SUAMIKU MENUNGGU PERAWAT HOME CARE PULANG, LALU MENDORONG KEPALAKU KE ATAS TEMPAT SAMPAH KARENA AKU MEMUNTAHKAN MAKANAN. SETELAH ITU, DIA MENEKAN BEKAS OPERASIKU SAMPAI PERBAN MULAI BERCAK. “BILANG SAJA KE PERAWAT KALAU KANKER YANG MELAKUKANNYA,” KATANYA. LALU AKU MELIHAT JAM—PERAWAT ITU LUPA MEMBAWA TASNYA, DAN MOBILNYA MASIH TERPARKIR DI DEPAN RUMAH.

Avatar penulis
Cerita 04
19 menit baca 382 tayangan
SUAMIKU MENUNGGU PERAWAT HOME CARE PULANG, LALU MENDORONG KEPALAKU KE ATAS TEMPAT SAMPAH KARENA AKU MEMUNTAHKAN MAKANAN. SETELAH ITU, DIA MENEKAN BEKAS OPERASIKU SAMPAI PERBAN MULAI BERCAK. “BILANG SAJA KE PERAWAT KALAU KANKER YANG MELAKUKANNYA,” KATANYA. LALU AKU MELIHAT JAM—PERAWAT ITU LUPA MEMBAWA TASNYA, DAN MOBILNYA MASIH TERPARKIR DI DEPAN RUMAH.
Indeks

SUAMIKU MENUNGGU PERAWAT HOME CARE PULANG, LALU MENDORONG KEPALAKU KE ATAS TEMPAT SAMPAH KARENA AKU MEMUNTAHKAN MAKANAN. SETELAH ITU, DIA MENEKAN BEKAS OPERASIKU SAMPAI PERBAN MULAI BERCAK. “BILANG SAJA KE PERAWAT KALAU KANKER YANG MELAKUKANNYA,” KATANYA. LALU AKU MELIHAT JAM—PERAWAT ITU LUPA MEMBAWA TASNYA, DAN MOBILNYA MASIH TERPARKIR DI DEPAN RUMAH.

Namaku Maya.

Sejak menjalani operasi beberapa minggu sebelumnya, seorang perawat home care bernama Suster Rina rutin datang ke rumah kami di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan, untuk memeriksa luka operasi, mengganti perban, dan memastikan kondisiku tetap stabil.

Sore itu, Suster Rina baru saja selesai memeriksa bekas operasiku.

Perbannya bersih.

SUAMIKU MENUNGGU PERAWAT HOME CARE PULANG, LALU MENDORONG KEPALAKU KE ATAS TEMPAT SAMPAH KARENA AKU MEMUNTAHKAN MAKANAN. SETELAH ITU, DIA MENEKAN BEKAS OPERASIKU SAMPAI PERBAN MULAI BERCAK. “BILANG SAJA KE PERAWAT KALAU KANKER YANG MELAKUKANNYA,” KATANYA. LALU AKU MELIHAT JAM—PERAWAT ITU LUPA MEMBAWA TASNYA, DAN MOBILNYA MASIH TERPARKIR DI DEPAN RUMAH.

Dia bahkan sempat berkata bahwa selama tidak ada perdarahan baru atau demam tinggi, kondisiku masih bisa dipantau di rumah.

Setelah berpamitan, dia berjalan keluar menuju mobilnya.

Aku mengira kunjungan hari itu sudah selesai.

Suamiku, Dimas, menunggu sampai suara pintu depan tertutup.

Lalu wajahnya berubah.

Aku baru saja mencoba makan beberapa sendok bubur ayam yang dia siapkan, tetapi tubuhku menolaknya.

Rasa mual datang begitu cepat sampai aku hampir tidak sempat meraih tempat sampah di dekat meja makan.

Aku muntah.

Dimas berdiri di belakangku.

Bukannya membantuku, dia mencengkeram bagian belakang kepalaku dan mendorong wajahku lebih dekat ke tempat sampah.

“Kalau memang mau muntah, muntah yang benar,” katanya dingin.

“Jangan kotori lantai.”

Aku terlalu lemah untuk melawannya.

“Dimas… sakit…”

Dia melepaskan kepalaku.

Namun beberapa detik kemudian, jarinya menekan tepat di sekitar bagian tubuh yang baru dioperasi.

Aku langsung terkesiap.

Rasa sakit yang tajam menjalar begitu cepat sampai pandanganku sempat kabur.

“Jangan…”

Dia menekan sekali lagi.

Kali ini aku merasa sesuatu yang hangat di balik perban.

Ketika menunduk, aku melihat noda kecil mulai muncul di permukaan kain kasa.

Dimas ikut melihatnya.

Tapi dia tidak terlihat panik.

Dia justru mendekatkan wajahnya kepadaku.

“Kalau Suster Rina tanya besok,” bisiknya, “bilang saja penyakitmu yang bikin begitu.”

Aku menatapnya.

Dia tersenyum tipis.

“Memangnya siapa yang akan percaya orang sakit sepertimu?”

Kalimat itu seharusnya menghancurkanku.

Namun saat itulah mataku tanpa sengaja melihat jam dinding.

Tidak lama sejak Suster Rina pergi.

Kemudian aku melihat sesuatu melalui jendela depan.

Mobil putih miliknya masih ada di halaman.

Aku baru ingat.

Tas kerjanya masih tergeletak di dekat pintu.

Dan sebelum aku sempat menjawab Dimas—

gagang pintu depan bergerak.

Dimas mendengarnya juga.

Jarinya langsung terangkat dari perbanku.

Ekspresi keras di wajahnya berubah begitu cepat hingga perubahan itu sendiri terasa menakutkan.

Pintu terbuka.

Suster Rina masuk sambil tersenyum canggung.

“Maaf, Bu Maya. Saya lupa tas saya.”

Dia baru melangkah dua kali ketika senyumnya menghilang.

Tatapannya jatuh kepadaku.

Aku masih membungkuk di samping tempat sampah.

Napas tersengal.

Satu tangan memegangi tubuhku.

Kemudian mata Suster Rina turun ke perban yang baru beberapa menit sebelumnya dia periksa.

Ada noda baru yang perlahan melebar.

“Apa yang terjadi?”

Dimas menjawab bahkan sebelum aku membuka mulut.

“Dia muntah lagi, Sus.”

Nada suaranya tenang.

Hampir meyakinkan.

“Mungkin karena kankernya. Tadi tiba-tiba kesakitan.”

Tetapi Suster Rina tidak melihat Dimas.

Dia terus menatapku.

“Saya tanya Bu Maya.”

Ruangan langsung terasa sangat sunyi.

Dimas berdiri begitu dekat sampai kakiku bisa merasakan celananya menyentuh sisi kursi.

Setiap kali aku menarik napas, perekat perban terasa menarik kulitku.

Rasa asam dari makanan yang baru kumuntahkan masih memenuhi mulut.

Aku tahu persis jawaban apa yang Dimas inginkan.

Seperti biasanya.

Aku harus mengatakan aku jatuh.

Aku harus mengatakan aku ceroboh.

Aku harus mengatakan tubuhku sedang lemah.

Aku harus mengatakan semuanya baik-baik saja.

Aku menatap Suster Rina.

Kemudian tasnya di dekat pintu.

Lalu tangan Dimas yang menggantung di samping tubuhnya.

Terakhir, aku melihat pintu depan.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama—

aku berhenti melindunginya.

“Dia mendorong kepala saya ke tempat sampah,” kataku.

Suaraku tipis.

Nyaris bergetar.

Tapi itu suaraku.

“Setelah Suster keluar… Dimas menekan bagian bekas operasi saya.”

Wajah Dimas membeku.

Beberapa detik kemudian dia tertawa kecil.

Bukan karena sesuatu yang lucu.

Tawa seseorang yang merasa dipermalukan.

“Dia lagi kesakitan, Sus.”

Dimas menggelengkan kepala.

“Obatnya juga banyak. Kadang dia ngomong macam-macam.”

Suster Rina tidak berdebat.

Dia mendekat kepadaku dan sedikit membungkuk untuk melihat perban tanpa langsung menyentuhnya.

Kemudian dia berkata dengan tenang,

“Waktu saya pergi, perban ini bersih.”

Dimas diam.

Itulah hal pertama yang tidak bisa dia jelaskan begitu saja.

Tetapi dia tetap mencoba.

Dia mulai bicara tentang makan malam.

Tentang mual.

Tentang pengobatan.

Tentang betapa beratnya beberapa minggu terakhir bagi kami berdua.

Dia berbicara seolah-olah rasa lelah bisa membuat tangannya bergerak sendiri.

Seolah-olah stres bisa menjadi alasan untuk menyakiti tubuh seseorang yang baru menjalani operasi.

Suster Rina membiarkannya selesai.

Kemudian dia menatapku.

“Bu Maya, apakah Ibu ingin saya tetap di sini?”

Aku menelan ludah.

“Iya.”

Hanya satu kata.

Rahang Dimas mengeras.

Suster Rina bertanya lagi, kali ini lebih pelan.

“Apakah Ibu ingin sendirian bersama Pak Dimas sekarang?”

Aku melihat suamiku.

Lalu aku menjawab,

“Tidak.”

Dimas langsung maju satu langkah.

“Ini sudah berlebihan.”

Suster Rina berdiri tegak.

Dia tidak berteriak.

Tidak membuat tuduhan besar.

Tidak mengatakan sesuatu yang tidak dia saksikan sendiri.

Dia hanya mengambil tasnya, memindahkannya ke sisi yang lebih dekat denganku, lalu bertanya,

“Bu Maya ingin keluar dari ruangan ini bersama saya?”

Selama beberapa minggu setelah operasi, hidupku berubah menjadi rangkaian keputusan kecil.

Apakah aku bisa menghabiskan tiga sendok makanan?

Apakah aku mampu mandi sendiri?

Apakah malam ini aku bisa tidur tanpa luka terasa tertarik?

Tubuhku membuatku terbiasa berpikir hanya tentang satu jam berikutnya.

Tapi hari itu aku menyadari sesuatu.

Keputusan kecil tetaplah keputusan.

Dan kadang-kadang, satu keputusan kecil bisa mengubah seluruh hidup seseorang.

“Iya,” kataku.

“Saya mau ikut Suster.”

Dimas menatapku seolah aku baru saja melanggar kesepakatan rahasia di antara kami hanya karena mengatakan kebenaran di depan orang lain.

“Kamu serius melakukan ini, Maya?”

Suster Rina mengambil tasnya.

“Bu Maya sudah menjawab.”

Aku meletakkan satu tangan di sandaran kursi.

Perlahan aku mencoba berdiri.

Rasa sakit tajam muncul di bawah perban dan membuatku berhenti di tengah gerakan.

Suster Rina mengulurkan lengannya.

Dia tidak langsung menarikku.

Dia menunggu sampai aku sendiri yang memutuskan apakah ingin menerima bantuannya.

Aku menggenggam lengannya.

Kemudian kami berjalan menuju pintu depan.

Tapi Dimas bergerak lebih cepat.

Dia melewati kami.

Dan kemudian—

dia berdiri tepat di depan pintu, menghalangi jalan keluar.

Dimas berdiri tepat di depan pintu.

Tubuhnya tidak terlalu besar, tetapi saat itu rasanya dia memenuhi seluruh jalan keluar.

“Tidak ada yang pergi ke mana-mana,” katanya.

Nada suaranya masih rendah.

Itulah yang paling menakutkan.

Dimas hampir tidak pernah berteriak saat benar-benar marah. Dia justru bicara pelan, teratur, seolah setiap kata sudah dipilih untuk membuat orang lain merasa bodoh karena menentangnya.

Suster Rina berhenti.

Aku bisa merasakan tangannya menegang sedikit di bawah genggamanku.

“Pak Dimas,” katanya, “tolong beri jalan.”

“Ini rumah saya.”

“Dan Bu Maya mengatakan dia ingin keluar bersama saya.”

Dimas tertawa pendek.

“Keluar ke mana? Dia bahkan tidak kuat jalan sendiri.”

Aku menunduk.

Kalimat itu mengenai bagian diriku yang selama berminggu-minggu memang dia hancurkan perlahan.

Aku tidak kuat berdiri lama.

Aku kadang tidak sanggup membuka botol obat sendiri.

Aku perlu bantuan mandi.

Aku pernah menangis hanya karena sendok jatuh ke lantai dan aku terlalu sakit untuk membungkuk mengambilnya.

Dimas tahu semua itu.

Dan dia menjadikan kelemahanku sebagai bukti bahwa aku tidak punya pilihan.

Namun Suster Rina tidak melepaskan tanganku.

“Kalau Bu Maya membutuhkan bantuan berjalan,” katanya, “saya akan membantunya.”

Wajah Dimas berubah.

“Jangan ikut campur urusan rumah tangga orang.”

Suster Rina menarik ponsel dari saku seragamnya.

“Saya berharap Bapak mau memberi jalan tanpa saya harus meminta bantuan orang lain.”

Itu bukan ancaman.

Dia mengatakannya seperti seseorang menjelaskan pilihan paling sederhana.

Dimas menatap ponselnya.

Lalu menatapku.

Sorot matanya berkata lebih banyak daripada mulutnya.

Kamu akan menyesal.

Aku mengenal tatapan itu.

Dua tahun terakhir, tatapan seperti itu selalu cukup untuk membuatku mundur.

Malam itu tidak.

Aku menggenggam lengan Suster Rina sedikit lebih kuat.

“Buka pintunya, Mas.”

Dimas memandangku lama.

Kemudian, perlahan, dia bergeser.

Suster Rina membuka pintu.

Udara malam menyentuh wajahku.

Aku belum sampai tiga langkah keluar ketika lututku terasa lemas.

Suster Rina menopangku.

“Mobil saya dekat. Pelan-pelan saja.”

Aku tidak tahu apakah dia akan membawaku ke rumah sakit, kantor polisi, atau sekadar ke tempat aman.

Saat itu aku tidak peduli.

Aku hanya ingin berada di suatu tempat yang tidak memiliki Dimas di dalamnya.

Kami hampir mencapai mobil ketika suara Dimas terdengar dari belakang.

“Maya!”

Aku berhenti tanpa sengaja.

Kesalahan lama.

Tubuhku masih terlatih untuk berhenti ketika dia memanggil.

Dimas berdiri di ambang pintu.

“Kalau kamu pergi sekarang, jangan harap bisa pulang lagi.”

Aku menatap rumah kami.

Rumah yang cicilannya kubantu bayar.

Rumah tempat foto pernikahan kami masih tergantung di dinding.

Rumah tempat aku menjalani kemoterapi pertama sambil berpikir bahwa setidaknya aku menghadapi penyakit itu bersama orang yang mencintaiku.

Rumah yang beberapa bulan terakhir berubah menjadi tempat aku belajar bahwa seseorang bisa menyeka muntahmu di depan orang lain, lalu mencengkeram lenganmu saat tidak ada yang melihat.

Aku menatap Dimas.

“Baik.”

Hanya itu.

Aku masuk ke mobil Suster Rina.

Dan untuk pertama kalinya, Dimas terlihat benar-benar takut.

Bukan karena kehilangan aku.

Karena dia kehilangan kendali.


Di perjalanan, aku mulai gemetar.

Bukan tanganku saja.

Seluruh tubuhku.

Suster Rina menyalakan lampu kabin sebentar dan melihat wajahku.

“Kita ke IGD.”

“Aku tidak punya tas.”

“Nanti dipikirkan.”

“Obatku masih di rumah.”

“Nanti kita urus.”

“Aku bahkan tidak bawa dompet.”

Suster Rina menatapku sekilas.

“Bu Maya, malam ini tugas Ibu cuma satu.”

“Apa?”

“Jangan kembali ke rumah itu.”

Aku menangis.

Bukan tangisan keras.

Air mata hanya jatuh begitu saja.

“Aku bodoh ya, Sus?”

“Kenapa?”

“Aku tahu dia berubah sejak aku sakit.”

Suaraku pecah.

“Tapi aku terus cari alasan.”

Suster Rina tidak menjawab cepat.

Aku bersyukur.

Aku sudah terlalu sering mendengar orang berkata, “Kenapa tidak pergi saja?” seolah pergi hanyalah persoalan membuka pintu.

Akhirnya dia berkata,

“Orang yang hidup dalam ketakutan biasanya belajar bertahan dulu. Berpikir belakangan.”

Kalimat itu membuatku menangis lebih keras.

Di IGD, dokter memeriksa lukaku.

Tidak ada kerusakan besar pada jahitan, tetapi ada perdarahan ringan dan pembengkakan yang tidak ada saat Suster Rina melakukan kunjungan beberapa saat sebelumnya.

Suster Rina meminta semua dicatat.

Waktu pemeriksaan.

Kondisi perban.

Foto luka.

Keteranganku.

Dia bahkan meminta perawat jaga tidak langsung membuang perban lama.

Aku melihatnya dari ranjang.

“Kok Suster tahu harus melakukan semua itu?”

Dia diam beberapa detik.

Lalu menjawab,

“Karena ini bukan pertama kalinya saya melihat pasien pulang ke rumah bersama orang yang seharusnya merawatnya, tapi justru menyakitinya.”

Tak lama kemudian, seorang petugas perempuan datang untuk berbicara denganku.

Aku menceritakan semuanya.

Awalnya hanya tentang malam itu.

Kemudian sedikit demi sedikit tentang kejadian-kejadian sebelumnya.

Tentang Dimas yang pernah mematikan ponselku karena katanya aku terlalu banyak mengeluh pada kakakku.

Tentang dia yang menyembunyikan kartu ATM-ku “supaya aku tidak belanja sembarangan saat sedang tidak stabil”.

Tentang beberapa kali obatku terlambat diberikan karena dia marah.

Tentang satu malam ketika aku mengatakan ingin tinggal beberapa hari di rumah kakakku, lalu Dimas mengambil kunci mobil dan berkata,

“Kalau kamu pergi, jangan pernah kembali minta bantuan.”

Setelah mengatakan semuanya keras-keras, aku mendengar sendiri betapa mengerikannya hidupku.

Selama berada di dalam rumah itu, setiap kejadian terasa terpisah.

Kecil.

Bisa dijelaskan.

Ketika disusun dalam satu cerita, polanya menjadi jelas.

Petugas itu bertanya,

“Apakah Ibu punya keluarga yang bisa dihubungi?”

Aku langsung memikirkan kakakku, Nadia.

Kami jarang bicara selama beberapa bulan terakhir.

Bukan karena bertengkar.

Karena Dimas selalu punya alasan mengapa aku sebaiknya tidak meneleponnya.

“Nadia terlalu ikut campur.”

“Nadia bikin kamu stres.”

“Nadia tidak suka aku.”

Aku menyebut nomornya.

Kurang dari satu jam kemudian, Nadia masuk ke ruang observasi dengan rambut berantakan, sandal rumah, dan jaket yang dipakai terbalik.

Begitu melihatku, dia berhenti.

Matanya memerah.

“Maya.”

Aku langsung menangis.

Dia mendekat dan memelukku dengan hati-hati, takut menyentuh bekas operasi.

“Maaf,” bisikku.

Nadia menarik diri.

“Untuk apa?”

“Aku menjauh.”

Dia menatapku.

“Besok kita bicarakan semua. Malam ini kamu tidak perlu minta maaf.”

Aku mengira malam itu sudah cukup buruk.

Aku salah.

Sekitar pukul sebelas, Nadia duduk di samping ranjangku sambil memegang ponselnya.

Wajahnya aneh.

“Kamu pernah kasih Dimas akses ke rekening investasi Mama?”

Aku mengernyit.

“Rekening apa?”

Wajah Nadia langsung pucat.

“Maya, sebelum Mama meninggal, dia meninggalkan deposito dan beberapa investasi atas nama kita berdua.”

“Aku tahu soal deposito.”

“Bukan cuma itu.”

Aku menatapnya.

Nadia menelan ludah.

“Ada dana perawatan kesehatan yang khusus atas namamu.”

Aku tidak mengerti.

“Dana apa?”

“Mama membuatnya setelah kamu pertama kali didiagnosis.”

Duniaku terasa berhenti.

Aku pertama kali mengetahui ada sel mencurigakan hampir tiga tahun sebelumnya. Saat itu, Mama masih hidup.

Aku pernah mengeluh biaya pemeriksaan terasa berat.

Tapi Mama tidak pernah mengatakan apa pun tentang dana khusus.

“Berapa?”

Nadia menyebut angka.

Aku sampai mengira aku salah dengar.

Jumlahnya cukup untuk membayar seluruh pengobatanku.

Lebih dari cukup.

Tanganku dingin.

“Tapi Dimas bilang asuransi cuma menanggung sebagian. Dia bilang kita harus menjual mobil.”

Nadia tidak menjawab.

Dia hanya membuka beberapa tangkapan layar di ponselnya.

Transfer.

Penarikan.

Pemindahan dana.

Namaku.

Tanda tangan elektronik.

Dan penerima yang sama muncul berkali-kali.

Dimas Pratama.

Aku merasa mual lagi.

“Ini dari mana?”

“Aku dapat notifikasi dari bank sore tadi karena ada percobaan memindahkan sisa dana ke rekening lain.”

“Sore tadi?”

Nadia mengangguk.

“Beberapa jam sebelum dia menyakitimu.”

Aku menatap layar itu sampai tulisan-tulisannya kabur.

Potongan-potongan kejadian beberapa bulan terakhir mulai tersusun.

Dimas yang selalu memegang surat rumah sakit.

Dimas yang mengatakan tagihan meningkat.

Dimas yang bersikeras mengurus semua keuangan.

Dimas yang marah ketika aku meminta melihat rekening.

Dimas yang berkali-kali berkata bahwa penyakitku sedang “menghabiskan semua yang kita punya”.

Aku berbisik,

“Dia mencuri uangku?”

Nadia menggenggam tanganku.

“Aku belum tahu semuanya. Tapi aku sudah hubungi bank untuk memblokir transaksi malam ini.”

Aku memejamkan mata.

Tiba-tiba luka di tubuhku terasa seperti bagian kecil dari sesuatu yang jauh lebih besar.

Dimas tidak hanya ingin aku lemah.

Dia membutuhkan aku lemah.


Keesokan paginya, polisi datang mengambil keteranganku secara lebih resmi.

Aku menyerahkan ponsel lamaku yang selama ini jarang kupakai.

Di dalamnya ternyata masih ada percakapan dengan Dimas yang belum terhapus karena tersimpan otomatis di akun lama.

Pesan-pesan yang dulu kubaca sebagai kemarahan biasa kini terlihat seperti bukti.

Jangan bicara ke dokter tanpa aku.

Tidak perlu cerita ke Nadia soal uang.

Kamu gampang bingung sejak minum obat. Biar aku yang urus.

Lalu ada satu pesan dari tiga minggu sebelumnya yang membuat petugas berhenti cukup lama.

Kalau kamu terus keras kepala, jangan salahkan aku kalau luka itu lama sembuh.

Aku tidak pernah memikirkan kalimat itu lagi setelah membacanya.

Saat itu Dimas mengatakan dia hanya kesal karena aku menolak makan.

Sekarang maknanya berbeda.

Siangnya, petugas mengatakan mereka akan mendatangi rumah.

Aku tidak ikut.

Nadia membawaku ke apartemennya.

Aku tidur hampir sepanjang hari.

Ketika bangun sore, ada empat belas panggilan tak terjawab dari nomor tak dikenal.

Lalu sebuah pesan masuk.

Maya, aku salah. Aku panik. Kita bisa bicara. Jangan hancurkan hidup kita karena satu malam buruk.

Satu malam buruk.

Aku membaca kalimat itu berulang kali.

Lucu bagaimana seseorang bisa mengecilkan berbulan-bulan ketakutan menjadi satu malam buruk.

Aku tidak membalas.

Dua hari kemudian, penyelidikan keuangan dimulai.

Dan saat itulah rahasia yang sebenarnya muncul.

Dimas bukan hanya memindahkan dana kesehatan milikku.

Dia telah mengajukan beberapa pinjaman menggunakan dokumen yang mencantumkan seolah-olah aku memberikan persetujuan.

Lebih buruk lagi, sebagian besar uang tidak digunakan untuk rumah atau biaya pengobatan.

Dana itu mengalir ke sebuah rekening perusahaan kecil bernama DP Karya Mandiri.

Perusahaan itu terdaftar atas nama seorang perempuan bernama Selvi Ananda.

Aku belum pernah mendengar nama itu.

Nadia mengenalnya.

Wajahnya langsung berubah ketika petugas menunjukkan foto profil perusahaan.

“Maya…”

“Apa?”

Nadia memutar laptop ke arahku.

Perempuan itu sekitar tiga puluh tahun.

Rambut panjang.

Senyum lebar.

Dan di salah satu foto lama yang belum dihapus, dia berdiri di depan sebuah kafe kecil yang sedang direnovasi.

Di sampingnya ada Dimas.

Tangannya melingkar di pinggang Selvi.

Aku menatap foto itu tanpa menangis.

Aneh.

Setelah semua yang terjadi, perselingkuhan justru bukan bagian yang paling menyakitkan.

Yang membuatku sesak adalah keterangan foto.

Akhirnya mimpi kita mulai nyata. Terima kasih untuk orang yang selalu berjuang menyiapkan masa depan kami.

Tanggal unggahan itu empat hari setelah operasi pertamaku.

Saat aku terbaring di rumah sambil meminta Dimas membantuku ke kamar mandi, dia ternyata sedang membangun “masa depan” bersama orang lain.

Dengan uangku.

Aku menutup laptop.

Nadia menatapku takut aku akan hancur.

Tapi yang muncul justru satu pikiran sangat sederhana.

“Jadi dia memang menunggu aku mati?”

Ruangan langsung sunyi.

Petugas tidak menjawab.

Tidak perlu.


Proses setelah itu panjang.

Aku tidak tiba-tiba menjadi kuat.

Ada hari-hari ketika aku merindukan Dimas.

Aku malu mengakuinya.

Aku merindukan lelaki yang dulu membawakan bubur saat aku demam.

Lelaki yang pernah menungguiku operasi selama enam jam.

Lelaki yang melamar aku di bawah hujan karena terlalu gugup menunggu sampai sampai di restoran.

Tapi kemudian aku memahami sesuatu.

Merindukan siapa seseorang dulu tidak berarti kita harus kembali pada siapa dia sekarang.

Aku pindah sementara ke rumah Nadia.

Pengobatanku dilanjutkan.

Dana kesehatanku yang tersisa dibekukan sampai penyelidikan selesai.

Bank mengembalikan sebagian transaksi setelah terbukti ada penggunaan dokumen yang tidak sah.

Kasus Dimas berjalan.

Selvi menghilang beberapa minggu, lalu akhirnya memberikan keterangan.

Dan justru dari Selvi-lah kami menemukan bagian terakhir yang tidak pernah kuduga.

Dia mengatakan Dimas berkali-kali bercerita bahwa kondisiku jauh lebih buruk daripada kenyataan.

Katanya aku “tinggal menunggu waktu”.

Katanya dokter sudah menyerah.

Katanya setelah aku meninggal, seluruh aset akan menjadi miliknya dan mereka bisa memulai kehidupan baru.

Namun kemudian Selvi menyerahkan sesuatu.

Sebuah rekaman suara.

Dimas pernah mengirimkannya dalam keadaan marah setelah Selvi bertanya mengapa uang yang dijanjikan belum masuk.

Dalam rekaman itu, suara Dimas terdengar jelas.

“Masalahnya Maya mulai membaik. Dokternya bilang respons terapinya bagus. Kalau dia sehat lagi, semuanya jadi rumit.”

Ketika rekaman itu diputar di hadapanku, aku tidak bisa bernapas beberapa detik.

Bukan karena aku baru tahu Dimas jahat.

Tapi karena aku baru memahami sepenuhnya alasan dia mulai memperlakukan tubuhku sebagai sesuatu yang harus tetap sakit.

Dia bukan hanya marah karena merawat istri penderita kanker.

Dia takut aku sembuh.

Karena kesembuhanku mengancam rencana hidup barunya.

Aku menangis malam itu sampai tertidur.

Namun tangis itu berbeda.

Bukan karena aku merasa kalah.

Aku menangisi perempuan yang selama berbulan-bulan percaya bahwa dirinya adalah beban.

Perempuan yang meminta maaf setiap kali muntah.

Perempuan yang merasa bersalah karena biaya rumah sakit.

Perempuan yang mengira suaminya membencinya karena kanker telah merusak pernikahan mereka.

Padahal dia membenciku karena kanker itu tidak membunuhku cukup cepat.


Enam bulan kemudian, aku kembali ke rumah sakit untuk pemeriksaan lanjutan.

Aku duduk di depan dokter onkologi bersama Nadia.

Tanganku berkeringat.

Setelah membuka hasil pemeriksaan, dokter tersenyum.

“Bu Maya, hasilnya sangat baik.”

Aku tidak langsung memahami.

“Baik bagaimana, Dok?”

“Tidak ada tanda perkembangan penyakit baru saat ini. Respons terhadap terapi sangat bagus.”

Aku menatap Nadia.

Dia menutup mulut dengan kedua tangan.

“Jadi…”

Dokter mengangguk.

“Kita tetap harus melakukan pemantauan rutin. Tapi untuk sekarang, ini kabar yang sangat baik.”

Aku menangis.

Nadia juga.

Kami tertawa sambil menangis seperti dua orang bodoh di ruang konsultasi.

Namun kejutan terakhir datang saat kami keluar.

Di ujung koridor berdiri Suster Rina.

Aku hampir tidak mengenalinya karena hari itu dia tidak memakai seragam home care.

Dia sedang mengantar pasien lain.

Begitu melihatku, dia tersenyum.

“Bu Maya?”

Aku berjalan mendekatinya.

Tanpa bicara, aku memeluknya.

Dia kaget sebentar lalu membalas pelukanku dengan hati-hati.

“Bagaimana hasilnya?”

Aku mengusap air mata.

“Dokter bilang bagus.”

Suster Rina tersenyum lebar.

“Alhamdulillah.”

Aku mengangguk.

Kemudian aku berkata sesuatu yang sudah lama ingin kusampaikan.

“Kalau malam itu Suster tidak lupa tas…”

Dia langsung menggeleng.

“Jangan begitu.”

“Tapi benar.”

“Bukan tas saya yang menyelamatkan Ibu.”

Aku terdiam.

Suster Rina menatapku.

“Saya cuma kembali membuka pintu.”

Dia menunjuk pelan ke dadaku.

“Yang memilih keluar adalah Ibu sendiri.”

Aku tidak bisa menjawab.

Kalimat itu tinggal bersamaku.

Karena memang benar.

Selama berbulan-bulan aku mengira keselamatanku dimulai ketika pintu depan terbuka dan Suster Rina kembali masuk.

Ternyata bukan.

Keselamatanku dimulai beberapa detik sebelumnya.

Saat seseorang bertanya apa yang terjadi—

dan akhirnya aku mengatakan kebenaran.


Setahun setelah malam itu, aku menjual rumah yang pernah kutempati bersama Dimas.

Aku tidak mau mempertahankan tempat yang membuatku selalu teringat pada rasa takut.

Dengan sebagian uangnya, aku membeli rumah kecil tidak jauh dari tempat tinggal Nadia.

Bukan rumah mewah.

Hanya dua kamar.

Ada taman kecil di belakang.

Aku menanam melati yang dulu disukai Mama.

Hari aku pindah, Nadia membantuku membongkar kardus.

Di antara barang-barang lama, kami menemukan tas kain milik Mama.

Di dalamnya ada buku catatan kecil.

Aku membuka halaman terakhir.

Tulisan tangan Mama sedikit bergetar.

Untuk Maya.

Aku langsung duduk.

Di bawahnya tertulis:

Kalau suatu hari sakit membuatmu merasa menjadi beban, ingat satu hal. Orang yang mencintaimu tidak akan membuatmu membayar cinta dengan rasa takut.

Aku menutup buku itu.

Untuk beberapa saat, aku hanya memeluknya di dada.

Mama sudah meninggal sebelum melihat apa yang terjadi padaku.

Tapi entah bagaimana, kata-katanya sampai tepat ketika aku akhirnya siap memahaminya.

Nadia duduk di sampingku.

“Kamu baik-baik saja?”

Aku melihat taman kecil di luar jendela.

Matahari masuk melalui pintu kaca.

Tidak ada Dimas.

Tidak ada suara langkah yang membuatku tegang.

Tidak ada kebutuhan untuk menghafal alasan sebelum seseorang bertanya tentang memar atau luka.

Aku menarik napas panjang.

Lalu tersenyum.

“Iya.”

Dan kali ini, ketika aku mengatakannya, aku tidak sedang berbohong.

Aku benar-benar baik-baik saja.

Bukan karena hidupku kembali seperti dulu.

Bukan karena kanker menghilang selamanya.

Bukan karena semua yang Dimas lakukan bisa dilupakan.

Aku baik-baik saja karena hidupku akhirnya menjadi milikku lagi.

Dan kadang-kadang aku masih memikirkan tas Suster Rina yang tertinggal di dekat pintu malam itu.

Tas biasa.

Tidak istimewa.

Hanya sesuatu yang terlupa.

Tapi kalau tas itu tidak tertinggal, mungkin dia tidak akan kembali.

Kalau dia tidak kembali, mungkin aku masih akan diam.

Mungkin.

Namun sekarang aku tahu sesuatu yang lebih penting.

Kita tidak selalu bisa menunggu seseorang lupa tasnya.

Tidak selalu ada pintu yang terbuka tepat waktu.

Tidak selalu ada saksi yang datang kembali.

Kadang-kadang satu-satunya kesempatan yang kita punya adalah saat seseorang bertanya:

“Apa yang sebenarnya terjadi?”

Dan kita memutuskan untuk berhenti melindungi orang yang menyakiti kita.

Malam itu Dimas mengira noda merah di perbanku adalah sesuatu yang bisa dia sembunyikan dengan satu kebohongan kecil.

Dia tidak tahu noda kecil itulah yang akhirnya membuka semuanya.

Kekerasannya.

Uang yang dicuri.

Dokumen palsu.

Perselingkuhan.

Dan rencananya menunggu aku mati.

Dia menekan luka itu karena mengira aku terlalu lemah untuk melawan.

Ironisnya, justru karena itulah semua kebohongannya terbongkar.

Dimas salah tentang satu hal.

Kanker memang membuat tubuhku lemah.

Tapi kanker tidak mengambil suaraku.

Aku hanya sempat lupa bahwa aku masih memilikinya.

Dan ketika akhirnya aku menggunakannya—

seluruh hidupku berubah.