“Begitu Dia Tanda Tangan, Rumah dan Tabungannya Jadi Milik Kita.” Dua Hari Sebelum Pernikahanku, Tunanganku Lupa Mematikan Telepon—dan Aku Mendengar Rencananya Memanfaatkan Ketiga Anakku untuk Mengendalikanku

Avatar penulis
Cerita 04
20 menit baca 826 tayangan
“Begitu Dia Tanda Tangan, Rumah dan Tabungannya Jadi Milik Kita.” Dua Hari Sebelum Pernikahanku, Tunanganku Lupa Mematikan Telepon—dan Aku Mendengar Rencananya Memanfaatkan Ketiga Anakku untuk Mengendalikanku
Indeks

“Begitu Dia Tanda Tangan, Rumah dan Tabungannya Jadi Milik Kita.” Dua Hari Sebelum Pernikahanku, Tunanganku Lupa Mematikan Telepon—dan Aku Mendengar Rencananya Memanfaatkan Ketiga Anakku untuk Mengendalikanku

Aku tidak membatalkan pernikahan.

Aku juga tidak meneleponnya untuk menuntut penjelasan.

Aku tetap mengenakan kebaya pengantinku.

Tetap berjalan menuju pelaminan di hadapan hampir seratus tamu.

Tetapi calon suamiku tidak tahu bahwa selama 48 jam sebelum akad itu…

aku diam-diam telah mengubah hampir semuanya.

“Begitu Dia Tanda Tangan, Rumah dan Tabungannya Jadi Milik Kita.” Dua Hari Sebelum Pernikahanku, Tunanganku Lupa Mematikan Telepon—dan Aku Mendengar Rencananya Memanfaatkan Ketiga Anakku untuk Mengendalikanku

PANGGILAN YANG TIDAK PERNAH BENAR-BENAR TERPUTUS

Dua hari sebelum aku seharusnya menikah dengan Rendra Mahardika, aku berdiri tanpa alas kaki di kamar lantai dua rumahku di kawasan Dago, Bandung.

Hujan sore mengetuk pelan kaca jendela.

Di depan lemari, kebaya pengantin warna ivory tergantung rapi, sementara aku membandingkan dua warna pita untuk dekorasi meja resepsi.

Dari lantai bawah terdengar suara tiga anak berdebat riang tentang film apa yang akan mereka tonton malam itu.

Suasana rumah terasa biasa.

Hangat.

Akrab.

Persis seperti kehidupan keluarga yang selama ini kukira ingin dibangun Rendra bersamaku.

Rendra menelepon dari rumah orang tuanya.

Katanya dia ingin memastikan pilihan warna untuk kartu nama tamu dan hiasan meja.

Wajahnya sempat muncul di layar sebelum kamera diarahkan ke dua gulungan pita di atas meja makan.

“Hijau sage atau biru muda?” tanyanya.

“Mama pilih biru, tapi aku ingat kamu lebih suka hijau.”

“Hijau,” jawabku. “Lebih cocok dengan bunga putih di meja.”

Rendra tertawa kecil.

“Nah, kan. Aku juga bilang begitu ke Mama. Kalau soal beginian, kamu memang selalu lebih tahu.”

Nada suaranya terdengar penuh kasih.

Atau setidaknya…

sekarang aku sadar dia sangat pandai membuatnya terdengar seperti itu.

Tiba-tiba seseorang memanggil namanya dari ruangan lain.

Rendra menoleh.

“Tunggu sebentar, Nadira. Papa minta bantu pindahin sesuatu. Nanti aku telepon lagi.”

Layar ponsel menjadi gelap.

Aku mengira sambungan sudah terputus.

Aku menaruh ponsel di atas meja rias, lalu mulai melipat cardigan untuk perjalanan singkat kami ke Lembang setelah acara pernikahan.

Namun beberapa detik kemudian…

aku mendengar suara langkah kaki dari speaker ponsel.

Aku menoleh.

Telepon itu ternyata masih tersambung.

Kemudian terdengar suara yang sangat kukenal.

Suara ibu Rendra.

Marlina Mahardika.

“Dia sudah tanda tangan surat penggabungan aset itu?”

Tanganku berhenti di udara.

Cardigan yang sedang kulipat masih berada di antara kedua tanganku.

Lalu terdengar suara Rendra.

Santai.

Ringan.

Seperti seorang pria yang yakin tidak ada orang lain yang mendengarkan.

“Belum.”

Dia tertawa kecil.

“Dia terus bilang mau kasih lihat dulu ke pengacaranya. Tapi setelah menikah nanti dia pasti lebih tenang. Aku tinggal kasih kertasnya, bilang ini buat kepentingan keluarga. Dia akan tanda tangan.”

Aku berdiri membeku.

Surat itu bukan sesuatu yang asing bagiku.

Beberapa minggu terakhir, Rendra memang terus membicarakan dokumen yang dia sebut sebagai perjanjian pengelolaan aset keluarga.

Katanya supaya setelah menikah, kami lebih mudah mengatur cicilan, investasi, dan pengeluaran rumah tangga.

Tetapi akhir-akhir ini, map berisi dokumen itu seperti sengaja terus diletakkan di tempat-tempat yang mudah kulihat.

Di meja dapur.

Di samping laptopku.

Bahkan pernah berada di kursi penumpang mobilku.

Seolah-olah dia terus mengingatkanku bahwa aku belum menandatanganinya.

Suara Marlina terdengar lebih pelan.

Aku kehilangan beberapa kata.

Kemudian jawaban Rendra terdengar jelas.

“Anak-anak itu yang akan bikin dia nurut.”

Darah di tubuhku terasa dingin.

Rendra melanjutkan.

“Dia terlalu ingin mereka punya keluarga utuh. Dia takut kehilangan aku. Selama dia merasa pernikahan ini penting buat anak-anak, dia nggak akan berani macam-macam.”

Tanganku mulai gemetar.

Namaku Nadira Prameswari.

Usiaku empat puluh dua tahun.

Aku membesarkan tiga anak.

Putraku, Dimas, berusia dua belas tahun.

Dua anak lainnya adalah putri kembar mendiang adikku, Alya dan Amira, yang baru berusia sembilan tahun.

Empat tahun lalu, adikku meninggal dunia.

Sejak hari itu, kedua putrinya tinggal bersamaku.

Tahun pertama terasa seperti berjalan di tengah kabut.

Mengurus sekolah.

Konseling.

Demam tengah malam.

Menyiapkan bekal.

Menenangkan anak-anak yang tiba-tiba menangis karena merindukan ibu mereka.

Dan ada pagi-pagi ketika keberhasilan terbesar kami hanyalah mampu bangun dari tempat tidur dan menjalani hari.

Rendra masuk ke dalam hidup kami pada masa itu.

Aku memiliki studio arsitektur kecil di Bandung yang banyak menangani renovasi bangunan lama.

Rendra bekerja sebagai manajer proyek untuk sebuah jaringan hotel di Jawa Barat.

Kami bertemu ketika perusahaannya ingin merenovasi sebuah hotel tua tanpa menghilangkan karakter bangunan aslinya.

Awalnya hubungan kami profesional.

Kemudian dia mulai mengajakku minum kopi setelah rapat.

Dia tidak pernah mengeluh karena jadwalku berantakan.

Tidak pernah tampak keberatan bahwa mencintaiku berarti menerima rumah dengan tiga anak, dua anjing tua, jadwal sekolah yang penuh coretan warna-warni, dan rencana makan malam yang bisa berubah hanya karena seorang anak demam.

Rendra mengajari Dimas memperbaiki rantai sepeda.

Dia duduk hampir tiga jam menonton pertunjukan tari Alya.

Dia datang membawa bubur ayam dan wedang jahe ketika Amira sakit.

Suatu hari, aku pernah meminta maaf karena makan malam kami batal akibat telepon mendadak dari sekolah.

Rendra menggenggam tanganku.

Lalu dia berkata,

“Kamu nggak perlu minta maaf karena menjadi orang yang selalu bisa diandalkan anak-anak.”

Kalimat itulah yang membuatku mempercayainya.

Kalimat itulah yang membuatku yakin dia berbeda.

Dan sekarang…

melalui sambungan telepon yang lupa dia putuskan…

aku akhirnya tahu bahwa bahkan kalimat itu mungkin sudah diperhitungkan.

Suara Marlina terdengar lagi.

“Kalau dokumennya sudah ditandatangani, berapa lama kamu butuh waktu?”

Rendra menjawab tanpa ragu.

“Cepat.”

Aku menahan napas.

“Rumah Nadira di Dago nilainya paling sedikit Rp14 miliar sekarang. Studio arsitekturnya juga lagi bagus. Belum lagi investasi dari kakek-neneknya.”

Jantungku berdetak lebih cepat.

Rumah itu bukan sekadar bangunan.

Rumah bergaya kolonial itu dulu milik kakekku.

Ayahku memperbaikinya sedikit demi sedikit.

Setelah kedua orang tuaku meninggal, rumah itu diwariskan kepadaku.

Di tempat itulah Dimas tumbuh.

Di sana pula Alya dan Amira akhirnya mulai merasa punya rumah lagi setelah kehilangan ibu mereka.

Kemudian Rendra berkata,

“Begitu namaku masuk ke pengelolaan aset, kita bisa pakai rumah itu sebagai jaminan untuk pembiayaan baru. Dana investasinya juga bisa dipindahkan bertahap.”

Aku merasa mual.

Marlina bertanya,

“Kalau Nadira sadar?”

Rendra tertawa.

“Pada saat dia sadar, uangnya sudah tersebar. Dia juga nggak akan gampang lawan aku kalau harus bayar pengacara mahal.”

Aku menutup mulut dengan tangan.

Tetapi percakapan itu belum selesai.

Marlina kembali bertanya,

“Bagaimana dengan dana untuk si kembar?”

Aku langsung menegakkan tubuh.

Setelah adikku meninggal, sebagian asuransi dan tabungannya ditempatkan dalam rekening khusus untuk pendidikan Alya dan Amira.

Pengacaraku, Pak Surya, sudah sejak awal menyarankan agar dana itu dipisahkan sepenuhnya dari aset pribadiku.

Suara Rendra terdengar santai.

“Yang itu memang lebih susah karena pengacaranya menjaga ketat.”

Kemudian dia berhenti sebentar.

“Tapi nanti aku bisa bujuk Nadira.”

Marlina bertanya,

“Kamu yakin?”

Rendra mendengus kecil.

“Dia sentimental banget.”

Lalu dia berkata sesuatu yang membuat seluruh tubuhku terasa dingin.

“Orang sentimental gampang diarahkan kalau kita tahu janji apa yang paling ingin mereka dengar.”

Aku memejamkan mata.

Tiba-tiba aku teringat semua percakapan kami.

Semua kata manisnya.

Semua saat dia mengatakan ingin menjadi ayah yang baik untuk anak-anak.

Semua pembicaraan tentang membangun masa depan.

Apakah semuanya hanya strategi?

Kemudian datang satu kalimat terakhir.

Kalimat yang menghancurkan seluruh alasan yang mungkin masih bisa kubuat untuk membelanya.

Rendra berkata,

“Terus terang aku juga capek pura-pura suka tinggal di rumah yang berisik begitu.”

Dia tertawa kecil.

“Anak-anaknya ribut terus. Dua hari lagi saja. Aku cuma perlu bertahan sampai hari Sabtu.”

Aku memutus sambungan telepon.

Tidak menunggu lebih lama.

Aku hanya berdiri di depan jendela.

Pantulan wajahku terlihat samar di kaca yang dibasahi hujan.

Aku mengira aku akan menangis.

Aku mengira aku akan berteriak.

Atau melempar ponsel ke dinding.

Tetapi tidak.

Yang datang justru sesuatu yang jauh lebih tenang.

Kejelasan.

Rendra tidak sekadar berbohong kepadaku.

Dia mempelajari kelemahanku.

Dia tahu aku ingin Dimas memiliki figur ayah yang bisa dipercaya.

Dia tahu Alya dan Amira masih menyimpan luka karena kehilangan ibu mereka.

Dia tahu aku menginginkan rumah yang kembali terasa utuh.

Dan dia menggunakan semua itu sebagai alat.

Aku duduk di ujung tempat tidur.

Dari lantai bawah terdengar suara anak-anak tertawa.

Amira memprotes sesuatu.

Dimas membalas.

Alya tertawa begitu keras sampai salah satu anjing kami ikut menggonggong.

Aku menutup mata.

Rumah itu tiba-tiba terdengar lebih berharga daripada sebelumnya.

Bukan karena nilainya Rp14 miliar.

Bukan karena diwariskan keluargaku.

Tetapi karena rumah itu adalah satu tempat di mana ketiga anak itu merasa aman.

Aku mengambil ponsel.

Kulihat nama Rendra di layar.

Beberapa detik kemudian sebuah pesan masuk.

Rendra:

Maaf tadi kepencet mati. Papa butuh bantuan. Jangan tidur terlalu malam, calon istriku. Dua hari lagi kita resmi jadi keluarga.

Aku membaca pesan itu dua kali.

Lalu aku menghapusnya dari layar tanpa menjawab.

Aku berjalan ke pintu kamar.

Berhenti sejenak.

Kemudian berbisik kepada diriku sendiri,

“Dia tidak akan mengambil rumah anak-anakku.”

Rendra berpikir dua hari berikutnya hanya akan kugunakan untuk mempersiapkan pernikahan.

Dia salah.

Karena malam itu juga…

aku menelepon pengacaraku.

Dan sebelum matahari terbit keesokan harinya, aku mulai mengubah sesuatu yang tidak pernah terpikirkan oleh Rendra.

Aku tidak membatalkan gedung.

Tidak membatalkan katering.

Tidak menghubungi keluarganya.

Bahkan tidak membatalkan akad.

Dua hari kemudian, aku tetap mengenakan kebaya pengantinku.

Tetap berjalan menuju pelaminan.

Dan ketika Rendra tersenyum melihatku di hadapan hampir seratus tamu…

dia sama sekali tidak tahu bahwa rumah, tabungan, bisnis, dan masa depan yang selama ini dia incar…

sudah tidak lagi berada dalam jangkauannya.

Dan itu belum menjadi kejutan terbesar yang menunggunya hari itu.

LANJUTAN — RENDRA TIDAK TAHU APA YANG SUDAH KUUBAH DALAM 48 JAM

Pagi setelah mendengar percakapan itu, aku duduk di kantor pengacaraku dengan gaun pengantin yang masih tergantung di rumah dan sebuah pertanyaan yang terus berputar di kepalaku.

Bagaimana seseorang bisa berpura-pura mencintai tiga anak selama hampir tiga tahun hanya demi sebuah rumah dan uang?

Pak Surya tidak langsung menjawab ketika aku selesai menceritakan semuanya.

Dia hanya meletakkan pulpennya.

“Rekamannya masih ada?”

Aku mengangguk.

Ternyata ponselku menyimpan sebagian percakapan itu karena fitur perekam yang biasa kugunakan untuk rapat masih aktif.

Aku menyerahkan salinannya kepadanya.

Pak Surya mendengarkan beberapa menit.

Wajahnya berubah serius ketika suara Rendra terdengar membicarakan rumahku, investasi keluarga, dan dana pendidikan Alya serta Amira.

Setelah selesai, dia menatapku.

“Kamu mau membatalkan pernikahan?”

Aku diam.

Seharusnya jawabannya mudah.

Ya.

Telepon Rendra.

Batalkan semuanya.

Katakan kepada seluruh keluarga bahwa dia penipu.

Tetapi sesuatu menggangguku.

“Kalau aku membatalkan sekarang,” kataku, “dia akan bilang aku salah dengar. Ibunya akan menyangkal. Mereka mungkin menghapus pesan, memindahkan dokumen, dan mencari alasan.”

Pak Surya mengangguk perlahan.

“Apa yang kamu inginkan?”

Aku memandang hujan di balik jendela kantornya.

“Aku ingin memastikan anak-anak aman dulu.”

Itulah sebabnya selama 48 jam berikutnya, aku tidak bertindak seperti perempuan yang baru mengetahui calon suaminya mengincar hartanya.

Aku bertindak seperti seorang ibu.

Dan seorang arsitek.

Dalam pekerjaanku, aku belajar satu hal:

kalau fondasi sebuah bangunan retak, jangan sibuk mengecat dindingnya. Amankan strukturnya terlebih dahulu.

Maka itulah yang kulakukan terhadap hidupku.

Pak Surya membantu memastikan rumah Dago tetap menjadi aset pribadiku dan tidak bisa disentuh Rendra hanya karena pernikahan kami.

Akses ke rekening investasi diperketat.

Semua dokumen penting dipindahkan.

Dana pendidikan Alya dan Amira diperiksa ulang.

Aku juga mencabut surat kuasa terbatas yang beberapa bulan sebelumnya pernah kuberikan kepada Rendra untuk membantu urusan administrasi renovasi salah satu propertiku.

Saat itulah kami menemukan sesuatu.

Pak Surya menatap layar komputernya lama sekali.

“Nadira.”

Nada suaranya membuatku langsung tahu ada masalah.

“Apa?”

“Kamu pernah memberi Rendra salinan sertifikat rumah?”

“Untuk pengurusan renovasi atap tahun lalu.”

“Dan KTP?”

“Salinan. Kenapa?”

Dia memutar layar ke arahku.

Ada sebuah draf pengajuan pembiayaan.

Nama Rendra tercantum sebagai pihak yang mengurus.

Rumahku disebut sebagai aset yang direncanakan menjadi jaminan setelah perubahan status kepemilikan.

Dokumennya belum selesai.

Belum sah.

Belum ada tanda tanganku.

Tetapi rencananya sudah disiapkan.

Aku membaca angka di layar.

Rp6,8 miliar.

Tenggorokanku terasa kering.

“Jadi dia memang sudah merencanakannya.”

Pak Surya mengangguk.

“Bukan rencana setelah menikah. Dia sudah mempersiapkannya sebelum menikah.”

Aku pulang siang itu dan menemukan Rendra sedang bermain bola dengan Dimas di halaman.

Dia tertawa.

Dimas tertawa.

Untuk beberapa detik, pemandangan itu hampir membuatku kehilangan keseimbangan.

Karena terlihat nyata.

Itulah bagian paling mengerikan dari sebuah kebohongan yang bagus.

Bukan karena semuanya palsu.

Tetapi karena beberapa bagian terasa begitu nyata sehingga kita mulai meragukan kebenaran yang sudah ada di depan mata.

Rendra melihatku.

“Calon pengantin datang!”

Dia berjalan mendekat dan mencium keningku.

Aku membiarkannya.

“Semua beres?”

“Lumayan.”

Dia tersenyum.

“Surat yang kemarin sudah kamu baca?”

Jantungku berdegup keras.

Tetapi aku tersenyum balik.

“Belum selesai.”

Untuk sepersekian detik, ada sesuatu di matanya.

Kekecewaan.

Lalu senyumnya kembali.

“Nggak apa-apa. Setelah nikah saja. Kita kan punya banyak waktu.”

Kita punya banyak waktu.

Aku hampir tertawa.

Dia tidak tahu waktunya justru hampir habis.


Hari pernikahan tiba dengan langit Bandung yang cerah setelah dua hari hujan.

Hampir seratus orang memenuhi tempat acara.

Bunga putih dan hijau sage menghiasi ruangan.

Persis seperti pilihanku.

Marlina mengenakan kebaya biru tua dan menyambut tamu seperti ibu pengantin paling bahagia di dunia.

Ketika melihatku, dia memelukku.

“Cantik sekali.”

“Terima kasih, Bu.”

Tangannya memegang kedua lenganku.

“Sebentar lagi kita benar-benar jadi keluarga.”

Aku menatap matanya.

Dan untuk pertama kalinya, aku mengerti betapa mudahnya seseorang mengucapkan kata keluarga tanpa memahami artinya.

Dimas berdiri di dekatku.

Alya dan Amira membawa bunga.

Ketiganya terlihat bahagia.

Itulah bagian yang paling menyakitkan.

Mereka tidak tahu apa pun.

Aku sengaja tidak memberi tahu mereka.

Anak-anak tidak perlu memikul dosa orang dewasa sebelum waktunya.

Ketika musik mulai terdengar, aku berjalan perlahan.

Rendra berdiri di depan.

Wajahnya berseri-seri.

Dia bahkan mengusap sudut matanya seolah menahan haru.

Para tamu tersenyum.

Beberapa mengangkat ponsel.

Aku terus berjalan.

Satu langkah.

Dua langkah.

Tiga langkah.

Sampai akhirnya aku berdiri di hadapannya.

Rendra membisikkan,

“Kamu cantik sekali.”

Aku tersenyum.

“Terima kasih.”

Prosesi dimulai.

Semua berlangsung normal.

Sampai tiba waktunya sebelum akad dilanjutkan.

Aku mengangkat tangan.

“Maaf. Saya ingin mengatakan sesuatu.”

Ruangan menjadi tenang.

Rendra menatapku.

“Ada apa?”

Aku mengambil mikrofon.

Tanganku tidak gemetar.

“Pertama, saya ingin berterima kasih kepada semua orang yang datang hari ini.”

Beberapa tamu tersenyum.

“Ada keluarga, teman, rekan kerja, dan orang-orang yang sudah mengenal saya sejak kecil.”

Aku berhenti.

“Karena itu, saya rasa kalian juga berhak tahu mengapa pernikahan ini tidak akan dilanjutkan.”

Tidak ada suara.

Wajah Rendra berubah.

“Nadira?”

Aku menatapnya.

“Dua hari lalu, kamu meneleponku dari rumah orang tuamu.”

Warna wajahnya langsung memudar.

Aku melihat Marlina membeku di kursinya.

Rendra berbisik,

“Kamu ngomong apa?”

“Teleponnya tidak terputus.”

Hening.

Benar-benar hening.

Aku tidak memutar rekaman.

Aku tidak perlu mempermalukannya dengan pertunjukan.

Aku hanya mengatakan apa yang kudengar.

Tentang rumah.

Tentang investasi.

Tentang rencana pembiayaan Rp6,8 miliar.

Tentang dana pendidikan si kembar.

Dan akhirnya tentang ketiga anakku.

Ketika kusebut kalimat bahwa Rendra hanya perlu “bertahan sampai Sabtu”, terdengar seseorang menarik napas tajam dari barisan tamu.

Rendra menatapku seperti orang yang baru sadar lantai di bawah kakinya telah hilang.

“Itu bukan—”

“Jangan.”

Suaraku tetap tenang.

“Aku sudah memberikan rekamannya kepada pengacaraku.”

Marlina berdiri.

“Ini keterlaluan! Percakapan pribadi dipakai untuk mempermalukan keluarga kami?”

Aku menoleh kepadanya.

“Tidak, Bu Marlina.”

Aku menarik napas.

“Yang memalukan bukan karena percakapan itu terdengar.”

Aku menatapnya lurus.

“Yang memalukan adalah isi percakapannya.”

Dia terdiam.

Rendra mencoba meraih tanganku.

Aku mundur.

“Nadira, dengarkan aku. Mama memang suka bicara soal uang. Aku cuma mengiyakan.”

“Pengajuan pembiayaan Rp6,8 miliar itu juga ibumu yang buat?”

Dia membeku.

Aku tahu jawabannya.

Para tamu pun tahu.

Kemudian sesuatu yang tidak kuduga terjadi.

Ayah Rendra, Pak Haris, berdiri.

Selama ini dia hampir tidak pernah ikut campur.

Pria itu berjalan perlahan ke depan.

“Haris, duduk!” bentak Marlina.

Dia tidak menurut.

Pak Haris menatap putranya.

“Kamu benar-benar mengajukan pinjaman dengan rencana menjaminkan rumah Nadira?”

Rendra menjawab,

“Papa nggak ngerti situasinya.”

Pak Haris menutup mata sebentar.

Lalu dia mengucapkan kalimat yang membuat Marlina pucat.

“Saya mengerti lebih banyak daripada yang kamu kira.”

Dia mengeluarkan sebuah amplop dari jasnya.

“Seminggu lalu saya menemukan ini di ruang kerja.”

Isinya salinan beberapa dokumen.

Bukan hanya milikku.

Ada nama dua orang lain.

Dua perempuan.

Aku tidak mengenal mereka.

Pak Haris berkata pelan,

“Rendra pernah melakukan sesuatu yang mirip sebelumnya.”

Ruangan langsung riuh.

Rendra berteriak,

“Papa!”

Tetapi ayahnya terus berbicara.

Bertahun-tahun sebelumnya, Rendra pernah bertunangan dengan seorang perempuan bernama Siska.

Hubungan itu dikatakan berakhir karena ketidakcocokan.

Ternyata bukan.

Menurut Pak Haris, Rendra pernah mencoba meyakinkan Siska untuk menggabungkan modal usaha mereka.

Ketika Siska menolak, pertunangan berakhir.

Perempuan kedua adalah seorang janda bernama Ratna.

Hubungan mereka hanya berlangsung beberapa bulan.

Rendra pernah meminta Ratna berinvestasi dalam proyek properti yang tidak pernah terealisasi.

Ratna mundur sebelum kehilangan uang dalam jumlah besar.

Aku menatap Marlina.

Yang mengejutkanku bukan bahwa dia tahu.

Melainkan wajahnya menunjukkan bahwa dia sudah tahu semuanya.

Pak Haris melihat istrinya.

“Kamu membantu dia lagi.”

Marlina tidak menjawab.

Saat itu aku memahami sesuatu yang jauh lebih buruk.

Aku bukan perempuan pertama yang mereka pilih.

Aku hanya target terbesar.

Rumah.

Bisnis.

Investasi.

Dan tiga anak yang menurut mereka bisa dijadikan alat untuk membuatku takut kehilangan keluarga.

Rendra mulai kehilangan kendali.

Dia menuduh ayahnya iri.

Menuduhku menjebaknya.

Menuduh Pak Surya menghasutku.

Sampai sebuah suara kecil terdengar dari belakangku.

“Om Rendra.”

Aku berbalik.

Dimas berdiri di sana.

Putraku yang baru dua belas tahun.

Wajahnya tidak marah.

Justru terluka.

“Waktu rantai sepedaku putus, Om bilang kalau keluarga itu orang yang nggak pergi waktu kita butuh.”

Rendra terdiam.

Dimas menelan ludah.

“Om bohong waktu itu?”

Aku langsung menghampirinya.

“Dimas, kamu nggak harus—”

Tetapi dia menatap Rendra.

“Aku cuma mau tahu.”

Untuk pertama kalinya hari itu, Rendra tidak punya jawaban.

Dan anehnya, itulah saat aku akhirnya menangis.

Bukan ketika mendengar dia mengincar rumahku.

Bukan ketika mengetahui soal uang.

Aku menangis ketika melihat seorang anak menyadari bahwa orang dewasa yang dia percaya ternyata tidak seperti yang dia kira.

Aku memeluk Dimas.

Alya dan Amira ikut memeluk kami.

Empat orang berdiri di depan ruangan penuh bunga yang seharusnya menjadi awal keluarga baru.

Lalu Amira berbisik,

“Kalau kita pulang berempat, kita masih keluarga, kan?”

Aku menatapnya.

Pertanyaan itu menghancurkan sesuatu di dalam diriku sekaligus memperbaikinya.

Aku berlutut agar sejajar dengannya.

“Kita sudah keluarga dari dulu.”

Dia memeluk leherku.

Dan pada saat itu, aku tidak lagi merasa seperti perempuan yang pernikahannya gagal.

Aku merasa seperti ibu yang hampir membuka pintu rumahnya kepada orang yang salah…

dan berhasil menutupnya tepat waktu.


Enam bulan kemudian, rumah di Dago masih berdiri persis seperti sebelumnya.

Tetapi kehidupan kami berubah.

Rendra tidak pernah menjadi suamiku.

Pengajuan pembiayaan itu dibatalkan sepenuhnya.

Pak Surya membantu menyerahkan dokumen-dokumen yang mencurigakan kepada pihak terkait untuk ditindaklanjuti melalui jalur yang semestinya.

Aku tidak mengikuti setiap perkembangan hidup Rendra.

Aku tidak mau.

Beberapa kemenangan tidak membutuhkan kita berdiri di samping orang yang kalah.

Kadang kemenangan berarti bisa berjalan pergi.

Pak Haris berpisah dari Marlina beberapa bulan kemudian.

Suatu sore dia datang ke rumah.

Tidak membawa hadiah.

Tidak meminta dimaafkan.

Dia hanya membawa sebuah kotak kecil.

“Ada sesuatu yang seharusnya diberikan Rendra kepada anak-anak setelah pernikahan.”

Aku hampir menolak.

Tetapi Dimas membuka kotaknya.

Di dalamnya ada tiga gantungan kunci kayu kecil.

Nama mereka terukir di masing-masing sisi.

DIMAS.

ALYA.

AMIRA.

Aku menatap Pak Haris.

“Rendra membuat ini?”

Dia mengangguk.

“Dengan tangannya sendiri.”

Aku bingung.

Pak Haris kemudian mengatakan sesuatu yang tidak pernah kuduga.

“Tidak semua yang dia lakukan kepada anak-anak itu palsu, Nadira.”

Aku terdiam.

“Rendra memang serakah. Dia memang merencanakan sesuatu yang tidak bisa saya bela.”

Pak Haris menarik napas panjang.

“Tapi saya pernah melihat dia duduk semalaman di rumah sakit ketika Dimas sakit. Tidak ada kamu waktu itu. Tidak ada saya. Tidak ada orang yang perlu dia buat terkesan.”

Aku mengingat malam tersebut.

Aku sedang menemani Alya di rumah karena demam.

Rendra yang membawa Dimas ke IGD.

Pak Haris melanjutkan.

“Mungkin itu yang paling menyedihkan.”

Aku menatap tiga gantungan kunci itu.

“Dia sebenarnya bisa mencintai mereka.”

Pak Haris mengangguk.

“Ya.”

“Lalu kenapa dia melakukan semua ini?”

Pria tua itu memandang ke halaman.

“Karena kadang manusia tidak kehilangan hidup yang baik karena tidak mampu mencintai.”

Dia berhenti.

“Mereka kehilangan hidup yang baik karena keserakahan mereka lebih besar daripada cinta yang mereka punya.”

Kalimat itu tinggal bersamaku lama setelah dia pergi.

Malamnya, aku menemukan Dimas memasang gantungan kayu itu di tas sekolahnya.

Aku tidak melarang.

Dia berhak menyimpan kenangan baik tanpa harus memaafkan keburukan yang terjadi setelahnya.

Alya menyimpan miliknya di laci.

Amira menggantungkannya di dekat tempat tidur.

Dan aku belajar bahwa penyembuhan bukan berarti menghapus semua hal baik hanya karena seseorang akhirnya mengecewakan kita.

Penyembuhan adalah mampu melihat semuanya sebagaimana adanya.

Yang baik.

Yang buruk.

Dan batas yang tidak boleh dilanggar.


Setahun setelah hari pernikahan yang tidak pernah terjadi itu, kami mengadakan makan malam kecil di halaman rumah.

Tidak ada dekorasi mewah.

Tidak ada seratus tamu.

Hanya kami, beberapa teman dekat, dua anjing tua, dan makanan yang terlalu banyak.

Hari itu adalah ulang tahun Alya dan Amira.

Menjelang malam, aku duduk di tangga belakang sambil melihat ketiga anak berlari mengejar satu sama lain.

Dimas sekarang lebih tinggi.

Alya semakin berani.

Amira masih tertawa paling keras.

Pak Surya yang ikut datang duduk di sampingku.

“Kamu tahu sesuatu yang lucu?”

“Apa?”

“Waktu pertama datang ke kantor setelah mendengar telepon itu, kamu bilang cuma ingin menyelamatkan rumah.”

Aku melihat bangunan tua di belakang kami.

Lampu kuning hangat menyala dari jendela.

Aku tersenyum.

“Ternyata bukan rumahnya yang perlu diselamatkan.”

Pak Surya mengangguk.

Aku memandang anak-anak.

Selama berbulan-bulan aku sempat malu karena hampir menikahi Rendra.

Aku bertanya-tanya bagaimana aku bisa tidak melihatnya.

Bagaimana seorang perempuan yang terbiasa membaca gambar teknik, kontrak, angka, dan detail kecil bisa gagal membaca manusia yang tidur beberapa meter dari kamarnya sendiri.

Kemudian aku berhenti menyalahkan diriku.

Kepercayaan bukan kebodohan.

Mencintai seseorang bukan kegagalan.

Yang menentukan kita bukan fakta bahwa seseorang berhasil menipu kita untuk sementara.

Yang menentukan kita adalah apa yang kita lakukan setelah kebenaran muncul.

Tiba-tiba Amira berlari menghampiriku.

“Tante!”

“Ya?”

“Dimas bilang nanti kalau sudah besar dia mau beli rumah sendiri.”

Dimas berteriak dari kejauhan.

“Aku nggak bilang beli! Aku bilang bangun!”

Aku tertawa.

“Bagus. Tante bisa desain.”

Dimas mendekat sambil tersenyum.

“Nggak usah.”

Aku pura-pura tersinggung.

“Kenapa?”

Dia melihat rumah kami.

Lalu berkata,

“Karena rumah yang bagus bukan soal desainnya.”

Aku mengangkat alis.

“Terus?”

Anak laki-lakiku mengangkat bahu.

“Soal siapa yang aman di dalamnya.”

Aku tidak bisa menjawab beberapa detik.

Aku hanya menariknya ke dalam pelukan.

Alya dan Amira segera ikut menumpuk di atas kami sambil tertawa.

Di belakang mereka berdiri rumah tua yang pernah diincar seseorang karena nilainya hampir Rp14 miliar.

Tetapi Rendra salah memahami nilainya sejak awal.

Dia melihat tanah.

Sertifikat.

Investasi.

Jaminan bank.

Aku melihat bekas tinggi badan anak-anak yang kami tandai dengan pensil di kusen dapur.

Aku melihat kamar tempat Alya tidur dengan lampu menyala selama enam bulan setelah ibunya meninggal.

Aku melihat meja makan tempat Dimas mengerjakan PR.

Aku melihat sofa tempat Amira tertidur sambil menunggu malam tahun baru.

Rendra mengira jika dia mendapatkan rumah itu, dia akan mendapatkan semuanya.

Padahal rumah itu tidak pernah menjadi hal paling berharga yang kumiliki.

Ketiga anak yang tinggal di dalamnyalah yang membuatnya berharga.

Dan akhirnya aku memahami ironi terbesar dari semua yang terjadi.

Dua hari sebelum pernikahan, ketika aku mendengar Rendra berkata,

“Begitu dia tanda tangan, rumah dan tabungannya jadi milik kita,”

aku mengira hidupku sedang runtuh.

Ternyata panggilan telepon yang lupa dia putuskan itu bukanlah akhir dari keluargaku.

Itu justru menyelamatkan kami.

Karena aku hampir menikahi seorang pria demi memberi ketiga anakku sebuah keluarga yang “utuh”.

Padahal mereka tidak membutuhkan seorang pria untuk melengkapi keluarga kami.

Mereka hanya membutuhkan satu hal:

orang dewasa yang memilih mereka ketika pilihan itu benar-benar penting.

Dan pada hari aku seharusnya menjadi istri Rendra Mahardika…

untuk pertama kalinya aku berhenti memilih gambaran keluarga yang kuinginkan.

Aku memilih keluarga yang sudah kumiliki.

Dan ternyata, kami tidak pernah kekurangan apa pun.