Bagian 2
Pagi berikutnya aku hanya tidur kurang dari dua jam.
Sekitar pukul enam, pintu rumah terbuka.
Arman pulang.
Aku sedang duduk di meja makan dengan secangkir teh yang sudah dingin.
Dia berhenti ketika melihat dua koper kecil di dekat tangga.
“Untuk apa itu?”
“Belum tahu.”
“Nadira.”
“Aku bilang belum tahu.”

Dia menarik kursi di depanku.
Wajahnya sudah bersih, tetapi pipi kirinya masih sedikit merah.
“Aku bisa jelaskan.”
“Bagus.”
Untuk pertama kalinya sejak malam tadi, aku menatapnya tanpa menangis.
“Jelaskan.”
Arman terdiam.
Ternyata orang yang berkali-kali mengatakan bisa menjelaskan sering kali justru tidak tahu harus mulai dari mana.
“Nina staf baru di divisi pemasaran.”
Aku menunggu.
“Dia sedang ada masalah keluarga.”
Aku masih menunggu.
“Aku banyak membantu dia beberapa bulan terakhir.”
“Dengan merayakan ulang tahunnya di suite yang kupesan untuk ulang tahun pernikahan kita?”
Arman mengusap wajah.
“Awalnya bukan begitu.”
“Lalu bagaimana awalnya?”
Dia menunduk.
Aku tidak membantunya keluar dari kesulitan itu.
Setelah hampir satu menit, dia berkata, “Kami dekat.”
“Seberapa dekat?”
“Nadira…”
“Seberapa dekat?”
Rahangnya bergerak.
“Aku salah.”
Aku bangkit dari kursi.
“Jadi jawabannya jelas.”
Dia ikut berdiri.
“Sudah sekitar empat bulan.”
Aku berhenti.
Sepuluh tahun pernikahan ternyata bisa dipecah menjadi satu kalimat pendek.
Empat bulan.
“Dia tahu kamu menikah?”
Arman tidak menjawab.
Itu sudah cukup.
“Berarti tadi malam dia bohong juga.”
“Nina tidak tahu itu ulang tahun pernikahan kita.”
Aku tertawa pendek.
“Hebat. Jadi dalam seluruh masalah ini, itu yang paling ingin kamu bela?”
“Nadira, jangan dipelintir.”
“Aku tidak perlu memelintir apa pun. Kalian sudah cukup rapi melakukannya sendiri.”
Dia mencoba mendekat.
Aku mundur.
“Jangan sentuh aku.”
Tangannya berhenti.
Pukul sembilan aku bertemu Pak Hendra di kantornya.
Aku tidak meminta dia menjanjikan bahwa aku akan “menang”. Aku juga tidak bertanya bagaimana membuat Arman menderita.
Pertanyaanku jauh lebih sederhana.
“Apa yang harus saya amankan kalau saya benar-benar ingin berpisah?”
Pak Hendra memintaku membawa dokumen perkawinan, catatan aset yang memang berhak kuakses, dan bukti yang sudah kumiliki.
Ia juga mengingatkanku agar tidak memindahkan uang bersama secara sepihak atau mengambil barang yang kepemilikannya tidak jelas.
“Jangan bertindak saat sedang marah,” katanya. “Pisahkan antara bukti, emosi, dan keputusan. Tiga hal itu sering tercampur.”
Kalimat itu membuatku sedikit lebih tenang.
Siang harinya, aku pulang dan memeriksa rekening bersama yang biasa kami gunakan untuk biaya rumah.
Aku tidak menemukan ratusan juta rupiah hilang.
Tidak ada rahasia besar seperti yang sering muncul dalam cerita orang.
Hanya beberapa pengeluaran yang sebelumnya kuabaikan.
Restoran.
Hadiah.
Dua pembayaran hotel.
Jumlahnya bukan sesuatu yang akan membuat kami bangkrut.
Justru itu yang membuatku semakin kecewa.
Arman tidak menghancurkan keluarga kami karena terdesak utang atau karena masalah yang tak bisa dikendalikan.
Dia melakukannya sambil menjalani hidup biasa, pulang ke rumah, makan bersamaku, lalu berbohong dengan tenang.
Sore itu aku memindahkan gajiku berikutnya agar masuk ke rekening pribadiku sendiri dan mengubah kata sandi akun-akun pribadi yang dulu kami saling tahu.
Dana rumah tetap tidak kusentuh.
Arman melihatku memasukkan dokumen ke map.
“Kamu serius?”
Aku menutup map.
“Aku tadi pagi sudah bilang.”
“Aku pikir kamu cuma marah.”
“Nah, itu masalahnya. Sepuluh tahun ini kamu terlalu yakin kemarahanku selalu lewat sendiri.”
Malamnya ibu Arman menelepon.
Entah apa yang dikatakan Arman kepadanya.
“Nadira,” katanya, “Ibu tidak membela Arman. Tapi kalian sudah sepuluh tahun menikah. Jangan ambil keputusan besar dalam satu malam.”
Aku tidak menjawab cukup lama.
Kemudian aku berkata, “Bu, keputusannya mungkin baru keluar tadi malam. Tapi kebohongannya sudah berjalan empat bulan.”
Di ujung telepon terdengar sunyi.
Aku tetap menghormatinya.
Namun kali itu aku tidak menawarkan diri untuk menenangkan siapa pun.
Setelah telepon ditutup, Arman duduk di ruang tamu.
“Aku akan akhiri hubungan dengan Nina.”
Aku menatapnya.
“Sekarang?”
“Iya.”
“Karena kamu memilihku?”
Dia membuka mulut.
Aku menggeleng.
“Bukan. Karena aku memergokimu.”
Arman terdiam.
Kemudian dia berkata sesuatu yang justru membuat semua keraguanku semakin jelas.
“Aku tidak pernah berniat meninggalkan kamu.”
Aku memandangnya lama.
Itulah masalah sebenarnya.
Dia tidak merasa harus memilih.
Dia mengira bisa mempertahankan rumah ini, pernikahan kami, rutinitas kami, dan pada saat yang sama memiliki seseorang di luar sana.
Menurutnya selama dia tidak pergi, berarti dia belum benar-benar merusak apa pun.
Aku mengambil map dokumen dari meja.
“Besok aku pindah sementara ke apartemen kantor.”
“Nadira…”
“Aku butuh tempat yang tidak membuatku bertanya-tanya setiap kali kamu melihat ponsel.”
Dia berdiri.
“Aku bisa pergi. Kamu tetap di sini.”
Aku menggeleng.
“Aku yang mau pergi.”
Saat aku hendak naik ke kamar, Arman berkata pelan dari belakangku.
“Nina sudah mengundurkan diri.”
Aku berhenti.
“Kenapa?”
“Dia bilang tidak mau terlibat lebih jauh.”
Aku menoleh.
Untuk pertama kalinya aku melihat sesuatu di wajah Arman yang bukan marah atau defensif.
Panik.
Bukan karena kehilangan Nina.
Melainkan karena baru sekarang ia memahami bahwa setelah Nina pergi pun, aku mungkin tetap tidak tinggal.
Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇
Bagian 3
Aku tinggal di apartemen kecil milik perusahaan selama hampir tiga minggu.
Tempatnya tidak istimewa.
Satu kamar tidur, dapur mungil, dan balkon yang menghadap deretan gedung perkantoran.
Malam pertama aku tidur di sana, aku terbangun pukul dua karena secara refleks mengulurkan tangan ke sisi ranjang.
Kosong.
Aku langsung ingat kenapa.
Selama beberapa hari pertama, hampir semua benda membuatku teringat pada Arman.
Dua cangkir di lemari.
Handuk yang digantung bersebelahan.
Suara kunci pintu apartemen sebelah.
Bahkan pesan dari aplikasi pengiriman makanan yang bertanya apakah aku ingin mengulangi pesanan untuk dua orang.
Aku pernah berpikir, setelah melihat suamiku bersama perempuan lain, keputusan akan terasa sederhana.
Ternyata tidak.
Marah tidak otomatis menghapus sepuluh tahun.
Aku masih ingat Arman yang menemaniku semalaman ketika ibuku harus dioperasi beberapa tahun lalu.
Aku masih ingat kami pernah menabung berbulan-bulan hanya untuk membeli sofa pertama.
Aku tahu bagaimana dia suka kopinya.
Dia tahu aku tidak bisa tidur jika pintu lemari sedikit terbuka.
Kenangan baik tidak berubah menjadi palsu hanya karena akhirnya ada pengkhianatan.
Masalahnya, kenangan baik juga tidak bisa dipakai untuk menghapus sesuatu yang memang terjadi.
Arman mengirim pesan hampir setiap hari.
Hari pertama:
“Aku benar-benar minta maaf.”
Hari kedua:
“Aku sudah putus kontak dengan Nina.”
Hari ketiga:
“Kita bisa konseling kalau kamu mau.”
Hari kelima:
“Aku tidak tahu bagaimana menjelaskan semua ini tanpa terdengar seperti sedang mencari alasan.”
Pesan terakhir justru yang pertama kali kubalas.
“Kalau memang tidak ada alasan, jangan cari.”
Setelah itu dia tidak menghubungiku selama dua hari.
Aku merasa lega.
Lalu merasa sedih karena lega.
Pak Hendra tidak pernah mendorongku untuk langsung mengajukan apa pun.
Dalam pertemuan kedua, dia hanya menjelaskan langkah-langkah praktis yang tersedia kalau aku memutuskan berpisah secara hukum.
Aku membawa dokumen pernikahan, catatan keuangan yang memang kami miliki bersama, dan daftar aset.
Sebagian besar keuangan kami ternyata cukup jelas.
Aku mempunyai penghasilan sendiri.
Arman juga.
Rumah yang kami tempati dibeli setelah menikah dan cicilannya kami bayarkan bersama.
Kami tidak memiliki anak.
Tidak ada perusahaan keluarga besar atau warisan yang harus diperebutkan.
Dalam satu sisi, itu memudahkan.
Dalam sisi lain, hal itu membuatku tidak bisa bersembunyi di balik alasan seperti “aku bertahan demi anak” atau “aku tidak punya uang untuk pergi”.
Pada akhirnya aku harus menjawab pertanyaan yang jauh lebih sulit.
Apakah aku masih mau hidup bersamanya?
Bukan apakah aku masih mencintainya.
Aku masih mencintai sebagian dari dirinya.
Aku hanya tidak tahu apakah aku masih bisa mempercayai keseluruhannya.
Seminggu setelah aku pindah, Nina menghubungiku.
Nomorku rupanya ia dapat dari Arman pada malam di hotel ketika Arman mencoba memanggilku setelah aku pergi.
Pesannya hanya satu.
“Kak Nadira, saya tidak meminta dimaafkan. Kalau Kakak mau tahu apa yang sebenarnya terjadi, saya bersedia menjawab. Kalau tidak, saya tidak akan mengganggu lagi.”
Aku membaca pesannya beberapa kali.
Aku tidak langsung membalas.
Aku juga tidak mengirimkannya ke siapa pun.
Malam itu aku tidur dengan ponsel dalam mode senyap.
Keesokan paginya, aku membalas.
“Apakah Arman pernah bilang dia akan menceraikanku?”
Jawabannya datang sekitar sepuluh menit kemudian.
“Tidak.”
Aku menatap layar.
“Kamu tahu dia masih tinggal bersamaku?”
“Iya.”
“Dia pernah bilang pernikahan kami sudah berakhir?”
“Tidak pernah bilang sudah berakhir. Dia bilang kalian sudah lama seperti teman serumah dan hampir tidak punya hubungan sebagai suami istri.”
Aku tertawa saat membaca kalimat itu.
Tertawa yang benar-benar pahit.
Dua minggu sebelum malam hotel, Arman masih meminta aku menemaninya makan malam bersama klien.
Sebulan sebelumnya kami membicarakan renovasi dapur.
Tiga bulan sebelumnya dia mengusulkan liburan akhir tahun.
Ternyata semua itu bisa terjadi sambil dia menceritakan kepada perempuan lain bahwa kami sekadar teman serumah.
Aku mengetik lagi.
“Hubungan kalian mulai kapan?”
Nina menyebut satu tanggal kira-kira empat bulan sebelumnya.
Sesuai pengakuan Arman.
Tidak ada kejutan baru.
Tidak ada hubungan bertahun-tahun.
Tidak ada anak rahasia.
Tidak ada uang besar yang disembunyikan.
Hanya pengkhianatan yang cukup sederhana dan karena itu terasa lebih nyata.
Ia juga mengaku mengetahui Arman menikah sejak awal.
Tentang ulang tahun pernikahan kami, katanya, ia memang tidak tahu.
“Dia bilang suite itu dipesan untuk ulang tahun saya.”
Aku percaya bagian itu.
Bukan karena aku mempercayai Nina, tetapi karena itulah yang kulihat sendiri.
Aku mengetik satu pertanyaan terakhir.
“Kenapa kamu tetap menjalani hubungan dengan orang yang kamu tahu sudah menikah?”
Lama tidak ada jawaban.
Hampir setengah jam kemudian pesan masuk.
“Saya pikir karena dia tidak akan meninggalkan Kakak, berarti saya juga tidak akan menghancurkan keluarga Kakak. Sekarang saya tahu pemikiran itu bodoh.”
Aku tidak membalas lagi.
Aneh, tetapi jawaban itu membuatku mengerti sesuatu.
Arman dan Nina menggunakan pembenaran yang hampir sama.
Selama rumah tanggaku masih berdiri, mereka merasa kerusakannya belum benar-benar terjadi.
Mereka berdua baru melihat retaknya setelah aku memilih keluar dari rumah.
Aku menyimpan tangkapan layar percakapan itu.
Bukan untuk menyebarkannya.
Bukan juga untuk mempermalukan Nina.
Aku hanya ingin jika suatu hari kelemahanku sendiri membuatku mengubah cerita di kepalaku, aku bisa melihat kembali fakta yang sebenarnya.
Pada akhir minggu ketiga, Arman meminta bertemu.
Bukan di rumah.
Bukan di hotel.
Kami bertemu di sebuah kedai kopi dekat kantorku pada sore hari.
Dia datang lebih dulu.
Ketika aku duduk, dia tidak langsung bicara.
Aku memperhatikan wajahnya.
Dalam beberapa minggu dia terlihat lebih kurus.
Dulu mungkin pemandangan itu akan membuatku segera bertanya apakah dia makan teratur.
Kali ini aku hanya meletakkan tas di kursi.
“Aku tidak akan lama.”
Arman mengangguk.
“Aku sudah bicara dengan konselor.”
Aku sedikit terkejut.
“Sendiri?”
“Iya.”
“Kenapa?”
Dia mengusap telapak tangannya.
“Karena kalau aku cuma bilang aku menyesal, kamu pasti tidak percaya.”
“Aku mungkin tetap tidak percaya.”
“Aku tahu.”
Itu pertama kalinya dia menerima jawabanku tanpa berusaha membantah.
Dia menatap kopi yang belum disentuh.
“Aku sudah mencoba memahami kenapa aku melakukan itu.”
Aku tidak mengatakan apa-apa.
“Bukan karena kamu kurang.”
Aku hampir tersenyum getir.
“Jangan pakai kalimat seperti itu.”
Dia segera mengangguk.
“Baik.”
Kemudian ia bicara lebih sederhana.
Katanya, beberapa bulan terakhir dia merasa hidupnya membosankan.
Kantor, rumah, tagihan, rapat, rutinitas.
Nina masuk sebagai pegawai baru dan sering meminta pendapatnya.
Dia menikmati perasaan dibutuhkan oleh orang yang belum mengenal semua kekurangannya.
Mereka mulai makan siang bersama.
Kemudian bertukar pesan malam hari.
Arman tahu seharusnya berhenti.
Namun setiap kali merasa bersalah, dia meyakinkan diri bahwa dia masih pulang ke rumah, masih membayar kewajiban, masih hidup bersamaku.
“Jadi kamu mengukur kesetiaan dari alamat rumah?” tanyaku.
Dia menunduk.
“Aku tahu kedengarannya buruk.”
“Karena memang buruk.”
“Iya.”
Aku terdiam.
Ada masa ketika aku ingin sekali mendengar dia mengaku bersalah seperti itu.
Sekarang ketika akhirnya mendengarnya, rasa sakitku tidak serta-merta hilang.
“Apa yang terjadi di hotel?” tanyaku.
Arman mengembuskan napas.
“Nina bilang tidak pernah merayakan ulang tahun di tempat bagus. Aku mau membuat sesuatu yang istimewa.”
“Lalu kamu mengambil reservasi yang kubuat.”
Dia menutup mata sebentar.
“Aku tahu detail pemesanannya karena kamu kirim ke aku. Waktu aku tahu kamu belum datang, aku…”
Dia berhenti.
Aku menunggu.
“Aku melakukan sesuatu yang sangat keterlaluan.”
“Jangan dibuat lebih halus.”
Dia menatapku.
“Aku memakai sesuatu yang kamu siapkan untuk kita, untuk perempuan lain.”
Untuk pertama kalinya dia mengatakannya dengan benar.
Bukan “situasinya salah”.
Bukan “terjadi begitu saja”.
Bukan “kami cuma dekat”.
Dia melakukan sesuatu.
Dia memilih.
Aku mengeluarkan amplop dari tas.
Wajah Arman langsung pucat.
“Apa itu?”
“Salinan beberapa dokumen yang Pak Hendra minta.”
“Kamu sudah mengajukan?”
“Belum.”
Dia menatapku dengan campuran lega dan takut.
“Aku belum memutuskan sampai kemarin.”
“Dan sekarang?”
Aku memandang jalan di luar jendela.
Orang-orang lewat seperti biasa.
Seorang pengemudi ojek berhenti untuk melihat ponselnya.
Dua pegawai kantor berlari kecil menyeberang sebelum lampu berubah.
Dunia tetap berjalan meski rumah tanggaku sedang berada di ujung.
“Aku akan mengajukan perceraian.”
Arman tidak bergerak.
Beberapa detik kemudian, dia bertanya, “Tidak ada kesempatan sama sekali?”
“Ada.”
Dia menatapku.
“Aku memberimu kesempatan selama empat bulan itu tanpa tahu aku sedang memberikannya.”
“Nadira…”
“Setiap kali kamu pulang, itu kesempatan untuk berhenti.”
Aku menjaga suaraku tetap rendah.
“Setiap kali kamu tidur di sebelahku sambil menyimpan hubungan itu, kamu bisa memilih berhenti.”
Dia menunduk.
“Setiap kali aku bertanya apakah pekerjaanmu terlalu berat, kamu bisa jujur.”
Tangannya mencengkeram cangkir.
“Dan malam itu, saat kamu masuk ke suite yang kupesan, masih ada kesempatan terakhir untuk sadar bahwa ini sudah terlalu jauh.”
Air mata mulai menggenang di matanya.
Aku belum pernah melihat Arman menangis selama pernikahan kami kecuali saat ayahnya meninggal.
Dulu aku mungkin langsung memegang tangannya.
Kali ini aku membiarkannya.
“Aku tidak bilang kamu monster,” kataku. “Aku juga tidak akan bilang sepuluh tahun kita semuanya buruk. Kalau semuanya buruk, keputusan ini justru lebih gampang.”
Dia mengusap matanya cepat-cepat.
“Kalau begitu kenapa tidak coba dulu?”
“Karena aku tidak ingin beberapa tahun ke depan hidup sebagai penjaga.”
Dia diam.
“Aku tidak mau setiap kamu terlambat, aku memeriksa lokasi.”
“Aku tidak mau setiap ponselmu berbunyi, aku bertanya siapa.”
“Aku tidak mau menjadi orang yang memeriksa struk, mencari nama perempuan, atau menghitung berapa menit perjalananmu dari kantor.”
Arman menatapku.
“Aku bisa kasih kamu akses semuanya.”
“Itu bukan pernikahan yang kuinginkan.”
Dia tidak punya jawaban.
Aku mengambil tas.
“Nanti Pak Hendra akan menghubungi soal langkah berikutnya. Aku ingin semuanya diselesaikan tanpa saling mempermalukan.”
“Nadira.”
Aku berhenti.
“Kalau aku berubah?”
Pertanyaan itu membuatku menatapnya lagi.
“Aku berharap kamu berubah.”
Dia kelihatan terkejut.
“Serius. Aku tidak ingin sepuluh tahun hidup bersamamu berakhir dengan berharap hidupmu hancur.”
Aku menarik napas.
“Tapi kalau kamu berubah, itu tidak otomatis berarti aku harus kembali.”
Aku meninggalkannya di kedai kopi.
Di lift kantor, aku melihat bayanganku di dinding mengilap.
Aku teringat lift hotel malam itu.
Saat itu riasanku berantakan dan aku hampir tidak bisa berdiri.
Sekarang mataku juga masih lelah.
Hanya saja tanganku tidak gemetar.
Proses setelah itu tetap tidak menyenangkan.
Ibu Arman datang menemuiku sekali.
Kami duduk di ruang tamu apartemen.
“Nadira, Ibu minta maaf.”
“Bu tidak melakukan apa-apa.”
“Tapi dia anak Ibu.”
Aku menuangkan air untuknya.
“Iya. Dan dia tetap anak Ibu setelah kami bercerai.”
Ibu Arman menatapku lama.
“Dia menyesal.”
“Aku tahu.”
“Dia sekarang ikut konseling.”
“Aku juga tahu.”
“Kalau begitu…”
Aku menggeleng pelan.
“Bu, saya tidak menghukum Arman.”
Ibu Arman terdiam.
“Saya cuma tidak mau kembali.”
Ia menunduk.
“Sepuluh tahun itu lama.”
“Iya.”
“Sayang sekali.”
Kali ini aku mengangguk.
“Memang.”
Aku tidak perlu berpura-pura bahwa pernikahan kami tidak berharga agar keputusan pergi terasa sah.
Justru karena berharga, pengkhianatan itu memiliki akibat.
Ibu Arman tidak memaksaku lagi.
Saat pulang, ia memelukku.
Aku menangis setelah pintu tertutup.
Bukan karena ingin berubah pikiran.
Aku hanya sedang kehilangan sebuah keluarga yang selama sepuluh tahun juga menjadi keluargaku.
Urusan rumah kami diselesaikan dengan pembicaraan yang lebih lama.
Kami sama-sama berkontribusi pada pembelian dan cicilannya, sehingga tidak ada satu pihak yang bisa berpura-pura seluruh rumah miliknya.
Pak Hendra membantuku memahami opsi yang ada tanpa menjanjikan penyelesaian instan.
Akhirnya kami sepakat menjual rumah setelah beberapa urusan administratif selesai dan membagi hasilnya sesuai kesepakatan yang dituangkan secara resmi.
Sementara itu Arman tetap tinggal di sana dan menanggung biaya berjalan.
Aku mengambil barang-barang pribadiku secara bertahap.
Hari pertama aku kembali untuk mengambil pakaian, Arman tidak berada di rumah.
Mungkin sengaja.
Di kamar tidur, sisi tempat tidurku masih sama.
Botol parfum di meja.
Buku yang belum selesai kubaca.
Sandal di bawah kursi.
Aku berdiri cukup lama.
Kemudian mulai memasukkan barang ke kardus.
Di laci paling bawah, aku menemukan album foto yang hendak kubawa ke hotel malam ulang tahun pernikahan kami.
Aku duduk di lantai dan membukanya.
Foto pertama, pernikahan.
Kami terlihat sangat muda.
Foto berikutnya, rumah kontrakan pertama.
Ada foto Arman mengecat dinding dengan kaus lama sementara aku memegang koran agar lantai tidak kotor.
Aku tersenyum tanpa sadar.
Lalu menangis.
Aku tetap membawa album itu.
Aku tidak membakarnya.
Tidak membuangnya ke tempat sampah.
Tidak semua masa lalu harus dihancurkan hanya agar seseorang bisa melanjutkan hidup.
Beberapa bulan kemudian, proses perceraian kami masih belum sepenuhnya selesai.
Ada dokumen.
Ada jadwal.
Ada pembicaraan tentang rumah.
Ada hari ketika aku ingin semua administrasi itu cepat berakhir.
Namun keputusan utamanya sudah tidak berubah.
Hubunganku dengan Nina berhenti setelah percakapan singkat kami.
Ia tidak pernah menghubungiku lagi.
Aku juga tidak mencarinya.
Aku mendengar dari Arman bahwa pengunduran dirinya tetap berlaku.
Aku tidak tahu ke mana dia bekerja setelah itu.
Dan aku memilih untuk tidak tahu.
Bukan karena ia tidak bertanggung jawab.
Ia tahu Arman menikah dan tetap terlibat.
Tetapi aku tidak menikah dengannya.
Orang yang berjanji kepadaku di depan keluarga sepuluh tahun lalu adalah Arman.
Itulah hubungan yang harus kuselesaikan.
Sekitar lima bulan setelah malam di hotel, aku bertemu Arman lagi untuk menandatangani beberapa dokumen terkait rumah.
Kami bertemu di kantor notaris yang menangani bagian administrasi penjualan.
Setelah urusan selesai, kami berdiri di area parkir.
Arman terlihat lebih tenang daripada terakhir kali kami bertemu.
“Bagaimana kerjaanmu?” tanyanya.
“Baik.”
Dia mengangguk.
“Kamu masih tinggal di apartemen itu?”
“Untuk sekarang.”
Hening sebentar.
Lalu dia berkata, “Aku masih konseling.”
Aku menatapnya.
“Bagus.”
“Aku baru sadar banyak hal.”
Aku tidak bertanya.
Dia tersenyum tipis.
“Dulu aku mungkin akan berharap kamu bertanya.”
“Mungkin.”
“Nadira.”
“Ya?”
“Aku tidak mau minta kamu kembali.”
Aku sedikit terkejut.
Dia memasukkan tangan ke saku.
“Aku cuma mau bilang… dulu waktu kamu bilang kamu berharap aku berubah, aku pikir itu berarti masih ada kemungkinan.”
Aku tidak menyela.
“Sekarang aku tahu kamu benar. Kalau aku berubah cuma supaya kamu kembali, berarti aku belum benar-benar berubah.”
Aku mengangguk.
Untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, percakapan kami tidak terasa seperti tarik-menarik.
“Aku minta maaf soal malam itu.”
“Aku tahu.”
“Bukan cuma karena ketahuan.”
Aku menatapnya.
Dia melanjutkan, “Karena aku membuat sesuatu yang kamu siapkan dengan hati-hati menjadi tempat kamu mengetahui hal terburuk tentangku.”
Dadaku tetap terasa sakit mendengarnya.
Namun rasa sakitnya berbeda.
Tidak lagi seperti pisau yang baru ditancapkan.
Lebih seperti bekas luka yang masih sensitif saat disentuh.
“Kamu memang merusak malam itu,” kataku.
Arman mengangguk.
“Iya.”
“Tapi kamu tidak merusak seluruh hidupku.”
Dia menatapku cukup lama.
Kemudian tersenyum kecil.
“Aku senang mendengarnya.”
Kami berpisah di tempat parkir.
Tidak berpelukan.
Tidak ada janji berteman.
Tidak ada musik dramatis atau kata-kata terakhir yang sempurna.
Dia berjalan ke mobilnya.
Aku berjalan ke mobilku.
Itu saja.
Enam bulan setelah malam ulang tahun pernikahan kami, aku pindah dari apartemen kantor ke sebuah unit sewaan kecil yang kupilih sendiri.
Tidak sebesar rumah kami.
Dapurnya bahkan lebih sempit.
Tapi aku menyukai cahaya pagi yang masuk dari jendela ruang makan.
Pada hari pertama pindahan, aku membuka sebuah kotak dan menemukan kancing manset yang seharusnya kuberikan kepada Arman malam itu.
Aku masih menyimpannya.
Aku duduk di lantai cukup lama sambil memegang kotaknya.
Aku bisa menjualnya.
Mengirimkannya kepada Arman.
Membuangnya.
Pada akhirnya aku memasukkannya ke dalam kotak barang lama bersama album foto.
Bukan untuk dipakai lagi.
Hanya sebagai bagian dari sesuatu yang pernah ada.
Malam itu aku membuat makan malam sederhana untuk satu orang.
Setelah selesai, aku mengecek rekening pribadiku, membayar tagihan sewa, lalu mematikan ponsel kantor.
Sebelum tidur, aku berjalan ke pintu depan.
Dulu di rumah lama, Arman sering menjadi orang terakhir yang memeriksa kunci.
Aku terbiasa bertanya dari kamar, “Sudah dikunci?”
Dan dia akan menjawab, “Sudah.”
Di tempat baru itu tidak ada suara yang menjawab.
Aku memutar kunci sendiri sampai terdengar bunyi klik.
Lalu aku mematikan lampu ruang tamu.
Menurutmu, apakah Nadira tepat memilih bercerai meski Arman mengakui kesalahannya dan mulai berubah?
Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.
