TIGA MENIT TERAKHIR MEMBUKA KEBENARAN SEPULUH TAHUN, LALU ARGA MEMILIH KELUARGA DAN KEHIDUPAN BARU YANG TAK PERNAH IA BAYANGKAN

Avatar penulis
Cerita 05
7 menit baca 115 tayangan
Indeks

BAGIAN 3 — TIGA MENIT TERAKHIR MEMBUKA KEBENARAN SEPULUH TAHUN, LALU ARGA MEMILIH KELUARGA DAN KEHIDUPAN BARU YANG TAK PERNAH IA BAYANGKAN

Dua menit lima puluh dua detik.

Angka di layar terus berkurang.

Aku langsung memutus koneksi keluar, tetapi perintah penghapusan sudah tertanam di server lokal.

—Kita tidak bisa menghentikannya dari antarmuka biasa.

Damar berkata:

—Masuk lewat pengendali cadangan.

Aku menatapnya.

Dia masih mengingatnya.

Sistem modern hotel memang telah diperbarui, tetapi struktur dasarnya menggunakan arsitektur industri yang pernah kami tangani.

Aku membuka terminal lokal.

Damar mencari jalur komunikasi cadangan.

Dua menit dua puluh detik.

Keringat mengalir di pelipisku.

Aku tidak mencoba menghapus perintah itu.

Aku membuat salinan bayangan seluruh log ke penyimpanan terisolasi.

—Kamu mau menyelamatkan datanya dulu?

—Kalau tidak bisa menghentikan api, keluarkan barang berharga sebelum rumah terbakar.

Damar tersenyum tipis.

—Kamu masih sama seperti dulu.

—Tidak.

Tanganku terus bergerak.

—Dulu aku terlalu percaya sistem. Sekarang aku selalu menyiapkan jalan kedua.

Satu menit empat puluh detik.

Proses penyalinan mencapai 61 persen.

Terlalu lambat.

Damar tiba-tiba mencabut satu layanan yang tidak diperlukan.

Kecepatan meningkat.

75 persen.

83 persen.

Satu menit.

92 persen.

Pintu terbuka.

Sari muncul bersama manajer umum.

—Polisi sudah datang. Orang dari perusahaan pemeliharaan berhasil diamankan di area parkir.

Aku tidak menoleh.

97 persen.

Tiga puluh detik.

99 persen.

Lalu…

100 persen.

Aku mencabut media penyimpanan tepat ketika layar utama berubah hitam.

Semua log pada server aktif terhapus.

Tetapi salinannya sudah berada di tanganku.

Aku menyerahkannya langsung kepada manajer umum.

—Jangan buka di komputer hotel. Serahkan kepada polisi dan ahli forensik digital.

Dia menerimanya dengan kedua tangan.

Malam itu berlangsung sangat panjang.

Namun pesta pernikahan tidak dibatalkan.

Tim dapur memindahkan bahan makanan yang masih aman ke unit pendingin lain, sementara sistem utama berhasil kami jalankan secara manual sampai teknisi independen datang.

Tidak ada tamu yang tahu betapa dekatnya acara mereka dengan kekacauan besar.

Sementara itu, pemeriksaan terhadap perangkat di ruang server menunjukkan adanya program akses tersembunyi yang ditanam saat pembaruan tiga bulan sebelumnya.

Penyelidikan berikutnya berlangsung berminggu-minggu.

Aku, Sari, Damar, manajer hotel, dan beberapa teknisi dimintai keterangan.

Bukti yang disimpan Damar selama sepuluh tahun juga diserahkan kepada pihak berwenang.

Dari situlah masa lalu perlahan terbuka.

Perubahan parameter sepuluh tahun lalu memang disengaja.

Damar terlibat dan harus mempertanggungjawabkan tindakannya.

Namun orang yang mengatur skema tersebut berada di tingkat yang lebih tinggi.

Beberapa orang dari perusahaan lama serta jaringan pemasok ternyata pernah menggunakan pola serupa untuk menciptakan kerusakan, memaksakan penggantian komponen, lalu mengambil keuntungan dari kontrak tambahan.

Kasus hotel menjadi jalan masuk untuk mengungkap jaringan tersebut.

Damar tidak meminta aku memaafkannya.

Ketika kami bertemu terakhir kali sebelum ia menjalani proses hukum, ia hanya berkata:

—Aku tahu permintaan maaf tidak bisa mengembalikan sepuluh tahun hidupmu.

Aku menatapnya lama.

—Memang tidak bisa.

Dia mengangguk.

Aku melanjutkan:

—Tapi mengatakan kebenaran sekarang setidaknya menghentikan kebohongan itu bertambah panjang.

Itulah satu-satunya jawaban yang mampu kuberikan.

Ada satu orang lagi yang harus kutemui.

Bima.

Selama bertahun-tahun aku hampir tidak pernah menghubunginya.

Aku terlalu malu.

Terlalu merasa bersalah.

Ternyata setelah menjalani rehabilitasi panjang, Bima telah membangun kehidupan baru.

Dia mengelola usaha kecil bersama istrinya.

Ketika aku datang, dia berjalan sedikit pincang, tetapi senyumnya masih sama seperti dahulu.

Aku berdiri di depan pintu rumahnya tanpa tahu harus berkata apa.

Justru Bima yang tertawa.

—Kamu mau berdiri di sana sampai malam?

Aku masuk.

Kami berbicara hampir empat jam.

Tentang kecelakaan.

Tentang pekerjaan.

Tentang sepuluh tahun yang hilang.

Akhirnya aku berkata:

—Maaf.

Bima menggeleng.

—Untuk apa?

—Kalau malam itu aku lebih cepat menyadarinya…

Dia memotongku.

—Arga, aku masuk ke ruang mesin karena itu tugasku. Kamu tidak mendorongku masuk.

Aku terdiam.

Bima kemudian berkata sesuatu yang tidak pernah kulupakan.

—Kecelakaan itu mengambil sebagian hidupku. Jangan biarkan ia mengambil seluruh hidupmu juga.

Malam itu aku pulang dan menangis di dalam mobil.

Bukan karena sedih.

Melainkan karena untuk pertama kalinya selama sepuluh tahun, beban di dadaku terasa sedikit lebih ringan.

Ketika sampai rumah, Sari sedang menungguku.

Dia meletakkan secangkir teh hangat di meja.

—Kenapa kamu tidak pernah menceritakan semua ini kepadaku?

Aku menunduk.

—Aku takut.

—Takut aku menganggapmu gagal?

Aku mengangguk.

Sari diam beberapa detik.

Lalu dia memukul lenganku pelan.

—Bodoh.

Aku menatapnya.

Matanya berkaca-kaca.

—Aku menikah denganmu bukan karena jabatanmu. Bahkan kalau seumur hidup kamu hanya memperbaiki AC, aku tetap tidak malu.

Aku tertawa kecil.

—Tapi keluargamu…

—Biarkan mereka bicara.

Dia menggenggam tanganku.

—Aku hanya marah karena selama ini kamu menanggung semuanya sendirian.

Beberapa hari kemudian, sesuatu yang tidak pernah kuduga terjadi.

Manajer umum hotel mengundangku bertemu.

Aku mengira masih ada pertanyaan tentang penyelidikan.

Ternyata di ruangan itu sudah ada beberapa orang dari manajemen regional.

Mereka menawarkan posisi kepala konsultan teknis untuk mengawasi sistem pendingin dan efisiensi energi di beberapa properti mereka.

Gajinya hampir empat kali lipat penghasilanku sekarang.

Aku menatap surat penawaran cukup lama.

Dulu mungkin aku akan langsung menerimanya.

Namun sekarang aku bertanya:

—Apakah saya harus meninggalkan bengkel saya?

Mereka menjawab bahwa pekerjaannya dapat dilakukan dengan skema konsultasi dan kunjungan terjadwal.

Aku meminta waktu berpikir.

Malamnya aku berdiskusi dengan Sari.

Jawabannya sederhana.

—Pilih pekerjaan yang membuatmu masih bisa sarapan bersama anak kita.

Akhirnya aku menerima tawaran tersebut sebagai konsultan, bukan pegawai tetap.

Bengkel kecilku tetap buka.

Bahkan aku memperluasnya.

Aku mengajak dua anak muda lulusan sekolah kejuruan yang kesulitan mendapatkan pekerjaan untuk belajar bersamaku.

Beberapa bulan kemudian, Bima datang berkunjung.

Dia berdiri di depan papan nama bengkel baruku dan tertawa.

—Dulu kamu mengurus sistem bernilai miliaran. Sekarang kembali memperbaiki freezer warung?

Aku menyerahkan kopi kepadanya.

—Freezer warung juga harus diperbaiki dengan benar.

Dia tertawa keras.

Setahun berlalu.

Usahaku berkembang.

Aku tetap menerima pekerjaan sederhana, tetapi juga mulai menangani sistem pendingin restoran, hotel kecil, dan fasilitas penyimpanan makanan.

Sari tetap bekerja di hotel.

Namun sekarang setiap kali aku datang membawa makanan, para teknisi langsung menyapaku.

Suatu sore, aku kembali mengantar nasi goreng untuknya.

Seorang teknisi muda bercanda:

—Pak Arga, jangan lihat panel kami. Nanti Bapak menemukan masalah lagi.

Semua orang tertawa.

Sari keluar dari ruangannya dan menerima kantong makanan.

—Kali ini benar-benar cuma mengantar makan?

Aku mengangkat kedua tangan.

—Janji. Aku tidak akan menyentuh apa pun.

Belum selesai aku bicara, seorang teknisi dari belakang berteriak:

—Pak! Freezer dapur bunyinya aneh!

Sari langsung menatapku.

Aku menatapnya kembali.

Lalu kami sama-sama tertawa.

Malam itu, kami pulang bertiga bersama putra kami.

Di lampu merah, anakku yang duduk di belakang tiba-tiba bertanya:

—Ayah, kata Ibu Ayah bisa memperbaiki mesin besar. Benarkah?

Aku melihat wajahnya melalui kaca spion.

—Kadang-kadang.

—Kalau mainanku rusak, Ayah bisa memperbaikinya juga?

Aku tersenyum.

—Itu justru pekerjaan paling penting.

Sari menggenggam tanganku.

Saat itulah aku akhirnya memahami sesuatu.

Selama sepuluh tahun aku mengira hidupku berhenti pada malam kecelakaan itu.

Aku mengira meninggalkan pekerjaan besar berarti aku telah gagal.

Aku menyembunyikan masa lalu karena takut orang lain melihat seorang lelaki yang pernah jatuh.

Ternyata aku salah.

Hidupku tidak berhenti malam itu.

Aku hanya mengambil jalan yang berbeda.

Masa lalu akhirnya mendapatkan jawabannya.

Orang-orang yang bersalah menghadapi konsekuensi dari pilihan mereka.

Bima mendapatkan kebenaran yang selama ini tidak ia miliki.

Sari akhirnya mengenal bagian diriku yang paling lama kusembunyikan.

Dan aku?

Aku tidak kembali menjadi Arga yang dulu.

Aku menjadi seseorang yang lebih tenang.

Seseorang yang tahu bahwa kemampuan tidak harus dibuktikan dengan jabatan besar, seragam mahal, atau pujian orang lain.

Beberapa hal terbaik dalam hidupku tetap sangat sederhana.

Bengkel kecil.

Istri yang menungguku makan malam.

Anak yang percaya ayahnya mampu memperbaiki segala sesuatu.

Dan setiap kali seseorang bertanya mengapa aku tidak pernah menceritakan bahwa dulu aku pernah menjadi kepala teknisi sebuah perusahaan besar, aku hanya tersenyum.

Karena sekarang aku tahu jawabannya.

Masa lalu menjelaskan dari mana aku berasal.

Tetapi keluarga yang menungguku di rumah adalah alasan mengapa aku memilih terus berjalan ke depan.