Bagian 2
Lima detik ternyata cukup lama ketika seseorang sedang memutuskan apakah masih ada kebohongan yang bisa dipakai.
Arman akhirnya meletakkan kantong belanja di lantai.
“Kamu dapat nama itu dari mana?”
Aku menatapnya.
Bukan jawaban.
“Aku tanya siapa Maya.”
Dia mengusap wajah.
“Hana, duduk dulu.”

“Tidak perlu. Jawab saja.”
Arman melihat ke ruang tamu, lalu kembali kepadaku.
“Maya orang dari masa laluku.”
“Hubungan kalian?”
Dia tidak langsung menjawab.
Aku mengeluarkan daftar akses dari tas dan meletakkannya di meja.
“Sembilan belas kali dia masuk ke apartemen ini sejak Juni. Delapan kali saat aku dinas. Tanggal 17 Agustus dia datang bersama seorang anak, lalu Sidik Jari 04 dibuat.”
Wajah Arman berubah.
“Kamu lihat CCTV?”
“Aku pemilik unit ini. Ada akses yang kubuat tidak tahu. Tentu aku periksa.”
Dia duduk perlahan.
Aku tetap berdiri.
“Anak itu siapa?”
Arman menunduk beberapa detik.
Kemudian dia berkata sangat pelan,
“Namanya Dimas.”
“Aku tidak bertanya namanya.”
Arman menarik napas.
“Dia anakku.”
Tak ada suara keras setelah kalimat itu.
Tak ada gelas pecah.
Aku bahkan tidak menangis.
Aku hanya menarik kursi di depannya dan duduk.
“Umurnya?”
“Tujuh.”
“Dengan Maya?”
Dia mengangguk.
“Kalian pernah menikah?”
“Tidak. Kami dulu pacaran lama. Maya hamil. Setelah Dimas lahir hubungan kami enggak jalan. Tapi aku tetap tanggung jawab ke Dimas.”
Aku menatap wajah lelaki yang empat puluh delapan hari lagi seharusnya menjadi suamiku.
Selama lebih dari setahun bersamanya, aku tidak pernah tahu dia mempunyai anak.
Bukan anak jauh yang baru diketahui.
Bukan anak yang tidak pernah ditemui.
Anak itu datang ke rumahku berkali-kali.
Memiliki pakaian di kamar kedua.
Mempunyai mainan di lemari.
Dan Arman bisa mengacak rambutnya dengan gerakan seseorang yang jelas sudah bertahun-tahun menjadi ayah.
“Kenapa kamu tidak pernah bilang?”
“Aku takut.”
“Takut apa?”
“Takut kamu enggak bisa menerima.”
Aku hampir tertawa.
“Jadi caranya supaya aku menerima adalah memastikan aku tidak tahu?”
“Bukan begitu.”
“Lalu bagaimana?”
Arman mendekatkan kedua tangannya di atas meja.
“Aku memang mau cerita. Berkali-kali. Tapi setiap kali mau bicara, waktunya terasa salah.”
“Kapan waktu yang benar menurutmu?”
Dia diam.
Aku menunjuk kamar kedua.
“Setelah anakmu sudah punya barang di sini?”
“Hana, dia cuma beberapa kali main.”
“Dua belas kali smart lock dibuka dengan sidik jari yang tidak kukenal.”
“Itu bukan sidik jari Maya.”
Aku berhenti.
“Lalu?”
“Dimas.”
Jadi Sidik Jari 04 adalah milik anak tujuh tahun itu.
“Siapa yang memasukkannya?”
Arman menatapku, dan dari ekspresinya aku sudah tahu sebelum dia menjawab.
“Ibu.”
Bu Ratna.
Aku menyandarkan punggung ke kursi.
Arman buru-buru menjelaskan.
“Ibu cuma berpikir kalau Dimas datang lebih dulu sama Maya, dia bisa masuk tanpa harus menungguku. Sekolah Dimas enggak terlalu jauh dari sini. Kadang Maya ada urusan dan aku jagain dia beberapa jam.”
“Di rumahku.”
“Aku tahu seharusnya aku izin.”
“Bukan cuma izin.”
Aku menatapnya.
“Aku bahkan tidak tahu anak itu ada.”
Arman mulai bicara lebih cepat.
“Aku bisa jelaskan semuanya. Aku enggak selingkuh sama Maya. Hubungan kami sudah selesai bertahun-tahun. Aku cuma urus Dimas.”
“Aku belum menuduhmu selingkuh.”
Dia terdiam.
Justru itulah bagian yang membuatku paling sulit bernapas.
Masalahnya bukan apakah dia tidur dengan Maya.
Masalahnya adalah kehidupan lain yang disusunnya begitu rapi di dalam kehidupan kami, lalu dia berharap aku mengetahuinya setelah tidak lagi mudah untuk pergi.
“Apakah Maya tahu kamu akan menikah?”
“Tahu.”
“Dia tahu aku tidak tahu tentang Dimas?”
Arman menatap lantai.
Aku bertanya lagi.
“Dia tahu atau tidak?”
“Aku bilang kepadanya aku sedang mencari waktu untuk menjelaskan.”
Jawaban yang sangat hati-hati.
Aku mengangguk pelan.
“Nomor Maya.”
“Hana.”
“Berikan.”
“Untuk apa?”
“Aku ingin bicara dengan ibu dari anak yang selama dua bulan keluar masuk rumahku.”
“Aku saja yang jelaskan.”
Aku memandangnya sampai akhirnya ia membuka ponsel.
Sebelum dia sempat memberikan nomor itu, ponselku sendiri berdering.
Nama yang muncul membuat kami sama-sama diam.
Bu Ratna.
Aku mengangkatnya.
“Halo, Bu.”
Suara Bu Ratna terdengar tegang.
“Hana, Ibu dengar Arman sudah cerita soal Dimas.”
Aku melihat Arman.
Cepat sekali.
Bu Ratna melanjutkan, “Ibu tahu kamu kaget. Tapi Dimas anak baik. Dia enggak salah apa-apa.”
“Saya tidak pernah bilang Dimas salah.”
“Kalau begitu kita bisa bicara baik-baik. Kamu sebentar lagi menikah dengan Arman. Dimas tetap anak Arman.”
“Saya tahu.”
Lalu Bu Ratna mengatakan kalimat yang membuat seluruh masalah ini menjadi jauh lebih jelas.
“Nanti setelah kalian menikah, Dimas juga tetap harus punya tempat di rumah itu, Hana. Sejak awal Ibu kira kamu akhirnya akan mengerti.”
Aku memandang pintu kamar kedua.
Kamar yang katanya disiapkan fleksibel untuk anak kami kelak.
Ternyata orang lain sudah membuat rencana untuknya sebelum aku bahkan mengetahui seluruh anggota keluarga yang akan kunikahi.
Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇
Bagian 3
Aku tidak langsung menjawab Bu Ratna.
Di seberang telepon, dia beberapa kali memanggil namaku.
“Hana?”
“Saya dengar, Bu.”
“Ibu cuma tidak ingin kamu salah paham.”
“Saya justru sedang berusaha memahami.”
Aku melihat Arman yang duduk di meja makan dengan kedua tangan saling menggenggam.
“Waktu Ibu memasukkan sidik jari Dimas ke kunci rumah saya, apakah Ibu tahu saya belum tahu kalau Arman punya anak?”
Tidak ada jawaban beberapa detik.
Cukup.
Aku sudah terbiasa membaca jeda.
“Hana, Ibu pikir Arman pasti akan menjelaskan.”
“Sudah atau belum?”
“Belum waktu itu.”
“Berarti Ibu tahu.”
“Hana, jangan bicara seolah Ibu punya niat buruk. Dimas itu cucu Ibu. Dia kadang perlu tempat menunggu Arman. Apartemen kalian kosong kalau kamu dinas.”
Apartemen kalian.
Aku menatap dokumen KPR yang kebetulan tersimpan di laci meja dekat ruang tamu.
Apartemen itu akan menjadi rumah kami setelah menikah. Aku tidak pernah keberatan menyebutnya rumah bersama.
Tetapi kepemilikan dan izin tetap bukan sesuatu yang bisa dihapus hanya karena pernikahan tinggal empat puluh delapan hari lagi.
“Saya tidak sedang membahas apakah Dimas boleh bertemu ayahnya,” kataku. “Saya sedang bertanya kenapa orang-orang masuk ke rumah saya berkali-kali tanpa sepengetahuan saya.”
Bu Ratna menghela napas.
“Kamu terlalu melihat semuanya dari aturan.”
“Kalau Ibu punya kunci rumah sendiri, kemudian saya diam-diam memberikan akses kepada orang yang tidak Ibu kenal, Ibu akan bilang itu cuma soal aturan?”
Dia tidak segera menjawab.
Aku melanjutkan sebelum pembicaraan berubah menjadi perdebatan panjang.
“Saya tidak akan mengambil keputusan tentang Dimas malam ini. Saya juga tidak akan menyalahkan anak itu. Tapi soal pernikahan saya dengan Arman, saya perlu waktu.”
“Kamu jangan membatalkan pernikahan gara-gara ini.”
“Saya belum mengatakan apa pun soal membatalkan.”
“Undangan hampir jadi. Gedung sudah dibayar. Keluarga sudah tahu.”
Aku memejamkan mata sebentar.
Bukan Dimas yang pertama kali disebut.
Gedung.
Undangan.
Keluarga.
Aku menutup percakapan dengan mengatakan kami akan bicara setelah semuanya lebih jelas.
Begitu telepon berakhir, Arman berkata, “Ibu panik.”
“Aku tahu.”
“Hana, aku minta maaf.”
Aku mengambil ponsel dan menaruhnya di meja.
“Nomor Maya.”
Kali ini dia tidak membantah.
Dia membacakannya.
Aku menyimpannya, tetapi tidak langsung menelepon.
Kemudian aku menunjuk pintu.
“Untuk malam ini kamu pulang dulu.”
Arman terlihat kaget.
“Kita belum selesai bicara.”
“Justru karena belum selesai.”
“Aku bisa tidur di sofa.”
“Aku tidak mau.”
“Hana.”
Aku menatapnya.
“Aku baru beberapa jam tahu bahwa calon suamiku punya anak tujuh tahun yang sudah sembilan belas kali datang ke rumahku. Aku tidak akan menyelesaikan keputusan hidupku malam ini cuma karena kamu ingin pulang dengan jawaban.”
Arman menunduk.
Setelah beberapa saat dia berdiri.
“Aku enggak pernah bermaksud menyakitimu.”
“Mungkin.”
Aku percaya kalimat itu bisa saja benar.
Tidak semua pengkhianatan dilakukan dengan tujuan menghancurkan orang lain.
Kadang orang hanya terlalu takut kehilangan sesuatu, lalu memilih berbohong sampai kebohongan itu menjadi kehidupan kedua.
Tetap saja akibatnya sama.
Sebelum Arman pergi, aku meminta kartu akses apartemen yang kuberikan kepadanya.
Tangannya berhenti ketika mengeluarkannya dari dompet.
“Kamu serius?”
“Aku tidak bilang semuanya berakhir malam ini. Tapi sampai aku tahu apa yang sebenarnya terjadi, akses rumah ini kembali hanya kepadaku.”
Dia meletakkan kartu itu di meja.
Aku tidak menutup pintu dengan keras setelah dia pergi.
Aku hanya menguncinya.
Malam itu aku tidak banyak tidur.
Aku memeriksa lagi catatan kunjungan Maya, tetapi tidak untuk mencari detail yang lebih buruk.
Aku ingin membuat garis waktu.
Kapan renovasi selesai.
Kapan Maya pertama kali datang.
Kapan Bu Ratna mulai ikut.
Kapan sidik jari Dimas dimasukkan.
Semakin rapi urutan itu, semakin jelas bahwa ini bukan keputusan spontan satu sore.
Sudah berlangsung lebih dari dua bulan.
Pagi berikutnya pukul delapan lewat sedikit, aku mengirim pesan kepada Maya.
Namaku kusebut lengkap.
Aku juga menjelaskan bahwa nomor teleponnya kudapat dari Arman.
Aku hanya menulis satu hal lagi.
Aku ingin bicara mengenai kunjungannya ke unit apartemen milikku dan mengenai Dimas.
Balasannya datang sekitar dua puluh menit kemudian.
“Boleh. Saya juga baru tahu tadi malam kalau ternyata Mbak belum tahu semuanya.”
Aku membaca kalimat itu dua kali.
Kami sepakat bertemu siang hari di kedai kopi dekat apartemen.
Aku datang lebih dulu.
Maya datang tanpa Dimas.
Ketika dia mendekati meja, aku langsung mengenalinya dari CCTV. Dari dekat, dia terlihat lebih lelah daripada yang kubayangkan.
Dia duduk dan langsung berkata, “Saya minta maaf sudah sering masuk ke apartemen Mbak.”
Aku tidak menjawab permintaan maaf itu dulu.
“Saya cuma ingin tahu apa yang Arman katakan kepada Mbak tentang saya.”
Maya terlihat terkejut mendengar pertanyaan itu.
Dia memegang gelas air yang baru diantar pelayan.
“Dia bilang Mbak tahu dia punya Dimas.”
Aku diam.
“Sejak kapan?”
“Waktu dia bilang mau menikah.”
“Kapan tepatnya?”
“Sekitar awal tahun.”
Aku menatapnya.
Awal tahun.
Jauh sebelum kami bertunangan.
Maya melanjutkan dengan hati-hati.
“Arman bilang dia sudah cerita soal Dimas, cuma Mbak belum siap ketemu langsung. Saya pikir itu wajar. Tidak semua perempuan langsung nyaman.”
“Dia juga bilang saya setuju Dimas datang ke apartemen?”
Maya mengangguk pelan.
“Katanya apartemen itu nanti rumah kalian. Kalau Mbak sedang keluar kota dan dia menjaga Dimas, tidak masalah dibawa ke sana.”
Aku tidak mengatakan bahwa itu bohong.
Wajah Maya sudah berubah sebelum aku sempat menjelaskan.
“Jadi Mbak benar-benar enggak tahu?”
“Tidak.”
Dia meletakkan gelas.
“Ya Tuhan.”
Aku tidak membutuhkan ekspresi terkejutnya sebagai bukti mutlak, tetapi ceritanya cocok dengan hal-hal yang sudah kulihat.
Aku bertanya tentang tanggal 17 Agustus.
Maya menjawab bahwa hari itu dia membawa Dimas ke apartemen karena harus menghadiri acara keluarga sore hari. Bu Ratna datang kemudian.
“Yang daftar sidik jari memang Dimas?”
“Iya.”
“Siapa yang menyarankan?”
“Bu Ratna.”
Maya tampak semakin tidak nyaman.
“Saya sebenarnya bilang enggak perlu. Tapi Bu Ratna bilang toh sebentar lagi Mbak sama Arman menikah dan Dimas harus terbiasa.”
Kalimat terakhir itu membuatku teringat percakapanku dengan Bu Ratna.
Dimas harus punya tempat di rumah itu.
Ternyata rencana itu bukan lahir kemarin malam setelah mereka ketahuan.
Sudah ada cukup lama.
Aku bertanya, “Apakah pernah ada pembicaraan bahwa Dimas akan tinggal di sana?”
“Bukan tinggal penuh.”
Maya berhenti.
“Arman bilang kemungkinan dua atau tiga hari seminggu setelah menikah, kalau jadwal saya sedang padat.”
Aku menatapnya.
“Dia bilang saya sudah setuju?”
Maya tidak langsung menjawab.
Itu sudah cukup.
“Apa kamar kedua dipakai Dimas selama datang?”
“Kadang main di sana.”
“Pakaiannya?”
“Bu Ratna yang taruh. Saya cuma bawa beberapa baju ganti sekali. Setelah itu saya lihat sudah ada barang lain.”
Jadi semuanya cocok.
Tidak ada perselingkuhan yang dramatis.
Tidak ada perempuan yang diam-diam berusaha merebut calon suamiku.
Kenyataannya justru lebih sederhana dan, bagiku, lebih sulit diterima.
Arman mempunyai seorang anak.
Dia aktif hadir sebagai ayah.
Ibunya menyayangi cucunya.
Maya percaya aku sudah mengetahui semua itu.
Satu-satunya orang yang sengaja dibiarkan tidak tahu adalah aku.
Aku menghabiskan kopi yang sudah dingin.
“Maya, saya tidak punya masalah dengan Dimas.”
Dia mengangguk.
“Saya tahu.”
“Saya juga tidak akan ikut campur hubungan Arman dengan anaknya. Itu tanggung jawab dia.”
“Saya mengerti.”
“Tapi mulai sekarang tolong jangan masuk ke apartemen saya lagi sebelum ada izin langsung dari saya.”
“Tentu.”
Dia tampak sungguh-sungguh menyesal.
Sebelum berpisah, Maya berkata, “Kalau boleh saya bilang sesuatu, saya selama ini juga beberapa kali tanya Arman kapan saya bisa ketemu Mbak. Soalnya kalau Dimas akan sering bertemu kalian setelah menikah, saya pikir lebih baik kenal.”
“Apa jawabannya?”
“Katanya nanti setelah pernikahan.”
Di parkiran, aku duduk di mobil hampir sepuluh menit sebelum menyalakan mesin.
Setelah pernikahan.
Semakin banyak kalimat itu muncul.
Seolah pernikahan adalah sebuah pintu yang, setelah tertutup di belakangku, akan membuat semua fakta menjadi lebih mudah diterima.
Sore itu aku akhirnya menelepon Mama.
Aku tidak menceritakan dengan nada dramatis.
Aku hanya menyampaikan apa yang sudah kupastikan.
Arman mempunyai anak tujuh tahun.
Aku tidak pernah diberi tahu.
Anaknya telah berkali-kali datang ke apartemenku.
Bu Ratna mengetahui aku belum tahu.
Maya justru diberi tahu bahwa aku sudah mengetahui dan menerima keadaan itu.
Setelah mendengarkan semuanya, Mama tidak langsung menyuruhku membatalkan pernikahan.
Dia hanya bertanya,
“Kamu marah karena dia punya anak, atau karena dia menyembunyikannya?”
“Karena dia menyembunyikannya.”
“Kalau dari hari pertama dia jujur, kamu akan langsung pergi?”
Aku berpikir cukup lama.
“Entahlah.”
Dan itu jawaban paling jujur yang bisa kuberikan.
Aku mungkin akan takut.
Aku mungkin membutuhkan waktu.
Menjadi istri seseorang yang sudah mempunyai anak berarti ada tanggung jawab, jadwal, hubungan dengan ibu si anak, kebutuhan keuangan, dan keputusan-keputusan yang tidak sederhana.
Tetapi setidaknya aku akan mempunyai pilihan.
Mama berkata pelan, “Nah. Sekarang yang perlu kamu pikirkan bukan apakah kamu bisa menerima Dimas. Kamu perlu memutuskan apakah masih bisa membangun rumah tangga dengan orang yang mengambil pilihan itu darimu.”
Malam itu Arman datang lagi.
Kali ini aku mengizinkannya masuk setelah dia menelepon dari lobi.
Kami duduk di meja makan.
Tidak ada bahan masakan.
Tidak ada usaha berpura-pura normal.
Aku menceritakan bahwa aku sudah bertemu Maya.
Wajah Arman berubah ketika mendengar itu.
“Apa yang dia bilang?”
“Kamu bilang kepadanya aku tahu soal Dimas.”
Dia tidak menyangkal.
“Aku terpaksa.”
“Kenapa?”
“Kalau aku bilang calon istriku bahkan enggak tahu aku punya anak, dia pasti marah.”
“Jadi supaya Maya tidak marah, kamu berbohong kepadanya. Supaya aku tidak pergi, kamu berbohong kepadaku.”
“Aku tahu kedengarannya buruk.”
“Karena memang buruk.”
Dia menekan kedua telapak tangannya ke wajah.
“Aku enggak tahu cara memperbaikinya.”
Aku tidak membantu menjawab.
Setelah beberapa saat, Arman mulai menceritakan hal-hal yang seharusnya sudah kuketahui setahun lalu.
Dia dan Maya pernah berpacaran cukup lama.
Maya hamil ketika hubungan mereka sudah tidak baik.
Mereka mencoba bertahan demi Dimas tetapi akhirnya berpisah ketika Dimas masih kecil.
Sejak itu Arman tetap memberi biaya rutin, datang ke sekolah saat diperlukan, membawa Dimas akhir pekan tertentu, dan membagi kebutuhan tambahan dengan Maya.
Aku mendengarkan.
Aneh rasanya mengetahui sisi seorang laki-laki yang justru sebenarnya tidak membuatku membencinya.
Dia ternyata bertanggung jawab terhadap anaknya.
Dia tidak meninggalkan Dimas.
Kalau dia menceritakan semua itu sejak awal, mungkin aku bahkan akan menghargainya.
Itulah yang paling menyakitkan.
Kebenarannya sendiri bukan sesuatu yang membuat pernikahan mustahil.
Cara dia menyembunyikannya yang menghancurkan dasar pernikahan itu.
“Kenapa baru setelah renovasi selesai Dimas mulai sering datang?”
Arman menjawab, “Karena rumah kontrakan Maya pindah lebih jauh. Sekolah Dimas dekat sini. Kalau aku harus jaga dia beberapa jam, apartemen lebih praktis.”
“Kenapa bukan rumahmu sendiri?”
Sebelum menikah Arman masih tinggal bersama ibunya.
Dia terdiam.
“Dimas juga sering ke rumah Ibu.”
“Jadi apartemenku bukan satu-satunya pilihan.”
“Bukan.”
“Cuma yang paling nyaman.”
Dia tidak menjawab.
Aku bertanya lagi, “Kamar kedua itu sejak awal kamu pikirkan juga untuk Dimas?”
Arman menghela napas.
“Sebagian.”
Aku merasa jari-jariku mengencang.
“Waktu kamu bilang kita harus membuat kabinet fleksibel karena nanti kita akan punya anak?”
“Aku juga kepikiran Dimas.”
“Kenapa tidak bilang?”
Pertanyaan itu terdengar hampir bodoh karena jawabannya sudah jelas.
Tetapi aku tetap ingin mendengarnya.
“Karena aku takut kalau semuanya datang sekaligus, kamu akan mundur.”
Aku menatapnya.
“Arman, kamu tidak membuat masalahnya datang sedikit-sedikit. Kamu hanya menyembunyikannya sedikit-sedikit.”
Dia menunduk.
Malam itu aku memberitahunya bahwa pernikahan kami tidak bisa berjalan sesuai tanggal yang sudah ditentukan.
Wajahnya pucat.
“Kita tunda?”
“Aku belum tahu.”
“Jangan langsung batal.”
“Aku bilang tanggalnya tidak bisa jalan.”
“Hana, empat puluh tujuh hari lagi.”
“Aku tahu.”
“Gedung bagaimana? Undangan?”
“Aku akan hubungi vendor besok.”
“Keluarga sudah kasih tahu banyak orang.”
Aku memandangnya.
“Semua itu lebih mudah diurus daripada pernikahan yang dimulai dengan begini.”
Untuk pertama kalinya sejak semuanya terbuka, Arman tidak membantah.
Keesokan harinya aku menelepon wedding organizer.
Aku mengecek kontrak satu per satu.
Sebagian uang muka gedung tidak dapat dikembalikan penuh.
Fotografer masih bisa memindahkan jadwal, tetapi harus ada biaya administrasi.
Pesanan suvenir belum selesai sehingga sebagian masih dapat dibatalkan.
Aku membuat daftar.
Tidak menyenangkan.
Tetapi semuanya konkret.
Tidak ada satu pun yang lebih menakutkan daripada membayangkan melanjutkan pernikahan hanya karena kami sudah telanjur mengeluarkan uang.
Arman menghubungiku siang hari.
“Aku bayar kerugian pembatalannya.”
“Kita hitung sesuai porsi pembayaran.”
“Ini salahku.”
“Aku enggak ingin nanti masalah uang dipakai sebagai alasan untuk terus berhubungan. Kita catat semuanya.”
Begitu juga dengan apartemen.
Arman memang tidak mempunyai hak kepemilikan atas unit itu, tetapi dia telah membayar sebagian renovasi serta membeli beberapa peralatan.
Aku tidak akan menggunakan kesalahannya sebagai alasan menganggap kontribusinya hilang.
Kami membuat inventaris.
Televisi yang dia beli boleh dia ambil.
Mesin kopi hadiah dari kantornya juga miliknya.
Untuk biaya built-in yang sudah melekat pada apartemen, kami mencocokkan transfer dan kuitansi. Aku menawarkan penggantian sesuai kontribusi yang bisa dibuktikan, setelah dikurangi barang yang dibawanya.
Tidak selesai dalam sehari.
Tidak perlu.
Yang penting sejak awal semuanya tertulis.
Tiga hari kemudian kedua keluarga bertemu di rumah orang tuaku.
Tidak ada puluhan kerabat.
Hanya aku, Arman, Mama, Papa, Bu Ratna, dan kakak laki-laki Arman yang datang untuk menemani ibunya.
Bu Ratna yang paling banyak berbicara.
Dia mengakui salah karena memasukkan sidik jari Dimas tanpa izinku, tetapi berkali-kali kembali pada kalimat yang sama.
“Dimas tidak bersalah.”
Aku akhirnya berkata, “Bu, sejak awal saya tidak pernah menyalahkan Dimas.”
“Kalau begitu kenapa pernikahannya harus dibatalkan?”
“Karena anak Ibu menyembunyikan keberadaan Dimas dari saya.”
“Dia takut kamu tidak menerima.”
“Itu tetap keputusan yang seharusnya saya buat sendiri.”
Bu Ratna menggeleng.
“Kamu belum jadi ibu. Kadang soal anak memang rumit.”
Mama yang sejak tadi diam akhirnya bertanya,
“Kalau anak Ibu punya utang besar, lalu sengaja menyembunyikannya sampai setelah menikah karena takut calon istri tidak menerima, menurut Ibu itu boleh?”
Bu Ratna terlihat tidak suka perbandingan itu.
“Anak bukan utang.”
“Tentu bukan,” kata Mama. “Justru karena anak jauh lebih penting, seharusnya dibicarakan lebih awal.”
Ruangan mendadak sunyi.
Arman duduk di samping ibunya.
Aku melihatnya, lalu bertanya,
“Kalau aku menikah denganmu sesuai jadwal, apa yang berubah?”
Dia terdiam.
“Aku akan jujur.”
“Mulai sekarang?”
“Iya.”
“Kalau Dimas menginap, siapa memutuskan?”
“Kita berdua.”
“Kalau ibumu ingin dia tinggal beberapa hari?”
“Kita bicara.”
“Kalau Maya butuh perubahan jadwal?”
“Kita bicara.”
Aku mengangguk.
“Semua hal yang kamu katakan sekarang sebenarnya bisa dilakukan sejak awal.”
Arman menatapku lama.
“Aku minta kesempatan.”
Aku percaya dia menyesal.
Aku juga percaya rasa takutnya dulu nyata.
Tetapi penyesalan tidak otomatis mengembalikan posisi kami ke tempat sebelum aku menemukan Sidik Jari 04.
“Aku belum bisa menikah denganmu.”
Bu Ratna langsung menyela.
“Hana, jangan mengambil keputusan ketika sedang emosi.”
Aku menatapnya.
“Saya tidak memutuskan kemarin malam.”
Aku sudah mengecek catatan akses.
Aku sudah melihat CCTV.
Aku sudah berbicara dengan Arman.
Aku sudah bertemu Maya.
Aku sudah tidur beberapa malam dengan pikiran itu.
Aku sudah memeriksa kontrak pernikahan, uang, dan apartemen.
Keputusanku bukan ledakan satu malam.
“Aku tidak akan menikah bulan depan,” kataku kepada Arman.
Dia bertanya lirih, “Tapi kita masih bersama?”
Pertanyaan itu jauh lebih sulit.
Aku tidak menjawab cepat.
“Aku butuh jarak.”
Selama dua minggu berikutnya, Arman benar-benar memberiku jarak.
Dia tidak datang tanpa izin.
Tidak meminta Bu Ratna membujukku lagi.
Dia mengirim daftar pengeluaran renovasi yang dimilikinya dan menandai mana yang masih dia ingat.
Beberapa kali dia meminta bertemu.
Aku menolak dua kali.
Pertemuan ketiga baru kuterima.
Kami bertemu di restoran yang dulu sering kami datangi setelah kerja.
Arman terlihat lebih kurus.
Dia tidak membawa bunga.
Aku bersyukur.
“Aku mulai konseling,” katanya.
Aku tidak menyangka.
“Kenapa?”
“Karena aku baru sadar aku selalu menunda percakapan yang bisa membuat orang meninggalkanku.”
Aku tidak tahu apakah itu akan mengubahnya.
Mungkin.
Mungkin juga tidak.
Dia melanjutkan, “Aku juga bicara sama Maya. Aku minta maaf karena membuat dia percaya kamu sudah tahu.”
“Bagus.”
“Dan sama Dimas.”
Aku langsung melihatnya.
“Kamu cerita apa?”
“Yang perlu saja. Aku bilang pernikahan Ayah ditunda karena Ayah membuat kesalahan. Bukan karena dia.”
Aku mengangguk.
Itu penting bagiku meskipun Dimas bukan anakku.
Anak tujuh tahun tidak seharusnya tumbuh dengan pikiran bahwa kehadirannya menghancurkan rencana pernikahan ayahnya.
Arman menatap gelasnya.
“Aku tahu kamu mungkin enggak akan balik.”
Aku tidak menjawab.
“Tapi aku mau kamu tahu, kalau dulu aku cerita dari awal, aku memang berharap kamu bisa menerima Dimas. Bukan berarti aku mau memaksa kamu jadi ibunya. Dia punya ibu. Aku cuma ingin… hidupku enggak terpisah terus.”
Aku memandangnya cukup lama.
“Itu justru yang seharusnya kamu katakan sejak awal.”
“Aku tahu.”
“Kalau waktu kita mulai serius kamu bilang, ‘Aku punya anak. Aku tetap terlibat dalam hidupnya. Kalau kita menikah, dia akan menjadi bagian dari kehidupan kita,’ aku bisa berpikir.”
Arman mengangguk.
“Aku tahu.”
“Mungkin aku bilang tidak.”
“Aku tahu.”
“Mungkin juga aku bilang iya.”
Dia akhirnya menatapku.
“Itu yang paling aku sesali.”
Aku menunggu.
“Aku tidak memberimu kesempatan memilih.”
Untuk pertama kalinya, dia mengucapkan masalahnya tanpa mengecilkan apa pun.
Tidak menyalahkan Maya.
Tidak menyalahkan Bu Ratna.
Tidak menyalahkan ketakutannya.
Aku pulang malam itu dengan hati lebih tenang.
Tetapi tenang tidak sama dengan ingin kembali.
Seminggu kemudian aku membuat keputusan terakhir.
Aku mengajak Arman bertemu di apartemen untuk menyelesaikan daftar barangnya.
Televisi dilepas.
Mesin kopi masuk kardus.
Beberapa peralatan kecil yang ia beli kuberikan kepadanya.
Untuk kontribusi renovasi yang tidak bisa dilepas, kami sepakat pada satu angka berdasarkan bukti transfer dan kuitansi yang masih ada.
Aku akan membayarnya dalam dua kali transfer.
Tidak ada notaris yang tiba-tiba muncul menyelesaikan semuanya.
Tidak ada polisi.
Tidak ada ancaman.
Hanya dua orang dewasa yang pernah hampir menikah, duduk di lantai ruang tamu dan mencocokkan angka karena hubungan mereka tidak jadi berjalan seperti rencana.
Setelah daftar selesai, Arman bertanya,
“Jadi benar-benar selesai?”
Aku melihat kamar kedua yang pintunya terbuka.
Di dalamnya, laci bawah sudah kosong.
Plester penurun panas, kaus kaki, dan mainan Dimas sudah kuberikan kepada Arman beberapa hari sebelumnya.
“Iya.”
Arman menunduk.
Aku mengatakan hal yang sudah kupikirkan berhari-hari.
“Bukan karena kamu punya Dimas.”
Dia mengangguk kecil.
“Aku tahu.”
“Aku enggak yakin suatu hari aku bisa melihat kamu terlambat pulang, pergi bersama keluarga, atau mengubah sesuatu di rumah tanpa bertanya dan tidak teringat dua bulan ketika semua orang tahu sesuatu kecuali aku.”
Arman tidak membela diri.
“Aku ngerti.”
“Kalau kita memaksakan menikah sekarang, aku akan mulai mengecekmu. Kamu akan merasa diawasi. Kita berdua akan capek.”
Dia menarik napas panjang.
“Maaf.”
“Aku tahu.”
Kali ini kata maaf itu tidak terdengar seperti permintaan supaya aku mengubah keputusan.
Hanya permintaan maaf.
Dan mungkin memang itu tempat terbaik untuk meletakkannya.
Sebelum pergi, Arman berdiri lama di depan pintu.
“Aku harap suatu hari kamu enggak menyesal.”
Aku tersenyum tipis.
“Aku juga berharap kamu enggak lagi menunggu sampai orang menemukan sendiri sesuatu yang seharusnya kamu ceritakan.”
Dia mengangguk.
Lalu pergi.
Pernikahan kami resmi dibatalkan.
Ada kerugian uang.
Ada kerabat yang bertanya.
Ada beberapa teman yang sudah telanjur memesan tiket dan harus mengubah rencana.
Aku tidak memberikan penjelasan panjang.
Kepada keluarga dekat, aku hanya mengatakan ada masalah kepercayaan yang tidak bisa kami selesaikan sebelum menikah.
Beberapa orang menyuruhku mempertimbangkan lagi karena “sayang sudah sejauh ini.”
Aku mengerti mereka.
Dari luar, satu tahun lebih hubungan yang terlihat baik memang terasa sayang dibuang.
Tetapi menikah bukan penghargaan karena berhasil bertahan sampai hari H.
Dua bulan setelahnya, penyelesaian biaya renovasi selesai.
Arman mengirim pesan singkat mengonfirmasi transfer terakhir.
Kami tidak banyak berkomunikasi setelah itu.
Aku sesekali mendengar kabar melalui teman yang sama bahwa dia masih rutin bertemu Dimas.
Maya tidak pernah datang lagi ke apartemenku.
Dia pernah mengirim satu pesan setelah semua selesai.
“Saya minta maaf karena tanpa sadar masuk ke situasi yang membuat Mbak terluka. Semoga setelah ini semuanya lebih tenang.”
Aku membalas,
“Kamu juga tidak diberi informasi yang benar. Jaga Dimas baik-baik.”
Hanya itu.
Bu Ratna membutuhkan waktu lebih lama.
Sekitar tiga bulan setelah pernikahan yang seharusnya terjadi, dia meneleponku.
Aku hampir tidak mengangkat.
Namun akhirnya kujawab.
Dia tidak meminta kami kembali bersama.
Dia hanya berkata, “Ibu minta maaf soal kunci rumah.”
Aku diam.
“Ibu waktu itu terlalu memikirkan Dimas dan Arman. Ibu merasa karena kalian sebentar lagi menikah, semuanya toh akan jadi keluarga.”
Aku menjawab, “Saya mengerti Ibu sayang Dimas.”
“Iya.”
“Tapi kalau suatu hari Arman punya pasangan lagi, jangan buat perempuan itu mengetahui keluarganya lewat CCTV.”
Bu Ratna lama tidak menjawab.
Kemudian dia berkata, “Iya.”
Percakapan kami selesai tanpa pelukan, tanpa tangisan, tanpa rekonsiliasi besar.
Bagiku itu sudah cukup.
Enam bulan kemudian kamar kedua akhirnya benar-benar menjadi ruang kerja.
Aku tidak merenovasi total.
Kabinet fleksibel yang dulu dirancang Arman tetap ada karena secara fungsi memang bagus.
Di salah satu rak sekarang tersimpan sampel material proyek.
Meja kerjaku berada dekat jendela.
Kadang Mama datang menginap, lalu mengeluh kursi kerjaku terlalu keras.
Hidupku tidak tiba-tiba menjadi sempurna.
Aku masih punya KPR.
Masih sering dinas.
Masih sesekali merasa aneh ketika melihat teman-temanku mengunggah foto pernikahan, apalagi karena selama berbulan-bulan aku juga membayangkan akan mempunyai foto seperti itu.
Tetapi rasa kehilangan itu tidak lagi membuatku mempertanyakan keputusan sendiri.
Suatu Kamis sore, Bu Sari datang membersihkan apartemen.
Dia berdiri di depan pintu sambil tertawa karena sidik jarinya tidak lagi terbaca setelah sistem sempat ku-reset total.
Aku membuka aplikasi smart lock.
Semua akses lama sudah kuhapus sejak lama.
Aku mendaftarkan sidik jariku kembali sebagai akses utama.
Lalu sidik jari Bu Sari sesuai jadwal kerjanya.
Hanya dua.
Aku memeriksa layar sekali lagi sebelum menutup aplikasi.
Tidak ada 02.
Tidak ada 04.
Tidak ada akses yang dibuat seseorang atas nama kehidupan yang belum pernah kusetujui.
Aku mengunci pintu dari dalam, menaruh ponsel di meja, lalu kembali bekerja.
Menurutmu, apakah Hana benar membatalkan pernikahan karena kebohongan Arman, meski Arman sebenarnya tetap bertanggung jawab kepada anaknya?
Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.
