Saat Semua Kamera Mendadak Mati, Sebuah Rekaman Cadangan Membongkar Pengkhianatan Arman dan Orang yang Selama Ini Paling Dipercaya Bima

Avatar penulis
Cerita 05
6 menit baca 175 tayangan
Indeks

BAGIAN 2 – Saat Semua Kamera Mendadak Mati, Sebuah Rekaman Cadangan Membongkar Pengkhianatan Arman dan Orang yang Selama Ini Paling Dipercaya Bima

Ruangan itu mendadak begitu sunyi hingga suara pecahan gelas yang bergeser di bawah sepatuku terdengar jelas.

Semua layar berubah hitam.

Bima berdiri tanpa bergerak, menatap monitor seolah berharap gambar itu akan muncul kembali.

Aku justru masih memikirkan wajah orang kedua dalam rekaman tadi.

Pak Harun.

Manajer tempat produksi.

Lelaki yang sejak hari pertama bekerja selalu terlihat tenang, sopan, dan dipercaya penuh oleh Bima. Lelaki yang pernah menatap buku catatanku lalu menyuruhku agar tidak ikut campur dalam urusan yang bukan tanggung jawabku.

Jantungku berdegup semakin cepat.

Pak Harun masih berada di ruangan bersama kami.

Wajahnya terlihat tegang, tetapi dia segera berdiri.

—Sepertinya ada gangguan server. Saya akan memeriksa ruang sistem.

Bima menghalangi jalannya.

—Duduk.

Hanya satu kata.

Namun nada suaranya membuat semua orang membeku.

Pak Harun mencoba tersenyum.

—Pak Bima, semakin lama sistem mati, semakin banyak data yang bisa hilang.

—Saya bilang duduk.

Kali ini Pak Harun tidak bergerak.

Bima menoleh kepada petugas keamanan.

—Kunci semua pintu keluar. Jangan biarkan siapa pun meninggalkan tempat ini sampai tim keamanan pusat datang.

Wajah Pak Harun langsung berubah.

—Apa maksud Bapak? Bapak mencurigai saya hanya karena satu rekaman yang belum jelas?

Aku menatapnya.

—Wajah Anda terlihat jelas.

Dia berbalik kepadaku.

Tatapan ramah yang selama ini kukenal menghilang.

—Jangan sok pintar, Sari. Kalau bukan karena kamu terus mencatat hal-hal yang bukan urusanmu, semua ini tidak akan terjadi.

Ruangan kembali sunyi.

Dia baru saja mengatakan terlalu banyak.

Bima menyipitkan mata.

—Jadi memang ada sesuatu yang ingin kamu sembunyikan?

Pak Harun langsung menyadari kesalahannya.

—Saya tidak bermaksud begitu.

Tiba-tiba terdengar bunyi notifikasi dari tablet petugas keamanan.

Dia melihat layar, lalu berkata:

—Pak, kamera utama mati, tetapi sistem cadangan di gudang pengiriman masih aktif. Sistem itu berdiri sendiri dan tidak terhubung dengan server utama.

Kami semua bergerak menuju ruang keamanan.

Rekaman cadangan dibuka.

Pukul 21.39.

Sebuah sepeda motor berhenti di pintu belakang.

Arman turun mengenakan jaket dan membawa tas.

Empat menit kemudian, Pak Harun membuka pintu dari dalam.

Aku menutup mulut.

Mereka tidak hanya bertemu.

Mereka sudah merencanakannya.

Rekaman berikutnya memperlihatkan Pak Harun menyerahkan seragam dan sesuatu yang tampak seperti kartu akses kepada Arman.

Bima menoleh kepadaku.

—Kartumu pernah hilang?

Aku teringat sesuatu.

Tiga minggu sebelumnya, kartu aksesku menghilang selama hampir satu hari. Aku menemukannya kembali di laci meja dan mengira aku sendiri yang lupa meletakkannya.

—Pernah.

Pak Harun mendadak berlari menuju pintu.

Petugas keamanan segera menghentikannya.

Dia berteriak:

—Kalian tidak punya hak menahan saya!

Bima tidak menjawab.

Dia hanya meminta petugas menghubungi pihak berwenang dan menyimpan seluruh rekaman.

Aku berdiri di sudut ruangan dengan tangan gemetar.

Aku tidak memahami satu hal.

Mengapa Arman melakukan ini?

Pernikahan kami sudah selesai. Aku tidak meminta rumahnya. Aku tidak mengejarnya. Aku bahkan berusaha membangun hidup dari nol.

Mengapa dia masih ingin menghancurkanku?

Jawabannya datang keesokan paginya.

Tim pemeriksa menemukan percakapan antara Pak Harun dan Arman dalam perangkat kerja yang tertinggal.

Ternyata selama hampir setahun, Pak Harun bekerja sama dengan sebuah usaha katering dan toko roti pesaing. Dia sengaja membuat kesalahan pada sejumlah pesanan untuk merusak reputasi perusahaan Bima.

Namun setelah aku mulai mencatat pola kesalahan itu, rencana mereka terancam terbongkar.

Arman masuk ke dalam cerita bukan karena kebetulan.

Pak Harun mengenalnya.

Mereka pernah melakukan pekerjaan sampingan bersama beberapa tahun sebelumnya.

Yang membuatku semakin terpukul adalah pesan Arman kepada Pak Harun.

"Gunakan akun Sari. Kalau terjadi masalah, semua orang akan percaya perempuan itu ceroboh. Dia bahkan tidak pernah punya pekerjaan tetap sebelumnya."

Aku membaca kalimat itu tiga kali.

Tidak ada tangis.

Hanya rasa kosong.

Lelaki yang pernah tidur di sampingku selama tujuh tahun benar-benar yakin bahwa aku begitu tidak berharga sehingga siapa pun akan mudah percaya jika aku dituduh melakukan kesalahan.

Bima menutup layar.

—Cukup.

Aku menggeleng.

—Saya ingin membaca semuanya.

—Sari…

—Saya perlu tahu sampai sejauh mana dia melakukannya.

Ada pesan lain.

Arman rupanya sedang terlilit utang setelah bisnis kecil yang dibangunnya bersama perempuan barunya gagal. Pak Harun menawarkan uang kepadanya untuk mengambil kartu aksesku dan masuk menggunakan akun yang sudah disiapkan.

Mereka bermaksud membuat satu kesalahan besar.

Cukup besar untuk membuatku dipecat.

Tetapi mereka tidak memperkirakan pelanggan yang menerima kue itu memiliki alergi serius.

Untungnya, kondisi pelanggan tersebut segera stabil setelah mendapat pertolongan medis.

Perusahaan Bima menanggung seluruh biaya perawatan dan menarik produk terkait untuk pemeriksaan.

Bima juga datang sendiri menemui keluarga pelanggan.

Aku ingin ikut, tetapi dia melarang.

—Kamu bukan orang yang melakukan ini.

—Tapi akun saya…

—Akun bisa dicuri. Nama bisa dipakai orang lain. Kesalahan mereka bukan kesalahanmu.

Kalimat itu membuat tenggorokanku tercekat.

Selama bertahun-tahun aku terbiasa menerima kesalahan orang lain sebagai bebanku sendiri.

Ketika Arman marah, aku bertanya apa yang salah dariku.

Ketika dia berselingkuh, aku bertanya apakah aku kurang menarik.

Ketika dia mengusirku, aku bertanya apakah benar aku tidak berguna.

Sekarang untuk pertama kalinya seseorang berkata dengan jelas bahwa sesuatu yang dilakukan orang lain bukanlah kesalahanku.

Dua hari kemudian, aku dipanggil ke kantor pusat.

Aku mengira mereka ingin membicarakan penyelidikan.

Ternyata Bima meletakkan sebuah surat di depanku.

—Mulai bulan depan, saya ingin kamu menjadi koordinator pengendalian kualitas untuk tiga tempat produksi.

Aku menatapnya.

—Saya?

—Ya.

—Saya bahkan tidak punya gelar yang sesuai.

—Saya punya banyak orang bergelar. Tidak semuanya mau berhenti ketika melihat sesuatu yang salah.

Aku tidak langsung menerima.

Hal pertama yang kutanyakan justru:

—Jam kerjanya bagaimana?

Bima tersenyum kecil.

—Kamu harus menjemput Naya pukul empat, kan?

Aku terdiam.

Dia mengingatnya.

—Kita bisa atur jadwal.

Aku menunduk melihat surat itu.

Gajinya hampir tiga kali lipat dari penghasilanku ketika pertama kali masuk.

Ada tunjangan kesehatan.

Ada pelatihan.

Dan ada sesuatu yang selama bertahun-tahun tidak pernah kumiliki.

Kesempatan.

Aku akhirnya menandatangani surat itu.

Malamnya, aku membawa Naya makan ayam goreng di warung kecil favoritnya.

—Mama naik jabatan.

Mata Naya membesar.

—Berarti Mama sekarang bos?

Aku tertawa.

—Belum.

—Tapi Mama hebat?

Aku memandang putriku.

—Mama sedang belajar menjadi hebat.

Naya memeluk lenganku.

Aku mengira badai sudah berlalu.

Aku salah.

Tiga minggu kemudian, ketika pulang menjemput Naya dari sekolah, aku melihat Arman berdiri di seberang gerbang.

Tubuhku langsung menegang.

Dia tampak jauh berbeda.

Wajahnya kusut, rambutnya berantakan.

Begitu melihatku, dia berjalan cepat mendekat.

—Sari, kita harus bicara.

Aku berdiri di depan Naya.

—Tidak ada yang perlu dibicarakan.

—Ada. Ini tentang kasus itu.

Aku menatapnya.

Arman menurunkan suara.

—Harun bukan orang yang merencanakan semuanya.

Darahku seolah berhenti mengalir.

—Apa maksudmu?

Dia melirik ke kanan dan kiri, lalu mengeluarkan ponsel lama dari sakunya.

—Ada orang lain di atas dia. Orang yang punya akses ke perusahaan sejak awal.

—Siapa?

Arman menelan ludah.

—Kalau aku memberikan ini kepada Bima, semua yang dia percaya tentang perusahaannya akan berubah.

Tiba-tiba sebuah mobil berhenti beberapa meter dari kami.

Wajah Arman langsung pucat.

Dia memasukkan ponsel itu ke tanganku.

—Jangan percaya siapa pun sebelum Bima melihat isi folder terakhir.

Lalu dia berbalik dan berlari.

Aku menggenggam ponsel itu erat-erat.

Layar masih menyala.

Di sana terdapat sebuah folder dengan nama sederhana:

BIMA – INTERNAL.

Dan ketika kubuka file pertama, foto yang muncul membuatku sadar bahwa masalah ini jauh lebih besar daripada sekadar sabotase beberapa kotak kue.

(Lanjutkan ke BAGIAN 3….)