Setelah Kebenaran Tentang Uang Terungkap, Maya Membuat Pilihan Tak Terduga yang Mengubah Pak Harun dan Ketiga Anaknya Selamanya

Avatar penulis
Cerita 05
7 menit baca 103 tayangan
Indeks

BAGIAN 3 – Setelah Kebenaran Tentang Uang Terungkap, Maya Membuat Pilihan Tak Terduga yang Mengubah Pak Harun dan Ketiga Anaknya Selamanya

Tidak seorang pun bergerak.

Putra sulung Pak Harun menunduk.

Putrinya memalingkan wajah.

Sedangkan putra bungsunya terus mengatakan bahwa pasti terjadi kesalahpahaman.

Pak Harun tidak berteriak.

Ia hanya meminta notaris menjelaskan semuanya.

Ternyata beberapa minggu sebelumnya, ketika proses ganti rugi sedang berlangsung, ketiga anaknya khawatir ayah mereka akan memberikan sebagian besar uang kepada orang lain.

Mereka kemudian menyiapkan surat kuasa yang memberi anak sulung kewenangan luas untuk mengurus dana.

Pak Harun memang pernah diminta membubuhkan sidik jari pada beberapa dokumen.

Namun menurutnya, isi dokumen yang dijelaskan kepadanya berbeda.

—Kami hanya takut Ayah dimanfaatkan! putrinya akhirnya berkata sambil menangis. —Ayah terlalu percaya kepada orang lain.

Pak Harun menatapnya.

—Orang lain yang kau maksud adalah Maya?

Perempuan itu diam.

—Kalian takut Bapak memberikan uang kepada orang yang merawat Bapak. Tetapi kalian tidak pernah bertanya kenapa orang itu harus merawat Bapak sejak awal.

Tidak ada yang mampu menjawab.

Aku melihat mereka dan tiba-tiba tidak merasa puas sedikit pun.

Aku pernah membayangkan bahwa jika suatu hari anak-anak Pak Harun sadar betapa buruknya perlakuan mereka kepada ayahnya, aku akan merasa lega.

Ternyata tidak.

Yang kulihat hanyalah seorang ayah tua dan tiga anak dewasa yang sudah terlalu lama hidup berjauhan.

Aku berkata pelan:

—Pak, boleh saya mengatakan sesuatu?

Ia mengangguk.

Aku menatap ketiga anaknya.

—Saya tidak ingin kalian kehilangan semuanya.

Mereka menatapku terkejut.

—Tapi saya juga tidak ingin Pak Harun kembali diperlakukan seperti orang yang hanya penting karena hartanya.

Putra sulungnya mengerutkan kening.

Aku melanjutkan:

—Uang bisa dicari lagi. Tapi waktu bersama orang tua tidak bisa dikembalikan.

Pak Harun terdiam lama.

Akhirnya ia meminta notaris mengambil langkah yang diperlukan agar pembagian dana dihentikan sementara sampai persoalan surat kuasa diselesaikan.

Ia tidak ingin membawa anak-anaknya ke dalam pertengkaran panjang jika masalah itu masih dapat diperbaiki secara kekeluargaan dan sesuai prosedur.

Syaratnya hanya satu.

Mereka harus berhenti mengambil keputusan atas namanya tanpa persetujuannya.

Putra sulungnya akhirnya menangis.

Untuk pertama kalinya, laki-laki yang beberapa hari lalu datang ke warungku dengan wajah penuh kemenangan itu berjongkok di depan ayahnya.

—Maafkan aku, Yah.

Pak Harun tidak langsung menjawab.

—Kau minta maaf karena takut kehilangan uang atau karena sadar sudah kehilangan banyak tahun bersama Bapak?

Pertanyaan itu membuat lelaki tersebut terdiam lama.

Akhirnya ia berkata:

—Dua-duanya.

Pak Harun mengangguk kecil.

—Setidaknya kali ini kau jujur.

Malam itu tidak ada pelukan dramatis.

Tidak ada keajaiban yang langsung menghapus dua belas tahun kekecewaan.

Namun ada sesuatu yang mulai berubah.

Ketiga anak Pak Harun pulang bersamanya.

Bukan untuk mengambil dokumen.

Mereka membawa kursi rodanya.

Seminggu kemudian, putrinya datang ke warungku sendirian.

Ia duduk hampir setengah jam sebelum berani bicara.

—Maya, aku minta maaf.

Aku meletakkan segelas teh di depannya.

Ia menangis.

Ia mengaku selama bertahun-tahun selalu meyakinkan dirinya bahwa ayahnya baik-baik saja. Setiap kali ingin pulang, selalu ada alasan: pekerjaan, anak, biaya perjalanan, masalah rumah tangga.

Sampai akhirnya jarak menjadi kebiasaan.

Dua saudaranya pun perlahan berubah.

Putra bungsu mulai datang setiap akhir pekan.

Putra sulung mengatur pekerjaannya agar bisa tinggal lebih dekat beberapa bulan dalam setahun.

Mereka tidak tiba-tiba menjadi anak sempurna.

Kadang masih bertengkar.

Kadang Pak Harun masih marah karena mereka terlalu mengatur.

Namun setidaknya kini kursi di ruang tamunya tidak lagi selalu kosong.

Sementara itu, aku dan adikku mengurus aset peninggalan ayah secara resmi.

Lima transfer yang masuk ke rekeningku bukan jumlah kecil.

Sebagian berasal dari penjualan aset lama.

Sebagian merupakan hasil investasi bertahun-tahun.

Ketika semuanya selesai dihitung, aku duduk di kamar selama hampir satu jam hanya memandangi angka di layar.

Adikku bertanya:

—Kak, sekarang kita kaya?

Aku tertawa.

—Tidak tahu.

—Kakak mau beli rumah besar?

Aku menggeleng.

—Aku ingin memperbesar dapur.

Dia menatapku seolah aku sudah gila.

Tapi itulah yang kulakukan.

Aku tidak meninggalkan warung.

Sebaliknya, aku menggunakan sebagian uang untuk membangun kembali usaha makanan yang dulu menyelamatkan hidupku.

Kios lama terkena proyek pembangunan, sehingga kami pindah ke bangunan baru tidak jauh dari permukiman sebelumnya.

Aku memberi nama tempat itu “Satu Kotak Sehari”.

Pak Harun tertawa keras ketika melihat papan namanya.

—Jadi akhirnya kau mengakui biaya sewamu mahal juga.

—Dua belas tahun, Pak. Kalau dihitung-hitung, Bapak yang untung.

—Tidak. Bapak yang paling untung karena tidak pernah makan sendirian.

Aku terdiam mendengarnya.

Di lantai dasar, kami membuka warung makan yang lebih besar.

Di bagian belakang ada dapur khusus untuk menyiapkan makanan murah bagi para lansia yang tinggal sendirian.

Setiap hari, beberapa puluh kotak makanan dikirimkan kepada mereka.

Tidak gratis untuk semua orang.

Yang mampu membayar tetap membayar.

Yang kesulitan cukup memberikan jumlah yang mereka sanggupi.

Aku tahu bagaimana rasanya berada di masa hidup ketika satu piring makanan bisa berarti jauh lebih besar daripada sekadar makan.

Setahun berlalu.

Pada ulang tahun Pak Harun yang kedelapan puluh, kami menutup warung lebih awal.

Aku menyiapkan nasi kuning sederhana.

Ketiga anaknya datang bersama keluarga mereka.

Cucu-cucunya memenuhi ruangan.

Pak Harun duduk di tengah, mengenakan kemeja batik baru.

Sebelum meniup lilin, ia tiba-tiba memanggilku.

—Maya.

—Ya, Pak?

Ia menunjuk sebuah benda yang dibungkus kain di samping kursinya.

—Hadiah untukmu.

Aku membukanya.

Aku langsung tertawa.

Wajan tua itu.

Wajan yang pernah kuminta bertahun-tahun lalu.

Permukaannya sudah hitam dan gagangnya sedikit longgar.

—Bapak masih ingat?

—Orang tua boleh pelupa, tapi utang tetap harus dibayar.

Semua orang tertawa.

Putri Pak Harun mendekat dan memelukku.

Kali ini tidak ada rasa curiga di matanya.

—Terima kasih sudah menjaga Ayah ketika kami tidak ada.

Aku menggeleng.

—Sekarang kalian sudah di sini. Itu yang paling penting.

Pak Harun kemudian memanggil ketiga anaknya.

—Bapak tidak membutuhkan kalian untuk mengganti dua belas tahun yang sudah lewat. Tidak mungkin. Bapak cuma ingin kalian jangan membuang tahun-tahun yang masih tersisa.

Putra sulungnya menggenggam tangan ayahnya.

Tidak ada yang bicara beberapa saat.

Aku berdiri di dekat dapur sambil memegang wajan tua itu dan tiba-tiba teringat ayah.

Dulu aku marah kepadanya.

Aku mengira ia meninggalkan kami dengan utang dan kesulitan.

Sekarang aku mengerti bahwa hidup orang dewasa sering kali jauh lebih rumit daripada yang dipahami seorang anak.

Aku tidak bisa bertanya langsung kepadanya lagi.

Namun lima buku tua itu sudah memberikan jawaban yang selama ini tidak kuketahui.

Ayah memang pernah gagal.

Ia pernah kehilangan uang.

Ia pernah mengambil keputusan yang salah.

Tetapi ia tidak pernah melupakan kami.

Beberapa hari kemudian, aku membawa wajan pemberian Pak Harun ke dapur.

Pegawaiku protes.

—Mbak Maya, jangan dipakai. Itu sudah tua.

Aku tersenyum.

—Justru karena tua, rasanya berbeda.

Aku memasak seporsi nasi goreng.

Porsi pertama kubawa sendiri ke rumah Pak Harun.

Ketika aku tiba, pintunya terbuka.

Dari dalam terdengar suara anak-anak dan cucu-cucunya.

Pak Harun sedang duduk di teras.

Aku meletakkan kotak makanan di meja.

—Sewa hari ini, Pak.

Ia menatapku, lalu tertawa.

—Kiosnya sudah tidak ada. Kenapa masih bayar sewa?

Aku duduk di sampingnya.

—Karena perjanjiannya belum pernah dibatalkan.

Pak Harun membuka kotak itu, mencicipi satu sendok nasi goreng, lalu mengangguk puas.

—Masih sama seperti dulu.

Aku memandang jalan di depan kami.

Kawasan lama sudah hampir seluruhnya berubah.

Rumah-rumah tua menghilang.

Gang sempit tempat aku pernah menangis dua belas tahun lalu juga sudah tidak ada.

Namun aku akhirnya memahami sesuatu.

Rumah bukan selalu bangunan yang berhasil kita pertahankan.

Warisan juga bukan hanya uang yang masuk ke rekening.

Kadang warisan terbesar adalah seseorang yang menolong kita berdiri ketika hidup sedang runtuh, lalu tanpa sadar mengajarkan kita melakukan hal yang sama untuk orang berikutnya.

Aku menggenggam tangan Pak Harun.

Dan untuk pertama kalinya sejak ayah meninggal, aku tidak lagi merasa seperti seseorang yang ditinggalkan.

Aku memiliki adikku.

Aku memiliki usaha yang kubangun sendiri.

Aku memiliki keluarga yang terbentuk bukan hanya karena darah, tetapi juga karena pilihan untuk saling menjaga.

Pak Harun menatapku.

—Besok bawakan makanan lagi.

Aku tertawa.

—Besok mau makan apa?

Ia berpikir sebentar.

—Apa saja. Asalkan kau ikut makan.

Aku mengangguk.

—Baik.

Sore itu kami duduk berdampingan sampai matahari turun.

Tidak ada lagi yang membicarakan dua belas miliar rupiah.

Tidak ada yang menghitung siapa mendapatkan lebih banyak atau lebih sedikit.

Sebab setelah semua rahasia terbuka, aku akhirnya mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada lima pesan dari bank.

Aku mendapatkan kembali kisah tentang ayahku.

Pak Harun mendapatkan kembali anak-anaknya.

Dan keluarga yang hampir tercerai-berai itu mendapatkan kesempatan kedua untuk memperbaiki waktu yang masih mereka miliki.

Sedangkan satu kotak makanan yang dahulu menjadi “uang sewa” pertamaku tetap kukirimkan setiap hari.

Bukan karena aku masih berutang.

Melainkan karena ada beberapa utang kebaikan yang memang tidak perlu pernah dilunasi.

Cukup diteruskan kepada orang lain.