BAGIAN 2 — Saat Aku Mengetahui Rumah Pemberian Orang Tuaku Hampir Dijadikan Jaminan, Satu Rekaman Lama Membongkar Rencana Keluarga Suamiku Sejak Awal
Keheningan mereka bertiga sudah menjadi jawaban.
Aku menatap suamiku lama sekali.
—Jadi benar?
Dia menarik napas.
—Dengarkan aku dulu. Semuanya tidak seperti yang kamu pikirkan.
Aku hampir tertawa.
Kalimat itu terdengar sangat ironis setelah 48 juta rupiah uang “sewa” menghilang, 135 juta rupiah tabungan bersama dipindahkan tanpa persetujuanku, dan sekarang rumah pemberian orang tuaku muncul dalam urusan jaminan.
—Kalau begitu jelaskan.
Suamiku melirik ibunya.
Gerakan kecil itu membuatku sadar bahwa bahkan untuk menjelaskan kebohongannya sendiri, dia masih menunggu persetujuan ibunya.
Ibu mertua akhirnya berkata,
—Kami cuma meminjam nilai rumah itu sebentar. Setelah usaha adiknya berjalan, semuanya akan dikembalikan.
—“Kami”?
Aku menatapnya.
—Rumah itu bukan milik “kita”. Rumah itu milikku.
Adik iparku tiba-tiba berkata,
—Kak, jangan terlalu berlebihan. Rumah itu juga kosong. Kakak dan Mas tinggal di sini. Daripada tidak menghasilkan apa-apa—
Aku memotongnya.
—Kalau begitu berikan rumahmu sendiri.
Dia langsung diam.
Aku kembali menatap suamiku.
—Dokumen apa yang kamu gunakan?
Dia tidak menjawab.
Aku mengambil ponselku dan menelepon kembali nomor kantor notaris yang baru saja menghubungi kami.
Kali ini aku menyalakan pengeras suara.
—Selamat malam. Saya istri dari orang yang tadi Anda hubungi. Saya ingin memastikan satu hal. Apakah proses apa pun yang menyangkut properti atas nama saya sudah selesai?
Petugas itu terdengar berhati-hati.
—Belum, Bu. Justru karena ditemukan ketidaksesuaian data, prosesnya ditahan. Kami memerlukan kehadiran dan persetujuan langsung dari pihak terkait sebelum melanjutkan.
Dadaku yang sejak tadi sesak akhirnya sedikit longgar.
Belum selesai.
Rumah itu belum berpindah tangan.
—Tolong jangan proses apa pun tanpa kehadiran saya.
—Baik, Bu. Besok sebaiknya Ibu datang langsung untuk melakukan klarifikasi.
Aku menutup telepon.
Wajah suamiku berubah.
—Kamu tidak perlu membuat masalah sampai sejauh itu.
Aku memandangnya tidak percaya.
—Rumah milikku hampir digunakan tanpa sepengetahuanku, dan menurutmu aku yang membuat masalah?
Ibu mertua segera membela anaknya.
—Suamimu melakukan itu demi keluarga!
—Keluarga siapa?
Pertanyaanku membuatnya terdiam.
Aku menunjuk diriku sendiri.
—Dua tahun aku membayar kebutuhan rumah ini. Ketika uangku dibutuhkan, aku keluarga. Ketika keputusan dibuat, aku orang luar. Begitu?
Tidak ada jawaban.
Aku menutup koper.
Kali ini suamiku tidak berani menghalangi.
Namun sebelum keluar, aku membuka laci meja dan mengambil sebuah map kecil berisi dokumen pribadiku.
Saat itulah aku menyadari satu hal.
Fotokopi sertifikat rumahku hilang.
Aku ingat jelas pernah menyimpannya di sana.
Aku menoleh.
—Siapa yang mengambil salinan dokumen rumahku?
Suamiku langsung menghindari tatapanku.
Jawabannya kembali terlihat jelas.
Aku membawa koper keluar.
Di depan pintu, ibu mertua masih mencoba mempertahankan harga dirinya.
—Kalau malam ini kamu pergi, jangan berharap kami akan memohon agar kamu kembali.
Aku berhenti.
Dua tahun lalu, ancaman semacam itu mungkin akan membuatku takut.
Malam itu tidak.
—Saya tidak membutuhkan siapa pun untuk memohon.
Aku membuka pintu.
—Saya hanya membutuhkan kalian berhenti menggunakan sesuatu yang bukan milik kalian.
Aku pergi.
Malam itu aku menginap di rumah seorang teman lama.
Aku hampir tidak tidur.
Pukul tujuh pagi, aku sudah berada di bank.
Hal pertama yang kulakukan adalah meminta penjelasan mengenai transaksi 135 juta rupiah.
Karena rekening itu merupakan rekening bersama dengan kewenangan transaksi tertentu yang sebelumnya kami aktifkan, transfer tersebut memang bisa dilakukan suamiku.
Aku membenci diriku sendiri karena dulu begitu percaya.
Aku segera mengubah akses yang masih bisa kuubah dan memisahkan rekening pribadiku.
Setelah itu aku pergi ke kantor notaris.
Di sanalah semuanya menjadi jauh lebih buruk.
Petugas menunjukkan salinan dokumen yang diserahkan dalam proses awal.
Ada fotokopi identitasku.
Ada salinan dokumen rumah.
Bahkan ada formulir dengan tanda tangan yang sekilas menyerupai tanda tanganku.
Namun itu bukan tanda tanganku.
Tanganku gemetar ketika melihatnya.
—Saya tidak pernah menandatangani ini.
Petugas itu langsung memanggil atasannya.
Aku diminta membuat pernyataan resmi bahwa aku tidak pernah memberikan persetujuan.
Seluruh proses kemudian dihentikan sambil menunggu klarifikasi lebih lanjut.
Keluar dari kantor itu, aku berdiri cukup lama di trotoar.
Aku merasa seperti baru bangun dari pernikahan yang selama ini ternyata hanya kukenal separuhnya.
Ponselku penuh dengan panggilan.
Suamiku.
Ibu mertua.
Adik iparku.
Aku tidak menjawab satu pun.
Namun sekitar tengah hari, sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak kukenal.
“Bu, saya mantan pegawai toko tempat adik ipar Ibu bekerja. Saya rasa Ibu perlu melihat sesuatu.”
Di bawahnya ada sebuah video.
Aku menekan tombol putar.
Video itu direkam sekitar tiga bulan sebelumnya.
Lokasinya sebuah warung makan.
Suamiku duduk bersama ibu dan adiknya.
Suara mereka tidak terlalu jelas, tetapi beberapa kalimat terdengar.
Ibu mertua berkata,
—Selama dia masih percaya uang itu untuk sewa, jangan bilang apa-apa.
Lalu suara adik iparku terdengar,
—Kalau nanti rumah sudah dapat, bagaimana kalau Kakak tahu?
Suamiku menjawab,
—Nanti aku bicara. Dia marah paling beberapa hari. Selama ini juga akhirnya selalu mengalah.
Aku menghentikan video.
Untuk beberapa detik aku tidak bisa bergerak.
Bukan jumlah uang yang paling menyakitkan.
Bukan rumah.
Bukan kebohongan.
Yang paling menyakitkan adalah mendengar suamiku sendiri mengatakan bahwa aku “selalu mengalah”.
Kesabaranku selama ini bukan dihargai.
Kesabaranku dipelajari.
Mereka mengetahui batasanku, lalu sengaja mendorongnya semakin jauh.
Aku menghubungi pengirim video.
Ternyata dia pernah bekerja dengan adik iparku dan kebetulan berada di meja belakang saat percakapan itu terjadi. Dia merekam karena mendengar mereka membicarakan penggunaan dokumen milik seseorang tanpa izin.
Aku menyimpan video itu.
Malamnya, suamiku akhirnya datang ke tempatku menginap.
Aku menemuinya di teras.
Matanya merah.
—Pulanglah. Kita bisa menyelesaikan ini.
Aku bertanya,
—135 juta itu bisa dikembalikan?
Dia terdiam.
—Uang mukanya sudah dibayar.
—48 juta?
—Sebagian sudah digunakan untuk renovasi tempat usaha adikku.
—Dokumen rumahku?
Dia semakin pucat.
Aku mengeluarkan ponsel.
Lalu memutar video.
Ketika suaranya sendiri terdengar mengatakan, “Dia marah paling beberapa hari,” wajahnya benar-benar kehilangan warna.
—Kamu dapat itu dari mana?
Aku mematikan video.
—Itu tidak penting.
Aku menatap lelaki yang pernah kupikir akan menjadi tempat pulangku sampai tua.
—Besok aku akan menemui penasihat hukum.
Dia langsung berdiri.
—Kamu mau melaporkan keluargaku?
Aku menggeleng pelan.
—Tidak.
Aku menunjuk dirinya.
—Aku sedang melindungi diriku dari kalian.
Saat itulah ponselnya berbunyi.
Adik iparku menelepon.
Dia mengangkatnya.
Belum sempat mengatakan apa-apa, suara panik perempuan itu terdengar cukup keras hingga aku bisa mendengarnya.
—Mas! Agen properti membatalkan proses rumahnya! Mereka bilang ada masalah dengan sumber dana dan dokumen jaminan. Kalau besok tidak diselesaikan, uang muka kita bisa tertahan!
Suamiku memejamkan mata.
Aku berdiri.
Untuk pertama kalinya setelah dua tahun, masalah keluarga itu bukan lagi masalah yang harus kuselesaikan.
—Pulanglah.
Dia menatapku.
—Lalu kita?
Aku membuka pintu.
—Besok, kita bicara di depan orang yang mengerti hukum.
Dan ketika pintu kututup, aku tahu satu hal dengan sangat jelas.
Aku tidak sedang meninggalkan sebuah keluarga.
Aku sedang menyelamatkan hidupku sendiri.
(Lanjutkan ke BAGIAN 3….)
