Satu Panggilan “Ayah” Membuka Kebohongan Enam Tahun, Namun Rahasia Rani Tentang Uang dan Rumah Itu Ternyata Jauh Lebih Mengejutkan

Avatar penulis
Cerita 05
6 menit baca 77 tayangan
Indeks

BAGIAN 2 — Satu Panggilan “Ayah” Membuka Kebohongan Enam Tahun, Namun Rahasia Rani Tentang Uang dan Rumah Itu Ternyata Jauh Lebih Mengejutkan

—Ayah!

Satu kata itu membuat ruang tamuku terasa seolah kehilangan udara.

Anak laki-laki itu memeluk kaki suamiku erat-erat, sementara suamiku berdiri kaku dengan wajah sepucat dinding.

Aku tidak menangis.

Aneh sekali. Setelah enam tahun menikah, setelah ratusan juta rupiah menghilang, setelah menemukan tanda tanganku dipalsukan, justru pada saat yang seharusnya paling menghancurkan, pikiranku menjadi sangat jernih.

Aku menatap Rani.

—Jadi ini alasan sebenarnya?

Rani segera menarik anak itu.

—Jangan salah paham.

Aku hampir tertawa.

—Anakmu memanggil suamiku “Ayah”, dan kamu masih menyuruhku jangan salah paham?

Suamiku akhirnya bergerak.

—Dengar dulu. Tidak seperti yang kamu pikirkan.

—Kalau begitu jelaskan.

Dia membuka mulut, tetapi tidak ada kata yang keluar.

Aku menunjuk anak itu.

—Apakah dia anakmu?

—Aku…

—Ya atau tidak?

Rani tiba-tiba menyela.

—Bukan!

Semua orang menoleh kepadanya.

Bahkan suamiku tampak terkejut.

Rani memeluk bahu putranya.

—Dia bukan anak biologis suamimu.

Aku terdiam.

Suamiku langsung berkata:

—Rani!

Nada suaranya terdengar seperti peringatan.

Rani menatapnya dengan mata merah.

—Sudah cukup. Semuanya sudah terbongkar.

Aku semakin bingung.

—Kalau bukan anaknya, kenapa memanggilnya Ayah?

Rani menunduk.

Ternyata setelah suaminya meninggalkan keluarga beberapa tahun lalu, putranya tumbuh tanpa figur ayah. Suamiku sering datang, mengantar sekolah, membelikan hadiah dan menemani mereka makan.

Awalnya anak itu memanggilnya “Om”.

Namun suatu hari, ketika ditanya siapa lelaki yang selalu menjemputnya, anak itu menjawab, “Ayah.”

Rani tidak pernah memperbaikinya.

Dan suamiku juga tidak.

—Dia bilang itu hanya panggilan anak kecil, kata Rani lirih. —Tapi lama-lama… kami membiarkannya.

Aku menatap suamiku.

Anehnya, kenyataan bahwa anak itu bukan darah dagingnya sama sekali tidak membuatku lega.

Karena pengkhianatan tidak selalu membutuhkan hubungan darah.

Kadang pengkhianatan adalah ketika seorang suami memberikan peran yang seharusnya dia jalani di rumah kepada keluarga lain.

—Jadi 170 juta itu untuk mereka?

Dia menunduk.

—Sebagian.

—Sebagian?

Pria yang membawa dokumen tadi masih berdiri di dekat pintu.

Aku mempersilahkannya masuk.

—Tolong jelaskan semua yang Anda ketahui.

Suamiku langsung panik.

—Tidak perlu!

Aku menatapnya.

—Rumah itu milikku. Tanda tanganku dipalsukan. Jadi aku berhak tahu.

Pria itu memperkenalkan diri sebagai staf perusahaan pembiayaan yang sedang melakukan verifikasi akhir.

Pengajuan pinjaman 600 juta rupiah belum disetujui karena terdapat ketidaksesuaian data kepemilikan.

Itulah sebabnya dia datang mencariku secara langsung.

Aku mengembuskan napas lega.

Rumah peninggalan orang tuaku belum berhasil dijaminkan.

—Kalau begitu, batalkan semuanya.

—Tentu. Tanpa persetujuan pemilik sah, proses tidak dapat dilanjutkan.

Aku meminta salinan seluruh dokumen.

Suamiku langsung mendekat.

—Kita bisa membicarakan ini berdua.

Aku mundur satu langkah.

—Tidak ada lagi “kita”.

Wajahnya berubah.

—Kamu mau menghancurkan pernikahan hanya karena masalah uang?

Untuk pertama kalinya malam itu, aku benar-benar marah.

—Masalah uang?

Aku mengangkat dokumen itu.

—Kamu mengambil tabungan bersama tanpa izin. Kamu memalsukan tanda tanganku. Kamu mencoba menjaminkan rumah peninggalan orang tuaku untuk membiayai perusahaan wanita lain. Dan sekarang kamu menyebutnya masalah uang?

Dia terdiam.

Rani mulai menangis.

—Aku tidak tahu rumah itu milikmu.

Aku menoleh kepadanya.

—Tapi kamu tahu uang 170 juta itu berasal dari rumah tangga kami?

Dia tidak menjawab.

Itu sudah cukup.

Aku menunjuk pintu.

—Pergilah.

Rani membawa anaknya keluar.

Namun sebelum pergi, anak kecil itu menoleh kepada suamiku.

—Ayah tidak ikut?

Tidak ada seorang pun menjawab.

Pintu tertutup.

Suamiku menjatuhkan tubuhnya ke sofa.

Untuk pertama kalinya, lelaki yang selalu merasa mampu menyelesaikan masalah semua orang tampak benar-benar kehilangan arah.

—Aku cuma ingin membantu mereka.

Aku duduk di kursi seberangnya.

—Kenapa?

Dia menutup wajahnya.

Lalu perlahan, cerita yang selama ini disembunyikan mulai keluar.

Dulu, sebelum mengenalku, dia pernah menyukai Rani.

Rani memilih menikah dengan lelaki lain.

Setelah rumah tangga Rani gagal, suamiku kembali masuk dalam kehidupannya.

Awalnya sekadar membantu.

Lalu dia menikmati perasaan dibutuhkan.

Di rumah, aku mandiri.

Aku punya toko.

Aku mengurus tagihan.

Aku mengurus ayahnya.

Aku hampir tidak pernah meminta pertolongannya.

Sementara di rumah Rani, semua orang menunggunya.

Anak kecil itu berlari menyambutnya.

Ibu Rani memuji kebaikannya.

Rani mengatakan hanya dia yang bisa dipercaya.

Dia merasa seperti pahlawan.

Aku mendengarkan sampai selesai.

Kemudian aku bertanya:

—Jadi karena aku terlalu mampu mengurus semuanya, kamu merasa berhak mengabaikanku?

Dia menggeleng cepat.

—Bukan begitu.

—Tapi itulah yang kamu lakukan.

Teleponnya kembali berbunyi.

Ayahnya lagi.

Kali ini aku mengambil ponsel itu dan menyerahkannya kepadanya.

—Angkat.

Dia menatapku.

—Angkat. Mulai sekarang, jadilah anak untuk ayahmu sendiri sebelum sibuk menjadi penyelamat keluarga orang lain.

Dia akhirnya menerima panggilan itu.

Suara ayahnya terdengar keras dari seberang.

Obat hampir habis.

Pengasuh meminta pembayaran.

Jadwal fisioterapi berikutnya harus dikonfirmasi.

Biasanya semua itu menjadi urusanku.

Malam itu, untuk pertama kalinya, semuanya jatuh ke pundak putranya sendiri.

Setelah telepon berakhir, dia menatapku.

—Aku tidak tahu sebanyak ini yang harus kamu urus.

Aku tersenyum hambar.

—Karena kamu tidak pernah bertanya.

Keesokan paginya aku menemui pengacara.

Aku menyerahkan riwayat transaksi, dokumen pinjaman, dan bukti pemalsuan tanda tangan.

Aku juga memisahkan rekening bisnis toko dari seluruh rekening keluarga.

Aku tidak langsung melaporkan suamiku.

Bukan karena masih ingin melindunginya.

Aku hanya ingin memastikan langkah berikutnya dilakukan dengan kepala dingin.

Tiga hari kemudian, dia benar-benar keluar dari apartemenku.

Dia membawa ayahnya tinggal bersamanya di sebuah rumah kontrakan sederhana.

Mendadak hidupnya berubah.

Pagi-pagi dia harus menyiapkan obat.

Siang hari menerima telepon pengasuh.

Malam hari menemani ayahnya yang kesulitan tidur.

Barulah dia mengetahui harga satu kotak obat.

Harga satu sesi fisioterapi.

Biaya transportasi.

Biaya pengasuh.

Dan betapa melelahkannya menjawab keluhan orang sakit setiap hari.

Dua minggu kemudian, dia datang ke toko rotiku.

Wajahnya tampak jauh lebih kurus.

Dia meletakkan sebuah amplop di meja.

—Ini sebagian uang yang kuambil.

Aku tidak menyentuhnya.

—Dari mana?

—Aku menjual mobil.

Aku menatapnya.

Dia menelan ludah.

—Aku akan mengembalikan semuanya.

—Bukan hanya uang yang hilang.

Dia menunduk.

—Aku tahu.

Saat itu pintu toko terbuka.

Rani masuk.

Namun kali ini dia datang sendirian.

Wajahnya pucat.

Dia membawa sebuah map kecil.

—Aku perlu bicara dengan kalian berdua.

Aku tidak menjawab.

Rani meletakkan map itu di meja.

—Aku menemukan sesuatu di kantor perusahaan.

Dia membuka halaman pertama.

Itu laporan transaksi.

Dan ketika melihat nama penerima beberapa transfer terbesar dari perusahaan Rani, suamiku tiba-tiba berdiri.

—Ini tidak mungkin.

Rani menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

—Uang yang kamu berikan kepadaku tidak semuanya masuk ke perusahaan.

Aku melihat nama di dokumen itu.

Nama itu sangat kukenal.

Ayah mertuaku.

Ternyata selama ini, lelaki tua yang tinggal gratis di rumah peninggalan orang tuaku bukan hanya mengetahui hubungan keuangan putranya dengan Rani.

Dia ikut menerima uangnya.

Dan di halaman terakhir terdapat satu transaksi yang membuat suamiku kehilangan warna wajah.

Transfer 90 juta rupiah.

Tanggalnya tepat dua hari setelah ayah mertuaku mengatakan kepadaku bahwa seluruh tabungannya sudah habis dan memintaku membayar biaya operasinya.

Aku perlahan menutup map.

Suamiku menatap pintu seolah ingin segera berlari menemui ayahnya.

Namun aku berkata pelan:

—Sekarang kamu akhirnya tahu rasanya mengetahui orang yang kamu percaya ternyata selama ini menggunakan kebaikanmu.

Dia menatapku.

Dan untuk pertama kalinya, dia benar-benar tidak memiliki alasan apa pun untuk membela dirinya.

(Lanjutkan ke BAGIAN 3….)