BAGIAN 2 – Pak Harun Muncul di Depan Gudang, Lima Buku Lama Membuka Rahasia Ayah Maya dan Membalikkan Perebutan Harta Keluarganya
—Maya, jangan takut.
Aku berdiri membeku di depan lemari kayu, sementara suara gedoran di pintu mendadak berhenti.
Beberapa detik kemudian terdengar suara putra sulung Pak Harun.
—Ayah? Kenapa Ayah ada di sini?
Tidak ada jawaban.
Lalu Pak Harun berkata dengan tenang:
—Karena ini rumahku. Gudang itu juga milikku. Mengapa aku tidak boleh datang?
Aku segera memasukkan lima buku cokelat ke dalam tas kain yang tergantung di bahuku. Ponsel berisi rekaman tadi masih kugenggam erat.
—Maya, buka pintunya sekarang. Bapak ada di sini.
Aku ragu sesaat, tetapi akhirnya membuka kunci.
Begitu pintu terbuka, pemandangan di hadapanku membuatku terpaku.
Pak Harun duduk di kursi roda. Di belakangnya berdiri pria berkemeja batik yang pagi tadi datang ke warungku, bersama seorang perempuan paruh baya yang belum pernah kulihat.
Ketiga anak Pak Harun berdiri beberapa meter di depan mereka.
Wajah mereka tidak lagi penuh kemenangan seperti beberapa hari sebelumnya.
—Ayah bilang Ayah mau tinggal di tempat perawatan! kata putrinya.
Pak Harun tersenyum tipis.
—Kalian yang bilang begitu kepada Maya. Bapak tidak pernah mengatakan itu.
Putra bungsunya langsung menunjuk tas di bahuku.
—Ayah memberikan apa kepadanya?
—Sesuatu yang bukan milik kalian.
—Tapi kami anak kandung Ayah!
Pak Harun mengangguk.
—Benar. Dan karena kalian anak Bapak, kalian sudah menerima apa yang memang Bapak putuskan untuk kalian terima.
Putra sulungnya melangkah maju.
—Dua belas miliar itu?
—Ya.
Aku semakin bingung.
Bukankah sebelumnya Pak Harun mengatakan ada aset lain?
Pria berkemeja batik kemudian memperkenalkan perempuan di sampingnya sebagai notaris yang selama beberapa tahun membantu mengurus dokumen milik Pak Harun.
Pak Harun menatapku.
—Maya, keluarkan buku pertama.
Aku membuka ikatan tali dan mengambil buku paling atas.
Halaman-halamannya sudah menguning.
Di halaman pertama tertulis dua nama.
Nama Pak Harun.
Dan nama ayahku.
Aku menatapnya tak percaya.
—Ini apa?
—Catatan usaha kami.
Pak Harun kemudian menceritakan sesuatu yang tidak pernah kuketahui.
Lebih dari tiga puluh tahun lalu, ayahku dan Pak Harun ternyata pernah membangun usaha kecil bersama. Mereka memperbaiki peralatan elektronik, menjual suku cadang, lalu sedikit demi sedikit membeli beberapa kios tua.
Ayahku memiliki keahlian.
Pak Harun memiliki keberanian berdagang.
Mereka membagi semuanya sama rata.
Namun ketika ibuku jatuh sakit, ayah mulai menjual sebagian kepemilikannya untuk membayar pengobatan.
Setelah ibu meninggal, keadaan ayah semakin buruk.
Lalu seorang rekan bisnis menipunya.
Ayah terlilit utang.
—Sebelum meninggal, ayahmu datang menemui Bapak, kata Pak Harun. —Dia ingin menjual sisa bagiannya untuk membayar utang. Tapi Bapak menolak membelinya.
—Kenapa?
—Karena itu seharusnya menjadi milik kalian.
Aku menatap lima buku di tanganku.
Pak Harun menjelaskan bahwa ayah kemudian menitipkan hak atas beberapa aset kepadanya untuk dikelola sementara. Sebagian aset akhirnya dijual, sebagian berkembang menjadi investasi kecil, dan hasilnya terus disimpan secara terpisah.
Aku teringat lima pesan bank tadi.
Tanganku kembali gemetar.
—Jadi uang itu…
—Bukan pemberian Bapak.
Pak Harun menatapku serius.
—Itu milik keluargamu.
Putra sulungnya langsung menyela.
—Tidak mungkin! Semua aset Ayah seharusnya menjadi warisan keluarga!
Perempuan notaris akhirnya bicara.
—Tidak semua aset tersebut merupakan milik pribadi Pak Harun. Ada pencatatan asal dana, dokumen pengalihan pengelolaan, bukti transaksi, dan dokumen pendukung lainnya yang sudah diverifikasi.
Wajah ketiga anaknya berubah.
Putrinya menunjukku.
—Jadi selama ini dia merawat Ayah karena tahu soal ini?
Aku hampir tertawa karena kecewa.
Namun Pak Harun lebih dulu menjawab.
—Dia tidak tahu apa-apa.
Suasana langsung sunyi.
Pak Harun menatap ketiga anaknya satu per satu.
—Dua belas tahun dia datang setiap hari. Ketika Bapak sakit, dia menyuapi Bapak. Ketika Bapak tidak bisa berjalan, dia mendorong kursi roda. Ketika Bapak terbangun tengah malam karena takut mati sendirian, dia duduk menemani Bapak sampai pagi.
Suara Pak Harun mulai bergetar.
—Dan selama dua belas tahun itu, dia tidak pernah sekali pun bertanya tentang rumah, tanah, tabungan, atau warisan.
Tak seorang pun menjawab.
Aku berjongkok di samping kursi rodanya.
—Pak, kenapa tidak menceritakannya sejak dulu?
Ia menatapku lama.
—Karena Bapak ingin kau membangun hidupmu dengan tanganmu sendiri terlebih dahulu. Ayahmu juga menginginkan itu.
Air mataku jatuh.
Selama bertahun-tahun aku mengira ayah meninggalkan kami hanya dengan utang.
Ternyata ada bagian hidupnya yang sengaja ia sembunyikan agar aku dan adikku tidak terseret masalah masa lalunya.
Aku membuka buku kedua.
Di dalamnya ada catatan keuntungan usaha.
Buku ketiga berisi daftar aset.
Buku keempat mencatat uang yang digunakan untuk membayar beberapa kewajiban lama ayah.
Sedangkan buku kelima jauh lebih tipis.
Di halaman terakhir terdapat tulisan tangan ayah.
“Maya masih kecil. Jika suatu hari aku tidak sempat menjelaskan semuanya, tolong jangan berikan apa pun kepadanya sebelum dia mampu berdiri dengan kakinya sendiri.”
Aku menutup mulut.
Tulisan itu berlanjut:
“Kalau suatu hari dia menjadi orang baik meskipun hidup tidak baik kepadanya, barulah katakan bahwa ayahnya tidak pernah melupakannya.”
Aku menangis.
Pak Harun ikut menangis.
Namun ketenangan itu hanya bertahan beberapa detik.
Putra sulungnya tiba-tiba berkata:
—Kalau begitu, bagaimana dengan kios yang dipakai Maya? Tanah itu bagian dari kawasan ganti rugi. Jangan bilang itu juga milik ayahnya.
Pak Harun menatapnya.
—Bukan.
Pria itu tampak sedikit lega.
Tetapi Pak Harun melanjutkan:
—Kios itu milik Bapak sepenuhnya.
—Nah, berarti uangnya bagian keluarga kita!
Pak Harun tersenyum.
—Dulu memang begitu.
Putrinya mengernyit.
—Maksud Ayah?
Notaris membuka tasnya.
Ia mengeluarkan sebuah map.
—Enam tahun lalu, Pak Harun telah mengalihkan kepemilikan kios tersebut secara sah.
Putra bungsunya langsung bertanya:
—Kepada siapa?
Notaris menoleh kepadaku.
Aku membeku.
Pak Harun menggenggam tanganku.
—Kepada orang yang membayar sewanya tepat waktu setiap hari selama dua belas tahun.
Aku langsung teringat kalimatnya dulu.
“Satu kotak makanan setiap hari.”
—Pak…
Ia tersenyum.
—Bapak tidak pernah bilang kotak makanan itu gratis, kan?
Aku tertawa di tengah tangis.
Untuk pertama kalinya malam itu, wajah Pak Harun terlihat benar-benar bahagia.
Namun tiba-tiba notaris menatap ketiga anaknya dan berkata:
—Masih ada satu persoalan yang belum selesai. Dana dua belas miliar rupiah yang kalian terima beberapa hari lalu ternyata belum boleh dibagi seluruhnya.
Senyum mereka lenyap.
Putra sulungnya menegang.
—Apa maksud Anda?
Notaris membuka dokumen lain.
—Karena sebelum pembagian dilakukan, seseorang telah menggunakan sidik jari Pak Harun untuk menandatangani surat yang tidak pernah beliau setujui.
Pak Harun menatap ketiga anaknya.
Kali ini tidak ada kesedihan di wajahnya.
Hanya kekecewaan.
—Sekarang, kata Pak Harun pelan, —Bapak ingin tahu siapa di antara kalian yang begitu takut menunggu sampai Bapak meninggal.
(Lanjutkan ke BAGIAN 3….)
