Aku pulang tiga jam lebih awal dan menemukan istriku yang sedang hamil gemetar di lantai dapur, sementara tangan ibuku mencengkeram rambutnya. “Ini rumah anakku—kamu bukan siapa-siapa di sini,” desis Ibu. Tanpa meninggikan suara, aku membawa kopernya keluar dan meletakkannya di depan pagar. Namun beberapa detik kemudian, ponsel istriku menyala di samping meja: ada 412 catatan bertanggal, dan catatan terakhir hanya berbunyi, “Periksa cangkir biru.” Apa sebenarnya yang selama ini diberikan ibuku untuk diminum oleh istriku?

Avatar penulis
Cerita 04
18 menit baca 671 tayangan
Aku pulang tiga jam lebih awal dan menemukan istriku yang sedang hamil gemetar di lantai dapur, sementara tangan ibuku mencengkeram rambutnya. “Ini rumah anakku—kamu bukan siapa-siapa di sini,” desis Ibu. Tanpa meninggikan suara, aku membawa kopernya keluar dan meletakkannya di depan pagar. Namun beberapa detik kemudian, ponsel istriku menyala di samping meja: ada 412 catatan bertanggal, dan catatan terakhir hanya berbunyi, “Periksa cangkir biru.” Apa sebenarnya yang selama ini diberikan ibuku untuk diminum oleh istriku?
Indeks

Aku pulang tiga jam lebih awal dan menemukan istriku yang sedang hamil gemetar di lantai dapur, sementara tangan ibuku mencengkeram rambutnya. “Ini rumah anakku—kamu bukan siapa-siapa di sini,” desis Ibu. Tanpa meninggikan suara, aku membawa kopernya keluar dan meletakkannya di depan pagar. Namun beberapa detik kemudian, ponsel istriku menyala di samping meja: ada 412 catatan bertanggal, dan catatan terakhir hanya berbunyi, “Periksa cangkir biru.” Apa sebenarnya yang selama ini diberikan ibuku untuk diminum oleh istriku?

Aku sudah tahu ada sesuatu yang tidak beres bahkan sebelum pintu depan rumah kami tertutup di belakangku.

Sore itu aku pulang hampir tiga jam lebih awal dari biasanya ke rumah kami di Bintaro, Tangerang Selatan.

Aku pulang tiga jam lebih awal dan menemukan istriku yang sedang hamil gemetar di lantai dapur, sementara tangan ibuku mencengkeram rambutnya. “Ini rumah anakku—kamu bukan siapa-siapa di sini,” desis Ibu. Tanpa meninggikan suara, aku membawa kopernya keluar dan meletakkannya di depan pagar. Namun beberapa detik kemudian, ponsel istriku menyala di samping meja: ada 412 catatan bertanggal, dan catatan terakhir hanya berbunyi, “Periksa cangkir biru.” Apa sebenarnya yang selama ini diberikan ibuku untuk diminum oleh istriku?

Sebuah pertemuan dengan klien dibatalkan mendadak. Awalnya aku justru senang. Kupikir aku bisa mengejutkan istriku, Nadira, dengan membawakan makanan kesukaannya.

Namun begitu memasuki rumah, aku mendengar suara benda jatuh dari arah dapur.

Lalu suara ibuku.

“Jangan pernah merasa kamu bisa mengaturku di rumah anakku sendiri.”

Aku berhenti.

Nada itu membuat seluruh tubuhku menegang.

Aku berjalan cepat menuju dapur.

Dan apa yang kulihat membuat pikiranku kosong selama beberapa detik.

Nadira berada di lantai.

Istriku sedang hamil tujuh bulan. Tubuhnya gemetar, satu tangannya melindungi perutnya, sementara tangan lainnya bertumpu pada lantai seolah dia sedang berusaha bangkit.

Ibuku, Ratna, berdiri di atasnya.

Salah satu tangannya masih mencengkeram rambut Nadira.

“Ini rumah anakku,” desis Ibu. “Kamu bukan siapa-siapa di sini.”

Aku tidak ingat pernah merasa semarah itu sepanjang hidupku.

“Ibu.”

Hanya satu kata.

Ibu langsung melepaskan rambut Nadira dan menoleh.

Ekspresinya berubah begitu melihatku.

“Arga!”

Aku melewatinya tanpa menjawab.

Aku berjongkok di samping Nadira.

“Nadira.”

Wajah istriku pucat.

Matanya basah.

Aku membantu Nadira berdiri perlahan dan memastikan dia bisa duduk di kursi.

Barulah aku menoleh kepada ibuku.

“Bereskan barang-barang Ibu.”

Ibu mengerutkan kening.

“Apa?”

“Koper Ibu. Bereskan sekarang.”

Dia menatapku beberapa detik, kemudian tertawa kecil.

Mungkin dia mengira aku sedang menggertak.

Enam minggu sebelumnya, Ibu datang ke rumah kami dengan alasan rumah kontrakannya sedang direnovasi. Katanya hanya perlu tinggal dua atau tiga minggu.

Aku mengizinkannya.

Nadira juga tidak pernah keberatan.

Setidaknya, itulah yang kukira.

Ibu bahkan selalu mengatakan kepadaku bahwa dia ingin membantu Nadira selama kehamilan.

Memasak.

Membersihkan rumah.

Menemani Nadira ketika aku bekerja.

Aku mempercayainya.

Sekarang aku mulai menyadari betapa bodohnya aku.

“Kamu serius?” tanya Ibu. “Kamu mengusir ibu kandungmu sendiri karena perempuan ini?”

Aku menatapnya.

“Iya.”

Wajahnya langsung berubah.

“Arga, dia yang mulai! Dia kurang ajar kepada Ibu. Dia berteriak dan—”

“Aku melihat tangan Ibu di rambutnya.”

Ibu terdiam.

Aku tidak berteriak.

Aku tidak membanting meja.

Aku hanya menunjuk ke arah tangga.

“Lima menit.”

“Jadi sekarang kamu memilih istrimu daripada ibumu sendiri?”

“Iya.”

Jawabanku kali ini bahkan lebih cepat.

Mata Ibu melebar.

Seumur hidupku, Ibu terbiasa memenangkan pertengkaran dengan membuat orang lain merasa bersalah.

Aku dibesarkan dengan kalimat-kalimat tentang pengorbanannya.

Tentang bagaimana dia membesarkanku sendirian setelah Ayah meninggal.

Tentang bagaimana seorang anak laki-laki harus selalu membela ibunya.

Namun ada satu hal yang baru kusadari sore itu.

Rasa terima kasih tidak berarti seseorang berhak menyakiti keluargaku.

Sepuluh menit kemudian, aku membawa koper besar milik Ibu keluar.

Kutaruh di teras dekat pagar.

Ibu mengikuti dari belakang sambil terus berbicara.

“Kamu akan menyesali ini!”

Aku tidak menjawab.

“Siapa yang memasak untuk kalian selama ini?”

Diam.

“Siapa yang membersihkan rumah?”

Aku membuka pagar.

“Kamu berubah sejak menikah dengan dia!”

Aku meletakkan koper di luar.

“Arga!”

Aku menatapnya untuk terakhir kali.

“Jangan datang kembali sebelum aku menghubungi Ibu.”

Lalu kututup pagar.

Aku masuk ke rumah dan mengunci pintu.

Baru setelah itu tanganku mulai gemetar.

Aku kembali ke dapur.

Nadira masih duduk di kursi.

Aku berlutut di depannya.

“Kenapa kamu tidak pernah cerita kepadaku?”

Nadira tidak langsung menjawab.

Dia justru melihat ke lantai.

Kemudian berbisik,

“Ponselku.”

Ponselnya tergeletak di dekat kaki meja makan.

Aku mengambilnya.

Layarnya masih menyala.

Sebuah aplikasi catatan terbuka.

Aku hampir menyerahkannya kembali ketika melihat sesuatu yang membuatku berhenti.

Ada ratusan catatan.

Semuanya memiliki tanggal.

Aku menggulir layar.

Jumlahnya membuat dadaku terasa sesak.

412 catatan.

Aku membuka salah satunya.

3 Juni: Ibu Ratna bilang suatu hari Arga akan sadar bahwa bayi ini menghancurkan hidupnya.

Aku menelan ludah.

Catatan berikutnya.

11 Juni: Pusing lagi setelah minum teh.

Lalu yang lain.

19 Juni: Ibu Ratna bilang jangan ceritakan sakit kepala ini kepada Arga karena Arga sudah menganggapku terlalu sensitif selama hamil.

Tanganku mulai dingin.

Aku terus membaca.

2 Juli: Dia mencengkeram lenganku sampai memar. Aku bilang kepada Arga memar itu karena terbentur pintu kamar mandi.

Aku menatap Nadira.

“Ini semua… Ibu?”

Nadira menunduk.

Air mata jatuh ke tangannya.

Aku menggulir lebih cepat.

Ada catatan tentang makanan.

Tentang minuman.

Tentang hinaan ketika aku sedang bekerja.

Tentang Ibu yang mengatakan bahwa aku sebenarnya tidak siap menjadi ayah.

Tentang Ibu yang mengatakan Nadira hanya mengincar rumah dan tabunganku.

Bahkan ada catatan tentang beberapa kali Nadira ingin menceritakan semuanya kepadaku, tetapi Ibu selalu berhasil membuatnya takut.

Lalu aku menemukan catatan terakhir.

Ditulis sore itu.

Hanya satu kalimat.

Kalau terjadi sesuatu padaku, periksa cangkir biru.

Aku membacanya dua kali.

Kemudian perlahan menoleh ke arah wastafel.

Di antara beberapa piring terdapat sebuah cangkir keramik berwarna biru tua.

Aku berjalan mendekatinya.

Mengangkatnya.

Di bagian dasar masih tersisa sedikit cairan keruh dengan endapan tipis.

Aku tidak menyentuh bagian dalamnya.

“Nadira.”

Suaraku terdengar asing bahkan di telingaku sendiri.

“Apa yang Ibu berikan kepadamu?”

Nadira memandang cangkir itu.

Bibirnya mulai bergetar.

“Dia bilang itu minuman herbal.”

“Sejak kapan?”

“Beberapa minggu.”

Jantungku serasa berhenti sesaat.

“Kenapa kamu meminumnya?”

“Dia bilang itu bagus untuk ibu hamil. Katanya bisa membuatku tidur lebih nyenyak dan tidak mudah cemas.”

Aku memejamkan mata.

Semua keluhan Nadira beberapa minggu terakhir tiba-tiba muncul kembali dalam pikiranku.

Pusing.

Mual yang kembali muncul meski kehamilannya sudah memasuki trimester ketiga.

Tubuh lemas.

Sakit kepala.

Beberapa kali tangannya gemetar.

Aku selalu bertanya apakah dia ingin pergi ke dokter.

Dan Nadira selalu menjawab,

“Aku cuma capek.”

Sekarang aku tahu dari mana kalimat itu berasal.

“Ibu yang bilang kamu tidak perlu cerita kepadaku?”

Nadira mengangguk pelan.

“Dia bilang kalau aku terus mengeluh, kamu akan bosan.”

Dadaku terasa seperti dihantam sesuatu.

“Kenapa hari ini kalian bertengkar?”

Nadira memandang cangkir biru itu.

“Karena hari ini aku tidak mau meminumnya.”

Ruangan mendadak terasa sangat sunyi.

“Aku bilang aku ingin bertanya dulu kepada dokter kandungan,” lanjutnya. “Ibu marah. Dia bilang aku menuduhnya ingin mencelakai cucunya.”

Nadira menarik napas pendek.

“Lalu aku mencoba membuang minumannya.”

Aku melihat ke wastafel.

“Dan dia menarik rambutmu?”

Nadira mengangguk.

Aku berdiri.

Hal pertama yang ingin kulakukan adalah mengejar Ibu.

Tetapi aku tidak melakukannya.

Karena kemarahan tidak akan memberitahuku apa yang ada di dalam cangkir itu.

Bukti mungkin bisa.

Aku mengambil wadah bersih dari lemari dan menyimpan cangkir itu tanpa mencuci atau membuang sisa cairannya.

Kemudian aku mengambil tas Nadira.

“Kita ke rumah sakit.”

“Arga—”

“Sekarang.”

Ada alasan mengapa aku tidak langsung menelepon Ibu.

Ada alasan mengapa aku tidak mengirim pesan penuh ancaman.

Selama dua belas tahun terakhir, pekerjaanku berkaitan dengan investigasi internal, audit kepatuhan, dan pemeriksaan kasus penipuan perusahaan.

Aku terbiasa menghadapi orang yang berbohong.

Aku terbiasa menyusun kasus dari transaksi kecil, pesan yang dihapus, tanggal yang tidak cocok, dan detail-detail yang dianggap tidak penting oleh orang lain.

Satu ketidaksesuaian mungkin kebetulan.

Dua bisa menjadi kecurigaan.

Namun empat ratus dua belas catatan?

Itu bukan kebetulan.

Itu pola.

Dan ibuku telah meninggalkan pola itu tepat di depan mataku.

Aku membantu Nadira berdiri.

Sebelum kami meninggalkan dapur, ponselnya bergetar.

Sebuah pesan masuk.

Dari Ibu.

Nadira langsung pucat ketika membaca nama pengirimnya.

Aku mengambil ponsel itu.

Pesannya singkat.

Jangan biarkan Arga membawa cangkir itu ke rumah sakit. Kamu tahu apa yang akan terjadi kalau dia tahu semuanya.

Aku membaca pesan itu sekali.

Lalu sekali lagi.

Kali ini aku tidak merasa marah.

Aku merasa takut.

Karena untuk pertama kalinya, aku menyadari bahwa pertanyaan sebenarnya bukan lagi apakah ibuku telah melakukan sesuatu.

Pertanyaannya adalah…

apa yang selama ini dia masukkan ke dalam minuman istriku—dan mengapa dia begitu takut aku mengetahuinya?

BAGIAN 2 — CANGKIR BIRU

Aku tidak membalas pesan Ibu.

Aku hanya mengambil tangkapan layar, menyimpannya, lalu memasukkan ponsel Nadira ke dalam tas.

Dua puluh menit kemudian, kami sudah berada di IGD sebuah rumah sakit di kawasan Bintaro.

Sepanjang perjalanan, Nadira memegang perutnya dengan kedua tangan.

Aku berkali-kali meliriknya.

“Bayinya bergerak?”

“Masih.”

Jawaban itu seharusnya membuatku lega.

Tetapi tidak.

Karena di kursi belakang mobil ada sebuah wadah tertutup berisi cangkir biru.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku takut mengetahui kebenaran tentang ibu kandungku sendiri.

Begitu sampai, aku menjelaskan semuanya kepada dokter.

Kehamilan tujuh bulan.

Pusing berulang.

Mual.

Lemas.

Sakit kepala.

Minuman “herbal” yang diberikan secara rutin.

Dan pesan yang meminta Nadira mencegahku membawa cangkir itu ke rumah sakit.

Dokter tidak membuat kesimpulan terburu-buru.

Nadira langsung diperiksa.

Tekanan darahnya dipantau.

Darah dan urine diambil.

Kondisi bayi juga diperiksa.

Aku duduk di samping ranjang sambil menggenggam tangannya.

Untuk pertama kalinya sejak kami menikah, Nadira terlihat takut kepadaku.

Bukan karena aku pernah menyakitinya.

Tetapi karena dia takut aku akan bertanya satu hal.

Dan akhirnya aku memang bertanya.

“Kenapa kamu menyimpan 412 catatan, tetapi tidak pernah menunjukkan satu pun kepadaku?”

Nadira menatap langit-langit.

Lama sekali.

Kemudian dia berkata,

“Karena awalnya aku pikir ibumu hanya tidak menyukaiku.”

Aku diam.

“Setelah itu aku mulai takut kamu tidak akan percaya.”

“Kenapa?”

Dia menoleh kepadaku.

“Karena setiap kali aku hampir cerita, dia sudah bicara kepadamu lebih dulu.”

Aku teringat beberapa percakapan.

Ibu mengatakan Nadira emosional.

Ibu mengatakan hormon kehamilan membuat Nadira mudah tersinggung.

Ibu pernah tertawa sambil berkata, “Istrimu sekarang sensitif sekali.”

Dan aku?

Aku ikut tersenyum.

Tidak pernah sekali pun aku bertanya apa yang sebenarnya terjadi.

“Nadira…”

“Aku tidak membuat catatan itu untuk menjatuhkan ibumu.”

Air matanya mengalir.

“Aku membuatnya supaya aku tidak mulai percaya bahwa aku memang gila.”

Kalimat itu menghancurkanku.

Aku menundukkan kepala ke tangannya.

“Maaf.”

Nadira tidak menjawab.

Dia hanya menggenggam jariku.

Beberapa jam kemudian, dokter kembali.

Kondisi bayi stabil.

Itulah kalimat pertama yang kudengar.

Dan untuk beberapa detik, aku hampir menangis karena lega.

Namun dokter belum selesai.

Beberapa hasil pemeriksaan awal Nadira menunjukkan sesuatu yang perlu ditelusuri lebih lanjut. Dokter tidak mau menyimpulkan penyebab hanya dari gejala atau dari cangkir yang kami bawa.

Sampel minuman itu perlu diperiksa secara resmi.

Aku mengangguk.

“Lakukan apa pun yang diperlukan.”

Malam itu kami tidak pulang.

Aku juga menghubungi polisi.

Bukan untuk menuduh Ibu melakukan kejahatan tertentu sebelum ada bukti.

Aku hanya menyerahkan apa yang kami miliki.

Pesan.

Foto memar yang ternyata disimpan Nadira.

Catatan bertanggal.

Dan cangkir biru.

Petugas yang menerima laporan mengatakan sesuatu yang tidak pernah kulupakan.

“Jangan hubungi orang yang Anda curigai. Simpan semua komunikasi.”

Aku menurut.

Dan ternyata aku tidak perlu menghubungi Ibu.

Karena Ibu yang terus menghubungiku.

Tujuh belas panggilan tak terjawab.

Lalu pesan.

Arga, Ibu bisa menjelaskan.

Lima menit kemudian:

Nadira membesar-besarkan semuanya.

Lalu:

Minuman itu aman.

Dan akhirnya:

Ibu melakukan semuanya demi kamu.

Aku menatap kalimat terakhir cukup lama.

Demi aku.

Kalimat favorit Ibu sepanjang hidupku.


Keesokan paginya, sebuah fakta baru muncul.

Bukan dari laboratorium.

Dari Nadira.

Dia sedang membuka galeri ponselnya untuk mencari foto memar ketika tiba-tiba berhenti.

“Aku lupa.”

“Apa?”

Dia memperbesar sebuah foto.

Itu foto dapur kami, diambil sekitar sebulan sebelumnya.

Tidak ada yang aneh.

Sampai Nadira menunjuk ke sudut meja.

Ada sebuah botol kecil berwarna cokelat.

“Ini yang dipakai ibumu.”

Aku memperbesar gambar.

Labelnya tidak terbaca jelas.

“Masih ada?”

Nadira menggeleng.

“Dia selalu menyimpannya di kamar.”

Kamar tamu.

Kamar yang dipakai Ibu.

Aku langsung menghubungi petugas yang menangani laporan kami dan memberi tahu mereka sebelum menyentuh apa pun di rumah.

Ketika akhirnya kamar itu diperiksa, kami menemukan sesuatu yang jauh lebih buruk daripada satu botol.

Di dalam sebuah tas kosmetik tua terdapat beberapa kemasan tanpa label lengkap.

Ada pula kuitansi pembelian.

Tetapi bukan itu yang membuatku membeku.

Di bagian paling bawah lemari ada sebuah amplop cokelat besar.

Namaku tertulis di depannya.

ARGA.

Tulisan tangan Ayah.

Ayahku meninggal sebelas tahun lalu.

Aku mengenali tulisan itu seketika.

Tanganku sampai gemetar ketika melihatnya.

Amplop itu tidak pernah diberikan kepadaku.

Di dalamnya terdapat beberapa dokumen lama dan sepucuk surat.

Surat untukku.

Aku membacanya berdiri di kamar yang selama enam minggu ditempati Ibu.

Arga, kalau suatu hari kamu membaca surat ini, mungkin aku sudah tidak ada. Ada sesuatu tentang ibumu yang selama bertahun-tahun tidak berani kukatakan kepadamu.

Aku berhenti.

Lalu melanjutkan.

Ayah menulis bahwa pada tahun-tahun terakhir pernikahan mereka, perilaku Ibu semakin mengontrol.

Dia menentukan siapa yang boleh ditemui Ayah.

Dia memeriksa ponselnya.

Dia bahkan beberapa kali mencampurkan sesuatu ke minuman Ayah dengan alasan “supaya tidur lebih tenang.”

Aku harus membaca bagian itu tiga kali.

Karena tiba-tiba masa kecilku kembali seperti potongan film.

Ayah sering tertidur di sofa.

Ayah sering mengeluh pusing.

Ayah pernah mengatakan kopinya terasa aneh.

Dan Ibu selalu menjawab,

“Kamu terlalu banyak bekerja.”

Surat itu tidak mengatakan bahwa Ibu menyebabkan kematian Ayah.

Tidak ada bukti untuk tuduhan sebesar itu.

Tetapi Ayah menulis bahwa dia mulai merasa tidak aman.

Dia berencana pindah sementara.

Dia bahkan sudah berkonsultasi dengan pengacara.

Lalu datang bagian yang membuat lututku hampir lemas.

Aku tidak takut dia membunuhku, Arga. Aku takut dia akan membuatmu percaya bahwa meninggalkannya berarti mengkhianati keluarga.

Aku duduk di tepi tempat tidur.

Sebelas tahun.

Surat itu tersembunyi selama sebelas tahun.

Ibu selalu mengatakan Ayah meninggal dengan satu penyesalan: tidak sempat memastikan aku akan menjaga Ibu.

Ternyata mungkin justru sebaliknya.

Ayah ingin aku belajar menjaga jarak darinya.


Hasil pemeriksaan terkait cangkir itu akhirnya memberikan arah yang lebih jelas.

Minuman tersebut bukan sekadar racikan herbal biasa seperti yang dikatakan Ibu.

Dokter menjelaskan bahwa ada zat yang tidak seharusnya diberikan sembarangan kepada perempuan hamil dan dapat berkaitan dengan beberapa keluhan yang dialami Nadira.

Namun ada satu detail penting.

Jumlah yang terdeteksi tidak mendukung kesimpulan bahwa Ibu sedang mencoba membunuh Nadira.

Aku tidak tahu mengapa, tetapi mendengar itu justru membuatku bingung.

Kalau bukan untuk membunuhnya, untuk apa?

Jawabannya datang dari orang yang paling tidak kuduga.

Bu Sari.

Tetangga Ibu dari tempat tinggalnya sebelumnya.

Aku meneleponnya karena namanya muncul beberapa kali dalam kuitansi dan catatan lama.

Begitu aku mengatakan namaku, dia langsung terdiam.

“Mas Arga?”

“Iya.”

“Bu Ratna tinggal bersama Mas sekarang?”

“Tidak lagi.”

Hening.

Lalu dia bertanya,

“Apakah istri Mas sedang hamil?”

Darahku seperti berhenti mengalir.

“Bagaimana Ibu tahu?”

Bu Sari mulai menangis.

Dan kemudian dia menceritakan sesuatu yang mengubah semuanya.

Renovasi rumah Ibu tidak pernah ada.

Tidak ada pipa rusak.

Tidak ada pekerja.

Tidak ada alasan bagi Ibu untuk tinggal bersama kami.

Ibu memang sengaja ingin masuk ke rumah kami.

Beberapa bulan sebelumnya, dia pernah mengatakan kepada Bu Sari bahwa sejak Nadira hamil, aku “tidak lagi membutuhkan ibuku.”

Menurut Bu Sari, Ibu menjadi terobsesi dengan gagasan bahwa setelah bayi lahir, Nadira akan membawaku menjauh darinya.

Lalu Bu Sari mengucapkan kalimat yang membuat tanganku dingin.

“Dia pernah bilang, kalau Nadira terlihat tidak sanggup mengurus kehamilan, Mas Arga pasti akan kembali bergantung kepada ibunya.”

Aku akhirnya mengerti.

Ini bukan tentang membunuh Nadira.

Ini tentang membuatnya lemah.

Membuatnya ragu kepada dirinya sendiri.

Membuatku melihat istriku sebagai seseorang yang tidak stabil dan selalu membutuhkan bantuan.

Dan pada akhirnya, membuat Ibu menjadi orang yang “paling dibutuhkan” di rumah kami.

Dia tidak ingin kehilangan anak laki-lakinya.

Jadi dia perlahan-lahan mencoba menghancurkan perempuan yang menurutnya sedang mengambil anak itu darinya.


Tiga hari kemudian, Ibu meminta bertemu.

Aku menyetujuinya hanya setelah berkonsultasi dengan pihak yang menangani laporan.

Kami bertemu di tempat netral.

Begitu melihatku, Ibu menangis.

“Arga.”

Aku duduk di seberangnya.

Dia mencoba memegang tanganku.

Aku menariknya.

“Ibu mau menjelaskan?”

“Nadira membuat semuanya terlihat buruk.”

Aku mengeluarkan ponsel.

“Empat ratus dua belas catatan.”

Wajahnya berubah.

“Kamu percaya catatan perempuan itu daripada ibu sendiri?”

Aku mengeluarkan salinan pesan.

Jangan biarkan Arga membawa cangkir itu ke rumah sakit.

Dia terdiam.

Lalu aku meletakkan foto amplop Ayah di meja.

Untuk pertama kalinya, wajah Ibu benar-benar kehilangan warna.

“Dari mana kamu dapat itu?”

“Kamar Ibu.”

“Arga…”

“Kenapa surat Ayah ada pada Ibu?”

Tidak ada jawaban.

“Sebelas tahun.”

Aku menatapnya.

“Sebelas tahun Ibu menyimpannya.”

Air mata mulai mengalir di wajahnya.

“Ayahmu sedang sakit.”

“Itu bukan jawaban.”

“Dia mau meninggalkan kita!”

“Dia mau meninggalkan Ibu.”

Aku menekankan kata terakhir.

“Bukan aku.”

Ibu menatapku seolah aku baru saja menamparnya.

Kemudian sesuatu yang aneh terjadi.

Dia berhenti menangis.

Ekspresinya menjadi dingin.

“Kamu tidak mengerti bagaimana rasanya ditinggalkan.”

“Jadi Ibu melakukan hal yang sama kepada Nadira?”

“Aku hanya ingin dia tenang!”

“Dengan memasukkan sesuatu ke minumannya tanpa persetujuannya?”

“Dia membuatmu menjauh dariku!”

Aku membeku.

Akhirnya.

Bukan penyangkalan.

Bukan alasan.

Kebenaran.

Aku menatap perempuan yang membesarkanku.

Perempuan yang memegang tanganku saat pertama kali masuk sekolah.

Yang bekerja keras setelah Ayah meninggal.

Yang selama ini kuanggap sebagai definisi pengorbanan.

Dan untuk pertama kalinya aku memahami sesuatu.

Seseorang bisa mencintaimu dan tetap melakukan hal yang sangat salah.

Cinta tidak otomatis membuat tindakan seseorang menjadi benar.

“Aku tidak meninggalkan Ibu karena Nadira,” kataku.

Ibu menangis lagi.

“Aku menjauh karena pilihan Ibu sendiri.”

Aku berdiri.

“Arga, Ibu cuma punya kamu.”

Aku berhenti.

Dulu kalimat itu pasti membuatku kembali duduk.

Kali ini tidak.

“Tidak, Bu.”

Aku menatapnya.

“Ibu punya diri Ibu sendiri. Dan selama ini Ibu membuatku bertanggung jawab atas kebahagiaan Ibu.”

Aku berjalan pergi.


Beberapa bulan berikutnya tidak mudah.

Proses hukum berjalan berdasarkan bukti yang tersedia, bukan berdasarkan kemarahanku.

Aku belajar menerima bahwa keadilan nyata tidak selalu terjadi secepat dalam film.

Ada pemeriksaan.

Ada keterangan dokter.

Ada saksi.

Ada pesan.

Ada catatan Nadira.

Dan ada pengakuan-pengakuan yang harus dinilai sesuai hukum.

Aku juga membuat keputusan yang lebih sulit daripada mengusir Ibu dari rumah.

Aku memutus kontak untuk sementara.

Bukan sebagai hukuman.

Sebagai batas.

Jika suatu hari hubungan itu ingin diperbaiki, syaratnya bukan permintaan maaf sambil menangis.

Harus ada tanggung jawab.

Harus ada perubahan.

Dan harus ada bantuan profesional.

Nadira juga mulai menemui psikolog.

Suatu malam, aku bertanya apakah dia membenciku karena terlambat menyadari semuanya.

Dia menatapku cukup lama.

“Aku pernah marah.”

Aku mengangguk.

“Kamu berhak.”

“Tapi aku tidak mau menghabiskan hidup kita dengan menghukummu karena kesalahan yang akhirnya kamu pilih untuk perbaiki.”

Aku menangis malam itu.

Bukan Nadira.

Aku.


Dua bulan kemudian, putri kami lahir.

Sehat.

Tangisannya memenuhi ruang bersalin pada pukul enam lewat sedikit.

Ketika perawat meletakkannya di dada Nadira, istriku menangis sambil tertawa.

Aku berdiri di samping mereka, tidak mampu berkata apa-apa.

Kami memberinya nama Alea Kirana Pratama.

Cahaya kecil.

Begitulah arti yang kami pilih untuk namanya.

Beberapa hari setelah pulang, Nadira sedang menyusui Alea ketika sebuah paket tiba.

Tidak ada nama pengirim.

Di dalamnya hanya ada satu benda.

Cangkir biru.

Bukan cangkir yang menjadi barang bukti.

Cangkir lain.

Model yang sama.

Aku langsung tegang.

Namun di bawahnya terdapat secarik kertas.

Tulisan tangan Bu Sari.

Mas Arga, saya menemukan ini di rumah lama Bu Ratna. Saya pikir Mas perlu melihat bagian bawahnya.

Aku membalik cangkir itu.

Ada stiker kecil yang hampir terkelupas.

Tulisan tangan di sana membuatku berhenti bernapas.

Untuk Arga — dari Ayah.

Aku menatapnya lama.

Lalu sesuatu muncul dalam ingatanku.

Aku pernah melihat cangkir itu.

Saat masih kecil.

Ayah biasa minum kopi dari cangkir biru setiap pagi sebelum bekerja.

Setelah Ayah meninggal, cangkir itu menghilang.

Dan Ibu membeli cangkir biru yang hampir sama untuk rumah kami beberapa minggu setelah dia pindah masuk.

Aku tidak tahu apakah itu kebetulan.

Mungkin aku tidak akan pernah tahu.

Tetapi Nadira tiba-tiba berkata,

“Arga, buka catatan nomor satu.”

“Apa?”

“Dari 412 catatan itu. Buka yang pertama.”

Aku mengambil ponselnya.

Aku belum pernah membaca catatan pertama dengan teliti.

Catatan itu dibuat jauh sebelum Ibu tinggal bersama kami.

Hampir delapan bulan sebelumnya.

Isinya hanya dua kalimat.

Hari ini Ibu Ratna melihat cangkir biru di toko dan tiba-tiba menangis. Dia bilang, “Dulu ayah Arga punya yang persis seperti itu.”

Lalu kalimat kedua:

Setelah itu dia membeli dua.

Aku menatap Nadira.

Tiba-tiba aku memahami sesuatu yang selama ini terlewat.

Cangkir biru bukan dipilih secara acak.

Ibu sedang mengulang pola lama.

Entah sadar atau tidak, dia membangun kembali rumah tangga yang pernah kehilangan kendalinya.

Dulu Ayah.

Sekarang Nadira.

Dan aku berada di tengah keduanya.

Namun kali ini akhirnya seseorang mencatat semuanya.

Empat ratus dua belas kali.

Aku memandang putriku yang tertidur di pelukan Nadira.

Kemudian aku membawa cangkir lama milik Ayah ke lemari.

Aku tidak membuangnya.

Aku juga tidak menggunakannya.

Aku menyimpannya sebagai pengingat.

Bukan tentang Ibu.

Tentang diriku sendiri.

Tentang jenis suami dan ayah yang ingin kupilih untuk menjadi.

Setahun kemudian, aku menerima surat dari Ibu.

Dia sedang menjalani konseling.

Suratnya tidak meminta aku memaafkannya.

Tidak mengatakan Nadira bersalah.

Tidak mengatakan semua yang dilakukannya “demi aku.”

Untuk pertama kalinya, dia hanya menulis:

Aku menyakiti Nadira karena aku takut kehilanganmu. Ketakutanku bukan tanggung jawabmu. Apa yang kulakukan adalah tanggung jawabku sendiri.

Aku membaca surat itu kepada Nadira.

“Menurutmu?” tanyaku.

Nadira menggendong Alea dan tersenyum tipis.

“Menurutku itu permulaan.”

“Bukan pengampunan?”

“Belum.”

Aku mengangguk.

Dan aku menyukai jawaban itu.

Karena beberapa luka tidak membutuhkan akhir yang sempurna.

Mereka membutuhkan batas yang sehat, waktu, dan perubahan yang benar-benar dibuktikan.

Malam itu aku menggendong Alea di dapur sementara Nadira membuat teh.

Dia mengambil dua cangkir putih dari lemari.

Lalu menatapku.

“Yang biru?”

Aku melihat cangkir Ayah di rak paling atas.

Aku menggeleng sambil tersenyum.

“Biarkan di sana.”

Nadira menuangkan teh.

Aku memandang istri dan putriku.

Dulu aku mengira keluarga berarti tidak pernah meninggalkan orang yang memiliki darah yang sama denganmu.

Sekarang aku tahu keluarga berarti menciptakan tempat di mana orang yang kita cintai tidak perlu membuat 412 catatan hanya agar suatu hari seseorang percaya bahwa rasa sakit mereka benar-benar terjadi.

Aku terlambat menyadarinya.

Tapi tidak terlambat untuk mengubahnya.

Dan mungkin itulah warisan terbaik yang bisa kuberikan kepada Alea:

Bukan rumah besar.

Bukan uang.

Bukan nama keluarga.

Melainkan sebuah rumah di mana cinta tidak pernah digunakan sebagai alasan untuk mengendalikan seseorang.

Dan di mana tidak seorang pun harus takut mengatakan kebenaran.