RAHASIA DUA PULUH ENAM TAHUN TERBONGKAR, DAN SATU NAMA DALAM BUKU NENEK MENGUBAH NASIBKU SERTA MEMBUKA KEBOHONGAN KELUARGAKU

Avatar penulis
Cerita 05
6 menit baca 6 tayangan
Indeks

BAGIAN 2 — RAHASIA DUA PULUH ENAM TAHUN TERBONGKAR, DAN SATU NAMA DALAM BUKU NENEK MENGUBAH NASIBKU SERTA MEMBUKA KEBOHONGAN KELUARGAKU

—Kalau begitu… siapa perempuan yang sedang berdiri di depan saya ini?

Pertanyaan pria tua itu membuat seluruh sanggar membeku.

Aku masih menggenggam foto lama di tanganku.

Ibu berdiri beberapa meter dariku. Wajahnya pucat, bibirnya gemetar.

—Ini salah paham.

Pria tua itu menatapnya.

—Salah paham selama dua puluh enam tahun?

Ayah tiba-tiba maju.

—Tolong jangan membuat keributan di sini.

Pria tua itu bahkan tidak melihatnya.

Dia justru memandangku lama, seolah sedang mencari sesuatu di wajahku.

Kemudian matanya memerah.

—Matamu persis seperti ayahmu.

Dadaku terasa sesak.

—Siapa Anda?

Dia menarik napas panjang.

—Aku kakak kandung ayahmu.

Tanganku langsung membeku.

Berarti pria di hadapanku adalah pamanku.

Aku menoleh kepada Ibu.

—Jelaskan.

Ibu menggeleng.

—Tidak ada yang perlu dijelaskan.

Tetangga tua di sampingku tiba-tiba membuka buku bersampul kain milik Nenek.

—Kalau kau tidak mau menjelaskan, biarkan orang yang sudah meninggal menjelaskannya.

Dia menyerahkan buku itu kepadaku.

Beberapa halaman pertama berisi catatan produksi batik.

Namun setelah pertengahan buku, isinya berubah.

Nama Ibu muncul berkali-kali.

Dua puluh enam tahun lalu, Ibu ternyata bekerja di sanggar milik Nenek.

Saat itu dia memiliki hubungan dengan seorang pemuda dari keluarga pengusaha tekstil.

Pemuda itulah ayah kandungku.

Mereka berencana menikah.

Namun sebelum pernikahan terlaksana, ayah kandungku mengalami kecelakaan dalam perjalanan pulang dari luar kota.

Dia meninggal.

Saat itu Ibu sedang mengandungku.

Keluarga ayah kandungku datang mencarinya.

Namun Ibu mengatakan bayinya tidak berhasil diselamatkan.

—Kenapa?

Suaraku nyaris tidak terdengar.

Pria tua itu menjawab pelan.

—Kami juga baru mengetahui alasannya bertahun-tahun kemudian.

Aku menatap Ibu.

Dia akhirnya berteriak.

—Karena aku tidak mau menyerahkanmu!

Aku terdiam.

Untuk pertama kalinya, kemarahan di wajahnya bercampur ketakutan.

—Keluarga mereka kaya. Mereka ingin membawa anak itu pergi. Aku masih muda. Aku tidak punya apa-apa!

Pria tua itu menggeleng.

—Tidak pernah ada yang ingin mengambil anakmu.

Dia memberi isyarat kepada pengacara.

Pengacara membuka sebuah map.

—Ini salinan surat yang dikirim ayah klien kami sebelum kecelakaan. Di dalamnya dinyatakan bahwa setelah anak itu lahir, beliau ingin membangun keluarga bersama ibunya. Jika sesuatu terjadi kepadanya, sebagian kepemilikannya di perusahaan tekstil akan diwariskan kepada anak tersebut.

Aku menatap dokumen itu.

Barulah aku memahami semuanya.

Bukan hanya tentang seorang ibu yang takut kehilangan anak.

Ada warisan.

Ada saham.

Ada uang.

Tetangga tua itu berkata lirih,

—Ibumu kemudian menikah dengan pria yang selama ini kau panggil Ayah.

Aku menoleh kepada pria itu.

Dia tidak berani menatapku.

—Anda tahu?

Dia diam.

Itu sudah menjadi jawaban.

Aku tertawa kecil.

Ternyata selama bertahun-tahun aku hidup di rumah itu sebagai anak yang selalu diminta mengalah, sementara mereka mengetahui aku bukan anak kandung pria tersebut.

Lebih ironis lagi, harta peninggalan ayah kandungku disembunyikan dariku.

Aku membuka halaman terakhir buku Nenek.

Di sana tertulis bahwa Nenek akhirnya mengetahui rahasia itu ketika aku berusia tujuh belas tahun.

Beliau mencoba menghubungi keluarga ayah kandungku.

Namun sebelum semuanya selesai, kesehatannya memburuk.

Karena takut aku akan kehilangan tempat tinggal, Nenek mengalihkan sanggar sepenuhnya atas namaku.

Sanggar itu bukan sekadar warisan.

Itu perlindungan terakhir yang beliau tinggalkan.

Aku menutup buku.

—Jadi setelah Nenek meninggal, kalian mencoba mengambil satu-satunya benda yang beliau tinggalkan untuk melindungiku?

Ibu tidak menjawab.

Adikku tiba-tiba menyela.

—Kak, aku tidak tahu soal semua itu!

Aku memandangnya.

—Tapi kau tahu tanda tanganku dipalsukan.

Wajahnya langsung berubah.

—Aku…

—Kau juga tahu sanggar ini akan dijual untuk membayar utangmu.

Dia terdiam.

Aku mengangkat ponsel.

—Aku sudah mengirim foto dokumen itu kepada pengacaraku.

Ibu langsung menatapku.

—Pengacara?

Aku tersenyum tipis.

—Ibu benar-benar mengira selama enam tahun ini aku hanya menjadi penjual kain kecil?

Enam tahun memang tidak menjadikanku kaya.

Namun cukup untuk membuatku belajar bahwa seseorang yang pernah kehilangan segalanya harus tahu cara melindungi apa yang dimilikinya.

Toko kecilku kini bekerja sama dengan puluhan perajin.

Beberapa desain batikku bahkan dijual melalui galeri di beberapa kota.

Aku tidak membutuhkan harta keluarga ini untuk hidup.

Namun bukan berarti mereka boleh mengambil milikku.

Pria yang hendak membeli sanggar mendengar keributan lalu mencoba pergi.

Pengacara pamanku langsung menghentikannya.

—Maaf, transaksi apa pun atas properti ini harus dihentikan sampai status kepemilikannya diperiksa.

Wajah adikku berubah pucat.

—Kalau sanggar tidak dijual, bagaimana dengan utangku?

Aku menatapnya.

—Itu utangmu.

—Kenapa kau bertanya kepadaku?

Ibu langsung memegang lenganku.

—Dia adikmu!

Aku perlahan melepaskan tangannya.

—Kalimat itu sudah Ibu gunakan terlalu lama.

—Aku pernah kehilangan sekolah, uang, kamar, bahkan rumah karena kalimat itu.

Aku menatap matanya.

—Mulai hari ini, utangnya adalah tanggung jawabnya sendiri.

Adikku terduduk di kursi.

Untuk pertama kalinya, tidak ada seorang pun yang bisa memaksaku menyelamatkannya.

Pamanku kemudian berjalan mendekat.

Dia tidak mencoba memelukku.

Tidak juga memintaku langsung memanggilnya keluarga.

Dia hanya menyerahkan sebuah kartu nama.

—Aku tahu dua puluh enam tahun tidak bisa diperbaiki dalam satu hari.

Aku menerimanya.

—Lalu?

—Kalau suatu hari kau ingin mengetahui seperti apa ayahmu, datanglah.

Dia tersenyum getir.

—Aku masih menyimpan kamera lamanya, buku sketsanya, dan beberapa kain yang dia desain sendiri.

Aku menunduk melihat kartu itu.

Entah kenapa, justru kalimat sederhana itu membuat mataku panas.

Bukan saham.

Bukan uang.

Aku ingin tahu siapa pria yang mewariskan separuh darahnya kepadaku.

Tepat saat itu, suara gaduh terdengar dari luar.

Dua petugas datang bersama seseorang yang kukenal.

Pengacaraku.

Dia berjalan masuk dan menunjukkan dokumen kepada Ibu.

—Kami menerima bukti awal mengenai dugaan pemalsuan tanda tangan dan pengalihan kepemilikan tanpa persetujuan pemilik sah.

Wajah Ibu berubah drastis.

—Niệm, kau melaporkan Ibu?

Aku memandang perempuan yang melahirkanku.

Anehnya, aku tidak merasa senang melihat ketakutannya.

Aku hanya merasa lelah.

—Tidak.

Aku menggeleng.

—Aku hanya berhenti menanggung akibat dari pilihan kalian.

Aku lalu mengambil kembali kotak kayu milik Nenek.

Saat hendak keluar, pamanku memanggilku.

—Tunggu.

Aku menoleh.

Dia memandang buku tua dalam pelukanku.

—Masih ada satu halaman yang belum kau baca.

Aku membuka bagian paling belakang.

Di sana terdapat sebuah kalimat pendek dari Nenek.

“Kalau suatu hari kau menemukan keluargamu yang sebenarnya, jangan tanyakan siapa yang memiliki darah yang sama denganmu. Tanyakan siapa yang tetap berdiri di sampingmu ketika kau tidak memiliki apa-apa.”

Aku membaca kalimat itu dua kali.

Lalu tanpa sadar tersenyum.

Karena tiba-tiba aku tahu jawabannya.

Dan jawabannya bukan siapa pun yang berada di dalam sanggar itu.

(Lanjutkan ke BAGIAN 3….)