AKU PULANG LEBIH CEPAT DARI RAPAT DAN MELIHAT MANTAN ISTRIKU DI TELEVISI—BERSAMA EMPAT ANAK BERUSIA LIMA TAHUN YANG MEMILIKI MATA PERSIS SEPERTIKU.

Avatar penulis
Cerita 04
24 menit baca 27 tayangan
AKU PULANG LEBIH CEPAT DARI RAPAT DAN MELIHAT MANTAN ISTRIKU DI TELEVISI—BERSAMA EMPAT ANAK BERUSIA LIMA TAHUN YANG MEMILIKI MATA PERSIS SEPERTIKU.
Indeks

AKU PULANG LEBIH CEPAT DARI RAPAT DAN MELIHAT MANTAN ISTRIKU DI TELEVISI—BERSAMA EMPAT ANAK BERUSIA LIMA TAHUN YANG MEMILIKI MATA PERSIS SEPERTIKU.

Aku meninggalkannya karena percaya dia mungkin tidak akan pernah bisa menjadi seorang ibu.

Sementara selama ini, dia ternyata membesarkan mereka sendirian.

“Kamu tidak mungkin menghancurkan masa depanmu hanya demi dia,” kata ibuku dulu.

Aku langsung menelepon kantor hukum lama yang pernah menangani perceraian kami.

Tak lama kemudian, mereka menemukan sebuah amplop yang sudah tersimpan hampir enam tahun.

Di bagian depannya hanya tertulis namaku.

Dan ketika aku mengetahui apa yang ada di dalamnya, seluruh alasan yang selama ini kupakai untuk membenarkan keputusanku runtuh dalam sekejap.

AKU PULANG LEBIH CEPAT DARI RAPAT DAN MELIHAT MANTAN ISTRIKU DI TELEVISI—BERSAMA EMPAT ANAK BERUSIA LIMA TAHUN YANG MEMILIKI MATA PERSIS SEPERTIKU.

BAGIAN 1

Ponsel Raka Mahendra terlepas dari tangannya dan jatuh ke lantai kayu ketika kamera televisi perlahan mengambil gambar lebih lebar.

Empat anak kecil sedang duduk di atas karpet warna-warni mengelilingi mantan istrinya.

Raka baru saja pulang lebih cepat dari sebuah pertemuan dengan klien ke apartemennya di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.

Ia masih mengenakan kemeja kantor ketika menyalakan televisi hanya untuk mengisi kesunyian ruangan.

Awalnya ia bahkan tidak benar-benar memperhatikan acara yang sedang tayang.

Sampai sebuah suara yang sangat dikenalnya membuat langkahnya berhenti.

Raka menoleh.

Dan selama beberapa detik, ia merasa seperti sedang melihat seseorang dari kehidupan lain.

Di layar televisi duduk Nadira Prameswari.

Mantan istrinya.

Perempuan yang hampir enam tahun tidak pernah ditemuinya.

Nadira sedang diwawancarai dalam sebuah acara pagi nasional mengenai Rumah Kecil, jaringan pusat penitipan dan pendidikan anak usia dini yang ia bangun dari nol.

Bisnis itu sekarang telah berkembang ke beberapa kota.

Jakarta.

Tangerang Selatan.

Bandung.

Surabaya.

Namun Raka hampir tidak mendengar penjelasan pembawa acara tentang perkembangan perusahaan tersebut.

Ia hanya menatap Nadira.

Rambut hitam panjang yang dulu selalu dibiarkan tergerai kini dipotong sebahu.

Cara bicaranya juga berubah.

Dulu Nadira sering berhenti sejenak sebelum menjawab sesuatu, seolah selalu mempertimbangkan apakah pendapatnya akan membuat orang lain kecewa.

Sekarang tidak.

Ia berbicara tenang.

Tegas.

Tidak berusaha mengesankan siapa pun.

Ada ketenangan dalam dirinya yang tidak pernah Raka lihat selama mereka menikah.

Lalu kamera bergeser.

Empat anak muncul di layar.

Dua perempuan.

Dua laki-laki.

Mereka duduk di atas karpet dengan buku gambar dan balok kayu di sekitar mereka.

Raka awalnya hanya tersenyum tipis.

Ia mengira mereka adalah anak-anak yang mengikuti program pendidikan Nadira.

Kemudian salah satu anak laki-laki mengangkat wajah.

Raka berhenti bernapas.

Ada lesung pipi yang dalam di sisi kanan wajah anak itu.

Persis miliknya.

Bukan sekadar mirip.

Raka sudah memiliki lesung pipi itu sejak kecil.

Ayahnya juga memilikinya.

Kemudian seorang anak perempuan menoleh kepada Nadira.

Raka mendekat ke televisi tanpa sadar.

Mata anak itu berwarna cokelat kehijauan.

Bentuk sudut matanya…

Raka mengenalnya.

Karena setiap pagi ia melihat bentuk mata yang sama ketika bercermin.

Tangannya perlahan kehilangan tenaga.

Ponselnya jatuh.

Suara benda itu menghantam lantai terdengar keras di apartemen yang sunyi.

Namun Raka tidak bergerak mengambilnya.

Di televisi, pembawa acara tersenyum kepada Nadira.

“Keempatnya baru berusia lima tahun, ya?”

Nadira tersenyum sambil melihat anak-anak itu.

“Lima tahun dua bulan.”

Dada Raka terasa seperti dihantam sesuatu.

Ia langsung menghitung.

Sekali.

Kemudian sekali lagi.

Mereka berpisah hampir enam tahun lalu.

Raka berdiri terpaku di depan televisi.

“Tidak mungkin…”

Tetapi semakin lama ia melihat keempat anak itu, semakin sulit baginya mengatakan bahwa semua itu hanya kebetulan.

Salah satu anak laki-laki memiliki bentuk alisnya.

Anak perempuan yang duduk paling dekat dengan Nadira memiliki kebiasaan mengerutkan hidung ketika tertawa.

Persis seperti Raka ketika masih kecil.

Dan kemudian sebuah ingatan yang selama bertahun-tahun ia kubur kembali muncul.

Rumah sakit.

Ruang konsultasi.

Nadira menggenggam tangannya.

Dokter membuka sebuah map berisi hasil pemeriksaan.

Mereka sudah hampir tiga tahun mencoba memiliki anak.

Pada awal pernikahan, mereka tidak terlalu memikirkannya.

“Kalau waktunya tepat, pasti datang,” kata Nadira dulu.

Tetapi satu tahun berubah menjadi dua.

Lalu dua menjadi hampir tiga.

Pemeriksaan demi pemeriksaan mulai memenuhi kalender mereka.

Tes darah.

Konsultasi.

Obat.

Kunjungan ke dokter spesialis.

Setiap bulan dimulai dengan harapan.

Dan hampir selalu berakhir dengan Nadira menangis diam-diam di kamar mandi.

Dokter sebenarnya tidak pernah mengatakan Nadira mustahil hamil.

Ia hanya menjelaskan bahwa beberapa indikator kesuburannya tidak ideal dan peluang kehamilan alami mungkin lebih rendah daripada rata-rata.

Tetapi Raka hanya mendengar bagian yang paling ia takutkan.

Sulit.

Tidak pasti.

Mungkin membutuhkan waktu.

Dan di rumah, ketakutan itu berubah menjadi sesuatu yang lebih buruk karena ibunya.

Bu Ratna Mahendra berasal dari keluarga yang sangat menjaga nama dan garis keturunan.

Pada hampir setiap makan malam keluarga di rumahnya di Pondok Indah, pertanyaan yang sama selalu muncul.

“Kapan Mama bisa punya cucu?”

Awalnya terdengar seperti candaan.

Lalu menjadi sindiran.

Kemudian berubah menjadi tekanan.

Suatu malam Bu Ratna melihat Nadira mengambil lauk di meja makan dan berkata sambil tersenyum tipis,

“Perempuan sekarang terlalu sibuk mengejar karier. Kadang lupa umur tidak menunggu.”

Meja makan langsung sunyi.

Nadira meletakkan sendoknya.

Raka mendengarnya.

Tetapi ia tidak membela istrinya.

Itulah bagian yang sekarang paling sulit ia akui.

Raka selalu menganggap dirinya suami yang baik karena ia tidak pernah berteriak kepada Nadira.

Tidak pernah berselingkuh.

Tidak pernah memperlakukannya kasar.

Tetapi ketika keluarganya perlahan membuat Nadira merasa dirinya tidak cukup sebagai seorang istri, Raka hanya diam.

Dan diamnya ternyata jauh lebih menyakitkan daripada yang ia sadari.

Tekanan semakin besar ketika ayah Raka mulai menyerahkan sebagian bisnis keluarga kepadanya.

Bu Ratna mulai berbicara tentang “generasi berikutnya.”

Tentang nama Mahendra.

Tentang siapa yang kelak akan meneruskan usaha keluarga.

Sampai suatu malam, ketika Raka mengaku bahwa ia tidak tahu apakah sanggup terus menjalani pernikahan dengan ketidakpastian soal anak, ibunya berkata,

“Kamu tidak mungkin menghancurkan masa depanmu hanya demi Nadira.”

Raka terdiam.

Bu Ratna menatapnya.

“Seorang laki-laki harus memikirkan keluarganya juga. Kamu butuh penerus.”

Kalimat itu tinggal di kepala Raka.

Hari demi hari.

Sampai akhirnya ia mulai melihat Nadira bukan lagi sebagai perempuan yang pernah ia cintai.

Melainkan sebagai alasan mengapa masa depan yang ia bayangkan mungkin tidak pernah terjadi.

Kesalahan terbesarnya dimulai dari sana.

Suatu malam Raka pulang membawa sebuah map.

Ia meletakkannya di meja dapur.

Di dalamnya terdapat brosur beberapa program fertilitas dan pilihan program kehamilan berbantu di luar negeri.

Ada estimasi biaya.

Jadwal konsultasi.

Daftar rumah sakit.

Bahkan beberapa rencana yang sudah ia susun tanpa pernah membicarakannya secara serius dengan Nadira.

Nadira membuka map itu satu per satu.

Wajahnya perlahan berubah.

“Ini apa, Rak?”

“Aku cuma mencari pilihan.”

“Pilihan untuk siapa?”

“Untuk kita.”

Nadira menatapnya lama.

Kemudian ia bertanya dengan suara yang nyaris berbisik,

“Kamu ingin punya anak… atau kamu ingin tetap menikah denganku?”

Raka mengerutkan kening.

“Aku ingin dua-duanya.”

“Kalau ternyata aku benar-benar tidak bisa memberimu anak?”

Raka membuka mulut.

Namun tidak ada jawaban yang keluar.

Hening.

Hanya beberapa detik.

Tetapi bagi Nadira, beberapa detik itu sudah cukup.

Ia menutup map tersebut.

“Baik.”

Itu saja.

Raka tidak tahu bahwa tiga hari kemudian Nadira berdiri sendirian di kamar mandi sambil memegang alat tes kehamilan.

Dua garis.

Nadira bahkan melakukan tes kedua karena ia tidak percaya.

Hasilnya sama.

Positif.

Setelah bertahun-tahun menunggu, ia akhirnya hamil.

Malam itu Nadira membeli sebuah kotak kecil.

Ia memasukkan alat tes tersebut ke dalamnya.

Ia bahkan memesan makanan favorit Raka.

Rencananya sederhana.

Mereka akan makan malam.

Kemudian Nadira akan memberikan kotak itu kepadanya.

Tetapi sebelum Raka pulang, satu pikiran terus mengganggunya.

Ia ingin mengetahui satu hal.

Apakah suaminya masih memilih dirinya ketika ia dianggap tidak bisa memberikan anak?

Atau apakah Raka hanya akan memilihnya jika ia tahu ada seorang bayi?

Jadi Nadira menyimpan kotak itu di dalam tasnya.

Ia akan berbicara dengan Raka lebih dulu.

Namun malam itu Raka pulang membawa koper.

Nadira berdiri di dekat meja makan.

“Kamu mau ke mana?”

Raka meletakkan kunci mobil.

“Aku butuh waktu.”

“Waktu untuk apa?”

“Memikirkan semuanya.”

Nadira tidak menjawab.

Raka melanjutkan,

“Aku tidak tahu apakah aku sanggup menjalani hidup sambil terus bertanya apakah aku mengorbankan kesempatan menjadi ayah hanya karena takut menyakitimu.”

Nadira memegang tasnya erat.

Di dalamnya ada kotak kecil.

Di dalam kotak itu ada dua garis yang seharusnya menjadi kabar paling bahagia dalam hidup mereka.

Ia hampir mengeluarkannya.

Hampir.

Tetapi kemudian ia bertanya,

“Kalau aku tidak pernah bisa punya anak, kamu tetap pergi?”

Raka memandangnya.

Dan lagi-lagi…

ia tidak menjawab.

Nadira mengangguk perlahan.

Tangannya menjauh dari tas.

“Baik.”

Raka pergi malam itu.

Empat hari kemudian, melalui pengacara, ia mengajukan perceraian.

Nadira tidak pernah menunjukkan hasil tes itu.

Raka tidak pernah bertanya apakah ada sesuatu yang ingin Nadira sampaikan.

Perceraian mereka berlangsung dingin dan cepat.

Setelah semuanya selesai, Nadira menghilang dari lingkaran sosial keluarga Mahendra.

Raka mendengar ia pindah dari apartemen mereka.

Kemudian tidak ada lagi kabar.

Bu Ratna mengatakan itu mungkin yang terbaik.

“Sekarang kamu bisa memulai lagi.”

Dan Raka mempercayainya.

Ia kembali bekerja.

Mengembangkan bisnis.

Membeli apartemen yang lebih besar.

Menjalani hubungan dengan beberapa perempuan yang tidak pernah bertahan lama.

Ironisnya, Raka tidak pernah menikah lagi.

Dan ia juga tidak pernah memiliki anak.

Selama hampir enam tahun ia mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa perceraiannya dengan Nadira adalah keputusan rasional yang menyakitkan tetapi perlu.

Sampai sore itu.

Sampai empat anak berusia lima tahun muncul di layar televisinya.

Raka meraih ponselnya dari lantai.

Tangannya gemetar.

Ia mencari informasi tentang Rumah Kecil.

Kantor pusatnya berada di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan.

Kurang dari satu jam kemudian, Raka sudah berada di mobil.

Ia bahkan tidak mengganti pakaian.

Tidak menelepon ibunya.

Tidak menghubungi pengacara.

Ia hanya pergi.

Ketika tiba di gedung kantor Rumah Kecil, resepsionis menatapnya dengan sopan.

“Saya ingin bertemu Bu Nadira.”

“Apakah sudah ada janji?”

“Belum.”

“Nama Bapak?”

“Raka Mahendra.”

Ekspresi resepsionis berubah sesaat.

Ia menelepon seseorang.

Kemudian berkata,

“Maaf, Pak. Bu Nadira tidak bisa menerima Bapak.”

Raka menarik napas.

“Tolong bilang ini penting.”

“Saya sudah menyampaikan nama Bapak.”

Kalimat itu membuat Raka mengerti.

Nadira tahu ia ada di sana.

Dan Nadira memilih tidak menemuinya.

Raka menunggu di lobi.

Petugas keamanan akhirnya memintanya tidak mengganggu aktivitas kantor.

Jadi ia keluar.

Ia menunggu di depan gedung.

Satu jam.

Dua jam.

Hampir tiga jam.

Menjelang sore, pintu kaca terbuka.

Nadira keluar bersama seorang perempuan yang membawa beberapa dokumen.

Begitu melihat Raka, langkahnya berhenti.

Namun hanya sesaat.

Ia mengatakan sesuatu kepada rekannya, lalu berjalan mendekat.

Tidak ada keterkejutan di wajahnya.

Tidak ada kemarahan.

Itu justru membuat Raka semakin gugup.

Seolah Nadira sudah lama membayangkan hari ini mungkin akan datang.

“Aku melihat acara televisi tadi,” kata Raka.

Nadira diam.

“Aku melihat anak-anak itu.”

Wajah Nadira berubah sedikit.

Raka menelan ludah.

“Nad… aku perlu tahu.”

“Jangan panggil aku begitu.”

Raka terdiam.

Sudah bertahun-tahun tidak ada seorang pun yang membuatnya merasa sekecil itu hanya dengan satu kalimat.

“Maaf.”

Nadira memandang jalan di depan gedung.

Raka melanjutkan,

“Mereka berumur lima tahun dua bulan.”

“Ya.”

“Kita berpisah hampir enam tahun lalu.”

“Ya.”

Raka menatapnya.

“Apakah mereka anakku?”

Nadira akhirnya menatap langsung ke matanya.

Beberapa detik berlalu.

Kemudian ia berkata,

“Kamu terlambat hampir enam tahun untuk menanyakan pertanyaan itu.”

Dada Raka terasa sesak.

“Aku tidak tahu.”

“Benar.”

“Kenapa kamu tidak memberitahuku?”

Untuk pertama kalinya, ketenangan Nadira retak.

“Jangan.”

“Apa?”

“Jangan berdiri di depanku dan berpura-pura aku tidak mencoba.”

Raka mengernyit.

“Maksudmu apa?”

Nadira menatapnya seolah tidak percaya.

“Aku mengirim sesuatu kepadamu.”

Raka membeku.

“Apa?”

“Setelah kamu mengajukan perceraian.”

“Aku tidak pernah menerima apa pun.”

“Aku mengirimkannya ke kantor hukum yang menangani perceraian kita. Untuk diserahkan langsung kepadamu.”

Raka menggeleng.

“Tidak ada yang pernah memberiku apa pun.”

Wajah Nadira perlahan berubah.

Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, ia tampak benar-benar terkejut.

“Aku punya tanda terimanya, Raka.”

Jantung Raka berdegup keras.

Ia mengeluarkan ponsel.

Kantor hukum yang dulu menangani perceraiannya masih beroperasi di Jakarta.

Ia menelepon nomor lama.

Setelah beberapa kali dialihkan, ia akhirnya berbicara dengan salah satu staf senior yang masih mengingat kasusnya.

Raka memberikan nama lengkapnya.

Tanggal perceraian.

Nama Nadira.

Lalu ia bertanya apakah ada dokumen lama yang pernah dititipkan untuk dirinya.

Staf itu meminta waktu untuk memeriksa arsip.

Raka menunggu di trotoar.

Nadira berdiri beberapa meter darinya.

Tak satu pun berbicara.

Beberapa menit kemudian, telepon Raka berdering.

“Pak Raka?”

“Ya.”

“Kami menemukan catatan lama.”

Raka menahan napas.

“Ada sebuah amplop yang dititipkan oleh Ibu Nadira Prameswari.”

Raka menatap Nadira.

“Kenapa saya tidak pernah menerimanya?”

Suara di telepon terdiam.

Kemudian staf itu berkata,

“Pak… menurut catatan kami, seseorang datang mengambil amplop tersebut atas nama keluarga Anda.”

Raka merasa tengkuknya dingin.

“Siapa?”

Ada suara lembaran kertas dibalik.

Kemudian staf itu menyebut sebuah nama.

Raka tidak langsung bereaksi.

Karena nama itu terlalu dikenalnya.

Orang yang mengambil amplop tersebut…

adalah Bu Ratna Mahendra.

Ibunya sendiri.

Raka menutup telepon.

Nadira melihat perubahan wajahnya.

“Apa?”

Raka tidak menjawab.

Ia langsung menelepon ibunya.

Bu Ratna mengangkat setelah beberapa dering.

“Raka? Mama sedang—”

“Enam tahun lalu,” potong Raka, “Mama mengambil sebuah amplop dari kantor pengacaraku.”

Hening.

Raka mengepalkan tangannya.

“Mama tahu apa isinya?”

Tidak ada jawaban.

“Mama?”

Akhirnya terdengar helaan napas panjang.

Kemudian ibunya berkata pelan,

“Raka, kamu harus mengerti. Waktu itu Mama hanya berusaha melindungi masa depanmu.”

Raka menutup mata.

Kalimat yang sama.

Hampir enam tahun kemudian.

Alasan yang sama.

“Katakan apa yang ada di dalam amplop itu.”

Bu Ratna terdiam lama.

Lalu berkata,

“Lebih baik kamu datang ke rumah.”

Raka menoleh kepada Nadira.

Empat anak.

Lima tahun dua bulan.

Sebuah amplop.

Dan seorang ibu yang selama hampir enam tahun menyembunyikan sesuatu darinya.

Raka tidak tahu bahwa ketika ia akhirnya membuka amplop tersebut, ia tidak hanya akan menemukan bukti bahwa Nadira telah mencoba memberitahunya tentang kehamilan itu.

Ada satu dokumen lain di dalamnya.

Dokumen yang membuktikan bahwa kebohongan terbesar dalam pernikahan mereka ternyata dimulai jauh sebelum Raka meninggalkan Nadira.

Dan nama orang yang menandatangani dokumen itu membuat tangannya gemetar.

BERSAMBUNG…

BAGIAN 2 — ISI AMPLOP YANG DISEMBUNYIKAN SELAMA HAMPIR ENAM TAHUN

Raka tidak ingat bagaimana ia mengemudikan mobil dari Bintaro menuju rumah ibunya di Pondok Indah.

Yang ia ingat hanya satu kalimat.

“Mama hanya berusaha melindungi masa depanmu.”

Kalimat itu terus berputar di kepalanya.

Hampir enam tahun lalu, kalimat serupa membuatnya meninggalkan Nadira.

Sekarang kalimat itu terdengar seperti pengakuan.

Ketika mobil Raka berhenti di depan rumah besar yang sudah dikenalnya sejak kecil, Bu Ratna ternyata sudah menunggu di ruang keluarga.

Perempuan itu duduk tegak di sofa.

Di atas meja ada sebuah amplop cokelat tua.

Sudutnya sudah sedikit menguning.

Dan di bagian depan tertulis dengan tulisan tangan yang langsung dikenali Raka:

Untuk Raka Mahendra. Pribadi.

Tulisan Nadira.

Raka berdiri beberapa langkah dari meja.

Selama beberapa detik ia tidak berani menyentuhnya.

“Kenapa Mama mengambilnya?”

Bu Ratna tidak langsung menjawab.

“Duduk dulu.”

“Aku tidak mau duduk.”

“Raka—”

“Kenapa Mama mengambil surat yang ditujukan kepadaku?”

Bu Ratna menunduk.

“Aku takut kamu berubah pikiran.”

Jawaban itu begitu sederhana hingga terasa lebih menyakitkan.

“Berubah pikiran tentang apa?”

“Tentang perceraian.”

Raka tertawa pendek.

Tidak ada sedikit pun humor di dalamnya.

“Jadi Mama tahu Nadira hamil?”

Bu Ratna menatapnya.

Dan diamnya sudah cukup menjadi jawaban.

Raka mundur satu langkah.

“Ya Tuhan.”

“Dengarkan Mama dulu.”

“Berapa lama?”

“Apa?”

“Berapa lama Mama tahu?”

Bu Ratna menggenggam kedua tangannya.

“Tidak lama setelah kamu mengajukan perceraian.”

Raka merasa dadanya sesak.

“Nadira memberitahu Mama?”

“Tidak.”

“Lalu bagaimana?”

Bu Ratna memandang amplop itu.

“Buka.”

Raka merobek bagian atasnya.

Tangannya gemetar.

Di dalam ada beberapa lembar dokumen dan sebuah benda kecil yang dibungkus tisu.

Raka membuka tisu itu terlebih dahulu.

Sebuah alat tes kehamilan.

Sudah tua.

Warnanya memudar.

Tetapi dua garis di sana masih terlihat.

Raka tidak bergerak.

Seolah seluruh ruangan mendadak kehilangan suara.

Ia membayangkan Nadira berdiri sendirian di kamar mandi mereka.

Menatap dua garis itu.

Mungkin menangis.

Mungkin tertawa.

Mungkin memikirkan bagaimana cara memberitahunya.

Dan pada malam yang seharusnya menjadi salah satu malam paling bahagia dalam kehidupan mereka, Raka justru pulang membawa koper.

Di bawah alat tes itu ada sebuah surat.

Raka mengenali tulisan Nadira.

Ia membaca perlahan.

Nadira menulis bahwa ia hamil.

Bahwa dokter menduga kehamilannya mungkin lebih dari satu janin dan ia masih membutuhkan pemeriksaan lanjutan.

Ia menulis bahwa ia tidak mengirim surat itu untuk meminta Raka membatalkan perceraian.

Ia hanya merasa Raka berhak mengetahui.

Kalimat terakhir membuat Raka berhenti cukup lama.

Nadira menulis bahwa jika Raka ingin menjadi bagian dari kehidupan anak mereka, ia tidak akan menutup pintu.

Tetapi ia tidak ingin Raka kembali hanya karena dirinya ternyata bisa memberikan keturunan.

Raka menurunkan surat itu.

Matanya merah.

“Dia memberiku pilihan.”

Bu Ratna tidak menjawab.

“Bahkan setelah apa yang kulakukan, dia masih memberiku pilihan.”

Raka memandang ibunya.

“Dan Mama mengambil pilihan itu dariku.”

“Mama pikir kamu sedang emosional.”

“Bukan hak Mama!”

Suara Raka menggema di ruangan.

Bu Ratna tersentak.

Seumur hidup, Raka hampir tidak pernah membentak ibunya.

Tetapi kemudian ia melihat dokumen lain.

Sebuah hasil pemeriksaan dari klinik fertilitas.

Ada nama Nadira.

Ada namanya.

Dan ada beberapa angka yang diberi tanda.

Raka membacanya sekali.

Kemudian lagi.

Ia tidak mengerti.

“Apa ini?”

Bu Ratna menutup mata.

Raka membalik halaman.

Di sana ada catatan dokter.

Bukan hanya kondisi Nadira yang pernah menjadi perhatian.

Ada hasil pemeriksaan Raka sendiri.

Parameter tertentu menunjukkan bahwa faktor kesuburan dari pihak laki-laki juga perlu dievaluasi lebih lanjut.

Raka membeku.

“Ini hasil pemeriksaanku?”

Bu Ratna mengangguk pelan.

“Aku tidak pernah melihat ini.”

“Aku tahu.”

Raka mengangkat kepala.

“Apa maksud Mama?”

Bu Ratna mulai menangis.

Bukan tangisan keras.

Hanya air mata yang jatuh perlahan.

Tetapi Raka tidak merasakan iba.

Belum.

“Ayahmu yang pertama menerima salinannya,” kata Bu Ratna.

Raka menatapnya.

“Ayah?”

“Waktu itu kamu sedang di luar kota. Klinik menghubungi nomor keluarga yang tercantum sebagai kontak tambahan.”

“Lalu?”

“Ayahmu membawanya pulang.”

Raka merasa sebuah kebenaran yang jauh lebih buruk mulai terbentuk.

“Teruskan.”

Bu Ratna menarik napas.

“Ayahmu takut kamu akan menyalahkan dirimu sendiri. Dan aku…”

Ia berhenti.

“Aku tidak ingin keluarga besar tahu.”

Raka menatapnya tidak percaya.

“Tahu apa?”

“Bahwa mungkin masalahnya bukan hanya pada Nadira.”

Ruangan menjadi sunyi.

Untuk pertama kalinya, Raka memahami betapa dalamnya obsesi keluarganya terhadap nama, keturunan, dan citra.

Ibunya lebih rela membiarkan seorang perempuan menanggung rasa malu dan kesalahan selama bertahun-tahun daripada menerima kemungkinan bahwa putranya juga memiliki masalah kesuburan.

“Jadi Mama membiarkan aku menyalahkan istriku.”

“Raka—”

“Mama duduk di meja makan dan menyindir dia.”

“Aku salah.”

“Mama bilang dia mungkin tidak bisa memberiku keturunan.”

“Aku salah.”

“Mama tahu hasil pemeriksaanku!”

Bu Ratna menangis.

Raka menunjuk surat itu.

“Dan ketika dia akhirnya hamil, Mama menyembunyikannya.”

“Aku takut.”

“Takut apa?”

Bu Ratna akhirnya mengangkat wajah.

“Takut kehilangan kamu.”

Jawaban itu membuat kemarahan Raka berubah menjadi sesuatu yang lebih dingin.

“Tidak, Ma.”

Ia menggeleng.

“Mama takut kehilangan kendali atas hidupku.”

Bu Ratna tidak mampu menjawab.

Raka memasukkan semua dokumen kembali ke amplop.

Lalu pergi.


Malam itu Raka tidak pulang ke apartemennya.

Ia duduk di dalam mobil di sebuah area parkir selama hampir dua jam.

Untuk pertama kalinya ia tidak bisa menyalahkan ibunya sepenuhnya.

Karena ada kebenaran yang jauh lebih menyakitkan.

Bu Ratna memang berbohong.

Bu Ratna memang menyembunyikan surat.

Tetapi ketika Nadira bertanya,

“Kalau aku tidak pernah bisa punya anak, kamu tetap pergi?”

Raka sendiri yang memilih diam.

Tidak ada seorang pun yang memaksanya membawa koper.

Tidak ada seorang pun yang memaksanya mengajukan perceraian.

Ia melakukannya sendiri.

Ponselnya ada di tangan.

Ia membuka nomor Nadira.

Mengetik.

Menghapus.

Mengetik lagi.

Akhirnya ia hanya mengirim:

Aku sudah membaca semuanya. Aku minta maaf. Bukan cuma karena surat itu disembunyikan dariku. Aku minta maaf karena bahkan sebelum surat itu ada, aku sudah gagal memilihmu.

Tidak ada balasan.

Raka tidak mengirim pesan kedua.


Dua hari kemudian Nadira menghubunginya.

Besok, jam empat sore. Rumah Kecil Bintaro. Datang sendiri.

Raka tiba setengah jam lebih awal.

Nadira sudah menunggu di sebuah ruang pertemuan kecil.

Tidak ada anak-anak.

Raka meletakkan amplop cokelat di atas meja.

“Aku tidak tahu.”

“Aku percaya.”

Jawaban Nadira mengejutkannya.

“Kamu percaya?”

“Aku percaya kamu tidak pernah menerima surat itu.”

Raka menatapnya.

“Tapi itu tidak menghapus apa yang terjadi sebelum surat itu.”

Raka mengangguk.

“Aku tahu.”

Nadira duduk di seberangnya.

Raka kemudian bertanya sesuatu yang selama dua hari paling ia takutkan.

“Keempatnya… anakku?”

Nadira menarik napas.

“Ya.”

Satu kata.

Hanya satu.

Tetapi Raka menutup wajah dengan kedua tangannya.

Tangis yang selama ini ia tahan akhirnya pecah.

Empat anak.

Empat.

Dua putra.

Dua putri.

Anak-anak yang langkah pertamanya tidak pernah ia lihat.

Kata pertama mereka tidak pernah ia dengar.

Demam pertama.

Ulang tahun pertama.

Hari pertama sekolah.

Lima tahun kehidupan mereka telah berlalu tanpa dirinya.

Ketika Raka akhirnya mengangkat kepala, Nadira masih duduk diam.

“Aku tidak akan meminta mereka memanggilku Papa,” katanya.

Nadira tampak sedikit terkejut.

“Aku tidak akan datang dan berpura-pura punya hak atas lima tahun yang tidak kujalani.”

Raka menarik napas.

“Tapi kalau kamu mengizinkan… aku ingin mengenal mereka.”

Nadira menatapnya lama.

“Raka, mereka bukan kesempatan kedua untuk memperbaiki rasa bersalahmu.”

“Aku tahu.”

“Mereka manusia kecil yang hidupnya stabil.”

“Aku tahu.”

“Mereka punya rutinitas. Sekolah. Teman. Mereka bahagia.”

“Aku tidak mau merusaknya.”

“Dan aku tidak akan membiarkan keluargamu menggunakan mereka sebagai simbol nama Mahendra.”

Raka langsung menjawab,

“Tidak akan.”

“Kamu tidak bisa menjanjikan perilaku ibumu.”

“Benar.”

Raka mengangguk.

“Tapi aku bisa menentukan apakah dia punya akses ke hidupku.”

Nadira terdiam.

Kemudian ia mengatakan sesuatu yang tidak diduga Raka.

“Ada satu hal lagi yang harus kamu tahu.”

Raka menegang.

“Apa?”

Nadira membuka ponselnya.

Ia menunjukkan sebuah foto.

Empat bayi kecil di ruang perawatan neonatal.

“Kehamilanku tidak mudah.”

Raka menatap foto itu.

“Empat?”

“Dokter juga terkejut. Awalnya mereka menduga lebih dari satu. Ternyata empat.”

Nadira tersenyum tipis.

“Mereka lahir lebih awal.”

Wajah Raka berubah.

“Apakah mereka—”

“Mereka baik-baik saja sekarang.”

Nadira menggeser foto.

Ada gambar dirinya duduk di samping inkubator.

Wajahnya pucat.

Tubuhnya terlihat lelah.

Sendirian.

Raka sulit melihatnya.

“Aku minta maaf.”

“Jangan minta maaf untuk setiap foto.”

Nadira mematikan layar.

“Kalau kamu benar-benar menyesal, buktikan dengan apa yang kamu lakukan mulai sekarang.”


Pertemuan pertama terjadi tiga minggu kemudian.

Bukan di rumah Nadira.

Bukan di rumah Raka.

Tetapi di taman kecil milik salah satu cabang Rumah Kecil.

Raka datang membawa empat hadiah.

Kemudian ia melihat Nadira dan langsung menyimpan hadiah itu kembali di mobil.

Ia sadar ia sedang mencoba membeli keberanian.

Ketika keempat anak datang, jantungnya berdebar lebih keras daripada saat menghadapi rapat bisnis terbesar dalam hidupnya.

Nadira memperkenalkan mereka.

Alya, yang paling banyak bertanya.

Aira, yang lebih pendiam.

Damar, yang memiliki lesung pipi Raka.

Dan Rafi, yang langsung memperhatikan jam tangan di pergelangan tangannya.

“Jam Om bagus.”

Raka hampir menangis hanya karena dipanggil Om.

Tetapi ia tersenyum.

“Terima kasih.”

Alya menatapnya curiga.

“Om teman Mama?”

Raka melihat Nadira.

Nadira tidak membantu.

Ia tahu ini pertanyaannya untuk dijawab.

“Dulu Om pernah menjadi orang yang sangat dekat dengan Mama.”

“Sekarang?”

Raka menelan ludah.

“Sekarang Om sedang belajar supaya bisa menjadi orang yang baik dalam hidup kalian.”

Alya mengerutkan kening.

Jawaban itu tampaknya terlalu rumit untuk anak lima tahun.

Ia kemudian menunjuk lapangan.

“Om bisa main bola?”

Raka tertawa.

“Sedikit.”

Lima menit kemudian jas mahal Raka sudah tergeletak di bangku dan celana panjangnya terkena tanah.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia tidak peduli.


Hubungan itu berkembang perlahan.

Sangat perlahan.

Raka tidak pernah datang tanpa izin.

Tidak pernah mengunggah foto mereka.

Tidak pernah membawa media.

Tidak pernah memperkenalkan mereka kepada keluarga besarnya tanpa persetujuan Nadira.

Ia mengikuti konseling keluarga.

Ia menjalani tes DNA bukan karena meragukan Nadira, tetapi karena Nadira sendiri ingin semua hal legal mengenai anak-anak jelas dan tidak bergantung pada emosi.

Hasilnya mengonfirmasi bahwa Raka adalah ayah biologis keempat anak tersebut.

Raka juga mulai memberikan dukungan finansial.

Namun Nadira menolak ketika ia menawarkan membayar semua pengeluaran lima tahun sebelumnya.

“Aku tidak menjual masa lalu mereka kepadamu.”

“Ini tanggung jawabku.”

“Kalau begitu mulai sekarang lakukan tanggung jawabmu. Masa lalu tidak bisa dibeli.”

Kalimat itu mengubah cara Raka melihat semuanya.

Ia berhenti mencoba membayar rasa bersalah.

Ia mulai hadir.

Ketika Damar demam, Raka datang membawa sup dan duduk di ruang tamu sampai Nadira menyuruhnya pulang.

Ketika Aira tampil dalam acara sekolah, ia duduk di baris belakang.

Ketika Rafi kehilangan gigi pertamanya, Raka menerima foto lewat WhatsApp dan tersenyum sepanjang rapat.

Dan suatu sore Alya berlari keluar dari kelas, melihatnya di gerbang, lalu berteriak,

“Om Raka!”

Raka berjongkok.

Alya memeluknya.

Ia menangis di mobil setelahnya.


Bu Ratna tidak bertemu anak-anak selama berbulan-bulan.

Raka tidak memutus hubungan dengan ibunya.

Tetapi ia memasang batas yang belum pernah ia pasang sebelumnya.

“Mama harus meminta maaf kepada Nadira.”

“Aku sudah menyesal.”

“Bukan kepadaku.”

Bu Ratna terdiam.

“Dan kalau suatu hari Nadira mengizinkan Mama bertemu anak-anak, jangan pernah bicara tentang penerus keluarga. Jangan bicara soal nama Mahendra. Jangan bicara soal siapa yang mirip siapa.”

“Mereka cucu Mama.”

“Mereka anak Nadira dan anakku sebelum mereka menjadi cucu siapa pun.”

Bu Ratna akhirnya meminta maaf.

Nadira menerima permintaan maaf itu.

Tetapi memaafkan tidak berarti menghapus batas.

Bu Ratna harus belajar hal tersebut.


Hampir setahun berlalu.

Raka dan Nadira tidak kembali menikah.

Tidak ada adegan dramatis di mana semua luka tiba-tiba hilang.

Kepercayaan tidak bekerja seperti itu.

Namun mereka menjadi orang tua bersama.

Dan perlahan, sesuatu yang pernah mati di antara mereka mulai berubah bentuk.

Bukan cinta lama.

Belum.

Mungkin tidak akan pernah sama.

Tetapi ada rasa hormat.

Ada percakapan.

Ada tawa yang sesekali kembali.

Suatu malam, setelah ulang tahun keenam anak-anak, Raka membantu Nadira membereskan meja.

Keempat anak sudah tertidur.

Raka menemukan sebuah kotak kecil di rak.

Kotak yang sama yang dulu dibeli Nadira untuk menyimpan alat tes kehamilan.

“Kamu masih menyimpannya?”

Nadira menatap kotak itu.

“Bukan untuk mengingat kamu.”

Raka tersenyum pahit.

“Aku tahu.”

“Aku menyimpannya untuk mengingat siapa diriku waktu itu.”

Raka tidak mengerti.

Nadira membuka kotak.

Di dalamnya ada secarik kertas lain.

Bukan surat untuk Raka.

Tulisan tangan Nadira sendiri.

Ia menulisnya pada malam Raka pergi.

Raka membaca:

Kalau suatu hari anak ini lahir, aku tidak akan pernah membuatnya merasa bahwa cinta harus diperoleh dengan memenuhi harapan seseorang.

Raka berhenti.

Matanya basah.

“Aku gagal melakukan itu kepadamu.”

Nadira mengangguk.

“Ya.”

Jawabannya jujur.

Tidak kejam.

Tidak pula mencoba menghiburnya.

Raka mengembalikan kertas itu.

“Aku tidak bisa mengubahnya.”

“Tidak.”

“Tapi aku bisa memastikan anak-anak kita tidak pernah merasakan hal yang sama.”

Untuk pertama kalinya malam itu, Nadira tersenyum.

“Kalau begitu lakukan.”


Beberapa bulan kemudian, Raka datang menjemput anak-anak untuk menghabiskan Sabtu bersama.

Mereka berencana pergi ke kebun binatang.

Damar dan Rafi sudah berebut tempat duduk.

Aira membawa tas berisi makanan ringan.

Alya keluar paling terakhir.

Ia berhenti di depan Raka.

“Om?”

“Ya?”

Alya tampak gugup.

“Aku boleh tanya sesuatu?”

“Tentu.”

“Kenapa Om sering datang sekarang?”

Pertanyaan itu membuat Raka terdiam.

Ia berjongkok agar sejajar dengan mata putrinya.

Karena Nadira dan konselor keluarga sepakat bahwa anak-anak sudah cukup besar untuk mulai mengetahui kebenaran dengan cara yang sesuai usia, Raka menjawab hati-hati.

“Karena dulu Om membuat kesalahan besar.”

“Kesalahan apa?”

“Om pergi ketika seharusnya Om tinggal dan mendengarkan Mama kalian.”

Alya memikirkan jawabannya.

“Terus?”

“Terus Om kehilangan banyak waktu bersama orang-orang yang ternyata sangat penting buat Om.”

Alya menatapnya.

“Siapa?”

Raka tersenyum.

“Kalian.”

Alya diam cukup lama.

Kemudian ia bertanya,

“Karena Om sebenarnya Papa kami?”

Raka membeku.

Ia menoleh.

Nadira berdiri di ambang pintu.

Ternyata anak-anak sudah mengetahui sebagian kebenaran dari percakapan yang dilakukan Nadira bersama konselor beberapa hari sebelumnya.

Raka kembali menatap Alya.

“Ya.”

Suara Raka pecah.

“Aku Papa kalian.”

Alya mengangguk seperti sedang menyelesaikan teka-teki sederhana.

“Oh.”

Kemudian ia berlari menuju mobil.

Raka hampir tertawa karena reaksinya begitu biasa.

Tetapi sebelum masuk, Alya berbalik.

“Papa!”

Raka berhenti bernapas.

Itu pertama kalinya.

Bukan Om Raka.

Bukan Pak Raka.

Papa.

“Ya?”

“Cepat! Nanti kebun binatangnya tutup!”

Raka menutup mulut dengan tangan.

Ia tertawa sambil menangis.

Dari pintu, Nadira juga tersenyum.

Bukan karena masa lalu telah diperbaiki.

Masa lalu tidak pernah bisa diperbaiki.

Tetapi karena untuk pertama kalinya, Raka memahami sesuatu yang seharusnya ia pahami enam tahun sebelumnya.

Menjadi ayah bukan tentang meneruskan nama keluarga.

Bukan tentang memiliki ahli waris.

Bukan tentang membuktikan sesuatu kepada orang tua.

Dan mencintai seseorang bukan berarti mereka harus memenuhi gambaran masa depan yang sudah kita susun untuk mereka.

Raka pernah meninggalkan perempuan yang dicintainya karena takut tidak akan pernah menjadi seorang ayah.

Pada akhirnya, justru keputusan itulah yang membuatnya kehilangan lima tahun pertama kehidupan keempat anaknya.

Namun Nadira mengajarkan sesuatu yang bahkan lebih penting.

Kesempatan kedua bukan berarti seseorang berhak mendapatkan kembali semua yang pernah ia buang.

Kesempatan kedua berarti diberi ruang untuk melakukan hal yang benar sekarang—tanpa menuntut masa lalu dikembalikan.

Raka mengambil tas anak-anak.

Sebelum berjalan menuju mobil, ia menoleh kepada Nadira.

“Kami pulang sebelum makan malam.”

Nadira mengangguk.

“Jangan terlalu banyak es krim.”

“Empat anak. Satu aku. Tidak ada janji.”

Nadira tertawa.

Suara itu membuat Raka tersenyum.

Lalu dari mobil terdengar empat suara memanggil hampir bersamaan.

“Papa!”

Raka berbalik.

Kali ini ia tidak menangis.

Ia berlari menghampiri mereka.

Karena setelah kehilangan hampir enam tahun untuk mengejar gambaran tentang keluarga yang sempurna, akhirnya Raka mengerti:

Keluarga bukanlah orang-orang yang memenuhi semua harapan kita.

Keluarga adalah orang-orang yang tetap kita pilih ketika hidup tidak berjalan seperti yang kita rencanakan.

Dan kali ini, Raka memilih untuk tetap tinggal.

TAMAT.