SUAMIKU MENYERET IBUKU KE LUAR APARTEMEN—15 MENIT KEMUDIAN, AYAH MENEMUKAN TANDA TANGAN YANG BISA MENGIRIM SESEORANG KE PENJARA
BAGIAN 1
Suamiku sedang menyeret ibuku melintasi lantai menuju pintu ketika ibu mertuaku berteriak,
“Mulai hari ini, kamu sudah tidak punya tempat di rumah ini!”
Aku tidak membantah.
Aku juga tidak menangis.
Aku hanya mengeluarkan ponsel dan menelepon ayahku.
Lima belas menit kemudian, ketika Ayah datang dan meminta melihat dokumen apartemen, kami menemukan satu tanda tangan yang bisa membuat seseorang berurusan dengan hukum.

“Suruh ibumu keluar sekarang juga, Nadira! Mulai hari ini apartemen ini cuma untuk keluargaku. Bukan untuk orang yang datang lalu menumpang seenaknya!”
Itulah kalimat pertama yang kudengar ketika pulang dari shift malam di sebuah toko roti di Tebet, Jakarta Selatan, sedikit lewat pukul enam pagi.
Sepanjang perjalanan pulang, yang kubayangkan hanya mandi air hangat lalu tidur beberapa jam.
Namun begitu membuka pintu apartemen kami di Kalibata, tubuhku langsung kaku.
Suamiku, Arga, sedang mencengkeram kedua lengan ibuku dan menariknya menuju pintu.
Sementara ibu Arga, Ratna, mendorong dua koper milik Mama ke lorong apartemen.
Mama, Sri Wahyuni, bahkan masih mengenakan daster tidur dan sandal rumah.
Kotak obatnya jatuh di lantai.
Beberapa strip obat tekanan darah berserakan di dekat sofa.
“Arga.”
Aku meletakkan tas kerjaku.
“Lepaskan Mama sekarang.”
Arga menoleh.
Tidak ada rasa bersalah di wajahnya.
Tidak ada sedikit pun rasa malu.
“Tidak.”
Jawabannya begitu tenang hingga membuatku lebih marah daripada jika dia berteriak.
“Aku sudah bilang aku tidak mau ibumu tinggal di sini. Sekarang Mama yang membutuhkan kamar itu.”
Ratna berdiri di belakangnya dengan kedua tangan terlipat di dada.
Seolah-olah dialah pemilik apartemen tersebut.
Aku menatap Arga.
“Mama cuma tinggal tiga minggu. Dia baru sembuh dari pneumonia. Dokter bahkan belum mengizinkannya tinggal sendirian.”
Ratna mencibir.
“Bukan urusanku.”
Aku berbalik kepadanya.
“Ibu punya rumah sendiri di Depok.”
Wajahnya langsung berubah.
“Jaga bicaramu.”
Kemudian Arga berkata sesuatu yang membuatku benar-benar memahami bahwa pagi itu bukan sekadar pertengkaran keluarga.
“Kalau kamu tidak suka keputusan kami, kamu boleh pergi bersama ibumu.”
Kami sudah menikah selama sepuluh tahun.
Lima tahun sebelumnya, kami membeli apartemen itu setelah bertahun-tahun menabung.
Uang mukanya berasal dari tabunganku dan Arga.
Namun cicilan beberapa tahun terakhir hampir seluruhnya kubayar dari gajiku.
Aku bekerja malam.
Mengambil lembur.
Menerima pesanan tambahan menjelang Lebaran dan Natal.
Ada masa ketika aku tidur hanya empat jam sehari karena kami sepakat ingin melunasi tempat tinggal sebelum usia empat puluh.
Arga tahu semua itu.
Ratna juga tahu.
Karena itu aku tidak membuang waktu berdebat dengan mereka.
Aku mengeluarkan ponsel.
Lalu menelepon ayahku.
“Ayah.”
Suaraku terdengar jauh lebih tenang daripada perasaanku.
“Tolong datang sekarang.”
Ayah langsung bertanya,
“Ada apa?”
Aku menatap Arga yang masih berdiri di depan Mama.
“Arga dan ibunya sedang mengusir Mama.”
Ayah terdiam dua detik.
“Ayah berangkat.”
Kurang dari lima belas menit kemudian, Hendra Pratama—ayahku—sudah muncul di depan unit kami.
Begitu melihat Mama berdiri gemetar di lorong dengan koper dan obat-obatan berserakan, ekspresinya berubah.
“Apa yang kalian lakukan kepada istri saya?”
Arga mencoba menutup pintu.
“Ayah jangan ikut campur.”
Ayah menahan pintu dengan telapak tangannya.
“Dia istri saya. Tentu saya ikut campur.”
Situasi berubah kacau dalam hitungan detik.
Terjadi dorong-mendorong di dekat pintu ketika Arga berusaha memaksa Ayah mundur.
Ratna tiba-tiba berteriak.
“Tolooong!”
Lalu ia menjatuhkan dirinya ke lantai.
“Aku didorong!”
Aku terpaku.
Ayah bahkan hampir tidak menyentuhnya.
Namun Ratna sudah memegangi bahunya sambil merintih seperti baru mengalami kecelakaan besar.
“Panggil ambulans! Panggil polisi!”
Suara keributan membuat beberapa tetangga membuka pintu.
Petugas keamanan apartemen naik.
Tak lama kemudian, tenaga medis dan polisi datang.
Mama yang sejak tadi gemetar malah benar-benar mengalami lonjakan tekanan darah.
Ia dibawa ke rumah sakit untuk diperiksa.
Saat itu aku masih berpikir semuanya bisa diselesaikan dengan sederhana.
Aku tinggal menunjukkan bahwa apartemen tersebut juga milikku.
“Apartemen ini dibeli setelah kami menikah,” kataku kepada petugas. “Nama saya ada dalam dokumen pembelian.”
Arga yang berdiri beberapa meter dariku tiba-tiba tersenyum.
Senyuman kecil.
Tenang.
Seperti seseorang yang sudah menunggu kalimat itu.
“Pak.”
Ia menoleh kepada petugas.
“Silakan periksa siapa pemilik resmi unit ini sekarang.”
Aku menatapnya.
“Apa maksudmu?”
Petugas meminta dokumen yang berkaitan dengan kepemilikan unit.
Arga menyerahkan sebuah map.
Setelah memeriksanya, petugas mengangkat kepala.
Tatapannya berubah.
“Ibu Nadira Prameswari?”
“Ya.”
“Berdasarkan dokumen yang ditunjukkan kepada kami, hak atas unit apartemen ini sekarang tercatat atas nama Bapak Arga Mahendra.”
Aku tertawa kecil karena kupikir aku salah dengar.
“Tidak mungkin.”
Tak ada yang menjawab.
Aku mendekati petugas.
“Kami membeli apartemen itu bersama.”
Ia memperlihatkan salinan dokumen kepadaku.
Tiga minggu sebelumnya, telah dibuat akta di hadapan notaris yang menyatakan bahwa aku menyerahkan seluruh hakku atas unit tersebut kepada Arga.
Ada fotokopi KTP-ku.
Ada beberapa lampiran.
Dan di bagian bawah halaman terakhir…
ada tanda tanganku.
Aku berhenti bernapas.
Bentuknya sama.
Kemiringannya sama.
Bahkan huruf terakhir namaku memiliki lengkungan kecil yang selalu kubuat sejak kuliah.
“Ini bukan tanda tanganku.”
Arga tertawa pelan.
Petugas menatapku.
“Tapi bentuknya memang sangat mirip.”
“Mirip karena dipalsukan.”
Ratna yang tadi mengaku kesakitan kini sudah berdiri lagi.
Ia mendengus.
“Kalau kalah jangan menuduh.”
Aku memandang Arga.
Saat itulah dia mendekat.
Cukup dekat agar hanya aku yang mendengar.
“Mulai sekarang, kalau mau masuk ke sini, minta izin dulu.”
Aku menatap matanya.
Ia melanjutkan,
“Kamu bukan pemilik lagi.”
Aku ingin menamparnya.
Namun aku tidak melakukannya.
Karena untuk pertama kalinya pagi itu, aku sadar Arga menginginkan reaksiku.
Ia ingin aku kehilangan kendali.
Mungkin supaya aku ikut terlihat sebagai pihak yang bermasalah.
Jadi aku mundur.
Aku membawa Mama ke rumah sakit bersama Ayah.
Setelah kondisi Mama stabil, kami mendatangi kantor polisi untuk membuat laporan mengenai dugaan pemalsuan dokumen.
Di sana kami diberi tahu bahwa dugaan pemalsuan harus dibuktikan melalui pemeriksaan dokumen, tanda tangan, serta proses hukum lebih lanjut.
Sementara itu, Ratna juga sudah membuat laporan bahwa Ayah menyerangnya “tanpa alasan”.
Malamnya aku tinggal di rumah orang tuaku.
Mama tidur setelah minum obat.
Ayah duduk di ruang makan sambil menelepon seorang kenalan yang memahami urusan hukum.
Aku sendiri membuka salinan digital akta itu berkali-kali.
Semakin lama kulihat tanda tangannya, semakin aneh perasaanku.
Karena memang sangat mirip.
Lalu sebuah ingatan kecil muncul.
Beberapa bulan terakhir, Arga tiba-tiba memiliki kebiasaan baru.
Berlatih menulis tangan.
Awalnya aku tidak pernah menganggapnya penting.
Kadang ia mengambil kertas kosong dan menulis namanya sendiri berulang kali.
Kadang menggambar huruf.
Katanya itu membuat pikirannya rileks setelah bekerja.
Namun kemudian dia mulai sering memintaku menandatangani sesuatu.
“Nad, tanda tangan paket ini.”
“Nad, tanda tangan bukti penerimaan.”
“Nad, coba tanda tangan di sini. Aku mau bandingkan pulpen.”
Hal-hal kecil.
Receh.
Aku bahkan pernah mengejeknya.
“Sejak kapan kamu jadi penggemar kaligrafi?”
Dia tertawa.
Sekarang aku tidak tertawa lagi.
Arga tidak sedang belajar menulis.
Dia sedang mempelajari tanganku.
Keesokan harinya aku pergi ke rumah sakit karena mengetahui Arga sedang menemani ibunya menjalani pemeriksaan.
Aku menunggunya di lorong.
Ketika melihatku, ia tidak tampak terkejut.
“Akhirnya datang juga.”
Aku langsung berkata,
“Kamu memalsukan tanda tanganku.”
Arga memasukkan kedua tangannya ke saku.
“Buktikan.”
Satu kata itu membuat seluruh tubuhku dingin.
“Kamu bahkan tidak menyangkal?”
Ia tersenyum.
“Untuk apa?”
Lalu ia mengeluarkan sebuah map tipis dari tasnya.
Ada satu dokumen lagi di dalamnya.
“Karena kita sudah bicara soal pembagian aset, sekalian saja.”
Aku membacanya.
Surat persetujuan pengalihan hak atas rekening investasi dan tabungan bersama.
Aku mengangkat kepala.
“Kamu sudah gila?”
“Tidak.”
Arga bersandar santai ke dinding.
“Kalau kamu tanda tangan ini, Mama akan mempertimbangkan mencabut laporan terhadap ayahmu.”
Dadaku terasa sesak.
“Kamu menggunakan laporan ibumu untuk memaksaku menyerahkan uang?”
“Jangan dramatis.”
Dalam rekening itu ada tabungan dan hasil investasi yang kami kumpulkan hampir sepuluh tahun.
Jumlah terakhir yang kuingat sekitar Rp13,8 miliar.
Sebagian besar adalah uang yang kusisihkan dari pekerjaan, investasi kecil yang berkembang, serta hasil penjualan sebuah tanah warisan yang dulu kusetujui dimasukkan ke rekening bersama karena aku mempercayai suamiku.
Aku merobek salinan surat itu menjadi dua.
“Aku tidak akan menandatangani apa pun.”
Untuk pertama kalinya, senyum Arga sedikit memudar.
Aku langsung pergi ke bank.
Aku berniat memblokir transaksi.
Memisahkan rekening.
Apa pun yang masih bisa kuselamatkan.
Manajer bank membawaku ke sebuah ruangan kecil.
Ia membuka sistem.
Mengetik beberapa kali.
Lalu terdiam.
Aku memperhatikannya.
“Pak?”
Dia tidak langsung menjawab.
“Apakah rekeningnya sudah diblokir?”
Ia menelan ludah.
“Ibu Nadira…”
Ada sesuatu dalam nada suaranya yang langsung membuat perutku terasa kosong.
“Ada masalah?”
Ia memutar monitor sedikit ke arahku.
Saldo rekening yang selama bertahun-tahun kujaga dengan begitu hati-hati…
tinggal Rp742.000.
Aku menatap angka itu beberapa detik.
“Tidak mungkin.”
Manajer bank memeriksa ulang.
“Sebagian besar dana sudah dipindahkan kemarin.”
“Ke mana?”
Ia membaca catatan transaksi.
Ada beberapa transfer besar.
Kemudian satu pembayaran yang nilainya membuat jari-jariku gemetar.
Dana itu digunakan sebagai pembayaran awal pembelian sebuah rumah mewah di kawasan Sentul, Bogor.
Aku bertanya,
“Atas nama siapa rumahnya?”
Manajer itu ragu sebentar sebelum menjawab.
“Nama penerima manfaat yang tercatat adalah Ratna Mahendra.”
Ibu mertuaku.
Aku duduk diam.
Dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam, aku kehilangan suami yang selama sepuluh tahun kupercaya.
Aku kehilangan rumah yang hampir kulunasi dengan kerja malamku.
Dan hampir Rp13,8 miliar tabungan keluarga kami telah lenyap untuk membeli rumah atas nama perempuan yang pagi sebelumnya membantu menyeret ibuku keluar dari apartemen.
Kupikir itulah bagian terburuknya.
Aku salah.
Karena ketika Ayah memeriksa kembali salinan akta pengalihan apartemen malam itu, ia memperbesar satu bagian yang hampir tidak kami perhatikan.
Bukan tanda tanganku.
Bukan cap notaris.
Melainkan nomor identitas salah satu saksi yang tercantum dalam akta.
Ayah tiba-tiba membeku.
“Nadira.”
“Apa?”
Ia menunjuk layar laptop.
“Kamu kenal nama ini?”
Aku membacanya.
Dan darahku seakan berhenti mengalir.
Aku mengenal nama itu.
Sangat mengenalnya.
Karena orang tersebut seharusnya tidak mungkin menjadi saksi saat dokumen itu ditandatangani.
Ada satu alasan sederhana.
Pada tanggal yang tertera dalam akta…
orang itu sudah meninggal dunia selama hampir dua tahun.
Aku menatap Ayah.
Ayah menatapku kembali.
Kemudian ia berkata pelan,
“Kalau satu nama dalam akta ini palsu, kita harus memeriksa semuanya.”
Saat itulah aku belum tahu bahwa tanda tangan palsu di apartemen hanyalah ujung dari sesuatu yang jauh lebih besar.
Dan ketika kami akhirnya menemukan siapa yang sebenarnya membantu Arga mengurus dokumen-dokumen itu, bahkan Ratna tidak lagi bisa tersenyum.
Karena bukti berikutnya tidak hanya bisa membuat seseorang kehilangan rumah.
Bukti itu bisa mengirim seseorang ke penjara.
BAGIAN 2
Aku menatap nama saksi yang tercantum di akta itu sampai huruf-hurufnya seperti bergerak sendiri di layar.
Bambang Suryanto.
Aku mengenal nama itu.
Bukan karena dia teman keluarga.
Bukan pula karena pernah bekerja denganku.
Bambang adalah mantan staf administrasi di kantor notaris yang pernah membantu proses pembelian apartemen kami lima tahun lalu.
Dua tahun sebelumnya, aku bahkan pernah datang bersama Arga ke pemakamannya.
Aku masih ingat Ratna membawa satu kotak kue untuk keluarganya.
Masih ingat Arga berdiri cukup lama di depan makam sambil berkata, “Kasihan. Orang baik biasanya memang cepat pergi.”
Sekarang nama orang yang sudah meninggal itu tercantum sebagai saksi hidup dalam akta pengalihan apartemenku.
Ayah menutup laptop perlahan.
“Jangan hubungi Arga.”
Aku mengangguk.
Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, aku juga tidak ingin menghadapi Arga.
Aku ingin dia merasa menang.
Keesokan paginya, Ayah menghubungi seorang kenalan lamanya bernama Pak Damar, mantan pegawai pertanahan yang sekarang bekerja sebagai konsultan dokumen properti.
Kami bertemu di sebuah kedai kopi kecil di Cikini.
Pak Damar membaca salinan akta itu hampir empat puluh menit tanpa banyak bicara.
Kadang ia melepas kacamatanya.
Kadang ia memotret bagian tertentu.
Ketika selesai, wajahnya serius.
“Dokumen ini bermasalah.”
“Karena saksi sudah meninggal?” tanyaku.
“Bukan cuma itu.”
Ia menunjuk beberapa bagian.
Nomor register akta tidak cocok dengan pola pencatatan bulan tersebut.
Alamat kantor notaris benar, tetapi format stempel yang dipakai sudah tidak digunakan sejak setahun sebelumnya.
Ada satu nomor seri lampiran identitas yang tidak sesuai.
Dan yang paling penting, nama notaris yang tercantum memang nyata.
Namun saat tanggal pembuatan akta itu, notaris tersebut sedang menjalani perawatan panjang di Singapura.
Aku menahan napas.
“Jadi semuanya palsu?”
Pak Damar menggeleng.
“Lebih buruk.”
“Apa maksudnya?”
“Dokumen palsu biasa dibuat dari nol. Yang ini dibuat oleh seseorang yang paham sistem. Dia memakai format asli, nomor yang mendekati benar, dokumen lama, bahkan pola tanda tangan notaris.”
Ayah bertanya, “Orang dalam?”
“Bisa jadi.”
Aku langsung teringat pada Arga yang selama bertahun-tahun bekerja sebagai manajer operasional perusahaan pengembang kecil.
Dia mengenal kontraktor.
Agen properti.
Notaris.
Staf perbankan.
Orang-orang yang mengurus sertifikat dan transaksi tanah.
Tiba-tiba begitu banyak hal kecil dalam pernikahan kami terasa berbeda.
Perjalanan “dinas”.
Pertemuan malam hari.
Telepon yang selalu dibawa ke kamar mandi.
Sikap defensif setiap kali kutanya masalah uang.
Namun aku belum siap terhadap apa yang kami temukan berikutnya.
Pak Damar meminta izin memeriksa riwayat transaksi properti yang berkaitan dengan Arga dan Ratna.
Dua hari kemudian ia menelepon.
“Nadira, datang ke kantor saya.”
“Ada apa?”
“Lebih baik kamu lihat sendiri.”
Aku datang bersama Ayah.
Di meja Pak Damar sudah ada beberapa lembar hasil penelusuran.
Rumah di Sentul atas nama Ratna ternyata bukan properti pertama.
Ada dua ruko kecil di Bekasi.
Sebuah tanah di Cibubur.
Dan satu rumah kontrakan di Bogor.
Semuanya dibeli dalam tiga tahun terakhir.
Sebagian atas nama Ratna.
Sebagian atas nama perusahaan kecil yang belum pernah kudengar.
PT Mahendra Karya Sentosa.
Direkturnya?
Arga.
Komisarisnya?
Ratna.
Aku menghitung nilainya.
Hampir Rp21 miliar.
Tanganku dingin.
“Dari mana dia mendapatkan uang sebanyak ini?”
Pak Damar menatapku.
“Itu pertanyaan yang sama yang saya punya.”
Aku hampir tertawa karena absurd.
Selama tiga tahun terakhir, Arga sering mengeluh gajinya tidak cukup.
Dia selalu berkata cicilan membuatnya tertekan.
Pernah sekali dia memintaku menunda membeli sepatu baru karena katanya kami harus hidup hemat.
Sepatu yang kuinginkan saat itu bahkan tidak sampai satu juta rupiah.
Sementara diam-diam dia mengumpulkan aset puluhan miliar.
Ayah berkata lirih,
“Dia bukan baru mulai kemarin.”
Tidak.
Arga sudah merencanakannya bertahun-tahun.
Dan aku tinggal bersamanya setiap hari tanpa menyadarinya.
Kami membawa temuan itu kepada penyidik yang menangani laporan pemalsuan dokumen.
Setelah melihat bukti awal, mereka mulai memeriksa lebih serius.
Aku diminta menyerahkan contoh tanda tangan asli selama beberapa tahun terakhir.
Buku tabungan.
Dokumen pajak.
Catatan transaksi.
Bahkan contoh tulisan tanganku dari pekerjaan.
Sementara itu aku tidak menghubungi Arga sedikit pun.
Tiga hari.
Empat hari.
Lima hari.
Pada hari keenam, dia yang menelepon.
“Akhirnya menyerah?”
Aku menyalakan perekam suara.
“Apa maksudmu?”
“Kamu tidak bikin keributan lagi.”
“Aku capek.”
Arga tertawa.
“Nah. Seharusnya dari awal begitu.”
“Kamu mau apa sebenarnya?”
“Hanya yang memang seharusnya jadi milikku.”
Aku menggenggam ponsel lebih erat.
“Termasuk uangku?”
“Uang kita.”
“Termasuk apartemen?”
“Kita sudah bicara soal itu.”
“Kapan?”
Ia diam sebentar.
Lalu berkata,
“Jangan bodoh, Nadira. Di dunia nyata, orang yang punya dokumen yang menang.”
Kalimat itu menjadi salah satu bukti paling berguna dalam penyelidikan.
Tapi bukan itu yang menjatuhkannya.
Seminggu kemudian, Mama sudah cukup sehat untuk pulang dari rumah sakit.
Namun dia berubah.
Mama yang biasanya cerewet menjadi lebih banyak diam.
Setiap kali melihatku membuka laptop atau menerima telepon dari penyidik, ia tampak ingin bicara lalu mengurungkan niat.
Sampai suatu malam, ketika Ayah sudah tidur, Mama duduk di sampingku di ruang makan.
“Nadira.”
“Ya, Ma?”
“Kalau Mama bilang sesuatu, jangan marah dulu.”
Aku menutup laptop.
Mama memegang ujung bajunya.
“Apa?”
“Arga pernah datang menemui Mama.”
Aku terdiam.
“Kapan?”
“Sekitar empat bulan lalu.”
“Untuk apa?”
Mama tidak berani menatapku.
“Dia meminjam uang.”
Dadaku menegang.
“Berapa?”
“Dua ratus lima puluh juta.”
Aku bangkit dari kursi.
“Dan Mama kasih?”
“Mama pikir kalian sedang kesulitan.”
Aku menutup wajah dengan kedua tangan.
“Kenapa Mama tidak bilang?”
“Dia bilang kamu malu kalau tahu.”
Aku ingin marah.
Tapi begitu melihat wajah Mama, kemarahanku hilang.
Arga tahu kelemahan setiap orang di keluarga kami.
Kepadaku, dia menggunakan rasa percaya.
Kepada Mama, dia menggunakan rasa kasihan.
Kepada Ayah, dia menggunakan harga diri.
“Untuk apa katanya uang itu?”
Mama berjalan ke kamar lalu kembali membawa sebuah amplop cokelat tua.
“Dia meninggalkan ini.”
Di dalamnya ada fotokopi surat pinjaman.
Aku membaca.
Ada tanda tangan Arga.
Ada tanda tangan Mama.
Dan ada satu nama saksi.
Aku langsung mematung.
Nama itu sama dengan salah satu nama yang muncul dalam perusahaan Arga.
Rico Pradana.
Aku mengirim foto dokumen itu kepada penyidik.
Mereka sudah mencari Rico selama beberapa hari.
Ternyata Mama tanpa sengaja memberikan petunjuk pertama.
Rico ditemukan tiga hari kemudian di Tangerang.
Dia bukan notaris.
Bukan pengacara.
Dia mantan staf administrasi di perusahaan properti tempat Arga pernah bekerja.
Dan ketika diperiksa, pertahanannya runtuh jauh lebih cepat daripada yang kami duga.
Karena ternyata Arga tidak pernah benar-benar membayarnya.
Rico marah.
Sangat marah.
Dia mengakui membantu membuat dokumen palsu.
Memalsukan lampiran.
Menggunakan format lama.
Mengambil contoh stempel dari berkas arsip.
Namun ia mengatakan sesuatu yang mengubah arah kasus.
“Pak Arga tidak cuma buat satu akta.”
Penyidik bertanya,
“Berapa?”
Rico menunduk.
“Banyak.”
Aku merasa ujung jariku mati rasa.
“Untuk siapa?”
“Untuk keluarga.”
Kata itu menghantamku.
Bukan cuma aku.
Dalam dua minggu berikutnya, penyidik menemukan setidaknya tujuh transaksi yang mencurigakan.
Dua aset milik kerabat Ratna.
Satu tanah warisan milik almarhum ayah Ratna.
Satu rumah milik kakak Arga.
Dan beberapa dokumen pinjaman dengan jaminan properti.
Arga menggunakan pola yang sama.
Mengubah tanda tangan.
Mengutak-atik surat kuasa.
Memanfaatkan orang tua yang tidak paham dokumen.
Lalu memindahkan kepemilikan aset.
Tapi kemudian muncul temuan yang paling mengejutkan.
Rumah Ratna sendiri di Depok ternyata juga bukan lagi milik Ratna.
Sudah tiga tahun sebelumnya dialihkan ke PT Mahendra Karya Sentosa.
Artinya Arga diam-diam mengambil rumah ibunya sendiri.
Ketika Ratna pertama kali mengetahui itu dari penyidik, dia menolak percaya.
“Itu bohong!”
Dia berteriak di ruang pemeriksaan.
“Arga anak saya!”
Penyidik meletakkan dokumen di depannya.
Ratna membacanya.
Wajahnya perlahan kehilangan warna.
“Aku tidak pernah tanda tangan ini.”
Tidak ada seorang pun menjawab.
Ratna mulai membalik halaman dengan tangan gemetar.
“Ini bukan tanda tanganku.”
Aku yang duduk di seberang lorong hanya bisa menatap.
Untuk pertama kalinya, Ratna merasakan apa yang kurasakan.
Rumah yang ia kira miliknya sudah dicuri oleh orang yang paling ia percaya.
Anaknya sendiri.
Arga ditangkap empat hari kemudian.
Bukan di apartemen.
Bukan di kantor.
Ia ditangkap di Bandara Soekarno-Hatta.
Dia berusaha terbang ke Kuala Lumpur.
Di dalam tasnya ditemukan uang tunai, beberapa dokumen, dua ponsel, serta sebuah flashdisk kecil.
Flashdisk itu membuat kasusnya jauh lebih besar.
Isinya terdiri dari puluhan scan KTP.
Contoh tanda tangan.
Akta lama.
Salinan sertifikat.
Surat kuasa kosong.
Bahkan folder yang diberi nama berdasarkan orang.
Salah satunya bernama:
NADIRA_FINAL.
Aku meminta penyidik memberitahuku apa isinya.
Mereka awalnya ragu.
Kemudian menunjukkan sebagian.
Ada foto tanda tanganku.
Lebih dari seratus contoh.
Diambil dari dokumen, buku, resi, kartu ucapan, bahkan catatan kecil yang pernah kutulis untuknya.
Di folder yang sama ada foto pasporku.
KTP.
NPWP.
Dokumen rekening.
Dan satu file teks.
Aku membaca kalimat pertama.
Target selesai setelah rumah dan rekening dipindahkan.
Aku berhenti.
Lalu membaca kalimat berikutnya.
Tahap terakhir: buat Nadira terlihat tidak stabil supaya gugatan perceraian mudah.
Aku tidak menangis saat Arga menyeret Mama.
Aku tidak menangis saat mengetahui apartemenku diambil.
Aku tidak menangis ketika melihat saldo rekening tinggal ratusan ribu.
Tapi saat membaca kalimat itu, aku menangis.
Karena akhirnya aku memahami sesuatu.
Arga tidak meninggalkanku karena kami berhenti saling mencintai.
Dia sudah mengubah pernikahan kami menjadi sebuah proyek.
Dan aku adalah targetnya.
Sidang berlangsung beberapa bulan.
Aku tidak menghadiri semuanya.
Aku lelah melihat wajah Arga.
Ratna, yang awalnya membelanya mati-matian, akhirnya memberikan keterangan terhadap anaknya sendiri.
Bukan karena tiba-tiba menyayangiku.
Tapi karena ia menyadari Arga juga menipunya.
Rumah di Sentul yang dibeli dengan uang kami bahkan tidak benar-benar direncanakan untuk Ratna.
Dokumen internal perusahaan menunjukkan rumah itu akan dijual kembali enam bulan kemudian.
Nama Ratna hanya digunakan untuk menyamarkan aliran dana.
Yang lebih ironis, Ratna juga menemukan bahwa selama bertahun-tahun Arga mengatakan kepadanya bahwa aku selalu menolak membantu keluarga.
Padahal hampir semua uang yang kukirim untuk pengobatan, perbaikan rumah, dan kebutuhan keluarganya disampaikan Arga seolah-olah berasal dari dirinya sendiri.
Ratna menangis ketika mengetahui itu.
Namun aku tidak merasa puas.
Aku hanya merasa kosong.
Pada sidang terakhir, Arga sempat menoleh kepadaku.
Untuk pertama kalinya sejak kami menikah, wajahnya tidak terlihat percaya diri.
Setelah putusan dibacakan, ia dinyatakan bersalah atas serangkaian pemalsuan dokumen, penipuan, penggelapan aset, dan tindak pidana terkait transaksi keuangan.
Beberapa aset disita.
Proses pengembalian aset berlangsung panjang.
Namun pada akhirnya, hakku atas apartemen dipulihkan.
Sebagian besar dana hasil penjualan aset Arga juga dikembalikan melalui proses hukum.
Tidak semuanya.
Tapi cukup banyak.
Aku pikir itu akhir ceritanya.
Ternyata belum.
Enam bulan setelah persidangan, aku mendapat telepon dari pengacara.
“Nadira, ada sesuatu yang harus Anda lihat.”
Aku datang.
Ia menyerahkan satu map.
Di dalamnya ada dokumen lama mengenai tanah kecil di Bogor.
Aku bingung.
“Ini apa?”
“Tanah ini atas nama Anda.”
“Aku tidak punya tanah di Bogor.”
“Sekarang punya.”
Ternyata tiga belas tahun lalu, sebelum aku menikah dengan Arga, Ayah pernah membeli sebidang tanah kecil sebagai investasi.
Dia mendaftarkannya atas namaku.
Aku bahkan sudah lupa.
Beberapa tahun kemudian kawasan itu berkembang.
Nilainya naik sangat besar.
Ayah tidak pernah menjualnya.
Tidak pernah pula memberitahuku tentang kenaikan nilainya.
“Kenapa?”
Aku bertanya kepadanya malam itu.
Ayah tersenyum.
“Karena Ayah ingin kamu punya sesuatu yang tidak pernah bergantung pada suami.”
Mataku panas.
“Tapi kenapa Ayah tidak bilang?”
“Karena dulu kamu terlalu percaya pada Arga. Kalau Ayah bilang, mungkin kamu akan memasukkannya ke aset bersama.”
Dia benar.
Aku pasti akan melakukannya.
Nilai tanah itu sekarang hampir Rp9 miliar.
Dan untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan hidup dengan rasa takut, aku tertawa.
Bukan karena uangnya.
Tapi karena di saat Arga sibuk mencoba mengambil segala sesuatu dariku, ada satu hal yang bahkan tidak pernah ia tahu ada.
Satu bagian dari hidupku yang tidak pernah bisa ia sentuh.
Setahun kemudian, aku menjual apartemen Kalibata.
Banyak orang terkejut.
“Bukankah kamu sudah berjuang mendapatkannya kembali?”
Benar.
Tapi setiap dinding di tempat itu menyimpan suara yang tidak ingin kudengar lagi.
Jadi aku menjualnya.
Dengan sebagian uang hasil penjualan dan aset yang berhasil dipulihkan, aku membeli sebuah rumah sederhana di Bintaro.
Bukan rumah mewah.
Tidak sebesar rumah Sentul yang dulu dibeli Arga.
Tapi halaman depannya cukup untuk Mama menanam bunga.
Ada kamar di lantai bawah agar ia tidak perlu naik tangga saat menginap.
Dan dapurnya memiliki jendela besar.
Hal pertama yang Mama lakukan saat datang adalah membuka jendela itu dan berkata,
“Rumah ini terang.”
Aku tersenyum.
“Iya, Ma.”
Ayah lalu meletakkan satu bingkai kecil di meja dekat ruang makan.
Aku pikir itu foto keluarga.
Ternyata bukan.
Itu salinan dokumen kepemilikan rumah yang baru.
Namaku tercetak jelas.
Nadira Prameswari.
Ayah menepuk bahuku.
“Sekarang jangan kasih tanda tangan ke sembarang orang.”
Aku tertawa sambil menangis.
Mama ikut tertawa.
Dan untuk pertama kalinya sejak pagi ketika Arga menyeretnya keluar dari apartemen, kami bertiga bisa mengingat kejadian itu tanpa merasa kalah.
Beberapa bulan setelah aku pindah, Ratna datang.
Aku hampir tidak membuka pintu.
Tapi akhirnya kubiarkan ia masuk.
Ia terlihat jauh lebih tua.
“Maaf.”
Hanya itu yang dikatakannya.
Aku diam.
Ratna menunduk.
“Aku pikir aku sedang membela anakku.”
Aku menjawab pelan,
“Tidak. Ibu sedang membela orang yang Ibu bayangkan sebagai anak Ibu.”
Dia mulai menangis.
Aku tidak memeluknya.
Aku juga tidak mengusirnya.
Kadang memaafkan bukan berarti kembali dekat.
Kadang memaafkan hanya berarti kita berhenti membawa orang itu ke dalam kepala kita setiap hari.
Sebelum pergi, Ratna menyerahkan sebuah kotak kecil.
Di dalamnya ada kunci rumah Sentul.
“Aku tidak mau ini.”
Aku menatapnya.
“Rumah itu bukan salah Ibu.”
Ratna menggeleng.
“Setiap kali lihat rumah itu, aku ingat semua uang yang bukan milikku.”
Ia pergi tanpa menoleh lagi.
Aku kemudian menjual rumah Sentul setelah proses hukumnya selesai.
Sebagian uangnya kukembalikan ke aset bersama yang dipulihkan.
Sebagian lagi, atas persetujuan pengacara, digunakan untuk menyelesaikan kewajiban yang muncul dari kasus tersebut.
Aku tidak menginginkan rumah yang dibangun dari kebohongan.
Dua tahun berlalu.
Aku membuka toko roti kecil milikku sendiri di Jakarta Selatan.
Namanya sederhana.
Florence Bakery.
Bukan nama Mama yang sebenarnya.
Florence adalah nama bunga kesukaan Mama dalam bahasa yang pernah dipelajarinya saat muda.
Katanya bunga itu berarti berkembang.
Mama duduk dekat kasir hampir setiap pagi, walaupun sebenarnya ia tidak bekerja.
Ayah selalu datang setelah olahraga dan mengeluh bahwa kopi kami terlalu mahal.
Aku pura-pura kesal.
Hidup tidak menjadi sempurna.
Aku masih sulit mempercayai orang.
Kadang aku bangun tengah malam karena bermimpi mendengar suara Arga di lorong apartemen.
Tapi sekarang ketika bangun, aku melihat jendela rumahku.
Aku melihat pintu yang hanya bisa dibuka oleh orang yang kuizinkan.
Dan aku tahu aku aman.
Suatu sore, seorang pelanggan perempuan mendekatiku.
Ia mengenal ceritaku dari proses pengadilan yang sempat diberitakan.
Dia berkata,
“Saya tidak tahu bagaimana Mbak bisa bertahan setelah kehilangan semuanya.”
Aku tersenyum.
“Dulu saya juga pikir saya kehilangan semuanya.”
Aku melihat Mama di dekat jendela.
Ayah sedang menyusun kursi yang sebenarnya tidak perlu disusun.
Lalu aku melihat papan kecil bertuliskan nama toko.
“Sekarang saya tahu saya hanya kehilangan orang yang membuat saya mengira hidup saya bergantung padanya.”
Perempuan itu mengangguk.
Aku melanjutkan,
“Rumah bisa dibeli lagi. Uang bisa dicari lagi. Dokumen bisa diperbaiki.”
Aku berhenti sebentar.
“Tapi kalau seseorang berhasil membuat kita kehilangan rasa hormat kepada diri sendiri, itu yang paling sulit dikembalikan.”
Malam itu aku menutup toko sendiri.
Sebelum pulang, aku berdiri sebentar di depan pintu kaca.
Dua tahun sebelumnya, aku pulang kerja dan menemukan ibuku sedang diseret keluar dari rumahku sendiri.
Hari itu kupikir hidupku sudah selesai.
Ternyata hidupku baru saja memaksaku membuka mata.
Arga mengambil apartemenku.
Mengambil uangku.
Memalsukan tanda tanganku.
Mencoba menghancurkan keluargaku.
Tapi dia melakukan satu kesalahan yang tidak pernah dia sadari.
Dia mengira semua yang berharga dalam hidupku bisa ditulis di atas sebuah dokumen.
Dia salah.
Karena ketika semua kertas itu dibakar oleh kebohongannya, yang tersisa adalah orang-orang yang benar-benar mencintaiku.
Mama.
Ayah.
Dan akhirnya…
diriku sendiri.
Aku mematikan lampu toko.
Mengunci pintu.
Lalu berjalan menuju mobil dengan perasaan yang sudah lama tidak kurasakan.
Ringan.
Bukan karena aku melupakan apa yang terjadi.
Melainkan karena akhirnya aku tidak lagi hidup di dalamnya.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, tidak ada orang lain yang memegang kunci rumahku.
TAMAT.
