Ketika Gerbang Pabrik Ditutup, Rahasia Ruang Pendingin Terbongkar dan Saya Menyadari Raka Selama Ini Diam-Diam Melindungi Banyak Orang

Avatar penulis
Cerita 05
6 menit baca 43 tayangan
Indeks

BAGIAN 2 – Ketika Gerbang Pabrik Ditutup, Rahasia Ruang Pendingin Terbongkar dan Saya Menyadari Raka Selama Ini Diam-Diam Melindungi Banyak Orang

Pria berhelm itu masih berhenti di ujung gang.

Ia tidak mendekat. Tidak pula mengatakan apa pun. Namun cara kepalanya terus mengarah kepada kami membuat saya mengerti bahwa kehadirannya bukan kebetulan.

Raka menarik lengan saya.

—Jangan berdiri di sini. Kita kembali ke klinik.

Kami membawa perempuan dan anak tadi masuk ke bangunan klinik kecil. Pintu segera dikunci.

Saya kembali menelepon kepala sif.

—Bagaimana truknya?

Suara di seberang terdengar panik.

—Masih di dalam, Pak. Gerbang sudah ditutup. Sopirnya marah dan meminta kami membukanya.

—Jangan sentuh muatannya. Jangan buka kontainernya. Hubungi bagian keamanan dan hentikan seluruh aktivitas keluar-masuk sampai saya tiba.

—Baik, Pak.

Saya menutup telepon.

Ketika menoleh, Raka sedang berdiri di dekat jendela.

—Sekarang ceritakan semuanya.

Ia diam beberapa detik.

Kemudian ia mengeluarkan ponsel lamanya.

—Tiga minggu lalu, saya mendengar suara mesin kompresor dari balik dinding ruang pendingin nomor empat.

—Memangnya kenapa?

—Menurut denah teknis, di balik dinding itu seharusnya hanya ada lorong servis.

Raka mengenal ruang pendingin lebih baik daripada hampir semua orang di pabrik. Ia hafal suara mesin, posisi sensor, bahkan perubahan kecil pada konsumsi listrik.

Karena penasaran, suatu malam ia memeriksa bagian belakang gudang.

Di sana ia menemukan sebuah pintu logam sempit yang tertutup rak plastik.

Pintu itu menuju sebuah ruangan kecil.

Dingin.

Bersih.

Dan tidak tercatat dalam denah operasional yang selama ini kami gunakan.

—Apa yang ada di dalamnya?

Raka membuka beberapa foto di ponselnya.

Saya mendekat.

Puluhan kardus putih tersusun rapi.

Tidak ada logo perusahaan.

Tidak ada nomor produksi resmi.

Namun beberapa kardus memiliki label yang menyerupai label produk kami.

Jantung saya berdegup lebih cepat.

—Apa ini?

—Saya awalnya juga tidak tahu.

Raka lalu menunjukkan foto lain.

Sebuah label produk.

Tanggal produksi pada label itu menunjukkan barang dibuat dua hari sebelumnya.

Namun Raka menjelaskan sesuatu yang membuat saya merinding.

—Pada tanggal itu lini produksi yang tercantum di label sedang berhenti untuk perawatan.

Artinya barang tersebut mustahil diproduksi secara resmi di pabrik kami.

Saya langsung memahami masalahnya.

Seseorang menggunakan nama perusahaan.

Tetapi untuk apa?

Raka menggeser layar.

Foto berikutnya memperlihatkan beberapa kemasan produk makanan dengan label yang tampak resmi.

—Saya mengambil satu kemasan dan membawanya ke klinik.

Perempuan paruh baya tadi mengangguk.

Ternyata ia bukan sekadar warga sekitar. Namanya Bu Sari dan ia membantu mengelola klinik bersama seorang tenaga kesehatan.

Mereka tidak memiliki laboratorium lengkap, tetapi seseorang yang bekerja di bidang pengujian pangan membantu memeriksa sampel melalui jalur resmi di luar pabrik.

Hasil awal menunjukkan komposisinya tidak sesuai dengan produk perusahaan.

Bukan berarti seluruh isinya berbahaya, tetapi barang itu jelas tidak memenuhi spesifikasi yang tercantum pada kemasan.

Saya merasa tengkuk saya dingin.

Jika produk semacam itu sampai masuk ke supermarket menggunakan nama perusahaan kami, akibatnya bisa sangat besar.

—Kenapa kamu tidak langsung memberi tahu saya?

Raka menatap saya.

—Saya ingin.

—Lalu?

—Dua hari setelah saya menemukan ruangan itu, seseorang menyelipkan foto rumah ibu saya di loker.

Saya terdiam.

Raka melanjutkan dengan suara rendah.

—Di belakang foto hanya ada tulisan: “Kerjakan pekerjaanmu sendiri.”

Sekarang saya akhirnya mengerti.

Itulah alasan sebenarnya Raka memilih diam.

Bukan karena takut kehilangan pekerjaan.

Ia takut keluarganya terseret.

—Kenapa kamu masih terus menyelidikinya?

Raka tersenyum tipis.

—Karena kalau saya berhenti, barang-barang itu mungkin sampai ke keluarga lain.

Kalimat itu terasa seperti tamparan.

Beberapa jam sebelumnya saya menyebutnya karyawan yang tidak disiplin.

Sekarang saya mengetahui ia mempertaruhkan pekerjaannya karena berusaha mencegah sesuatu yang bahkan tidak saya sadari terjadi di bawah pengawasan saya.

Saya menarik napas panjang.

—Kita kembali ke pabrik.

Raka menggeleng.

—Bapak sebaiknya pergi sendiri.

—Tidak.

—Saya sudah bukan karyawan di sana.

Saya menatapnya.

—Soal itu akan kita bicarakan nanti. Sekarang saya membutuhkan orang yang tahu di mana ruangan itu berada.

Ketika kami keluar dari klinik, pria bermotor tadi sudah menghilang.

Perjalanan menuju pabrik terasa sangat panjang.

Saat mobil memasuki halaman, saya melihat truk kontainer masih berhenti beberapa meter dari gerbang.

Sopirnya berdiri sambil berdebat dengan petugas keamanan.

Begitu melihat Raka turun dari mobil saya, wajah kepala gudang berubah.

Perubahan kecil itu tidak luput dari perhatian Raka.

Ia berbisik:

—Jangan percaya siapa pun dulu.

Saya segera menghubungi pimpinan perusahaan dan bagian kepatuhan. Saya juga meminta pihak berwenang yang menangani keamanan pangan datang untuk memeriksa barang secara resmi.

Tidak ada seorang pun diperbolehkan membuka kontainer sebelum mereka tiba.

Sambil menunggu, Raka membawa saya ke ruang pendingin nomor empat.

Kami memindahkan rak plastik.

Di baliknya memang ada sebuah pintu sempit.

Saya sudah bekerja di gedung itu selama dua belas tahun.

Namun saya tidak pernah tahu pintu itu ada.

Kunci elektroniknya masih menyala.

Raka menunjuk panel kecil di samping pintu.

—Mereka sudah mengosongkannya pagi ini.

Ketika petugas berwenang akhirnya datang, pintu dibuka dengan prosedur resmi.

Ruangan itu hampir kosong.

Hanya ada rak logam dan beberapa potongan label di lantai.

Tetapi satu hal tertinggal.

Sebuah kotak kecil terselip di bawah rak paling belakang.

Di dalamnya terdapat gulungan label kemasan, nomor batch, dan stiker yang meniru kode inspeksi perusahaan.

Pemeriksaan kemudian beralih ke truk.

Pintu kontainer dibuka.

Semua orang terdiam.

Di dalamnya ada puluhan kardus dengan kemasan yang tampak hampir sama dengan produk resmi kami.

Namun nomor batch tidak cocok dengan database.

Petugas langsung menghentikan pengiriman.

Sopir diminta memberikan keterangan.

Beberapa orang di bagian gudang juga dipisahkan untuk diperiksa.

Saya pikir semuanya sudah selesai.

Ternyata belum.

Seorang petugas memanggil saya.

—Pak, kami menemukan sesuatu di sistem akses.

—Apa?

Ia menunjukkan daftar penggunaan kartu elektronik untuk pintu rahasia tersebut.

Ada beberapa nama.

Dua berasal dari bagian gudang.

Satu dari bagian pengadaan.

Tetapi nama terakhir membuat saya tidak mampu berbicara selama beberapa detik.

Itu milik seseorang yang setiap minggu duduk bersama saya dalam rapat manajemen.

Seseorang yang memiliki akses hampir ke seluruh sistem operasional.

Dan pagi tadi, orang itulah yang berdiri di kantor saya ketika saya menandatangani surat pemecatan Raka.

Saya menoleh kepada Raka.

—Kamu sudah tahu?

Raka menggeleng.

Lalu ponselnya bergetar.

Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal.

Hanya satu kalimat:

“Kalau ingin ibumu tetap aman, jangan serahkan rekaman yang kamu simpan.”

Saya menatap layar.

—Rekaman apa?

Wajah Raka berubah.

Ia memasukkan tangan ke saku jaket dan mengeluarkan sebuah kartu memori kecil.

—Ini alasan sebenarnya mereka mengikuti saya.

Ia menatap pintu ruang pendingin yang terbuka.

—Karena di dalam kartu ini ada rekaman yang menunjukkan siapa orang pertama yang memerintahkan ruangan itu dibangun.

Dan ketika Raka menyebutkan kapan rekaman itu dibuat, saya menyadari satu hal yang jauh lebih buruk.

Orang tersebut mungkin masih berada di dalam pabrik bersama kami.

(Lanjutkan ke BAGIAN 3….)