Pada hari keempatku bekerja di sebuah rumah mewah di Pondok Indah, aku pulang lebih cepat dan melihat Surya Pratama meletakkan sebuah amplop berisi Rp850 juta di atas meja.
Uang itu bukan bonus.
Itu adalah harga yang ditawarkan kepadaku untuk membuat seorang anak melupakan ibunya sendiri.
Surya menuangkan teh ke cangkirnya dengan tenang, seolah kami hanya sedang membicarakan menu makan malam.
Sementara itu, Dimas, bocah tujuh tahun yang sudah lama tidak mau bicara, bersembunyi di balik tirai sambil memeluk boneka rubah kesayangannya.
Lalu aku mendengar Surya berkata,
“Dimas harus melupakan perempuan itu.”
Aku tidak menyentuh uang tersebut.
Aku menghubungi seorang pengacara.
Aku menyimpan amplop itu sebagai bukti.
Namun semuanya berubah ketika aku menemukan sebuah surat yang membuktikan bahwa ibu Dimas sebenarnya tidak pernah meninggalkannya.
BAGIAN 1
Hari keempat bekerja di rumah keluarga Pratama di Pondok Indah seharusnya menjadi hari biasa bagiku.
Setidaknya begitu yang kupikirkan.
Namaku Nadira Maheswari, tiga puluh tahun, dengan latar belakang pendidikan anak berkebutuhan khusus.
Aku direkrut untuk mendampingi Dimas Pratama, bocah tujuh tahun yang hampir dua tahun tidak mengucapkan sepatah kata pun.
Menurut keluarganya, Dimas berhenti berbicara setelah ibunya, Alya, tiba-tiba meninggalkan rumah.
Namun sore itu, aku mulai mengerti bahwa ada sesuatu yang jauh lebih gelap di balik keheningan anak tersebut.
Surya Pratama, kakek Dimas sekaligus pendiri jaringan laboratorium kesehatan Pratama Medika, duduk di ruang kerja pribadinya.
Di hadapannya tergeletak sebuah amplop cokelat tebal.
Ia mendorong amplop itu ke arahku.
“Anggap saja sebagai bonus karena bisa menjaga rahasia keluarga.”
Aku menatapnya.
“Apa maksud Bapak?”
Surya menyandarkan tubuhnya dengan santai.
“Delapan ratus lima puluh juta rupiah.”
Aku masih tidak menyentuh amplop tersebut.
“Untuk apa?”
Ia menatapku beberapa detik sebelum menjawab.
“Berhenti membicarakan ibunya kepada Dimas.”
Aku merasa tengkukku menegang.
“Maaf?”
“Jangan menunjukkan foto Alya. Jangan menyebut namanya. Kalau Dimas menggambar perempuan itu, alihkan perhatiannya.”
Nada bicaranya datar.
Seolah yang ingin dihapus dari kehidupan Dimas hanyalah kebiasaan buruk.
Bukan seorang ibu.
Aku berdiri tegak.
“Saya dipekerjakan untuk membantu Dimas pulih, Pak. Bukan menghapus ingatannya.”
Surya tersenyum tipis.
Senyum yang sama sekali tidak mencapai matanya.
“Anda pengasuh ke-18 dalam dua tahun terakhir.”
Ia mengetuk amplop itu dengan telunjuk.
“Jangan menganggap diri Anda istimewa.”
Aku tidak menjawab.
Namun ketika hendak meninggalkan ruangan, mataku menangkap gerakan kecil di dekat jendela.
Di balik tirai panjang berwarna krem, sepasang kaki kecil terlihat.
Dimas ada di sana.
Memeluk boneka rubahnya.
Mendengarkan semuanya.
Aku pura-pura tidak melihatnya.
Sejak pertama datang ke rumah itu, aku sudah merasa ada sesuatu yang aneh.
Ayah Dimas, Raka Pratama, berusia tiga puluh tujuh tahun dan sekarang memimpin perusahaan keluarga.
Di televisi dan berita bisnis, Raka digambarkan sebagai pengusaha muda yang tegas.
Ia mengurus kontrak bernilai miliaran rupiah.
Ia memimpin ribuan karyawan.
Namun setiap kali berada di dekat ayahnya, Raka berubah.
Lebih diam.
Lebih hati-hati.
Seolah setiap kalimat harus mendapat izin dari Surya sebelum boleh keluar dari mulutnya.
Bahkan dokter dan psikolog yang menangani Dimas dipilih sendiri oleh Surya.
Menurut cerita keluarga, Alya meninggalkan rumah setelah bertengkar hebat dengan Raka.
Ia pergi begitu saja.
Yang ditinggalkan hanya sebuah surat yang sudah diketik dan dicetak.
Isinya sederhana.
Alya mengaku ingin memulai hidup baru.
Ia menyerahkan hak pengasuhan Dimas kepada Raka.
Ia tidak ingin dicari.
Cerita itu terdengar masuk akal.
Sampai aku mulai memperhatikan detail kecil.
Pada hari pertamaku, aku menemukan Dimas duduk sendirian di belakang tirai kamar.
Boneka rubah menempel erat di dadanya.
Aku tidak memintanya bicara.
Tidak bertanya tentang ibunya.
Aku hanya duduk beberapa langkah darinya.
Mengambil buku gambar.
Lalu menggambar sebuah pohon mangga yang sedang berbunga.
Sambil menggambar, tanpa sadar aku bersenandung.
Sebuah lagu lama.
Dimas langsung mengangkat kepala.
Tatapannya berubah.
Ia menatapku lama sekali.
Seolah pernah mendengar lagu itu sebelumnya.
Keesokan paginya aku membuatkan cokelat hangat tanpa terlalu banyak busa.
Roti panggangnya kupotong menjadi empat bagian berbentuk segitiga.
Raka yang sedang berdiri di dekat meja makan tiba-tiba terdiam.
“Dari mana kamu tahu Dimas sukanya seperti itu?”
Tanganku berhenti sesaat.
“Anak-anak menjelaskan banyak hal meskipun mereka tidak berbicara.”
Itu bukan kebohongan.
Tapi juga bukan seluruh kebenaran.
Karena ada alasan lain mengapa aku mengenal kebiasaan Dimas jauh lebih baik daripada yang seharusnya diketahui seorang pengasuh baru.
Dan alasan itu belum boleh diketahui keluarga Pratama.
Pada hari ketiga, Dimas memberikan sesuatu kepadaku.
Sebuah gambar.
Ada tiga orang di sana.
Seorang pria.
Seorang anak kecil.
Dan seorang perempuan.
Perempuan itu dipisahkan dari mereka oleh pagar hitam besar.
Garis-garis biru jatuh di atas tubuhnya seperti hujan.
Di sudut kertas, ada seorang lelaki tua membawa tongkat.
Di tangannya terdapat selembar kertas.
Aku mengenali sosok itu.
Surya.
Aku membawa gambar tersebut kepada Bu Sri, kepala rumah tangga yang sudah bekerja hampir enam belas tahun untuk keluarga Pratama.
Wajah perempuan itu langsung berubah.
Ia menutup pintu ruang cuci sebelum berbicara.
“Nona Alya tidak mungkin pergi begitu saja.”
“Kenapa Ibu yakin?”
Bu Sri menatap ke arah lorong.
Lalu berbisik,
“Karena tidak ada orang yang berniat kabur meninggalkan semuanya.”
Aku mengerutkan kening.
“Semuanya?”
“Baju.”
Ia mulai menghitung dengan jarinya.
“Obat. Perhiasan. Kartu ATM. Paspor. Bahkan dompetnya.”
Dadaku terasa berat.
“Tidak ada yang dibawa?”
Bu Sri menggeleng.
“Tidak ada.”
Kemudian ia mengatakan sesuatu yang jauh lebih aneh.
Beberapa hari setelah Alya dinyatakan pergi, Surya menyuruh semua foto Alya diturunkan dari dinding.
Pakaian dan barang-barangnya diperintahkan untuk disumbangkan.
Bahkan sebelum Raka sempat memutuskan apa yang ingin dilakukan.
“Ada satu kotak yang tidak saya serahkan,” kata Bu Sri.
Ia membawaku ke ruang setrika.
Di bagian paling belakang lemari terdapat sebuah kotak plastik berdebu.
“Aku merasa suatu hari Dimas mungkin membutuhkan ini.”
Dengan izin Raka yang sebelumnya memang membolehkan aku mencari benda-benda lama untuk membantu terapi Dimas, aku membuka kotak tersebut.
Di dalamnya terdapat album foto.
Buku resep.
Beberapa pakaian.
Dan sebuah buku anak-anak tentang rasi bintang.
Saat membuka halaman tengah, sesuatu jatuh ke lantai.
Selembar kertas yang dilipat.
Tulisan tangan.
Aku membacanya perlahan.
“Dimas sayang, kalau suatu hari mereka mengatakan Mama pergi karena tidak mencintaimu, jangan percaya. Mereka sedang mencoba membuat Mama memilih antara tetap bersamamu atau menghancurkan masa depanmu. Mama akan mencari cara yang aman untuk kembali.”
Tanganku mulai gemetar.
Tanggal di bagian atas surat menunjukkan surat itu ditulis hanya enam hari sebelum Alya menghilang.
Aku membalik kertas tersebut.
Di belakangnya ada sebuah nama.
Maya Kusuma — Pengacara Keluarga.
Di bawah nama itu terdapat delapan angka.
Bukan nomor telepon lengkap.
Hanya delapan angka.
Malam itu aku kembali ke kamar lama Alya.
Di dalam salah satu laci meja, aku sebelumnya melihat sebuah tablet tua yang sudah tidak pernah digunakan.
Aku mengambilnya.
Layarnya masih menyala setelah diisi daya.
Ada beberapa folder yang dikunci.
Aku mencoba delapan angka dari surat tersebut.
Gagal.
Aku mencoba lagi.
Kali ini menggunakan tanggal lahir Dimas di depannya.
Folder terbuka.
Aku menahan napas.
Puluhan dokumen muncul.
Foto.
Rekaman.
Tangkapan layar percakapan.
Dan sebuah email.
Aku membuka email paling akhir.
Pengirimnya membuat seluruh tubuhku membeku.
Raka Pratama.
Email itu dikirim sehari sebelum Alya menghilang.
Pesannya hanya beberapa baris.
“Lakukan saja seperti yang Ayah perintahkan.”
“Dimas tetap bersamaku.”
Lalu kalimat terakhir.
“Kalau kamu melawan, kami akan menggunakan laporan itu untuk menghancurkanmu.”
Aku membaca pesan itu dua kali.
Tiga kali.
Selama ini semua orang mengatakan Alya meninggalkan anaknya.
Tetapi surat itu menunjukkan sesuatu yang berbeda.
Alya ketakutan.
Seseorang menekannya.
Dan Raka mengetahui semuanya.
Aku segera memotret layar.
Lalu menghubungi nomor pengacara yang berhasil kutemukan berdasarkan nama dalam surat.
Belum sempat panggilan tersambung, terdengar suara dari luar kamar.
Tok.
Tok.
Tok.
Suara tongkat mengenai lantai marmer.
Aku membeku.
Hanya ada satu orang di rumah itu yang berjalan menggunakan tongkat.
Surya.
Suara itu semakin dekat.
Tok.
Tok.
Tok.
Aku buru-buru mencoba menutup folder.
Namun layar tablet tiba-tiba menampilkan sebuah video lama.
Thumbnail-nya memperlihatkan Alya sedang menangis.
Di sampingnya berdiri Surya.
Dan di belakang mereka…
ada seseorang yang selama ini tidak pernah disebut dalam cerita keluarga.
Aku belum sempat menekan video tersebut ketika gagang pintu bergerak.
Pintu terbuka perlahan.
Surya berdiri di sana.
Tatapannya langsung jatuh pada tablet di tanganku.
Wajahnya tidak lagi tersenyum.
Lalu dari belakang tubuhku terdengar suara kecil.
Suara yang belum pernah kudengar selama empat hari berada di rumah itu.
Dimas.
Untuk pertama kalinya setelah hampir dua tahun, bocah itu membuka mulut.
Dan hanya mengucapkan satu kata.
“Mama…”
Aku menoleh.
Dimas berdiri di ambang pintu sambil menunjuk layar tablet.
Tetapi ia tidak menunjuk Alya.
Ia menunjuk orang lain yang berdiri di belakang ibunya dalam video tersebut.
Dan saat aku melihat wajah orang itu lebih jelas, aku akhirnya mengerti mengapa Surya bersedia membayar Rp850 juta hanya untuk membuat seorang anak lupa.
Karena kalau Dimas mulai mengingat…
bukan hanya kebohongan tentang ibunya yang akan terbongkar.
Seluruh keluarga Pratama bisa hancur.
BAGIAN 2
“Mama…”
Suara itu begitu kecil sampai hampir terdengar seperti napas.
Namun bagi semua orang di ruangan itu, satu kata tersebut terasa seperti ledakan.
Aku menoleh cepat.
Dimas berdiri di ambang pintu dengan boneka rubah di dada. Wajahnya pucat. Tangannya terangkat, telunjuknya mengarah ke layar tablet.
Surya ikut menoleh.
Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, ekspresi lelaki tua itu benar-benar runtuh.
“Dimas,” katanya tajam. “Masuk kamar.”
Anak itu tidak bergerak.
Ia terus menunjuk layar.
Aku memandangi video yang belum sempat kuputar.
Di sana terlihat Alya duduk di sebuah kursi. Wajahnya basah oleh air mata.
Surya berdiri di sisi kanan.
Tetapi sosok ketiga di belakang Alya membuatku terpaku.
Seorang perempuan.
Rambut pendek sebahu.
Kacamata tipis.
Wajahnya sangat mirip Alya.
Terlalu mirip.
Dimas menunjuk perempuan itu sekali lagi.
“Mama.”
Aku merasa darahku mengalir dingin.
“Itu bukan Alya?” tanyaku.
Surya bergerak cepat hendak merebut tablet.
Aku mundur.
“Berikan.”
“Siapa perempuan ini?”
“Bukan urusanmu.”
Aku memegang tablet lebih erat.
“Kalau bukan urusan saya, kenapa Bapak menawarkan Rp850 juta agar saya tidak membicarakan ibunya?”
Tatapan Surya berubah keras.
“Kamu tidak tahu apa-apa.”
“Tapi Dimas tahu.”
Kalimat itu membuatnya diam.
Dimas tiba-tiba mulai gemetar.
Aku langsung berlutut di depannya.
“Tidak apa-apa. Kamu tidak harus bicara.”
Matanya berair.
Ia menatap layar.
Lalu menatapku.
Tangannya bergerak pelan ke wajahku.
Ke bagian rahang yang selama ini kututupi dengan syal tipis.
Jari kecilnya berhenti tepat di atas bekas luka.
Kemudian bibirnya bergerak.
“Na…”
Aku membeku.
Surya menatapku tajam.
“Dia mau mengatakan apa?”
Aku tidak menjawab.
Dimas mencoba lagi.
“Na…di…”
Jantungku berdegup begitu keras.
Surya langsung berdiri tegak.
“Siapa sebenarnya kamu?”
Aku menatap Dimas.
Lalu perlahan melepas syal dari leherku.
Bekas luka panjang di dekat rahang terlihat jelas.
Wajah Surya kehilangan warna.
“Kamu…”
Aku berdiri.
“Ya.”
Untuk pertama kalinya, aku tidak lagi mencoba menyembunyikan apa pun.
“Nama saya bukan sekadar Nadira Maheswari.”
Aku menatapnya lurus.
“Saya adik kandung Alya.”
Ruangan itu menjadi sunyi.
Surya mundur setengah langkah.
“Tidak mungkin.”
“Kenapa tidak mungkin?”
“Karena keluarganya mengatakan—”
“Keluarga kami diberi tahu Alya pergi ke luar negeri.”
Aku memotongnya.
“Setahun kemudian, kami diberi kabar bahwa dia memutus semua hubungan dan tidak ingin dicari.”
Surya menelan ludah.
Aku melanjutkan.
“Tapi saya tidak pernah percaya.”
Dimas masih memegang tanganku.
Aku meremas jemarinya pelan.
“Terakhir kali saya melihat Dimas, usianya hampir lima tahun. Saya mengalami kecelakaan beberapa bulan setelah Alya menghilang. Wajah saya terluka. Berat badan saya turun. Rambut saya potong pendek. Saya sengaja tidak datang sebagai bibinya.”
Surya menatapku dengan kebencian yang nyaris panik.
“Kamu menyusup ke rumah ini.”
“Tidak.”
Aku menggeleng.
“Saya melamar pekerjaan secara resmi. Semua dokumen saya asli. Saya hanya tidak menuliskan hubungan keluarga dengan Alya.”
“Keluar dari rumah saya.”
“Rumah Raka,” jawabku.
Rahangnya menegang.
“Apa?”
“Setahu saya, rumah ini atas nama Raka.”
Untuk pertama kalinya aku melihat Surya benar-benar kehilangan kendali.
Ia menghantam tongkatnya ke lantai.
“Keluar!”
Dimas tersentak.
Aku langsung memeluknya.
Dan saat itulah suara lain muncul dari lorong.
“Ayah.”
Raka berdiri beberapa meter dari pintu.
Wajahnya pucat.
Entah sudah berapa lama ia berada di sana.
Tatapannya berpindah dari Surya, ke tablet, lalu kepadaku.
“Nadira?”
Aku berdiri perlahan.
Raka menatap bekas luka di wajahku.
Kemudian ia mengerti.
“Nadira Maheswari…”
Suaranya nyaris tidak terdengar.
“Adik Alya.”
Aku mengangguk.
Raka menutup mata.
Seolah sesuatu yang selama dua tahun ia paksa terkubur akhirnya kembali berdiri di hadapannya.
Aku mengangkat tablet.
“Jelaskan email ini.”
Raka tidak menjawab.
“Jelaskan kenapa kamu menulis kepada kakakku bahwa kalau dia melawan, kalian akan menggunakan laporan untuk menghancurkannya.”
Surya langsung berkata,
“Tidak ada yang perlu dijelaskan.”
Aku menatap Raka.
“Saya bertanya kepada dia.”
Raka tampak seperti tidak bisa bernapas.
Lalu matanya jatuh pada Dimas.
Anaknya sendiri.
Bocah yang selama hampir dua tahun tidak bicara.
Dimas memandangnya tanpa ekspresi.
Akhirnya Raka berkata,
“Aku pengecut.”
Surya langsung membentak.
“Raka!”
Namun kali ini Raka tidak menoleh.
“Aku pengecut,” ulangnya.
Aku menahan napas.
Raka masuk ke kamar dan menutup pintu.
“Alya tidak pergi karena ingin meninggalkan Dimas.”
Aku merasakan tangan Dimas mengencang di jariku.
Raka menunduk.
“Ayah menemukan sesuatu tentang Alya.”
“Apa?”
“Rekam medis.”
Aku mengernyit.
Raka bicara semakin pelan.
“Setelah Dimas lahir, Alya mengalami depresi pascapersalinan. Ia pernah dirawat beberapa minggu. Sudah pulih. Dokternya mengatakan dia sehat.”
Aku menatap Surya.
“Tapi Ayah menyimpan semua dokumennya.”
Raka menarik napas.
“Ketika Alya mulai mempertanyakan beberapa transaksi perusahaan, Ayah mengancam akan memakai catatan medis itu untuk menggambarkan Alya sebagai ibu yang tidak stabil.”
Aku merasa mual.
“Transaksi apa?”
Raka terdiam.
Surya menjawab lebih dulu.
“Urusan bisnis.”
Raka menatap ayahnya.
“Bukan.”
Nada suaranya berubah.
“Itu bukan sekadar bisnis.”
Ia menoleh kepadaku.
“Alya menemukan pengalihan dana dari salah satu yayasan kesehatan kami.”
“Berapa?”
“Lebih dari Rp70 miliar.”
Aku hampir tidak percaya.
“Ke mana uang itu pergi?”
Raka menunjuk Surya.
“Akun perusahaan cangkang milik orang kepercayaannya.”
Surya tertawa kecil.
“Semua pengusaha melakukan restrukturisasi dana.”
“Dengan uang donasi pasien?” tanyaku.
Wajah Raka hancur.
“Alya ingin melapor.”
Aku memahami semuanya.
“Jadi kalian mengancamnya dengan hak asuh Dimas.”
Raka mengangguk.
“Ayah bilang kalau Alya bicara, dia akan membuat semua orang percaya bahwa Alya mengalami gangguan mental dan membahayakan anaknya.”
Surya membentak,
“Aku melindungi keluarga ini!”
“Tidak!” Raka akhirnya berteriak.
Dimas langsung memejamkan mata.
Raka menurunkan suaranya.
“Tidak, Ayah. Ayah melindungi diri sendiri.”
Surya menatap putranya seolah baru saja dikhianati.
Aku kembali melihat video.
“Perempuan yang Dimas panggil Mama siapa?”
Raka terdiam.
Surya memalingkan wajah.
Aku menekan tombol putar.
Video bergerak.
Alya menangis.
Suara Surya terdengar.
“Kamu tanda tangani surat ini, lalu semuanya selesai.”
Perempuan yang berdiri di belakang Alya melangkah maju.
Wajahnya terlihat lebih jelas.
Aku langsung mengenalinya.
Aku pernah melihatnya dalam foto keluarga lama.
“Bu Ratih…”
Raka menatapku.
“Kamu kenal?”
“Tentu.”
Ratih adalah sepupu ibu kami.
Ia bekerja sebagai psikolog anak.
Sudah lama pindah ke Surabaya.
Setidaknya itu yang kami pikir.
Dalam video, Alya berkata,
“Kalau aku tanda tangan, kalian akan mengambil Dimas.”
Surya menjawab,
“Kami memastikan dia dibesarkan dengan benar.”
Lalu Ratih berbicara.
“Alya, jangan lakukan.”
Surya memerintah seseorang mematikan kamera.
Video berhenti.
Aku menatap Raka.
“Kenapa Dimas memanggil Ratih ‘Mama’?”
Raka terlihat bingung.
“Aku tidak tahu.”
Tiba-tiba Dimas menarik tanganku.
Ia berjalan ke meja kecil dan mengambil kertas.
Mulai menggambar.
Tangannya bergerak cepat.
Dua perempuan.
Satu perempuan di rumah.
Satu lagi berada di balik pagar.
Ia menunjuk perempuan di rumah.
“Ma…ma.”
Lalu perempuan di balik pagar.
“Mama.”
Aku menatap gambar itu.
Dua mama.
Dan mendadak aku mengerti.
“Dimas tidak mengatakan Ratih adalah ibunya.”
Raka mengernyit.
Aku menunjuk gambar.
“Dia sedang bilang Ratih berpura-pura menjadi Alya.”
Wajah Surya berubah.
Aku melihatnya.
Raka juga melihatnya.
“Ayah?”
Surya tidak menjawab.
Aku mendekatinya.
“Apa yang terjadi setelah Alya menghilang?”
Raka memejamkan mata.
“Ayah?”
Surya akhirnya duduk.
Seolah usianya bertambah dua puluh tahun dalam beberapa detik.
“Kalian semua tidak mengerti.”
“Jelaskan.”
Surya menatap Dimas.
“Anak itu terus menangis memanggil ibunya.”
Aku merasa takut mendengar kelanjutannya.
“Ratih memiliki postur hampir sama dengan Alya. Dari belakang, dengan pakaian tertentu…”
Aku menatapnya tidak percaya.
“Bapak menyuruh Ratih berpura-pura menjadi Alya?”
“Hanya beberapa kali.”
Raka mundur.
“Ayah gila.”
“Untuk membuat anak itu tenang!”
“Dimas baru lima tahun!”
“Itulah sebabnya dia tidak akan tahu bedanya.”
Tetapi Dimas tahu.
Mungkin tidak secara sadar.
Mungkin itulah alasan pikirannya hancur.
Ia melihat seseorang memakai baju ibunya.
Mendengar suara berbeda.
Mencium aroma berbeda.
Dan semua orang dewasa di sekelilingnya bersikeras bahwa itu normal.
Aku menatap Surya dengan jijik.
“Di mana Alya?”
Surya mengangkat wajah.
“Aku tidak tahu.”
Aku tidak percaya.
“Bohong.”
“Aku benar-benar tidak tahu.”
Raka mendekati ayahnya.
“Terakhir kali Ayah melihat Alya kapan?”
“Dua tahun lalu.”
“Di mana?”
Surya tidak menjawab.
Raka mengambil tongkat ayahnya dan melemparkannya ke lantai.
“DI MANA?”
Dimas menutup telinga.
Aku memeluknya.
Surya akhirnya berkata,
“Rumah singgah di Puncak.”
Aku dan Raka saling menatap.
“Rumah singgah apa?”
“Properti lama perusahaan.”
“Kenapa Alya ada di sana?”
Surya menarik napas.
“Dia setuju pergi untuk sementara. Kami bilang itu untuk menghindari skandal.”
“Kami?” tanyaku.
Surya diam.
“Siapa lagi?”
Pintu kembali terbuka.
Bu Sri berdiri di sana.
Wajahnya basah oleh air mata.
“Pak Raka…”
Tangannya gemetar.
“Saya harus mengatakan sesuatu.”
Semua mata tertuju kepadanya.
“Dua tahun lalu saya melihat Ibu Alya dibawa keluar rumah.”
Raka membeku.
“Kamu tidak pernah bilang.”
“Saya takut.”
“Oleh siapa?”
Bu Sri menatap Surya.
“Pak Surya dan… Bu Ratih.”
Raka memukul dinding dengan telapak tangannya.
Aku segera mengambil ponsel.
“Aku sudah menghubungi pengacara.”
Surya mencibir.
“Pengacara tidak akan menemukan apa pun.”
Aku menatapnya.
“Bukan hanya pengacara.”
Sebelum masuk rumah tadi, setelah menemukan surat, aku sudah mengirim salinan foto dokumen kepada Maya Kusuma.
Dan Maya telah menjawab satu kalimat.
Jangan tinggalkan rumah. Saya datang bersama seseorang.
Bel rumah berbunyi.
Surya menoleh tajam.
Bu Sri membuka pintu.
Maya masuk.
Bersamanya ada dua penyidik.
Dan seorang perempuan berusia sekitar empat puluh tahun.
Ratih.
Wajah Surya langsung pucat.
Raka memandang Ratih seolah melihat hantu.
Ratih tidak memandang siapa pun selain Dimas.
Air mata mengalir di pipinya.
“Aku minta maaf.”
Dimas bersembunyi di belakangku.
Ratih jatuh berlutut.
“Aku minta maaf, Nak.”
Maya membuka map.
“Kami sudah menemukan rumah singgah di Puncak.”
Aku hampir tidak mampu bicara.
“Alya?”
Maya menatapku.
Lalu perlahan menggeleng.
Dunia terasa runtuh.
Namun ia berkata,
“Alya tidak ada di sana.”
Aku memejamkan mata.
“Tapi kami menemukan bukti bahwa dia pernah berada di sana selama sebelas hari.”
Raka menutup mulut.
“Lalu?”
Ratih akhirnya berbicara.
“Aku membantunya kabur.”
Semua orang menoleh.
Surya berdiri.
“Kamu—”
“Ya.”
Ratih menangis.
“Aku tidak tahan lagi.”
Ia menatapku.
“Alya tidak pernah meninggalkan Dimas. Aku membawanya keluar dari rumah singgah tengah malam.”
“Ke mana?”
“Bandung.”
Harapan muncul lagi.
“Dia masih hidup?”
Ratih diam terlalu lama.
Aku merasa lututku lemas.
“Jawab.”
“Aku tidak tahu.”
Ratih menunduk.
“Beberapa minggu kemudian dia pergi lagi karena takut ditemukan. Kami berkomunikasi lewat seorang pendamping hukum.”
Maya mengangkat sebuah amplop.
“Sampai delapan bulan lalu.”
Aku menatapnya.
“Apa ini?”
“Surat terakhir Alya.”
Tanganku gemetar saat menerimanya.
Di depan tertulis namaku.
Untuk Nadira.
Aku membuka surat itu.
Tulisan tangan kakakku.
Aku langsung mengenalinya.
“Nadira, kalau surat ini sampai kepadamu, berarti aku belum cukup berani pulang.
Aku tahu kau akan marah karena aku menghilang.
Tapi aku tidak lari dari Dimas.
Aku lari agar mereka tidak mengambil semua bukti dariku.
Aku sudah menyerahkan salinan dokumen ke orang yang aman.
Aku hanya butuh waktu sampai proses hukum bisa melindungi anakku.
Kalau aku gagal pulang, jangan ajarkan Dimas membenciku.
Ajarkan dia bahwa ketakutan bisa membuat orang dewasa melakukan hal-hal bodoh.
Dan katakan padanya bahwa setiap malam, di mana pun aku berada, aku tetap menjadi ibunya.”
Aku tidak bisa melanjutkan.
Air mataku jatuh.
Dimas mendekat.
Aku berlutut dan memeluknya.
Untuk pertama kalinya ia tidak kaku.
Ia memelukku kembali.
“Mama… pulang?”
Pertanyaan itu hampir menghancurkan seluruh ruangan.
Aku tidak bisa menjawab.
Maya berjongkok.
“Ada satu hal lagi.”
Ia membuka ponselnya.
“Surat itu dikirim dari Yogyakarta.”
Aku menatapnya.
“Kami melacak pengacara pendamping yang menerima dokumen dari Alya.”
Jantungku berdegup cepat.
“Dan?”
“Dia masih berkomunikasi dengan Alya.”
Aku berhenti bernapas.
Maya tersenyum kecil sambil menangis.
“Alya masih hidup.”
Raka jatuh terduduk.
Bu Sri menangis keras.
Aku hanya bisa menatap Maya.
“Di mana?”
“Yogyakarta.”
Dimas menatapku.
Aku tertawa dan menangis bersamaan.
“Mamamu masih hidup.”
Wajahnya berubah.
Seperti ada cahaya kecil muncul setelah dua tahun gelap.
Beberapa hari kemudian, Surya ditetapkan sebagai tersangka atas dugaan penggelapan dana yayasan, intimidasi, pemalsuan dokumen, dan beberapa pelanggaran lain yang terungkap dari berkas Alya.
Ratih bekerja sama sebagai saksi.
Raka menyerahkan seluruh akses perusahaan kepada penyidik.
Ia juga mengundurkan diri sementara dari posisi direktur.
Tidak ada pembelaan.
Tidak ada konferensi pers.
Ia hanya berkata,
“Aku seharusnya melindungi istriku dan anakku. Aku memilih takut pada ayahku.”
Aku tidak memaafkannya.
Tidak saat itu.
Mungkin suatu hari.
Mungkin tidak.
Seminggu kemudian, kami pergi ke sebuah rumah kecil di pinggir Yogyakarta.
Dimas duduk di sampingku di dalam mobil.
Boneka rubah berada di pangkuannya.
Raka ikut, tetapi ia memilih menunggu jauh di belakang.
Ia memahami bahwa pertemuan pertama bukan miliknya.
Pintu rumah terbuka.
Seorang perempuan keluar.
Lebih kurus.
Rambutnya lebih pendek.
Ada garis kelelahan di wajahnya.
Tetapi aku akan mengenali kakakku bahkan setelah seratus tahun.
Alya.
Ia melihatku lebih dulu.
Tangannya menutup mulut.
“Nadira…”
Aku berlari memeluknya.
Kami menangis tanpa suara.
Lalu Alya menatap ke belakangku.
Dimas berdiri beberapa meter dari kami.
Tubuhnya kaku.
Boneka rubah jatuh dari tangannya.
Alya tidak berlari.
Tidak memaksanya.
Ia hanya berlutut.
“Dimas.”
Bocah itu menatapnya.
Lama.
Sangat lama.
Kemudian Alya mulai bersenandung.
Lagu lama yang dulu kunyanyikan pada hari pertamaku di Pondok Indah.
Dimas terisak.
Satu langkah.
Dua langkah.
Kemudian berlari.
“Mama!”
Alya menangkap tubuh kecil itu dalam pelukannya.
Jeritan tangis mereka terdengar di halaman.
Aku menutup wajah.
Di belakangku, Raka menangis tanpa berani mendekat.
Beberapa bulan kemudian, proses hukum masih berjalan.
Surya tidak lagi mengendalikan keluarga Pratama.
Perusahaan menjalani audit besar-besaran.
Dana yayasan yang disalahgunakan dikembalikan melalui penyitaan aset dan penyelesaian hukum.
Raka tidak kembali tinggal bersama Alya.
Mereka tidak berpura-pura bahwa cinta bisa langsung memperbaiki pengkhianatan.
Mereka memulai dari hal yang lebih sederhana.
Kejujuran.
Terapi keluarga.
Hak Alya untuk menentukan batas.
Hak Dimas untuk mengenal kedua orang tuanya tanpa kebohongan.
Sedangkan aku?
Aku tidak kembali menjadi pengasuh.
Aku menjadi tante Dimas lagi.
Sebutan yang jauh lebih berharga.
Suatu sore, Dimas duduk di halaman rumah Alya di Yogyakarta sambil menggambar.
Ia sekarang mulai bicara lebih sering.
Belum banyak.
Tapi cukup.
Ia menyerahkan gambarnya kepadaku.
Ada sebuah rumah.
Pohon mangga.
Seorang anak kecil.
Ibunya.
Ayahnya berdiri sedikit lebih jauh.
Aku berada di dekat pohon.
Tidak ada pagar hitam.
Tidak ada garis hujan.
Aku tersenyum.
“Ini siapa?”
Aku menunjuk sosok diriku.
Dimas menjawab pelan,
“Tante Nadira.”
Lalu ia menambahkan,
“Yang menemukan Mama.”
Aku menggeleng sambil menahan air mata.
“Bukan.”
Aku menunjuk dirinya sendiri.
“Kamu yang menemukan Mama.”
Dimas mengerutkan kening.
“Kenapa?”
“Karena kamu tidak pernah benar-benar melupakannya.”
Ia memikirkan kalimat itu.
Kemudian memeluk boneka rubahnya.
Di teras, Alya sedang memandang kami.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, wajah kakakku terlihat damai.
Dan saat itu aku memahami sesuatu.
Surya pernah menawarkan Rp850 juta agar kami menghapus seorang ibu dari ingatan anaknya.
Pada akhirnya, ia kehilangan uang, kekuasaan, perusahaan, dan kehormatannya.
Sedangkan Dimas hanya membutuhkan satu hal untuk mengalahkannya.
Satu ingatan kecil yang tidak bisa dibeli siapa pun.
Suara ibunya menyanyikan lagu sebelum tidur.
Karena ternyata ada hal-hal yang bisa dipalsukan.
Surat.
Laporan.
Tanda tangan.
Bahkan cerita sebuah keluarga.
Tetapi cinta seorang anak kepada ibunya bukan salah satunya.
Dan setelah dua tahun dipaksa diam, Dimas akhirnya mendapatkan kembali bukan hanya suaranya.
Ia mendapatkan kembali kebenaran.
Dan ibunya.
TAMAT

