IBU MERTUAKU MENUDUH PUTRIKU YANG BERUSIA 10 TAHUN MENCURI GELANG EMAS DI DEPAN SELURUH KELUARGA—TAPI KAMERA VIDEOGRAFER MEREKAM SESUATU YANG TAK PERNAH KAMI DUGA

Avatar penulis
Cerita 05
18 menit baca 391 tayangan
Indeks

IBU MERTUAKU MENUDUH PUTRIKU YANG BERUSIA 10 TAHUN MENCURI GELANG EMAS DI DEPAN SELURUH KELUARGA—TAPI KAMERA VIDEOGRAFER MEREKAM SESUATU YANG TAK PERNAH KAMI DUGA

Gelang emas milik ibu mertuaku menghilang tepat pada malam ketika keluarga kami mengadakan acara doa bersama untuk merayakan ulang tahunnya yang ke-70.

Dan orang pertama yang ia tuduh adalah putriku.

—Dia yang mengambilnya.

Seluruh ruang tamu mendadak sunyi.

Aku menoleh ke arah Alya, putriku yang berusia sepuluh tahun.

IBU MERTUAKU MENUDUH PUTRIKU YANG BERUSIA 10 TAHUN MENCURI GELANG EMAS DI DEPAN SELURUH KELUARGA—TAPI KAMERA VIDEOGRAFER MEREKAM SESUATU YANG TAK PERNAH KAMI DUGA

Ia berdiri di dekat meja panjang berlapis kain putih, kedua tangannya memeluk erat sebuah tas kain kecil di depan dada. Wajahnya pucat pasi.

—Aku tidak mengambilnya.

Ibu mertuaku, Ratna, tertawa dingin.

—Hari ini ada lebih dari tiga puluh orang di rumah ini. Tapi hanya dia yang masuk ke kamar Ibu.

Aku bahkan belum sempat memahami apa yang sebenarnya terjadi ketika Ratna maju dan merebut tas kain dari tangan Alya.

—Mama!

Alya berteriak.

Aku langsung menahan tangan ibu mertuaku.

—Ibu sedang apa?

—Mencari barang milikku.

—Kalau Ibu kehilangan sesuatu, kita bisa mencarinya bersama. Tapi Ibu tidak boleh menggeledah barang Alya sesuka hati.

Ratna menatapku seolah aku baru saja mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal.

—Itu gelang peninggalan ibuku. Berapa pun harganya tidak penting. Yang penting, keluarga ini tidak boleh membesarkan anak yang punya kebiasaan mencuri.

Beberapa kerabat di sekitar meja makan mulai saling berpandangan.

Aku mendengar bisik-bisik pelan.

Alya menundukkan kepala.

Aku tahu putriku pemalu. Ia tidak suka menjadi pusat perhatian, apalagi harus membela diri di hadapan begitu banyak orang dewasa.

Aku menariknya mendekat.

—Alya, lihat Mama. Kamu masuk ke kamar Nenek?

Ia mengangguk.

Ratna langsung menyela.

—Lihat? Dia sendiri mengaku!

Tapi aku tidak memandangnya.

—Kenapa kamu masuk ke sana?

Alya menggigit bibir.

—Nenek yang menyuruhku naik.

Ruangan kembali hening.

Senyum di wajah Ratna menghilang seketika.

—Jangan bicara sembarangan.

Alya mengangkat wajah.

—Nenek menyuruhku mengambil kotak merah di dalam laci.

—Alya!

Suara Ratna tiba-tiba meninggi hingga membuat putriku tersentak.

Suamiku, Fajar, baru saja masuk dari halaman.

Ia memandang kami dengan bingung.

—Ada apa ini?

Ibunya langsung menghampirinya.

—Anakmu mencuri gelang Ibu.

Fajar terdiam.

—Alya?

—Aku sudah bertanya kepadanya. Alya bilang Ibu yang menyuruhnya naik ke kamar.

Begitu aku selesai bicara, wajah Ratna berubah.

—Dia berbohong supaya lolos dari tuduhan.

Fajar menatap putri kami.

—Alya, katakan yang sebenarnya kepada Papa. Nenek memang menyuruhmu naik?

Alya mengangguk.

—Iya.

—Untuk apa?

—Mengambil sebuah kotak.

Ratna langsung memotong.

—Cukup! Anak yang ketahuan mencuri pasti akan mengarang apa saja untuk menyelamatkan dirinya!

Aku menoleh tajam kepadanya.

—Ketahuan?

Ratna terdiam.

Aku bertanya perlahan.

—Siapa yang melihat Alya mengambil gelang itu?

Tak seorang pun menjawab.

Ratna menunjuk tas kain Alya.

—Cari saja di dalam situ. Kita akan tahu.

Alya langsung memeluk lenganku.

—Mama, jangan biarkan Nenek membukanya.

Aku membungkuk.

—Ada apa di dalam tas itu?

Mata Alya mulai memerah.

—Hadiah yang kubuat untuk Nenek.

Aku membeku.

Selama dua minggu terakhir, Alya diam-diam belajar menyulam saputangan kecil untuk hadiah ulang tahun neneknya.

Ia bahkan memintaku berjanji untuk merahasiakannya.

Aku mengambil tas itu dari tangan Ratna dan membukanya di depan semua orang.

Di dalamnya hanya ada saputangan dengan sulaman sederhana, sebuah kartu ucapan, dan beberapa permen yang dibungkus kertas warna-warni.

Tidak ada gelang emas.

Alya mulai menangis.

—Aku cuma ingin membuat Nenek senang.

Fajar segera memeluk putri kami.

Namun Ratna belum berhenti.

—Dia bisa saja menyembunyikannya di tempat lain.

Aku menatapnya.

Untuk pertama kalinya selama bertahun-tahun menjadi menantunya, perempuan di hadapanku terasa begitu asing.

—Ibu mau mencari di mana lagi? Tasnya? Pakaiannya? Atau Ibu mau menyuruh anak sepuluh tahun berdiri di depan seluruh keluarga supaya Ibu bisa menggeledah tubuhnya?

Ratna terdiam beberapa detik.

Kemudian ia berkata:

—Kalau dia tidak bersalah, kenapa harus takut?

Tepat saat itu, suara seorang pria terdengar dari ujung ruangan.

—Mungkin kita tidak perlu mencari lagi.

Semua orang menoleh.

Pria itu adalah Arif, videografer yang disewa keluarga untuk merekam acara.

Ia berdiri di samping kamera yang terpasang di tripod.

—Saya sebenarnya tidak ingin ikut campur dalam masalah keluarga.

Ratna mengerutkan kening.

—Kalau begitu jangan ikut campur.

Namun Arif tidak pergi.

Ia menatapku.

—Tadi Ibu mengatakan gelang itu masih ada di kamar sekitar pukul enam sore, benar?

Ratna mengangguk.

—Benar.

—Dan Alya naik ke kamar setelah pukul enam?

—Benar.

Arif melihat waktu pada kameranya.

—Kalau begitu, ada masalah dengan cerita itu.

Ia melepaskan kamera dari tripod.

—Sekitar pukul enam lewat sepuluh menit, saya naik ke lantai atas untuk merekam dekorasi. Tanpa sengaja kamera saya mengarah ke lorong depan kamar.

Jantungku mulai berdegup kencang.

Ratna langsung berkata:

—Kamu merekam kamar pribadi saya?

—Tidak. Pintunya terbuka. Saya hanya merekam lorong.

Arif memutar rekamannya.

Semua orang mulai mendekat.

Di layar kecil kamera, Alya terlihat berada di ujung tangga.

Persis seperti yang diceritakannya, Ratna berdiri di lorong dan memanggilnya.

Alya berlari naik.

Ratna memberikan sesuatu kepadanya lalu menunjuk ke arah kamar.

Alya masuk.

Belum sampai satu menit kemudian, ia keluar membawa sebuah kotak merah.

Ratna mengambil kotak itu.

Alya langsung berlari kembali ke bawah.

Fajar menatap ibunya.

—Ibu bilang Alya berada di kamar cukup lama.

Ratna tampak gugup.

—Ibu salah ingat.

—Satu menit berubah menjadi lima belas menit?

—Ibu sedang bingung!

Aku tidak mengatakan apa-apa.

Sebab Arif masih menatap layar.

Ia melanjutkan rekaman.

Sekitar tiga menit setelah Alya pergi, Ratna kembali memasuki kamar.

Sendirian.

Lima menit kemudian, ia keluar.

Kotak merah itu sudah tidak berada di tangannya.

Namun ada sesuatu yang menarik perhatianku.

Ratna terus-menerus melihat ke arah tangga, seolah takut seseorang akan muncul.

—Berhenti.

Aku berkata.

Arif menghentikan video.

—Perbesar tangan Ibu.

Ratna langsung maju.

—Cukup!

Fajar berdiri menghalangi ibunya.

—Ibu, biarkan dia memutarnya.

—Kamu mencurigai ibu kandungmu sendiri hanya karena ucapan seorang anak?

—Tidak. Aku ingin tahu kebenarannya.

Ratna mendadak diam.

Arif memperbesar gambar.

Di tangan kanan Ratna terlihat sebuah benda kecil yang memantulkan cahaya lampu.

Tidak ada seorang pun yang bisa melihat jelas benda apa itu.

Tapi Ratna melihatnya.

Aku tahu karena wajahnya langsung kehilangan warna.

—Video seburam itu bisa membuktikan apa?

Arif tidak menjawab.

Ia hanya berkata:

—Ini belum bagian yang paling penting.

Aku menoleh kepadanya.

—Masih ada lagi?

Arif memandang Alya, lalu Ratna.

—Sekitar dua puluh menit kemudian, saya pergi ke bagian belakang rumah untuk mengambil baterai cadangan. Kamera saya masih menyala karena saat itu saya sedang mencoba mode perekaman terus-menerus.

Ia menelan ludah.

—Kamera saya merekam Ibu Ratna di sana.

Mendadak ibu mertuaku berteriak.

—MATIKAN KAMERANYA!

Semua orang tersentak.

Ratna menerjang maju.

Fajar segera menangkap lengannya.

—Ibu!

—Suruh dia menghapusnya!

Itu bukan lagi suara seseorang yang merasa difitnah.

Itu adalah suara seseorang yang ketakutan.

Bulu kudukku berdiri.

Arif mundur selangkah sambil memeluk kameranya.

—Menurut saya, keluarga harus melihat rekaman ini.

—Tidak boleh!

Ratna berusaha melepaskan diri dari tangan putranya.

Kerudungnya bergeser sedikit, sementara wajahnya memerah.

—Ini urusan pribadi keluarga saya!

Aku berdiri di depan Arif.

—Kalau begitu, kenapa Ibu takut kami melihatnya?

Ratna menatapku.

Selama beberapa detik, tak seorang pun berbicara.

Kemudian Alya tiba-tiba menarik bajuku.

—Mama…

Aku menunduk.

Dengan tubuh gemetar, putriku menunjuk ke arah lemari kayu di dekat tempat keluarga tadi berdoa.

—Kotak merah itu…

Aku mengikuti arah jarinya.

Di bawah lemari, ada sedikit bagian berwarna merah yang terlihat dari balik kain penutup.

Fajar segera menghampirinya, membungkuk, lalu menarik benda tersebut keluar.

Itu benar-benar kotak yang sebelumnya diambil Alya dari kamar neneknya.

Fajar membuka tutupnya.

Kosong.

Namun di dasar kotak terdapat selembar kertas yang dilipat empat.

Fajar membukanya.

Baru membaca dua baris, wajahnya langsung berubah.

—Ibu…

Suaranya serak.

Ratna mundur selangkah.

—Berikan kepada Ibu.

Fajar tidak memberikannya.

Aku belum pernah melihat suamiku menatap ibunya seperti itu.

—Kenapa nama Alya ada di sini?

Aku mengambil kertas tersebut dari tangannya.

Itu bukan kuitansi.

Bukan pula surat.

Melainkan sebuah catatan tulisan tangan berisi daftar beberapa perhiasan, dan di samping setiap barang terdapat sebuah nama.

Gelang emas itu berada di baris paling bawah.

Di sampingnya tertulis nama putriku.

Dan tepat di bawahnya terdapat sebuah kalimat:

“Masukkan ke dalam tas Alya setelah foto keluarga selesai.”

Aku mengangkat kepala.

Seluruh ruangan seakan membeku.

Ratna menerjang maju dan mencoba merebut kertas itu.

Namun Arif tiba-tiba berseru:

—Jangan!

Ia memutar layar kameranya ke arah kami.

—Karena rekaman terakhir menunjukkan siapa yang menulis catatan itu.

Ratna membeku.

Arif menekan tombol putar.

Di layar terlihat area belakang rumah.

Seorang perempuan berjalan memasuki frame.

Di tangannya terdapat gelang emas yang hilang.

Tepat ketika Arif hendak memperbesar wajah perempuan tersebut, Alya menatap layar lalu berteriak:

—Mama! Itu bukan Nenek!

Tubuhku seketika kaku.

Karena perempuan di dalam rekaman itu perlahan menoleh ke arah kamera.

Dan ketika aku akhirnya mengenali siapa dia…

Kertas di tanganku terlepas dan jatuh ke lantai.

BAGIAN 2

Perempuan di layar itu adalah Siska.

Adik perempuan Fajar.

Adik iparku sendiri.

Untuk beberapa detik, aku bahkan tidak mampu bernapas.

Di layar kamera, Siska berdiri di belakang rumah sambil menggenggam gelang emas yang sejak tadi dituduhkan kepada putriku. Ia menoleh ke kanan dan kiri, lalu membuka tas kecil yang dibawanya.

—Hentikan videonya! teriak Ratna.

Namun kali ini Fajar tidak menurut.

—Lanjutkan.

Suaranya pelan, tetapi begitu tegas hingga seluruh ruangan kembali sunyi.

Arif menekan tombol putar.

Rekaman berlanjut.

Siska mengeluarkan secarik kertas dan sebuah pena. Ia meletakkan kertas itu di atas meja kecil, lalu mulai menulis.

Tanganku terasa dingin.

Itulah kertas yang beberapa menit lalu kami temukan di dalam kotak merah.

Setelah selesai menulis, Siska melipatnya menjadi empat bagian. Ia memasukkan kertas tersebut ke dalam kotak, lalu menyelipkan kotak itu di bawah lemari.

Tetapi gelang emas masih berada di tangannya.

—Kenapa? bisik Fajar.

Siska yang sejak tadi berdiri di antara para kerabat mulai mundur.

Semua mata beralih kepadanya.

—Kak, aku bisa jelaskan.

—Jelaskan sekarang.

Ratna tiba-tiba berdiri di depan putrinya.

—Sudah! Jangan mempermalukan adikmu di depan semua orang.

Aku hampir tidak percaya dengan apa yang kudengar.

—Mempermalukan dia?

Aku menunjuk Alya yang masih memeluk pinggangku.

—Beberapa menit lalu Ibu bersedia mempermalukan anak sepuluh tahun di depan seluruh keluarga.

Ratna tidak mampu menjawab.

Fajar menatap Siska.

—Di mana gelang itu?

—Aku tidak tahu.

Arif mengangkat kamera.

—Rekamannya belum selesai.

Wajah Siska langsung pucat.

Video kembali diputar.

Kami melihat Siska berjalan menuju dapur belakang. Ia berhenti di dekat sebuah rak, lalu memasukkan gelang emas ke dalam kantong kecil berwarna cokelat.

Kemudian seseorang memasuki frame.

Ratna.

Seluruh ruangan terdengar menarik napas hampir bersamaan.

Dalam video, Ratna berbicara dengan Siska. Kamera terlalu jauh sehingga suara mereka tidak terdengar jelas, tetapi satu hal tidak dapat disangkal.

Ratna melihat gelang itu.

Ia tahu.

Bahkan beberapa detik kemudian, Ratna mengambil kantong cokelat tersebut dari tangan putrinya.

Video berhenti.

Fajar menatap ibunya lama sekali.

—Ibu tahu sejak awal?

Ratna menunduk.

—Fajar…

—Ibu tahu Alya tidak mengambilnya?

Air mata mulai menggenang di mata Ratna.

—Ibu hanya…

—Jawab aku!

Alya tersentak mendengar suara ayahnya.

Fajar langsung menurunkan nada suaranya, lalu memeluk putri kami.

Ratna akhirnya duduk.

—Ya.

Satu kata itu menghancurkan sisa keraguan yang ada.

Aku merasakan Alya semakin erat memegang bajuku.

—Kenapa? tanyaku.

Siska mulai menangis.

—Karena aku butuh uang.

Ternyata selama beberapa bulan terakhir, Siska memiliki utang yang tidak diketahui keluarganya. Ia menggunakan tabungannya untuk menjalankan bisnis daring bersama seorang kenalan. Usaha itu gagal, tetapi ia terlalu malu mengakuinya.

Ia berencana menjual gelang ibunya.

Namun Ratna memergokinya.

Aku menatap Ratna.

—Lalu kenapa Alya yang dijadikan pencuri?

Ratna menutup wajah.

Siska menjawab dengan suara bergetar.

—Awalnya bukan begitu rencananya.

Ketika Alya dipanggil untuk mengambil kotak merah, Siska melihatnya masuk ke kamar. Dari situlah muncul ide untuk membuat seolah-olah Alya mengambil gelang tersebut.

Siska berpikir semua orang akan percaya karena Alya satu-satunya anak yang masuk ke kamar.

—Dan Ibu menyetujuinya? tanya Fajar.

Ratna menggeleng cepat.

—Ibu tidak setuju!

—Tapi Ibu ikut berbohong.

Ratna menangis.

Ia mengaku setelah mengetahui rencana Siska, ia panik. Ia takut putrinya dilaporkan atau dipermalukan di depan keluarga. Ia berpikir jika Alya hanya dicurigai sebentar, nanti gelang itu bisa “ditemukan” di tempat lain dan semuanya akan dianggap salah paham.

Aku sampai tertawa kecil karena tidak percaya.

—Dicurigai sebentar?

Aku menunjuk tas hadiah Alya.

—Anak saya baru saja disebut pencuri di depan tiga puluh orang.

Ratna terdiam.

—Dia membuat hadiah untuk Ibu selama dua minggu. Dan sebagai balasannya, Ibu bersedia menghancurkan harga dirinya demi melindungi anak Ibu sendiri.

Ratna menangis semakin keras.

Namun untuk pertama kalinya, tangis itu tidak mengubah apa pun.

Fajar berdiri.

—Di mana gelangnya?

Ratna menunjuk lemari kecil dekat dapur.

Fajar membuka lacinya.

Kantong cokelat itu ada di sana.

Di dalamnya terdapat gelang emas.

Tidak pernah berada di tangan Alya.

Tidak pernah berada di tas Alya.

Tidak pernah dicuri oleh putriku.

Fajar meletakkan gelang itu di meja.

Lalu ia melakukan sesuatu yang tidak pernah kuduga.

Ia mengambil mikrofon yang sebelumnya disiapkan untuk acara ulang tahun.

Semua kerabat memandangnya.

—Sebelum acara ini dilanjutkan, ada sesuatu yang harus diluruskan.

Ratna berdiri.

—Fajar, jangan.

Tetapi suamiku menatap putri kami.

—Tadi Alya dituduh mencuri di depan kalian semua. Jadi kebenaran juga harus disampaikan di depan kalian semua.

Kemudian Fajar mengatakan semuanya.

Tentang video.

Tentang catatan.

Tentang gelang.

Tentang kebohongan ibunya dan Siska.

Tak ada satu pun yang ia sembunyikan.

Setelah selesai, ia memanggil Alya mendekat.

Putri kami berjalan perlahan.

Fajar berlutut di depannya.

—Papa minta maaf karena tidak langsung berada di sampingmu ketika semua ini terjadi.

Alya menggigit bibir.

—Papa percaya aku?

Fajar memeluknya.

—Selalu.

Aku melihat beberapa kerabat mengusap mata.

Kemudian Ratna berdiri.

Ia berjalan menuju Alya.

Namun sebelum ia sempat mendekat, putriku mundur dan bersembunyi di belakangku.

Ratna berhenti.

Untuk pertama kalinya malam itu, aku melihat sesuatu di wajahnya yang bukan kemarahan.

Penyesalan.

—Alya…

Putriku tidak menjawab.

Ratna menatap saputangan kecil yang tadi dibuat Alya untuknya.

Tangannya gemetar saat mengambilnya.

Lalu ia membaca kartu yang terselip di dalam tas.

Hanya ada satu kalimat sederhana.

“Semoga Nenek selalu sehat dan tetap sayang Alya.”

Ratna menutup mulutnya.

Ia menangis.

Namun Alya hanya berbisik kepadaku:

—Mama, kita boleh pulang sekarang?

Aku menggenggam tangannya.

—Boleh.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya sejak menikah, aku meninggalkan rumah keluarga suamiku tanpa meminta izin kepada siapa pun.

Aku belum tahu bahwa keputusan kecil itu akan mengubah keluarga kami selamanya.

BAGIAN 3

Tiga hari setelah kejadian itu, Ratna datang ke rumah kami.

Sendirian.

Tidak membawa makanan, tidak membawa kerabat untuk membujuk kami, dan tidak membawa Siska.

Ia hanya membawa tas kain Alya.

Fajar membuka pintu, tetapi tidak langsung mempersilahkannya masuk.

—Ibu mau apa?

Ratna menunduk.

—Ibu ingin meminta maaf.

Fajar menatapku.

Aku membiarkannya masuk, tetapi aku tidak memanggil Alya.

Anakku sedang berada di kamar.

Ratna duduk di ruang tamu sambil memegang tas kain itu.

—Boleh Ibu bertemu Alya?

—Tidak kalau Alya tidak mau, jawabku.

Ratna mengangguk.

Tidak ada bantahan.

Mungkin untuk pertama kalinya ia mengerti bahwa menjadi nenek tidak memberinya hak untuk memaksa seorang anak memaafkannya.

Ratna mengeluarkan saputangan buatan Alya.

—Ibu tidak pantas menerima ini.

Aku tidak menjawab.

Lalu ia menceritakan sesuatu yang bahkan Fajar tidak tahu.

Selama bertahun-tahun, Ratna selalu melindungi Siska setiap kali putrinya melakukan kesalahan. Ketika masih sekolah, Siska pernah mengambil uang tanpa izin. Ratna menutupinya. Ketika dewasa, Siska berulang kali meminjam uang dan tidak mengembalikannya. Ratna selalu menyelesaikan masalahnya.

—Setiap kali Ibu melindunginya, Ibu pikir itu kasih sayang.

Ratna menatap Fajar.

—Ternyata Ibu hanya mengajarinya bahwa selalu ada orang lain yang bisa menanggung akibat dari kesalahannya.

Fajar diam cukup lama.

—Dan kali ini orang lain itu anakku.

Ratna mengangguk.

—Karena itu Ibu tidak meminta kalian melupakan semuanya.

Ia kemudian mengeluarkan gelang emas tersebut.

Namun bukan untuk diberikan kepada kami.

—Ibu sudah memutuskan gelang ini tidak akan dijual. Suatu hari nanti, kalau Alya sudah dewasa dan kalau dia bersedia menerimanya, Ibu ingin memberikannya kepadanya.

Aku langsung menggeleng.

—Jangan jadikan gelang sebagai pengganti permintaan maaf.

Ratna terdiam.

—Kalau Ibu benar-benar ingin memperbaiki keadaan, hormati batasan kami. Jangan paksa Alya menemui Ibu. Jangan membeli maafnya dengan hadiah.

Ratna memasukkan kembali gelang itu.

—Baik.

Kemudian terdengar langkah kecil dari lorong.

Alya berdiri di depan pintu kamarnya.

Ratna langsung bangkit.

Namun ia tidak mendekat.

—Nenek minta maaf, Alya.

Putriku memandangnya.

—Kenapa Nenek bilang aku pencuri kalau Nenek tahu aku tidak mencuri?

Pertanyaan sederhana itu membuat Ratna menangis lagi.

—Karena Nenek membuat pilihan yang sangat buruk. Nenek ingin melindungi Tante Siska dan malah menyakiti kamu.

—Nenek lebih sayang Tante?

Ratna terdiam.

Aku hampir menyela, tetapi Fajar menggenggam tanganku.

Biarkan ibunya menjawab.

—Nenek menyayangi kalian berdua. Tapi malam itu, Nenek memperlakukan kamu seolah perasaanmu tidak penting. Itu salah.

Alya mengangguk kecil.

—Aku belum mau peluk Nenek.

Ratna mengusap air matanya.

—Tidak apa-apa.

Jawaban itu tampaknya lebih berarti daripada seribu hadiah.

Setelah Ratna pulang, kami tidak langsung kembali seperti dulu.

Selama beberapa bulan, pertemuan keluarga dilakukan secara terbatas. Alya tidak pernah ditinggalkan sendirian bersama Ratna atau Siska.

Siska sendiri akhirnya mengakui seluruh masalah keuangannya.

Fajar menolak membayar utangnya.

—Kalau kami terus menyelamatkanmu, kamu tidak akan pernah belajar menyelamatkan dirimu sendiri.

Siska marah pada awalnya.

Kemudian ia mulai menjual barang-barang yang tidak dibutuhkan, menghentikan bisnis yang merugikan, dan mencari pekerjaan tetap.

Yang paling penting, ia datang menemui Alya.

Bukan membawa hadiah.

Bukan membawa uang.

Ia membawa surat permintaan maaf.

—Tante hampir membuat semua orang menganggap kamu pencuri karena Tante takut mengakui kesalahan sendiri.

Alya membaca surat itu.

Kemudian berkata:

—Aku maafkan Tante. Tapi aku belum percaya Tante.

Wajah Siska berubah sedih.

Namun ia mengangguk.

—Tante mengerti.

Kepercayaan ternyata jauh lebih sulit dikembalikan daripada gelang emas.

Butuh waktu hampir satu tahun.

Ratna perlahan berubah.

Ia tidak lagi memaksa Alya menciumnya ketika bertemu. Tidak memerintahnya duduk di sebelahnya. Tidak menggunakan kalimat, “Nenek kan keluargamu,” untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.

Ia mulai bertanya.

—Boleh Nenek duduk di sini?

—Boleh Nenek melihat gambarmu?

—Kalau Alya tidak keberatan, boleh Nenek datang ke acara sekolahmu?

Kadang Alya menjawab iya.

Kadang tidak.

Dan Ratna belajar menerima keduanya.

Sampai suatu sore, hampir setahun setelah malam itu, keluarga kembali berkumpul untuk acara sederhana.

Arif kembali diminta menjadi videografer.

Ketika melihatnya, Alya langsung tersenyum.

—Om Kamera!

Semua orang tertawa.

Arif tertawa paling keras.

—Nama Om sekarang berubah, ya?

—Karena Om yang menyelamatkan aku.

Arif menggeleng.

—Bukan Om.

Ia berjongkok di depan Alya.

—Kamu menyelamatkan dirimu sendiri karena kamu berani mengatakan yang sebenarnya.

Menjelang akhir acara, keluarga berkumpul untuk berfoto.

Ratna berdiri agak jauh.

Ia tidak meminta Alya berdiri di sampingnya.

Namun tiba-tiba Alya berjalan menghampirinya.

—Nenek.

Ratna menoleh.

Alya mengulurkan tangan.

—Nenek mau berdiri di sebelah aku?

Mata Ratna langsung berkaca-kaca.

—Boleh?

Alya mengangguk.

Ratna menggenggam tangan cucunya dengan hati-hati.

Tidak terlalu erat.

Seolah ia memahami bahwa kepercayaan yang baru tumbuh tidak boleh digenggam terlalu keras.

Saat semua orang bersiap menghadap kamera, Ratna berbisik:

—Nenek masih menyimpan saputangan buatanmu.

Alya tersenyum.

—Yang jahitannya jelek itu?

Ratna tertawa sambil menangis.

—Itu hadiah paling berharga yang Nenek punya.

Klik.

Arif mengambil foto.

Setahun kemudian, foto itu masih tergantung di ruang tamu rumah kami.

Bukan karena semua orang terlihat sempurna.

Bukan karena malam itu menghapus apa yang pernah terjadi.

Justru sebaliknya.

Foto tersebut mengingatkanku bahwa keluarga bukanlah tempat di mana seseorang harus menutupi kesalahan demi menjaga nama baik.

Keluarga seharusnya menjadi tempat di mana orang yang salah berani bertanggung jawab, dan orang yang terluka diberi waktu untuk sembuh.

Siska akhirnya melunasi seluruh utangnya dengan usahanya sendiri.

Ia mendapatkan pekerjaan tetap dan tidak pernah lagi meminta Ratna menanggung kesalahannya.

Hubungannya dengan Alya juga perlahan membaik.

Suatu hari, Alya bahkan meminta bantuannya membuat proyek sekolah.

Saat mendengar itu, Siska menangis di dapur agar Alya tidak melihatnya.

Sedangkan Ratna menepati janjinya.

Ia tidak pernah memberikan gelang emas itu sebagai “bayaran” untuk mendapatkan maaf.

Beberapa tahun kemudian, pada ulang tahun Alya, Ratna akhirnya menunjukkan gelang tersebut kepadanya.

—Dulu Nenek berpikir benda ini sangat berharga karena diwariskan oleh ibu Nenek.

Ratna meletakkannya di meja.

—Tapi malam itu Nenek hampir kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga.

Alya menatapnya.

—Apa?

Ratna tersenyum.

—Kepercayaan cucu Nenek.

Alya terdiam sejenak.

Kemudian ia mengambil gelang tersebut.

Bukan untuk memakainya.

Ia justru memasukkannya kembali ke dalam kotak dan mendorongnya ke arah Ratna.

—Nenek simpan saja.

Ratna tampak terkejut.

Alya tersenyum.

—Aku sudah punya hadiah dari Nenek.

—Apa?

Alya memeluknya.

—Nenek yang sekarang.

Ratna menangis.

Kali ini Alya tidak mundur.

Ia membiarkan neneknya memeluknya.

Aku berdiri bersama Fajar beberapa langkah dari mereka.

Suamiku menggenggam tanganku.

—Kamu tahu apa yang paling aku syukuri dari malam itu?

Aku menatapnya.

—Apa?

—Kamu percaya kepada Alya sebelum ada video, sebelum ada bukti, sebelum siapa pun membela dia.

Aku melihat putriku yang sedang tertawa bersama neneknya.

Lalu aku tersenyum.

—Karena seorang anak seharusnya tidak perlu membuktikan bahwa dirinya pantas dipercaya oleh orang tuanya.

Di sudut ruangan, tersimpan sebuah kotak merah tua.

Kotak yang dulu hampir digunakan untuk menghancurkan nama seorang anak.

Kami tidak membuangnya.

Alya sendiri yang meminta agar kotak itu tetap disimpan.

Di dalamnya tidak ada gelang.

Tidak ada catatan berisi rencana buruk.

Hanya ada saputangan kecil dengan jahitan seorang anak berusia sepuluh tahun dan sebuah kartu lama yang tulisannya mulai memudar:

“Semoga Nenek selalu sehat dan tetap sayang Alya.”

Di bawah kalimat itu, beberapa tahun kemudian, Ratna menambahkan satu kalimat dengan tulisan tangannya sendiri:

“Dan semoga Nenek tidak pernah lagi melupakan bahwa kasih sayang tanpa kejujuran bukanlah kasih sayang.”

Karena pada akhirnya, gelang emas yang hilang memang ditemukan kembali.

Tetapi malam itu, keluarga kami menemukan sesuatu yang jauh lebih sulit ditemukan setelah hilang:

kepercayaan.