Lima belas menit sebelum aku berangkat ke bandara, putriku yang baru berusia enam tahun memeluk pinggangku erat-erat dan berbisik, “Ayah, jangan pergi hari ini. Kalau Ayah pergi keluar kota, Tante Rina selalu memasukkan sesuatu ke jusku.”
Aku berpura-pura tidak terjadi apa-apa.
Aku mencium kening istriku, mengambil koper, lalu meninggalkan rumah seperti biasa.
Namun dua blok kemudian, aku meminta sopir berhenti.
Aku membatalkan penerbanganku.
Beberapa jam setelah itu, aku melihat rekaman yang membuatku sadar bahwa selama ini putriku berusaha melindungi dirinya sendiri—di dalam rumahku sendiri.

Koperku sudah berada di dekat pintu depan rumah kami di Pondok Indah, Jakarta Selatan, ketika Alya menghentikanku.
Bukan hanya kata-katanya yang membuatku takut.
Wajahnya jauh lebih menakutkan.
“Ayah…”
Putriku memegang lenganku dengan kedua tangannya.
“Ayah jangan pergi hari ini.”
Aku menunduk.
“Ada apa, Sayang?”
Alya melirik ke arah dapur sebelum mendekatkan wajahnya ke telingaku.
“Kalau Ayah pergi, Tante Rina suka memasukkan tetesan ke minumanku.”
Dadaku terasa sesak.
“Apa maksudmu?”
“Katanya vitamin.”
Suaranya semakin pelan.
“Tapi setelah aku minum, tanganku suka gemetar dan pikiranku rasanya tidak bisa diam.”
Aku menatap wajah anakku.
Rina adalah istriku.
Kami baru menikah sepuluh bulan.
Ibu kandung Alya, Maya, meninggal beberapa tahun sebelumnya karena sakit. Setelah kepergiannya, selama hampir dua tahun hidupku hanya berputar di sekitar Alya.
Aku bekerja.
Aku pulang.
Aku menjaga putriku.
Dan diam-diam aku percaya bagian paling bahagia dalam hidupku sudah ikut pergi bersama Maya.
Lalu Rina datang.
Dia tidak pernah memintaku menurunkan foto Maya dari dinding.
Dia mendengarkan setiap kali Alya bercerita tentang ibunya.
Bahkan beberapa kali dia membantu Alya menaruh bunga di depan foto Maya saat ulang tahunnya.
Aku menganggap semua itu sebagai kebaikan.
Aku menganggap Rina sedang berusaha menjadi bagian dari keluarga kami tanpa menggantikan siapa pun.
Ternyata aku mungkin salah.
Sangat salah.
Alya kembali melihat ke arah dapur.
“Dia juga merekam aku kalau aku mulai marah.”
Aku langsung berjongkok di depannya.
“Merekam untuk apa?”
Bibir Alya bergetar.
“Katanya nanti Ayah akan mengerti kalau aku harus tinggal di tempat lain.”
Aku merasa darahku mendidih.
Namun aku tidak boleh membuat Alya takut.
Jadi aku mempertahankan ekspresi setenang mungkin.
“Tempat lain di mana?”
Alya menggeleng.
“Aku nggak tahu.”
Kemudian dia mengatakan sesuatu yang membuat seluruh tubuhku terasa dingin.
“Dia bilang kalau aku cerita sama Ayah, dia akan menunjukkan video-video itu supaya Ayah percaya aku yang bermasalah.”
Aku hampir berdiri saat itu juga dan menghadapi Rina.
Tapi Alya mencengkeram tanganku.
“Ayah…”
“Apa lagi?”
“Ada Om Dimas.”
Aku terdiam.
“Siapa Dimas?”
“Aku nggak tahu. Dia sering bicara sama Tante Rina kalau Ayah nggak ada.”
Jantungku mulai berdetak semakin keras.
“Mereka bicara tentang apa?”
Alya menatapku dengan mata besar.
“Rumah Mama Maya yang dekat pantai.”
Aku membeku.
Sebelum meninggal, Maya menerima sebuah vila tepi pantai di Bali dari keluarganya.
Properti itu tidak pernah menjadi milikku sepenuhnya.
Melalui pengaturan warisan yang dibuat keluarga Maya, hak kepemilikannya dilindungi untuk Alya sampai putriku cukup umur.
Nilainya sekarang diperkirakan lebih dari Rp100 miliar.
“Apa yang mereka katakan tentang rumah itu?”
Alya menarik napas kecil.
“Om Dimas bilang mereka cuma butuh dua video buruk lagi.”
“Dua video?”
Alya mengangguk.
“Katanya setelah itu Ayah pasti mau tanda tangan surat.”
Sebelum aku sempat bertanya lebih jauh, terdengar langkah kaki.
Rina keluar dari dapur sambil membawa secangkir kopi.
Wajahnya tersenyum seperti biasa.
Seolah tidak ada apa-apa.
“Wah,” katanya sambil tertawa kecil. “Sepertinya ada yang benar-benar nggak rela Ayah pergi hari ini.”
Aku berdiri.
Untuk sesaat, aku hanya menatap perempuan yang selama sepuluh bulan terakhir tidur di sebelahku.
Perempuan yang kupercayai menjaga anakku.
Perempuan yang kupikir mencintai Alya.
Aku ingin bertanya langsung.
Aku ingin menyeret semua jawaban keluar darinya saat itu juga.
Tapi aku tahu satu hal.
Kalau Alya benar, Rina sudah merencanakan sesuatu cukup lama.
Dan kalau aku menunjukkan bahwa aku sudah tahu, semua bukti mungkin akan hilang sebelum aku sempat mendapatkannya.
Jadi aku tersenyum.
Aku mencium pipi Rina.
“Aku telepon setelah sampai Surabaya.”
“Jangan lupa,” katanya santai.
Aku mengambil koper.
Lalu keluar.
Mobil bergerak meninggalkan kompleks.
Aku menunggu sampai rumah kami tidak terlihat lagi.
Dua blok kemudian aku mencondongkan tubuh ke depan.
“Pak, berhenti sebentar.”
Sopir menepi.
Aku langsung membuka ponsel.
Penerbanganku kubatalkan.
Kemudian aku menelepon satu orang yang selama bertahun-tahun kupercaya menangani keamanan perusahaan.
Namanya Bima Prasetyo.
Mantan konsultan keamanan yang sekarang mengelola perusahaan keamanan digital dan sistem pengawasan.
“Aku butuh bantuan,” kataku.
“Seberapa serius?”
Aku melihat kembali ke arah jalan menuju rumahku.
“Putriku mungkin dalam bahaya.”
Nada suara Bima langsung berubah.
“Di mana kamu?”
Kurang dari dua jam kemudian, aku duduk di depan laptop di kantor Bima.
Beberapa bulan sebelumnya, setelah rumah kami sempat mengalami percobaan pembobolan, aku memasang sistem kamera keamanan.
Sebagian rekaman otomatis tersimpan di penyimpanan cadangan.
Rina rupanya mengetahui kamera utama.
Yang tidak dia ketahui adalah sistem itu masih menyimpan beberapa salinan rekaman lama secara otomatis.
Bima membuka satu video.
Tanggalnya tiga minggu sebelumnya.
Dapur rumahku.
Pukul tujuh pagi.
Aku sedang berada di Bandung untuk urusan bisnis.
Alya duduk di meja makan.
Rina berdiri membelakanginya.
Kemudian tangannya masuk ke saku.
Dia mengeluarkan sebuah botol kecil tanpa label.
Aku berhenti bernapas.
Rina membuka botol itu.
Memiringkannya di atas gelas jus milik Alya.
Satu tetes.
Dua.
Tiga.
Aku berdiri begitu cepat sampai kursiku terdorong ke belakang.
“Putar ulang.”
Bima memutarnya lagi.
Tidak ada keraguan.
Tangannya berada tepat di atas minuman putriku.
“Video berikutnya,” kataku.
Bima tidak langsung menjawab.
“Arga…”
“Putar.”
Dia membuka rekaman lain.
Kali ini Alya terlihat gelisah.
Putriku berjalan mondar-mandir di ruang keluarga sambil menangis dan mengatakan kepalanya terasa aneh.
Rina tidak menenangkannya.
Dia justru berdiri beberapa meter jauhnya.
Memegang ponsel.
Merekam.
Kemudian suaranya terdengar.
“Ayo, Alya.”
Nada suaranya dingin.
Sangat berbeda dari perempuan lembut yang selama ini kukenal.
“Tunjukkan bagaimana kamu kalau mulai sulit dikendalikan.”
Alya menangis.
“Aku mau Ayah.”
Rina tetap merekam.
“Ayahmu harus melihat seperti apa kamu sebenarnya.”
Tanganku mengepal.
Aku ingin menghancurkan layar di depanku.
Bima menghentikan video.
“Jangan lakukan sesuatu karena emosi.”
Aku menatapnya.
“Itu anakku.”
“Aku tahu.”
“Dia melakukan sesuatu pada anakku.”
“Dan justru karena itu kamu membutuhkan bukti lengkap.”
Aku berjalan menjauh dari meja.
Saat itulah Bima berkata,
“Ada satu hal lagi.”
Aku berbalik.
“Apa?”
“Rekaman kamera ruang kerja.”
Dia membuka video ketiga.
Rina berada di ruang kerjaku bersama seorang pria.
Aku belum pernah bertemu dengannya.
Pria itu mungkin berusia sekitar empat puluh tahun.
Kemeja putih.
Jam mahal.
Tas dokumen hitam di atas meja.
“Dimas?” tanyaku.
“Sepertinya.”
Mereka sedang berbicara pelan.
Sebagian suara sulit terdengar.
Namun kemudian Dimas menunjuk sebuah dokumen.
“Kalau pola perilakunya sudah cukup kuat, prosesnya akan jauh lebih mudah.”
Rina menyilangkan tangan.
“Arga masih terlalu protektif.”
“Makanya jangan buru-buru.”
Dimas tersenyum.
“Dua rekaman lagi. Setelah itu kita tinggal meyakinkan dia bahwa anak itu butuh penanganan khusus.”
Rina bertanya,
“Dan vila Bali?”
Dimas menurunkan suaranya.
Tapi mikrofon kamera masih menangkap jawabannya.
“Begitu dia menandatangani dokumen pengelolaan aset atas nama wali, sisanya bisa kita urus.”
Aku merasa seolah lantai menghilang di bawah kakiku.
Ini bukan sekadar perlakuan buruk terhadap Alya.
Ini sebuah rencana.
Dan putriku yang berusia enam tahun telah menyadarinya sebelum aku.
Aku melihat jam.
Pukul 13.20.
Aku mengambil kunci mobil.
“Mau ke mana?” tanya Bima.
“Menjemput anakku.”
Ketika aku masuk kembali ke rumah, Rina sedang bersiap pergi.
Dia berhenti saat melihatku.
“Arga?”
Aku meletakkan kunci di meja.
“Meeting-ku ditunda.”
Dia menatap koperku.
“Kok nggak bilang?”
“Baru saja.”
Aku berusaha terdengar biasa.
“Aku mau antar Alya ke rumah Tante Sari.”
Senyum Rina berubah sedikit.
Hanya sedikit.
Tapi sekarang aku bisa melihatnya.
Ketegangan.
Kecurigaan.
“Alya masih punya PR.”
“Bisa dikerjakan di sana.”
Rina meletakkan tasnya.
“Arga, rutinitas itu penting untuk Alya.”
Aku menatapnya.
Dia melanjutkan.
“Perubahan mendadak membuat perilakunya semakin buruk.”
Dulu aku mungkin akan menganggap kalimat itu sebagai perhatian seorang ibu sambung.
Sekarang aku mendengar sesuatu yang lain.
Ancaman yang dibungkus ketenangan.
Aku melihat melewati bahunya.
“Alya!”
Beberapa detik kemudian putriku muncul dari lorong.
Begitu melihatku, matanya langsung membesar.
“Ambil ranselmu, Sayang.”
Rina melangkah maju.
“Untuk apa?”
Aku tetap menatap Alya.
“Kamu ikut Ayah.”
Alya tidak bertanya.
Tidak ragu.
Dia langsung berlari menuju kamarnya.
Rina berdiri di depanku.
“Arga, aku bilang dia tetap di rumah.”
Aku akhirnya menatap langsung ke matanya.
Untuk pertama kalinya sejak menikahinya, aku tidak melihat perempuan yang kupikir kukenal.
Aku melihat seseorang yang mungkin selama berbulan-bulan menunggu aku pergi agar dia bisa menggunakan ketakutan anakku sebagai senjata.
“Tidak,” kataku pelan.
“Dia tidak tinggal di sini.”
Alya kembali membawa ransel merah mudanya.
Aku menggenggam tangannya.
Rina mencoba tersenyum.
Namun wajahnya mulai pucat.
“Kamu kenapa sih?”
Aku tidak menjawab.
Aku membawa Alya menuju pintu.
Lalu dari belakang kami, Rina berkata,
“Arga.”
Aku berhenti.
“Kamu sebaiknya berpikir baik-baik sebelum melakukan sesuatu yang akan kamu sesali.”
Tanganku masih menggenggam tangan kecil Alya.
Aku menoleh setengah badan.
“Justru itu yang sedang kulakukan.”
Lalu aku membuka pintu.
Kali ini aku pergi bukan untuk mengejar pesawat.
Bukan untuk rapat.
Bukan untuk pekerjaan.
Aku pergi untuk memastikan putriku tidak pernah ditinggalkan sendirian bersamanya lagi.
Namun saat kami hampir mencapai mobil, ponselku bergetar.
Pesan dari Bima.
“Arga, jangan pulang ke rumah malam ini. Kami baru menemukan identitas Dimas.”
Aku berhenti.
Pesan kedua masuk.
“Dia bukan sekadar teman Rina.”
Lalu muncul sebuah foto.
Aku menatap layar.
Dan darahku terasa membeku.
Karena aku pernah melihat wajah Dimas sebelumnya.
Bukan bersama Rina.
Melainkan dalam sebuah foto lama milik mendiang istriku, Maya.
Aku memperbesar foto itu sampai wajah Dimas memenuhi layar ponselku.
Tanganku mendadak dingin.
Foto tersebut sudah tua.
Maya berdiri di depan vila keluarganya di Bali, mengenakan gaun putih sederhana. Di sebelahnya ada ayah dan ibunya.
Dan beberapa langkah di belakang mereka—
Dimas.
Jauh lebih muda.
Tapi jelas orang yang sama.
“Ayah?”
Suara Alya membuatku tersadar.
Aku segera mematikan layar.
“Tidak apa-apa, Sayang.”
Itu bohong.
Jelas ada sesuatu yang sangat tidak beres.
Aku memasukkan Alya ke mobil, lalu mengemudi menuju rumah kakak Maya, Sari, di Kebayoran Baru.
Sepanjang perjalanan, pikiranku dipenuhi pertanyaan.
Siapa Dimas sebenarnya?
Mengapa dia mengenal Maya?
Dan yang paling menakutkan—
mengapa setelah Maya meninggal, pria itu muncul kembali bersama Rina?
Begitu sampai, Sari langsung keluar.
Ketika melihat Alya, dia tersenyum.
Namun senyumnya hilang saat melihat wajahku.
“Ada apa?”
“Aku butuh Alya tinggal bersamamu malam ini.”
Sari menatapku lama.
“Arga, apa yang terjadi?”
Aku berjongkok di depan Alya.
“Sayang, Ayah harus menyelesaikan sesuatu. Kamu di sini sama Tante Sari dulu, ya?”
Alya memegang tanganku.
“Ayah akan pulang?”
Pertanyaan sederhana itu menghantam dadaku.
Aku teringat berapa kali aku meninggalkannya untuk perjalanan bisnis.
Berapa kali dia berdiri di pintu sambil melambaikan tangan.
Berapa kali aku berkata, “Ayah cuma pergi dua hari.”
Dan selama aku pergi, dia menghadapi semua itu sendirian.
Aku memeluknya erat.
“Ayah kembali.”
“Janji?”
“Janji.”
Dia mendekatkan mulutnya ke telingaku.
“Ayah…”
“Ya?”
“Jangan minum apa pun yang Tante Rina kasih.”
Aku menutup mata.
Anak berusia enam tahun seharusnya mengingatkan ayahnya membawa oleh-oleh.
Bukan memperingatkannya agar tidak diracuni.
Aku mencium kepalanya.
“Ayah akan hati-hati.”
Aku berdiri dan menatap Sari.
“Aku akan jelaskan semuanya. Tapi sekarang jangan biarkan siapa pun membawa Alya pergi.”
Wajah Sari berubah serius.
“Siapa pun?”
“Termasuk istriku.”
Bima menungguku di kantornya.
Begitu aku masuk, dia menutup pintu.
“Aku menemukan Dimas.”
Dia memutar laptop.
Nama lengkapnya muncul.
Dimas Adinata.
Aku membaca informasi itu perlahan.
Dimas pernah bekerja sebagai konsultan administrasi aset untuk perusahaan milik keluarga Maya.
Lebih dari sepuluh tahun sebelumnya.
Aku menatap Bima.
“Kenapa aku tidak pernah tahu?”
“Karena dia diberhentikan sebelum kamu menikah dengan Maya.”
“Kenapa?”
Bima menggeser sebuah dokumen.
“Dugaan manipulasi dokumen.”
Aku terdiam.
“Apa?”
“Tidak pernah sampai pengadilan. Keluarga Maya memilih menyelesaikannya secara internal. Tapi setelah itu Dimas dilarang terlibat dalam semua aset keluarga.”
Aku kembali melihat foto.
“Jadi dia tahu vila itu.”
“Bukan cuma tahu.”
Bima menatapku.
“Dia tahu struktur warisannya.”
Darahku terasa turun ke kaki.
“Itulah alasan dia tahu Alya adalah pemilik manfaat.”
Bima mengangguk.
“Dan dia tahu kamu sebagai ayah punya peran penting dalam pengelolaannya selama Alya masih di bawah umur.”
Aku duduk perlahan.
Sekarang semuanya mulai masuk akal.
Video.
Perilaku Alya.
Upaya meyakinkanku bahwa anakku “bermasalah”.
Kalau aku bisa dibuat percaya bahwa Alya membutuhkan perawatan jangka panjang, aku mungkin akan menandatangani dokumen yang katanya untuk biaya pengobatan atau pengelolaan aset.
“Bagaimana Rina mengenalnya?”
Bima diam beberapa detik.
Kemudian dia membuka foto lain.
Kali ini foto dari media sosial lama.
Rina.
Dimas.
Berdiri bersama di sebuah acara.
Tanggalnya—
empat tahun sebelum aku bertemu Rina.
Aku merasa mual.
“Mereka sudah saling kenal.”
“Lebih dari itu.”
Bima menunjukkan data lain.
“Alamat lama mereka pernah sama.”
Aku menatapnya.
“Saudara?”
Bima menggeleng.
“Tidak.”
Dia menarik napas.
“Mereka pernah menikah.”
Aku tidak langsung memahami kalimat itu.
“Maksudmu?”
“Rina adalah mantan istri Dimas.”
Ruangan seolah kehilangan suara.
Aku teringat bagaimana aku bertemu Rina.
Acara amal di Jakarta.
Dia tidak mendekatiku terlebih dahulu.
Kami diperkenalkan oleh seseorang.
Dia bahkan menolak ketika aku mengajaknya makan malam pertama kali.
Semuanya terasa begitu alami.
Begitu tidak direncanakan.
Ternyata mungkin justru itu rencananya.
“Jadi pernikahanku…”
Aku tidak sanggup menyelesaikan kalimat.
Bima menjawab pelan.
“Mungkin dimulai sebagai bagian dari rencana mereka.”
Aku menundukkan kepala.
Anehnya, yang paling menyakitkan bukan pengkhianatan Rina.
Melainkan kesadaranku bahwa Alya telah melihat sesuatu yang tidak kulihat.
Putriku mencoba memperingatkanku.
Dan aku terlalu sibuk percaya bahwa aku akhirnya mendapatkan keluarga utuh lagi.
Ponselku berdering.
Rina.
Aku menatap layar.
Bima berkata, “Angkat.”
Aku mengaktifkan speaker.
“Halo?”
“Arga, kamu di mana?”
Suaranya terdengar tenang.
Terlalu tenang.
“Meeting.”
“Dan Alya?”
“Bersama Sari.”
Hening.
Lalu—
“Kamu seharusnya tidak membawa dia ke sana.”
Aku menatap Bima.
“Kenapa?”
“Karena Sari selalu membuat Alya terlalu emosional soal Maya.”
Aku hampir tertawa.
Sekarang aku mendengar semuanya.
Manipulasi yang dulu terdengar seperti perhatian.
“Rina.”
“Ya?”
“Aku pulang malam ini.”
Dia diam.
Kemudian suaranya melembut.
“Bagus. Kita perlu bicara.”
“Memang.”
Aku memutus telepon.
Bima menatapku.
“Kamu tidak benar-benar mau pulang sendirian, kan?”
Aku berdiri.
“Tidak.”
Aku mengambil jaket.
“Aku mau memberinya kesempatan untuk menjelaskan.”
Malam itu aku kembali ke rumah bersama dua orang dari tim keamanan Bima yang menunggu di luar.
Sebelum masuk, aku juga sudah menghubungi pengacara keluarga.
Semua rekaman telah disalin.
Tidak ada lagi yang bisa dihapus Rina.
Ketika aku membuka pintu, rumah terasa aneh.
Terlalu tenang.
Rina duduk di ruang keluarga.
Di meja ada dua cangkir teh.
Aku hampir tersenyum mengingat peringatan Alya.
Jangan minum apa pun yang Tante Rina kasih.
“Duduk,” kata Rina.
Aku tetap berdiri.
“Di mana Dimas?”
Untuk pertama kalinya, wajahnya benar-benar berubah.
Hanya satu detik.
Tapi cukup.
“Aku nggak tahu siapa yang kamu maksud.”
Aku mengeluarkan ponsel.
Menampilkan foto mereka.
“Coba lagi.”
Wajahnya pucat.
Aku meletakkan foto berikutnya.
Surat pernikahan lama mereka.
Rina menutup mata.
“Arga…”
“Berapa lama?”
Dia tidak menjawab.
“Berapa lama kamu merencanakan ini?”
“Tidak seperti yang kamu pikir.”
Kalimat paling klasik dari seseorang yang tertangkap.
Aku tertawa pendek.
“Benarkah? Jadi bagian mana yang salah? Kamu mengenal Dimas sebelum mengenalku? Benar. Kalian pernah menikah? Benar. Kalian bicara tentang aset Alya? Ada rekamannya.”
Rina berdiri.
“Dimas yang merencanakan semuanya.”
“Dan kamu?”
“Aku…”
Suaranya patah.
“Aku seharusnya cuma mendekatimu.”
Aku merasa sesuatu di dadaku pecah.
Meskipun aku sudah menduganya, mendengar langsung tetap berbeda.
“Jadi sejak awal?”
Dia menangis.
“Awalnya, iya.”
Aku tidak bergerak.
“Lanjutkan.”
“Dimas bilang kamu mudah didekati karena masih berduka. Dia tahu tentang aset Maya. Dia bilang kalau aku bisa menikah denganmu, kami bisa mendapatkan akses secara perlahan.”
Setiap kata terasa seperti pisau.
“Kemudian?”
Rina menatap lantai.
“Kemudian aku benar-benar mencintaimu.”
Aku tertawa getir.
“Jangan.”
“Itu benar.”
“Orang yang mencintaiku tidak melakukan sesuatu pada minuman anakku.”
“Aku tidak bermaksud menyakitinya!”
Suaranya meninggi.
Aku maju satu langkah.
“Lalu apa yang kamu masukkan?”
Dia terdiam.
“Apa?”
“Cairan apa itu?”
Rina menangis.
“Obat stimulan yang didapat Dimas.”
Aku mengepalkan tangan.
“Untuk membuat Alya gelisah?”
Dia mengangguk kecil.
“Supaya video terlihat meyakinkan.”
Aku merasa muak.
“Dia enam tahun.”
“Aku tahu.”
“Tidak. Kamu tidak tahu.”
Aku menunjuk ke lantai di antara kami.
“Anak itu percaya kepadamu.”
Rina menangis lebih keras.
“Aku sudah mau berhenti.”
“Kapan? Setelah dua video lagi?”
Dia membeku.
Aku tahu aku mengenai titik yang tepat.
Lalu terdengar suara dari arah dapur.
“Cukup.”
Aku berbalik.
Dimas keluar dari pintu samping.
Jadi dia sudah berada di rumah.
Tangannya kosong, tapi wajahnya tenang.
Seolah dia datang untuk rapat bisnis.
“Rina terlalu emosional,” katanya.
Aku menatapnya.
“Kamu masuk ke rumahku tanpa izin.”
“Rumah yang dibeli sebagian besar dari aset keluarga Maya?”
Aku hampir menerjangnya.
Tapi aku teringat Bima.
Bukti.
Jangan karena emosi.
Dimas tersenyum.
“Arga, sebenarnya ini bisa selesai dengan mudah.”
Dia mengeluarkan map.
Meletakkannya di meja.
“Apa itu?”
“Kesepakatan.”
Aku tidak menyentuhnya.
Dimas membuka halaman pertama.
Dia bicara tentang pengelolaan aset.
Perawatan psikologis Alya.
Restrukturisasi biaya.
Semua dibuat terdengar legal.
Profesional.
Masuk akal.
Kemudian aku melihat satu nama perusahaan.
Nusantara Pacific Holdings.
Bima sudah memberitahuku tentang perusahaan itu.
Perusahaan cangkang yang terhubung dengan Dimas.
Aku menatapnya.
“Jadi ini tujuan akhirnya.”
Dimas tersenyum tipis.
“Kamu pengusaha. Jangan pura-pura sentimental. Vila itu aset tidur. Dengan struktur yang benar, semua orang untung.”
“Termasuk anakku?”
“Dia bahkan tidak akan tahu.”
Aku memandang Rina.
“Dan kamu mencintai aku?”
Rina menutup wajahnya.
Saat itulah pintu depan terbuka.
Bima masuk.
Bersamanya dua petugas kepolisian dan pengacaraku.
Senyum Dimas hilang.
“Apa-apaan ini?”
Bima mengangkat ponselnya.
“Terima kasih sudah menjelaskan struktur rencananya dengan sangat jelas.”
Dimas menatap sekeliling.
Kemudian matanya menuju kamera kecil di rak buku.
Wajahnya berubah.
Untuk pertama kalinya malam itu, dia takut.
Proses hukum berjalan setelah itu.
Aku tidak akan berpura-pura semuanya selesai dalam semalam.
Tidak.
Ada pemeriksaan.
Ada pengujian terhadap cairan yang ditemukan.
Ada pemeriksaan medis terhadap Alya.
Ada rekaman yang harus diverifikasi.
Ada rekening dan dokumen yang ditelusuri.
Dan ada hari-hari ketika aku duduk sendirian di mobil karena tidak ingin Alya melihatku menangis.
Rina akhirnya bekerja sama dengan penyidik.
Sebagian karena rasa bersalah.
Sebagian karena dia sadar Dimas telah mempersiapkan semuanya agar kalau rencana gagal, dialah yang akan disalahkan.
Namun kerja samanya tidak menghapus apa yang dia lakukan.
Aku mengajukan perceraian.
Aku tidak pernah membiarkannya berduaan dengan Alya lagi.
Dimas menghadapi proses hukum atas berbagai dugaan tindak pidana terkait penipuan, manipulasi dokumen, dan tindakan terhadap Alya.
Tapi kejutan terbesar belum datang.
Tiga minggu kemudian, Sari meneleponku.
“Aku menemukan sesuatu.”
“Apa?”
“Peninggalan Maya.”
Aku langsung terdiam.
Sore itu aku datang ke rumah Sari.
Dia membawa sebuah kotak kayu kecil.
“Aku menemukannya di antara barang-barang Mama.”
Di dalamnya ada beberapa surat.
Foto.
Dan sebuah USB lama.
Pada amplop tertulis namaku.
Untuk Arga, kalau suatu hari masalah vila itu muncul lagi.
Tanganku gemetar.
“Apa maksudnya ‘lagi’?”
Sari menggeleng.
“Aku juga baru tahu.”
Kami membuka USB itu.
Ada sebuah video.
Maya muncul di layar.
Masih sehat.
Masih tersenyum.
Aku lupa bagaimana caranya bernapas.
Sudah bertahun-tahun aku tidak mendengar suaranya berbicara kepadaku secara langsung.
“Arga,” katanya dari layar, “kalau kamu menonton ini, kemungkinan besar aku sudah tidak ada.”
Aku menutup mulut dengan tangan.
Sari menangis di sampingku.
Maya melanjutkan.
“Ada sesuatu yang belum pernah kuceritakan secara lengkap tentang vila di Bali.”
Kemudian dia menyebut nama itu.
Dimas Adinata.
Ternyata bertahun-tahun sebelumnya, Maya sendiri yang menemukan kejanggalan dalam dokumen yang dikelola Dimas.
Dialah yang melaporkannya kepada keluarganya.
Itulah alasan Dimas dipecat.
Sebelum pergi, Dimas pernah mengatakan kepadanya bahwa suatu hari keluarga Maya akan menyesal telah menghancurkan kariernya.
Aku menatap layar tanpa bergerak.
Lalu Maya mengatakan sesuatu yang membuatku menangis.
“Aku sudah mengubah struktur perlindungan aset. Bahkan kalau seseorang berhasil membuatmu menandatangani pengalihan, vila itu tidak bisa dijual tanpa verifikasi independen ketika Alya masih di bawah umur.”
Aku menutup mata.
Selama ini Dimas mengejar sesuatu yang bahkan tidak bisa dia ambil semudah yang dia bayangkan.
Maya telah melindungi Alya bertahun-tahun sebelum bahaya itu datang.
Namun bagian terakhir video bukan tentang uang.
Maya mendekat ke kamera.
“Arga, dengarkan aku.”
Aku menatapnya.
“Kalau suatu hari kamu menikah lagi, jangan merasa bersalah.”
Air mataku jatuh.
“Aku ingin Alya tumbuh melihat ayahnya bahagia. Tapi kalau suatu hari kamu harus memilih antara mempertahankan seseorang dan mempercayai suara anak kita…”
Maya berhenti.
Matanya berkaca-kaca.
“Percayalah pada Alya.”
Aku menundukkan kepala.
Aku tidak sanggup menahan tangis lagi.
Bertahun-tahun sebelum semuanya terjadi, Maya telah meninggalkan jawaban untuk keputusan tersulit dalam hidupku.
Malam itu aku pulang ke rumah Sari.
Alya sudah tidur di sofa sambil memeluk boneka kelincinya.
Aku duduk di sampingnya.
Beberapa menit kemudian dia membuka mata.
“Ayah?”
“Ya.”
“Orang jahatnya sudah pergi?”
Aku tersenyum sedih.
“Sudah.”
Dia duduk.
“Tante Rina juga?”
Aku mengangguk.
Alya diam cukup lama.
Lalu bertanya,
“Dia pernah sayang sama kita nggak?”
Aku tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan seperti itu kepada anak enam tahun.
Jadi aku memilih kebenaran yang bisa dia pahami.
“Mungkin ada bagian dari dirinya yang pernah sayang. Tapi kalau seseorang menyayangi kita, dia juga harus menjaga kita. Dan apa yang dia lakukan salah.”
Alya mengangguk perlahan.
Kemudian dia bertanya,
“Ayah marah sama aku?”
Dadaku seperti dihantam.
“Kenapa Ayah harus marah?”
“Karena aku bikin Ayah sama Tante Rina pisah.”
Aku langsung menariknya ke pelukanku.
“Dengar Ayah.”
Aku memegang kedua pipinya.
“Kamu tidak menghancurkan keluarga kita.”
Air matanya mulai jatuh.
“Kamu menyelamatkannya.”
Dia menatapku.
“Benarkah?”
“Benar.”
Aku memeluknya erat.
Dan saat itulah aku akhirnya memahami sesuatu.
Selama ini aku mengira tugasku sebagai ayah adalah melindungi Alya.
Ternyata pada hari itu, Alya juga menyelamatkanku.
Bukan dari kehilangan uang.
Bukan dari kehilangan vila.
Tapi dari menjalani hidup bersama seseorang yang membangun cinta kami di atas kebohongan.
Enam bulan kemudian, aku dan Alya pergi ke Bali.
Bukan untuk menjual vila.
Bukan untuk membicarakan warisan.
Kami datang untuk pertama kalinya sejak Maya meninggal.
Pagi itu kami berjalan ke pantai.
Alya membawa bunga kamboja putih.
“Ayah?”
“Hmm?”
“Ini rumah Mama?”
Aku melihat vila di belakang kami.
“Dulu milik keluarga Mama. Sekarang suatu hari akan menjadi milikmu.”
Alya mengerutkan hidung.
“Aku nggak butuh rumah sebesar itu.”
Aku tertawa.
“Bagus.”
“Kenapa?”
“Karena itu berarti kamu lebih pintar daripada banyak orang dewasa yang pernah Ayah kenal.”
Dia tertawa.
Kami berjalan sampai ombak menyentuh kaki.
Kemudian Alya meletakkan bunga di pasir.
“Aku mau bilang sesuatu ke Mama.”
Aku mundur beberapa langkah.
Alya menatap laut.
Aku tidak mendengar seluruh kalimatnya.
Hanya bagian terakhir.
“…aku sudah jaga Ayah, Ma.”
Aku membalikkan wajah karena mataku panas.
Beberapa menit kemudian dia berlari kembali dan menggenggam tanganku.
Kami berjalan pulang bersama.
Di depan vila, pengacara keluarga sudah menunggu.
Dia membawa dokumen.
Aku sempat merasa tegang ketika melihatnya.
Namun kali ini bukan dokumen pengalihan.
Itu dokumen pembentukan yayasan pendidikan atas nama Maya.
Aku telah memutuskan sebagian pendapatan vila kelak akan digunakan untuk membantu anak-anak yang kehilangan orang tua mendapatkan dukungan pendidikan dan pendampingan keluarga.
Ketika Alya dewasa, dia sendiri yang akan menentukan masa depan vila itu.
Tidak ada orang lain.
Termasuk aku.
Pengacara menyerahkan pena.
Aku menandatangani.
Lalu Alya menarik bajuku.
“Ayah.”
“Ya?”
“Sekarang kita pulang?”
Aku melihat vila senilai lebih dari Rp100 miliar itu.
Benda yang membuat orang berbohong.
Menipu.
Merencanakan begitu banyak hal.
Lalu aku melihat putriku.
“Ya.”
Aku menggenggam tangannya.
“Kita pulang.”
Karena akhirnya aku mengerti—
warisan terbesar yang Maya tinggalkan bukanlah vila.
Bukan tanah.
Bukan uang.
Melainkan seorang anak kecil yang cukup berani untuk mengatakan kebenaran ketika semua orang dewasa di sekelilingnya gagal melihatnya.
Dan sejak hari itu, setiap kali aku harus bepergian untuk bekerja, aku selalu melakukan satu hal sebelum berangkat.
Aku berjongkok di depan Alya.
Menatap matanya.
Lalu bertanya,
“Ada sesuatu yang ingin kamu ceritakan pada Ayah?”
Biasanya jawabannya sederhana.
Minta oleh-oleh.
Minta es krim.
Atau mengingatkanku menelepon sebelum tidur.
Tapi aku selalu mendengarkan sampai selesai.
Karena aku pernah hampir naik pesawat ketika putriku memintaku untuk tinggal.
Dan kalau hari itu aku tidak berhenti dua blok dari rumah—
aku mungkin kehilangan jauh lebih banyak daripada Rp100 miliar.
Aku mungkin kehilangan kepercayaan satu-satunya orang yang sejak awal hanya membutuhkan satu hal dariku:
untuk mempercayainya.
