AKU PURA-PURA TERBANG KE SINGAPURA SETELAH CURIGA ADA SESUATU YANG MENGERIKAN TERJADI PADA KEDUA PUTRIKU SETIAP KALI AKU PERGI. TAPI ALIH-ALIH NAIK PESAWAT, AKU DIAM-DIAM KEMBALI KE RUMAH DAN MEMBUKA REKAMAN KAMERA KEAMANAN.
Empat puluh lima menit kemudian, aku keluar dari ruang keamanan dengan wajah pucat.
Aku tidak mencari pengasuh anak-anak.
Aku langsung mencari calon istriku sendiri.
Apa yang baru saja kulihat di layar sama sekali tidak pernah kubayangkan.
Dan sejak hari itu, keluargaku tidak pernah sama lagi.
BAGIAN 1
Aku mematikan lampu ruang kerja, mengambil tas kerja kulit dari atas meja, lalu turun ke lantai bawah untuk berpamitan kepada kedua putriku seolah-olah aku benar-benar akan pergi ke Singapura selama empat hari.
“Ayah cuma pergi sebentar,” kataku sambil merapikan jas. “Kalian baik-baik di rumah sama Mbak Sari, ya. Jumat Ayah sudah pulang.”
Putri sulungku, Alya, yang berusia sembilan tahun, langsung memeluk pinggangku.
Pelukannya begitu erat sampai aku berhenti sesaat.
Biasanya Alya tidak seperti itu.
Dia anak yang cukup mandiri.
Tapi pagi itu, tangannya seperti tidak mau melepaskanku.
“Ayah harus pergi lagi?”
Aku menunduk.
“Cuma ada pertemuan penting, Sayang.”
Adiknya, Naya, yang baru berusia enam tahun, berdiri di sebelahku sambil memeluk boneka kelinci lusuh berwarna putih.
Boneka itu sudah kehilangan sebelah pita di telinganya.
Tapi Naya tidak pernah mau menggantinya.
Itu hadiah terakhir dari almarhum ibunya.
“Ayah pulangnya jangan lama-lama.”
Aku tersenyum dan mengusap rambutnya.
“Enggak lama.”
Aku berbohong.
Tidak ada perjalanan bisnis.
Tidak ada penerbangan menuju Singapura.
Bahkan tidak ada kamar hotel yang kupesan.
Mobil yang membawaku keluar dari rumah hanya berputar menuju sebuah gedung kantor milikku di kawasan Jakarta Selatan.
Sekitar empat puluh lima menit kemudian, sebuah mobil lain membawaku kembali melalui akses servis di belakang kompleks rumah.
Bersamaku ada Pak Dedi, kepala keamanan yang sudah bekerja denganku selama bertahun-tahun.
Kami memasuki rumah tanpa melewati pintu utama.
Tidak seorang pun boleh tahu aku kembali.
Terutama Raisa.
Calon istriku.
Perempuan yang seharusnya kunikahi tiga bulan lagi.
Semuanya bermula dari percakapan malam sebelumnya.
Kami sedang makan malam ketika Raisa meletakkan sendoknya dan berkata pelan,
“Kamu terlalu percaya sama Sari.”
Aku mengangkat kepala.
Sari sudah hampir lima tahun bekerja di rumahku.
Awalnya dia hanya mengurus rumah.
Setelah istriku meninggal, tanpa pernah diminta, Sari perlahan menjadi sosok yang sangat dekat dengan Alya dan Naya.
Dia tahu makanan kesukaan mereka.
Dia hafal jadwal sekolah mereka.
Dia tahu Naya tidak bisa tidur kalau boneka kelincinya tidak ada di samping bantal.
Dan dia tahu Alya selalu diam ketika sedang sedih.
“Apa maksud kamu?” tanyaku.
Raisa menatapku beberapa detik sebelum menjawab.
“Ada beberapa barangku yang hilang.”
“Barang apa?”
“Anting berlian. Parfum. Sama uang tunai yang aku taruh di laci.”
Aku langsung meletakkan gelas.
“Kamu menuduh Sari mengambilnya?”
“Aku enggak menuduh siapa-siapa.”
Nada Raisa tetap tenang.
Justru terlalu tenang.
“Aku cuma minta kamu lebih peka.”
Aku tidak menjawab.
Raisa kemudian menyentuh tanganku.
“Dan ada satu hal lagi.”
“Apa?”
“Anak-anakmu terlalu dekat dengannya.”
Aku mengernyit.
“Itu masalah?”
“Mereka lebih mendengarkan Sari daripada aku.”
Aku menarik tanganku perlahan.
“Raisa, dia sudah bersama mereka sejak ibunya masih hidup.”
“Aku tahu.”
Raisa mendekat.
“Tapi sebentar lagi aku akan menjadi istrimu. Aku juga akan menjadi bagian dari keluarga ini.”
Aku tetap diam.
Kemudian Raisa mengatakan sesuatu yang terus berputar di kepalaku sampai dini hari.
“Setiap kamu pulang, anak-anak sering langsung diam. Tapi begitu Sari datang, mereka santai lagi. Pernah kepikiran enggak kenapa?”
Aku tidak menjawab.
“Perempuan itu tahu terlalu banyak tentang rumah ini,” lanjutnya. “Tentang jadwalmu, anak-anak, keuangan rumah, semuanya.”
Dia tersenyum tipis.
“Orang yang terlalu dipercaya kadang justru paling berbahaya.”
Malam itu aku hampir tidak tidur.
Masalahnya, kecurigaan bekerja seperti racun.
Begitu masuk ke pikiran, semua hal yang sebelumnya terlihat normal mendadak terasa mencurigakan.
Aku mulai memperhatikan bagaimana Alya selalu mencari Sari ketika pulang sekolah.
Bagaimana Naya sering berlari memeluknya.
Bagaimana mereka berdua bisa tertawa di dapur bersama Sari, tetapi mendadak lebih pendiam ketika aku dan Raisa masuk.
Aku mulai bertanya-tanya.
Apakah selama ini aku melewatkan sesuatu?
Apakah kedekatan mereka memang tidak sehat?
Atau lebih buruk lagi…
Apakah Sari mengatakan sesuatu tentangku kepada anak-anak?
Tiga bulan sebelumnya, aku baru menyelesaikan pembaruan sistem keamanan rumah.
Rumah kami berada di sebuah kawasan elite di Pondok Indah, Jakarta Selatan, dengan halaman luas, taman belakang, kolam renang, dan beberapa akses servis.
Lebih dari tiga puluh kamera beresolusi tinggi dipasang di area bersama.
Ruang keluarga.
Dapur.
Lorong.
Ruang makan.
Garasi.
Halaman.
Pintu masuk.
Tidak ada kamera di kamar tidur atau kamar mandi.
Aku selalu menjaga privasi keluargaku.
Tetapi kamera-kamera di area umum sudah lebih dari cukup untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi ketika semua orang mengira aku sedang berada di luar negeri.
Pak Dedi membawaku menuju ruang keamanan kecil di belakang garasi.
Pintu ditutup.
Aku duduk di depan deretan monitor.
Puluhan gambar langsung memenuhi layar.
“Semua kamera area umum aktif, Pak,” kata Dedi.
“Audio?”
“Aktif.”
Aku mengangguk.
“Jangan beri tahu siapa pun saya di sini.”
Pak Dedi menatapku.
“Termasuk Bu Raisa?”
Aku terdiam sebentar.
“Terutama Raisa.”
Lima belas menit pertama membuatku merasa bodoh.
Sari sedang membersihkan meja dapur.
Alya duduk membaca.
Naya menggambar di meja makan.
Tukang kebun bekerja di halaman belakang.
Tidak terjadi apa-apa.
Aku bahkan hampir berdiri.
Mungkin Raisa benar.
Mungkin aku sudah terlalu jauh.
Mungkin aku sedang mengawasi seorang perempuan yang sudah membantu keluargaku selama lima tahun hanya karena beberapa barang hilang.
Lalu Raisa muncul di layar ruang keluarga.
Aku kembali duduk.
Dan hanya dalam beberapa detik, seluruh tubuhku terasa dingin.
Perempuan yang kulihat di layar…
bukan Raisa yang kukenal.
Cara berjalannya berbeda.
Wajahnya berbeda.
Senyum lembut yang selalu dia tunjukkan ketika aku berada di rumah menghilang sepenuhnya.
Alya sedang duduk di karpet dekat sofa sambil membaca buku.
Naya berada di sampingnya sambil memeluk boneka kelinci.
Raisa berhenti di depan mereka.
“Kalian berdua.”
Alya langsung menutup bukunya.
Cepat sekali.
Terlalu cepat.
“Berapa kali Tante bilang jangan duduk-duduk di ruang utama kalau ayah kalian enggak ada?”
Naya langsung menundukkan kepala.
Aku menatap monitor tanpa berkedip.
Ada sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada nada bicara Raisa.
Reaksi anak-anakku.
Mereka tidak terkejut.
Mereka seperti sudah tahu apa yang harus dilakukan.
Seolah-olah mereka sudah berkali-kali menghadapi situasi yang sama.
“Ayo, berdiri.”
Alya segera berdiri.
Naya terlambat beberapa detik.
Raisa melihat boneka di tangannya.
“Kamu masih bawa barang jelek itu?”
Naya langsung memeluk bonekanya lebih erat.
“Itu dari Mama.”
Raisa menghela napas panjang.
Kemudian dia meraih boneka tersebut dari tangan Naya.
Aku otomatis maju mendekati monitor.
Naya mencoba mempertahankannya.
“Tante, jangan…”
Raisa mengambil boneka itu lalu meletakkannya di rak tinggi.
Jauh dari jangkauan Naya.
“Aku capek harus ngomong berkali-kali.”
Naya menatap bonekanya.
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Boleh Naya ambil?”
“Enggak.”
“Tapi itu punya Naya.”
“Kalau kamu bisa belajar nurut, nanti Tante pikirkan.”
Tanganku mengepal.
Di layar, Alya bergerak mendekati adiknya.
Kemudian sesuatu terjadi yang membuat dadaku terasa sesak.
Tanpa saling melihat, Alya meraih tangan Naya.
Naya langsung menggenggamnya.
Gerakan itu terlalu alami.
Terlalu terlatih.
Seolah-olah mereka sudah membuat kebiasaan kecil untuk saling menenangkan ketika aku tidak berada di rumah.
Saat itulah sebuah pikiran menghantamku.
Ini bukan pertama kalinya.
Aku menoleh kepada Pak Dedi.
Wajahnya juga berubah.
“Pak…”
Aku mengangkat tangan.
Aku belum sanggup mendengar apa pun.
Kemudian Sari masuk ke ruang keluarga.
Dia membawa keranjang kecil berisi pakaian yang baru dilipat.
Begitu melihat wajah Naya, langkahnya berhenti.
Sari menaruh keranjang tersebut.
Lalu berjalan mendekati anak-anak.
Dia tidak berteriak.
Tidak membuat keributan.
Dia hanya berdiri di antara Raisa dan kedua putriku.
“Bu Raisa,” katanya hati-hati. “Anak-anak tadi cuma baca sambil menunggu guru les datang.”
Raisa menatapnya.
“Aku tanya pendapat kamu?”
Sari terdiam.
“Enggak, Bu.”
“Kalau begitu jangan ikut campur.”
Sari tetap berdiri di sana.
Raisa melangkah lebih dekat.
“Kamu ini cuma bekerja di sini.”
Aku merasakan rahangku mengeras.
“Kamu bukan keluarga mereka.”
Sari tidak menjawab.
“Bukan ibu mereka.”
Sari menarik napas perlahan.
“Dan jangan pernah merasa kamu punya hak lebih besar atas anak-anak ini daripada aku.”
Alya langsung menunduk.
Raisa menunjuk tangga.
“Kalian naik ke kamar.”
Naya melihat bonekanya di rak.
“Bonekanya…”
“Nanti.”
“Please, Tante…”
“Aku bilang nanti.”
Naya maju satu langkah.
“Aku cuma mau ambil kelincinya.”
Raisa menghalangi.
Naya berhenti.
Kemudian dengan suara kecil dia berkata,
“Jangan marah sama Kak Alya. Kak Alya enggak salah.”
Aku merasa seperti ditampar.
Anakku yang baru berusia enam tahun sedang mencoba melindungi kakaknya.
Raisa meraih pergelangan tangan Naya.
Tidak sampai membuatnya jatuh, tetapi cukup keras hingga Naya langsung meringis.
Saat itulah Sari berubah.
Dia maju.
Tangannya menahan lengan Raisa.
“Jangan pegang dia seperti itu.”
Ruangan mendadak sunyi.
Raisa perlahan menoleh.
“Apa?”
Sari melepaskan tangannya, tetapi tetap berdiri di depan Naya.
“Saya bilang jangan pegang Naya seperti itu.”
Raisa tertawa kecil.
“Kamu lupa siapa yang bayar gaji kamu?”
“Saya enggak lupa.”
“Kalau begitu minggir.”
Sari tidak bergerak.
Aku berdiri dari kursiku.
Pak Dedi juga berdiri.
Tetapi sebelum aku sempat membuka pintu ruang keamanan, sesuatu terjadi di monitor.
Alya tiba-tiba berbicara.
“Mbak Sari, jangan.”
Sari menoleh.
Wajah Alya pucat.
“Kenapa?” tanya Sari lembut.
Alya menatap Raisa.
Kemudian dia mengatakan sesuatu yang membuatku membeku di tempat.
“Kalau Mbak Sari melawan lagi… nanti Tante Raisa kasih lihat Ayah video itu.”
Aku berhenti bernapas.
Video?
Video apa?
Sari langsung berubah pucat.
Raisa tidak lagi terlihat marah.
Sebaliknya…
dia tersenyum.
Perlahan.
Seolah-olah sebuah rahasia yang selama ini dia gunakan untuk mengendalikan seluruh rumah akhirnya terucapkan keras-keras.
Raisa membungkuk sedikit di depan Alya.
“Kamu anak pintar.”
Alya mundur.
“Makanya,” lanjut Raisa pelan, “kamu harus tahu kapan waktunya diam.”
Aku menoleh kepada Pak Dedi.
“Apa maksudnya video?”
Dia menggeleng.
“Saya enggak tahu, Pak.”
Di monitor, Sari meraih kedua anakku dan menarik mereka perlahan ke belakang tubuhnya.
“Anak-anak enggak ada hubungannya dengan urusan itu.”
Raisa tersenyum.
“Oh, justru mereka ada hubungannya.”
Kemudian Raisa mengeluarkan ponselnya.
Dia membuka sesuatu.
Sari langsung menegang.
Aku memperbesar kamera.
Layar ponsel Raisa tidak terlihat jelas dari sudut kamera.
Tetapi reaksinya sudah cukup.
Sari ketakutan.
Bukan karena dirinya sendiri.
Dia melihat Alya.
Lalu Naya.
Aku langsung meraih gagang pintu.
Namun suara Sari membuatku berhenti.
“Kalau Pak Arga sampai tahu apa yang sebenarnya terjadi malam itu, bukan cuma saya yang akan hancur.”
Jantungku seperti berhenti.
Pak Arga.
Aku.
Apa yang terjadi malam itu?
Raisa mendekat kepadanya.
“Makanya kamu harus tetap diam.”
Sari menatapnya.
“Berapa lama?”
“Sampai aku menikah dengan Arga.”
Aku membeku.
Raisa melanjutkan.
“Setelah itu, aku yang menentukan siapa yang tetap tinggal di rumah ini.”
Dia melirik kedua putriku.
“Dan siapa yang harus pergi.”
Saat itulah aku tidak bisa menunggu lagi.
Aku membuka pintu ruang keamanan.
Tapi sebelum melangkah keluar, Pak Dedi memegang lenganku.
“Pak Arga.”
Aku menoleh.
Wajahnya serius.
“Jangan masuk ke sana dulu.”
“Dia baru saja mengancam anak saya.”
“Saya tahu.”
“Lepaskan.”
“Bapak harus lihat satu rekaman lagi.”
Aku menatapnya.
Pak Dedi duduk kembali di depan komputer.
Tangannya bergerak cepat membuka arsip kamera.
“Apa ini?”
“Rekaman tiga minggu lalu.”
Sebuah video muncul.
Tanggal menunjukkan malam ketika aku sedang berada di Surabaya untuk urusan bisnis.
Ruang kerja pribadiku terlihat kosong.
Beberapa detik kemudian…
pintu terbuka.
Raisa masuk.
Dia melihat ke kiri dan kanan.
Kemudian seseorang menyusul dari belakang.
Aku mendekati monitor.
Orang kedua itu mengenakan pakaian staf rumah.
Aku langsung mengenalinya.
Sari.
Tapi yang terjadi berikutnya membuat seluruh asumsi di kepalaku runtuh.
Sari tidak membantu Raisa.
Dia berusaha menghentikannya.
Raisa membuka salah satu laci mejaku.
Sari mencoba menutupnya.
Mereka berdebat.
Kemudian Raisa mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.
Sebuah kotak kecil.
Kotak perhiasan.
Aku mengenalinya.
Anting berlian yang katanya dicuri Sari.
Raisa sendiri yang memegangnya.
Dia memasukkan kotak itu ke dalam lemari penyimpanan di belakang meja.
Lalu mengangkat ponselnya.
Mengambil foto.
Beberapa detik kemudian, Raisa berbalik ke arah Sari dan mengatakan sesuatu.
Audio rekaman terdengar jelas.
“Sekarang aku punya bukti kalau barangku ditemukan di area yang kamu urus.”
Sari menatapnya tidak percaya.
“Kenapa Ibu melakukan ini?”
Raisa mendekat.
“Karena aku butuh kamu keluar dari rumah ini.”
“Kenapa?”
Raisa tersenyum.
“Karena selama kamu masih di sini, anak-anak itu masih berani bicara.”
Aku merasakan darah seperti meninggalkan wajahku.
Ternyata sejak awal…
Sari bukan orang yang sedang kuselediki.
Dia sedang dijebak.
Tetapi masih ada sesuatu yang tidak kumengerti.
Aku menunjuk layar.
“Video yang tadi disebut Alya?”
Pak Dedi tidak menjawab.
Sebaliknya, dia membuka folder lain.
“Pak, ada satu hal yang belum pernah saya laporkan karena saya pikir hanya kerusakan sistem.”
“Apa?”
“Beberapa rekaman kamera rumah sempat dihapus secara manual.”
Aku menatapnya.
“Siapa yang punya akses?”
“Bapak.”
Dia berhenti.
“Saya.”
Kemudian dia menatapku.
“Dan akun administrator yang Bapak berikan kepada Bu Raisa setelah pertunangan.”
Dadaku terasa semakin berat.
“Tapi ada cadangan?”
Pak Dedi mengangguk.
“Server menyimpan salinan otomatis.”
Dia membuka satu file terakhir.
Video mulai diputar.
Aku melihat ruang keluarga.
Malam hari.
Alya berdiri di dekat tangga.
Naya tertidur di sofa.
Raisa sedang berbicara dengan seseorang.
Aku tidak bisa melihat wajah orang itu karena berdiri di luar sudut kamera.
Kemudian aku mendengar satu kalimat.
Suara laki-laki.
“Kalau Arga tahu alasan sebenarnya kamu mau menikah dengannya, semuanya selesai.”
Aku membeku.
Raisa menjawab,
“Dia enggak akan tahu.”
“Bagaimana dengan anak-anak?”
Raisa menoleh ke arah Alya.
“Mereka cuma anak kecil.”
Lalu Alya bergerak.
Raisa menyadari dia sedang mendengarkan.
Rekaman berhenti.
Aku menoleh tajam.
“Kenapa berhenti?”
Pak Dedi menatap layar.
“Karena bagian setelah ini dipindahkan ke folder lain.”
“Buka.”
Dia ragu.
“Buka sekarang.”
File berikutnya muncul.
Dan sebelum videonya sempat berjalan lima detik, aku akhirnya memahami kenapa Alya selalu diam setiap kali aku pulang.
Kenapa Naya selalu mencari Sari.
Kenapa Raisa begitu ingin menyingkirkan perempuan itu sebelum pernikahan kami.
Dan yang paling mengerikan…
aku akhirnya tahu siapa laki-laki yang selama ini diam-diam datang ke rumahku setiap kali aku bepergian.
Aku berdiri.
Tanganku gemetar.
Pak Dedi menatapku.
“Pak Arga, kita panggil polisi?”
Aku menatap pintu menuju rumah utama.
“Belum.”
Aku keluar dari ruang keamanan dengan wajah pucat.
Aku melewati dapur.
Melewati lorong.
Melewati tangga.
Dan langsung berjalan menuju ruang keluarga.
Menuju perempuan yang tiga bulan lagi seharusnya menjadi istriku.
Raisa menoleh ketika melihatku.
Wajahnya kehilangan warna.
“Arga?”
Aku tidak menjawab.
Dia menatapku seolah sedang melihat hantu.
“Kamu… bukannya sudah berangkat?”
Aku berjalan melewatinya.
Mengambil boneka kelinci dari rak.
Lalu berlutut dan menyerahkannya kembali kepada Naya.
Putriku langsung memeluk leherku.
Aku memandang Alya.
“Sayang.”
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Ayah sudah lihat semuanya.”
Alya langsung menangis.
Bukan tangisan takut.
Tangisan lega.
Seolah-olah selama berbulan-bulan dia menunggu seseorang akhirnya mengatakan kalimat itu.
Aku berdiri perlahan.
Kemudian menatap Raisa.
“Aku juga sudah lihat rekaman yang kamu hapus.”
Raisa mundur satu langkah.
Dan untuk pertama kalinya sejak mengenalnya…
aku melihat ketakutan sungguhan di wajahnya.
Karena sekarang aku tahu bahwa masalah di rumah ini bukan sekadar tentang beberapa barang yang hilang.
Bukan sekadar tentang bagaimana dia memperlakukan anak-anakku ketika aku pergi.
Ada alasan lain kenapa Raisa ingin menikah denganku secepat mungkin.
Ada alasan kenapa dia menjebak Sari.
Dan ada alasan kenapa seorang laki-laki yang sangat kukenal diam-diam masuk ke rumahku setiap kali aku bepergian.
Masalahnya…
laki-laki itu bukan orang asing.
Dia adalah seseorang yang selama bertahun-tahun kupercaya dengan hidupku sendiri.
Dan ketika aku akhirnya menyebut namanya di depan Raisa…
Sari menutup mulutnya.
Alya mulai menangis lagi.
Sedangkan Raisa hanya mengucapkan empat kata yang membuat semuanya jauh lebih buruk.
“Arga… kamu belum tahu semuanya.”
AKU PURA-PURA TERBANG KE SINGAPURA SETELAH CURIGA ADA SESUATU YANG MENGERIKAN TERJADI PADA KEDUA PUTRIKU SETIAP KALI AKU PERGI. TAPI ALIH-ALIH NAIK PESAWAT, AKU DIAM-DIAM KEMBALI KE RUMAH DAN MEMBUKA REKAMAN KAMERA KEAMANAN.
Empat puluh lima menit kemudian, aku keluar dari ruang keamanan dengan wajah pucat.
Aku tidak mencari pengasuh anak-anak.
Aku langsung mencari calon istriku sendiri.
Apa yang baru saja kulihat di layar sama sekali tidak pernah kubayangkan.
Dan sejak hari itu, keluargaku tidak pernah sama lagi.
BAGIAN 1
Aku mematikan lampu ruang kerja, mengambil tas kerja kulit dari atas meja, lalu turun ke lantai bawah untuk berpamitan kepada kedua putriku seolah-olah aku benar-benar akan pergi ke Singapura selama empat hari.
“Ayah cuma pergi sebentar,” kataku sambil merapikan jas. “Kalian baik-baik di rumah sama Mbak Sari, ya. Jumat Ayah sudah pulang.”
Putri sulungku, Alya, yang berusia sembilan tahun, langsung memeluk pinggangku.
Pelukannya begitu erat sampai aku berhenti sesaat.
Biasanya Alya tidak seperti itu.
Dia anak yang cukup mandiri.
Tapi pagi itu, tangannya seperti tidak mau melepaskanku.
“Ayah harus pergi lagi?”
Aku menunduk.
“Cuma ada pertemuan penting, Sayang.”
Adiknya, Naya, yang baru berusia enam tahun, berdiri di sebelahku sambil memeluk boneka kelinci lusuh berwarna putih.
Boneka itu sudah kehilangan sebelah pita di telinganya.
Tapi Naya tidak pernah mau menggantinya.
Itu hadiah terakhir dari almarhum ibunya.
“Ayah pulangnya jangan lama-lama.”
Aku tersenyum dan mengusap rambutnya.
“Enggak lama.”
Aku berbohong.
Tidak ada perjalanan bisnis.
Tidak ada penerbangan menuju Singapura.
Bahkan tidak ada kamar hotel yang kupesan.
Mobil yang membawaku keluar dari rumah hanya berputar menuju sebuah gedung kantor milikku di kawasan Jakarta Selatan.
Sekitar empat puluh lima menit kemudian, sebuah mobil lain membawaku kembali melalui akses servis di belakang kompleks rumah.
Bersamaku ada Pak Dedi, kepala keamanan yang sudah bekerja denganku selama bertahun-tahun.
Kami memasuki rumah tanpa melewati pintu utama.
Tidak seorang pun boleh tahu aku kembali.
Terutama Raisa.
Calon istriku.
Perempuan yang seharusnya kunikahi tiga bulan lagi.
Semuanya bermula dari percakapan malam sebelumnya.
Kami sedang makan malam ketika Raisa meletakkan sendoknya dan berkata pelan,
“Kamu terlalu percaya sama Sari.”
Aku mengangkat kepala.
Sari sudah hampir lima tahun bekerja di rumahku.
Awalnya dia hanya mengurus rumah.
Setelah istriku meninggal, tanpa pernah diminta, Sari perlahan menjadi sosok yang sangat dekat dengan Alya dan Naya.
Dia tahu makanan kesukaan mereka.
Dia hafal jadwal sekolah mereka.
Dia tahu Naya tidak bisa tidur kalau boneka kelincinya tidak ada di samping bantal.
Dan dia tahu Alya selalu diam ketika sedang sedih.
“Apa maksud kamu?” tanyaku.
Raisa menatapku beberapa detik sebelum menjawab.
“Ada beberapa barangku yang hilang.”
“Barang apa?”
“Anting berlian. Parfum. Sama uang tunai yang aku taruh di laci.”
Aku langsung meletakkan gelas.
“Kamu menuduh Sari mengambilnya?”
“Aku enggak menuduh siapa-siapa.”
Nada Raisa tetap tenang.
Justru terlalu tenang.
“Aku cuma minta kamu lebih peka.”
Aku tidak menjawab.
Raisa kemudian menyentuh tanganku.
“Dan ada satu hal lagi.”
“Apa?”
“Anak-anakmu terlalu dekat dengannya.”
Aku mengernyit.
“Itu masalah?”
“Mereka lebih mendengarkan Sari daripada aku.”
Aku menarik tanganku perlahan.
“Raisa, dia sudah bersama mereka sejak ibunya masih hidup.”
“Aku tahu.”
Raisa mendekat.
“Tapi sebentar lagi aku akan menjadi istrimu. Aku juga akan menjadi bagian dari keluarga ini.”
Aku tetap diam.
Kemudian Raisa mengatakan sesuatu yang terus berputar di kepalaku sampai dini hari.
“Setiap kamu pulang, anak-anak sering langsung diam. Tapi begitu Sari datang, mereka santai lagi. Pernah kepikiran enggak kenapa?”
Aku tidak menjawab.
“Perempuan itu tahu terlalu banyak tentang rumah ini,” lanjutnya. “Tentang jadwalmu, anak-anak, keuangan rumah, semuanya.”
Dia tersenyum tipis.
“Orang yang terlalu dipercaya kadang justru paling berbahaya.”
Malam itu aku hampir tidak tidur.
Masalahnya, kecurigaan bekerja seperti racun.
Begitu masuk ke pikiran, semua hal yang sebelumnya terlihat normal mendadak terasa mencurigakan.
Aku mulai memperhatikan bagaimana Alya selalu mencari Sari ketika pulang sekolah.
Bagaimana Naya sering berlari memeluknya.
Bagaimana mereka berdua bisa tertawa di dapur bersama Sari, tetapi mendadak lebih pendiam ketika aku dan Raisa masuk.
Aku mulai bertanya-tanya.
Apakah selama ini aku melewatkan sesuatu?
Apakah kedekatan mereka memang tidak sehat?
Atau lebih buruk lagi…
Apakah Sari mengatakan sesuatu tentangku kepada anak-anak?
Tiga bulan sebelumnya, aku baru menyelesaikan pembaruan sistem keamanan rumah.
Rumah kami berada di sebuah kawasan elite di Pondok Indah, Jakarta Selatan, dengan halaman luas, taman belakang, kolam renang, dan beberapa akses servis.
Lebih dari tiga puluh kamera beresolusi tinggi dipasang di area bersama.
Ruang keluarga.
Dapur.
Lorong.
Ruang makan.
Garasi.
Halaman.
Pintu masuk.
Tidak ada kamera di kamar tidur atau kamar mandi.
Aku selalu menjaga privasi keluargaku.
Tetapi kamera-kamera di area umum sudah lebih dari cukup untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi ketika semua orang mengira aku sedang berada di luar negeri.
Pak Dedi membawaku menuju ruang keamanan kecil di belakang garasi.
Pintu ditutup.
Aku duduk di depan deretan monitor.
Puluhan gambar langsung memenuhi layar.
“Semua kamera area umum aktif, Pak,” kata Dedi.
“Audio?”
“Aktif.”
Aku mengangguk.
“Jangan beri tahu siapa pun saya di sini.”
Pak Dedi menatapku.
“Termasuk Bu Raisa?”
Aku terdiam sebentar.
“Terutama Raisa.”
Lima belas menit pertama membuatku merasa bodoh.
Sari sedang membersihkan meja dapur.
Alya duduk membaca.
Naya menggambar di meja makan.
Tukang kebun bekerja di halaman belakang.
Tidak terjadi apa-apa.
Aku bahkan hampir berdiri.
Mungkin Raisa benar.
Mungkin aku sudah terlalu jauh.
Mungkin aku sedang mengawasi seorang perempuan yang sudah membantu keluargaku selama lima tahun hanya karena beberapa barang hilang.
Lalu Raisa muncul di layar ruang keluarga.
Aku kembali duduk.
Dan hanya dalam beberapa detik, seluruh tubuhku terasa dingin.
Perempuan yang kulihat di layar…
bukan Raisa yang kukenal.
Cara berjalannya berbeda.
Wajahnya berbeda.
Senyum lembut yang selalu dia tunjukkan ketika aku berada di rumah menghilang sepenuhnya.
Alya sedang duduk di karpet dekat sofa sambil membaca buku.
Naya berada di sampingnya sambil memeluk boneka kelinci.
Raisa berhenti di depan mereka.
“Kalian berdua.”
Alya langsung menutup bukunya.
Cepat sekali.
Terlalu cepat.
“Berapa kali Tante bilang jangan duduk-duduk di ruang utama kalau ayah kalian enggak ada?”
Naya langsung menundukkan kepala.
Aku menatap monitor tanpa berkedip.
Ada sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada nada bicara Raisa.
Reaksi anak-anakku.
Mereka tidak terkejut.
Mereka seperti sudah tahu apa yang harus dilakukan.
Seolah-olah mereka sudah berkali-kali menghadapi situasi yang sama.
“Ayo, berdiri.”
Alya segera berdiri.
Naya terlambat beberapa detik.
Raisa melihat boneka di tangannya.
“Kamu masih bawa barang jelek itu?”
Naya langsung memeluk bonekanya lebih erat.
“Itu dari Mama.”
Raisa menghela napas panjang.
Kemudian dia meraih boneka tersebut dari tangan Naya.
Aku otomatis maju mendekati monitor.
Naya mencoba mempertahankannya.
“Tante, jangan…”
Raisa mengambil boneka itu lalu meletakkannya di rak tinggi.
Jauh dari jangkauan Naya.
“Aku capek harus ngomong berkali-kali.”
Naya menatap bonekanya.
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Boleh Naya ambil?”
“Enggak.”
“Tapi itu punya Naya.”
“Kalau kamu bisa belajar nurut, nanti Tante pikirkan.”
Tanganku mengepal.
Di layar, Alya bergerak mendekati adiknya.
Kemudian sesuatu terjadi yang membuat dadaku terasa sesak.
Tanpa saling melihat, Alya meraih tangan Naya.
Naya langsung menggenggamnya.
Gerakan itu terlalu alami.
Terlalu terlatih.
Seolah-olah mereka sudah membuat kebiasaan kecil untuk saling menenangkan ketika aku tidak berada di rumah.
Saat itulah sebuah pikiran menghantamku.
Ini bukan pertama kalinya.
Aku menoleh kepada Pak Dedi.
Wajahnya juga berubah.
“Pak…”
Aku mengangkat tangan.
Aku belum sanggup mendengar apa pun.
Kemudian Sari masuk ke ruang keluarga.
Dia membawa keranjang kecil berisi pakaian yang baru dilipat.
Begitu melihat wajah Naya, langkahnya berhenti.
Sari menaruh keranjang tersebut.
Lalu berjalan mendekati anak-anak.
Dia tidak berteriak.
Tidak membuat keributan.
Dia hanya berdiri di antara Raisa dan kedua putriku.
“Bu Raisa,” katanya hati-hati. “Anak-anak tadi cuma baca sambil menunggu guru les datang.”
Raisa menatapnya.
“Aku tanya pendapat kamu?”
Sari terdiam.
“Enggak, Bu.”
“Kalau begitu jangan ikut campur.”
Sari tetap berdiri di sana.
Raisa melangkah lebih dekat.
“Kamu ini cuma bekerja di sini.”
Aku merasakan rahangku mengeras.
“Kamu bukan keluarga mereka.”
Sari tidak menjawab.
“Bukan ibu mereka.”
Sari menarik napas perlahan.
“Dan jangan pernah merasa kamu punya hak lebih besar atas anak-anak ini daripada aku.”
Alya langsung menunduk.
Raisa menunjuk tangga.
“Kalian naik ke kamar.”
Naya melihat bonekanya di rak.
“Bonekanya…”
“Nanti.”
“Please, Tante…”
“Aku bilang nanti.”
Naya maju satu langkah.
“Aku cuma mau ambil kelincinya.”
Raisa menghalangi.
Naya berhenti.
Kemudian dengan suara kecil dia berkata,
“Jangan marah sama Kak Alya. Kak Alya enggak salah.”
Aku merasa seperti ditampar.
Anakku yang baru berusia enam tahun sedang mencoba melindungi kakaknya.
Raisa meraih pergelangan tangan Naya.
Tidak sampai membuatnya jatuh, tetapi cukup keras hingga Naya langsung meringis.
Saat itulah Sari berubah.
Dia maju.
Tangannya menahan lengan Raisa.
“Jangan pegang dia seperti itu.”
Ruangan mendadak sunyi.
Raisa perlahan menoleh.
“Apa?”
Sari melepaskan tangannya, tetapi tetap berdiri di depan Naya.
“Saya bilang jangan pegang Naya seperti itu.”
Raisa tertawa kecil.
“Kamu lupa siapa yang bayar gaji kamu?”
“Saya enggak lupa.”
“Kalau begitu minggir.”
Sari tidak bergerak.
Aku berdiri dari kursiku.
Pak Dedi juga berdiri.
Tetapi sebelum aku sempat membuka pintu ruang keamanan, sesuatu terjadi di monitor.
Alya tiba-tiba berbicara.
“Mbak Sari, jangan.”
Sari menoleh.
Wajah Alya pucat.
“Kenapa?” tanya Sari lembut.
Alya menatap Raisa.
Kemudian dia mengatakan sesuatu yang membuatku membeku di tempat.
“Kalau Mbak Sari melawan lagi… nanti Tante Raisa kasih lihat Ayah video itu.”
Aku berhenti bernapas.
Video?
Video apa?
Sari langsung berubah pucat.
Raisa tidak lagi terlihat marah.
Sebaliknya…
dia tersenyum.
Perlahan.
Seolah-olah sebuah rahasia yang selama ini dia gunakan untuk mengendalikan seluruh rumah akhirnya terucapkan keras-keras.
Raisa membungkuk sedikit di depan Alya.
“Kamu anak pintar.”
Alya mundur.
“Makanya,” lanjut Raisa pelan, “kamu harus tahu kapan waktunya diam.”
Aku menoleh kepada Pak Dedi.
“Apa maksudnya video?”
Dia menggeleng.
“Saya enggak tahu, Pak.”
Di monitor, Sari meraih kedua anakku dan menarik mereka perlahan ke belakang tubuhnya.
“Anak-anak enggak ada hubungannya dengan urusan itu.”
Raisa tersenyum.
“Oh, justru mereka ada hubungannya.”
Kemudian Raisa mengeluarkan ponselnya.
Dia membuka sesuatu.
Sari langsung menegang.
Aku memperbesar kamera.
Layar ponsel Raisa tidak terlihat jelas dari sudut kamera.
Tetapi reaksinya sudah cukup.
Sari ketakutan.
Bukan karena dirinya sendiri.
Dia melihat Alya.
Lalu Naya.
Aku langsung meraih gagang pintu.
Namun suara Sari membuatku berhenti.
“Kalau Pak Arga sampai tahu apa yang sebenarnya terjadi malam itu, bukan cuma saya yang akan hancur.”
Jantungku seperti berhenti.
Pak Arga.
Aku.
Apa yang terjadi malam itu?
Raisa mendekat kepadanya.
“Makanya kamu harus tetap diam.”
Sari menatapnya.
“Berapa lama?”
“Sampai aku menikah dengan Arga.”
Aku membeku.
Raisa melanjutkan.
“Setelah itu, aku yang menentukan siapa yang tetap tinggal di rumah ini.”
Dia melirik kedua putriku.
“Dan siapa yang harus pergi.”
Saat itulah aku tidak bisa menunggu lagi.
Aku membuka pintu ruang keamanan.
Tapi sebelum melangkah keluar, Pak Dedi memegang lenganku.
“Pak Arga.”
Aku menoleh.
Wajahnya serius.
“Jangan masuk ke sana dulu.”
“Dia baru saja mengancam anak saya.”
“Saya tahu.”
“Lepaskan.”
“Bapak harus lihat satu rekaman lagi.”
Aku menatapnya.
Pak Dedi duduk kembali di depan komputer.
Tangannya bergerak cepat membuka arsip kamera.
“Apa ini?”
“Rekaman tiga minggu lalu.”
Sebuah video muncul.
Tanggal menunjukkan malam ketika aku sedang berada di Surabaya untuk urusan bisnis.
Ruang kerja pribadiku terlihat kosong.
Beberapa detik kemudian…
pintu terbuka.
Raisa masuk.
Dia melihat ke kiri dan kanan.
Kemudian seseorang menyusul dari belakang.
Aku mendekati monitor.
Orang kedua itu mengenakan pakaian staf rumah.
Aku langsung mengenalinya.
Sari.
Tapi yang terjadi berikutnya membuat seluruh asumsi di kepalaku runtuh.
Sari tidak membantu Raisa.
Dia berusaha menghentikannya.
Raisa membuka salah satu laci mejaku.
Sari mencoba menutupnya.
Mereka berdebat.
Kemudian Raisa mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.
Sebuah kotak kecil.
Kotak perhiasan.
Aku mengenalinya.
Anting berlian yang katanya dicuri Sari.
Raisa sendiri yang memegangnya.
Dia memasukkan kotak itu ke dalam lemari penyimpanan di belakang meja.
Lalu mengangkat ponselnya.
Mengambil foto.
Beberapa detik kemudian, Raisa berbalik ke arah Sari dan mengatakan sesuatu.
Audio rekaman terdengar jelas.
“Sekarang aku punya bukti kalau barangku ditemukan di area yang kamu urus.”
Sari menatapnya tidak percaya.
“Kenapa Ibu melakukan ini?”
Raisa mendekat.
“Karena aku butuh kamu keluar dari rumah ini.”
“Kenapa?”
Raisa tersenyum.
“Karena selama kamu masih di sini, anak-anak itu masih berani bicara.”
Aku merasakan darah seperti meninggalkan wajahku.
Ternyata sejak awal…
Sari bukan orang yang sedang kuselediki.
Dia sedang dijebak.
Tetapi masih ada sesuatu yang tidak kumengerti.
Aku menunjuk layar.
“Video yang tadi disebut Alya?”
Pak Dedi tidak menjawab.
Sebaliknya, dia membuka folder lain.
“Pak, ada satu hal yang belum pernah saya laporkan karena saya pikir hanya kerusakan sistem.”
“Apa?”
“Beberapa rekaman kamera rumah sempat dihapus secara manual.”
Aku menatapnya.
“Siapa yang punya akses?”
“Bapak.”
Dia berhenti.
“Saya.”
Kemudian dia menatapku.
“Dan akun administrator yang Bapak berikan kepada Bu Raisa setelah pertunangan.”
Dadaku terasa semakin berat.
“Tapi ada cadangan?”
Pak Dedi mengangguk.
“Server menyimpan salinan otomatis.”
Dia membuka satu file terakhir.
Video mulai diputar.
Aku melihat ruang keluarga.
Malam hari.
Alya berdiri di dekat tangga.
Naya tertidur di sofa.
Raisa sedang berbicara dengan seseorang.
Aku tidak bisa melihat wajah orang itu karena berdiri di luar sudut kamera.
Kemudian aku mendengar satu kalimat.
Suara laki-laki.
“Kalau Arga tahu alasan sebenarnya kamu mau menikah dengannya, semuanya selesai.”
Aku membeku.
Raisa menjawab,
“Dia enggak akan tahu.”
“Bagaimana dengan anak-anak?”
Raisa menoleh ke arah Alya.
“Mereka cuma anak kecil.”
Lalu Alya bergerak.
Raisa menyadari dia sedang mendengarkan.
Rekaman berhenti.
Aku menoleh tajam.
“Kenapa berhenti?”
Pak Dedi menatap layar.
“Karena bagian setelah ini dipindahkan ke folder lain.”
“Buka.”
Dia ragu.
“Buka sekarang.”
File berikutnya muncul.
Dan sebelum videonya sempat berjalan lima detik, aku akhirnya memahami kenapa Alya selalu diam setiap kali aku pulang.
Kenapa Naya selalu mencari Sari.
Kenapa Raisa begitu ingin menyingkirkan perempuan itu sebelum pernikahan kami.
Dan yang paling mengerikan…
aku akhirnya tahu siapa laki-laki yang selama ini diam-diam datang ke rumahku setiap kali aku bepergian.
Aku berdiri.
Tanganku gemetar.
Pak Dedi menatapku.
“Pak Arga, kita panggil polisi?”
Aku menatap pintu menuju rumah utama.
“Belum.”
Aku keluar dari ruang keamanan dengan wajah pucat.
Aku melewati dapur.
Melewati lorong.
Melewati tangga.
Dan langsung berjalan menuju ruang keluarga.
Menuju perempuan yang tiga bulan lagi seharusnya menjadi istriku.
Raisa menoleh ketika melihatku.
Wajahnya kehilangan warna.
“Arga?”
Aku tidak menjawab.
Dia menatapku seolah sedang melihat hantu.
“Kamu… bukannya sudah berangkat?”
Aku berjalan melewatinya.
Mengambil boneka kelinci dari rak.
Lalu berlutut dan menyerahkannya kembali kepada Naya.
Putriku langsung memeluk leherku.
Aku memandang Alya.
“Sayang.”
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Ayah sudah lihat semuanya.”
Alya langsung menangis.
Bukan tangisan takut.
Tangisan lega.
Seolah-olah selama berbulan-bulan dia menunggu seseorang akhirnya mengatakan kalimat itu.
Aku berdiri perlahan.
Kemudian menatap Raisa.
“Aku juga sudah lihat rekaman yang kamu hapus.”
Raisa mundur satu langkah.
Dan untuk pertama kalinya sejak mengenalnya…
aku melihat ketakutan sungguhan di wajahnya.
Karena sekarang aku tahu bahwa masalah di rumah ini bukan sekadar tentang beberapa barang yang hilang.
Bukan sekadar tentang bagaimana dia memperlakukan anak-anakku ketika aku pergi.
Ada alasan lain kenapa Raisa ingin menikah denganku secepat mungkin.
Ada alasan kenapa dia menjebak Sari.
Dan ada alasan kenapa seorang laki-laki yang sangat kukenal diam-diam masuk ke rumahku setiap kali aku bepergian.
Masalahnya…
laki-laki itu bukan orang asing.
Dia adalah seseorang yang selama bertahun-tahun kupercaya dengan hidupku sendiri.
Dan ketika aku akhirnya menyebut namanya di depan Raisa…
Sari menutup mulutnya.
Alya mulai menangis lagi.
Sedangkan Raisa hanya mengucapkan empat kata yang membuat semuanya jauh lebih buruk.
“Arga… kamu belum tahu semuanya.”
BERSAMBUNG…

