Bagian 3 — Aku Tidak Mengusir Siapa Pun, Aku Hanya Menghentikan Semua Fasilitas Gratis, dan Barulah Mereka Tahu Siapa yang Selama Ini Menanggung Rumah

Avatar penulis
Cerita 02
16 menit baca 21 tayangan
Bagian 3 — Aku Tidak Mengusir Siapa Pun, Aku Hanya Menghentikan Semua Fasilitas Gratis, dan Barulah Mereka Tahu Siapa yang Selama Ini Menanggung Rumah
Indeks

Bagian 3 — Aku Tidak Mengusir Siapa Pun, Aku Hanya Menghentikan Semua Fasilitas Gratis, dan Barulah Mereka Tahu Siapa yang Selama Ini Menanggung Rumah

Aku mendengarkan pesan suara Bayu dua kali.

Kirana sedang menuang susu ke gelas.

Dia tidak bertanya apa-apa.

Sejak kami pindah lima hari lalu, anakku menjadi lebih pendiam setiap kali nama ayahnya disebut.

Apartemen yang kusewa tidak besar.

Dua kamar.

Satu ruang keluarga kecil.

Dapur hanya selebar beberapa langkah.

Tetapi pada malam pertama, Kirana tidur tanpa mendengar siapa pun memperdebatkan apakah dia pantas memiliki kamarnya sendiri.

Bagiku, itu sudah cukup.

Pukul tujuh kurang sepuluh, aku menelepon Bayu kembali.

“Ada apa?”

Suara di seberang terdengar lelah.

“Dimas datang kemarin.”

“Lalu?”

“Tanah Ibu… tidak bisa langsung dialihkan.”

Aku diam.

Bayu melanjutkan.

“Ternyata tanah itu bukan sepenuhnya punya Ibu.”

Aku hampir tertawa.

Tiga minggu lalu dia berani membuat janji permanen mengenai rumah kami karena tergiur tanah yang bahkan belum dia periksa statusnya.

“Tanah itu peninggalan Kakek,” katanya. “Nama di sertifikat memang masih atas nama almarhum. Ibu cuma salah satu ahli waris. Ada empat orang lain yang juga punya hak.”

“Itu sebenarnya bisa kamu tanyakan sebelum menandatangani janji.”

“Ratih, dengarkan dulu.”

“Aku mendengarkan.”

Bayu menarik napas panjang.

“Dimas bilang dua tahun lalu Ibu juga pernah menjanjikan bagian tanah yang sama kepadanya.”

Nah.

Sekarang aku benar-benar tertawa.

Bukan keras.

Hanya satu suara pendek.

Bayu langsung kesal.

“Ini tidak lucu.”

“Tidak. Memang tidak lucu.”

Aku menatap jam dinding.

“Tapi itu masalah antara kamu, ibumu, Dimas, dan para ahli waris. Bukan masalahku.”

“Bisa kita ketemu?”

“Aku bekerja hari ini.”

“Malam?”

Aku menatap Kirana.

“Aku akan tanya Kirana apakah dia mau.”

Bayu terdiam.

Mungkin baru kali itu dia menyadari bahwa masalah terbesar bukanlah tanah.

Melainkan anaknya sendiri.

Malamnya, Bayu datang ke kedai kopi di bawah apartemen.

Dia datang sendiri.

Wajahnya berbeda dari lima hari lalu.

Rambutnya tidak rapi.

Baju kerjanya kusut.

Ada lingkaran hitam di bawah mata.

Aku memesan teh tanpa gula.

Dia memesan kopi, lalu tidak menyentuhnya.

“Aku minta maaf,” katanya.

Aku tidak langsung menjawab.

“Untuk bagian mana?”

Bayu menunduk.

“Semua.”

“Semua itu terlalu luas.”

Dia mengangkat wajah.

“Untuk membawa Ibu tanpa bicara jelas sama kamu. Untuk surat itu. Untuk kamar Kirana. Untuk menyuruh kalian pergi.”

Aku mengangguk pelan.

“Itu empat hal. Ada lagi?”

Bayu mengembuskan napas.

“Menganggap kamu pasti akan mengurus Ibu.”

Akhirnya.

Kalimat yang kutunggu bukan “Ibu cerewet”.

Bukan “aku sedang stres”.

Bukan “semua anak wajib berbakti”.

Tetapi pengakuan bahwa dia memang pernah menganggap waktu dan tenaga istrinya sebagai sumber daya yang bisa dijanjikan sesuka hati.

“Apa yang terjadi lima hari ini?” tanyaku.

Wajah Bayu memerah.

Hari pertama setelah kami pergi, Bu Sulastri ternyata tetap menuntut sarapan hangat.

Bayu harus berangkat kerja pukul tujuh.

Bu Sulastri tidak mau makan roti.

Tidak suka bubur instan.

Tidak mau nasi uduk yang dibeli dari ujung gang karena menurutnya terlalu berminyak.

Akhirnya Bayu memasak nasi dan telur sebelum berangkat.

Pukul sepuluh, ibunya menelepon kantor.

Gas hampir habis.

Pukul sebelas, menelepon lagi.

Galon kosong.

Pukul satu siang, meminta dibelikan obat pegal.

Pukul tiga, mengeluh televisi tidak bisa membuka aplikasi film karena langganannya berhenti.

Sore hari Bayu pulang dan mendapati tumpukan pakaian kotor.

“Ibu bilang pinggangnya sakit,” katanya.

“Jadi?”

“Aku mencuci.”

Aku mengangguk.

“Bagus.”

Bayu menatapku tajam, tapi tidak membalas.

Hari kedua dia memanggil jasa bersih-bersih.

Bu Sulastri mengeluh pekerjanya tidak teliti.

Hari ketiga dia meminta Bayu mencari pembantu tinggal dalam.

Bayu menghubungi beberapa agen.

Biaya untuk pekerja berpengalaman di wilayah kami jauh lebih besar daripada yang dia bayangkan.

“Dan Ibu tidak mau orang asing tinggal di rumah,” katanya lirih.

Aku mengangkat alis.

“Menarik.”

“Ratih…”

“Aku mendengarkan.”

Dia melanjutkan.

Hari keempat, ibunya ingin kontrol ke rumah sakit karena pinggangnya.

Bayu mengambil izin setengah hari.

Setelah pemeriksaan, dokter mengatakan tidak ada cedera serius. Bu Sulastri hanya mengalami kekakuan otot ringan dan justru disarankan tetap aktif, berjalan, serta melakukan aktivitas ringan.

“Jadi pinggang Ibu tidak separah yang dikatakan?”

“Tidak.”

Aku menyesap teh.

“Dan hari kelima tanahnya ternyata belum tentu miliknya.”

Bayu menunduk lagi.

Masalahnya bahkan lebih buruk.

Dimas akhirnya datang ke rumah setelah mendengar dari ibunya bahwa Bayu mulai bertanya soal sertifikat.

Dari situlah fakta lain keluar.

Bu Sulastri tidak meninggalkan rumah Dimas karena cucunya sudah besar dan dia merasa “tidak berguna”.

Dimas memang memintanya pindah.

Bukan karena membenci ibunya.

Selama bertahun-tahun Dimas dan istrinya, Sari, membiarkan Bu Sulastri tinggal bersama mereka karena memang membantu menjaga Raka ketika kecil.

Tetapi ketika Raka beranjak remaja, kebiasaan Bu Sulastri mulai menimbulkan konflik.

Dia sering membuka kamar Raka tanpa mengetuk.

Memeriksa ponselnya.

Mengatur uang belanja Sari.

Bahkan beberapa kali mengatakan di depan tetangga bahwa rumah itu “berjalan karena dirinya”.

Sari akhirnya meminta batas.

Dimas menawarkan menyewakan rumah kecil hanya sepuluh menit dari rumah mereka.

Dia bersedia membayar sebagian biaya hidup dan tetap mengantar ibunya kontrol.

Bu Sulastri menolak.

Dia ingin tinggal di rumah anak.

Bukan tinggal sendiri.

Lalu dia teringat rumah kami yang lebih besar.

Dan Bayu, yang selama ini merasa bersalah karena ibunya lebih banyak membantu keluarga Dimas, menjadi sasaran yang sempurna.

“Jadi Ibu datang karena Dimas sudah membuat batas,” kataku.

Bayu mengusap wajah.

“Iya.”

“Dan kamu mengira batas itu tanda Dimas tidak berbakti.”

Bayu tidak menjawab.

“Aku bilang apa waktu kamu menjemput Ibu?”

Dia menatapku.

“Kamu tidak bilang apa-apa.”

“Tepat.”

Aku tersenyum hambar.

“Aku tidak melarang.”

Aku juga tidak pernah berkata aku akan mengambil alih tanggung jawab.

Selama empat belas tahun pernikahan kami, banyak hal berjalan begitu otomatis sampai Bayu lupa siapa yang menggerakkannya.

Aku yang mengatur jadwal servis AC.

Aku yang memastikan beras tidak habis.

Aku yang membayar petugas kebersihan dua kali seminggu karena kami sama-sama bekerja.

Aku yang menyusun pembayaran sekolah Kirana.

Aku yang mengatur asuransi tambahan.

Aku yang membuat kalender tagihan.

Bayu memang memberikan sebagian gajinya ke rekening rumah.

Tetapi ketika pendapatanku meningkat beberapa tahun terakhir, semakin banyak biaya “kecil” yang perlahan berpindah ke rekeningku.

Internet.

Listrik.

Kursus bahasa Kirana.

Aplikasi belajar.

Makan siang akhir pekan.

Perbaikan rumah.

Hadiah keluarga.

Kebutuhan dapur.

Semua tampak sepele jika dilihat satu per satu.

Kalau dijumlahkan selama setahun, nilainya tidak sepele sama sekali.

Aku mengeluarkan sebuah folder dari tas.

Bayu mengernyit.

“Apa itu?”

“Catatan keuangan.”

Aku bekerja dengan anggaran proyek setiap hari.

Tentunya aku juga punya catatan rumah.

Aku menunjukkan rekap dua belas bulan terakhir.

“Ini bukan untuk menagih.”

Bayu melihat angka-angkanya.

Wajahnya perlahan berubah.

“Ini untuk menunjukkan kenapa aku marah ketika kamu menjanjikan empat juta per bulan untuk ibumu seolah rumah kita tidak punya kebutuhan lain.”

Bayu memeriksa angka cicilan, sekolah, listrik, bahan makanan, kendaraan, asuransi, perbaikan, dan biaya aktivitas Kirana.

“Aku tidak sadar…”

“Tepat.”

Aku menutup folder.

“Kamu tidak sadar karena semuanya selalu tersedia.”

Aku tidak pernah menuntut ucapan terima kasih setiap membayar tagihan.

Tapi tanpa sadar, kemudahan itu membuat Bayu mengira rumah tangga bekerja dengan sendirinya.

Seperti lampu.

Tekan sakelar, menyala.

Dia tidak pernah berpikir siapa yang membayar listrik.

“Apa kamu mau pulang?” tanyanya pelan.

Aku menggeleng.

“Belum.”

Wajahnya jatuh.

“Aku sudah minta maaf.”

“Permintaan maaf bukan tombol reset.”

“Lalu aku harus bagaimana?”

Aku sudah memikirkan pertanyaan itu.

“Pertama, kamar Kirana dikembalikan persis seperti semula.”

Bayu mengangguk.

“Kedua, ibumu tidak boleh tinggal permanen di rumah kita berdasarkan keputusan sepihak.”

Dia terlihat ragu.

Aku langsung menutup tas.

“Kalau itu saja kamu belum bisa jawab, pembicaraan selesai.”

“Tunggu.”

Dia menahan napas.

“Baik.”

“Ketiga, urusan perawatan ibumu dibicarakan bersama saudara-saudaramu. Bukan dilempar ke istri salah satu anak.”

Bayu mengangguk.

“Keempat, semua keuangan rumah dibuat transparan. Termasuk pinjaman, janji pemberian uang, atau kewajiban kepada keluarga masing-masing.”

Dia kembali mengangguk.

“Kelima.”

Aku menatapnya.

“Jangan pernah lagi menggunakan rumah, tenaga, waktu, atau uangku untuk membuat janji kepada siapa pun tanpa berbicara denganku.”

Bayu menelan ludah.

“Baik.”

Aku berdiri.

“Kita lihat dari tindakan.”

Dua hari kemudian, grup WhatsApp keluarga besar mendadak ramai.

Bu Sulastri mengirim pesan panjang.

Isinya mengatakan seorang ibu tua telah “diusir” menantunya sendiri.

Namaku memang tidak ditulis.

Tidak perlu.

Semua orang tahu siapa yang dimaksud.

Beberapa kerabat mulai bertanya.

Ada yang mengirim emoji sedih.

Ada pula yang mengatakan anak zaman sekarang terlalu sibuk sampai lupa orang tua.

Aku membaca semuanya tanpa membalas.

Sampai Bu Sulastri mengirim satu kalimat:

“Dulu Ibu mengurus cucu-cucu tanpa pernah menghitung tenaga. Sekarang sekadar meminta tempat berteduh saja dianggap beban.”

Aku akhirnya mengetik.

Tidak panjang.

“Bu, saya tidak pernah mengusir Ibu. Kamar tamu tersedia sejak hari pertama. Yang saya tolak adalah memindahkan Kirana dari kamarnya dan keputusan bahwa saya wajib melayani Ibu tanpa pernah diajak bicara. Bila keluarga ingin membahas perawatan Ibu, mari kita bahas biaya, jadwal, dan tanggung jawab semua anak secara terbuka.”

Lalu kukirim.

Tidak lebih.

Bu Sulastri membalas dalam hitungan detik.

“Beginilah kalau perempuan merasa uangnya lebih banyak.”

Sebelum aku menjawab, seseorang lain masuk.

Mbak Yuni.

Kakak perempuan Bu Sulastri.

“Sul, jangan mulai.”

Grup tiba-tiba sunyi.

Mbak Yuni melanjutkan.

“Aku masih ingat waktu Ratih pulang operasi melahirkan. Kamu malah pulang kampung karena kecewa cucumu perempuan.”

Aku menatap layar.

Bu Sulastri tidak membalas.

Mbak Yuni menulis lagi.

“Waktu itu aku yang bilang kamu keterlaluan. Sekarang jangan menulis seolah Ratih sejak dulu tidak pernah menerima kamu.”

Pesan berikutnya datang dari Dimas.

“Masalah Ibu pindah dari rumah kami juga bukan karena Raka sudah SMP. Kami sudah menawarkan rumah kontrakan dekat rumah supaya Ibu tetap dekat. Tolong jangan ubah ceritanya.”

Kemudian Sari, istrinya, menambahkan satu pesan.

“Saya tetap bersedia membantu kontrol kesehatan Ibu dua kali sebulan seperti sebelumnya.”

Aku tidak merasa menang.

Aku hanya merasa lega.

Akhirnya fakta berdiri sendiri tanpa aku harus berteriak.

Malam itu Bu Sulastri meneleponku.

Aku tidak mengangkat.

Dia menelepon lagi.

Aku tetap tidak mengangkat.

Lalu masuk pesan.

“Kamu puas sekarang mempermalukan Ibu?”

Aku membalas singkat.

“Saya tidak menceritakan masa lalu di grup, Bu. Mbak Yuni yang mengingatnya.”

Tidak ada jawaban lagi.

Beberapa hari berikutnya Bayu benar-benar mulai berubah.

Bukan berubah dalam bentuk membawa bunga.

Aku tidak membutuhkan bunga.

Dia menghubungi Dimas dan dua saudara perempuan mereka.

Mereka bertemu tanpa pasangan masing-masing dan membuat rencana.

Bu Sulastri memiliki penghasilan kecil dari sewa sawah keluarga serta uang simpanan sendiri.

Selama ini uang itu hampir tidak pernah disentuh karena anak-anak selalu menanggung kebutuhan hariannya.

Empat saudara sepakat menambah jumlah tertentu setiap bulan sesuai kemampuan.

Bukan dibebankan pada satu rumah.

Mereka juga kembali menawarkan rumah kontrakan satu lantai tidak jauh dari rumah Dimas karena fasilitas kesehatan dan kerabat Bu Sulastri lebih dekat di sana.

Ada dua kamar.

Teras kecil.

Kamar mandi duduk.

Dan tetangga yang sudah dikenal.

Bu Sulastri marah besar.

“Apa kalian semua mau membuang Ibu?”

Bayu, untuk pertama kalinya, tidak meneleponku untuk menyelesaikan masalah.

Dia menjawab sendiri.

“Tidak, Bu. Justru kami sedang mengatur supaya Ibu tetap terurus tanpa membuat salah satu rumah tangga berantakan.”

“Ibu melahirkan kalian!”

“Dan kami akan tetap merawat Ibu.”

Bayu berhenti sebentar.

“Tapi merawat bukan berarti Ibu boleh menentukan kamar siapa yang harus dikosongkan.”

Bu Sulastri menangis.

Bayu tetap pada keputusan.

Aku mengetahui percakapan itu bukan dari Bayu.

Dimas yang menceritakannya ketika kami kebetulan bertemu untuk mengambil beberapa dokumen keluarga.

Saat itulah aku mulai percaya mungkin suamiku benar-benar belajar sesuatu.

Persoalan tanah juga akhirnya dibawa kepada PPAT yang direkomendasikan keluarga.

Hasilnya jelas.

Bu Sulastri tidak bisa begitu saja memberikan seluruh lahan kepada Bayu.

Status waris harus diselesaikan dulu.

Para ahli waris harus jelas.

Bagian masing-masing harus ditentukan.

Lebih menarik lagi, ternyata tiga tahun sebelumnya keluarga pernah sepakat sebagian tanah akan dijual untuk membayar renovasi rumah lama milik kakek mereka.

Jadi nilai yang dibayangkan Bayu sejak awal jauh dari realitas.

Ketika Bayu pulang dari pertemuan itu, dia mengirimiku foto surat pernyataan yang dulu dibuatnya.

Di bawahnya dia menulis:

“Aku sudah merobek surat ini di depan Ibu. Aku tidak akan menerima tanah sebagai imbalan karena merawatnya.”

Aku hanya menjawab:

“Baik.”

Dia tidak memaksaku memuji.

Itu juga perubahan.

Seminggu kemudian, aku datang ke rumah bersama Kirana untuk mengambil beberapa barang.

Pintu kamar Kirana terbuka.

Semua sudah kembali ke tempat semula.

Meja belajar.

Rak buku.

Kotak cat.

Poster kecil di dinding.

Bahkan tanaman kaktus yang dulu terjatuh ketika koper Bu Sulastri masuk sudah diganti pot baru.

Kirana berdiri di ambang pintu cukup lama.

Bayu mendekat.

“Ayah minta maaf.”

Kirana tidak menjawab.

Bayu berjongkok sedikit agar wajah mereka sejajar.

“Ayah salah karena waktu itu bilang kamu pindah kamar.”

Mata Kirana mulai merah.

“Ayah lebih pilih Nenek.”

Bayu terdiam.

Kalimat seorang anak empat belas tahun ternyata lebih mampu menghancurkan pertahanannya daripada semua perdebatanku.

“Ayah memilih menghindari konflik,” katanya akhirnya. “Dan karena Ayah pengecut, kamu yang jadi korban.”

Aku menoleh kepadanya.

Untuk pertama kalinya, dia tidak mencari alasan.

Kirana bertanya, “Kalau Nenek balik lagi, aku disuruh pindah?”

“Tidak.”

“Serius?”

“Serius.”

Kirana mengangguk kecil.

Dia belum memeluk ayahnya.

Tidak masalah.

Kepercayaan tidak tumbuh karena satu permintaan maaf.

Hari itu Bu Sulastri tidak ada.

Dia sudah pindah sementara ke rumah Mbak Yuni sambil menunggu kontrakan selesai dibersihkan.

Aku dan Kirana kembali ke apartemen.

Bayu tidak menahan kami.

Selama hampir dua bulan berikutnya, kami tinggal terpisah.

Bukan karena aku ingin menghukum Bayu.

Aku ingin melihat apakah perubahan itu bisa bertahan ketika tidak ada ancaman bahwa aku akan pulang besok.

Dan ternyata dia bertahan.

Dia mulai mencatat pengeluaran rumah.

Membayar tagihan bagiannya tepat waktu.

Belajar memasak beberapa menu sederhana.

Mengurus cucian sendiri.

Yang paling penting, dia tidak lagi meneleponku setiap kali ibunya mengeluh.

Ketika Bu Sulastri menolak kontrakan karena merasa rumahnya terlalu kecil, Bayu berkata, “Kalau Ibu ingin tempat lebih besar, kita hitung bersama biaya tambahannya. Saya tidak akan menjanjikan uang Ratih.”

Ketika ibunya meminta tinggal kembali di rumah kami, Bayu menjawab, “Kalau hanya berkunjung beberapa hari, nanti saya bicara dengan Ratih. Kalau tinggal permanen, tidak.”

“Rumah itu rumah kamu!”

“Rumah itu rumah kami.”

Satu kata.

Kami.

Butuh empat belas tahun pernikahan dan satu koper merah untuk membuat Bayu memahami perbedaan antara “rumahku” dan “rumah kami”.

Bulan ketiga, aku mengajak Bayu menemui konselor pernikahan.

Aku tidak ingin kami kembali hanya karena keadaan sudah tenang.

Aku ingin masalahnya benar-benar dibongkar.

Dalam beberapa sesi, Bayu mengakui bahwa sejak kecil dia dibesarkan dengan keyakinan anak sulung laki-laki bertanggung jawab terhadap orang tua.

Aku tidak mempersoalkan itu.

Yang kupersoalkan adalah ketika kewajiban seorang anak laki-laki diam-diam dialihkan menjadi pekerjaan istrinya.

Bayu akhirnya memahami bedanya.

Dia boleh memilih merawat ibunya.

Dia tidak boleh memilihkan aku menjadi perawat.

Dia boleh membantu secara finansial.

Dia tidak boleh menjanjikan pendapatanku.

Dia boleh mengundang ibunya berkunjung.

Dia tidak boleh memberikan kamar anak kami.

Empat bulan setelah malam koper merah itu, aku dan Kirana pulang.

Bukan karena kalah.

Bukan karena “istri seharusnya kembali kepada suami”.

Aku pulang karena rumah itu kembali menjadi rumah tempat keputusan dibuat bersama.

Sebelum pindah dari apartemen, aku bahkan meminta Kirana memilih.

“Kamu mau kembali atau tetap di sini sama Mama?”

Dia berpikir cukup lama.

“Aku mau pulang.”

“Kenapa?”

Dia tersenyum kecil.

“Ayah sekarang kalau masuk kamarku ketuk pintu dulu.”

Aku tertawa.

Sesederhana itu ternyata ukuran rasa aman seorang anak.

Bu Sulastri akhirnya tinggal di rumah kontrakan dekat Dimas.

Awalnya dia membenci semuanya.

Dia mengeluh dapurnya kecil.

Teras terlalu panas.

Tetangga terlalu berisik.

Air kamar mandi kurang deras.

Tetapi setelah beberapa minggu, sesuatu yang tidak kuduga terjadi.

Dia mulai terbiasa.

Karena dokter memang menyarankan tetap aktif, dia mulai berjalan pagi bersama dua tetangga seusianya.

Kemudian ikut pengajian mingguan di musala dekat rumah.

Suatu sore dia bahkan menelepon Bayu hanya untuk mengatakan dirinya baru belajar membuat tanaman cabai dalam pot.

Dia masih keras kepala.

Masih suka mengatur.

Manusia tidak berubah total dalam satu malam.

Tetapi sekarang, ketika dia terlalu jauh mencampuri urusan Dimas, Dimas mengingatkan batas.

Ketika meminta Bayu sesuatu yang berlebihan, Bayu belajar mengatakan tidak.

Tidak ada lagi menantu perempuan yang dijadikan bantalan agar anak-anak lelakinya terlihat berbakti.

Enam bulan kemudian, ulang tahun Kirana tiba.

Kami membuat makan malam sederhana di rumah.

Bayu memasak nasi kuning sendiri.

Rasanya sedikit terlalu asin.

Kirana menggodanya tanpa ampun.

Bu Sulastri datang membawa sebuah kotak kecil.

Dia tidak membawa koper.

Hanya tas tangan.

Sebelum masuk ke kamar Kirana, dia berdiri di depan pintu.

Lalu mengetuk.

Aku melihat dari ruang makan.

“Kirana?”

“Iya, Nek?”

“Nenek boleh masuk?”

Kirana membuka pintu.

“Boleh.”

Bu Sulastri menyerahkan kotak itu.

Isinya seperangkat pensil gambar profesional.

“Ayahmu bilang kamu sekarang suka desain.”

Kirana tersenyum.

“Terima kasih, Nek.”

Bu Sulastri menoleh kepadaku sebentar.

Tatapan kami bertemu.

Dia tampak ingin mengatakan sesuatu.

Kemudian, setelah beberapa detik, dia berjalan mendekat.

“Ratih.”

“Ya, Bu?”

“Saya dulu…”

Dia berhenti.

Bu Sulastri bukan orang yang mudah mengucapkan maaf.

Aku tahu itu.

“Saya dulu keterlaluan waktu Kirana lahir.”

Aku tidak membantu menyelesaikan kalimatnya.

Dia harus mengatakannya sendiri.

“Saya pikir cucu laki-laki lebih penting.”

Aku masih diam.

“Sekarang saya tahu saya salah.”

Suara Kirana dan Bayu terdengar dari ruang makan.

Bu Sulastri menarik napas.

“Dan waktu saya datang kemarin itu, saya juga salah karena merasa kamu harus melayani saya.”

Aku mengangguk.

“Terima kasih sudah mengatakan itu, Bu.”

Dia mungkin mengharapkan aku menjawab bahwa semuanya sudah kulupakan.

Aku tidak melakukannya.

Karena memaafkan bukan berarti menghapus sejarah.

Aku hanya berkata, “Yang penting kita tidak mengulanginya.”

Bu Sulastri mengangguk.

Malam itu dia makan bersama kami sampai pukul delapan.

Setelah itu Bayu mengantarnya pulang ke kontrakan.

Tidak ada drama.

Tidak ada tangisan karena dia tidak boleh menginap.

Tidak ada pembicaraan soal tanah.

Tidak ada yang kehilangan kamar.

Ketika Bayu pulang, dia menemukanku sedang mencuci gelas.

Dia mengambil lap dan mulai mengeringkannya.

“Capek?” tanyanya.

“Lumayan.”

Dia diam sebentar.

“Terima kasih sudah pulang.”

Aku meletakkan gelas terakhir.

“Aku pulang bukan karena rumah ini butuh orang untuk mengurusnya.”

“Aku tahu.”

“Aku pulang karena kita akhirnya sama-sama mengurusnya.”

Bayu tersenyum.

“Itu yang seharusnya dari dulu.”

Dari kamar, Kirana berteriak.

“Ayah! Piring nasi kuningnya belum dibereskan!”

Bayu menjawab keras.

“Iya, Bos!”

Aku tertawa.

Dia mengambil tumpukan piring dan berjalan ke dapur.

Dulu aku pernah berpikir kemenangan terbesar adalah ketika orang yang menyakitiku menerima penderitaan yang sama.

Ternyata bukan.

Kemenangan terbesar adalah ketika aku berhenti membiarkan rasa bersalah orang lain menjadi kewajibanku.

Aku tidak mengusir ibu mertuaku.

Aku tidak memutus hubungan Bayu dengan ibunya.

Aku juga tidak menuntut dia memilih antara istri dan orang tua.

Aku hanya mengembalikan setiap tanggung jawab kepada pemiliknya.

Anak merawat orang tua karena dia memilih bertanggung jawab sebagai anak.

Suami menjaga pernikahan karena dia memilih menjadi pasangan.

Istri bukan tenaga kerja gratis yang namanya bisa dicantumkan dalam janji tanpa persetujuan.

Dan seorang anak perempuan tidak harus kehilangan ruangnya hanya supaya orang dewasa tidak perlu belajar mengatakan tidak.

Koper merah Bu Sulastri tidak pernah lagi masuk ke kamar Kirana.

Surat bermeterai yang dulu hampir memecah rumah tangga kami sudah lama dihancurkan.

Tanah warisan akhirnya tetap diproses bersama seluruh ahli waris tanpa dijadikan imbalan untuk siapa pun.

Bayu masih rutin mengunjungi ibunya setiap akhir pekan.

Kadang aku ikut.

Kadang tidak.

Dan tidak ada lagi yang mempertanyakan pilihanku.

Karena akhirnya mereka mengerti sesuatu yang sebenarnya sangat sederhana:

berbakti kepada orang tua tidak pernah berarti mengorbankan pasangan secara sepihak.

Rumah kami tidak menjadi lebih dingin setelah batas dibuat.

Justru untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, semua orang tahu pintu mana yang boleh dibuka, kamar mana yang harus diketuk, uang siapa yang boleh dijanjikan, dan tanggung jawab siapa yang harus dipikul.

Dan sejak hari itu, aku tidak pernah lagi mendengar Bayu berkata kepadaku:

“Turuti saja Ibu.”

Kalau Bu Sulastri membutuhkan sesuatu, dia akan berkata:

“Aku akan urus.”

Lalu benar-benar mengurusnya sendiri.

Bagiku, itulah akhir yang paling adil.