Di Hari Pernikahanku, Komentar Aneh Memperingatkanku agar Tidak Minum. Adik Tiriku Justru Memintaku Menghabiskan Gelas Itu

Avatar penulis
Cerita 01
19 menit baca 1,098 tayangan
Di Hari Pernikahanku, Komentar Aneh Memperingatkanku agar Tidak Minum. Adik Tiriku Justru Memintaku Menghabiskan Gelas Itu
Indeks

Bagian 2

Aku tidak masuk duluan.

Aku berdiri di ambang pintu bersama fotografer dan dua bridesmaid lain. Live di ponselku masih berjalan dari sela buket yang kupegang.

Perempuan yang tadi masuk, Rani, berdiri pucat di samping sofa.

Di tangannya ada botol kecil tanpa kemasan luar.

“Aku cari obat lambung,” katanya. “Tapi ini bukan obat lambung Nisa yang biasa.”

Nisa tiba di belakang kami beberapa detik kemudian.

Begitu melihat benda di tangan Rani, wajahnya berubah.

“Kenapa kamu bongkar tas aku?”

Rani langsung defensif.

Di Hari Pernikahanku, Komentar Aneh Memperingatkanku agar Tidak Minum. Adik Tiriku Justru Memintaku Menghabiskan Gelas Itu

“Alya yang bilang kamu sakit lambung.”

“Aku cuma minta dicari obat,” kataku. “Tak ada yang meminta seluruh tasmu dibongkar.”

Nisa merebut tasnya, tetapi aku tidak membiarkannya menyentuh botol itu.

“Taruh di meja dulu.”

“Kak, kamu keterlaluan.”

“Kalau itu obatmu, sebentar lagi bisa dijelaskan.”

Arga datang.

“Ada apa lagi?”

Nisa menatapnya cepat.

Tatapan yang sama seperti di ruang rias sebelumnya.

Arga menarik napas.

“Alya, jangan bikin keributan di depan orang.”

“Aku tidak sedang bikin apa-apa.”

Aku memandang botol di meja.

“Aku hanya ingin tahu kenapa benda yang bukan obat lambung ada di tas Nisa setelah dia memaksaku minum dari gelas tadi.”

Nisa tertawa pendek.

“Kak, kamu serius menuduh aku?”

“Aku belum menuduh siapa pun.”

Aku mengangkat ponsel.

“Aku sudah minta polisi datang.”

Kali ini tidak ada seorang pun yang bisa menyembunyikan reaksinya.

Wajah Nisa pucat.

Arga justru mendekat kepadaku.

“Polisi?”

“Kenapa? Takut?”

“Aku takut kamu mempermalukan keluarga hanya karena sedang panik.”

Sebelum hari itu, mungkin kalimat semacam itu cukup untuk membuatku mundur.

Aku selalu paling tidak nyaman menjadi pusat keributan.

Papa sering mengatakan sejak kecil bahwa aku sebagai kakak harus lebih mengerti, lebih sabar, dan jangan membuat masalah keluarga menjadi tontonan orang.

Untuk pertama kalinya aku tidak menuruti kebiasaan itu.

“Aku tidak akan menyentuh tasnya lagi. Tidak akan menyentuh botol itu. Kita tunggu orang yang berwenang.”

Manajer hotel datang setelah menerima permintaanku.

Aku memintanya memastikan benda di meja tidak dipindahkan dan memisahkan kami dari tamu lain.

Arga menggeleng tidak percaya.

“Kamu benar-benar mau menghancurkan pernikahan kita dalam satu malam?”

Aku menatap cincin di tanganku.

“Yang menghancurkannya belum tentu aku.”

Sekitar dua puluh menit kemudian, dua petugas datang.

Aku menjelaskan apa yang kualami tanpa menceritakan komentar aneh di depan mata. Aku hanya mengatakan seseorang memperingatkanku secara anonim soal minuman, lalu aku menemukan bukti bahwa calon suamiku memiliki hubungan dengan adikku dan melihat perilaku mereka yang mencurigakan.

Aku menunjukkan email Dimas.

Foto Arga dan Nisa terlihat jelas.

Salah satu petugas menatap Arga.

Ia tidak bisa lagi memakai ekspresi suami yang hanya bingung menghadapi pengantin histeris.

“Itu salah paham,” katanya.

Nisa langsung menyela.

“Kami cuma…”

“Jangan.”

Arga memotongnya.

Satu kata itu cukup.

Aku memandang keduanya.

Enam tahun bersama Arga, dan akhirnya aku mendengar nada yang sebelumnya hanya ia gunakan kepada karyawan yang melakukan kesalahan.

Bukan kepada Nisa.

Kepada seseorang yang hampir membocorkan sesuatu.

Ponselku bergetar.

Pesan dari Dimas.

“Saya sudah di lobby. Bu Yati bersama saya. Kami akan langsung ke kantor polisi kalau diperlukan.”

Aku mengangkat kepala.

Pada saat yang sama salah satu petugas bertanya kepada Nisa,

“Sore tadi Anda sempat naik ke lantai rooftop?”

Nisa mematung.

Petugas menjelaskan bahwa manajemen hotel telah mengecek catatan akses setelah mendengar keteranganku. Kartu tamu yang terdaftar pada kamar Nisa digunakan untuk memasuki area menuju rooftop tidak lama setelah aku mengeluh pusing.

Nisa menoleh kepada Arga.

Aku tidak.

Aku hanya menatap tangannya.

Tangannya gemetar.

Kemudian Dimas masuk bersama seorang perempuan berusia sekitar enam puluh tahun.

Butuh beberapa detik sebelum aku mengenali Bu Yati.

Rambutnya sudah memutih, tubuhnya jauh lebih kurus daripada dalam ingatanku.

Ia memandangku lama.

“Alya.”

Suaranya bergetar.

“Maaf saya baru berani bicara sekarang.”

Aku hampir tidak bisa menjawab.

Bu Yati lalu memandang Nisa.

Setelah itu pandangannya berpindah kepada Arga.

Wajahnya berubah.

“Dua minggu lalu,” katanya kepada petugas, “mereka berdua datang mencari saya.”

Aku menatapnya.

“Mereka?”

Bu Yati menunjuk Arga dan Nisa.

“Mereka ingin tahu apa yang saya katakan kepada orang yang sedang menyelidiki kematian ibu Alya.”

Ruangan mendadak sunyi.

Kemudian ia mengucapkan kalimat yang membuat semua yang terjadi hari itu berubah dari pengkhianatan menjadi sesuatu yang jauh lebih besar.

“Mereka tahu Alya sedang menyelidiki ibunya.”

Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇

Bagian 3

Aku tidak langsung memahaminya.

“Bagaimana mereka tahu?”

Pertanyaan itu keluar begitu saja.

Arga memalingkan wajah.

Nisa berdiri seperti kehilangan tenaga.

Bu Yati menggeleng.

“Saya tidak tahu dari mana mereka tahu. Mereka cuma datang dan bertanya apakah Pak Dimas sudah menemui saya. Mereka bilang lebih baik masalah lama tidak dibuka lagi karena bisa merusak keluarga.”

Dimas mengeluarkan ponselnya.

“Waktu itu Bu Yati langsung menghubungi saya.”

Ia tidak bicara panjang. Kepada petugas ia hanya menjelaskan bahwa selama tiga bulan terakhir ia menelusuri orang-orang yang berada di rumah pada malam Mama meninggal dan mencari dokumen lama yang masih mungkin ditemukan.

Tidak ada penjelasan dramatis.

Tidak ada orang yang tiba-tiba tahu semua rahasia.

Yang ada hanya potongan-potongan kecil yang sekarang mulai membentuk pola.

Polisi meminta kami pergi ke kantor secara terpisah.

Aku tidak melanjutkan resepsi.

Untuk pertama kalinya malam itu, aku memandang ballroom dari balik pintu dan menyadari bahwa ratusan orang masih berada di dalam sana. Sebagian belum tahu apa-apa. Sebagian pasti sudah mendapat kabar dari live-ku.

Aku mematikan siaran.

Tidak ada gunanya menjadikan pemeriksaan polisi sebagai tontonan.

Papa datang beberapa menit kemudian.

Wajahnya merah karena marah dan bingung.

“Alya, sebenarnya kamu sedang melakukan apa?”

Aku menunjukkan foto Arga dan Nisa.

Papa berhenti berbicara.

Aku lalu menunjuk Nisa yang duduk di ujung ruangan, ditemani seorang petugas.

“Papa bisa tanya dia sendiri.”

Papa melihat foto itu berkali-kali.

“Ini… mungkin salah.”

“Papa.”

Aku menyela.

“Jangan mulai dengan itu.”

Ia menatapku.

Mungkin baru kali itu dalam hidupku aku memotong ucapannya tanpa rasa bersalah.

“Dua belas tahun lalu aku percaya ketika Papa bilang Mama lupa minum obat.”

Papa pucat.

“Apa hubungannya dengan ini?”

“Bu Yati akan memberi keterangan tentang malam Mama meninggal.”

Nama Bu Yati membuat wajahnya berubah lebih jelas daripada foto Arga dan Nisa.

Aku melihatnya.

Seketika aku tahu ada sesuatu yang selama ini tidak pernah dikatakannya.

“Papa tahu sesuatu?”

“Bukan sekarang.”

“Justru sekarang.”

“Alya, banyak tamu…”

Aku menatapnya.

“Tamu bisa pulang.”

Papa terdiam.

Untuk pertama kalinya masalah keluarga tidak kubiarkan ditutup hanya karena takut dibicarakan orang.

Aku mengganti pakaian pengantin sebelum pergi ke kantor polisi. Gaun itu terlalu berat dan aku tidak ingin memakai sesuatu yang seharusnya menyimpan kenangan bahagia ke ruangan tempat aku harus menjelaskan percobaan pembunuhan.

Advokatku, Bu Lestari, datang setelah menerima email yang kukirim.

Ia tidak menjanjikan apa pun.

Ia hanya berkata, “Jawab yang Anda tahu. Jangan menebak. Kalau ada hal yang belum pasti, bilang belum tahu.”

Nasihat sederhana itu justru menenangkan.

Selama bertahun-tahun aku terlalu sering mengisi kekosongan dengan alasan untuk orang yang kusayangi.

Malam itu aku berhenti melakukannya.

Aku menjelaskan gelas champagne, reaksiku ketika Nisa menolak minum, kepura-puraanku merasa pusing, tangan Arga yang hampir mengambil ponsel, email Dimas, foto di parkiran, serta botol yang ditemukan Rani.

Aku tidak menceritakan tulisan yang muncul di depan mataku.

Aku bahkan tidak tahu bagaimana menjelaskannya kepada diriku sendiri.

Namun semua tindakan setelah peringatan itu menghasilkan bukti yang bisa dilihat orang lain.

Itulah yang penting.

Pemeriksaan berlangsung sampai dini hari.

Botol dari tas Nisa dibawa untuk diperiksa.

Pihak hotel menyerahkan catatan akses elektronik ke area rooftop. Bukan rekaman sempurna yang menjelaskan semuanya. Hanya data sederhana bahwa kartu yang terdaftar pada kamar Nisa digunakan untuk membuka pintu akses di waktu yang sesuai dengan keteranganku.

Ketika petugas bertanya kenapa ia naik ke sana, Nisa awalnya mengatakan ingin mencari udara.

Lalu jawabannya berubah.

Ia bilang ingin menelepon tanpa suara bising.

Petugas tidak berdebat.

Mereka hanya mencatat dua jawaban berbeda itu.

Arga juga menyangkal hubungan dengannya.

Sampai foto Dimas diletakkan di meja.

Setelah itu ia mengatakan ciuman itu “kesalahan sekali”.

Nisa mengatakan hubungan mereka “baru terjadi”.

Tidak satu pun sesuai dengan apa yang kemudian diketahui dari pemeriksaan perangkat mereka melalui proses penyidikan.

Aku baru mengetahui sebagian isinya beberapa hari kemudian melalui advokatku.

Tidak ada satu pesan ajaib yang berisi kalimat, “Besok kita bunuh Alya.”

Kenyataan lebih berantakan dari itu.

Percakapan mereka membentang hampir dua tahun.

Ada pesan tentang kamar hotel.

Ada percakapan tentang bagaimana Arga bosan harus terus menunggu sampai uang usahanya stabil.

Ada pembicaraan mengenai polis asuransi jiwaku yang beberapa bulan sebelumnya kuubah penerima manfaatnya menjadi Arga setelah kami sepakat menikah.

Waktu itu ia berkata perubahan itu masuk akal.

“Kita segera menjadi suami istri. Kalau sesuatu terjadi kepadamu, aku yang harus mengurus semuanya.”

Aku tidak pernah mencurigainya.

Nominal polisnya Rp2 miliar.

Bukan jumlah yang membuat seseorang menjadi kaya seumur hidup, tetapi cukup besar untuk melunasi utang usaha Arga yang ternyata jauh lebih banyak daripada yang pernah ia katakan kepadaku.

Dimas menemukan bahwa perusahaan Arga sedang memiliki masalah arus kas serius.

Beberapa cicilan menunggak.

Dua pemasok besar mulai menekan pembayaran.

Aku selama ini hanya tahu bisnisnya sedang “agak sepi”.

Ternyata ia telah menyembunyikan utang berbulan-bulan.

Dalam chat dengan Nisa, ada kalimat yang terus teringat olehku.

“Kalau nanti semuanya selesai, utangku beres. Kita bisa mulai dari tempat lain.”

Nisa membalas,

“Yang penting jangan sampai Kak Alya sempat berubah pikiran.”

Aku membaca kalimat itu tiga kali.

Bukan karena tidak mengerti.

Karena aku mengerti.

Selama ini aku selalu merasa Nisa iri kepadaku hanya pada hal-hal kecil.

Baju.

Rumah.

Perhatian Papa.

Pekerjaan.

Aku tidak pernah mengira ia sampai percaya bahwa hidupku adalah sesuatu yang boleh diambil jika menghalangi kehidupan yang ia inginkan.

Namun yang paling membuatku sulit tidur bukan hubungan mereka.

Bukan uang.

Melainkan satu percakapan dua minggu sebelum pernikahan.

Arga menulis,

“Dia sudah mulai cari tahu soal ibunya.”

Nisa menjawab,

“Mama panik.”

Kemudian:

“Kalau Bu Yati bicara, masalahnya bisa panjang.”

Aku langsung menghubungi Dimas.

“Bagaimana Arga tahu aku menyelidiki Mama?”

Ia tidak menjawab dari dugaan.

Dua hari kemudian barulah ia memberiku informasi yang bisa diverifikasi.

Beberapa bulan sebelumnya aku pernah membuka email penyelidikan melalui laptop lama di rumah Arga. Aku lupa mengeluarkan akun setelah selesai.

Login itu tetap aktif.

Arga tidak perlu meretas apa pun.

Ia hanya membuka laptop yang memang biasa berada di apartemennya.

Aku duduk lama setelah mendengar penjelasan itu.

Kadang-kadang pengkhianatan tidak membutuhkan teknologi canggih.

Cukup seseorang yang sudah kaupercaya memegang kunci rumah, mengetahui kata sandi lama, dan tidak memiliki batas untuk membuka hidupmu.

Aku segera mengganti seluruh password.

Akses Arga ke penyimpanan dokumen usahaku kucabut.

PIN mobile banking kuganti.

Rekening yang dulu kami rencanakan untuk dipakai bersama setelah menikah tidak jadi kuaktifkan untuknya.

Bu Lestari juga meminta semua dokumen pribadi yang masih berada di apartemen Arga diambil dengan pendampingan, bukan sendirian.

Aku menuruti sarannya.

Dulu mungkin aku akan berpikir tindakan seperti itu terlalu berlebihan.

Sekarang aku tahu kehati-hatian tidak selalu berarti paranoia.

Kadang itu hanya berarti kita berhenti memberikan akses kepada orang yang telah menyalahgunakannya.

Tiga hari setelah pernikahan, hasil awal pemeriksaan botol yang ditemukan di tas Nisa keluar.

Isinya bukan obat lambung.

Itu obat dengan efek sedatif yang seharusnya digunakan di bawah pengawasan medis.

Aku tidak meminta detail lebih jauh.

Aku tidak perlu tahu berapa banyak yang mereka masukkan atau bagaimana tepatnya mereka merencanakan semuanya.

Cukup bagiku mengetahui bahwa benda itu tidak seharusnya berada di tas Nisa, bahwa ia menolak meminum gelas yang sebelumnya ia dorong kepadaku, dan bahwa percakapan serta catatan akses hotel mengarah ke rencana yang sama.

Polisi juga menyita gelas dan beberapa barang terkait dari lokasi.

Aku tidak mengikuti setiap tahap pemeriksaan.

Sebagian hidupku masih harus berjalan.

Ada satu hal yang selama ini paling sulit kuhindari: Papa.

Ia datang ke rumahku seminggu kemudian.

Aku tidak memberinya kunci seperti dulu.

Ia harus menekan bel.

Ketika kubuka pintu, wajahnya terlihat jauh lebih tua.

“Aku mau bicara.”

Aku membiarkannya masuk.

Ia duduk di ruang tamu tanpa langsung mengatakan apa pun.

Aku menunggu.

Dulu aku selalu merasa harus membantu Papa memulai percakapan sulit.

Hari itu tidak.

Akhirnya ia berkata,

“Aku tahu hubungan Nisa dan Arga sebelum pernikahanmu.”

Aku tidak langsung memahami.

“Kapan?”

“Sekitar tiga minggu sebelumnya.”

Aku merasa telapak tanganku dingin.

“Papa tahu?”

“Aku melihat mereka keluar dari apartemen yang sama.”

“Terus?”

“Aku tanya Nisa.”

“Terus?”

“Dia bilang cuma mengantar dokumen untuk Arga.”

Aku tertawa pendek.

“Dan Papa percaya?”

Papa menunduk.

“Aku ingin percaya.”

Itu jawaban paling jujur yang pernah kudengar darinya.

Sayangnya kejujuran itu datang ketika semuanya sudah rusak.

“Kenapa Papa tidak bilang kepadaku?”

“Karena kalau aku salah, pernikahanmu bisa hancur.”

Aku memandangnya lama.

“Kalau Papa benar?”

Ia tidak menjawab.

Aku mengangguk perlahan.

“Berarti Papa memilih risiko aku menikahi laki-laki yang berselingkuh dengan adikku daripada risiko acara pernikahan batal.”

“Alya…”

“Itu yang terjadi.”

Papa menutup wajah.

“Aku pikir setelah kalian menikah semuanya mungkin berhenti.”

“Papa benar-benar percaya menikah akan membuat Arga berhenti tidur dengan Nisa?”

“Aku tidak tahu sejauh apa hubungan mereka.”

“Karena Papa tidak mau tahu.”

Kalimat itu membuatnya terdiam.

Aku tidak meninggikan suara.

Aku juga tidak menangis.

Anehnya, justru itu membuat percakapan terasa lebih berat.

Kemudian aku bertanya tentang Mama.

Papa langsung membeku.

“Dua belas tahun lalu,” kataku, “apa yang sebenarnya terjadi?”

“Aku tidak tahu.”

“Jangan jawab terlalu cepat.”

Papa memandang lantai.

Butuh hampir semenit sampai ia bicara.

“Malam sebelum ibumu meninggal, mereka bertengkar.”

“Dengan Mira?”

Ia mengangguk.

“Karena apa?”

“Karena ibumu mengetahui hubungan kami.”

Aku sudah menduga ada sesuatu semacam itu.

Tetap saja mendengarnya langsung berbeda.

Papa dan Mira ternyata sudah memiliki hubungan sebelum Mama meninggal.

Nisa bahkan sudah lahir ketika Mama masih hidup, meski waktu kecil kepadaku selalu diceritakan bahwa Nisa baru menjadi bagian keluarga setelah Mama tiada.

Aku menahan napas.

“Jadi Mama tahu?”

“Tahu.”

“Dan malam itu Mira ada di rumah.”

Papa mengangguk lagi.

“Ibumu menyuruhnya pergi. Mereka bertengkar. Aku yang memisahkan.”

“Lalu?”

“Aku keluar dari kamar.”

“Kenapa?”

“Karena aku marah.”

“Pagi-pagi Mama meninggal.”

Papa menutup mata.

“Aku menemukannya.”

“Dan Papa bilang dia lupa obat.”

“Obatnya tidak ada di tempat biasa.”

“Kamu mencarinya?”

“Aku…”

Suara Papa mengecil.

“Mira bilang ibumu mungkin lupa minum.”

Aku berdiri.

Sulit bagiku tetap duduk.

“Papa hanya menerima itu?”

“Alya, saat itu aku panik.”

“Dua belas tahun?”

Ia mengangkat wajah.

“Apa?”

“Paniknya sampai dua belas tahun?”

Papa tidak menjawab.

Aku berjalan ke jendela.

Dulu aku selalu membayangkan kalau akhirnya mengetahui kebenaran tentang Mama, aku akan berteriak atau memukul meja.

Ternyata tidak.

Yang kurasakan justru sesuatu yang lebih sunyi.

Selama dua belas tahun, banyak orang dewasa di sekitarku memilih cerita termudah.

Mama lupa obat.

Kematian alami.

Jangan dibahas.

Jangan merusak keluarga.

Kalimat berbeda dengan tujuan yang sama.

Menutup pintu.

Bu Yati kemudian memberikan keterangannya kepada penyidik.

Ia tidak mengatakan melihat Mira membunuh Mama.

Ia tidak memiliki pengetahuan sejauh itu.

Yang ia lihat adalah sesuatu yang lebih spesifik.

Malam itu, setelah pertengkaran, Bu Yati melihat Mira masuk ke kamar Mama ketika Mama berada di kamar mandi. Beberapa menit kemudian ia melihat Mira keluar sambil membawa sesuatu kecil di tangan.

Paginya, setelah Mama meninggal, Bu Yati menemukan botol obat Mama di tempat sampah luar rumah.

Karena takut, ia menyimpannya.

Benda itulah yang dipotret Dimas dalam email.

“Kenapa Ibu tidak bicara waktu itu?” tanyaku ketika kami bertemu lagi.

Bu Yati menunduk.

“Saya takut, Mbak.”

“Takut siapa?”

“Bapak Anda marah besar ketika saya bilang saya melihat Bu Mira masuk kamar.”

Aku menoleh kepada Papa yang ikut dimintai keterangan terpisah.

Ia tidak berada bersama kami saat percakapan itu.

“Setelah itu?”

“Saya disuruh jangan membuat fitnah. Beberapa minggu kemudian saya berhenti kerja.”

Tidak ada pengakuan tiba-tiba dari Mira.

Ketika polisi meminta keterangannya, ia menyangkal mengutak-atik obat Mama.

Ia mengatakan masuk kamar hanya untuk mengambil tas.

Tentang botol yang ditemukan Bu Yati, ia mengatakan tidak tahu.

Tentang pertengkaran malam itu, ia mengakui.

Tentang hubungannya dengan Papa pada masa itu, akhirnya juga tidak bisa ia bantah.

Bukti setelah dua belas tahun jelas tidak sesederhana kasus yang terjadi hari ini.

Bu Lestari sudah memperingatkanku sejak awal.

“Jangan berharap semua jawaban berubah menjadi putusan cepat. Waktu sudah terlalu lama.”

Aku mengerti.

Aku tidak membutuhkan seorang pengacara menjanjikan keajaiban.

Yang kubutuhkan hanya kesempatan agar keterangan Bu Yati benar-benar dicatat dan hal yang selama ini dikubur bisa diperiksa kembali.

Kasus Mama berjalan terpisah dari kasus percobaan terhadapku.

Sedangkan urusan Arga dan Nisa berkembang lebih cepat.

Dari pemeriksaan, diketahui bahwa hubungan mereka memang sudah berlangsung hampir dua tahun.

Nisa akhirnya mengakui itu.

Bukan karena tiba-tiba merasa bersalah.

Bukti sudah terlalu banyak untuk terus menyangkal.

Tentang rencana di hotel, ia pada awalnya melempar sebagian besar tanggung jawab kepada Arga.

Arga melakukan hal yang sama.

Mereka yang sebelumnya merencanakan hidup bersama mendadak sibuk menjelaskan bahwa ide terburuk berasal dari orang lain.

Aku hanya mendengar ringkasannya.

Aku tidak meminta membaca setiap pesan.

Ada hal-hal yang tidak perlu kumasukkan lagi ke kepalaku.

Salah satu hal yang kemudian terungkap adalah Arga memang berada dalam tekanan keuangan berat.

Nisa tahu.

Mereka juga tahu polis asuransiku.

Nisa percaya setelah aku tidak ada, Arga akan mendapatkan uang pertanggungan dan mereka bisa pergi memulai hidup baru.

Mereka juga mengira kematianku akan dianggap kecelakaan karena aku berada di pesta pernikahan, dikelilingi minuman dan ratusan saksi yang akan mengingatku sempat memegang champagne.

Aku tidak ingin tahu detail teknis rencana mereka.

Yang penting, penyidik memiliki beberapa unsur yang saling mendukung: obat, perubahan jawaban, hubungan mereka, motif finansial, catatan akses hotel, percakapan, dan perilaku mereka pada hari itu.

Arga beberapa kali mencoba menghubungiku melalui keluarga.

Aku memblokir nomor pribadinya.

Kemudian ia memakai nomor lain.

Pesannya tidak panjang.

“Aku tahu kamu tidak akan percaya sekarang, tapi aku tidak pernah berniat semuanya sampai sejauh itu.”

Aku membaca sekali.

Lalu kukirim tangkapan layar kepada Bu Lestari.

Aku tidak membalas.

Dua hari kemudian pesan lain masuk.

“Aku tetap sayang kamu.”

Yang itu bahkan tidak kubaca dua kali.

Aku teringat pertanyaan di panggung.

“Kamu sayang aku?”

“Tentu.”

Aku akhirnya memahami sesuatu yang sederhana.

Jawaban yang cepat tidak selalu berarti jawaban yang benar.

Aku mengajukan gugatan untuk mengakhiri pernikahan kami.

Prosesnya tentu tidak selesai dalam semalam.

Ada tahapan yang harus dijalani, apalagi bersamaan dengan perkara pidana yang masih berjalan.

Aku tidak membutuhkan semuanya selesai minggu itu.

Yang penting aku sudah mengambil keputusan.

Arga tidak lagi memiliki akses ke rumahku.

Tidak lagi menerima laporan rekeningku.

Tidak lagi menjadi orang yang bisa mengambil keputusan atas nama hidupku hanya karena pernah memakai cincin yang sama denganku beberapa jam.

Papa mencoba meminta aku mempertimbangkan Nisa.

“Bagaimanapun dia adikmu.”

Aku sedang menandatangani dokumen di meja makan ketika ia mengatakan itu.

Tanganku berhenti.

“Kemarin Arga juga ‘bagaimanapun suamiku’.”

Papa terdiam.

Aku melanjutkan membaca dokumen.

“Hubungan keluarga bukan surat izin.”

“Aku cuma tidak mau kamu menyesal.”

“Aku menyesal karena terlalu lama mengira diam selalu lebih baik.”

Papa menarik kursi, tetapi aku tidak mengangkat kepala.

Beberapa saat kemudian ia berkata,

“Kalau kamu tidak mau bertemu Nisa sekarang, Papa mengerti.”

Aku menatapnya.

“Bukan sekarang saja.”

“Alya…”

“Dia merencanakan kematianku.”

Kalimat itu cukup.

Papa akhirnya berhenti meminta.

Hubunganku dengan Papa juga tidak langsung pulih.

Selama bertahun-tahun ia selalu meminta aku mengalah kepada Nisa karena aku lebih tua.

Kalau Nisa menginginkan sesuatu, aku diminta memahami.

Kalau ia membuat masalah, aku diminta memaklumi karena dia lebih emosional.

Kalau Papa harus memilih siapa yang kecewa, hampir selalu aku.

Bukan karena ia tidak menyayangiku.

Mungkin justru karena ia yakin aku akan tetap ada.

Aku baru menyadari betapa berbahayanya menjadi orang yang dianggap “pasti mengerti”.

Dua bulan kemudian aku memutuskan mengambil jarak.

Papa tidak lagi datang tanpa kabar.

Aku juga tidak lagi menjadi orang pertama yang ia hubungi setiap ada masalah keluarga.

Kami masih berbicara.

Tapi tidak seperti dulu.

Mira tidak pernah menghubungiku secara langsung.

Melalui Papa, ia beberapa kali mengatakan ingin menjelaskan perkara Mama.

Aku menolak bertemu tanpa pendamping.

Jika keterangannya memang penting, ia bisa menyampaikannya melalui penyidik atau pengacaranya.

Aku tidak mau lagi duduk di ruang keluarga lalu membiarkan seseorang mengubah fakta menjadi cerita yang lebih nyaman.

Tentang komentar-komentar merah itu, mereka berhenti muncul sehari setelah pernikahan.

Tidak ada perpisahan.

Tidak ada penjelasan.

Malam setelah pemeriksaan pertama, ketika aku sedang sendirian di rumah, hanya muncul satu kalimat terakhir.

Kamu sudah keluar dari alur itu.

Sesudahnya, kosong.

Aku tidak pernah tahu apa sebenarnya yang terjadi.

Apakah itu sesuatu yang tidak bisa dijelaskan, atau hanya satu kesempatan aneh yang tidak akan pernah datang lagi.

Aku berhenti berusaha memahaminya.

Komentar itu memang memperingatkanku.

Tetapi setelah peringatan pertama, aku sendiri yang harus memilih apa yang dilakukan.

Aku yang tidak menelan minuman.

Aku yang menyalakan live.

Aku yang membuka email.

Aku yang mengirim salinan.

Aku yang memanggil polisi.

Aku yang menolak menyentuh tas Nisa sendiri agar tidak ada orang yang bisa mengatakan aku menaruh sesuatu di sana.

Aku yang akhirnya percaya pada fakta ketika fakta sudah ada di depan mata.

Enam bulan setelah pernikahan yang tidak pernah benar-benar menjadi pernikahan bagiku, hidupku belum sepenuhnya tenang.

Proses hukum masih berjalan.

Kasus Mama juga belum mempunyai akhir yang rapi.

Beberapa pertanyaan mungkin tidak akan pernah terjawab sempurna.

Usahaku tetap berjalan.

Aku kembali bekerja seperti biasa.

Tidak tiba-tiba berkembang sepuluh kali lipat.

Tidak ada laki-laki kaya yang datang menyelamatkanku.

Aku juga tidak merasa menjadi perempuan baru hanya karena berhasil pergi dari Arga.

Beberapa pagi aku masih terbangun dengan pikiran bahwa seharusnya hari ini aku sedang menjadi istrinya.

Kadang saat melihat foto lama, aku masih bertanya-tanya bagian mana dari enam tahun itu yang pernah tulus.

Mungkin ada.

Mungkin Arga pernah benar-benar mencintaiku sebelum utang, ketamakan, dan hubungannya dengan Nisa mengubah semuanya.

Namun jawaban itu tidak lagi menentukan keputusanku.

Seseorang bisa pernah mencintai kita dan tetap melakukan sesuatu yang membuat kita tidak aman berada di dekatnya.

Dua hal itu bisa benar sekaligus.

Pada suatu sore, aku membuka laci tempat dokumen-dokumen penting kusimpan.

Polis asuransi lama sudah kuubah.

Dokumen rekening sudah kupisahkan.

Salinan laporan dari Bu Lestari tersimpan dalam map tersendiri.

Di sebelahnya ada kotak perhiasan Mama.

Aku membuka kompartemen kecil tempat dulu kutemukan secarik kertas menguning itu.

Kertasnya masih ada.

Kalimatnya masih sama.

Kalau sesuatu terjadi pada Mama, cari tahu tentang Mira.

Aku melipatnya kembali dengan hati-hati.

Kemudian kututup kotak itu.

Sebelum keluar rumah, aku memeriksa pintu depan.

Dulu Arga, Nisa, dan Papa sama-sama memiliki kunci cadangan.

Sekarang hanya ada satu cadangan.

Tersimpan di tempat yang kutentukan sendiri.

Aku mengunci pintu dari luar, memasukkan kuncinya ke tas, lalu berjalan menuju mobil.

Untuk pertama kalinya sejak lama, tidak ada seorang pun di keluargaku yang bisa masuk ke rumahku hanya karena mereka merasa berhak.

Menurutmu, setelah semua yang terjadi, apakah Alya masih perlu membuka kemungkinan berdamai dengan Papa suatu hari nanti?

Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.