku memastikan tidak ada dokumen yang menyeret nama anak itu lebih jauh daripada yang diperlukan.

Masalah orang dewasa seharusnya dibayar orang dewasa.

Bukan anak-anak.

Tentang Arga, aku mendengar kabar terakhir dari seorang teman lama.

Setelah proses internal cukup panjang, posisinya di perusahaan berubah dan kariernya tidak pernah kembali seperti sebelumnya.

Aku tidak mencari detail.

Aku juga tidak merayakannya.

Hukuman terbesar Arga bukan kehilangan jabatan.

Bukan rumah.

Bukan uang.

Melainkan kehilangan keyakinan bahwa ia bisa mengatur semua orang agar hidup sesuai kebohongan yang ia buat.

Setahun setelah perceraian, aku dan Kirana pindah ke Bandung.

Bukan karena melarikan diri.

Aku hanya ingin dekat dengan orang tuaku.

Aku membuka kantor konsultasi kecil bersama dua mantan rekan kerja.

Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, aku menjalani Lebaran tanpa menunggu pesan Arga tentang jadwal penerbangan.

Pagi Idul Fitri itu, rumah Ibu ramai.

Ayah membuat ketupat terlalu banyak.

Ibu memarahi semua orang karena mengambil rendang sebelum tamu datang.

Kirana memakai baju kurung warna biru muda.

Sebelum salat Id, ia datang membawa sebuah amplop kecil.

“Ma.”

“Apa?”

“Ini buat Mama.”

Di dalamnya ada gambar.

Aku dan Kirana berdiri di depan rumah.

Di belakang kami ada Ayah dan Ibu.

Di sudut langit ia menggambar pesawat kecil.

Aku menunjuk pesawat itu.

“Ini apa?”

Kirana tersenyum.

“Pesawat Papa.”

Aku menahan napas.

“Tapi kenapa jauh?”

Ia mengangkat bahu.

“Karena Papa punya jalannya sendiri.”

Kemudian ia menunjuk gambar kami.

“Kita juga punya jalan sendiri.”

Aku memeluknya.

Saat itu aku akhirnya memahami sesuatu.

Selama bertahun-tahun aku mengira keluarga harus dipertahankan dengan cara menahan diri.

Tidak bertanya terlalu banyak.

Tidak membuat suami tertekan.

Tidak mengecewakan mertua.

Tidak membicarakan uang.

Tidak merusak suasana Lebaran.

Aku begitu sibuk menjaga sebuah rumah agar tampak utuh sampai tidak sadar sebagian dindingnya sebenarnya sudah lama tidak ada.

Sekarang rumahku lebih kecil.

Anggotanya lebih sedikit.

Tidak ada suami yang pulang larut membawa koper pilot.

Tidak ada lagi pesan,

Besok aku terbang subuh.

Tidak ada lagi alasan yang harus kupercayai.

Tetapi di rumah kecil itu, tak seorang pun harus berpura-pura menjadi orang asing agar orang lain bisa mempertahankan rahasianya.

Beberapa minggu setelah Lebaran, Kirana akhirnya setuju bertemu Arga.

Pertemuan dilakukan di tempat netral.

Aku menunggu di meja berbeda.

Arga datang lebih kurus.

Ia membawa boneka kelinci baru.

Kirana tidak mengambilnya.

Mereka berbicara hampir satu jam.

Aku tidak mendengar semuanya.

Tetapi ketika mereka selesai, Arga mendekatiku.

Matanya merah.

“Dia tanya kenapa aku bilang bukan papanya.”

Aku diam.

“Aku tidak tahu harus jawab apa.”

“Kali ini coba jawab yang sebenarnya.”

Arga mengangguk.

Sebelum pergi ia berkata,

“Nadia…”

Aku menatapnya.

“Maaf.”

Tidak ada musik.

Tidak ada air mata dramatis.

Tidak ada pelukan.

Aku hanya menjawab,

“Aku harap suatu hari kamu bisa menjadi ayah yang lebih baik daripada suami yang pernah kamu pilih untuk jadi.”

Kemudian aku berjalan menuju Kirana.

Ia menggenggam tanganku.

“Ma, pulang?”

Aku tersenyum.

“Iya.”

Kami berjalan keluar bersama.

Di luar, matahari sore menyinari trotoar setelah hujan.

Kirana melompat menghindari genangan air.

Aku mengikuti di belakangnya.

Untuk pertama kalinya sejak hari pesta di Makassar itu, aku tidak merasa sedang meninggalkan sesuatu.

Aku merasa sedang menuju sesuatu.

Rumah.

Bukan rumah yang dibeli dengan uang.

Bukan rumah yang namanya tertulis di kartu keluarga.

Bukan rumah yang harus dipertahankan demi kata orang.

Tetapi tempat di mana anakku tidak perlu bertanya apakah ayahnya akan mengakui dirinya hari ini.

Tempat di mana aku tidak perlu membayar ratusan juta setiap tahun agar dianggap menantu yang baik.

Tempat di mana kasih sayang tidak membutuhkan kebohongan sebagai harga masuk.

Tujuh Lebaran aku mempercayai alasan seorang lelaki.

Pada Lebaran kedelapan, aku menemukan keluarga rahasianya.

Dan setahun kemudian, aku akhirnya menemukan sesuatu yang jauh lebih penting.

Kehidupan yang tidak lagi membutuhkan kebohongan siapa pun untuk tetap berdiri.