SEPUPUKU MELEMPAR KACAMATA HITAMKU KE KOLAM RENANG HANYA KARENA AKU MENOLAK MEMBERIKAN KURSI DI SEBELAH SUAMIKU KEPADANYA, DAN RAKA MALAH TERTAWA SAAT KACAMATA ITU TENGGELAM. SEBELUM LIBURAN ITU BERAKHIR, PENGHINAAN KECIL YANG MENURUTNYA SUDAH MEMBUATNYA MENANG AKAN TERLIHAT SANGAT BERBEDA. NAMUN SAAT AKU BERDIRI DARI KURSI DI TEPI KOLAM, NADYA SAMA SEKALI BELUM TAHU APA YANG SUDAH KULIHAT MALAM SEBELUMNYA—ATAU APA YANG SEDANG MENUNGGU DI DALAM PONSELKU.

Avatar penulis
Cerita 04
19 menit baca 491 tayangan
SEPUPUKU MELEMPAR KACAMATA HITAMKU KE KOLAM RENANG HANYA KARENA AKU MENOLAK MEMBERIKAN KURSI DI SEBELAH SUAMIKU KEPADANYA, DAN RAKA MALAH TERTAWA SAAT KACAMATA ITU TENGGELAM. SEBELUM LIBURAN ITU BERAKHIR, PENGHINAAN KECIL YANG MENURUTNYA SUDAH MEMBUATNYA MENANG AKAN TERLIHAT SANGAT BERBEDA. NAMUN SAAT AKU BERDIRI DARI KURSI DI TEPI KOLAM, NADYA SAMA SEKALI BELUM TAHU APA YANG SUDAH KULIHAT MALAM SEBELUMNYA—ATAU APA YANG SEDANG MENUNGGU DI DALAM PONSELKU.
Indeks

SEPUPUKU MELEMPAR KACAMATA HITAMKU KE KOLAM RENANG HANYA KARENA AKU MENOLAK MEMBERIKAN KURSI DI SEBELAH SUAMIKU KEPADANYA, DAN RAKA MALAH TERTAWA SAAT KACAMATA ITU TENGGELAM. SEBELUM LIBURAN ITU BERAKHIR, PENGHINAAN KECIL YANG MENURUTNYA SUDAH MEMBUATNYA MENANG AKAN TERLIHAT SANGAT BERBEDA. NAMUN SAAT AKU BERDIRI DARI KURSI DI TEPI KOLAM, NADYA SAMA SEKALI BELUM TAHU APA YANG SUDAH KULIHAT MALAM SEBELUMNYA—ATAU APA YANG SEDANG MENUNGGU DI DALAM PONSELKU.

Sepupuku melempar kacamata hitamku ke kolam karena aku menolak menyerahkan kursi di sebelah suamiku.

Raka tertawa ketika benda itu tenggelam.

Dan suara tawanya memberitahuku lebih banyak tentang pernikahan kami daripada delapan tahun janji yang pernah dia ucapkan.

“Serius, Maya?” kata Nadya sambil berdiri di depanku.

Dia mengenakan baju renang putih dengan luaran tipis dan topi pantai besar.

“Kamu kan istrinya. Setiap hari juga bisa duduk di sebelah Raka.”

Kolam renang sebuah resort di Nusa Dua, Bali, berkilauan diterpa matahari siang.

SEPUPUKU MELEMPAR KACAMATA HITAMKU KE KOLAM RENANG HANYA KARENA AKU MENOLAK MEMBERIKAN KURSI DI SEBELAH SUAMIKU KEPADANYA, DAN RAKA MALAH TERTAWA SAAT KACAMATA ITU TENGGELAM. SEBELUM LIBURAN ITU BERAKHIR, PENGHINAAN KECIL YANG MENURUTNYA SUDAH MEMBUATNYA MENANG AKAN TERLIHAT SANGAT BERBEDA. NAMUN SAAT AKU BERDIRI DARI KURSI DI TEPI KOLAM, NADYA SAMA SEKALI BELUM TAHU APA YANG SUDAH KULIHAT MALAM SEBELUMNYA—ATAU APA YANG SEDANG MENUNGGU DI DALAM PONSELKU.

Di sekeliling kami, sekitar dua belas anggota keluarga besarku berpura-pura sibuk dengan makanan, minuman, atau ponsel mereka.

Padahal aku tahu hampir semuanya sedang memperhatikan.

Aku menatap Nadya.

“Kalau begitu, cari kursi lain.”

Senyumnya menajam.

Sebelum aku sempat bereaksi, tangannya menyambar kacamata hitam yang tergeletak di meja kecil di sampingku.

“Nadya.”

Terlambat.

Dia melemparkannya ke bagian kolam yang paling dalam.

Kacamata itu menyentuh air.

Mengambang selama setengah detik.

Lalu perlahan tenggelam.

Raka tertawa keras.

“Ya ampun, Maya,” katanya. “Cuma kacamata hitam.”

Aku menatapnya.

“Itu milik Ibu.”

Senyumnya hilang.

Hanya sebentar.

Mungkin satu detik.

Nadya malah mengangkat bahu.

“Kalau memang begitu berharga, jangan terlalu posesif cuma gara-gara kursi.”

Lalu dia duduk di kursi tepat di sebelah suamiku.

Dan Raka tidak menghentikannya.

Itulah bagian yang benar-benar penting.

Bukan kacamata itu.

Bukan suara tawa mereka.

Bahkan bukan suara Tante Mira yang berbisik dari meja belakang,

“Maya memang dari dulu terlalu sensitif.”

Aku berdiri.

Mengambil ponselku.

Kemudian berjalan menuju gedung hotel tanpa mengatakan sepatah kata pun.

Dari belakang, Nadya berteriak,

“Eh, jangan ngambek dong! Jangan rusak liburan keluarga!”

Aku hampir tersenyum.

Karena sebenarnya liburan itu memang sudah rusak.

Hanya saja…

Bukan untukku.

Malam sebelumnya aku tidak bisa tidur.

Aku turun ke ruang tengah vila untuk mengambil air minum.

Saat itulah aku melihat laptop Raka masih menyala di atas meja makan.

Aku tidak berniat memeriksanya.

Aku bahkan tidak perlu menyentuhnya.

Sebuah notifikasi pesan muncul di layar.

Nama pengirimnya membuat langkahku berhenti.

NADYA.

Pesannya berbunyi:

Begitu Maya tanda tangan surat refinancing itu, kamu akhirnya bisa meninggalkannya.

Tubuhku terasa dingin.

Belum sempat aku bergerak, pesan kedua muncul.

Pengacaramu bilang nilai rumahnya cukup untuk modal kita, kan?

Aku terpaku.

Rumah kami.

Rumah di Pondok Indah, Jakarta Selatan, yang sudah kubeli tiga tahun sebelum menikah dengan Raka.

Rumah yang secara hukum berada dalam pengaturan aset keluarga yang dibuat almarhum ayahku.

Sepertinya Raka melupakan satu hal kecil itu.

Atau mungkin dia tidak pernah benar-benar memahami dokumen kepemilikannya.

Tanganku gemetar ketika mengambil ponsel.

Aku memotret setiap pesan yang terlihat di layar.

Aku tidak membuka aplikasi apa pun.

Tidak memeriksa percakapan lain.

Tidak membuka emailnya.

Aku tidak perlu.

Karena sebenarnya Raka sudah melakukan kesalahan terbesarnya beberapa bulan sebelumnya.

Saat itu dia datang kepadaku membawa setumpuk dokumen.

Dia sedang membangun sebuah perusahaan investasi baru bersama beberapa rekannya.

Katanya dia hanya membutuhkan bantuanku untuk “memeriksa angka-angkanya.”

Raka selalu menganggap pekerjaanku membosankan.

Aku seorang akuntan forensik.

Menurutnya, pekerjaanku tidak lebih dari duduk di depan komputer, memeriksa laporan keuangan, lalu mencari kesalahan angka.

Dia tidak pernah benar-benar memahami apa yang kulakukan.

Dan dia sama sekali tidak menyadari bahwa ketika membaca dokumen perusahaannya, aku langsung menemukan sesuatu yang janggal.

Dua perusahaan cangkang.

Beberapa transfer dengan tujuan yang tidak jelas.

Sejumlah pembayaran tanpa dokumen pendukung.

Dan satu tanda tangan.

Tanda tanganku.

Masalahnya…

Aku tidak pernah menandatangani dokumen tersebut.

Aku masih ingat bagaimana aku memandang Raka saat itu.

Dia sedang berdiri di dapur sambil memainkan ponselnya.

Tenang.

Santai.

Seolah tidak ada apa-apa.

Aku tidak mengatakan apa pun.

Tidak menuduhnya.

Tidak bertanya.

Aku hanya mulai mengumpulkan bukti.

Diam-diam.

Dokumen demi dokumen.

Transfer demi transfer.

Pesan demi pesan.

Aku tahu satu hal dari pekerjaanku selama bertahun-tahun.

Kalau seseorang sedang berbohong tentang uang, jangan langsung membuatnya takut.

Biarkan dia merasa aman.

Karena orang yang merasa aman biasanya akan terus melakukan kesalahan.

Dan Raka melakukan banyak kesalahan.

Ketika pintu lift hotel terbuka di depanku, ponselku bergetar.

Sebuah pesan masuk dari Bu Lestari, pengacaraku di Jakarta.

Hanya tiga kata.

Semuanya sudah siap.

Aku berhenti di depan lift.

Kemudian menoleh kembali melalui pintu kaca menuju area kolam renang.

Dari kejauhan aku bisa melihat Nadya duduk sangat dekat dengan Raka.

Dia sedang tertawa.

Tubuhnya sedikit condong ke arah suamiku.

Dan tangan Raka berada santai di paha Nadya, tersembunyi sebagian di bawah meja.

Mereka mengira aku sudah pergi.

Mereka tidak tahu aku sedang melihat.

Mereka juga tidak tahu bahwa selama beberapa minggu terakhir, pengacaraku telah menyiapkan dokumen untuk melindungi semua aset yang secara hukum memang milikku.

Mereka tidak tahu bukti tanda tangan palsu itu sudah diamankan.

Mereka tidak tahu transaksi perusahaan Raka sedang diperiksa.

Dan yang paling penting…

Mereka tidak tahu bahwa seluruh rencana mereka bergantung pada satu tanda tangan dariku.

Tanda tangan yang tidak akan pernah mereka dapatkan.

Aku membuka pesan dari Bu Lestari.

Jempolku bergerak pelan di atas layar.

Aku mengetik:

Ajukan besok.

Kukirim pesan itu.

Lalu aku melihat Raka dan Nadya untuk terakhir kalinya dari balik pintu kaca.

Nadya masih tersenyum seperti seorang perempuan yang yakin dirinya baru saja memenangkan sesuatu.

Sebuah kursi di sebelah suamiku.

Perhatian seluruh keluarga.

Dan mungkin, dalam pikirannya, masa depan bersama Raka.

Dia sama sekali tidak tahu bahwa keesokan harinya, pengacaraku akan mulai membongkar rencana yang sudah mereka susun selama berbulan-bulan.

Aku melangkah masuk ke dalam lift.

Pintunya perlahan tertutup.

Dan untuk pertama kalinya sejak liburan keluarga itu dimulai…

Aku bisa bernapas dengan lega.

Karena kali ini aku tidak akan berteriak.

Aku tidak akan membuat keributan.

Aku juga tidak akan memohon kepada siapa pun untuk memilihku.

Aku hanya akan membiarkan dokumen, rekening bank, pesan mereka, dan tanda tangan palsu itu berbicara sendiri.

Dan ketika liburan di Bali itu berakhir…

Keesokan paginya, aku bangun sebelum matahari terbit.

Untuk beberapa detik, aku hanya berbaring menatap langit-langit kamar hotel.

Raka tidak ada di sebelahku.

Sisi ranjangnya dingin.

Aku tidak terkejut.

Aku sudah mendengar pintu kamar dibuka pelan sekitar pukul dua dini hari.

Aku tidak bangun.

Setidaknya, itulah yang dia pikirkan.

Aku meraih ponsel dari meja samping tempat tidur.

Ada satu pesan dari Bu Lestari.

Permohonan sudah masuk. Jangan tanda tangani apa pun. Jangan beri tahu Raka sebelum saya menelepon lagi.

Aku membaca pesan itu dua kali.

Lalu aku menghapus ekspresi apa pun dari wajahku.

Hari itu keluarga kami berencana sarapan bersama di restoran resort sebelum pergi ke Uluwatu.

Ketika aku masuk ke restoran, hampir semua orang sudah duduk.

Raka berada di ujung meja.

Nadya tepat di sebelahnya.

Tentu saja.

Tante Mira sedang menceritakan sesuatu sambil tertawa.

Om Hendra sibuk menuangkan kopi.

Ibuku sudah meninggal lima tahun lalu.

Ayahku dua tahun setelahnya.

Sejak itu, keluarga besar ini selalu memperlakukanku seperti seseorang yang harus bersyukur masih diundang ke acara keluarga.

Nadya terutama.

Dia adalah anak kesayangan Tante Mira.

Cantik.

Pandai bicara.

Selalu tahu bagaimana menjadi pusat perhatian tanpa terlihat berusaha.

Aku menarik kursi kosong di sisi lain meja.

Raka menatapku.

“Kamu ke mana kemarin?”

“Aku tidur.”

“Seharian?”

“Aku lelah.”

Dia menatapku lebih lama.

Seolah mencoba membaca sesuatu.

Aku tersenyum tipis.

“Ada masalah?”

“Enggak.”

Nadya menyelipkan rambut ke belakang telinganya.

“Kacamatanya sudah diambil petugas kolam, belum?”

Aku menatapnya.

“Belum.”

Dia terkekeh.

“Ya, sayang sekali.”

Aku mengambil secangkir teh.

“Tidak apa-apa. Ada beberapa benda yang memang lebih baik dibiarkan tenggelam.”

Raka langsung menoleh.

Nadya berhenti tersenyum.

Hanya sebentar.

Lalu Tante Mira berkata,

“Maya, sudahlah. Liburan tinggal dua hari lagi. Jangan dibawa terus.”

Aku tidak menjawab.

Karena ponsel Raka berdering.

Dia melihat layar.

Wajahnya berubah.

Sangat sedikit.

Tapi aku melihatnya.

Dia berdiri.

“Aku angkat dulu.”

Dia berjalan keluar restoran.

Aku menyesap teh.

Satu menit.

Dua menit.

Lima menit.

Kemudian Raka kembali.

Wajahnya pucat.

Dia duduk tanpa menyentuh makanannya.

Nadya berbisik,

“Kenapa?”

“Tidak ada.”

Tetapi tangannya gemetar ketika mengambil gelas.

Aku tahu.

Panggilan pertama sudah datang.

Sekitar satu jam kemudian, kami semua berada di lobi menunggu mobil.

Raka menarik lenganku.

“Kita bicara sebentar.”

Aku melepaskan tangannya.

“Bicara saja.”

“Berdua.”

Aku menatap keluarga kami.

Semua pura-pura tidak mendengar.

“Baik.”

Kami berjalan ke koridor dekat ruang konferensi.

Begitu tidak ada orang di sekitar, wajah Raka berubah.

“Apa yang kamu lakukan?”

Aku bersandar pada dinding.

“Spesifik sedikit.”

“Rekening perusahaan dibekukan sementara.”

“Oh.”

“Jangan ‘oh’ aku.”

Aku menatapnya.

“Kamu mau bilang apa?”

“Pengacara perusahaan bilang ada permintaan audit dan laporan dugaan pemalsuan dokumen.”

Aku diam.

Raka mendekat.

“Kamu melaporkanku?”

“Kenapa kamu berpikir aku?”

“Karena cuma kamu yang tahu dokumen itu.”

Aku tertawa kecil.

Untuk pertama kalinya, kemarahannya terlihat jelas.

“Kamu menganggap aku sebodoh itu, Raka?”

“Apa maksudmu?”

“Aku tidak pernah menandatangani dokumen pendirian PT Arunika Investama.”

Wajahnya membeku.

Aku melanjutkan.

“Aku juga tidak pernah memberikan kuasa menggunakan rumah Pondok Indah sebagai jaminan.”

Dia tidak bicara.

“Dan aku jelas tidak pernah menyetujui transfer Rp4,8 miliar dari rekening operasional ke perusahaan bernama PT Nusa Cakra Konsultan.”

Raka menelan ludah.

Itulah saat aku tahu angka itu tepat mengenai sasaran.

“Kamu buka file pribadiku?”

“Tidak.”

“Lalu dari mana kamu tahu?”

Aku tersenyum.

“Karena kamu meminta seorang akuntan forensik memeriksa laporan perusahaanmu.”

Dia menatapku seperti baru pertama kali memahami arti pekerjaanku.

Aku melanjutkan.

“Dan karena kamu terlalu malas menghapus metadata dokumen.”

Wajahnya kehilangan warna.

“Dengar, Maya. Kita bisa menyelesaikan ini.”

“Kita?”

“Aku bisa jelaskan.”

“Bagus. Jelaskan.”

Dia menarik napas.

“Itu cuma pinjaman sementara.”

“Dengan tanda tanganku yang dipalsukan?”

“Aku panik.”

“Empat kali?”

Dia terdiam.

Aku mengeluarkan ponsel.

“Empat dokumen, Raka.”

Aku melihat matanya berubah.

Bukan malu.

Takut.

“Aku bisa kembalikan uangnya.”

“Dengan apa?”

Dia tidak menjawab.

“Dengan rumahku?”

“Itu rumah kita.”

“Tidak.”

Aku menggeleng.

“Itu rumahku.”

Dia mendekat.

“Kita menikah delapan tahun.”

“Dan selama delapan tahun itu kamu tetap tidak pernah membaca akta.”

“Maya—”

“Rumah itu masuk ke dalam perwalian keluarga sebelum aku mengenalmu.”

Dia membeku.

“Artinya?”

“Artinya kamu tidak punya hak atas rumah itu. Bahkan kalau aku mati besok, rumah itu bukan milikmu.”

Aku melihat sesuatu runtuh di wajahnya.

Bukan karena pernikahan kami berakhir.

Karena rencananya berakhir.

Dan itu jauh lebih menyakitkan untuk disadari.

“Siapa yang bilang kamu bisa mati?”

Suara Nadya datang dari belakang.

Kami berdua menoleh.

Dia berdiri sekitar enam meter dari kami.

Wajahnya tegang.

Raka langsung berkata,

“Nadya, pergi.”

Tapi dia tidak bergerak.

“Apa maksudnya rumah itu bukan milikmu?” tanyanya kepada Raka.

“Nanti aku jelaskan.”

“Tidak. Jelaskan sekarang.”

Aku menatap mereka bergantian.

Kemudian sesuatu yang hampir lucu terjadi.

Untuk pertama kalinya, Nadya memandang Raka bukan sebagai pria yang akan menyelamatkannya.

Melainkan sebagai pria yang mungkin sudah membohonginya.

“Kamu bilang rumah itu akan dijual,” katanya.

Raka mendesis,

“Pelankan suara.”

“Kamu bilang setelah Maya tanda tangan, kita dapat setidaknya dua belas miliar.”

Aku tidak mengatakan apa-apa.

Tidak perlu.

Raka menatapku.

Aku menatap Nadya.

“Dua belas miliar?”

Nadya sadar dia baru saja mengatakan terlalu banyak.

Dia memucat.

Raka meraih lengannya.

“Diam.”

Nadya menepis tangannya.

“Jangan sentuh aku.”

Aku hampir kagum.

Kemarin perempuan ini melempar kacamata peninggalan ibuku ke kolam.

Hari ini dia mulai menyadari pria yang dia rebut mungkin sama sekali tidak punya apa yang dijanjikan kepadanya.

Suara Tante Mira terdengar dari ujung koridor.

“Kalian ngapain?”

Kami menoleh.

Seluruh keluarga berdiri di sana.

Tentu saja.

Drama keluarga tidak pernah benar-benar pribadi.

Tante Mira berjalan mendekat.

“Ada apa?”

Nadya menjawab lebih dulu.

“Raka bohong sama aku.”

Aku mengangkat alis.

Tante Mira berhenti.

“Bohong apa?”

Raka berkata,

“Tidak ada apa-apa.”

“Dia bilang rumah Maya bisa dijual.”

Semua orang terdiam.

Om Hendra menurunkan kacamata bacanya.

Tante Mira menatap Nadya.

“Kenapa Raka bicara soal jual rumah Maya sama kamu?”

Dan untuk pertama kalinya sejak liburan dimulai, Nadya tidak punya jawaban.

Raka berkata cepat,

“Ini urusan bisnis.”

Aku tertawa.

Semua mata beralih kepadaku.

“Urusan bisnis?”

Aku mengeluarkan ponsel.

“Baiklah. Kalau semuanya sudah di sini, mungkin memang waktunya.”

Raka menatapku.

“Maya.”

Aku membuka foto pesan yang kuambil malam sebelumnya.

Lalu aku menyerahkan ponsel kepada Tante Mira.

Dia membaca.

Wajahnya berubah.

Kemudian dia menyerahkannya kepada Om Hendra.

Satu per satu keluarga membaca pesan itu.

Begitu Maya tanda tangan surat refinancing itu, kamu akhirnya bisa meninggalkannya.

Pengacaramu bilang nilai rumahnya cukup untuk modal kita, kan?

Tidak ada yang bicara.

Nadya berdiri kaku.

Tante Mira memandang putrinya.

“Nadya?”

Nadya mulai menangis.

“Ma, aku bisa jelaskan.”

Aku hampir tertawa mendengar kalimat itu.

Ternyata orang bersalah selalu punya kalimat pembuka yang sama.

Tante Mira berkata pelan,

“Kamu tidur dengan suami sepupumu?”

“Mama—”

“Jawab.”

Nadya menunduk.

Dan itu sudah cukup.

Tante Mira menamparnya.

Suara tamparan itu memantul di koridor.

Aku tidak merasa puas.

Aneh.

Selama berminggu-minggu aku membayangkan mereka dipermalukan.

Tetapi ketika akhirnya terjadi, yang kurasakan hanya lelah.

Sangat lelah.

Aku mengambil kembali ponselku.

“Aku mau pulang ke Jakarta hari ini.”

Raka langsung berkata,

“Kita belum selesai.”

“Justru kita sudah selesai.”

Aku meninggalkan mereka.

Tetapi kejutan sebenarnya datang tiga jam kemudian.

Aku sudah berada di kamar, memasukkan pakaian ke koper, ketika Bu Lestari menelepon.

“Maya, ada perkembangan.”

“Apa?”

“Nama Nadya muncul dalam dua perusahaan.”

Aku berhenti melipat baju.

“Sebagai apa?”

“Direktur nominee.”

Aku terdiam.

Bu Lestari melanjutkan.

“Dan ada sesuatu yang lebih aneh. Salah satu perusahaan menerima transfer rutin selama hampir satu tahun dari rekening atas nama… Tante Mira.”

Aku duduk di tepi ranjang.

“Apa?”

“Jumlahnya total sekitar Rp2,1 miliar.”

Aku tidak langsung memahami.

“Tante Mira?”

“Iya.”

Aku menatap pintu kamar.

“Bu Lestari, tolong cek sumber dananya.”

“Sudah.”

Dia berhenti sebentar.

“Sebagian berasal dari hasil penjualan tanah di Bogor.”

Aku menutup mata.

Tanah Bogor.

Aku tahu tanah itu.

Itu tanah peninggalan kakek.

Tanah yang seharusnya dibagi kepada empat anak.

Termasuk ibuku.

Tetapi setelah ibu meninggal, Tante Mira mengatakan pembagian warisan belum selesai.

Selama lima tahun.

“Tanah itu milik keluarga.”

“Ya.”

“Bagian ibu saya?”

“Seharusnya turun kepada Anda.”

Aku merasa perutku dingin.

“Berapa?”

“Berdasarkan dokumen awal, sekitar Rp3,4 miliar.”

Aku berdiri.

“Tunggu.”

Ada ketukan di pintu.

Aku membuka.

Tante Mira berdiri di sana.

Sendirian.

Wajahnya berbeda.

Tidak marah.

Tidak angkuh.

Takut.

“Boleh Tante masuk?”

Aku tidak menjawab.

Dia masuk sendiri.

Aku masih memegang ponsel.

Bu Lestari berkata,

“Maya?”

“Nanti saya telepon lagi.”

Aku menutup panggilan.

Tante Mira duduk.

Tangannya gemetar.

“Ada sesuatu yang harus Tante ceritakan.”

Aku berdiri di depannya.

“Tentang tanah Bogor?”

Wajahnya langsung pucat.

Itu jawabannya.

Aku menarik kursi.

“Silakan.”

Dia menangis sebelum mulai bicara.

Lima tahun lalu, setelah ibuku meninggal, Tante Mira mengurus sebagian besar dokumen keluarga.

Ayahku sedang sakit saat itu.

Aku terlalu sibuk merawatnya.

Aku mempercayai Tante Mira.

Ternyata dia menjual salah satu bidang tanah tanpa memberi tahuku.

Uang bagian ibuku tidak pernah masuk kepadaku.

Tante Mira mengambilnya.

Awalnya untuk menutup utang usaha suaminya.

Kemudian untuk membantu Nadya membuka butik.

Lalu butik gagal.

Utang bertambah.

Saat itulah Raka masuk.

Raka tahu.

Bukan karena Tante Mira menceritakannya.

Karena Raka menemukan dokumen lama ketika membantu keluarga mengurus pajak.

Dia menggunakan informasi itu untuk menekan Tante Mira.

Jika Tante Mira membantu membuatku menandatangani refinancing rumah, Raka tidak akan membuka masalah warisan.

Aku menatap perempuan di depanku.

“Jadi selama ini…”

Air matanya jatuh.

“Tante tahu Raka dekat dengan Nadya.”

“Dekat?”

Dia menunduk.

“Tante tahu mereka punya hubungan.”

Aku merasa sesuatu di dalam diriku pecah.

Bukan karena Raka.

Aku sudah selesai dengannya.

Karena keluarga.

“Kamu tahu?”

“Maya…”

“Kamu tahu putrimu tidur dengan suamiku dan kamu tetap membawa kami semua liburan bersama?”

“Tante takut.”

“Takut pada siapa?”

“Raka.”

Aku tertawa tanpa humor.

“Jadi kemarin waktu Nadya melempar kacamata Ibu ke kolam dan kamu bilang aku terlalu sensitif…”

Dia menangis lebih keras.

Aku berdiri.

“Keluar.”

“Maya, tolong.”

“Keluar.”

“Tante akan kembalikan semuanya.”

“Bukan soal uang.”

“Aku tahu.”

“Tidak. Kamu tidak tahu.”

Suaraku bergetar untuk pertama kalinya.

“Itu kacamata Ibu.”

Tante Mira menatapku.

“Benda terakhir yang selalu dia pakai setiap kali kami liburan bersama.”

Air mataku jatuh.

Aku tidak menghapusnya.

“Kamu melihat anakmu melemparnya ke kolam.”

Dia menutup mulut.

“Dan kamu membelanya.”

Tidak ada yang bisa dia katakan.

Aku membuka pintu.

Dia berdiri.

Sebelum keluar, dia berbisik,

“Maaf.”

Aku menjawab,

“Maaf tidak selalu memperbaiki apa yang sengaja dihancurkan.”

Dia pergi.

Aku pulang ke Jakarta sore itu.

Raka tidak ikut.

Nadya juga tidak.

Satu minggu kemudian, semuanya mulai bergerak cepat.

Bu Lestari mengajukan gugatan perceraian.

Kami juga melaporkan dugaan pemalsuan tanda tangan dan penyalahgunaan dokumen perusahaan.

Aku tidak berusaha memasukkan Raka ke penjara.

Aku hanya memberikan bukti.

Apa pun konsekuensinya, itu bukan lagi tugasku.

Rekening perusahaan tetap dibekukan selama pemeriksaan.

Investor Raka mundur satu per satu.

Dua partner bisnisnya mulai saling menyalahkan.

Dan hubungan Raka dengan Nadya?

Berakhir bahkan sebelum mereka meninggalkan Bali.

Aku tahu karena Nadya mengirimiku pesan panjang.

Dia bilang Raka telah membohonginya.

Dia bilang Raka menjanjikan rumah, uang, dan masa depan.

Aku membaca pesan itu sekali.

Kemudian membalas hanya satu kalimat.

Dia juga pernah menjanjikan kesetiaan kepadaku.

Setelah itu aku memblokirnya.

Tiga bulan kemudian, perceraian kami hampir selesai.

Raka datang ke rumah Pondok Indah untuk mengambil barang terakhirnya.

Aku berdiri di ruang tamu ketika dia turun membawa kardus.

Rumah terasa lebih besar sejak dia pergi.

Lebih tenang.

Dia berhenti di depan pintu.

“Kamu menghancurkan hidupku.”

Aku menatapnya.

“Tidak.”

Dia tertawa pahit.

“Semua yang kubangun hilang.”

“Kamu membangunnya dengan tanda tangan palsu.”

“Kita bisa memperbaikinya.”

“Tidak.”

Dia menggeleng.

“Aku sebenarnya tidak pernah mau meninggalkanmu.”

Aku hampir merasa kasihan.

Hampir.

“Pesan Nadya bilang sebaliknya.”

“Itu cuma omongan.”

“Raka.”

Aku menatapnya.

“Kamu tahu bagian paling menyedihkan?”

Dia diam.

“Aku mungkin masih bisa memaafkan perselingkuhan.”

Wajahnya berubah.

“Tapi ketika dia melempar kacamata Ibu ke kolam…”

Aku berhenti.

“…kamu tertawa.”

Dia menunduk.

“Dan saat itulah aku sadar kamu bukan lagi orang yang merasa sakit ketika aku disakiti.”

Raka tidak mengatakan apa-apa.

Dia mengambil kardusnya.

Lalu pergi.

Kupikir itulah akhir semuanya.

Ternyata belum.

Dua minggu kemudian, sebuah paket datang ke rumah.

Tidak ada nama pengirim.

Di dalamnya terdapat kotak kayu kecil.

Aku membukanya.

Dan napasku berhenti.

Kacamata hitam ibuku.

Bingkainya sedikit tergores.

Salah satu sisi sudah diperbaiki.

Tetapi aku mengenalinya.

Aku langsung duduk.

Di bawahnya ada secarik surat.

Tulisan tangan.

Dari Nadya.

Maya,

Aku kembali ke resort setelah semua orang pulang. Aku membayar salah satu petugas kolam untuk mencari kacamata itu. Mereka menemukannya di saluran penyaring.

Aku tahu mengembalikannya tidak memperbaiki apa pun.

Aku juga tahu aku tidak pantas meminta maaf.

Aku hanya ingin satu hal yang bukan milikku kembali kepada orang yang seharusnya memilikinya.

Aku pikir selama ini aku iri padamu karena kamu selalu terlihat punya semuanya.

Rumah. Karier. Suami. Ayah yang menyayangimu. Ibu yang selalu membanggakanmu.

Aku tidak pernah sadar bahwa aku sedang menghancurkan satu-satunya keluarga yang masih kita punya.

Aku tidak meminta kamu memaafkanku.

—Nadya

Aku membaca surat itu berkali-kali.

Kemudian aku menangis.

Bukan karena Nadya.

Bukan karena Raka.

Karena Ibu.

Aku membawa kacamata itu ke teras belakang.

Duduk di kursi tempat Ibu biasa minum teh ketika masih hidup.

Aku membersihkan lensanya perlahan dengan ujung bajuku.

Untuk pertama kalinya sejak semuanya terjadi, aku membiarkan diriku benar-benar berduka.

Bukan hanya atas pernikahanku.

Tetapi atas seluruh versi hidup yang kupikir akan kumiliki.

Suami yang menua bersamaku.

Keluarga yang aman.

Sepupu yang seperti saudara perempuan.

Tante yang bisa dipercaya.

Semua itu tidak ada.

Mungkin tidak pernah benar-benar ada.

Enam bulan kemudian, pemeriksaan perusahaan selesai.

Raka tidak dipenjara.

Tetapi dia harus menjual hampir seluruh aset bisnisnya untuk mengembalikan dana investor dan menyelesaikan kewajiban hukum.

Dia juga kehilangan izin untuk duduk sebagai direktur di salah satu perusahaan keuangan tempatnya sebelumnya bekerja.

Nadya keluar dari Jakarta.

Terakhir kudengar, dia bekerja membantu sebuah usaha kecil milik temannya di Yogyakarta.

Tante Mira menjual rumah keduanya.

Dia mengembalikan seluruh bagian warisan ibuku berikut hasil yang seharusnya menjadi hakku.

Aku tidak mengambil semua uang itu untuk diriku sendiri.

Sebagian besar kugunakan untuk sesuatu yang bahkan tidak pernah kubayangkan.

Aku mendirikan sebuah yayasan kecil atas nama ibuku.

Bukan yayasan besar.

Bukan sesuatu yang mewah.

Kami membantu perempuan yang menghadapi sengketa aset setelah perceraian atau kematian pasangan—terutama mereka yang tidak memahami dokumen keuangan yang diminta untuk mereka tandatangani.

Hari pertama kantor itu dibuka, aku memasang satu foto Ibu di dinding.

Dalam foto itu dia sedang tersenyum di pantai.

Dan tentu saja…

Dia memakai kacamata hitam yang sama.

Setahun setelah liburan di Bali, aku kembali ke resort itu.

Sendirian.

Aku tidak datang untuk mengenang Raka.

Aku datang karena ada satu hal yang belum kuselesaikan.

Aku berjalan ke kolam yang sama.

Kursi-kursinya masih hampir sama.

Matahari memantul di permukaan air.

Aku duduk di kursi yang dulu diperebutkan Nadya.

Lalu aku memakai kacamata Ibu.

Seorang pelayan datang dan bertanya,

“Ibu menunggu seseorang?”

Aku melihat kursi kosong di sebelahku.

Dulu aku mengira kursi di sebelah suamiku adalah sesuatu yang harus kupertahankan.

Seolah cinta adalah tempat duduk yang bisa direbut perempuan lain.

Aku tersenyum.

“Tidak.”

Pelayan itu mengangguk.

Aku menatap kolam.

Lalu berkata,

“Saya cuma menikmati tempat saya sendiri.”

Beberapa menit kemudian, ponselku bergetar.

Ada email dari Bu Lestari.

Subjeknya:

Kasus Terakhir Selesai.

Aku membukanya.

Di bagian paling bawah ada satu kalimat.

Oh ya, ada satu hal yang mungkin ingin Anda tahu. Rumah Pondok Indah sekarang secara resmi sepenuhnya berada atas nama trust Anda tanpa satu pun klaim pihak lain.

Aku tertawa kecil.

Rumah itu tidak pernah menjadi kemenangan terbesar.

Uang juga bukan.

Bahkan melihat Raka kehilangan perusahaan bukan kemenangan.

Kemenangan sebenarnya adalah memahami bahwa selama ini aku salah tentang satu hal.

Aku pikir ketika Nadya melempar kacamata ibuku ke kolam, dia sedang mengambil sesuatu dariku.

Ternyata tidak.

Dia justru memberiku sesuatu.

Satu momen kecil yang cukup kejam untuk membuatku berhenti menutup mata.

Kalau dia tidak melakukan itu, mungkin aku masih akan pulang bersama Raka.

Mungkin aku masih akan menandatangani dokumen.

Mungkin aku akan terus memaafkan hal-hal yang seharusnya tidak pernah kutoleransi.

Aku menyentuh bingkai kacamata di wajahku.

Lalu memandang kursi kosong di sebelahku.

Setahun lalu, Nadya mengira dia menang karena berhasil duduk di sana.

Sekarang aku akhirnya mengerti.

Kursi itu tidak pernah menjadi hadiahnya.

Itu adalah jalan keluarku.

Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, aku tidak merasa kehilangan siapa pun.

Aku merasa mendapatkan diriku kembali.