SELAMA DELAPAN BULAN, ISTRIKU SELALU PULANG DENGAN BERJALAN KAKI—SAMPAI SUATU SORE SAAT HUJAN DERAS, AKU MENEMUKAN MOTOR YANG KUBELIKAN UNTUKNYA TERNYATA DIPAKAI ORANG LAIN
Selama delapan bulan, istriku selalu mengatakan bahwa dia lebih suka berjalan kaki dari halte bus menuju rumah.
Aku mempercayainya.
Sampai sore itu.
Namaku Arif, umurku tiga puluh tahun. Aku bekerja sebagai pengawas di sebuah perusahaan konstruksi di kota besar.
Istriku, Sari, bekerja sebagai staf administrasi di sebuah sekolah swasta.
Kami sudah menikah selama tiga tahun.

Setelah menikah, demi menghemat pengeluaran, kami tinggal bersama kedua orang tuaku dan adik laki-lakiku di sebuah rumah dua lantai milik keluarga.
Sari tidak pernah mengeluh.
Bahkan ketika dia harus bangun pukul lima pagi untuk menyiapkan sarapan bagi seluruh keluarga sebelum berangkat kerja, dia tetap tersenyum.
—Tidak apa-apa, Mas. Ibu sudah semakin tua. Selama aku masih bisa melakukannya, biar aku saja.
Delapan bulan lalu, aku menggunakan seluruh bonus akhir tahunku untuk membelikan Sari sebuah sepeda motor baru.
Bukan motor paling mahal, tetapi cukup bagus agar dia tidak perlu lagi berdesakan di bus setiap hari.
Pada hari motor itu datang, Sari sangat bahagia.
Dia berdiri di halaman sambil membersihkan kaca spion berkali-kali, seolah takut ada sedikit debu yang menempel.
Dia bahkan mengambil foto motor itu dan mengirimkannya kepadaku.
“Ini hadiah terbesar yang pernah aku terima.”
Namun, sekitar dua minggu kemudian, Sari tiba-tiba berhenti menggunakan motor tersebut.
Dia mengatakan jalan menuju tempat kerjanya sering macet dan tempat parkir juga sulit ditemukan, jadi dia lebih memilih naik bus.
Aku tidak pernah curiga.
Sampai Jumat sore itu.
Hujan deras membuat pekerjaan di proyek harus dihentikan lebih awal.
Sekitar pukul empat sore, aku mengendarai mobil pulang.
Ketika jarak rumah tinggal beberapa ruas jalan, aku melihat sebuah sepeda motor yang sangat kukenal terparkir di depan sebuah kafe.
Warnanya.
Nomor polisinya.
Bahkan goresan kecil di sisi kiri bodinya akibat keteledoranku ketika membawa motor itu pulang dari dealer.
Aku langsung mengenalinya.
Itu motor Sari.
Namun orang yang keluar dari kafe bukanlah istriku.
Melainkan adik laki-lakiku, Dimas.
Dia mengenakan kemeja baru dan jam tangan mengilap. Satu tangannya memegang ponsel, sementara tangan lainnya memutar-mutar kunci motor.
Seorang perempuan muda berlari keluar menyusulnya.
—Malam ini jangan lupa jemput aku, ya!
Dimas tersenyum santai.
—Tenang saja. Motor ini milikku, kok.
Aku membeku di balik kemudi.
Miliknya?
Aku langsung menelepon Sari.
Setelah tiga kali nada sambung, barulah dia mengangkat telepon.
Di seberang terdengar sangat bising. Ada suara kendaraan dan hujan.
—Mas menelepon?
—Kamu di mana?
Sari terdiam selama dua detik.
—Aku baru pulang kerja. Sedang menunggu bus.
Aku menatap melalui kaca depan mobil.
Dimas sudah mengenakan helm dan melaju pergi dengan motor milik istriku.
Tanganku menggenggam ponsel semakin erat.
—Motormu di mana?
Kali ini Sari terdiam cukup lama.
—Motor… ada di rumah.
Aku tidak bertanya lagi.
Aku langsung pulang.
Ibu sedang duduk di ruang tamu menonton televisi.
Begitu melihatku, dia tampak terkejut.
—Kenapa hari ini kamu pulang cepat?
Aku meletakkan kunci mobil di atas meja.
—Motor Sari di mana, Bu?
Tatapan Ibu langsung berubah.
Namun hanya beberapa detik kemudian, dia menjawab dengan tenang.
—Dipinjam Dimas beberapa hari.
—Beberapa hari?
Aku tertawa kecil.
—Aku baru saja melihat dia mengatakan kepada orang lain bahwa motor itu miliknya.
Ibu mematikan televisi.
—Kalian saudara kandung. Kenapa harus perhitungan hanya karena sebuah motor? Dimas membutuhkannya untuk bertemu klien. Istrimu masih bisa naik bus.
Aku menatapnya.
—Sari setuju?
—Tentu saja.
Jawabannya terlalu cepat.
Begitu cepat hingga aku langsung tahu bahwa itu bohong.
Tepat pukul tujuh lewat empat puluh menit, pintu rumah terbuka.
Sari masuk.
Celana panjangnya basah sampai ke lutut.
Sepatu kainnya dipenuhi cipratan air kotor.
Rambutnya menempel di kedua sisi wajah.
Di tangannya terdapat payung yang salah satu tulangnya sudah patah.
Begitu melihatku, Sari berhenti melangkah.
—Mas pulang cepat hari ini?
Aku tidak menjawab.
Aku berjalan menghampirinya dan mengambil tas dari tangannya.
Tas itu terasa sangat ringan.
Di dalamnya hanya ada dompet, ponsel, dan kotak makan kosong.
Aku menatapnya.
—Sari, selama delapan bulan ini kamu pergi kerja naik apa?
Dia melirik ke arah ibuku.
Hanya satu tatapan itu sudah cukup membuat dadaku terasa dingin.
—Bus.
—Lalu motormu?
—Dimas lebih membutuhkannya daripada aku.
—Siapa yang mengatakan itu?
Sari menundukkan kepala.
Ibu langsung menyela.
—Ibu yang bilang! Memangnya kenapa? Dimas itu adikmu. Kalau nanti pekerjaannya sukses, seluruh keluarga juga ikut senang.
Aku kembali menatap Sari.
—Berikan kunci cadangannya kepadaku.
Wajah Sari tiba-tiba memucat.
—Sudah tidak ada.
—Kenapa?
Ibu langsung berdiri.
—Arif! Sudah cukup!
Reaksi itu justru membuatku semakin yakin ada sesuatu yang disembunyikan.
Aku langsung naik ke kamar.
Di dalam laci lemari, surat kendaraan yang sebelumnya kusimpan di sebuah map sudah menghilang.
Aku mengobrak-abrik seluruh isi laci.
Tidak ada.
Aku turun kembali.
—Surat-surat motor di mana?
Tak seorang pun menjawab.
Tepat pada saat itu, Dimas pulang.
Begitu melewati pintu dan melihatku, senyum di wajahnya langsung menghilang.
Aku mengulurkan tangan.
—Kuncinya.
—Mas…
—Berikan kepadaku.
Dimas menoleh kepada Ibu.
Ibu langsung berdiri di depannya.
—Cuma sebuah motor! Kamu sebagai kakak tidak bisa mengalah sedikit kepada adikmu?
—Aku membeli motor itu untuk istriku.
—Tapi Dimas sudah menjual motor lamanya!
Aku terdiam.
—Dia punya motor sebelumnya?
Ruangan langsung sunyi.
Aku bahkan tidak pernah tahu bahwa Dimas memiliki motor sendiri.
Dimas mengatupkan rahangnya.
—Bu, sudah.
Aku menatap mereka satu per satu.
Kemudian aku melihat Sari.
Dia masih berdiri di dekat pintu, kedua tangannya yang dingin mencengkeram ujung bajunya.
Aku menghampirinya.
—Apa lagi yang belum aku ketahui?
Sari menggeleng.
Namun matanya sudah memerah.
Aku memegang pergelangan tangannya.
—Katakan kepadaku.
—Mas Arif…
—Aku ingin mendengarnya langsung darimu.
Setetes air mata jatuh dari matanya.
Sari perlahan membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah amplop kusut.
Dia meletakkannya di atas meja.
Aku membukanya.
Di dalamnya terdapat tiga bukti transfer.
Setiap bulan, ada sejumlah uang yang nilainya hampir setengah dari gaji Sari.
Penerimanya selalu sama.
Dimas.
Aku langsung mengangkat kepala.
—Apa ini?
Sari belum sempat menjawab ketika Ibu merebut amplop itu.
—Uang dalam keluarga sendiri, kenapa harus dijelaskan?
Aku membeku.
Sari akhirnya menangis.
—Bukan hanya uang itu, Mas.
Seluruh ruangan mendadak sunyi.
Sari menatapku dengan suara gemetar.
—Delapan bulan lalu, Ibu menyuruhku memberikan motor itu kepada Dimas. Setelah itu, Ibu juga memintaku mentransfer uang setiap bulan untuk membantu Dimas membayar utangnya. Ketika aku menolak…
Sari berhenti.
—Ketika kamu menolak, apa?
Dia menatap sebuah lemari kayu di ruang tamu.
—Ibu bilang kalau aku menceritakan semuanya kepadamu, Ibu akan menunjukkan sesuatu yang ada di dalam laci itu kepadamu.
Aku langsung menoleh.
Ibu tiba-tiba berlari menuju lemari.
Namun aku lebih cepat.
Aku menarik laci paling bawah.
Tidak ada uang.
Tidak ada surat kendaraan.
Hanya sebuah map cokelat yang diikat dengan tali.
Namaku tertulis di bagian depannya.
Di bawahnya terdapat tanggal hampir tiga tahun lalu.
Aku hendak membukanya ketika Ibu berteriak.
—Arif! Jangan dibuka!
Wajah Dimas langsung pucat.
Ayah keluar dari kamar.
Begitu melihat map di tanganku, dia berhenti dan membeku.
Hanya Sari yang terus menangis.
Aku melepaskan tali yang mengikat map tersebut.
Lembar pertama jatuh ke lantai.
Itu sebuah surat perjanjian yang sudah ditandatangani.
Tanda tangan di sana terlihat persis seperti tanda tanganku.
Tetapi aku tidak pernah menandatanganinya.
Aku membungkuk dan membaca kalimat pertama.
Saat melihat isi perjanjian tersebut, seluruh tubuhku terasa dingin.
Karena ternyata apa yang selama delapan bulan terakhir diambil keluargaku dari Sari…
sama sekali bukan bagian yang paling mengerikan.
Aku mengangkat kepala dan menatap Ibu.
—Ibu jelaskan sekarang.
Bibirnya bergetar.
Namun orang yang menjawab justru Ayah.
Dia menatapku dengan wajah berat, suaranya terdengar serak.
—Arif… kalau kamu sudah membuka map itu, kamu juga berhak mengetahui kebenaran tentang pernikahanmu.
Tangisan Sari mendadak semakin keras.
Aku langsung menoleh kepadanya.
—Kebenaran apa?
Ayah berjalan mendekat dan mengambil lembar kertas yang terjatuh di lantai.
Dia menatapku cukup lama sebelum akhirnya berkata:
—Tiga tahun lalu, tepat sebelum kamu menikahi Sari… ibumu dan Dimas melakukan sesuatu yang sampai hari ini masih harus dibayar oleh Sari untuk menggantikan mereka.
Wajah Dimas menjadi putih seperti kertas.
Ibu berteriak:
—Diam!
Namun semuanya sudah terlambat.
Ayah membalik halaman kedua.
Dan tepat di tengah lembar kertas itu terdapat sebuah angka yang begitu besar hingga membuatku seakan lupa bagaimana caranya bernapas…
BAGIAN 2
Rp480.000.000.
Aku membaca angka itu sekali.
Lalu dua kali.
Tanganku mulai gemetar.
—Empat ratus delapan puluh juta?
Aku menatap Ayah.
—Uang apa ini?
Tak seorang pun menjawab.
Di halaman kedua tertulis bahwa aku memiliki kewajiban pembayaran sebesar Rp480 juta kepada seseorang yang namanya sama sekali tidak kukenal.
Di bagian bawah terdapat tanda tanganku.
Setidaknya, tanda tangan yang dibuat menyerupai milikku.
—Aku tidak pernah meminjam uang sebanyak ini.
Aku menoleh kepada Dimas.
—Kamu tahu soal ini?
Dimas menunduk.
Ibu tiba-tiba merebut dokumen itu.
—Sudahlah! Itu masalah lama!
Aku menarik kembali map tersebut.
—Masalah lama?
Suaraku mulai meninggi.
—Ada tanda tanganku pada surat utang hampir setengah miliar rupiah dan Ibu menyebutnya masalah lama?
—Ibu melakukan semuanya untuk keluarga!
—Keluarga yang mana?
Pertanyaanku membuat Ibu terdiam.
Ayah akhirnya duduk.
Wajahnya seperti bertambah tua sepuluh tahun hanya dalam beberapa menit.
—Tiga tahun lalu, Dimas punya usaha kecil bersama temannya.
Aku mengerutkan kening.
Aku ingat.
Beberapa bulan sebelum pernikahanku, Dimas memang pernah mengatakan sedang mencoba bisnis distribusi barang.
Namun kemudian dia berkata bisnis itu gagal dan modalnya hanya puluhan juta.
Ayah melanjutkan.
—Dia berutang jauh lebih besar daripada yang kamu tahu.
Dimas mengepalkan tangan.
—Ayah…
—Biarkan kakakmu tahu.
Ayah menatapku.
—Saat itu, orang-orang yang memberi modal menuntut uang mereka kembali. Ibumu panik. Dia mengambil salinan KTP dan beberapa dokumenmu, lalu membuat surat perjanjian seolah-olah kamu menjadi penjamin.
Kepalaku berdengung.
—Tanda tangan ini?
Ayah menutup mata.
—Dipalsukan.
Aku hampir tertawa karena terlalu marah.
—Lalu apa hubungannya dengan Sari?
Kali ini semua orang diam.
Sari yang menjawab.
—Karena aku mengetahuinya.
Aku menoleh.
Sari mengusap air matanya.
—Seminggu sebelum pernikahan kita, aku datang ke rumah untuk mengantar sesuatu. Aku mendengar Ibu dan Dimas bertengkar. Aku melihat dokumen itu.
—Kenapa kamu tidak memberitahuku?
Sari menangis.
—Aku mau memberitahumu.
Dia menarik napas.
—Tapi malam itu Ibu datang menemuiku.
Aku menatap Ibu.
Wajahnya pucat.
—Apa yang Ibu lakukan?
Sari melanjutkan.
—Ibu memohon agar aku diam sampai masalah itu selesai. Katanya kalau kamu tahu sebelum pernikahan, kamu pasti akan melaporkan Dimas dan keluarga akan hancur.
Dadaku terasa sesak.
—Dan kamu setuju?
—Awalnya hanya sampai setelah pernikahan.
Sari menunduk.
—Tapi setelah kita menikah, mereka terus meminta waktu.
Aku melihat tiga bukti transfer tadi.
Tiba-tiba semuanya terasa jauh lebih buruk.
—Uang yang kamu transfer kepada Dimas…
—Untuk membayar utang itu.
Aku membeku.
—Sudah berapa lama?
—Hampir tiga tahun.
Aku tidak bisa berkata-kata.
—Tiga tahun?
Sari mengangguk.
—Awalnya sedikit. Setelah Dimas kehilangan pekerjaan delapan bulan lalu, jumlahnya semakin besar.
Aku menghitung cepat dalam kepala.
—Berapa banyak uangmu yang sudah dipakai?
Sari tidak menjawab.
—Sari.
—Sekitar seratus tujuh puluh juta.
Aku berdiri begitu cepat hingga kursi di belakangku jatuh.
—Seratus tujuh puluh juta?!
Dimas akhirnya membentak.
—Aku akan menggantinya!
Aku berbalik.
—Kapan?
Dia terdiam.
—Setelah kamu menjual motor? Setelah mengambil setengah gaji istriku setiap bulan? Atau setelah utang itu jatuh seluruhnya ke atas namaku?
Ibu berdiri di depan Dimas.
—Jangan bicara seperti itu kepada adikmu!
Aku menatap perempuan yang membesarkanku.
Untuk pertama kalinya, aku merasa tidak mengenalnya.
—Jadi selama tiga tahun, Ibu membiarkan istri saya membayar kesalahan Dimas?
—Dia istrimu! Artinya dia bagian dari keluarga ini!
—Menjadi keluarga bukan berarti menjadi mesin ATM!
Ruangan langsung hening.
Sari memegang lenganku.
—Mas, cukup.
Aku menatapnya.
—Kenapa kamu diam selama ini?
Air mata mengalir lagi.
—Karena delapan bulan lalu, Ibu bilang kalau aku berhenti membayar, dokumen itu akan diserahkan kepada penagih. Mereka akan datang mencarimu.
Aku memejamkan mata.
Sari ternyata bukan menyembunyikan pengkhianatan.
Dia sedang melindungiku.
Dengan gajinya.
Dengan motornya.
Dengan tiga tahun hidupnya.
Aku menggenggam tangannya.
Dingin sekali.
—Mulai malam ini, kamu tidak membayar satu rupiah pun lagi.
Ibu langsung berkata:
—Kalau begitu bagaimana dengan utangnya?
Aku menatap Dimas.
—Orang yang membuat utang harus bertanggung jawab.
Dimas pucat.
—Mas, aku tidak punya uang sebanyak itu.
—Tapi kamu punya uang untuk kafe, jam tangan baru, dan pacaran menggunakan motor istriku.
Dia tidak bisa menjawab.
Aku mengambil ponsel.
Ibu langsung panik.
—Kamu mau menelepon siapa?
—Pengacara.
—Arif!
—Tanda tangan saya dipalsukan. Dokumen pribadi saya digunakan tanpa izin. Saya ingin tahu siapa yang sebenarnya bertanggung jawab secara hukum.
Ibu mencengkeram lenganku.
—Kamu mau menyeret adik kandungmu sendiri ke polisi?
Aku melepaskan tangannya perlahan.
—Saya belum mengatakan akan melaporkan siapa pun.
Aku memandang Ibu.
—Tapi mulai sekarang, tidak ada lagi kebohongan.
Saat itulah Ayah berkata:
—Masih ada satu hal lagi.
Aku berhenti.
Ayah mengambil halaman terakhir dari map.
—Utang Rp480 juta itu sebenarnya sudah tidak sebesar itu lagi.
Dimas mendadak maju.
—Ayah, jangan!
Ayah mengabaikannya.
—Sebagian sudah dibayar Sari. Sebagian lagi dibayar dari tabunganku.
Aku menatap halaman tersebut.
Ada catatan pembayaran.
Saldo tersisa hanya sekitar Rp190 juta.
Aku belum sempat merasa lega ketika Ayah menunjuk satu baris di bagian paling bawah.
Jaminan tambahan: hak atas rumah keluarga.
Aku membeku.
—Rumah ini?
Ayah mengangguk.
Lalu dia mengatakan kalimat yang membuat Ibu terduduk lemas.
—Dan tiga hari lagi adalah batas pembayaran terakhir. Kalau tidak diselesaikan, rumah ini bisa masuk proses penyitaan.
Aku menatap Dimas.
Namun Dimas justru menatap Ibu.
Dengan wajah ketakutan, dia berbisik:
—Bu… bukankah Ibu bilang surat jaminan rumah itu sudah dibatalkan?
Ibu tidak menjawab.
Ayah menggeleng pelan.
—Tidak pernah dibatalkan.
Hujan di luar semakin deras.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, aku sadar bahwa dalam waktu tiga hari, keluargaku mungkin akan kehilangan jauh lebih banyak daripada sebuah sepeda motor.
BAGIAN 3
Malam itu tidak seorang pun tidur nyenyak.
Pagi berikutnya, aku membawa seluruh dokumen kepada seorang pengacara.
Sari ikut bersamaku.
Setelah memeriksa berkas hampir satu jam, pengacara itu meletakkan kacamatanya di meja.
—Pertama, tanda tangan Anda kemungkinan besar dipalsukan. Jadi kewajiban pribadi atas nama Anda dapat disengketakan.
Aku mengembuskan napas.
—Bagaimana dengan rumah?
Ekspresinya berubah serius.
—Ini lebih rumit. Pemilik rumah ikut menandatangani dokumen jaminan.
Aku menatap Ayah yang duduk di sampingku.
Ayah mengangguk.
—Itu tanda tangan saya.
Ternyata setelah mengetahui perbuatan Ibu dan Dimas, Ayah mencoba menyelamatkan keadaan secara diam-diam.
Dia menjadikan rumah sebagai jaminan agar pihak pemberi dana tidak mengejarku berdasarkan dokumen palsu tersebut.
Kesalahan yang dimulai dengan kebohongan akhirnya ditutup dengan kebohongan lain.
Dan Sari terjebak di tengah-tengahnya.
Pengacara menyarankan kami menghubungi pihak pemberi dana dan merundingkan penyelesaian resmi.
Sore itu kami bertemu.
Setelah semua bukti pembayaran dihitung ulang, jumlah yang benar-benar tersisa ternyata Rp186 juta.
Aku sanggup melunasinya dengan tabungan darurat dan menjual sebagian investasiku.
Tetapi aku tidak melakukannya.
Karena untuk pertama kalinya, aku memahami sesuatu.
Kalau aku kembali membereskan semuanya sendirian, Dimas tidak akan pernah belajar bertanggung jawab.
Aku pulang dan meletakkan perhitungan utang di depan Dimas.
—Ada dua pilihan.
Dia menatapku.
—Pertama, kita selesaikan secara hukum. Semua dokumen palsu diperiksa dan masing-masing orang mempertanggungjawabkan tindakannya.
Wajah Ibu pucat.
—Pilihan kedua?
—Dimas menjual barang-barang yang dibeli dari uang yang seharusnya digunakan membayar utang. Motor Sari dikembalikan. Uang hasil penjualan motor lamanya dikembalikan. Tabungan yang masih dia miliki juga dipakai membayar kewajibannya.
Aku menatapnya lurus.
—Setelah itu, sisanya akan kubantu dalam bentuk pinjaman tertulis. Kamu bekerja dan mengembalikannya setiap bulan.
Dimas menunduk lama.
Kemudian dia melepas jam tangan dari pergelangan tangannya.
Dia meletakkannya di meja.
—Aku pilih yang kedua.
Ibu langsung memegang bahunya.
—Dimas, kamu tidak perlu—
—Cukup, Bu.
Untuk pertama kalinya, Dimas memotong ucapan Ibu.
Matanya merah.
—Selama ini Ibu selalu melindungi aku sampai aku sendiri merasa semua kesalahanku pasti dibereskan orang lain.
Dia menoleh kepada Sari.
—Bahkan oleh Mbak Sari.
Sari diam.
Dimas berdiri di depannya.
—Maaf.
Hanya satu kata.
Tetapi mungkin itu kata paling sulit yang pernah keluar dari mulutnya.
—Aku tidak punya alasan untuk membenarkan apa yang kulakukan. Motor itu milik Mbak. Uang itu juga uang Mbak. Aku mengambil semuanya karena aku tahu Ibu akan membelaku.
Sari tidak langsung memaafkannya.
Dia hanya berkata:
—Aku tidak membutuhkan permintaan maaf hari ini. Buktikan lewat apa yang kamu lakukan setelah ini.
Aku menatap istriku.
Saat itulah aku sadar betapa kuatnya perempuan yang selama ini kukira hanya terlalu pendiam.
Dua hari berikutnya menjadi dua hari paling sibuk dalam keluarga kami.
Motor dikembalikan kepada Sari.
Jam tangan, ponsel mahal, dan beberapa barang milik Dimas dijual.
Dimas menyerahkan seluruh sisa tabungannya.
Ayah mencairkan sebagian deposito.
Aku menambahkan kekurangannya.
Tepat sehari sebelum batas waktu, seluruh sisa kewajiban berhasil dilunasi.
Dokumen jaminan rumah dibatalkan secara resmi.
Dokumen dengan tanda tanganku yang dipalsukan juga diserahkan kepada pengacara sebagai bukti dan dibuatkan pernyataan hukum agar tidak dapat digunakan lagi.
Rumah itu selamat.
Namun aku tahu ada sesuatu yang tidak bisa kembali seperti semula.
Kepercayaan.
Malam setelah semuanya selesai, aku masuk ke kamar dan menemukan Sari sedang memasukkan pakaian ke dalam koper.
Jantungku langsung jatuh.
—Kamu mau pergi?
Sari berhenti.
—Aku hanya ingin tinggal sementara di tempat lain.
—Karena Ibu?
Dia tidak menjawab.
Aku duduk di tepi ranjang.
Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun pernikahan, aku tidak mencoba memberikan solusi.
Aku hanya berkata:
—Maaf.
Sari menatapku.
—Mas tidak melakukan semua itu.
—Tapi aku suamimu dan aku tidak melihat apa yang terjadi di depan mataku.
Aku teringat motornya.
Baju basahnya.
Payung patahnya.
Kotak makan kosong dalam tasnya.
Selama ini aku merasa sudah menjadi suami yang baik hanya karena bekerja keras dan membawa uang pulang.
Padahal orang yang kucintai sedang berjuang sendirian di dalam rumahku sendiri.
—Ikutlah denganku.
Sari mengerutkan kening.
—Ke mana?
—Kita pindah.
Dia membeku.
Aku sudah memutuskan.
Kami menyewa rumah kecil tidak jauh dari tempat kerja Sari.
Hanya dua kamar.
Tidak mewah.
Tidak luas.
Namun rumah itu akan menjadi tempat di mana Sari tidak perlu meminta izin untuk menggunakan barang miliknya sendiri.
Ketika kami menyampaikan keputusan itu kepada keluarga, Ibu menangis.
—Jadi kamu meninggalkan orang tua hanya demi istrimu?
Aku menjawab tenang:
—Saya tidak meninggalkan Ibu. Saya sedang membangun rumah tangga saya sendiri.
Ibu terdiam.
—Saya tetap anak Ibu. Saya akan datang, membantu jika Ibu dan Ayah membutuhkan saya. Tapi Sari adalah istri saya. Saya tidak akan membiarkan siapa pun memperlakukannya seperti tiga tahun terakhir lagi.
Tiga minggu kemudian, kami pindah.
Hari pertama di rumah baru, aku pulang kerja lebih awal.
Ketika membuka pintu, aku mencium aroma nasi goreng dari dapur.
Sari sedang memasak sambil mengenakan celemek sederhana.
Motor miliknya terparkir di depan rumah.
Kuncinya tergantung di dekat pintu.
Hanya dia dan aku yang memilikinya.
Aku mengeluarkan sebuah kantong kecil dari belakang punggung.
—Apa itu?
Sari membuka kantong tersebut.
Isinya buah kesukaannya yang jarang dia beli karena selalu merasa harus berhemat.
Dia tertawa.
—Sekarang kita masih punya banyak cicilan, Mas.
Aku menggeleng.
—Kita boleh berhemat. Tapi bukan berarti kamu harus selalu mengorbankan dirimu sendiri.
Matanya perlahan memerah.
Beberapa bulan kemudian, keadaan mulai berubah.
Dimas mendapatkan pekerjaan tetap di sebuah perusahaan distribusi.
Setiap tanggal gajian, tanpa perlu diingatkan, dia mentransfer cicilan kepadaku.
Bahkan setelah enam bulan, dia mulai mengirim sebagian uang langsung kepada Sari untuk mengganti apa yang pernah diambil darinya.
Sari selalu mencatat setiap transfer.
Bukan karena dendam.
Melainkan karena kali ini semuanya harus jelas.
Ayah lebih sering datang mengunjungi kami.
Ibu membutuhkan waktu paling lama untuk berubah.
Selama hampir dua bulan, dia tidak pernah datang.
Sampai suatu Minggu pagi, terdengar ketukan di pintu.
Ketika kubuka, Ibu berdiri di luar membawa sebuah panci.
Sari keluar dari dapur.
Suasana menjadi canggung.
Ibu menatap menantunya cukup lama.
Kemudian dia menyerahkan panci itu.
—Ibu membuat soto. Dulu kamu sering membuat sarapan untuk semua orang. Hari ini… biar Ibu yang membawakan makanan untukmu.
Sari menerima panci tersebut.
—Terima kasih, Bu.
Ibu belum pergi.
Dia menarik napas panjang.
—Sari.
—Ya?
—Ibu minta maaf.
Sari terdiam.
—Ibu terlalu takut melihat Dimas gagal sampai Ibu membuat orang lain membayar kesalahannya. Ibu juga memanfaatkan kebaikanmu karena tahu kamu tidak ingin Arif terluka.
Air mata muncul di mata Ibu.
—Kalau kamu belum bisa memaafkan Ibu, tidak apa-apa.
Sari memandangnya lama.
Lalu membuka pintu lebih lebar.
—Masuk dulu, Bu. Soto akan lebih enak kalau dimakan bersama.
Aku berdiri di belakang mereka tanpa berkata apa-apa.
Aku tahu satu mangkuk soto tidak bisa menghapus tiga tahun luka.
Satu permintaan maaf juga tidak otomatis mengembalikan kepercayaan.
Tetapi setidaknya, hari itu seseorang akhirnya berani memulai dari awal.
Setahun kemudian, pada ulang tahun pernikahan kami yang keempat, Sari menyerahkan sebuah amplop kepadaku.
Jantungku sempat berdebar ketika melihatnya.
—Jangan bilang ada dokumen rahasia lagi.
Dia tertawa.
—Buka saja.
Di dalamnya ada hasil pemeriksaan dari sebuah klinik.
Aku membaca dua baris pertama.
Lalu berhenti.
Aku menatapnya.
Sari tersenyum sambil menahan air mata.
—Mas akan jadi ayah.
Aku bahkan tidak ingat bagaimana aku berdiri.
Aku hanya ingat memeluknya begitu erat sampai dia tertawa dan menyuruhku berhati-hati.
Malam itu, kami makan malam berdua di rumah kecil kami.
Tidak ada makanan mewah.
Hanya nasi hangat, ayam kecap, sayur, dan dua gelas teh.
Ponsel Sari berbunyi.
Dimas mengirim bukti transfer cicilan terakhirnya.
Di bawahnya ada pesan singkat:
“Utangku lunas. Tapi kesalahanku kepada kalian akan selalu kuingat. Terima kasih sudah memberiku kesempatan untuk memperbaikinya.”
Sari menunjukkan pesan itu kepadaku.
Aku tersenyum.
Kemudian aku memandang rumah kecil kami.
Dulu aku berpikir rumah adalah bangunan yang harus dipertahankan dengan segala cara.
Aku salah.
Rumah bukan soal siapa yang namanya tercantum di sertifikat.
Bukan soal seberapa mahal kendaraan di garasi.
Bukan pula soal berapa banyak uang yang berhasil disimpan.
Rumah adalah tempat di mana seseorang tidak perlu takut untuk mengatakan kebenaran.
Tempat di mana cinta tidak dijadikan alasan untuk memaksa seseorang berkorban.
Dan keluarga bukanlah orang yang selalu membela kita meskipun kita salah.
Keluarga adalah orang yang berani menghentikan kita ketika kita salah, lalu tetap memberikan kesempatan ketika kita benar-benar ingin berubah.
Aku menggenggam tangan Sari di atas meja.
Empat tahun lalu aku berjanji akan menjaganya.
Aku pernah gagal memenuhi janji itu.
Namun sekarang aku tahu, menjadi suami bukan sekadar membawa pulang uang setiap bulan.
Menjadi suami berarti memastikan perempuan yang berjalan bersamaku tidak harus berjuang sendirian.
Sari menyandarkan kepalanya di bahuku.
Tanganku perlahan menyentuh perutnya yang masih rata.
Di luar, hujan mulai turun.
Aku teringat malam ketika dia pulang dengan pakaian basah, sepatu kotor, dan payung patah.
Dulu dia berjalan sendirian di bawah hujan demi melindungiku dari sebuah rahasia.
Kali ini tidak lagi.
Apa pun hujan yang menunggu kami di masa depan…
kami akan pulang bersama.
