LONCENG DARI LANTAI ATAS MEMBUKA RAHASIA LAMA, SEMENTARA KESAKSIAN ADIT MEMBUAT ORANG-ORANG DI RUMAH UTAMA SALING MENCURIGAI

Avatar penulis
Cerita 05
6 menit baca 3 tayangan
Indeks

BAGIAN 2 — LONCENG DARI LANTAI ATAS MEMBUKA RAHASIA LAMA, SEMENTARA KESAKSIAN ADIT MEMBUAT ORANG-ORANG DI RUMAH UTAMA SALING MENCURIGAI

—Mama masih ada di sini.

Bisikan Adit membuat udara di ruangan itu seolah membeku.

Tak seorang pun bergerak.

Pria yang baru pulang itu—ayah Adit—menatap putranya dengan wajah yang sulit kubaca.

—Adit, apa maksudmu?

Namun Adit tidak menjawab.

Matanya terus terpaku pada tangga gelap.

Ting…

Ting…

Lonceng kembali berbunyi.

Kali ini lebih jelas.

Aku melihat pengelola rumah yang tadi ditunjuk Adit mundur selangkah.

Wajahnya pucat.

Ayah Adit menyadarinya.

—Bu Ratna.

Perempuan itu tersentak.

—Tuan…

—Apa yang sebenarnya terjadi di rumah ini?

—Saya tidak tahu. Mungkin angin.

Aku menatap jendela.

Semuanya tertutup.

—Tidak ada angin.

Bu Ratna menatapku tajam.

—Kau baru dua hari di sini. Jangan ikut campur urusan keluarga.

Aku hendak menjawab, tetapi Adit tiba-tiba menarik bajuku.

—Kak…

Tangannya dingin.

—Temani aku ke atas.

Ayahnya langsung melangkah maju.

—Aku ikut.

Adit justru mundur.

—Tidak.

Satu kata itu membuat pria tersebut berhenti.

Aku melihat sesuatu yang menyakitkan melintas di matanya.

Seorang ayah yang anaknya lebih memilih berlindung di belakang orang asing.

Aku berjongkok.

—Adit, kalau kita naik, Ayah ikut. Kita tidak tahu ada apa di atas.

Bocah itu diam cukup lama sebelum akhirnya mengangguk.

Kami bertiga menaiki tangga.

Bu Ratna hendak mengikuti.

Ayah Adit menoleh.

—Tunggu di bawah.

Nada suaranya tidak memberi ruang untuk membantah.

Di lantai dua hanya ada lorong sempit dengan tiga pintu.

Dua pintu pertama kosong.

Pintu terakhir terkunci.

Dan suara lonceng berasal dari balik sana.

Ting…

Ting…

Aku mendekat.

Barulah aku menyadari ada seutas tali tipis keluar dari celah bawah pintu.

Tali itu bergerak.

Bukan hantu.

Seseorang menariknya.

Ayah Adit menendang pintu.

Sekali.

Dua kali.

Pada tendangan ketiga, kuncinya patah.

Pintu terbuka.

Aku refleks memeluk Adit.

Namun di dalam tidak ada siapa-siapa.

Hanya sebuah ruangan kecil berdebu.

Di sudut ruangan tergantung lonceng kuningan yang terhubung dengan tali.

Tali itu memanjang ke balik sebuah lemari.

Kami menggeser lemari tersebut.

Di belakangnya terdapat lubang kecil di dinding.

Tali menembus ke sana.

Ayah Adit mengambil senter dan menemukan sesuatu.

Sebuah lorong servis tua.

Cukup sempit, tetapi seseorang masih bisa merangkak melewatinya.

—Rumah ini dulunya milik kakekku —katanya pelan.—Ada beberapa jalur servis yang dibuat untuk pekerja. Aku kira semuanya sudah ditutup.

Adit tiba-tiba berkata,

—Mama tahu jalannya.

Ayahnya berbalik.

—Bagaimana kau tahu?

—Mama pernah mengajakku bermain petak umpet.

Kami mengikuti lorong itu.

Sekitar sepuluh meter kemudian, kami menemukan tangga sempit menuju lantai bawah.

Ujungnya terbuka ke sebuah gudang kecil di belakang rumah.

Di sana, tidak ada ibu Adit.

Tetapi ada seseorang.

Seorang pria tua.

Ia terbaring di lantai dengan kaki terluka.

Di sampingnya terdapat tas dan botol air.

Ayah Adit mengenalinya.

—Pak Hasan?

Pria tua itu membuka mata.

—Tuan…

Belakangan aku mengetahui Pak Hasan pernah menjadi tukang kebun keluarga itu selama puluhan tahun.

Ia pensiun dua tahun sebelumnya.

—Kenapa Anda berada di sini?

Pak Hasan mencoba duduk.

—Saya datang karena janji.

—Janji kepada siapa?

Pria tua itu memandang Adit.

—Ibunya.

Ruangan kembali sunyi.

Pak Hasan kemudian menceritakan semuanya.

Tiga tahun lalu, ibu Adit mulai curiga seseorang diam-diam mencampurkan obat penenang ke minumannya.

Setelah melahirkan, ia memang mengalami insomnia dan pernah mendapatkan obat dari dokter.

Karena itu, ketika kondisinya semakin lemah, semua orang menganggapnya sakit.

Tetapi ia merasa ada yang tidak beres.

Ia meminta Pak Hasan menyimpan beberapa barang dan berjanji kembali ke rumah belakang setiap tahun pada tanggal tertentu untuk memeriksa tempat persembunyian itu.

Malam ini adalah tanggal tersebut.

Pak Hasan masuk melalui pintu servis.

Namun kakinya terpeleset.

Karena ponselnya rusak terkena hujan, satu-satunya cara meminta pertolongan adalah menarik tali lonceng.

—Lalu malam ketika istri saya menghilang?

Ayah Adit bertanya.

Pak Hasan memandang ke lantai.

—Saya tidak melihat langsung. Tapi sehari sebelumnya, Nyonya mengatakan kalau sesuatu terjadi, jangan percaya pada cerita bahwa dia pergi atas kemauan sendiri.

Dari bawah terdengar suara pintu dibanting.

Aku tersentak.

Ayah Adit langsung berlari turun.

Bu Ratna sudah tidak ada.

Mobilnya juga menghilang.

Namun ia meninggalkan tas.

Di dalam tas itu, kami menemukan dua ponsel.

Salah satunya bukan miliknya.

Ayah Adit menyalakan perangkat tersebut.

Ada puluhan rekaman suara lama.

Salah satunya diberi tanggal tiga tahun lalu.

Suara perempuan terdengar.

“Aku tidak mau menandatangani apa pun.”

Kemudian suara Bu Ratna.

“Nyonya, jangan mempersulit keadaan.”

“Aku ingin bertemu suamiku.”

“Dia sedang di luar negeri.”

“Aku akan menunggu.”

Lalu terdengar suara laki-laki yang tidak kukenal.

“Kalau begitu tambah dosisnya.”

Rekaman berhenti.

Ayah Adit berdiri tanpa bergerak.

Tangannya gemetar.

Ia menelepon polisi.

Malam itu juga, seluruh rumah diperiksa.

Dan menjelang subuh, polisi menemukan satu petunjuk penting dari ponsel tersebut.

Transfer rutin ke sebuah fasilitas perawatan swasta di wilayah lain.

Nama pasien disamarkan.

Namun pembayaran pertama dilakukan tepat tiga hari setelah ibu Adit dinyatakan menghilang.

Ayah Adit langsung meminta alamatnya.

Sebelum pergi, ia menghampiriku.

—Tolong jaga Adit.

Namun bocah itu mendengar.

—Aku ikut.

—Tidak.

Adit mulai menangis.

Bukan tangisan keras.

Air matanya hanya jatuh satu per satu.

—Kalau Mama benar-benar ada di sana, aku mau Mama melihatku dulu.

Ayahnya terdiam.

Aku memegang bahu Adit.

Akhirnya kami pergi bersama polisi.

Perjalanan hampir tiga jam.

Saat matahari terbit, mobil berhenti di depan sebuah bangunan perawatan yang terpencil.

Polisi masuk lebih dahulu.

Sekitar dua puluh menit kemudian, seorang petugas keluar.

Wajahnya serius.

—Kami menemukan pasien yang sesuai dengan foto.

Adit langsung berdiri.

Ayahnya pucat.

—Apakah dia…

Petugas mengangguk.

—Dia masih hidup.

Aku menutup mulut.

Adit berlari menuju pintu.

Kami mengikutinya sampai ke sebuah kamar di ujung lorong.

Di atas ranjang duduk seorang perempuan sangat kurus dengan rambut panjang yang sudah dipotong pendek.

Ia menatap jendela.

Pintu terbuka.

Adit berhenti.

—Mama?

Perempuan itu tidak bergerak.

Adit maju selangkah.

—Mama… ini Adit.

Perlahan, perempuan itu menoleh.

Matanya kosong selama beberapa detik.

Lalu tatapannya jatuh pada dinosaurus kecil yang selalu dibawa Adit.

Bibirnya bergetar.

—A…dit?

Anak itu menangis dan berlari ke arahnya.

Namun tepat sebelum memeluk ibunya, perempuan tersebut tiba-tiba melihat ayah Adit di belakang kami.

Wajahnya berubah ketakutan.

Ia mundur sampai punggungnya menempel pada dinding.

—Jangan dekat-dekat!

Ayah Adit membeku.

—Ini aku.

—Jangan!

Perempuan itu menutup telinga.

—Kalian semua berbohong!

Kemudian ia menunjuk suaminya dengan tangan gemetar.

—Kau juga ada dalam rekaman itu!

Semua orang menoleh kepadanya.

Dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, wajah pria itu benar-benar kehilangan warna.

(Lanjutkan ke BAGIAN 3….)