BAGIAN 2 – Rekaman Terakhir Sang Ayah Membuka Rahasia Kecelakaan Lama, Sementara Ratih Harus Menyelamatkan Nara Sebelum Bukti Terpenting Menghilang Selamanya
Suara mendiang suamiku masih bergema dari gudang ketika semua orang membeku di halaman.
—Dan orang pertama yang sama sekali tidak boleh kamu percayai… adalah orang yang saat ini memegang kunci rumah ini.
Wajah kakak iparku seketika pucat.
Tangannya yang mencengkeram Nara mengendur sesaat.
Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.
—Nara, lari ke Mama!
Nara menggigit tangan yang membekap mulutnya, melepaskan diri, lalu berlari sekuat tenaga ke arahku.
—Tangkap dia! —teriak kakak iparku.
Namun kedua pria yang berdiri di samping mobil justru tidak bergerak.
Salah seorang dari mereka mengangkat kedua tangannya.
—Saya tidak tahu ada masalah seperti ini. Kami hanya diminta mengantar anak itu ke sebuah tempat.
—Diam! —bentak kakak iparku.
Aku menarik Nara ke belakang tubuhku.
Tangannya gemetar hebat.
—Mama, jangan biarkan mereka membawaku.
—Tidak akan.
Aku sudah menghubungi polisi sebelum memasuki gudang. Saat melihat tulisan mengenai proses perwalian, firasatku mengatakan bahwa aku tidak boleh menghadapi semuanya sendirian.
Aku hanya perlu mengulur waktu.
Dari dalam gudang, rekaman kembali terdengar.
—Ratih, kalau kamu mendengar ini, mungkin aku sudah tidak bisa menjelaskan semuanya sendiri.
Aku menoleh ke arah gudang.
Suara itu membuat dadaku sesak.
Sudah tiga tahun aku tidak mendengar suara suamiku.
—Beberapa bulan terakhir aku menemukan transaksi yang tidak bisa dijelaskan dalam usaha keluarga kami. Awalnya aku mengira itu kesalahan pembukuan. Namun uang tersebut ternyata dialihkan ke sebuah perusahaan yang didirikan menggunakan nama kakakku.
Kakak iparku berlari menuju gudang.
Aku menghadangnya.
—Minggir!
—Takut mendengar kelanjutannya?
Ia menatapku dengan kebencian.
—Kamu tidak tahu apa-apa tentang keluarga ini.
—Benar. Karena kalian memastikan aku tidak tahu.
Rekaman berlanjut.
—Ketika aku meminta penjelasan, aku diberi tahu bahwa semua itu dilakukan untuk melindungi aset keluarga. Aku tidak percaya. Aku mulai menyimpan salinan transaksi, percakapan, dan dokumen kepemilikan.
Nara memeluk pinggangku.
Kemudian terdengar kalimat yang membuat kakak iparku benar-benar panik.
—Semua bukti asli kusimpan di dalam brankas. Kuncinya sengaja kubuat dua. Satu kusimpan sendiri. Yang lainnya kusembunyikan di tempat yang hanya Nara tahu.
Aku menatap putriku.
Nara mengangguk perlahan.
—Papa pernah bilang itu permainan rahasia kami.
—Di mana kuncinya?
Nara menunjuk gelang kain yang masih kugenggam.
Aku menatap benda itu.
—Di dalamnya?
Nara mengangguk.
Aku meraba lapisan kain yang tebal dan menemukan sesuatu yang keras.
Sebelum aku sempat membukanya, kakak iparku menerjang ke arahku.
Namun salah satu pria tadi menahannya.
—Jangan sentuh mereka!
—Lepaskan aku!
Ia meronta.
Suara sirene terdengar dari kejauhan.
Kakak iparku berhenti bergerak.
Untuk pertama kalinya aku melihat ketakutan nyata di wajahnya.
Beberapa menit kemudian, polisi tiba.
Aku menyerahkan ponselku, menunjukkan foto-foto dari ruangan tersembunyi, transaksi rekening Nara, serta gelang tersebut.
Nara kemudian dibawa bersamaku untuk memberikan keterangan dengan pendamping yang sesuai.
Malam itu kami tidak kembali ke rumah.
Kami menginap di tempat yang aman.
Nara tidur sambil memeluk lenganku.
Sekitar pukul tiga dini hari, ia tiba-tiba terbangun.
—Mama?
—Ya?
—Mama percaya padaku?
Aku mengusap rambutnya.
—Mama percaya.
—Walaupun Tante bilang aku pembohong?
Aku menahan air mata.
—Terutama ketika seseorang terus memaksamu diam.
Nara memelukku erat.
—Aku takut Mama pergi lagi.
Aku mengecup keningnya.
—Mama tidak akan meninggalkanmu sendirian menghadapi hal seperti ini lagi.
Keesokan harinya, penyelidikan dimulai.
Hasil pemeriksaan medis menunjukkan bahwa Nara memang pernah menerima obat penenang berulang kali. Polisi juga menemukan tempat yang dimaksud Nara sebagai “rumah dengan ruangan putih”.
Itu bukan rumah sakit.
Tempat tersebut adalah sebuah fasilitas perawatan kecil yang dikelola secara ilegal oleh kenalan bisnis kakak iparku.
Catatan yang ditemukan di sana menunjukkan Nara beberapa kali dibawa masuk dengan alasan “gangguan perilaku”.
Padahal tidak ada diagnosis yang mendukung klaim itu.
Tujuannya perlahan menjadi jelas.
Mereka ingin menciptakan catatan yang menggambarkan Nara sebagai anak dengan kondisi tertentu, sementara aku digambarkan sebagai ibu yang jarang berada di rumah.
Dengan dokumen-dokumen itu, kakak iparku berencana mengajukan hak perwalian.
Namun aku masih belum memahami alasannya.
Sampai penyidik membuka brankas suamiku.
Kunci kecil ternyata benar-benar tersembunyi di dalam lapisan gelang Nara.
Brankas berada di balik panel lantai ruangan rahasia.
Di dalamnya ada sebuah perangkat penyimpanan, beberapa dokumen, surat untukku, dan sebuah amplop bertuliskan:
“Untuk Nara ketika dia sudah cukup dewasa.”
Penyidik membuka dokumen yang berkaitan dengan kasus.
Aku membaca halaman pertama.
Tanganku langsung gemetar.
Sebelum meninggal, suamiku ternyata telah memindahkan sebagian besar kepemilikan bisnis dan aset pribadinya ke sebuah dana amanah untuk Nara.
Nilainya jauh lebih besar daripada yang pernah kubayangkan.
Namun ada satu ketentuan penting.
Selama Nara masih kecil, aset itu hanya dapat dikelola oleh wali sahnya.
Aku akhirnya mengerti.
Semua ini bukan hanya soal uang tabungan yang kukirim.
Mereka menginginkan kendali atas seluruh warisan Nara.
Tetapi ada sesuatu yang lebih mengerikan.
Di dalam perangkat penyimpanan itu terdapat rekaman dari kamera mobil suamiku pada hari kecelakaan.
Polisi memutarnya.
Aku melihat jalan.
Mendengar suara suamiku.
Lalu sebuah panggilan telepon masuk melalui sistem mobil.
Suara perempuan terdengar.
Aku mengenalinya.
Suara kakak iparku.
—Kamu di mana?
—Dalam perjalanan pulang.
—Jangan lewat jalan utama. Ada kemacetan. Ambil jalan lama dekat perkebunan.
Suamiku mengikuti saran itu.
Beberapa menit kemudian, rekaman berguncang hebat sebelum berhenti.
Aku menutup mulut.
—Apakah itu berarti dia menyebabkan kecelakaan?
Penyidik menggeleng.
—Belum tentu. Rekaman ini membuktikan dia mengarahkan korban ke jalan tersebut, tetapi tidak membuktikan penyebab kecelakaannya. Kami harus memeriksa kembali kasus lama.
Aku mengangguk.
Aku tidak ingin menuduh tanpa bukti.
Tiga hari berikutnya terasa seperti tiga bulan.
Rumah diperiksa.
Dokumen disita.
Beberapa orang dimintai keterangan.
Kemudian polisi menemukan sesuatu di komputer lama perusahaan.
Sebuah pesan yang dikirim beberapa jam sebelum kecelakaan suamiku.
Pesan itu bukan kepada kakak iparku.
Melainkan kepada seseorang yang selama ini tidak pernah kucurigai.
Seorang mantan rekan bisnis suamiku.
Isi pesannya singkat:
“Dia sudah menemukan rekening itu. Besok dia akan melapor. Pastikan dia tidak sampai ke pertemuan.”
Aku membaca kalimat itu berulang kali.
Namun penyidik menunjuk bagian bawah layar.
—Ada balasannya.
Aku menahan napas.
Balasan itu hanya terdiri dari tujuh kata.
“Tenang. Kakaknya sudah mengarahkan dia ke sana.”
Aku menatap penyidik.
—Jadi dia tahu?
—Itulah yang sedang kami selidiki.
Saat itu pintu ruangan terbuka.
Seorang petugas masuk membawa sebuah tas plastik bukti.
—Kami menemukan ini di gudang.
Di dalamnya terdapat telepon lama.
Petugas menyalakannya.
Satu pesan suara yang terhapus berhasil dipulihkan.
Tanggalnya sama dengan malam sebelum suamiku meninggal.
Penyidik menekan tombol putar.
Suara suamiku terdengar.
Namun kali ini dia tidak berbicara kepadaku.
Dia berbicara kepada kakaknya.
—Kalau sesuatu terjadi padaku besok, Ratih akan tahu semuanya. Aku sudah menyiapkan bukti. Dan kalau kamu berani menyentuh Nara demi uang itu…
Rekaman berhenti beberapa detik.
Lalu suara kakak iparku terdengar sangat pelan.
—Kalau begitu, pastikan Ratih tidak pernah menemukan kuncinya.
Aku menatap gelang kain Nara yang berada di atas meja.
Dan saat itulah aku sadar.
Selama ini mereka bukan sedang mencari dokumen.
Mereka sedang mencari benda yang sejak awal berada di kaki putriku.
(Lanjutkan ke BAGIAN 3….)
