Bagian 3 — Di Depan Rumah yang Sudah Menjadi Milik Orang Lain, Putra Saya Akhirnya Mendengar Semua yang Selama Ini Kami Telan Sendirian
Saya tidak pernah menyukai pertengkaran keluarga yang melibatkan terlalu banyak orang.
Masalah dua orang sering kali menjadi jauh lebih kotor ketika masuk ke grup WhatsApp keluarga.
Tapi malam itu, baru setengah jam setelah Rina menelepon, ponsel saya sudah penuh notifikasi.
Grup keluarga besar yang biasanya hanya ramai saat ada undangan pernikahan mendadak penuh pesan.
Fajar menulis panjang.
Katanya saya mengambil keputusan sepihak.
Menjual “rumah keluarga” tanpa memberi tahu anak.
Membawa Nurhayati pindah jauh.
Menghentikan bantuan ketika ia sedang punya banyak tanggungan.
Bahkan ada satu kalimat yang membuat saya membaca dua kali.
“Kalau orang tua sakit hati kepada anak, seharusnya dibicarakan, bukan diam-diam menjual aset yang kelak menjadi hak anak-anak.”
Hak.
Kata itu lagi.
Saya meletakkan telepon.
Nurhayati duduk di sebelah saya.
“Kamu mau jawab?”
“Tidak malam ini.”
“Kenapa?”
“Karena kalau sedang marah, orang hanya membaca bagian yang ingin dibaca.”
Pagi berikutnya, kakak saya, Harun, menelepon.
“Mat, sebenarnya ada apa?”
Saya menceritakan semuanya.
Tidak berlebihan.
Tidak mengurangi.
Mulai dari enam tahun Lebaran.
Transfer bulanan.
Rumah yang ingin dijadikan agunan.
Hingga pertanyaan Melati soal uang hasil penjualan.
Harun lama tidak berbicara.
Lalu ia berkata,
“Fajar bilang rumah itu warisan dari almarhum Bapak.”
Saya tersenyum pahit.
“Inilah akibatnya kalau orang terlalu yakin dengan sesuatu yang tidak pernah ia tanyakan.”
Rumah di Semarang bukan warisan.
Saya dan Nurhayati membelinya tahun 1995 lewat cicilan lima belas tahun.
Saya masih punya map berisi akad kreditnya.
Setiap lembar.
Setiap kuitansi.
Setiap bukti pelunasan.
Tanah warisan ayah saya memang pernah ada.
Tapi hanya sebidang kecil di Demak, yang sudah dijual dua puluh tahun lalu dan uangnya dibagi rata kepada empat saudara.
Rumah yang baru saya jual adalah hasil tiga puluh tahun kerja saya dan istri.
Tidak satu rupiah pun berasal dari Fajar.
“Dia mau datang ke Batu,” kata Harun.
“Silakan.”
“Mungkin lusa.”
“Silakan.”
“Kamu tidak takut ribut?”
Saya melihat Nurhayati sedang menjemur handuk di halaman.
“Kalau harus ribut sekali supaya setelah ini hidup kami tenang, tidak apa-apa.”
Dua hari kemudian, menjelang zuhur, dua mobil berhenti di depan rumah kami.
Fajar datang bersama Melati dan Naya.
Di mobil satunya ada Harun dan istrinya.
Rina sudah berada di rumah sejak pagi.
Saya sengaja tidak mengundang banyak orang.
Masalah ini bukan tontonan.
Fajar masuk tanpa banyak basa-basi.
Wajahnya kusut.
Melati lebih dingin lagi.
Hanya Naya yang langsung berlari memeluk neneknya.
“Uti!”
Nurhayati langsung menangis.
Apa pun kesalahan orang tuanya, anak kecil itu tetap cucu kami.
Ia memeluk Naya erat.
“Kangen Uti?”
“Kangen.”
“Kenapa jarang telepon?”
Naya menjawab polos,
“Mama bilang Uti sama Kung sibuk.”
Ruangan mendadak sepi.
Melati cepat-cepat berkata,
“Naya, duduk dulu.”
Saya tidak menanggapi.
Kami semua duduk.
Fajar langsung membuka pembicaraan.
“Pak, saya datang bukan mau cari ribut.”
“Bagus.”
“Tapi saya butuh penjelasan.”
“Silakan tanya.”
“Kenapa rumah dijual tanpa bicara kepada kami?”
“Karena itu rumah saya dan ibumu.”
“Saya tahu.”
Ia menarik napas.
“Tapi keputusan sebesar itu seharusnya dibicarakan dengan anak-anak.”
Rina menyela.
“Mas, aku tahu sejak tiga bulan lalu.”
Fajar menoleh tajam.
“Kamu tahu?”
“Iya.”
“Kenapa tidak bilang?”
“Bapak dan Ibu minta aku tidak bilang dulu.”
“Kenapa?”
Saya menjawab.
“Karena kami ingin tahu kapan kamu sendiri akan bertanya keadaan kami tanpa didorong siapa pun.”
Fajar menatap saya.
“Kami telepon.”
“Berapa kali?”
Ia terdiam.
Saya mengambil buku agenda kecil dari laci.
Nurhayati punya kebiasaan mencatat.
Tanggal kontrol dokter.
Tagihan listrik.
Jadwal arisan.
Bahkan kapan anak-anak menelepon.
Saya membuka satu halaman.
“Dalam dua belas bulan terakhir, kamu menelepon ibumu sebelas kali.”
Fajar mengangkat alis.
“Ya berarti hampir setiap bulan.”
“Enam di antaranya meminta sesuatu.”
Saya membacanya satu per satu.
“Januari, pinjam mobil.”
“Februari, minta transfer untuk biaya daftar sekolah Naya.”
“Maret, bertanya dokumen KK.”
“Juni, meminta saya membayar servis AC rumahmu dulu.”
“September, bertanya apakah saya bisa menambah lima juta untuk katering.”
“Desember, memastikan transfer bulanan belum terlambat.”
Fajar memerah.
“Itu kan keluarga, Pak.”
“Betul.”
Saya menutup agenda.
“Sekarang saya bacakan lima telepon lainnya.”
Saya menatapnya.
“Dua ucapan ulang tahun.”
“Satu Idulfitri.”
“Satu karena Naya ada tugas sekolah mewawancarai kakek.”
“Dan satu lagi karena kamu salah pencet telepon.”
Harun menunduk.
Rina diam.
Melati merapatkan bibir.
Fajar mencoba tersenyum.
“Bapak menghitung-hitung telepon anak sendiri?”
“Tidak.”
Saya menunjuk buku itu.
“Ibumu yang mencatat karena dia selalu menunggu teleponmu.”
Fajar menatap ibunya.
Untuk pertama kalinya sejak datang, wajahnya melemah.
Namun Melati segera berkata,
“Pak, kita semua sibuk. Jangan seolah-olah Fajar sengaja mengabaikan.”
Saya menoleh kepadanya.
“Saya tidak pernah meminta dia datang setiap minggu.”
“Lalu?”
“Satu kali dalam enam Lebaran.”
Melati menghela napas.
“Setiap keluarga punya kebutuhan, Pak. Mama Papa saya juga orang tua.”
“Saya tidak pernah bilang mereka bukan.”
“Jadi kenapa sekarang masalah?”
“Karena selama enam tahun, tidak pernah ada pembagian.”
Saya berbicara pelan.
“Tahun pertama kami memahami.”
“Tahun kedua kami memahami.”
“Tahun ketiga kami mengusulkan bergantian.”
“Kamu bilang sulit.”
“Tahun keempat kami menawarkan agar semua kumpul di Semarang.”
“Kalian menolak.”
“Tahun kelima ibumu sakit lutut dan hanya meminta kalian datang hari kedua.”
“Kalian tidak datang.”
“Tahun keenam ini kami bahkan tidak meminta.”
Saya menatap Fajar.
“Dan ternyata ketika kamu mengatakan akan datang H+5, alasan utamanya bukan merindukan kami.”
Saya mengambil tangkapan layar pesan dari Fajar.
Fotokopi sertifikat rumah.
KTP.
PBB.
Saya taruh di meja.
“Ini alasanmu.”
Fajar tidak menyentuh kertas itu.
“Pak, saya memang punya urusan. Tapi bukan berarti saya tidak mau ketemu.”
“Mana yang kamu tanyakan lebih dulu?”
Ia diam.
“Kesehatan ibumu?”
Diam.
“Apakah kami punya rencana setelah Lebaran?”
Diam.
“Atau sertifikat?”
Tidak ada jawaban.
Saya bersandar.
“Saya tidak marah karena kamu punya keluarga sendiri.”
“Seharusnya begitu.”
“Orang tua memang membesarkan anak supaya anak bisa menjalani hidupnya.”
“Tapi menjalani hidup sendiri berbeda dengan memperlakukan orang tua seperti layanan darurat.”
Wajah Fajar berubah.
“Bapak keterlaluan.”
“Mungkin.”
Saya mengangguk.
“Karena terlalu lama kami juga keterlaluan memanjakanmu.”
Saya berdiri, mengambil map biru dari lemari.
Saya letakkan di meja.
“Ini yang kamu cari.”
Mata Fajar langsung bergerak ke map.
Saya membukanya.
Bukan sertifikat rumah lama.
Melainkan catatan transfer.
Empat tahun.
Tiga juta setiap bulan.
Beberapa kali lebih.
Biaya masuk sekolah Naya.
Uang muka motor Fajar.
Biaya servis mobil.
Tambahan modal katering.
Pinjaman yang tidak pernah kami sebut pinjaman karena kami tahu ia sedang kesulitan.
Totalnya mencapai lebih dari dua ratus juta rupiah.
Melati membelalak.
“Tidak mungkin sebanyak itu.”
“Hitung.”
Saya mendorong map ke arahnya.
“Ada rekening koran.”
Fajar membuka beberapa halaman.
Wajahnya perlahan berubah.
“Pak, uang-uang itu Bapak kasih sendiri.”
“Benar.”
“Saya tidak pernah paksa.”
“Benar.”
“Jadi kenapa sekarang diungkit?”
“Saya tidak menagih satu rupiah pun.”
Saya menunjuk dokumen tersebut.
“Saya hanya ingin kamu melihat sesuatu.”
“Apa?”
“Selama bertahun-tahun, kamu menganggap dukungan kami sebagai sesuatu yang otomatis.”
“Ketika transfer berhenti, kamu marah.”
“Ketika rumah dijual, kamu marah.”
“Ketika kami pindah, kamu marah.”
Saya memandang putra saya tepat di mata.
“Tapi enam tahun ketika ibumu menunggu di meja makan dan kursi kalian kosong, kamu tidak pernah marah kepada dirimu sendiri.”
Nurhayati tiba-tiba menunduk.
Air matanya jatuh.
Fajar melihatnya.
“Ibu…”
Nurhayati mengangkat tangan.
“Biar Ibu bicara.”
Ruangan menjadi diam.
Istri saya bukan perempuan yang pandai berdebat.
Selama perkawinan kami, kalau marah pun biasanya hanya diam.
Namun siang itu suaranya tidak gemetar.
“Fajar.”
“Iya, Bu.”
“Lebaran kedua kamu tidak pulang, Ibu tetap masak rendang daging dua kilo.”
Fajar menatapnya.
“Karena Ibu pikir kalian mungkin berubah pikiran.”
“Tahun ketiga, Ibu beli mukena kecil untuk Naya.”
“Naya bahkan tidak pernah memakainya.”
“Tahun keempat, Ibu sudah beli kasur baru supaya kalian nyaman kalau menginap.”
“Tahun kelima…”
Ia berhenti.
Matanya memerah.
“Tahun kelima dokter bilang lutut Ibu harus banyak istirahat.”
“Ibu cuma minta kamu datang satu malam.”
“Kamu bilang macet.”
Nurhayati menarik napas.
“Dua hari kemudian Ibu melihat foto kalian pergi ke Puncak bersama keluarga Melati.”
Fajar menunduk.
Melati menyela,
“Itu mendadak, Bu.”
Nurhayati menatapnya.
Anehnya, ia justru tersenyum.
“Selalu ada alasan.”
Melati tidak menjawab.
“Tahun ini,” lanjut Nurhayati, “Ibu akhirnya tidak beli apa-apa untuk kamar kalian.”
“Ibu tidak masak porsi tambahan.”
“Tidak menunggu suara mobil.”
“Tidak berdiri di teras.”
Ia menyeka pipi.
“Dan ternyata rasanya lebih ringan.”
Fajar langsung menatap ibunya.
Kalimat itu jauh lebih keras daripada bentakan.
Nurhayati menghela napas.
“Ibu masih sayang kamu.”
“Tidak mungkin berhenti.”
“Tapi Ibu sudah berhenti menunggu.”
Ruangan sangat sunyi.
Bahkan Naya yang duduk dekat Rina tidak bersuara.
Fajar mengusap wajah.
“Jadi sekarang Bapak Ibu mau bagaimana?”
Saya menjawab,
“Hidup.”
“Hidup bagaimana?”
“Seperti orang lain.”
Saya menunjuk rumah kecil kami.
“Bangun pagi.”
“Minum kopi.”
“Ibumu menanam sayur.”
“Saya membuka bengkel kecil bulan depan.”
“Kami dekat Rina, tetapi tidak tinggal serumah.”
“Kalau ingin bepergian, kami pergi.”
“Kalau sakit, kami pakai uang kami untuk berobat.”
“Kalau ingin membantu anak, kami membantu karena ingin.”
“Bukan karena dianggap wajib.”
Fajar menatap map di meja.
“Terus uang penjualan rumah?”
Melati menoleh cepat ke arahnya.
Harun juga langsung menatapnya.
Saya tersenyum tipis.
Pertanyaan itu akhirnya keluar juga.
“Kenapa?”
“Saya cuma ingin tahu pengaturannya.”
“Sudah diatur.”
“Bagaimana?”
“Sebagian membeli rumah ini.”
“Sebagian untuk dana kesehatan dan hidup kami.”
“Sebagian kami simpan.”
“Lalu warisan?”
Harun mendecakkan lidah.
“Jar.”
Tapi saya mengangkat tangan.
Biarkan dia bertanya.
“Saya ingin luruskan satu hal,” kata saya.
“Warisan adalah harta yang tersisa ketika pemiliknya meninggal.”
“Selama saya dan ibumu masih hidup, itu bukan warisan.”
“Itu uang kami.”
Fajar tertunduk.
Saya melanjutkan.
“Kami tidak akan menghabiskannya untuk membuat kalian sengsara.”
“Tapi kami juga tidak akan sengaja hidup kekurangan supaya nanti kalian mendapat rumah lebih besar.”
“Anak tidak membesarkan orang tua.”
“Jadi jangan memperlakukan masa tua orang tua sebagai masa tunggu pembagian aset.”
Melati mulai tidak nyaman.
“Pak, masalahnya kami telanjur mengajukan pinjaman.”
“Itu keputusan kalian.”
“Bank membutuhkan jaminan tambahan.”
“Cari jaminan milik kalian.”
“Kami punya rumah, tapi masih KPR.”
“Berarti sesuaikan bisnis dengan kemampuan.”
“Kalau kami batal mengambil ruko, uang tanda jadi hangus.”
“Berapa?”
“Dua puluh lima juta.”
Saya mengangguk.
“Sayang sekali.”
Wajah Melati memerah.
“Pak benar-benar tega melihat anak rugi?”
Saya tidak menjawab langsung.
Saya mengambil segelas air.
Lalu berkata,
“Empat tahun saya memberi kalian tiga juta sebulan.”
“Beberapa kali saya memberi tambahan.”
“Kalau setelah semua itu saya masih disebut tega karena tidak menyerahkan rumah sebagai agunan, masalahnya bukan pada jumlah bantuan saya.”
“Masalahnya kalian sudah kehilangan batas.”
Melati berdiri.
“Kalau begitu jelas. Dari awal kami datang memang sudah dianggap orang yang cuma mengejar uang.”
Fajar menarik lengannya.
“Mel.”
“Tidak, Mas! Aku capek.”
Ia menatap saya.
“Bapak pikir orang tua saya memaksa kami Lebaran di sana?”
“Saya tidak pernah mengatakan begitu.”
“Tapi Bapak menyalahkan kami!”
“Tidak.”
Saya menggeleng.
“Saya menyalahkan putra saya karena selama enam tahun tidak bisa mengatakan satu kali saja kepada istrinya: tahun ini kita ke rumah orang tuaku.”
Melati terdiam.
Saya menoleh kepada Fajar.
“Keputusan itu tanggung jawabmu.”
“Jangan bersembunyi di belakang istrimu.”
Fajar menelan ludah.
Itu rupanya titik yang paling ia hindari.
Setelah beberapa detik ia berkata,
“Melati memang selalu ingin Lebaran di rumah orang tuanya.”
“Dan kamu?”
“Saya…”
Ia tidak melanjutkan.
“Jawab.”
Fajar menatap lantai.
“Saya ikut saja.”
“Kenapa?”
Ia tertawa pahit.
“Karena lebih gampang.”
Akhirnya.
Bukan karena mertua sakit.
Bukan karena anak kecil.
Bukan karena jarak.
Bukan karena keadaan.
Hanya karena lebih gampang.
“Kalau saya bilang mau bergantian, Melati ngambek.”
“Terus Mama juga bilang semua kakaknya kumpul.”
“Di sana ramai.”
“Kalau ke Semarang cuma Bapak sama Ibu.”
Nurhayati menunduk.
Kalimat terakhir itu melukai paling dalam.
Hanya Bapak dan Ibu.
Seolah dua orang yang membesarkannya terlalu sedikit untuk dijadikan alasan pulang.
Saya memandang Fajar beberapa detik.
“Baik.”
Ia mengangkat kepala.
“Sekarang kamu mengerti kenapa kami pindah?”
Fajar tidak menjawab.
“Sebab kami juga tidak mau hidup di tempat yang membuat kami terus menunggu seseorang yang menganggap rumah kami terlalu sepi.”
Untuk pertama kali hari itu, Fajar menangis.
Bukan meraung.
Hanya air mata yang jatuh ketika ia menutupi wajahnya.
Naya melihat ayahnya.
“Ayah kenapa?”
Tidak ada yang menjawab.
Beberapa menit kemudian Fajar bangkit dan keluar ke teras.
Saya membiarkannya.
Harun menghampiri saya.
“Sudah. Cukup.”
Saya mengangguk.
Memang cukup.
Saya tidak ingin menghancurkan anak saya.
Saya hanya ingin batas kami terlihat.
Sore hari sebelum mereka pulang, Nurhayati membungkus apel Batu, keripik tempe, dan beberapa makanan untuk Naya.
Begitulah seorang nenek.
Bisa kecewa kepada orang tua seorang anak tanpa mengurangi kasihnya kepada si anak.
Fajar berdiri di dekat mobil.
“Pak.”
“Ya?”
“Transfer bulanannya benar-benar berhenti?”
“Benar.”
Ia mengangguk.
Anehnya, kali ini tidak membantah.
“Rumah lama juga benar-benar tidak mungkin dibeli kembali?”
“Pemilik barunya tidak menjual.”
“Baik.”
Ia mengusap hidung.
“Kalau saya mau datang ke sini nanti…”
Saya menatapnya.
“Datang.”
Ia terlihat sedikit terkejut.
“Bapak masih mau?”
“Ini bukan hotel.”
Saya sengaja mengulang kalimat yang pernah lama tersimpan di kepala.
“Tapi juga bukan benteng.”
“Kamu datang sebagai anak, pintu terbuka.”
“Kalau datang hanya mencari sertifikat, uang, atau tanda tangan…”
Saya menunjuk jalan.
“Lebih baik jangan.”
Fajar mengangguk.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia mencium tangan saya tanpa sambil melihat telepon.
Mereka pulang.
Masalah tidak langsung selesai seperti cerita di sinetron.
Bisnis katering Melati batal menyewa ruko.
Uang tanda jadi mereka kehilangan sebagian.
Mereka harus mengurangi pengeluaran.
Mobil kedua dijual.
Liburan keluarga yang sudah direncanakan dibatalkan.
Dan ketika transfer dari saya berhenti, Fajar mulai mengambil pekerjaan tambahan mengawasi proyek pada akhir pekan.
Tiga bulan pertama, komunikasi kami masih kaku.
Kadang hanya pesan singkat.
“Pak, sehat?”
“Ibu bagaimana?”
Tetapi saya melihat perubahan kecil.
Tidak ada lagi kalimat diikuti permintaan transfer.
Suatu malam Fajar menelepon.
Saya langsung bertanya,
“Butuh apa?”
Ia terdiam.
Lalu tertawa malu.
“Tidak butuh apa-apa.”
“Serius?”
“Iya.”
“Saya cuma mau dengar suara Bapak.”
Untuk pertama kali setelah lama, kami berbicara hampir empat puluh menit.
Tentang pekerjaan.
Tentang Naya.
Tentang bengkel kecil saya yang ternyata mulai ramai.
Tentang tanaman stroberi Nurhayati yang mati tiga kali sebelum akhirnya berhasil.
Tidak ada uang.
Tidak ada sertifikat.
Tidak ada pinjaman.
Hanya percakapan.
Enam bulan kemudian, Fajar datang sendiri ke Batu.
Bukan Lebaran.
Bukan ulang tahun.
Hari Sabtu biasa.
Ia membawa satu tas pakaian dan sekotak lumpia dari Semarang.
“Melati sama Naya?”
“Naya ada lomba sekolah. Melati menemani.”
“Terus kamu ke sini?”
“Iya.”
“Kenapa?”
Ia mengangkat bahu.
“Mau ketemu Bapak sama Ibu.”
Sederhana.
Tetapi Nurhayati masuk ke dapur dan menangis diam-diam selama lima menit.
Saya pura-pura tidak melihat.
Malam itu Fajar membantu saya menutup bengkel.
Sebelum tidur, ia berdiri di teras.
“Pak.”
“Hm?”
“Saya minta maaf.”
“Sudah pernah.”
“Belum benar.”
Saya menatapnya.
Ia menarik napas.
“Saya selama ini pikir Bapak dan Ibu pasti ada.”
“Jadi saya merasa bisa menunda.”
“Lebaran tahun depan.”
“Bulan depan.”
“Nanti kalau pekerjaan longgar.”
“Nanti kalau Naya libur.”
“Nanti.”
Ia menatap halaman.
“Pas rumah itu sudah bukan rumah kita, baru saya sadar semua ‘nanti’ itu ternyata bisa habis.”
Saya tidak menjawab.
Fajar melanjutkan.
“Saya juga salah soal uang.”
“Saya terlalu terbiasa dibantu.”
“Sampai lupa bantuan itu bukan kewajiban.”
Saya menepuk bahunya.
“Kalau sudah tahu, cukup.”
“Bapak tidak mau marah?”
“Capek.”
Ia tertawa kecil.
Saya juga.
Lebaran berikutnya datang.
Tiga minggu sebelum Idulfitri, Fajar menelepon.
“Pak.”
“Ya?”
“Tahun ini bagaimana kalau malam takbiran kami ke Batu?”
Saya tidak langsung menjawab.
“Orang tua Melati?”
“Tahun ini kami ke mereka hari kedua.”
“Sudah sepakat?”
“Sudah.”
“Tidak ribut?”
Fajar tertawa.
“Sempat.”
“Terus?”
“Saya bilang enam tahun saya selalu ikut keputusan dia. Sekarang giliran kami belajar adil.”
Saya melirik Nurhayati yang sedang memotong daun bawang.
Ia mendengar.
Tangannya berhenti.
Matanya mulai berkaca-kaca.
Saya bertanya,
“Jam berapa sampai?”
“Sore.”
“Yakin?”
“Yakin.”
“Jangan buat ibumu masak terlalu banyak lalu batal.”
Dari belakang, suara Melati terdengar.
“Tidak batal, Pak!”
Saya tertawa.
Malam takbiran tahun itu rumah kecil kami di Batu terasa sempit.
Ada koper di ruang tengah.
Sandal berserakan.
Naya berlari dari dapur ke halaman.
Nurhayati berkali-kali menyuruh semua orang mencicipi masakannya.
Melati membantu mencuci piring.
Saya dan Fajar memasang lampu di teras.
Tidak ada rumah besar.
Tidak ada furnitur mahal.
Tidak ada sertifikat yang sedang dibicarakan.
Dan anehnya, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, rasanya benar-benar seperti rumah.
Sesudah makan, Fajar mendekati saya.
Ia menyerahkan sebuah amplop.
Saya mengerutkan kening.
“Apa?”
“Buka.”
Di dalamnya ada bukti transfer.
Tiga juta rupiah.
Saya menatapnya.
“Untuk apa?”
Fajar tersenyum canggung.
“Empat tahun Bapak kirim jumlah itu ke saya setiap bulan.”
“Saya tidak mungkin mengembalikan semuanya sekarang.”
“Tapi mulai bulan ini saya mau transfer tiga juta setiap bulan ke rekening Bapak dan Ibu.”
Saya langsung menyodorkan amplop itu kembali.
“Tidak perlu.”
“Saya tahu.”
“Lalu?”
“Bukan membayar utang.”
Ia menatap saya.
“Saya cuma ingin mulai belajar memberi sebelum diminta.”
Saya terdiam.
Nurhayati yang berdiri beberapa langkah dari kami langsung memalingkan wajah.
Ia menangis lagi.
Perempuan itu memang gampang menangis.
Saya menghela napas.
“Kalau begitu jangan transfer tiga juta.”
Fajar langsung bingung.
“Kenapa?”
“Simpan untuk pendidikan Naya.”
“Terus saya harus bagaimana?”
Saya menunjuk meja makan.
“Tahun depan datang lagi.”
Ia tertawa.
“Cuma itu?”
“Dan telepon ibumu.”
“Berapa kali?”
“Jangan tanya saya.”
Dari dapur Nurhayati berteriak,
“Seminggu sekali!”
Kami semua tertawa.
Saya tidak pernah mendapatkan kembali enam Lebaran yang hilang.
Nurhayati juga tidak.
Ada luka yang tidak perlu dihapus supaya hubungan bisa diperbaiki.
Cukup diakui.
Rumah lama kami tetap menjadi milik orang lain.
Kami tidak membelinya kembali.
Tidak ada alasan.
Beberapa bulan kemudian saya melihat foto renovasinya dari mantan tetangga.
Dinding ruang tamu dicat putih.
Kamar Fajar sudah berubah menjadi ruang kerja.
Goresan tinggi badannya di kusen mungkin sudah tertutup cat.
Aneh.
Saya tidak sedih.
Karena saya akhirnya memahami sesuatu.
Rumah bukan dinding yang wajib dipertahankan supaya anak-anak selalu punya tempat untuk kembali.
Rumah adalah hubungan yang harus dijaga oleh semua orang yang ingin tetap menjadi bagian di dalamnya.
Orang tua boleh membuka pintu.
Tetapi anak juga harus memilih untuk masuk.
Dan sejak hari kami menyerahkan kunci terakhir rumah Semarang kepada orang lain, saya tidak pernah lagi menunggu siapa pun di balik pintu dengan perasaan takut dilupakan.
Saya hidup.
Nurhayati hidup.
Rina tetap datang karena ingin datang.
Fajar perlahan belajar pulang karena ingin pulang.
Bukan karena membutuhkan uang.
Bukan karena membutuhkan dokumen.
Bukan karena ada aset yang ingin dipakai.
Pada Lebaran berikutnya, ketika saya membuka pintu menjelang magrib dan melihat mobil Fajar berhenti di depan rumah, Naya turun paling dulu.
Ia berlari sambil membawa tas kecil.
“Kung! Tahun ini Naya tidur tiga malam di sini!”
Saya tertawa.
“Siapa yang izinkan?”
“Uti!”
Nurhayati muncul dari belakang saya.
“Sudah, jangan ganggu cucuku.”
Fajar turun dari mobil dan tersenyum.
Di belakangnya Melati membawa dua kotak makanan.
Ia menatap saya sedikit canggung.
“Pak, kami bawa semur dari Mama.”
Saya menerima kotaknya.
“Masuk.”
Hanya satu kata.
Tidak ada pidato.
Tidak ada perhitungan.
Tidak perlu.
Karena beberapa hubungan tidak sembuh dengan satu permintaan maaf besar.
Mereka sembuh melalui banyak tindakan kecil yang terus diulang.
Telepon tanpa permintaan.
Kunjungan tanpa kepentingan.
Lebaran yang dibagi dengan adil.
Pertanyaan sederhana tentang kesehatan.
Dan keberanian untuk memahami bahwa orang tua bukan perabot rumah yang akan selalu berada di tempat yang sama ketika anak akhirnya punya waktu.
Malam itu kami makan berlima.
Nurhayati terus menambah lauk ke piring Naya.
Melati bercerita tentang kateringnya yang sekarang justru lebih stabil setelah batal menyewa ruko terlalu besar.
Fajar membantu saya membawa gelas ke dapur.
Sebelum tidur ia berdiri di dekat pintu dan berkata,
“Untung Bapak dulu jual rumah itu.”
Saya menoleh.
“Kenapa?”
“Kalau tidak…”
Ia tersenyum getir.
“Mungkin saya masih merasa Bapak dan Ibu akan selalu menunggu.”
Saya mengangguk.
Kadang kehilangan sesuatu memang diperlukan agar seseorang memahami nilainya.
Tetapi saya tidak menjual rumah untuk mengajari Fajar pelajaran.
Saya menjualnya untuk menyelamatkan sisa hidup saya dan istri dari penantian yang tidak perlu.
Pelajaran itu hanya akibat sampingan.
Saya berjalan ke teras.
Udara Batu dingin malam itu.
Dari masjid terdengar takbir.
Lampu rumah-rumah di lereng bukit tampak seperti titik kuning kecil.
Di dalam rumah, cucu saya tertawa bersama neneknya.
Fajar sedang membantu Melati menata kasur.
Rina dan keluarganya akan datang esok pagi.
Saya berdiri cukup lama.
Lalu saya sadar—
Enam tahun lalu saya selalu berpikir kebahagiaan Lebaran bergantung pada siapa yang datang ke rumah kami.
Sekarang saya tahu tidak.
Kebahagiaan dimulai ketika seseorang berhenti menggantungkan harga dirinya pada orang yang terus menunda kehadiran.
Kami tidak kehilangan anak.
Kami hanya berhenti mengejarnya.
Dan setelah kami berhenti mengejar…
Akhirnya dialah yang belajar jalan pulang.

