Video Lama Itu Membongkar Kebohongan Tiga Tahun, Namun Pengakuan Rani Tentang Anak Itu Justru Mengubah Seluruh Pernikahanku dalam Sekejap

Avatar penulis
Cerita 05
5 menit baca 227 tayangan
Indeks

BAGIAN 2 — Video Lama Itu Membongkar Kebohongan Tiga Tahun, Namun Pengakuan Rani Tentang Anak Itu Justru Mengubah Seluruh Pernikahanku dalam Sekejap

Tanganku terasa dingin ketika menekan tombol putar.

Video itu berguncang beberapa detik sebelum gambar menjadi jelas.

Aku langsung mengenali tempatnya.

Sebuah restoran kecil.

Tiga tahun lalu.

Tepat seminggu sebelum pernikahanku.

Aku melihat diriku sendiri duduk di sebuah meja dekat jendela. Di depanku ada secangkir teh yang hampir tidak kusentuh.

Lalu suamiku muncul dalam rekaman.

Dia duduk di hadapanku.

Namun ada sesuatu yang tidak pernah kuingat.

Rani ternyata berada di meja belakang.

Aku menatap layar tanpa berkedip.

—Apa ini?

Suamiku maju hendak mengambil ponsel.

Aku langsung mundur.

—Jangan sentuh.

—Dengarkan aku dulu.

—Aku sudah mendengarkanmu selama tiga tahun. Sekarang aku ingin mendengarkan video ini.

Pria tua itu berdiri di sampingku.

—Teruskan.

Video berlanjut.

Dalam rekaman, aku tampak berdiri dan berjalan menuju toilet.

Begitu aku menghilang, Rani segera berpindah ke meja suamiku.

Mereka berbicara pelan.

Suara rekaman tidak terlalu jelas, tetapi satu kalimat terdengar.

—Kalau kamu tetap menikah dengannya, jangan pernah mencari aku lagi.

Suamiku menjawab:

—Aku sudah membuat keputusan.

Rani tertawa pahit.

—Karena dia punya rumah, uang, dan koneksi?

Aku menahan napas.

Suamiku dalam video berdiri.

—Jangan menghina dia. Aku menikahinya karena aku mencintainya.

Untuk sesaat, aku terdiam.

Rani yang berdiri di ruang tamuku sekarang menundukkan kepala.

Namun video belum selesai.

Dalam rekaman, Rani mengeluarkan sebuah amplop.

—Kalau begitu, lihat ini.

Suamiku membukanya.

Wajahnya berubah.

—Kamu hamil?

Ruang tamu terasa membeku.

Aku menatap anak laki-laki yang berdiri di samping Rani.

Usianya cocok.

Tanganku mulai gemetar.

—Jadi dia memang anakmu?

Suamiku langsung berkata:

—Bukan.

Rani menoleh tajam.

—Jangan bohong lagi!

—Aku tidak berbohong!

Suamiku menunjuk ponsel.

—Putar sampai selesai.

Aku melakukannya.

Dalam video, suamiku bertanya:

—Anak siapa?

Rani menangis.

—Apa bedanya? Kalau kamu meninggalkanku sekarang, semua orang akan menganggap anak ini anakmu.

—Aku bahkan tidak pernah menyentuhmu sejak kita berpisah.

Kalimat itu membuatku membeku.

Rani yang sekarang berdiri di hadapanku tiba-tiba berteriak:

—Matikan!

Pria tua itu menghalanginya.

—Biarkan dia melihat semuanya.

Video terus berjalan.

Suamiku dalam rekaman berkata:

—Aku akan membantumu kalau kamu kesulitan. Tapi aku tidak akan meninggalkan calon istriku demi kebohongan.

Lalu aku terlihat kembali dari arah toilet.

Rani segera meninggalkan meja melalui pintu belakang.

Aku sama sekali tidak menyadari kehadirannya.

Video berakhir.

Aku menurunkan ponsel.

Kepalaku penuh pertanyaan.

—Kalau anak itu bukan anakmu, kenapa dia tinggal di rumahku?

Suamiku menutup mata sebentar.

—Itulah kesalahan terbesarku.

—Kesalahan?

Aku tertawa hambar.

—Kamu memasukkan seorang wanita yang pernah mengaku mengandung anakmu ke rumahku tanpa sepengetahuanku, lalu menyebutnya kesalahan?

Dia tidak mampu menjawab.

Aku menunjuk Rani.

—Dan kenapa anaknya memanggilmu Papa?

Rani memeluk putranya.

Suamiku berkata pelan:

—Karena beberapa bulan terakhir aku membantu biaya hidup mereka.

—Itu bukan jawaban.

Pria tua itu akhirnya berbicara.

—Biar saya yang menjelaskan.

Ternyata dia adalah paman Rani.

Setelah Rani pergi tiga tahun lalu, keluarganya mengetahui kehamilan tersebut. Ayah kandung anak itu adalah seorang pria yang sudah memiliki keluarga dan menolak bertanggung jawab.

Rani kemudian pindah jauh dan membesarkan anaknya sendiri.

Beberapa bulan lalu, ia kembali.

Karena ibunya sakit dan kondisi ekonominya memburuk, ia mencari suamiku.

—Dia meminta bantuan uang, kata pria tua itu. —Awalnya suami Anda hanya membantu biaya sekolah dan pengobatan ibunya.

Aku menatap suamiku.

—Kenapa tidak pernah memberitahuku?

Dia menjawab lirih:

—Aku takut kamu salah paham.

Aku tertawa.

—Dan solusimu agar aku tidak salah paham adalah menyembunyikannya?

Dia terdiam.

Aku menatap Rani.

—Lalu bagaimana kamu bisa tinggal di sini?

Rani tidak menjawab.

Pengurus rumah tiba-tiba berkata:

—Karena saya yang menyuruhnya datang.

Semua mata beralih kepadanya.

Wajahnya pucat.

—Tuan hanya mengatakan Nona Rani dan anaknya membutuhkan tempat tinggal sementara. Beliau meminta saya mencarikan rumah sewa.

Aku menatap suamiku.

—Benar?

Dia mengangguk.

—Aku tidak pernah mengizinkan mereka tinggal di sini.

Rani langsung membantah.

—Tapi kamu bilang akan mengurus kami!

—Mengurus bukan berarti memindahkanmu ke rumah istriku!

Suara suamiku menggema.

Anak kecil itu ketakutan dan mulai menangis.

Aku menahan emosiku.

Aku tidak ingin pertengkaran orang dewasa menghancurkan seorang anak yang tidak bersalah.

Aku berjongkok di depannya.

—Tidak apa-apa. Kamu tidak melakukan kesalahan.

Dia menatapku dengan mata basah.

—Mama bilang Papa akan tinggal bersama kami.

Aku menatap Rani.

Wajahnya benar-benar kehilangan warna.

—Kenapa kamu mengatakan itu kepada anakmu?

Rani menangis.

—Karena aku lelah!

Suaranya pecah.

—Aku lelah hidup sendirian. Aku melihat kalian menikah, punya rumah, punya segalanya. Sementara aku harus membesarkan anak sendirian karena pria yang seharusnya bertanggung jawab meninggalkan kami!

Aku berdiri.

—Kesulitanmu bukan alasan untuk mengambil kehidupan orang lain.

Rani menangis semakin keras.

—Aku hanya ingin anakku punya ayah.

—Dengan mengajarinya memanggil suamiku Papa?

Dia tidak menjawab.

Pengurus rumah mencoba membela diri.

—Saya hanya kasihan kepada anak itu.

Aku menatapnya.

—Karena kasihan, kamu menyuruh pemilik rumah masuk lewat pintu samping?

Dia langsung diam.

Aku mengeluarkan ponsel.

—Kalian berdua harus pergi hari ini.

Suamiku mendekat.

—Aku akan mengurus tempat tinggal mereka.

Aku menatapnya.

—Tidak.

Dia terkejut.

—Mulai sekarang, kamu tidak mengurus apa pun tanpa sepengetahuanku.

Dia mengangguk.

—Baik.

—Dan kamu juga keluar.

Wajahnya berubah.

—Apa?

—Aku butuh waktu.

Dia ingin berbicara, tetapi akhirnya hanya mengangguk.

Malam itu rumah kembali sepi.

Untuk pertama kalinya sejak menikah, aku tidur sendirian tanpa mengetahui apakah pernikahanku masih memiliki masa depan.

Namun keesokan paginya, paman Rani kembali.

Kali ini dia membawa sebuah amplop.

—Masih ada satu hal lagi.

Aku menatapnya.

—Tentang apa?

Dia meletakkan amplop di meja.

—Tentang ayah kandung anak Rani.

Aku membukanya.

Di dalamnya terdapat hasil pemeriksaan DNA lama dan sebuah nama.

Ketika membaca nama tersebut, tubuhku menegang.

Aku mengenal pria itu.

Bukan hanya mengenalnya.

Dia adalah seseorang yang selama tiga tahun terakhir hampir setiap minggu datang ke rumahku, duduk satu meja denganku dan memanggil suamiku…

“Saudaraku.”

(Lanjutkan ke BAGIAN 3….)