Bagian 3 — Surat Kuasa Palsu, Uang Muka Ratusan Juta, dan Percakapan Keluarga Akhirnya Menyeret Raka ke Konsekuensi yang Tak Bisa Ia Hindari
Raka merebut ponselnya begitu cepat sampai gelas di meja tersenggol.
Air tumpah ke karpet.
Agen properti yang bernama Anton ikut melihat gerakan panik itu.
“Ada masalah, Pak?”
“Nggak.”
Jawaban Raka terlalu cepat.
Aku duduk di sofa.
“Mas.”
Dia menatapku.
“Aku cuma tanya. Kenapa Citra membicarakan tanda tangan Tante Ratih?”
“Nadira, jangan mulai lagi.”
“Aku belum mulai apa-apa.”
Aku menatapnya sambil tersenyum.
“Justru aku sedang berusaha memahami.”
Raka berdiri, lalu mondar-mandir seperti orang yang sedang mencari kalimat paling aman.
“Aku cuma dibantu Citra mengurus berkas.”
“Berkas apa?”
“Ya… berkas rumah.”
“Kenapa Citra harus bertanya apakah agen curiga dengan tanda tangan Tante Ratih?”
Anton kini ikut memandang Raka dengan ekspresi berbeda.
“Pak Raka.”
Nada suaranya berubah profesional.
“Surat kuasa itu asli, kan?”
Raka langsung menjawab,
“Asli.”
Aku mengangguk perlahan.
“Bagus.”
Aku berdiri.
“Kalau begitu tidak ada masalah.”
Entah mengapa, kalimat itu justru membuat Raka terlihat semakin gelisah.
Anton kemudian pamit.
Sebelum keluar, dia berbisik bahwa kantor mereka akan menghubungi Raka kembali mengenai jadwal pemeriksaan dokumen di notaris.
Begitu pintu tertutup, Raka langsung berbalik kepadaku.
“Kamu tadi foto dokumen?”
“Iya.”
“Hapus.”
“Kenapa?”
“Dokumen itu urusanku.”
Aku hampir tidak percaya mendengarnya.
“Rumah yang kamu jual tanpa sepengetahuanku adalah urusanmu?”
“Kita suami istri.”
Dia mulai meninggikan suara.
“Kalau aku mengambil keputusan untuk keluarga, itu juga demi kita.”
Aku menatapnya lama.
“Modal klinik Citra demi kita?”
Raka membeku.
“Utang Mama empat ratus dua puluh juta demi kita?”
Wajahnya berubah.
“Uang muka rumah baru atas namamu demi kita?”
“Nadira…”
“Aku tadi melihat daftar pembagiannya.”
Dia mengusap wajah.
“Dengar dulu.”
Aku menunggu.
Raka menarik napas panjang.
Menurutnya, rumah sebesar itu “terlalu mahal” hanya untuk kami berdua.
Katanya lebih masuk akal menjualnya, membeli rumah lebih kecil, lalu menggunakan selisih uang untuk membantu keluarganya.
Citra ingin membuka klinik kecantikan kecil bersama temannya.
Ibu mertua memiliki utang setelah beberapa kali meminjam uang untuk menolong kakaknya.
Raka merasa sebagai anak laki-laki tertua, dia bertanggung jawab.
“Lalu aku?”
Aku bertanya.
“Kamu tetap istriku.”
Jawabannya bahkan lebih menyakitkan daripada yang kubayangkan.
Seolah status sebagai istri otomatis berarti aku tidak punya hak untuk menentukan apa pun.
Aku tertawa.
“Jadi menurutmu karena aku istrimu, kamu boleh menjual rumah yang diberikan keluargaku, lalu membagikan uangnya kepada keluargamu?”
“Kamu jangan bicara seolah mereka orang asing!”
“Mereka bukan orang asing.”
Aku mengangguk.
“Tapi aku juga bukan mesin ATM keluarga kalian.”
Raka membanting telapak tangannya ke meja.
“Jaga ucapanmu!”
Aku tidak bergeming.
Enam tahun menikah membuatku hafal pola itu.
Jika argumennya mulai runtuh, dia akan meninggikan suara.
Jika aku masih melawan, dia akan bilang aku tidak menghormati suami.
Jika aku menangis, dia akan diam sampai akhirnya aku sendiri yang merasa bersalah.
Hari itu aku tidak melakukan satu pun.
Aku hanya mengambil koper.
“Aku mau tidur.”
“Kita belum selesai.”
“Benar.”
Aku menatapnya.
“Kita memang belum selesai.”
Malam itu aku tidak tidur.
Aku mengirim seluruh foto dokumen kepada Tante Ratih.
Termasuk tangkapan layar pesan dari Citra yang sempat kulihat.
Pukul setengah dua malam, Tante mengirim pesan pendek.
“Besok jangan ke mana-mana. Pengacara Tante datang jam sepuluh.”
Aku tidak membalas.
Aku hanya mematikan ponsel.
Pagi berikutnya, ibu mertua datang.
Citra bersamanya.
Mereka bahkan membawa nasi uduk dan lauk, seolah hendak mengadakan sarapan keluarga biasa.
Begitu melihatku di meja makan, ibu mertua langsung tersenyum lebar.
“Nadira sudah pulang rupanya.”
Aku mengangguk.
Citra duduk sambil memainkan ponselnya.
Tidak ada rasa bersalah di wajahnya.
Justru lima menit kemudian dia berkata,
“Mbak, aku mau bilang terima kasih dulu.”
Aku mengangkat alis.
“Untuk apa?”
“Mas Raka bilang nanti kalau rumah selesai, dia bantu modal klinikku.”
Raka yang sedang menuang kopi langsung berhenti.
“Cit.”
“Apa?”
Citra tertawa.
“Kan Nadira sudah tahu rumah mau dijual.”
Aku menatapnya.
“Berapa modal yang dijanjikan?”
Citra menjawab ringan.
“Sekitar sembilan ratus juta.”
Aku mengangguk.
Ibu mertua segera menyela.
“Jangan salah paham. Itu bukan dikasih cuma-cuma. Nanti kalau usaha Citra maju, semuanya bisa balik.”
Aku menyesap teh.
“Uang siapa yang kembali?”
Mereka terdiam.
Aku melanjutkan,
“Uang Raka?”
Ibu mertua mendecak.
“Nadira, setelah menikah itu jangan terlalu hitung-hitungan.”
Kalimat itu membuatku hampir tersenyum.
Orang yang sedang menunggu ratusan juta dari hasil penjualan rumah keluargaku justru menyuruhku tidak hitung-hitungan.
Ibu mertua kemudian mulai menjelaskan bahwa seorang istri seharusnya mendukung suami membantu keluarga.
Menurutnya, rumah hanyalah benda.
Hubungan darah jauh lebih penting.
“Nanti kalian masih bisa beli rumah lagi.”
Katanya.
“Raka pintar cari uang.”
Aku menatap anak laki-lakinya yang bahkan dua cicilan terakhir mobilnya kubantu bayar.
Aku tidak menjawab.
Pukul sepuluh kurang lima menit, sebuah mobil hitam berhenti di depan rumah.
Tante Ratih turun bersama seorang pria berkemeja putih membawa tas dokumen.
Raka yang melihat dari jendela langsung berdiri.
“Tante Ratih?”
Ibu mertua juga terkejut.
Citra berhenti makan.
Aku membuka pintu.
Tante Ratih masuk tanpa banyak bicara.
Di belakangnya adalah Pak Dimas, pengacara yang selama bertahun-tahun menangani urusan bisnis keluarganya.
Tante menaruh tas di atas meja.
“Pagi.”
Tak seorang pun menjawab.
Tatapannya kemudian berhenti pada Raka.
“Kamu menjual rumah saya?”
Hening.
Raka tersenyum kaku.
“Tante, sebenarnya saya berniat—”
“Saya tanya sederhana.”
Tante duduk.
“Kamu menjual rumah saya?”
Raka menatapku.
Pada detik itu dia mungkin baru menyadari sesuatu yang selama ini sama sekali tidak pernah dia pastikan.
“Tante…”
Tante Ratih mengeluarkan satu map biru.
Dari dalamnya, dia mengambil salinan sertifikat.
“SHM nomor 2187.”
Dia meletakkannya di meja.
“Nama pemegang hak: Ratih Kusumawardani.”
Wajah ibu mertua berubah.
Citra langsung menoleh kepada Raka.
Raka sendiri seperti kehilangan suara.
Tante kemudian mengeluarkan bukti pembayaran pajak terakhir.
“Masih nama saya.”
Berikutnya, hasil pengecekan elektronik sertifikat.
“Masih nama saya.”
Lalu surat keterangan dari notaris lama yang pernah menangani pembelian.
“Tidak pernah ada pengalihan hak kepada Nadira.”
Tante bersandar.
“Sekarang jelaskan kepada saya, dengan dasar apa kamu menerima Rp350 juta untuk menjual properti milik saya?”
Raka akhirnya menjawab terbata-bata.
“Saya kira rumah itu sudah diberikan kepada Nadira.”
“Diberikan untuk ditempati.”
Tante menatapnya tajam.
“Bukan dipindahkan kepemilikannya.”
“Tapi saya suaminya.”
Pak Dimas akhirnya membuka suara.
“Status sebagai suami tidak memberi Bapak hak menjual properti milik pihak ketiga.”
Raka tampak ingin membantah, tetapi Tante belum selesai.
Dia mengeluarkan lembar berikutnya.
“Dan sekarang bagian yang jauh lebih menarik.”
Surat kuasa.
Fotokopi yang sama seperti yang kulihat kemarin.
Tante meletakkannya tepat di hadapan Raka.
“Ini tanda tangan saya?”
Tidak ada jawaban.
Citra pelan-pelan berdiri.
“Mungkin agen yang buat, Tante.”
Tante langsung menoleh kepadanya.
“Lucu.”
Citra membeku.
“Karena tadi malam Nadira mengirim tangkapan layar pesanmu.”
Tante membaca keras-keras.
“Mas, aman kan tanda tangan Tante Ratihnya? Agen nggak curiga?”
Wajah Citra pucat.
Ibu mertua segera berdiri.
“Ini pasti salah paham.”
Pak Dimas membuka laptop.
“Kami juga sudah menghubungi kantor agen properti pagi tadi.”
Raka langsung menatapnya.
“Mereka menyerahkan salinan percakapan awal dengan Bapak.”
Dia memutar layar.
Di sana ada tangkapan layar percakapan antara Raka dan Anton.
Salah satu pesan berbunyi:
“Pemiliknya tante istri saya. Beliau sedang di luar kota, tapi sudah kasih kuasa. Saya urus saja semuanya.”
Pesan lain:
“Kalau tanda tangan perlu disesuaikan, bilang saja formatnya bagaimana.”
Aku melihat tangan Raka mulai gemetar.
Ibu mertua buru-buru membela.
“Raka tidak ada niat jahat. Dia cuma mau membantu keluarga.”
Tante Ratih tertawa kecil.
“Kalau saya mengambil mobil Ibu, memalsukan surat jualnya, menerima uang dari pembeli, lalu bilang saya hanya mau membantu keluarga saya, apakah Ibu juga akan menyebut itu bukan niat jahat?”
Ibu mertua langsung diam.
Pak Dimas kemudian menjelaskan bahwa mereka belum mengambil langkah gegabah.
Pertama, pihak pembeli akan diberi tahu bahwa penjual tidak memiliki hak atas properti tersebut.
Kedua, proses transaksi dihentikan.
Ketiga, uang tanda jadi harus dikembalikan penuh.
Keempat, dugaan pemalsuan surat kuasa dan penggunaan dokumen kepemilikan tanpa izin akan dikonsultasikan secara formal kepada aparat.
“Kalau perlu,” kata Tante, “saya buat laporan hari ini.”
Raka langsung berdiri.
“Tante, jangan.”
Itulah pertama kalinya aku melihatnya benar-benar takut.
“Tante, kita keluarga.”
Tante memandangnya.
“Ketika kamu menjual rumah saya, kamu ingat kita keluarga?”
Raka kehilangan kata-kata.
Dia lalu berbalik kepadaku.
“Nad.”
Aku tidak bergerak.
“Tolong bicara sama Tante.”
Aku hampir tertawa.
Kemarin ketika dia menyuruhku menerima keputusan rumah dijual, suaranya begitu tegas.
Sekarang dia memintaku menjadi perisainya.
“Nadira.”
Dia mendekat.
“Aku salah.”
Aku bertanya,
“Bagian mana?”
Dia terdiam.
“Menjual rumah?”
“Membohongiku?”
“Memalsukan tanda tangan?”
“Menerima Rp350 juta?”
“Atau membagi uang yang bahkan belum kamu miliki kepada Mama dan Citra?”
Raka menunduk.
Ibu mertua mulai menangis.
“Nadira, jangan hancurkan rumah tanggamu hanya karena uang.”
Aku memandangnya lama.
“Aneh.”
“Apa?”
“Waktu kalian mau menjual rumah ini, rumah tanggaku tidak dianggap penting.”
Aku menunjuk dokumen di meja.
“Sekarang setelah ketahuan, tiba-tiba semuanya tentang menyelamatkan pernikahan.”
Tidak ada yang menjawab.
Tante Ratih kemudian berkata sesuatu yang membuat suasana makin tegang.
“Masalah ini belum selesai.”
Dia menatap Raka.
“Rp350 juta itu sekarang ada di mana?”
Raka tidak menjawab.
Pak Dimas mengulang.
“Dana tanda jadi yang ditransfer pembeli, masih utuh?”
Raka menarik napas.
“Sebagian.”
Aku langsung menoleh.
Tante menyipitkan mata.
“Sebagian berapa?”
Raka terlihat seperti ingin menghilang dari ruangan.
“Ada yang sudah dipakai.”
“Berapa?”
“Seratus delapan puluh juta.”
Dadaku panas.
Belum satu hari calon pembeli memasuki rumah, hampir setengah uang tanda jadi sudah lenyap.
“Untuk apa?”
Ternyata Rp80 juta diberikan kepada Citra sebagai uang muka sewa ruko.
Rp50 juta digunakan membayar tunggakan utang ibu mertua.
Sisanya dipakai Raka untuk membayar cicilan kartu kredit dan uang booking rumah baru.
Aku menatap ketiga orang itu satu per satu.
Semua sudah menikmati uang dari properti yang bahkan tidak mereka miliki.
Pak Dimas menutup laptop.
“Baik.”
Nada suaranya tenang.
“Berarti pengembalian dana akan menjadi masalah pertama yang harus Bapak selesaikan.”
Siang itu, pasangan calon pembeli datang bersama Anton dan kepala kantor agen.
Aku sempat mengira Pak Hendra dan Bu Lilis akan marah kepadaku.
Ternyata mereka justru meminta maaf.
“Kami benar-benar tidak tahu, Bu Nadira.”
Pak Hendra berkata.
“Kami pikir semua legal.”
Tante Ratih menjelaskan bahwa mereka bukan pihak yang ingin kami rugikan.
Kesalahan utama ada pada pihak yang mengaku memiliki kewenangan menjual.
Kepala kantor agen juga meminta maaf karena staf mereka terlalu cepat menerima dokumen tanpa verifikasi menyeluruh kepada pemilik yang tercantum dalam sertifikat.
Setelah pembicaraan panjang, mereka sepakat membatalkan seluruh proses.
Namun satu persoalan tetap ada.
Rp350 juta harus kembali.
Raka hanya mampu mengembalikan Rp170 juta saat itu.
Sisanya sudah berpencar.
Pak Hendra terlihat marah.
“Saya transfer uang karena percaya Bapak.”
Raka menunduk.
“Akan saya kembalikan.”
“Kapan?”
Tidak ada jawaban.
Akhirnya dibuat kesepakatan tertulis.
Raka diberi waktu untuk mengembalikan sisa dana beserta biaya yang sudah timbul.
Untuk mendapatkan uang itu, dia terpaksa menjual mobil yang selama ini sangat dibanggakannya.
Sebuah SUV hitam yang bahkan cicilannya beberapa kali kubantu bayar.
Jam tangan mahalnya ikut dijual.
Tabungan deposito pribadinya dicairkan.
Citra dipaksa mengembalikan Rp80 juta yang sudah dia gunakan sebagai uang muka ruko.
Masalahnya, pemilik ruko hanya mengembalikan sebagian setelah memotong biaya pembatalan.
Ibu mertua juga tidak bisa mengembalikan seluruh Rp50 juta karena uang tersebut sudah dibayarkan kepada pemberi pinjaman.
Untuk pertama kalinya, aku melihat sendiri bagaimana orang-orang yang begitu mudah merencanakan penggunaan uang milik orang lain mulai saling menyalahkan ketika diminta mengembalikannya.
Citra menangis.
“Mama yang bilang rumah itu punya Mbak Nadira!”
Ibu mertua membalas,
“Kamu sendiri yang terus mendesak kakakmu jual cepat!”
Raka membentak keduanya.
“Kalian juga menikmati uangnya!”
Aku hanya duduk mendengarkan.
Tak satu pun dari mereka mengucapkan kalimat yang paling sederhana:
“Kami salah.”
Semua sibuk menentukan siapa yang paling sedikit bersalah.
Dua hari kemudian aku memindahkan sebagian barang pribadiku ke apartemen milik kantor untuk sementara.
Raka menghalangiku di pintu.
“Kamu mau ke mana?”
“Pergi.”
“Kita bisa memperbaiki ini.”
Aku menatapnya.
“Apa yang mau diperbaiki?”
“Aku akan kembalikan uangnya.”
“Masalah kita bukan Rp350 juta.”
Aku mengangkat tas.
“Masalahnya adalah kamu merasa berhak mengambil keputusan sebesar ini tanpa aku.”
Dia terdiam.
“Kamu bukan cuma berbohong kepadaku.”
“Kamu menganggap seluruh hidupku bisa kamu atur selama kamu sudah memutuskan hasil akhirnya.”
Raka memegang lenganku.
Aku melepaskannya.
“Nad, aku terdesak.”
“Tidak.”
Aku menggeleng.
“Kamu bukan terdesak.”
“Kamu yakin aku akan mengalah.”
Kalimat itu membuatnya diam.
Karena dia tahu aku benar.
Selama bertahun-tahun, setiap kali keluarganya membuat masalah, akulah yang mengalah.
Ketika ibu mertua tinggal dua minggu lalu menetap berbulan-bulan, aku mengalah.
Ketika Citra memakai ruang kerjaku, aku mengalah.
Ketika Raka diam-diam menggunakan sebagian tabungan bersama untuk menolong ibunya, aku mengalah.
Setiap kelonggaran yang kuberikan tidak membuat mereka menghormatiku.
Mereka justru menganggap batasanku bisa terus digeser.
Keesokan minggunya, melalui pengacara, Tante Ratih melaporkan dugaan penggunaan dokumen dan tanda tangan tanpa izin.
Aku tidak ikut campur dalam detail proses hukumnya.
Tante hanya berkata,
“Kalau kita membiarkan ini karena alasan keluarga, besok dia akan merasa hal yang sama bisa dilakukan lagi.”
Aku setuju.
Pemeriksaan dokumen kemudian menunjukkan surat kuasa tersebut memang bukan surat yang pernah ditandatangani Tante Ratih.
Raka mengaku dia mendapatkan contoh tanda tangan dari salinan dokumen lama.
Citra membantunya menyusun format surat setelah mencari contoh di internet.
Keduanya awalnya menganggap itu hanya “formalitas”.
Kata itu membuatku muak.
Formalitas.
Begitulah mereka menyebut pemalsuan persetujuan seseorang untuk menjual aset bernilai miliaran.
Karena transaksi belum sampai pada tahap balik nama dan kerugian pembeli akhirnya dapat dipulihkan, penyelesaian perkara berjalan panjang dan melalui beberapa tahapan.
Yang paling penting bagiku bukan melihat Raka diborgol atau dipermalukan.
Aku hanya ingin satu hal:
dia tidak lagi bisa melangkah pergi sambil berpikir bahwa tindakannya tidak memiliki konsekuensi.
Dan konsekuensi itu datang satu per satu.
Mobilnya hilang.
Tabungannya habis untuk mengembalikan dana.
Rencana rumah baru batal.
Citra gagal membuka klinik karena modalnya ditarik kembali.
Ibu mertua harus menghadapi utangnya sendiri tanpa berharap rumahku menjadi penyelamat.
Kantor agen memasukkan kasus itu dalam evaluasi internal mereka dan Anton mendapat sanksi karena tidak melakukan verifikasi kepemilikan secara memadai sejak awal.
Sedangkan aku mengambil keputusan yang sebenarnya sudah mulai terbentuk sejak malam agen properti masuk tanpa izin.
Aku mengajukan gugatan cerai.
Saat surat itu sampai, Raka datang ke apartemenku.
Wajahnya jauh berbeda.
Lebih kurus.
Matanya cekung.
“Nadira.”
Aku berdiri di balik pintu.
“Aku cuma mau bicara lima menit.”
Aku membiarkannya masuk.
Dia duduk tanpa berani melihatku.
“Aku sudah putus hubungan soal uang dengan Mama dan Citra.”
Aku diam.
“Aku sadar aku terlalu banyak mengikuti mereka.”
Aku masih diam.
“Aku bisa berubah.”
Akhirnya aku bertanya,
“Kalau rumah itu benar-benar atas namaku, apa kamu akan menyesal?”
Dia terdiam.
Aku melanjutkan.
“Kalau dokumennya berhasil?”
“Kalau pembeli sudah melunasi Rp4,7 miliar?”
“Kalau aku pulang dan semuanya sudah selesai?”
“Apakah kamu tetap akan datang minta maaf?”
Dia membuka mulut.
Tidak ada jawaban.
Itulah jawaban sebenarnya.
Dia menyesal bukan ketika mengkhianatiku.
Dia menyesal ketika rencananya gagal.
Aku berdiri.
“Raka, aku tidak membencimu.”
Dia mengangkat wajah.
“Tapi aku juga tidak bisa hidup dengan orang yang baru memahami batas ketika ada konsekuensi.”
Air matanya jatuh.
Dulu mungkin aku akan langsung luluh melihatnya.
Hari itu tidak.
“Aku masih sayang sama kamu.”
Katanya.
Aku mengangguk.
“Mungkin.”
“Tapi cinta yang tidak disertai rasa hormat tidak cukup untuk membangun rumah.”
Dia pulang tanpa membanting pintu.
Tanpa berteriak.
Untuk pertama kalinya selama bertahun-tahun, kami mengakhiri percakapan tanpa aku harus meminta maaf atas kesalahan orang lain.
Beberapa bulan kemudian, perceraian kami resmi selesai.
Aku tidak meminta harta Raka.
Dia juga tidak punya hak apa pun atas rumah tersebut karena sejak awal aset itu milik Tante Ratih.
Hari ketika semuanya selesai, Tante mengajakku makan siang.
Di tengah restoran, dia mendorong sebuah map kepadaku.
“Apa ini?”
“Buka.”
Di dalamnya terdapat dokumen persiapan hibah rumah.
Aku terdiam.
“Tante…”
Dia tersenyum.
“Dulu Tante menahan sertifikat karena takut suatu hari kamu membutuhkan jalan keluar.”
Mataku mulai panas.
“Sekarang kamu sudah berhasil membuat jalan keluarmu sendiri.”
Aku menggenggam tangannya.
“Tante nggak perlu kasih rumah ini.”
“Tante tahu.”
Dia tersenyum.
“Justru karena kamu tidak memintanya, Tante semakin yakin.”
Prosesnya dilakukan secara resmi melalui PPAT.
Semua kewajiban diperiksa.
Semua dokumen dibaca satu per satu.
Tidak ada jalan pintas.
Tidak ada tanda tangan palsu.
Tidak ada keputusan diam-diam.
Beberapa waktu kemudian, untuk pertama kalinya namaku benar-benar tercatat sebagai pemilik rumah yang selama bertahun-tahun hanya kupanggil rumahku.
Aku kembali tinggal di sana.
Tetapi aku mengubah hampir semuanya.
Sofa lama kuganti.
Ruang yang pernah dipakai Citra kukembalikan menjadi ruang kerja.
Rak plastik ibu mertua kubuang.
Dinding ruang keluarga kucat ulang.
Di balkon lantai dua, aku akhirnya memasang kaca seperti rencana yang dulu tidak pernah sempat kulaksanakan.
Kemudian aku memenuhi salah satu sudutnya dengan sukulen dan tanaman kecil.
Suatu sore, ketika matahari hampir tenggelam, aku duduk di sana bersama Tante Ratih.
Dia menatap tanaman-tanamanku.
“Bagus juga.”
Aku tertawa.
“Dulu aku pernah cerita mau bikin sudut tanaman di sini.”
“Ke Raka?”
“Iya.”
“Dia bilang apa?”
“Katanya apa pun yang aku mau, dia akan ikut.”
Tante terdiam sebentar.
Lalu berkata,
“Kadang-kadang orang mudah mengatakan iya karena dia memang tidak pernah berniat menghargai apa yang sedang kita bangun.”
Aku mengangguk.
Aku tidak sedih lagi mendengarnya.
Setahun setelah semuanya terjadi, hidupku jauh lebih tenang.
Aku mendapat promosi dan tidak lagi terlalu sering bepergian ke luar kota.
Aku mulai menerima proyek konsultasi kecil di luar jam kerja.
Ruang kerja yang dulu direbut Citra menjadi tempat aku membangun sesuatu yang benar-benar milikku.
Aku juga mulai belajar satu hal yang sebelumnya selalu kuanggap egois:
mengatakan tidak.
Tidak kepada permintaan yang tidak masuk akal.
Tidak kepada orang yang menggunakan rasa bersalah sebagai senjata.
Tidak kepada hubungan yang hanya berjalan jika salah satu pihak terus mengalah.
Tentang Raka, aku hanya mendengar kabarnya sesekali dari teman lama.
Dia pindah ke rumah kontrakan.
Hubungannya dengan Citra sempat memburuk karena persoalan uang.
Ibu mertua tinggal bergantian dengan anak-anaknya.
Aku tidak merasa puas karena melihat hidup mereka lebih sulit.
Kepuasanku datang dari hal lain.
Mereka akhirnya harus bertanggung jawab atas pilihan mereka sendiri.
Tidak lagi menggunakan rumahku.
Tidak lagi menggunakan uangku.
Tidak lagi menggunakan kesabaranku.
Suatu sore, hampir dua tahun setelah hari agen properti datang, bel rumah berbunyi.
Aku sempat terdiam.
Suara bel itu membawaku kembali ke hari ketika hidupku berubah.
Aku membuka layar kamera pintu.
Bukan Raka.
Bukan ibu mertuaku.
Bukan Citra.
Kurir membawa paket tanaman yang kupesan.
Aku tertawa sendiri.
Setelah menandatangani penerimaan, aku membawa kotak kecil itu ke balkon.
Di dalamnya ada pot keramik putih dan satu tanaman sukulen kecil.
Aku menaruhnya di tempat yang terkena cahaya sore.
Kemudian aku melihat ke seluruh rumah.
Rumah yang pernah dianggap sebagai sumber uang oleh orang-orang yang bahkan tidak memiliki hak atasnya.
Rumah yang pernah hampir dirampas melalui kebohongan.
Sekarang semuanya sunyi.
Tetapi kali ini sunyi itu tidak menakutkan.
Tidak ada orang yang mengambil ruang tanpa izin.
Tidak ada percakapan berbisik tentang uang.
Tidak ada keputusan besar yang dibuat di belakangku.
Hanya aku.
Secangkir kopi.
Tanaman-tanaman kecil.
Dan satu hal yang akhirnya kupahami.
Rumah bukan sekadar sertifikat.
Bukan sekadar tembok.
Bukan pula angka miliaran rupiah.
Rumah adalah tempat di mana kita tidak perlu takut hak kita akan diambil ketika kita sedang membelakangi pintu.
Aku menyentuh daun kecil di depanku lalu tersenyum.
Dulu Tante Ratih mempertahankan namanya di sertifikat karena takut suatu hari seseorang akan mencoba mengambil jalan pulangku.
Ternyata dia benar.
Tetapi dia benar tentang satu hal lain juga.
Pada akhirnya, yang paling menyelamatkanku bukan sertifikat itu.
Melainkan keberanian untuk berhenti berkata,
“Tidak apa-apa.”
Pada sesuatu yang sejak awal memang tidak pernah baik-baik saja.

