Bagian 3 — Saat Aku Pergi, Dia Baru Sadar Rumah, Pernikahan, dan Masa Depannya Selama Ini Berdiri di Atas Kesabaranku yang Ia Hina
Aku membaca pesan Kirana empat kali.
Kemudian lima kali.
Nama lengkapku memang Nadira Maheswari.
Tetapi aku tidak pernah membayar terapi Kirana.
Tidak sekali pun.
Aku membuka aplikasi mobile banking dan mencari transaksi tiga bulan terakhir.
Dana pernikahan kami tidak disimpan di rekening bersama. Sejak awal, karena Arga mengaku lebih mudah mengatur pembayaran vendor, kami sepakat menggunakan satu rekening khusus atas namanya.
Aku telah mentransfer Rp118 juta ke sana secara bertahap.
Arga memasukkan Rp42 juta.
Total Rp160 juta untuk uang muka gedung, katering, dokumentasi, dekorasi, busana, dan kebutuhan akad.
Selama ini setiap kali aku bertanya tentang sisa dana, Arga selalu mengirim tangkapan layar total saldo.
Aku tidak pernah meminta mutasi lengkap.
Malam itu, untuk pertama kali, aku meminta.
Kirim rekening koran dana nikah tiga bulan terakhir.
Arga membalas kurang dari satu menit.
Untuk apa?
Aku menatap kata-kata itu.
Kalau tidak ada yang disembunyikan, biasanya orang bertanya, “Sekarang?”
Bukan “Untuk apa?”
Aku perlu.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Tidak dikirim.
Aku menelepon Kirana.
Dia menjawab setelah dering kedua.
“Halo?”
Suaranya lebih tenang daripada yang kubayangkan.
“Aku Nadira.”
“Aku tahu.”
“Kita bisa bertemu?”
“Bisa.”
“Tanpa ibumu. Tanpa Arga.”
Ada jeda pendek.
“Justru aku juga maunya begitu.”
Kami bertemu keesokan siang di sebuah kedai kopi dekat Jalan Darmo.
Kirana datang dengan tongkat berkaki empat dan seorang pengemudi perempuan yang menunggunya di mobil.
Aku sudah mempersiapkan diri untuk membencinya.
Aneh sekali, ketika dia duduk di depanku, aku malah tidak merasakan apa-apa.
Dia tampak lelah.
Bukan seperti perempuan yang sedang menunggu kekasih lama kembali.
Lebih seperti seseorang yang sudah terlalu lama hidup di dalam cerita yang ditulis orang lain tentang dirinya.
“Aku minta maaf soal Ibu,” katanya terlebih dahulu.
“Aku tidak datang untuk membicarakan ibumu.”
“Aku tahu. Tapi tetap harus kukatakan.”
Dia meletakkan ponselnya di meja.
“Aku sudah berkali-kali minta Ibu berhenti masuk rumah kalian. Dia tidak pernah dengar.”
“Arga yang memberi akses.”
Kirana menutup mata sebentar.
“Berarti lebih parah dari yang kukira.”
Aku langsung bertanya.
“Uang.”
Dia membuka galeri ponsel.
Ada dua bukti transfer.
Rp18.500.000.
Rp21.000.000.
Pembayaran untuk paket rehabilitasi intensif dan alat bantu berjalan impor.
Transfer pertama berasal dari rekening Arga.
Namun catatan di bawahnya berbunyi:
Titipan N.M.
Transfer kedua masuk melalui rekening klinik dengan keterangan biaya rehabilitasi.
“Kenapa kamu bilang namaku muncul?”
Kirana menggeser layar.
Sebuah percakapan WhatsApp antara dirinya dan Arga.
Arga menulis:
Jangan pikirkan biaya. Nadira juga setuju. Anggap saja hadiah kami sebelum menikah.
Aku merasa ujung jariku dingin.
“Aku tidak pernah setuju.”
“Aku tahu sekarang.”
Kirana menatapku.
“Karena waktu aku mengucapkan terima kasih lewat Arga, dia bilang kamu tidak perlu tahu detailnya.”
Aku tertawa kecil.
Pahit.
“Bagus sekali.”
“Aku sudah mengembalikan transfer kedua.”
“Yang pertama?”
“Ibu yang memakainya untuk membayar paket terapi sebelum aku tahu sumbernya.”
Kirana menundukkan kepala.
“Aku sedang menabung untuk mengembalikan sisanya.”
“Kamu tidak perlu membayar aku.”
Dia langsung mengangkat wajah.
“Kenapa?”
“Karena kamu tidak mengambil uangku.”
Aku berhenti sebentar.
“Arga yang melakukannya.”
Untuk pertama kalinya, aku melihat mata Kirana memerah.
“Dia selalu begini.”
“Apa?”
“Menganggap rasa bersalahnya sebagai izin untuk mengatur hidup orang lain.”
Barulah aku mengetahui cerita yang sebenarnya.
Empat tahun lalu, Arga dan Kirana memang bertengkar sebelum kecelakaan.
Malam itu Arga meminta putus.
Kirana pergi ke Malang bersama sepupunya keesokan pagi.
Mobil yang mereka tumpangi ditabrak truk di jalan tol.
Tidak ada hubungan sebab akibat antara pertengkaran mereka dan kecelakaan.
Namun Arga membangun hubungan itu di kepalanya sendiri.
Dia merasa bersalah.
Datang ke rumah sakit.
Membantu Bu Ratih.
Mengurus administrasi.
Menemani operasi.
Awalnya Kirana berterima kasih.
Setelah kondisi Kirana stabil, dia meminta Arga berhenti datang terlalu sering.
Arga tidak berhenti.
“Dia bilang itu tanggung jawab moral,” kata Kirana.
“Lalu kamu?”
“Aku pernah mengusirnya.”
Aku terdiam.
“Tiga kali.”
Kirana tersenyum tipis.
“Ibu marah besar. Menurut Ibu, Arga adalah laki-laki yang seharusnya jadi suamiku kalau kecelakaan itu tidak terjadi.”
“Tapi menurutmu?”
“Aku sudah selesai dengan Arga sebelum kecelakaan.”
Jawaban itu membuatku seperti ditampar.
Selama dua tahun aku cemburu kepada perempuan yang ternyata bahkan tidak sedang merebut siapa pun.
Yang tidak selesai bukan Kirana.
Arga.
Dan Bu Ratih.
“Kenapa kamu tidak bilang kepadaku?”
Kirana menatap meja.
“Aku tidak tahu seberapa banyak yang kamu tahu. Arga bilang kamu memahami situasi kami.”
Aku hampir tertawa.
Memahami.
Kata yang sangat indah untuk seseorang yang tidak pernah diberi seluruh informasi.
“Kemarin perawat mengira kalian pasangan.”
Wajah Kirana berubah.
“Apa?”
“Mereka bilang Arga menunggumu bertahun-tahun.”
Dia mengepalkan tangan.
“Aku sudah pernah minta dia koreksi hal itu.”
“Dia tidak melakukannya.”
Kirana mengambil napas panjang.
Kemudian berkata sesuatu yang akhirnya membuat semua potongan puzzle masuk ke tempatnya.
“Mbak Nadira, Arga bukan menungguku.”
Aku menatapnya.
“Dia menunggu versi dirinya sendiri yang merasa dibutuhkan.”
Aku diam.
“Selama aku sakit,” lanjutnya, “dia bisa menjadi penyelamat. Di depanku, dia selalu punya peran. Mungkin bersamamu dia harus menjadi pasangan yang setara. Dan itu jauh lebih sulit.”
Kalimat itu terus berputar di kepalaku setelah kami berpisah.
Sore harinya aku mendatangi kantor cabang bank bersama Livia.
Karena rekening dana pernikahan bukan atas namaku, bank tentu tidak bisa memberiku rincian.
Namun aku memiliki seluruh bukti transfer dari rekeningku ke rekening Arga.
Aku juga menghubungi satu per satu vendor yang pembayaran uang mukanya kutanggung.
Gedung.
Katering.
Fotografer.
Dekorasi.
Makeup artist.
Undangan.
Dari enam vendor, empat menyatakan masih ada pembayaran lanjutan yang belum dilakukan meskipun Arga berkali-kali mengaku semuanya sudah lunas.
Aku menghitung ulang.
Seharusnya saldo dana pernikahan masih sekitar Rp73 juta.
Malam itu Arga akhirnya pulang.
Dia tidak bisa membuka pintu.
Aku sudah menghapus seluruh aksesnya.
Kali ini tidak ada permainan PIN.
Satpam kompleks menemaninya masuk setelah aku memberi izin.
Livia duduk di ruang tamu bersamaku.
Di lantai ada empat koper besar milik Arga.
Wajahnya langsung berubah.
“Ini apa?”
“Barangmu.”
“Nadira.”
“Duduk.”
“Aku tidak mau bicara di depan Livia.”
“Dia saksi.”
“Saksi apa?”
Aku meletakkan tiga lembar bukti transfer Kirana di meja.
Arga tidak menyentuhnya.
Tetapi wajahnya langsung pucat.
Aku bertanya satu kali.
“Berapa uangku yang kamu pakai?”
“Nad—”
“Nominal.”
Dia mengusap wajah.
“Tidak seperti yang kamu pikir.”
“Nominal.”
“Sekitar empat puluh.”
“Juta?”
Dia mengangguk.
Aku mendorong catatan vendor ke arahnya.
“Empat puluh juta untuk terapi. Lalu hampir tiga puluh juta yang seharusnya dibayar ke vendor belum dibayar. Uangnya ke mana?”
“Aku ada kebutuhan lain.”
“Kebutuhan siapa?”
Arga diam.
“Bu Ratih?”
Tidak menjawab.
“Kirana?”
Tetap diam.
“Utangmu?”
Dia akhirnya berkata, “Aku bantu renovasi kamar mandi rumah Bu Ratih supaya akses kursi roda Kirana lebih mudah.”
Aku menatapnya lama.
Begitu lama sampai Livia di sebelahku mengumpat pelan.
“Kamu memakai uang pernikahan kita untuk merenovasi rumah mantan pacarmu?”
“Jangan buat kedengarannya seperti itu.”
“Lalu harus terdengar seperti apa?”
“Itu untuk kebutuhan medis.”
“Dengan uangku.”
“Aku akan ganti.”
“Kapan?”
“Setelah menikah.”
Aku tertawa.
Bukan hanya aku.
Livia sampai memalingkan wajah.
“Setelah menikah,” ulangku. “Jadi rencanamu adalah menikahiku dulu, lalu mengembalikan uang yang kamu ambil dariku menggunakan penghasilan rumah tangga kita?”
“Nadira, kita sebentar lagi jadi suami istri. Kenapa kamu menghitung uang sampai sedetail ini?”
Akhirnya keluar juga.
Kalimat yang kutunggu.
Aku mengambil sebuah map.
“Karena kita tidak akan jadi suami istri.”
Aku menyerahkan daftar total.
Rp69.500.000.
Itu jumlah dana milikku yang tidak dapat dia pertanggungjawabkan.
“Aku mau uang ini dikembalikan.”
Arga berdiri.
“Kamu serius mau membawa masalah ini sejauh itu?”
“Aku bahkan belum pergi ke pengacara.”
Dia menatapku.
Aku balik menatapnya.
“Kamu mau aku pergi?”
Wajahnya menegang.
“Nadira, aku cuma membantu orang sakit.”
“Dengan berbohong kepadaku.”
“Dia mengalami kecelakaan!”
“Empat tahun lalu!”
Suara Arga akhirnya meninggi.
“Dan aku punya tanggung jawab!”
“Kamu tidak punya tanggung jawab mengambil uangku!”
Ruangan langsung sunyi.
Aku berdiri.
“Aku tidak pernah melarangmu membantu Kirana. Aku mempertanyakan kenapa kamu selalu mengorbankanku untuk melakukannya.”
Arga membuka mulut.
Aku tidak memberinya kesempatan.
“Kamu menyimpan akses ibunya ke rumahku.”
“Kamu lupa ulang tahunku.”
“Kamu tidak tahu alergiku.”
“Kamu tidak tahu tanggal akad kita.”
“Kamu membuat staf rumah sakit mengira Kirana pasanganmu.”
“Kamu memakai uangku tanpa izin.”
“Lalu setiap kali aku marah, kamu bilang aku cemburuan, tidak dewasa, tidak punya empati.”
Matanya memerah.
“Nadira…”
“Yang paling menyedihkan, Ga, aku percaya.”
Suaraku justru semakin pelan.
“Aku bertahun-tahun berpikir aku harus menjadi perempuan yang lebih sabar supaya pantas menikah denganmu.”
Aku menunjuk pintu.
“Ternyata aku cuma harus berhenti.”
Arga tidak pergi malam itu dengan mudah.
Dia meminta waktu.
Meminta satu minggu.
Meminta kami menunda pembatalan.
Aku menolak semuanya.
Dua hari kemudian keluarga kami bertemu.
Ibuku datang dari Sidoarjo.
Ayah Arga datang bersama istrinya.
Aku membeberkan semuanya.
Tidak dengan tangisan.
Tidak dengan teriakan.
Hanya angka, pesan, foto akses smart lock, pengingat kalender, bukti vendor, dan transfer.
Ayah Arga menatap anaknya seperti tidak mengenalnya.
“Benar kamu pakai uang Nadira?”
Arga menjawab pelan.
“Aku berniat mengganti.”
“Benar atau tidak?”
“Benar.”
Ibu Arga langsung menangis.
Bukan karena pernikahan batal.
Karena malu.
Yang mengejutkan, dia justru menggenggam tanganku.
“Kamu tidak perlu menikah dengan anak saya hanya untuk menjaga muka keluarga kami.”
Arga menunduk.
Untuk pertama kalinya, tidak ada seorang pun yang membelanya.
Tiga hari setelah itu, Bu Ratih datang ke rumah.
Satpam tidak mengizinkannya masuk.
Dia meneleponku berkali-kali.
Aku mengangkat panggilan kelima.
“Nadira, kamu keterlaluan. Gara-gara kamu, Arga sekarang tidak mau ke rumah Ibu.”
“Itu keputusan Arga.”
“Kirana masih butuh dia!”
“Kirana bilang tidak.”
Bu Ratih mendadak diam.
“Kamu bertemu Kirana?”
“Iya.”
“Kamu jangan menghasut anak saya.”
“Bu Ratih.”
Aku memotong dengan tenang.
“Putri Ibu berumur tiga puluh tahun. Dia bisa berbicara untuk dirinya sendiri.”
“Kamu tidak tahu perjuangan mereka!”
“Saya tahu cukup banyak.”
Aku melihat bekas noda sambal yang masih sedikit terlihat di sela lantai dapur.
“Dan satu hal lagi. Jangan pernah datang ke rumah saya lagi tanpa izin.”
“Rumah itu juga tempat Arga tinggal!”
“Sudah tidak.”
Aku menutup telepon.
Seminggu kemudian, Kirana mengirim satu video.
Bukan untuk dipublikasikan.
Hanya untukku.
Dalam video itu, dia duduk berhadapan dengan Arga dan Bu Ratih di rumahnya.
Aku tidak tahu siapa yang merekam.
Kirana berbicara tanpa marah.
“Mas Arga, aku tidak pernah minta kamu menunggu.”
Arga menunduk.
“Aku tahu.”
“Tidak. Kamu tidak tahu. Karena kalau kamu tahu, kamu tidak akan membuat semua orang merasa berutang pada pengorbananmu.”
Bu Ratih mencoba memotong.
“Kirana—”
Kirana mengangkat tangan.
“Ibu juga.”
Ruangan langsung sunyi.
“Kecelakaan itu bukan alasan untuk membekukan hidupku empat tahun lalu.”
Bu Ratih menangis.
“Tapi kalau Arga tidak—”
“Aku punya dokter. Aku punya fisioterapis. Aku punya pekerjaan freelance. Aku punya hidup.”
Kirana menatap Arga.
“Dan aku tidak mau menjadi alasan kamu menghancurkan perempuan lain.”
Arga mengangkat wajah.
“Aku cuma merasa kalau malam itu aku tidak memutuskan kamu—”
“Kecelakaanku tetap bukan kesalahanmu.”
Suara Kirana tegas.
“Kamu tidak mencintaiku, Ga.”
Arga terdiam.
“Kamu mencintai rasa bersalahmu.”
Kalimat berikutnya membuatku memutar video dua kali.
“Dan mungkin kamu juga mencintai kenyataan bahwa selama aku sakit, kamu selalu terlihat seperti orang baik.”
Aku menutup video.
Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa kalah dari Kirana.
Aku bahkan tidak merasa menang.
Kami berdua hanya pernah terseret terlalu lama oleh ketidakmampuan satu keluarga menerima bahwa masa lalu sudah selesai.
Pengembalian uang berlangsung hampir dua bulan.
Arga menjual motor besarnya.
Mengambil uang dari deposito pribadinya.
Ayahnya meminjamkan sisanya dengan syarat tertulis bahwa Arga harus mengembalikannya sendiri.
Rp69.500.000 masuk kembali ke rekeningku.
Tidak kurang seribu rupiah pun.
Aku tidak meminta kompensasi.
Aku hanya mengambil milikku.
Vendor pernikahan sebagian mengembalikan uang muka.
Sebagian tidak.
Kerugian yang tersisa kuanggap biaya untuk keluar dari kehidupan yang salah sebelum terlambat.
Undangan belum dicetak.
Gedung dibatalkan.
Kebaya akad yang sudah selesai kusimpan selama tiga bulan sebelum akhirnya kujual kepada seorang perempuan yang menikah bulan berikutnya.
Ketika dia datang mencobanya, matanya berbinar.
“Pas banget, Mbak.”
Aku tersenyum.
“Berarti memang bajunya buat kamu.”
Aneh.
Aku tidak sedih.
Ada barang-barang yang terlihat seperti kehilangan hanya karena kita terlalu lama memaksanya menjadi milik kita.
Empat bulan setelah pernikahan batal, Arga datang ke kantorku.
Dia menunggu di lobi.
Aku hampir tidak mengenalinya.
Lebih kurus.
Tidak membawa bunga.
Tidak membawa cincin.
Mungkin akhirnya dia mengerti bahwa tidak semua masalah bisa diselesaikan dengan hadiah.
“Aku cuma minta lima menit.”
Aku duduk di kursi seberangnya.
“Lima menit.”
Dia langsung berkata, “Aku sudah berhenti datang ke rumah Kirana.”
Aku tidak menjawab.
“Aku juga pindah dari rumah Bu Ratih.”
Tetap diam.
“Aku konseling.”
Kali ini aku mengangguk.
“Bagus.”
Dia menatapku.
“Aku baru ngerti kenapa aku melakukan semua itu.”
“Aku harap pengertian itu berguna buat hubunganmu berikutnya.”
Rahangnya bergerak.
“Nadira.”
“Waktumu tinggal tiga menit.”
Matanya memerah.
“Aku kehilangan kamu.”
Aku menggeleng.
“Tidak.”
Dia terlihat bingung.
“Kamu tidak kehilangan aku.”
Aku menatapnya lurus.
“Kamu berkali-kali memilih sesuatu yang lain, sampai akhirnya aku berhenti menunggu dipilih.”
Arga menunduk.
“Ada kesempatan sedikit pun?”
“Tidak.”
Jawabanku keluar tanpa sakit.
Itulah momen aku tahu aku benar-benar selesai.
Dia menarik napas.
“Kalau aku berubah?”
“Berubahlah.”
Aku berdiri.
“Tapi jangan jadikan perubahanmu tiket untuk kembali kepadaku.”
Sebelum pergi, dia berkata pelan.
“Selamat ulang tahun yang terlambat.”
Aku tersenyum tipis.
“Empat bulan terlambat.”
Kemudian aku berjalan masuk ke lift.
Pintu tertutup.
Dan tidak ada bagian diriku yang ingin membukanya kembali.
Setahun kemudian, rumahku berubah.
Dapur dicat ulang.
Lantai yang terkena sambal kuganti.
Kotak-kotak tua bertuliskan inisial Arga dan Kirana kuberikan kepadanya saat dia mengambil barang terakhir.
Smart lock juga kuganti total.
Bukan karena takut.
Aku hanya tidak ingin rumah baruku menyimpan aturan lama.
Pada ulang tahunku yang berikutnya, Livia mengadakan makan malam kecil di rumah.
Tidak ada pesta besar.
Hanya keluarga, beberapa teman dekat, nasi liwet, sate maranggi, sambal matah, dan kue cokelat yang terlalu manis.
Di antara tamu itu ada Dimas.
Seorang arsitek yang kukenal melalui proyek kantor enam bulan sebelumnya.
Kami belum bertunangan.
Belum membicarakan pernikahan.
Dan itu justru membuatku nyaman.
Saat tiba di depan rumah, dia menelepon.
“Aku di luar.”
“Masuk aja.”
“PIN-nya?”
Aku tertawa.
“Aku kasih sebentar.”
“Enggak usah.”
“Kenapa?”
“Nanti kalau suatu hari kamu ganti, aku malah sok merasa punya hak masuk.”
Aku terdiam.
Kalimat sederhana.
Tetapi setelah semua yang pernah terjadi, rasanya seperti seseorang mengetuk bagian hidupku yang selama ini tidak pernah dihormati.
Aku membuka pintu sendiri.
Dimas berdiri membawa kue kecil.
Di atasnya bukan tulisan romantis.
Hanya angka umurku.
Dia tersenyum.
“Selamat ulang tahun, Nadira.”
“Tepat tanggalnya?”
“Kalau salah, sekarang aku pulang.”
Aku tertawa.
“Masuk.”
Dia hendak membawa makanan ke dapur, lalu berhenti.
“Boleh taruh di kulkas?”
Aku menatapnya.
“Boleh.”
Sederhana sekali.
Meminta izin.
Mengingat.
Mendengar.
Dulu aku menganggap semua itu standar yang terlalu tinggi karena Arga berkali-kali membuatku merasa menuntut terlalu banyak.
Sekarang aku tahu.
Itu bukan kemewahan.
Itu dasar.
Enam belas bulan setelah pernikahanku dengan Arga batal, aku menerima lamaran Dimas.
Bukan karena dia datang menyelamatkanku.
Aku sudah menyelamatkan diriku sendiri jauh sebelum mengenalnya.
Aku menerima karena selama hampir setahun bersamanya, tidak pernah sekali pun aku harus bersaing dengan masa lalu, menebak posisiku, atau memohon agar sesuatu yang penting bagiku dianggap penting olehnya.
Kami menikah sederhana di Yogyakarta.
Tidak ada ballroom besar.
Tidak ada dekorasi yang membuat orang terkesima.
Aku memakai kebaya baru.
Pada pagi akad, Dimas mengirim satu pesan dari kamar sebelah.
PIN rumah jangan diganti hari ini. Aku takut nanti sepulang nikah kita malah sama-sama enggak bisa masuk.
Aku tertawa sampai makeup artist menegur karena mataku berair.
Untuk pertama kalinya, air mata menjelang pernikahan bukan berasal dari ketakutan.
Sesudah akad, ketika semua orang sibuk berfoto, aku menerima pesan dari Kirana.
Dia mengirim foto dirinya berdiri tanpa tongkat di sebuah pusat rehabilitasi di Bandung.
Dia sudah pindah kota dan bekerja sebagai konsultan desain aksesibilitas.
Pesannya hanya dua kalimat.
Selamat, Mbak Nadira. Semoga rumah barunya selalu jadi tempat yang orang lain masuki dengan izin.
Aku membalas.
Semoga hidupmu juga tidak pernah lagi ditentukan oleh rasa bersalah orang lain.
Kami tidak menjadi sahabat.
Tidak perlu.
Namun aku senang mengetahui kami sama-sama berhasil keluar.
Tentang Arga, aku hanya mendengar sedikit.
Dia pindah rumah sakit.
Tetap bekerja sebagai dokter.
Menjalani konseling cukup lama.
Kabarnya dia akhirnya meminta maaf kepada Kirana tanpa mencoba mengambil peran apa pun lagi dalam hidupnya.
Aku berharap dia benar-benar berubah.
Bukan untukku.
Untuk dirinya sendiri.
Karena hukuman paling tepat baginya bukan kehilangan pekerjaan, jatuh miskin, atau hidup sendirian selamanya.
Hukumannya adalah harus hidup dengan pengetahuan bahwa pernah ada seorang perempuan yang mencintainya tujuh tahun, membangun rumah bersamanya, menyiapkan pernikahan dengannya, dan terus memberi kesempatan untuk memperbaiki keadaan.
Lalu suatu hari perempuan itu berhenti.
Dan ketika Arga akhirnya belajar cara menghargai seseorang, perempuan yang paling ingin dia hargai sudah tidak membutuhkan apa pun darinya.
Beberapa bulan setelah menikah dengan Dimas, aku berdiri di dapur pada suatu malam ketika kulkas berbunyi karena pintunya belum tertutup rapat.
Suara kecil itu tiba-tiba mengingatkanku pada malam ketika Bu Ratih memenuhi kulkasku dengan makanan Kirana.
Dulu aku berdiri di tempat yang sama dan merasa seperti tamu di rumah sendiri.
Sekarang Dimas muncul dari ruang kerja.
“Kulkasnya kebuka.”
“Aku tahu.”
Dia hendak menutupnya, lalu melihat satu stoples sambal di rak.
“Ini pedas banget, kan?”
“Iya.”
“Punyamu?”
“Iya.”
Dia mengangguk.
“Berarti jangan sampai aku habisin.”
Aku tertawa.
Sesederhana itu.
Tidak ada nama perempuan lain di tutup wadah.
Tidak ada akses rahasia.
Tidak ada pengingat yang sengaja dibuat untuk orang lain sementara aku dilupakan.
Tidak ada seseorang yang menyuruhku menganggap rasa sakitku terlalu kecil untuk dipersoalkan.
Aku menutup pintu kulkas.
Lampunya padam.
Dapur kembali sunyi.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, sunyi itu tidak terasa seperti ditinggalkan.
Rasanya seperti pulang.

