Di depan altar pernikahanku, aku membuka map yang diam-diam diselipkan calon suamiku di bawah dokumen pernikahan. Di dalamnya ada surat kuasa yang memberinya kendali atas seluruh saham milikku. Ibunya tersenyum ketika dia berbisik, “Lihat apa yang terpaksa kamu buat aku lakukan.” Aku meletakkan cincin di meja akad lalu pergi tanpa mengatakan sepatah kata pun. Saat aku menelepon jajaran direksi, dia masih yakin aku hanya memiliki 37% perusahaan. Dia tidak tahu angka sebenarnya.

Avatar penulis
Cerita 04
19 menit baca 636 tayangan
Di depan altar pernikahanku, aku membuka map yang diam-diam diselipkan calon suamiku di bawah dokumen pernikahan. Di dalamnya ada surat kuasa yang memberinya kendali atas seluruh saham milikku. Ibunya tersenyum ketika dia berbisik, “Lihat apa yang terpaksa kamu buat aku lakukan.” Aku meletakkan cincin di meja akad lalu pergi tanpa mengatakan sepatah kata pun. Saat aku menelepon jajaran direksi, dia masih yakin aku hanya memiliki 37% perusahaan. Dia tidak tahu angka sebenarnya.
Indeks

Di depan altar pernikahanku, aku membuka map yang diam-diam diselipkan calon suamiku di bawah dokumen pernikahan. Di dalamnya ada surat kuasa yang memberinya kendali atas seluruh saham milikku. Ibunya tersenyum ketika dia berbisik, “Lihat apa yang terpaksa kamu buat aku lakukan.” Aku meletakkan cincin di meja akad lalu pergi tanpa mengatakan sepatah kata pun. Saat aku menelepon jajaran direksi, dia masih yakin aku hanya memiliki 37% perusahaan. Dia tidak tahu angka sebenarnya.

Hal pertama yang ingin dicuri Raka Pratama dariku pada hari pernikahan kami bukanlah nama belakangku.

Melainkan perusahaanku.

Di depan altar pernikahanku, aku membuka map yang diam-diam diselipkan calon suamiku di bawah dokumen pernikahan. Di dalamnya ada surat kuasa yang memberinya kendali atas seluruh saham milikku. Ibunya tersenyum ketika dia berbisik, “Lihat apa yang terpaksa kamu buat aku lakukan.” Aku meletakkan cincin di meja akad lalu pergi tanpa mengatakan sepatah kata pun. Saat aku menelepon jajaran direksi, dia masih yakin aku hanya memiliki 37% perusahaan. Dia tidak tahu angka sebenarnya.

Aku berdiri di tengah ballroom sebuah hotel mewah di kawasan Sudirman, Jakarta. Ratusan anggrek putih menghiasi ruangan, lampu kristal memantulkan cahaya ke meja-meja tamu, dan hampir dua ratus orang sedang menunggu saat kami resmi menjadi suami istri.

Di hadapanku berdiri Raka.

Pria yang selama hampir tiga tahun kupercaya akan menjadi pasangan hidupku.

Saat petugas meminta kami menyelesaikan dokumen, Raka tiba-tiba menyelipkan sebuah map krem di bawah berkas yang sudah disiapkan.

“Hanya satu tanda tangan lagi,” bisiknya.

Dia masih tersenyum ke arah fotografer.

“Formalitas untuk proses merger.”

Aku hampir mengambil pulpen.

Hampir.

Entah kenapa, sesuatu dalam nada suaranya membuat tanganku berhenti.

Aku membuka map itu.

Dan membaca halaman pertama.

Dadaku langsung terasa dingin.

Itu bukan dokumen merger biasa.

Itu adalah surat kuasa hak suara yang tidak dapat dicabut, yang memberikan Raka kewenangan untuk mengendalikan seluruh saham Nusantara Veyra Teknologi yang terdaftar atas namaku.

Aku membaca kalimat itu sekali lagi.

Lalu sekali lagi.

Tidak ada kesalahan.

Jika aku menandatanganinya, Raka akan memperoleh hak untuk menggunakan suara dari seluruh sahamku dalam rapat pemegang saham.

Tanganku tetap memegang dokumen itu, tetapi aku sudah tidak mendengar suara musik di ballroom.

Aku membalik halaman berikutnya.

Hak menunjuk anggota direksi.

Hak memberikan persetujuan atas penjualan aset perusahaan.

Hak menentukan keputusan strategis tertentu.

Hak mewakiliku dalam pemungutan suara pemegang saham.

Lalu aku menemukan bagian yang membuatku akhirnya memahami semuanya.

Surat kuasa itu tetap berlaku bahkan jika pernikahan kami berakhir.

Bahkan dalam keadaan tertentu ketika aku tidak lagi mampu mengambil keputusan sendiri.

Dan jauh di bagian lampiran terdapat satu klausul kecil.

Raka berhak menunjuk penerima kuasa pengganti.

Namanya sudah dicantumkan.

Ratna Pratama.

Ibunya.

Aku perlahan mengangkat wajah.

Bu Ratna duduk di barisan depan dengan kebaya mahal berwarna lembut dan senyum yang terlalu tenang untuk seseorang yang sedang menyaksikan pernikahan putra tunggalnya.

Dia mengangkat gelasnya sedikit.

Kemudian bibirnya bergerak tanpa suara.

Tanda tangani.

Saat itulah semuanya menjadi jelas.

Aku menoleh kepada Raka.

Senyumnya masih ada, tetapi rahangnya mulai mengeras.

“Nadira,” bisiknya.

Aku tidak menjawab.

Dia mendekatkan wajahnya.

“Lihat apa yang terpaksa kamu buat aku lakukan.”

Aku menatapnya.

“Terpaksa?”

“Kamu terus menghambat proses akuisisi.”

Suaranya sangat pelan agar para tamu tidak mendengar.

“Direksi membutuhkan kepastian. Investor juga. Kita akan menikah sebentar lagi, Nadira. Berhentilah membuat semuanya menjadi pertengkaran.”

Petugas di depan kami terlihat bingung.

Para tamu justru tersenyum.

Mungkin mereka mengira Raka sedang mengatakan sesuatu yang romantis kepadaku.

Mereka tidak tahu bahwa beberapa detik sebelumnya, calon suamiku baru saja mencoba mengambil kendali atas perusahaan yang kubangun selama sebelas tahun.

Aku membalik halaman terakhir.

Dan tiba-tiba teringat semua peringatan yang selama ini kuabaikan.

Selama hampir setahun, Raka dan ibunya terus mengatakan bahwa aku terlalu berhati-hati.

Terlalu emosional.

Terlalu keras kepala.

Menurut Raka, aku hebat dalam memahami teknologi, tetapi buruk dalam memahami kekuasaan.

Dia sering tertawa ketika mengatakan aku lebih mengerti kode program daripada manusia.

Bu Ratna bahkan beberapa kali mengoreksiku dalam rapat perusahaan yang sebenarnya bukan urusannya.

Di depan investor, dia pernah mengatakan bahwa perusahaan sebesar Nusantara Veyra membutuhkan “tangan yang lebih kuat” di samping pendirinya.

Tangan yang lebih kuat.

Maksudnya adalah putranya.

Selama ini aku mengira mereka hanya sombong.

Ternyata mereka sedang mempersiapkan sesuatu.

Dan rencana itu dibangun berdasarkan satu angka.

37%.

Itulah jumlah saham yang mereka yakini kumiliki.

Tiga puluh tujuh persen.

Raka pernah melihat dokumen lama perusahaan.

Bu Ratna juga mengenal beberapa investor awal.

Mereka mendengar angka 37% berkali-kali sampai akhirnya menganggap angka itu sebagai fakta mutlak.

Mereka tidak pernah bertanya kepadaku.

Tidak pernah memeriksa struktur kepemilikan terbaru dengan benar.

Dan terutama…

Mereka tidak pernah bertanya apa yang ditinggalkan Daniel Santoso, mendiang pendiri bersama Nusantara Veyra, kepadaku sebelum dia meninggal.

Kesombongan membuat mereka berhenti mencari.

Itulah kesalahan terbesar mereka.

Aku menutup map itu.

“Nadira.”

Nada suara Raka berubah.

Sekarang bukan lagi bujukan.

Melainkan peringatan.

Aku menatap pria yang beberapa menit lagi seharusnya menjadi suamiku.

Lalu aku memegang cincin di jariku.

Aku melepaskannya perlahan.

Dan meletakkannya di meja di depan kami.

Suara cincin kecil itu hampir tidak terdengar.

Namun reaksinya seperti ledakan.

Ruangan langsung dipenuhi bisikan.

Seseorang di barisan belakang terkesiap.

Fotografer menurunkan kameranya.

Wajah Bu Ratna berubah.

“Apa yang kamu lakukan?” desis Raka.

Aku tidak menjawab.

Aku mengambil map krem tersebut dan menyerahkannya kepada Maya Wijaya, pengacaraku yang duduk di barisan depan.

Maya melihat halaman pertama.

Ekspresinya langsung berubah.

Dia menatapku.

Aku hanya mengangguk kecil.

Simpan itu.

Bukti.

Kemudian aku mengangkat sedikit bagian bawah gaun pengantinku agar bisa berjalan dengan mudah.

Dan aku meninggalkan meja akad.

“Nadira!”

Suara Raka terdengar di belakangku.

Aku terus berjalan.

“Nadira, kembali!”

Aku melewati deretan tamu yang menatapku dengan wajah terkejut.

Aku melewati rangkaian bunga yang kupilih sendiri tiga bulan sebelumnya.

Melewati kue pernikahan yang belum kami sentuh.

Melewati layar besar yang menampilkan foto pertunangan kami.

Lalu suara Raka terdengar lagi.

Lebih keras.

“Kamu hanya mempermalukan dirimu sendiri!”

Aku hampir tersenyum.

Karena Raka masih belum memahami apa yang sebenarnya baru saja terjadi.

Tiga bulan sebelumnya, kepala stafnya meminta akses ke dokumen kapitalisasi saham Nusantara Veyra.

Dia tidak memiliki alasan untuk membutuhkannya.

Permintaan itu sampai kepadaku.

Dan sejak hari itu, aku mulai menyelidiki.

Aku tidak menuduh Raka.

Aku tidak bertengkar dengannya.

Aku hanya diam.

Lalu aku memindahkan saham pendiriku ke dalam sebuah struktur perwalian hak suara yang dikelola secara profesional.

Itulah saham 37% yang diketahui Raka.

Namun ada sesuatu yang tidak dia ketahui.

Bertahun-tahun sebelumnya, Daniel Santoso dan aku membuat perjanjian suksesi pribadi.

Daniel tidak memiliki anak.

Dia juga tidak pernah percaya bahwa saham perusahaan teknologi yang kami bangun dari nol seharusnya jatuh ke tangan keluarganya yang sama sekali tidak memahami perusahaan.

Ketika kesehatannya memburuk, dia memindahkan 22% saham tambahan kepadaku melalui perjanjian suksesi yang sah.

Hak ekonominya telah lama diatur.

Tetapi hak suaranya ditempatkan dalam struktur terpisah sampai syarat tertentu terpenuhi.

Raka tidak tahu.

Bu Ratna juga tidak tahu.

Mereka hanya melihat 37%.

Mereka membuat rencana berdasarkan 37%.

Mereka mencoba mencuri 37%.

Padahal jumlah yang sebenarnya berada di bawah kendaliku adalah…

59%.

Dan ada satu hal lagi.

Hari itu, tepat pukul empat sore, berdasarkan instruksi yang telah kubuat sebelumnya, para wali amanat telah mengembalikan seluruh hak suara tersebut kepadaku.

Aku bukan sekadar pemegang saham terbesar.

Aku memegang kendali mayoritas.

Sendiri.

Aku tiba di koridor servis hotel.

Suara para tamu mulai menghilang di belakang pintu ballroom.

Tanganku akhirnya sedikit gemetar.

Bukan karena aku menyesal meninggalkan Raka.

Melainkan karena baru sekarang aku memahami betapa dekatnya aku dengan menikahi seseorang yang telah merencanakan pengkhianatanku sambil tersenyum di depan altar.

Aku mengambil ponsel dari tas kecilku.

Ada tujuh belas panggilan masuk.

Raka.

Bu Ratna.

Ayah Raka.

Aku mengabaikan semuanya.

Kemudian aku mencari satu nomor.

Sekretaris Dewan Direksi Nusantara Veyra Teknologi.

Dia mengangkat telepon pada dering kedua.

“Bu Nadira?”

“Ya.”

Aku melihat kembali pintu ballroom.

Di balik pintu itu, Raka mungkin masih yakin bahwa dia hanya kehilangan sebuah pernikahan.

Dia belum tahu bahwa dalam beberapa menit, dia akan kehilangan sesuatu yang jauh lebih besar.

“Adakan rapat darurat direksi,” kataku.

“Secepatnya?”

Aku melihat jam.

“Tiga puluh menit.”

Dia terdiam.

“Agenda rapatnya, Bu?”

Kali ini aku tersenyum.

“Pencabutan seluruh akses strategis Raka Pratama, peninjauan proses akuisisi, dan investigasi upaya pengambilalihan hak suara pemegang saham.”

Hening beberapa detik.

“Baik, Bu Nadira.”

Aku hendak menutup telepon ketika dia berkata lagi,

“Apakah saya perlu mengirimkan daftar kepemilikan saham terbaru kepada seluruh anggota direksi?”

Aku memandang cincin yang sudah tidak lagi berada di jariku.

“Ya.”

“Versi yang mencantumkan 37%?”

Aku berhenti.

“Bukan.”

Untuk pertama kalinya hari itu, suaraku benar-benar tenang.

“Kirim yang terbaru.”

Aku menutup telepon.

Di dalam ballroom, Raka masih percaya aku memiliki tiga puluh tujuh persen.

Tiga puluh menit lagi, dia akan mengetahui bahwa angka sebenarnya adalah lima puluh sembilan persen—dan jebakan yang dia siapkan untuk mengambil perusahaanku justru akan menjadi bukti yang menghancurkan seluruh rencananya.

BAGIAN 2

Tiga puluh menit setelah aku meninggalkan altar, Raka masih meneleponku.

Panggilan ke-23 masuk tepat ketika pintu lift terbuka di lantai 31 gedung Nusantara Veyra Teknologi.

Aku menatap namanya di layar.

Lalu menekan tombol tolak.

Di kaca lift, aku melihat diriku sendiri.

Gaun pengantin putih.

Riasan yang masih sempurna.

Tanpa cincin.

Dan sebuah map krem di tangan Maya.

Pemandangan yang hampir lucu jika isi map itu tidak cukup untuk menghancurkan hidup seseorang.

“Masih mau masuk seperti ini?” tanya Maya.

Aku mengangguk.

“Aku tidak punya pakaian cadangan.”

Maya menatap gaunku.

“Maksudku, secara emosional.”

Aku tersenyum tipis.

“Kalau aku pulang sekarang, mereka akan punya waktu menghapus jejak.”

Itu membuat Maya diam.

Pintu ruang rapat terbuka.

Delapan anggota direksi sudah menunggu.

Beberapa menatap gaun pengantinku dengan wajah pucat.

Pak Surya, komisaris independen tertua kami, berdiri.

“Nadira… bukankah kamu seharusnya—”

“Menikah?”

Aku menarik kursi.

“Pernikahannya dibatalkan.”

Aku meletakkan map krem di atas meja.

“Karena calon suamiku mencoba mengambil alih hak suara saya tepat sebelum akad.”

Ruangan membeku.

Maya membagikan salinan dokumen.

Aku tidak menjelaskan panjang lebar.

Aku membiarkan mereka membaca.

Halaman demi halaman.

Ketika Pak Surya sampai pada klausul yang memberi Raka hak menunjuk ibunya sebagai penerima kuasa pengganti, dia melepaskan kacamatanya.

“Ini bukan dokumen pernikahan.”

“Bukan.”

“Dan bukan dokumen merger.”

“Bukan.”

“Ini percobaan pengambilalihan.”

“Ya.”

Seorang direktur lain, Bimo, mengangkat kepala.

“Tapi Raka tidak punya cukup suara untuk mengendalikan perusahaan.”

Aku menatapnya.

“Itulah yang akan kita bicarakan.”

Aku memberi isyarat kepada sekretaris perusahaan.

Layar besar menyala.

Tabel kepemilikan saham terbaru muncul.

Beberapa orang langsung condong ke depan.

Nadira Prameswari.

37%.

Kemudian baris kedua muncul.

Hak suara dari perjanjian suksesi Daniel Santoso.

22%.

Total hak suara efektif:

59%.

Pak Surya berdiri.

“Astaga.”

Bimo menatapku seperti baru pertama kali melihatku.

“Sejak kapan?”

“Perjanjiannya sudah lama ada. Hak suaranya baru kembali kepadaku sore ini.”

“Raka tahu?”

“Tidak.”

Maya menjawab sebelum aku sempat melanjutkan.

“Dan sebaiknya kita menganggap dia belum tahu sampai penyelidikan selesai.”

Tepat saat itu pintu ruang rapat terbuka keras.

Raka masuk.

Masih memakai setelan pengantinnya.

Dasi sudah longgar.

Di belakangnya berdiri Bu Ratna.

Wajahnya tidak lagi tersenyum.

“Apa-apaan ini?” bentak Raka.

Petugas keamanan bergerak mendekat.

Aku mengangkat tangan.

“Biarkan.”

Raka berjalan ke meja.

“Kamu membatalkan pernikahan kita karena salah paham?”

Aku menatapnya.

“Surat kuasa itu salah paham?”

“Itu untuk melindungi perusahaan!”

“Dari siapa?”

“Dari keputusan impulsifmu.”

Aku hampir tertawa.

“Seperti menolak menjual perusahaan yang kubangun?”

Bu Ratna maju.

“Nadira, jangan bersikap kekanak-kanakan. Aku tahu kamu marah. Tapi urusan pribadi jangan dibawa ke perusahaan.”

Aku memandangnya.

“Nama Ibu tercantum sebagai penerima kuasa pengganti.”

Dia terdiam.

Hanya sepersekian detik.

Tapi semua orang melihatnya.

Raka menunjuk layar.

“Matikan itu.”

Tidak ada yang bergerak.

Kemudian matanya akhirnya melihat angka tersebut.

59%.

Wajahnya berubah.

Aku akan mengingat ekspresi itu seumur hidup.

Bukan marah.

Bukan takut.

Melainkan kebingungan seseorang yang baru sadar bahwa seluruh perhitungannya salah.

“Lima puluh sembilan?” bisiknya.

Aku bersandar.

“Kamu kelihatannya terkejut.”

“Dari mana dua puluh dua persen itu?”

“Itu bukan urusanmu.”

“Nadira.”

“Lucu.”

Aku menatapnya lurus.

“Beberapa jam lalu kamu ingin mengendalikan setiap saham yang kumiliki. Sekarang kamu bahkan tidak tahu berapa banyak saham yang kumiliki.”

Bu Ratna mendekati layar.

“Ini tidak mungkin.”

“Kenapa?”

“Daniel tidak akan—”

Dia berhenti.

Aku melihat sesuatu.

Bukan hanya keterkejutan.

Dia mengenal nama Daniel lebih baik daripada yang seharusnya.

Maya juga menangkapnya.

“Bu Ratna,” katanya pelan, “Ibu mengenal Pak Daniel?”

Bu Ratna mundur.

“Semua orang di perusahaan mengenalnya.”

“Bukan itu yang saya tanyakan.”

Raka menoleh kepada ibunya.

“Mama?”

Bu Ratna tidak menjawab.

Dan untuk pertama kalinya, aku merasa bahwa surat kuasa di altar mungkin bukan seluruh cerita.


BAGIAN 3

Penyelidikan dimulai malam itu.

Dan apa yang kami temukan jauh lebih buruk daripada yang kubayangkan.

Tim forensik digital menemukan bahwa seseorang telah mencoba mengakses ruang data perusahaan selama empat bulan terakhir.

Dokumen yang dicari selalu sama.

Struktur pemegang saham.

Perjanjian pendiri.

Dokumen suksesi Daniel.

Arsip lama sebelum perusahaan mendapatkan pendanaan besar.

Akses itu menggunakan kredensial salah satu staf Raka.

Namun ada sesuatu yang aneh.

Sebagian pencarian dilakukan bahkan sebelum Raka resmi bekerja di Nusantara Veyra.

Maya menatap log akses.

“Ini dimulai hampir dua tahun lalu.”

Aku mengernyit.

Saat itu aku bahkan belum bertunangan dengan Raka.

Kami baru beberapa bulan berpacaran.

Darahku terasa dingin.

“Jadi dia mendekatiku karena perusahaan?”

Maya tidak menjawab.

Dia tidak perlu.

Keesokan paginya, kami memanggil Raka.

Dia datang tanpa ibunya.

Wajahnya lelah.

“Aku tidak tahu soal akses dua tahun lalu.”

Aku menatapnya.

“Aku tidak percaya.”

“Untuk surat kuasa, ya. Aku tahu. Aku salah.”

“Kamu menyebutnya salah?”

“Aku panik.”

“Orang panik membatalkan pernikahan. Mereka tidak menyusun surat kuasa dua puluh halaman.”

Raka menunduk.

Kemudian mengatakan sesuatu yang tidak kuduga.

“Mama yang menyiapkannya.”

Aku diam.

“Aku tetap menandatanganinya,” lanjutnya. “Aku tetap membawanya ke altar. Aku tidak akan berpura-pura tidak bersalah.”

“Kenapa?”

Dia menutup wajahnya beberapa detik.

“Karena Mama bilang kalau akuisisi gagal, semuanya akan hilang.”

“Apa yang hilang?”

Dia menatapku.

“Keluarga kami.”

Aku tertawa tanpa humor.

“Keluarga yang mana, Raka? Keluarga yang ingin mencuri perusahaan orang lain?”

“Nadira, aku tidak tahu semuanya.”

“Lalu ceritakan bagian yang kamu tahu.”

Dia menarik napas.

Dan nama Daniel kembali muncul.

“Papaku pernah berbisnis dengan Daniel.”

Aku membeku.

Ayah Raka, Hendra Pratama, hampir tidak pernah membicarakan pekerjaannya sebelum pensiun.

Setiap kali aku bertanya bagaimana dia mengenal dunia teknologi, dia selalu menjawab bahwa Jakarta itu kecil.

Ternyata tidak sesederhana itu.

“Bisnis apa?”

“Perusahaan lama. Sebelum Nusantara Veyra.”

“Namanya?”

Raka menunduk.

“Arunika Digital.”

Aku mengenal nama itu.

Daniel pernah menyebutnya sekali.

Hanya sekali.

Perusahaan kecil yang bangkrut sebelum kami mendirikan Nusantara Veyra.

Daniel mengatakan pengalaman itu mengajarinya untuk tidak pernah mencampurkan persahabatan dengan kepemilikan perusahaan.

Aku tidak pernah bertanya lebih jauh.

Raka melanjutkan.

“Papaku adalah salah satu pendirinya.”

“Dan?”

“Dia kehilangan semuanya.”

“Karena Daniel?”

“Itu yang Mama katakan.”

Tiga kata terakhir membuat ruangan terasa berbeda.

Yang Mama katakan.

Aku memandang Maya.

Dia sudah menulis sesuatu.

“Di mana ayahmu?”

“Di rumah.”

“Bawa dia ke sini.”

Raka menggeleng.

“Dia tidak mau terlibat.”

“Kalau begitu aku yang akan datang.”


Rumah keluarga Pratama di Kebayoran Baru sore itu terasa jauh berbeda dari setiap makan malam keluarga yang pernah kuhadiri.

Tidak ada Bu Ratna.

Hanya Pak Hendra.

Pria berusia enam puluh enam tahun itu duduk di ruang kerjanya sambil memegang sebuah amplop cokelat tua.

Ketika melihatku, dia tidak terkejut.

Seolah-olah sudah menunggu hari ini selama bertahun-tahun.

“Nadira.”

“Pak.”

Dia melihat Raka di belakangku.

“Kamu akhirnya membawanya ke sini.”

Raka mengerutkan dahi.

“Apa maksud Papa?”

Pak Hendra menunjuk kursi.

“Duduk.”

Tidak seorang pun duduk.

Akhirnya dia meletakkan amplop di meja.

“Daniel bukan orang yang menghancurkan Arunika Digital.”

Aku menahan napas.

Raka memandang ayahnya.

“Papa bilang apa?”

“Aku bilang Daniel bukan penyebabnya.”

“Jadi siapa?”

Pak Hendra menatap putranya lama sekali.

Kemudian menjawab,

“Ibumu.”

Sunyi.

Raka tertawa kecil.

Bukan karena lucu.

Karena tubuhnya seperti menolak menerima kalimat itu.

“Papa bercanda.”

“Ayah berharap begitu.”

Pak Hendra membuka amplop.

Di dalamnya ada laporan bank lama, perjanjian perusahaan, dan beberapa surat tulisan tangan.

“Dua puluh tiga tahun lalu, ibumu memindahkan uang Arunika ke perusahaan milik kakaknya. Ketika Daniel mengetahuinya, dia ingin melapor. Aku memohon agar dia tidak melakukannya karena saat itu Raka baru lahir.”

Raka menjadi pucat.

“Aku?”

Pak Hendra mengangguk.

“Aku memilih keluarga. Daniel memilih pergi.”

Aku memegang tepi meja.

“Lalu Daniel mendirikan Nusantara Veyra bersamaku.”

“Ya.”

“Kenapa Bu Ratna mengejar saham Daniel?”

Pak Hendra menatapku.

“Karena selama dua puluh tahun dia percaya Daniel menyimpan bukti transaksi lama itu.”

Maya mengambil salah satu surat.

“Dan memang ada?”

Pak Hendra mengangguk.

“Daniel memberikan salinannya kepadaku sebelum meninggal.”

Raka mundur satu langkah.

“Jadi Mama mendekati Nadira melalui aku?”

Tidak ada yang menjawab.

Namun wajah Pak Hendra sudah cukup.

Raka menutup matanya.

Saat itulah aku melihat sesuatu yang tidak pernah kubayangkan.

Pria yang mencoba mencuri perusahaanku menangis.

Bukan untukku.

Bukan untuk pernikahan kami.

Melainkan karena akhirnya dia sadar bahwa selama bertahun-tahun, ibunya telah membentuk hidupnya berdasarkan sebuah kebohongan.

Tetapi rasa sakitnya tidak menghapus kesalahannya.

Dia tetap membawa dokumen itu ke altar.

Dia tetap memintaku menandatangani.

Dia tetap memilih kekuasaan ketika seharusnya memilih kepercayaan.

Dan aku tidak akan melupakan itu.


Bu Ratna akhirnya muncul dua hari kemudian.

Bukan di rumah.

Di kantor.

Dia datang bersama pengacara.

Dia menyangkal semuanya.

Sampai Maya meletakkan salinan laporan bank di meja.

Lalu kami menunjukkan log akses.

Kemudian email antara Bu Ratna dan seorang konsultan yang terlibat dalam rencana akuisisi.

Wajahnya perlahan kehilangan warna.

Namun bahkan saat itu, dia masih menatapku dengan kebencian.

“Kamu pikir kamu menang?”

Aku menjawab tenang.

“Tidak.”

Dia tersenyum sinis.

“Bagus. Karena perempuan sepertimu selalu berpikir perusahaan bisa menggantikan keluarga.”

Aku hampir membalas.

Lalu pintu terbuka.

Pak Hendra masuk.

Bu Ratna menegang.

Di belakangnya berdiri Raka.

Pak Hendra meletakkan satu dokumen di meja.

Gugatan cerai.

Bu Ratna menatapnya seperti tidak mengenali suaminya sendiri.

“Hendra?”

“Aku melindungimu dua puluh tiga tahun.”

Suaranya bergetar.

“Dan sebagai balasannya, kamu mengajari anak kita menjadi seperti kita dulu.”

Bu Ratna berdiri.

“Aku melakukan semuanya untuk keluarga!”

“Tidak.”

Pak Hendra menggeleng.

“Kamu melakukannya karena tidak tahan kehilangan.”

Kemudian Raka meletakkan sesuatu di samping dokumen ayahnya.

Surat pengunduran diri.

Dari semua jabatan dan aksesnya di Nusantara Veyra.

Dia menatapku.

“Aku tidak minta kamu memaafkan aku.”

Aku tidak berkata apa-apa.

“Aku cuma ingin satu hal.”

“Apa?”

“Jangan biarkan apa yang kulakukan membuatmu berhenti percaya kepada semua orang.”

Untuk pertama kalinya sejak pernikahan kami batal, aku tidak melihat Raka sebagai musuh.

Aku melihat seorang pria lemah yang membuat pilihan buruk.

Dan terkadang itulah yang paling menyakitkan.

Karena monster mudah dibenci.

Orang yang pernah kita cintai jauh lebih sulit.

“Aku pernah benar-benar mencintaimu,” kataku.

Air mukanya runtuh.

“Aku tahu.”

“Tapi aku tidak akan menikah denganmu.”

Dia mengangguk.

“Aku tahu itu juga.”

Dia pergi.

Dan kali ini aku tidak memanggilnya kembali.


EPILOG

Enam bulan kemudian, aku kembali ke ballroom yang sama di Sudirman.

Anggrek putih kembali memenuhi ruangan.

Namun tidak ada gaun pengantin.

Tidak ada cincin.

Tidak ada Raka.

Malam itu Nusantara Veyra merayakan ulang tahun perusahaan yang kedua belas.

Di layar utama terpampang foto Daniel.

Aku berdiri di podium.

Untuk pertama kalinya, aku menceritakan kepada seluruh karyawan bahwa 22% saham Daniel telah menjadi bagian dari hak suaraku.

Namun aku juga mengumumkan sesuatu yang bahkan direksi belum tahu.

“Aku tidak akan mempertahankan seluruh 59% itu selamanya.”

Ruangan langsung hening.

Aku melanjutkan.

“Sebelas persen dari saham peninggalan Daniel akan dialihkan secara bertahap ke program kepemilikan saham karyawan.”

Orang-orang mulai saling memandang.

Beberapa menangis.

Aku melihat para insinyur yang bergabung ketika kami masih bekerja dari ruko kecil.

Staf administrasi yang bertahan ketika kami hampir kehabisan uang.

Orang-orang yang membangun perusahaan ini bersama kami tetapi namanya tidak pernah muncul di sampul majalah bisnis.

Daniel pernah berkata kepadaku:

Perusahaan bukan gedung. Bukan saham. Bukan pendirinya. Perusahaan adalah orang-orang yang memilih untuk tetap membangunnya ketika tidak ada yang menjanjikan mereka akan berhasil.

Baru sekarang aku benar-benar memahami kalimat itu.

Setelah acara selesai, Maya mendatangiku membawa kotak kecil.

“Ada yang menitipkan ini.”

Aku membukanya.

Di dalamnya ada cincin pernikahanku.

Cincin yang kutinggalkan di altar.

Aku mengerutkan dahi.

“Raka?”

Maya menggeleng.

“Pak Hendra.”

Di bawah cincin ada secarik kertas.

Hanya satu kalimat.

Daniel yang membeli cincin ini.

Tanganku membeku.

Aku membalik kertas itu.

Ada tulisan lain.

Dua minggu sebelum meninggal, dia memberikannya kepadaku. Katanya, suatu hari jika ada seseorang yang pantas mendampingi Nadira, berikan cincin ini kepadanya. Aku memberikannya kepada Raka karena kupikir anakku adalah orang itu. Aku salah. Cincin ini seharusnya tidak menjadi milik Raka. Cincin ini selalu milikmu.

Aku tidak tahu berapa lama aku berdiri di sana.

Tiba-tiba ballroom menjadi kabur.

Untuk pertama kalinya sejak hari pernikahan itu, aku menangis.

Bukan karena Raka.

Bukan karena pengkhianatan.

Karena Daniel.

Sahabatku.

Pendiri perusahaan bersamaku.

Orang yang bahkan setelah kematiannya masih mencoba memastikan aku tidak sendirian.

Aku menggenggam cincin itu.

Maya berdiri diam di sampingku.

“Sekarang mau diapakan?”

Aku melihat panggung.

Foto Daniel masih terpampang di layar.

Kemudian aku tersenyum sambil menghapus air mata.

“Disimpan.”

“Untuk pernikahan berikutnya?”

Aku menggeleng.

“Bukan.”

Aku memasukkan cincin itu kembali ke kotaknya.

“Untuk mengingatkan aku bahwa cincin tidak membuat seseorang menjadi keluarga.”

Aku memandang ruangan yang dipenuhi orang-orang yang membangun Nusantara Veyra bersamaku.

“Pilihanlah yang melakukannya.”

Setahun sebelumnya, aku mengira kehilangan Daniel membuatku harus memegang perusahaan sekuat mungkin.

Enam bulan sebelumnya, aku hampir menyerahkan kendali kepada seorang pria hanya karena aku ingin percaya bahwa pernikahan berarti keamanan.

Sekarang aku memahami keduanya.

Mencintai seseorang bukan berarti memberikan kepadanya kekuasaan untuk menghancurkanmu.

Dan melindungi sesuatu bukan berarti harus memilikinya sendirian.

Saat aku berjalan meninggalkan ballroom malam itu, ponselku berbunyi.

Sebuah pesan masuk dari nomor yang sudah berbulan-bulan tidak menghubungiku.

Raka.

Hanya ada satu foto.

Dia berdiri di depan sebuah ruko kecil di Yogyakarta, mengenakan kemeja sederhana. Di belakangnya ada empat anak muda dan papan nama sebuah usaha teknologi baru.

Di bawah foto itu dia menulis:

Aku mulai lagi dari nol. Dengan uangku sendiri kali ini. Tidak perlu membalas. Aku cuma ingin suatu hari nanti menjadi orang yang tidak perlu mencuri kekuasaan untuk merasa berharga.

Aku membaca pesan itu dua kali.

Kemudian mematikan layar.

Aku tidak membalas.

Bukan karena aku masih membencinya.

Justru karena aku sudah tidak membencinya.

Ada orang-orang yang hadir dalam hidup kita untuk tinggal.

Ada yang hadir untuk mengajarkan sesuatu.

Dan ada yang harus kita lepaskan agar mereka belajar menjadi manusia tanpa menggunakan kita sebagai tempat bersandar.

Aku berjalan menuju pintu keluar.

Jakarta berkilau di balik dinding kaca.

Maya memanggil dari belakang.

“Nadira! Mobilmu sudah datang.”

Aku menoleh.

“Sebentar.”

Aku memandang kota itu sekali lagi.

Dua belas tahun lalu, Daniel dan aku memulai Nusantara Veyra dengan dua laptop bekas, satu meja, dan uang yang bahkan tidak cukup untuk membayar sewa tiga bulan.

Sekarang perusahaan itu bernilai triliunan rupiah.

Namun pelajaran terbesar yang diberikannya kepadaku tidak pernah tertulis dalam laporan keuangan.

Pada hari pernikahanku, Raka mencoba mengambil semua yang dia kira kumiliki.

Dia salah tentang jumlah sahamku.

Dia salah tentang kekuatanku.

Dan yang paling penting—

dia salah tentang apa yang paling berharga bagiku.

Karena akhirnya aku mengerti:

Aku tidak berjalan meninggalkan altar karena takut kehilangan 59% perusahaan.

Aku berjalan pergi karena akhirnya sadar bahwa mempertahankan 100% harga diriku jauh lebih berharga daripada mempertahankan seorang pria yang mengaku mencintaiku.