TIGA JAM SEBELUM PERNIKAHANKU, AKU PULANG UNTUK MENGAMBIL JAM TANGAN PENINGGALAN AYAH. DI DEPAN PINTU, AKU MENDENGAR TUNANGANKU MENYEBUT NAMAKU. LALU IBUNYA TERTAWA, “TINGGAL TIGA JAM LAGI. SETELAH ITU DIA SUDAH TIDAK BISA MUNDUR.” SEPULUH MENIT KEMUDIAN, AKU MEMBATALKAN PERNIKAHAN. TAPI YANG KULAKUKAN SETELAHNYA MEMBUAT MEREKA BERDUA PANIK.
Tiga jam sebelum aku seharusnya menikah dengan Arga Mahendra, aku berdiri di depan rumahku sendiri dan mendengar ibunya tertawa dari dalam.
“Tinggal tiga jam lagi,” kata Bu Ratna. “Setelah akad selesai, Nadira sudah tidak mungkin mundur begitu saja.”
Lalu Arga menjawab dengan suara santai,
“Begitu semua dokumen beres, rumah ini dan akses ke perusahaan akan menjadi urusanku. Bukan urusan dia lagi.”
Aku langsung membeku.
Namaku Nadira Prameswari.

Pagi itu aku seharusnya berada di sebuah hotel mewah di kawasan Sudirman, Jakarta, mempersiapkan hari yang selama hampir setahun kuanggap sebagai hari paling bahagia dalam hidupku.
Aku pulang sebentar ke rumah karena melupakan satu benda.
Jam tangan milik almarhum ayahku.
Jam tangan tua dengan tali kulit cokelat yang sudah sedikit retak di bagian pinggir. Tidak mahal jika dibandingkan dengan barang-barang yang kumiliki sekarang, tetapi nilainya bagiku tidak bisa diganti dengan uang.
Ayah selalu memakai jam itu ketika mengantarku ke sekolah.
Ia memakainya ketika menandatangani kontrak besar pertama perusahaannya.
Dan jam yang sama masih melingkar di pergelangan tangannya dalam foto keluarga terakhir kami sebelum ia meninggal dunia.
Aku berencana menyelipkannya di balik buket bunga saat berjalan menuju pelaminan.
Seolah-olah Ayah masih menemaniku.
Arga dan ibunya seharusnya sudah berada di hotel untuk sesi foto keluarga.
Namun ketika mobilku memasuki kompleks rumah di Pondok Indah, aku melihat sebuah Mercedes hitam terparkir sekitar dua rumah dari rumahku.
Mobil Arga.
Awalnya aku mengira mungkin ia hanya mampir mengambil sesuatu.
Aku hampir meneleponnya.
Lalu ketika berjalan mendekati pintu depan, aku mendengar namaku disebut.
Jendela dapur di sisi rumah terbuka sedikit.
Suara Bu Ratna terdengar sangat jelas.
“Kamu sudah cukup lama bersabar menghadapi semua sikap sentimentalnya itu. Ayahnya meninggalkan terlalu banyak kendali di tangan Nadira.”
Arga tertawa kecil.
“Dia percaya padaku, Bu.”
“Percaya?” Bu Ratna mendengus. “Dia hampir memujamu.”
“Bukan.”
Nada suara Arga berubah.
“Dia bukan memujaku. Dia cuma terlalu ingin punya keluarga lagi setelah ayahnya meninggal.”
Lalu ia tertawa pelan.
“Itulah alasan semua ini bisa berjalan.”
Tanganku mencengkeram pagar teras.
Aku merasa sesuatu di dalam dadaku runtuh.
Ayah meninggal delapan belas bulan sebelumnya karena serangan jantung.
Saat pemakaman, Arga berdiri di sampingku sepanjang hari.
Ketika kakiku hampir tidak mampu menopang tubuhku, dialah yang memegang bahuku.
Ia membantu mengurus karangan bunga.
Menjawab telepon dari kerabat.
Mengantarkan tamu.
Bahkan ketika malam tiba dan aku menangis sendirian di kamar Ayah, Arga memelukku dan berkata,
“Kamu tidak akan sendirian lagi, Nadira. Aku akan menjadi keluargamu.”
Aku mempercayainya.
Aku bahkan merasa bersalah karena pernah meragukan cinta sebesar itu.
Sekarang, berdiri di luar rumahku sendiri, akhirnya aku mengerti sesuatu.
Mungkin sejak awal Arga memang tahu bagian paling rapuh dalam diriku.
Dan ia menggunakannya.
Suara Bu Ratna terdengar lagi.
“Bagaimana dengan surat perubahan kewenangan itu?”
“Ada di dalam tasku.”
“Dia akan tanda tangan?”
“Tidak hari ini.”
Arga terdengar tenang sekali.
“Setelah bulan madu. Aku akan bilang itu cuma untuk mempermudah pengelolaan perusahaan karena kami sudah menikah. Aku minta dia memasukkan namaku sebagai pihak yang punya kewenangan manajemen.”
Bu Ratna tertawa kecil.
“Dan dia akan setuju?”
“Setelah menikah, dia tidak akan mempertanyakan banyak hal.”
Aku menutup mulut dengan tangan.
Perusahaan yang mereka bicarakan adalah Prameswari Marine Systems, perusahaan teknologi dan logistik maritim yang Ayah bangun selama lebih dari tiga puluh tahun.
Ayah memulainya dari kantor sewaan kecil di Tanjung Priok.
Saat aku masih kecil, kami bahkan pernah menjual mobil keluarga karena perusahaan hampir bangkrut.
Namun Ayah tidak menyerah.
Sedikit demi sedikit, bisnis itu tumbuh.
Ketika beliau meninggal, sebagian besar kepemilikan dan hak suara perusahaan diwariskan kepadaku melalui sebuah struktur kepercayaan keluarga dan sejumlah perjanjian hukum yang sangat ketat.
Arga selalu berpura-pura tidak tertarik.
Setiap kali aku membicarakan rapat direksi, dia akan menguap sambil bercanda.
“Jangan bicara bisnis saat makan malam. Aku menikahimu, bukan perusahaanmu.”
Aku dulu menganggap kalimat itu romantis.
Sekarang aku teringat sesuatu.
Selama dua tahun terakhir, Arga sebenarnya sering melontarkan pertanyaan kecil.
Tentang struktur kepemilikan.
Tentang siapa yang memiliki hak suara terbesar.
Tentang gedung kantor.
Tentang rekening perusahaan.
Tentang apa yang terjadi jika aku menikah.
Tentang apakah pasangan sah bisa mendapat kewenangan tertentu.
Pertanyaan-pertanyaan itu selalu muncul secara terpisah sehingga aku tidak pernah menghubungkannya.
Sampai sekarang.
Bu Ratna bertanya,
“Bagaimana dengan gedung di Jalan Pelabuhan?”
Arga tertawa.
“Itu hadiah utamanya.”
Tubuhku terasa dingin.
Gedung di Jalan Pelabuhan bukan sekadar properti.
Bangunan enam lantai itu adalah kantor pusat pertama perusahaan Ayah.
Di sanalah namaku pertama kali dicantumkan dalam dokumen perusahaan ketika aku berusia dua puluh tiga tahun.
Ayah selalu menolak menjualnya meskipun banyak pengembang menawarkan harga fantastis.
“Bangunan itu bukan cuma aset,” katanya kepadaku suatu hari. “Itu pengingat dari mana kita berasal.”
Beberapa bulan sebelum meninggal, Ayah memindahkan kepemilikan gedung tersebut ke sebuah entitas keluarga yang kendalinya berada di tanganku.
Arga mengetahui nilainya.
Tentu saja dia tahu.
Aku mengeluarkan ponsel.
Tanganku gemetar, tetapi aku menekan tombol rekam.
Aku tidak masuk.
Aku berdiri di balik dinding samping rumah dan membiarkan mereka terus berbicara.
Kemudian Bu Ratna berkata,
“Ayahmu benar juga.”
Arga tertawa.
“Yang mana?”
“Kalau kamu tidak bisa menghasilkan kekayaan sendiri, menikahlah dengan orang yang sudah punya.”
Mereka tertawa bersama.
Kemudian Arga menjawab,
“Aku mendapatkan sesuatu yang lebih baik daripada sekadar uang.”
“Apa?”
“Seseorang yang terlalu emosional untuk melindungi apa yang dia punya.”
Aku tidak menangis.
Justru itu yang membuatku sendiri terkejut.
Tidak ada air mata.
Tidak ada keinginan menerobos masuk lalu berteriak.
Tidak ada adegan dramatis seperti dalam sinetron.
Yang kurasakan justru sesuatu yang jauh lebih dingin.
Jernih.
Seolah-olah sebuah pintu di kepalaku baru saja terbuka.
Aku mematikan rekaman.
Lalu berjalan mengitari sisi belakang rumah.
Ada pintu kecil menuju area servis dan ruang bawah yang biasanya digunakan staf rumah.
Aku masuk menggunakan sidik jariku.
Rumah itu sangat sepi.
Aku bisa mendengar suara Arga dan ibunya dari ruang makan.
Aku melepas sepatu hak tinggi agar langkahku tidak terdengar.
Naik ke lantai dua.
Masuk ke ruang kerja Ayah.
Di balik sebuah lukisan lama terdapat brankas kecil.
Aku memasukkan kode.
Pintu brankas terbuka.
Jam tangan Ayah masih berada di kotak kayunya.
Aku mengambilnya.
Saat hendak pergi, aku melihat sesuatu di atas meja kerjaku.
Tas kerja kulit hitam milik Arga.
Terbuka.
Mungkin dia terlalu percaya diri sehingga tidak merasa perlu menutupnya.
Aku melangkah mendekat.
Di dalamnya ada sebuah map krem.
Aku membukanya.
Napas yang sejak tadi kutahan hampir hilang sama sekali.
Dokumen pertama adalah surat pemberian kewenangan pengelolaan sejumlah aset.
Namaku sudah diketik.
Nama Arga juga tercantum.
Hanya tanda tanganku yang belum ada.
Dokumen kedua berkaitan dengan akses operasional perusahaan.
Dokumen ketiga berisi rancangan perubahan pihak yang memiliki kewenangan atas salah satu entitas pemegang properti keluarga.
Aku memotret setiap halaman.
Lalu aku melihat sesuatu yang membuat darahku terasa berhenti mengalir.
Sebuah fotokopi ringkasan dokumen warisan Ayah.
Dokumen itu bukan sesuatu yang pernah kuberikan kepada Arga.
Bahkan sebagian keluarga besarku tidak pernah melihatnya.
Hanya aku, pengacara Ayah, dan dua orang kepercayaan perusahaan yang memiliki akses.
Bagaimana Arga mendapatkannya?
Aku memotret halaman itu juga.
Kemudian kukembalikan semua dokumen tepat seperti sebelumnya.
Aku mengambil jam tangan Ayah.
Menutup brankas.
Turun melalui tangga belakang.
Keluar dari rumah.
Tidak ada satu pun dari mereka yang tahu aku pernah berada di sana.
Aku masuk ke mobil.
Mengunci pintu.
Barulah aku melihat wajahku sendiri di kaca spion.
Riasan pengantinku sudah hampir sempurna.
Rambutku ditata.
Anting berlian pemberian Arga menggantung di telingaku.
Tiga jam lagi, ratusan orang akan duduk di ballroom hotel menunggu kami.
Keluarga.
Sahabat.
Rekan bisnis Ayah.
Direksi perusahaan.
Semua orang yang mengenalku akan melihatku berjalan menuju pria yang beberapa menit sebelumnya menyebutku terlalu emosional untuk melindungi hidupku sendiri.
Aku mengambil ponsel.
Pukul 10.17.
Aku menelepon manajer acara hotel.
“Halo, ini Nadira Prameswari.”
“Selamat pagi, Bu Nadira. Kami sedang mempersiapkan—”
“Batalkan pernikahannya.”
Hening.
“Maaf, Bu?”
“Semua acara hari ini.”
Suara perempuan itu terdengar ragu.
“Maksud Ibu… seluruh resepsi?”
“Seluruhnya.”
“Tapi tamu akan mulai datang kurang dari dua jam lagi.”
“Aku tahu.”
“Apakah kami perlu menghubungi Pak Arga?”
“Tidak.”
Aku melihat rumahku dari balik kaca mobil.
“Aku sendiri yang akan menangani itu.”
Aku menutup telepon.
Kemudian melakukan panggilan kedua.
Kepada Martin Santoso.
Pengacara Ayah selama hampir dua puluh tahun.
Ia menjawab setelah dering kedua.
“Nadira? Bukankah hari ini kamu menikah?”
“Seharusnya.”
Nada suaranya langsung berubah.
“Apa yang terjadi?”
Aku mengirimkan beberapa foto yang baru saja kuambil.
Lalu rekaman percakapan Arga dan ibunya.
Beberapa detik kemudian tidak ada suara dari seberang.
“Martin?”
“Aku sedang melihatnya.”
Aku menunggu.
Kemudian suaranya berubah dingin dan serius.
“Nadira, dengarkan saya baik-baik.”
Aku menggenggam jam tangan Ayah di telapak tanganku.
“Ya?”
“Jangan konfrontasi Arga dulu.”
Aku menatap rumah tempat calon suamiku sedang merencanakan bagaimana mengambil kendali atas hidup yang dibangun Ayah untukku.
Anehnya, aku tersenyum.
“Aku memang tidak berencana melakukannya.”
Martin terdiam.
“Kamu mau melakukan apa?”
Aku menatap jam tangan Ayah.
Jarumnya masih bergerak.
Tik.
Tik.
Tik.
Seolah-olah Ayah sedang mengingatkanku bahwa kali ini aku tidak boleh terlambat mengambil keputusan.
“Aku ingin mereka tetap percaya,” kataku pelan, “bahwa aku belum mengetahui apa pun.”
Martin menarik napas.
“Nadira…”
“Kalau Arga menginginkan akses ke perusahaan dan gedung Ayah,” kataku, “mungkin sudah waktunya kita mencari tahu seberapa jauh dia sudah masuk.”
Saat itulah Martin mengatakan sesuatu yang membuat tanganku berhenti bergerak.
“Nadira, ada satu hal lagi yang harus kamu tahu.”
“Apa?”
“Dua minggu lalu, seseorang mencoba mengajukan perubahan akses terhadap salah satu rekening operasional perusahaan.”
Jantungku berdetak keras.
“Siapa?”
“Kami belum tahu.”
Martin berhenti sejenak.
“Tapi setelah melihat dokumen yang baru saja kamu kirim… saya rasa sekarang kita punya petunjuk.”
Aku menoleh kembali ke rumah.
Beberapa detik kemudian pintu depan terbuka.
Arga keluar bersama ibunya.
Keduanya tersenyum.
Mereka tidak tahu aku berada kurang dari seratus meter dari sana.
Mereka juga belum tahu bahwa pernikahannya telah dibatalkan.
Dan yang lebih penting…
Mereka belum tahu bahwa sebelum matahari terbenam hari itu, akses Arga ke sesuatu yang jauh lebih besar daripada pesta pernikahan akan mulai ditutup satu per satu.
Aku menyalakan mesin mobil.
Lalu berkata kepada Martin,
“Bekukan semua akses yang secara hukum bisa kita bekukan.”
“Nadira, kalau kita melakukan itu sekarang, Arga akan langsung tahu.”
Aku memandang Mercedes hitamnya.
“Bagus.”
“Bukankah tadi kamu bilang tidak ingin dia tahu?”
Aku tersenyum tipis.
“Aku tidak ingin dia tahu bahwa aku mendengar percakapan mereka.”
Aku memasukkan jam tangan Ayah ke dalam tas.
“Tapi aku ingin dia tahu bahwa sesuatu telah berubah.”
Tiga puluh menit kemudian, ponselku mulai bergetar.
ARGO — 1 PANGGILAN TAK TERJAWAB.
Lalu lagi.
ARGO — 2 PANGGILAN TAK TERJAWAB.
Kemudian pesan masuk.
“Nadira, kamu di mana? Hotel bilang ada masalah dengan acara.”
Lalu pesan kedua.
“Telepon aku sekarang.”
Beberapa detik kemudian nama lain muncul.
BU RATNA.
Lalu lagi.
Dan lagi.
Aku meletakkan ponsel dalam mode senyap.
Karena mereka mengira masalah terbesar mereka pagi itu adalah pernikahan yang dibatalkan.
Mereka belum tahu apa yang baru saja ditemukan Martin di balik percobaan perubahan rekening perusahaan.
Dan ketika aku akhirnya mengetahui siapa yang membantu Arga mendapatkan salinan dokumen rahasia milik Ayah…
Aku sadar bahwa pengkhianatan itu ternyata tidak hanya datang dari calon suamiku.
Ada seseorang yang jauh lebih dekat denganku yang sudah membantu mereka sejak awal.
Ponselku bergetar tanpa henti selama hampir dua puluh menit.
Arga menelepon sebelas kali.
Bu Ratna tujuh kali.
Lalu ibuku.
Kemudian adik sepupuku.
Lalu wedding organizer.
Lalu Arga lagi.
Aku tidak mengangkat satu pun.
Aku mengemudi menuju kantor lama Ayah di Jalan Pelabuhan, gedung enam lantai yang selama ini selalu dianggap Arga sebagai “hadiah utama.”
Sebenarnya, sejak Ayah meninggal, aku jarang datang ke sana.
Bukan karena tidak peduli.
Aku hanya belum sanggup.
Di lantai tiga masih ada ruang kerja Ayah yang hampir tidak berubah. Meja kayu jati, rak buku yang penuh map tua, teko kopi stainless steel yang tutupnya sedikit penyok, sampai jas hujan abu-abu yang masih tergantung di balik pintu.
Hari itu, untuk pertama kalinya dalam delapan belas bulan, aku masuk tanpa merasa ingin menangis.
Martin sudah menunggu.
Pria berusia enam puluhan itu berdiri di dekat jendela dengan wajah jauh lebih tegang daripada biasanya.
Di sampingnya ada seorang perempuan yang kukenal.
Siska.
Kepala audit internal perusahaan.
Begitu melihatnya, langkahku berhenti.
“Siska?”
Ia terlihat pucat.
“Maaf, Bu Nadira.”
Aku menatap Martin.
“Apa yang terjadi?”
Martin menunjuk kursi.
“Duduk dulu.”
“Aku tidak mau duduk. Katakan.”
Siska memegang sebuah tablet dengan kedua tangan.
“Kami menemukan siapa yang menggunakan salinan dokumen trust.”
Jantungku mulai berdetak lebih cepat.
“Siapa?”
Ia menelan ludah.
“Bukan Arga yang mengambilnya pertama kali.”
Ruangan terasa mendadak sempit.
Martin melanjutkan, “Salinan ringkasan itu pernah dicetak dari server legal perusahaan empat bulan lalu.”
“Siapa yang mengakses?”
Siska menatapku sebentar sebelum menjawab.
“Pak Surya.”
Aku tidak langsung mengerti.
Lalu nama itu benar-benar masuk ke kepalaku.
Surya Prameswari.
Paman kandungku.
Adik Ayah.
Orang yang selama ini duduk di kursi komisaris perusahaan karena Ayah sendiri yang memasukkannya dua puluh tahun lalu.
Orang yang memelukku di pemakaman sambil berkata, “Kalau kakakmu sudah tidak ada, Paman yang akan jaga kamu.”
Aku tertawa kecil.
Bukan karena lucu.
Karena tubuhku seolah tidak tahu harus bereaksi bagaimana.
“Paman Surya?”
Siska mengangguk.
“Akunnya mengakses dokumen itu pukul 22.14 pada tanggal 18 Mei.”
“Dia bisa saja mencetak untuk urusan perusahaan.”
Martin menggeleng.
“Tidak seharusnya. Dokumen itu tidak berkaitan dengan operasional komisaris.”
Aku menatap jendela.
Pelabuhan di kejauhan tampak sibuk seperti biasa.
Truk keluar masuk.
Kapal bergerak.
Orang-orang tetap bekerja.
Sementara hidupku seperti sedang dibongkar satu lapisan demi satu lapisan.
“Apakah dia yang mencoba mengubah akses rekening?”
“Belum bisa kami pastikan,” kata Siska. “Tapi ada hal lain.”
Ia membuka sebuah folder digital.
“Dua bulan lalu, perusahaan menerima permintaan konsultasi dari firma kecil bernama Mahardika Corporate Advisory.”
Nama itu tidak berarti apa-apa bagiku.
Siska melanjutkan.
“Firma itu ternyata baru berdiri sebelas bulan lalu.”
“Pemiliknya?”
Ia memutar layar.
Satu nama muncul.
ARGA MAHENDRA.
Aku menatap tulisan itu lama.
“Aku tidak pernah tahu dia punya perusahaan konsultasi.”
“Memang tidak pernah diumumkan.”
Martin berkata pelan, “Dan firma itu sudah menerima tiga pembayaran konsultasi dari salah satu vendor kita.”
“Vendor mana?”
“Sagara Logistic Support.”
Aku mengenal nama itu.
Mereka menangani sebagian distribusi alat navigasi di Jawa Timur.
“Berapa?”
“Total Rp1,8 miliar.”
Aku merasa seperti baru ditampar.
“Untuk pekerjaan apa?”
Siska menggeleng.
“Tidak ada hasil pekerjaan yang jelas. Deskripsi invoice-nya sangat umum.”
Aku menarik napas panjang.
“Paman Surya menyetujui vendor itu?”
“Ya.”
Jawaban itu terlalu cepat.
Terlalu bersih.
Terlalu jelas.
Aku berjalan ke meja Ayah.
Tanganku menyentuh permukaan kayunya.
Tiba-tiba aku teringat sesuatu.
Enam bulan sebelum meninggal, Ayah pernah berkata padaku saat kami makan malam di rumah,
“Orang yang paling berbahaya dalam bisnis bukan orang yang membencimu.”
Aku bertanya, “Lalu siapa?”
Ayah menjawab sambil menuang teh,
“Orang yang merasa berhak atas sesuatu yang bukan miliknya.”
Saat itu kupikir ia sedang bicara tentang pesaing.
Sekarang aku tidak lagi yakin.
Ponselku bergetar lagi.
Arga.
Kali ini ada pesan panjang.
“Nadira, ini keterlaluan. Kamu mempermalukan aku dan keluarga di depan ratusan tamu. Kalau ada masalah, kita bicara seperti orang dewasa. Jangan bertindak emosional.”
Aku menatap kalimat terakhir.
Bertindak emosional.
Persis kata yang dia gunakan saat bicara dengan ibunya.
Aku menunjukkan layar kepada Martin.
Ia tersenyum tipis tanpa humor.
“Dia masih berpikir itu kelemahanmu.”
“Biarkan.”
Aku mengetik balasan pertama sejak pagi.
“Aku di kantor lama Ayah. Kalau kamu ingin bicara, datang sendiri. Jangan bawa ibumu.”
Kukirim.
Martin langsung menatapku.
“Kamu yakin?”
“Tidak.”
Aku menyimpan ponsel.
“Tapi aku ingin melihat wajahnya ketika dia sadar aku tahu lebih banyak daripada yang dia kira.”
Arga tiba empat puluh menit kemudian.
Ia masih mengenakan setelan pernikahan.
Dasi sudah dilepas.
Rambut yang tadi pagi tertata rapi sekarang berantakan.
Begitu pintu ruang rapat terbuka, ia langsung masuk dengan wajah merah.
“Apa-apaan ini, Nadira?”
Aku duduk di ujung meja panjang.
Martin berada di sisi kanan.
Siska sudah keluar.
Arga memandang Martin lalu kembali kepadaku.
“Kamu bahkan membawa pengacara?”
“Aku sedang berada di perusahaan. Martin kebetulan ada di sini.”
“Jangan main kata-kata.”
Ia berjalan mendekat.
“Kamu membatalkan pernikahan tanpa bicara denganku.”
“Benar.”
“Kenapa?”
Aku menatapnya tenang.
“Karena aku berubah pikiran.”
Ia tertawa keras.
“Berubah pikiran tiga jam sebelum akad?”
“Ya.”
“Kamu tahu berapa banyak uang yang sudah dikeluarkan?”
“Aku yang membayar sebagian besar.”
Wajahnya berubah.
“Apa maksudmu?”
“Tidak ada.”
Aku menyilangkan tangan.
“Lanjutkan.”
Arga memandang Martin seperti ingin memaksanya keluar.
“Bisa kita bicara berdua?”
“Tidak.”
“Nadira.”
“Tidak.”
Ia menahan napas.
Lalu nadanya berubah.
Lebih lembut.
Nada yang dulu sering berhasil padaku.
“Sayang, kalau ini karena kamu panik soal menikah, itu wajar. Kamu kehilangan Ayah. Kamu takut membangun keluarga baru. Aku mengerti.”
Aku hampir kagum.
Ia sangat pandai.
Bahkan setelah semuanya, ia masih mencoba menggunakan kematian Ayah sebagai alat.
“Kamu mengerti sekali, ya?”
“Tentu.”
“Termasuk soal Harbor Street?”
Tubuhnya membeku sepersekian detik.
Cukup.
Aku melihatnya.
Martin juga.
Arga tersenyum.
“Apa hubungannya?”
“Aku cuma bertanya.”
“Kenapa tiba-tiba bicara soal gedung?”
Aku berdiri.
“Karena menarik saja. Semua orang hari ini sibuk bicara soal pernikahan, tapi aku penasaran kenapa kamu terlihat lebih takut kehilangan sesuatu yang lain.”
“Aku tidak takut.”
“Bagus.”
Aku membuka map di depanku.
“Karena mulai siang ini, semua komunikasi kamu dengan vendor perusahaan akan diperiksa.”
Wajahnya langsung kehilangan warna.
“Apa?”
“Juga seluruh hubungan Mahardika Corporate Advisory dengan Sagara Logistic Support.”
Hening.
Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, Arga benar-benar tidak punya kalimat siap pakai.
Ia menatap Martin.
Lalu aku.
“Aku bisa jelaskan.”
Aku tersenyum kecil.
“Aku belum menuduh apa-apa.”
Ia sadar kesalahannya.
Terlambat.
“Nadira…”
“Kenapa kamu merasa perlu menjelaskan kalau aku belum menuduhmu?”
Ia mengepalkan tangan.
Lalu akhirnya berkata,
“Firma itu cuma proyek sampingan.”
“Yang menghasilkan Rp1,8 miliar?”
“Itu bukan uang ilegal.”
“Bagus.”
Aku mengangguk.
“Berarti audit tidak akan menjadi masalah.”
Arga mencondongkan tubuh.
“Kamu melakukan ini karena marah?”
“Tidak.”
“Karena pernikahan?”
“Bukan.”
“Lalu kenapa?”
Aku memandang tepat ke matanya.
“Karena aku mendengar percakapanmu dengan ibumu pagi tadi.”
Wajah Arga benar-benar runtuh.
Tidak dramatis.
Tidak ada teriakan.
Justru sangat kecil.
Pupilnya membesar.
Bibirnya terbuka sedikit.
Kemudian ia berkata,
“Kamu… ada di rumah?”
“Ya.”
Berbagai pikiran bergerak di wajahnya.
“Apa yang kamu dengar?”
“Cukup.”
“Nadira, dengarkan—”
“Aku juga melihat tas kerjamu.”
Ia langsung berdiri tegak.
“Apa kamu menggeledah barangku?”
“Aku memotret dokumen yang sudah mencantumkan namaku tanpa seizinku.”
“Itu hanya draft!”
“Dan salinan ringkasan trust Ayah?”
Ia diam.
Sekarang tidak ada lagi tempat bersembunyi.
“Dari siapa kamu mendapatkannya?”
Arga menatap lantai.
Aku bertanya lagi.
“Dari siapa?”
“Nadira…”
“Paman Surya?”
Kepalanya terangkat.
Itulah jawabannya.
Aku tertawa pelan.
“Terima kasih.”
“Kamu menjebakku.”
“Tidak. Kamu yang menjawab.”
Ia berjalan menjauh dari meja.
“Kamu tidak tahu seluruh ceritanya.”
“Kalau begitu ceritakan.”
“Pamanmu datang kepadaku lebih dulu.”
Aku tidak menyangka ia akan langsung berkata begitu.
Martin pun berubah posisi.
Arga menatapku.
“Sekitar setahun lalu.”
“Sebelum Ayah meninggal?”
“Tidak. Beberapa bulan sesudah.”
“Apa yang dia inginkan?”
“Dia bilang perusahaan itu seharusnya dibagi lebih adil.”
Aku menahan napas.
“Adil menurut siapa?”
“Menurut dia.”
Arga menjawab cepat.
“Dia bilang ayahmu selalu memperlakukannya seperti pegawai, bukan saudara.”
“Jadi kalian berdua sepakat mencuri?”
“Kami tidak mencuri!”
Ia membentak.
“Jangan pakai kata itu!”
“Lalu apa?”
“Kami cuma menyusun struktur supaya ketika aku menikah denganmu, Paman Surya punya jalan untuk menyeimbangkan kekuasaan.”
Aku menatapnya tidak percaya.
“Menyeimbangkan?”
“Dia bilang kamu terlalu muda untuk mengendalikan semuanya.”
Aku tertawa.
“Aku tiga puluh empat tahun.”
“Bukan soal umur.”
“Lalu?”
Arga berhenti.
Jawabannya keluar lebih pelan.
“Dia bilang kamu terlalu mirip ayahmu.”
Untuk pertama kalinya, kalimat itu justru tidak menyakitiku.
Malah terasa seperti penghargaan.
Aku menatap Arga.
“Dan kamu?”
“Aku…”
Ia mengusap wajah.
“Nadira, awalnya memang soal bisnis.”
Aku tidak bergerak.
Ia menatapku dengan mata merah.
“Tapi aku benar-benar mencintaimu.”
Kalimat itu terdengar hampir meyakinkan.
Mungkin sebagian dirinya memang mempercayainya.
“Aku mencintaimu,” ulangnya. “Aku cuma… aku capek selalu menjadi orang yang berdiri di sebelahmu.”
“Apa maksudmu?”
“Semua orang melihatmu dulu.”
Suaranya berubah.
Lebih jujur daripada yang pernah kudengar.
“Di restoran, pelayan mengenal nama keluargamu. Di acara bisnis, orang ingin bicara denganmu. Bahkan rumah yang kita rencanakan nanti milikmu. Mobil yang kita pakai sebagian besar dibeli dari uangmu. Semua orang tahu aku adalah calon suami Nadira Prameswari.”
Ia tertawa pahit.
“Bukan Arga Mahendra.”
Akhirnya aku mengerti.
Bukan cuma uang.
Itu juga penghinaan yang ia ciptakan sendiri di kepalanya.
“Aku tidak pernah membuatmu merasa kecil.”
“Aku tahu.”
“Lalu kenapa?”
“Karena kamu tidak perlu melakukannya.”
Air matanya mulai muncul.
“Keberadaanmu sudah cukup.”
Aku hampir merasa kasihan.
Hampir.
Lalu aku ingat suaranya pagi tadi.
Seseorang yang terlalu emosional untuk melindungi apa yang dia punya.
“Keluar.”
Arga menatapku.
“Nadira…”
“Keluar dari gedung ini.”
“Kita masih bisa memperbaiki—”
“Tidak.”
Ia mendekat satu langkah.
“Dua tahun kita bersama.”
“Dan ternyata aku tidak tahu siapa kamu.”
Ia menatapku lama.
Lalu berkata pelan,
“Kamu akan menyesal.”
Martin berdiri.
“Pak Arga.”
Namun aku mengangkat tangan.
“Biarkan dia.”
Aku menatap pria yang beberapa jam sebelumnya hampir menjadi suamiku.
“Mungkin aku akan menyesal.”
Aku berkata tenang.
“Tapi aku lebih baik menyesali pernikahan yang kubatalkan daripada menghabiskan dua puluh tahun menyesali pernikahan yang tetap kulanjutkan.”
Arga tidak menjawab.
Ia pergi.
Begitu pintu tertutup, aku duduk.
Tanganku mulai gemetar.
Bukan karena takut.
Karena baru sekarang tubuhku mengizinkan dirinya merasakan semuanya.
Martin menuangkan air.
“Ada satu hal lagi.”
Aku tertawa pahit.
“Tentu saja ada.”
Ia menyerahkan sebuah amplop.
“Ayahmu meninggalkan ini.”
Aku menatapnya.
“Apa?”
“Beliau memberi saya instruksi khusus.”
“Kapan?”
“Tiga minggu sebelum meninggal.”
Aku mengambil amplop itu.
Tulisan tangan Ayah ada di depan.
Untuk Nadira. Buka hanya jika Surya mencoba mengambil kendali.
Aku tidak bisa bernapas.
“Martin…”
“Saya tidak boleh memberikannya sebelum kondisi itu terpenuhi.”
Tanganku gemetar saat membuka amplop.
Di dalamnya ada surat tulisan tangan.
Nadira,
Kalau kamu membaca ini, berarti firasat Ayah benar.
Surya mungkin akan mengatakan Ayah tidak adil kepadanya.
Mungkin benar.
Ada sesuatu yang tidak pernah Ayah ceritakan kepadamu.
Dua puluh enam tahun lalu, ketika perusahaan hampir bangkrut, Surya mengambil uang perusahaan untuk menutup utang pribadinya.
Ayah tidak melaporkannya karena Nenek masih hidup dan Ayah tidak sanggup membuat keluarga hancur.
Sebagai gantinya, Surya menyerahkan sebagian sahamnya.
Ia tidak kehilangan haknya karena Ayah rakus.
Ia kehilangan haknya karena Ayah menyelamatkannya dari penjara.
Mataku kabur.
Aku terus membaca.
Kalau suatu hari dia mencoba mengambil kembali apa yang sudah ia lepaskan, jangan merasa bersalah karena melindungi perusahaan.
Namun dengarkan ini baik-baik.
Jangan melindungi perusahaan karena uang.
Lindungi orang-orang yang bekerja di dalamnya.
Gedung bisa dibangun lagi.
Uang bisa dicari lagi.
Tapi kepercayaan, kalau sudah hilang, jarang bisa kembali.
Dan satu lagi.
Jangan pernah menikahi seseorang hanya karena kamu takut sendirian.
Kesepian tidak lebih buruk daripada hidup bersama orang yang membuatmu kehilangan dirimu sendiri.
Aku berhenti membaca.
Air mataku akhirnya jatuh.
Untuk pertama kalinya hari itu.
Bukan karena Arga.
Karena Ayah.
Ia sudah tahu.
Bahkan sebelum aku tahu bahwa aku sedang takut hidup sendirian, Ayah sudah melihatnya.
Di bagian paling bawah surat ada satu kalimat.
Kalau suatu hari kamu memilih pergi dari seseorang yang salah, jangan merasa kamu gagal membangun keluarga.
Kamu sedang menyelamatkan keluarga yang masih tersisa.
Dirimu sendiri.
Aku menutup mulut.
Martin memalingkan wajah, memberiku ruang.
Beberapa menit kemudian ponselnya berbunyi.
Ia melihat layar.
“Pamanmu ada di bawah.”
Aku menyeka air mata.
“Surya?”
“Ya.”
“Bagaimana dia tahu?”
Martin menatapku.
“Arga mungkin meneleponnya.”
Aku berdiri.
“Suruh naik.”
Lima menit kemudian, Paman Surya masuk.
Ia terlihat jauh lebih tua daripada biasanya.
Tidak marah.
Tidak arogan.
Justru lelah.
Ia melihat surat di tanganku.
Wajahnya berubah.
“Kakakmu masih menyimpannya?”
“Ayah menyimpannya untukku.”
Paman Surya duduk tanpa diminta.
“Nadira…”
“Apa surat ini benar?”
Ia tidak menjawab.
“Paman.”
Matanya mulai basah.
“Benar.”
Hanya satu kata.
Tapi cukup untuk meruntuhkan sisa keraguanku.
“Kenapa?”
Ia menghela napas panjang.
“Karena selama dua puluh enam tahun, aku melihat kakakmu dipuji sebagai orang yang membangun semuanya.”
“Karena Ayah memang membangunnya.”
“Aku ada sejak awal.”
“Tapi Paman mengambil uang perusahaan.”
Ia menutup mata.
“Ya.”
“Dan Ayah melindungi Paman.”
“Ya.”
“Lalu Paman membalasnya dengan mencoba mengambil perusahaan dari anaknya?”
Wajahnya tertekuk.
“Aku marah.”
“Pada siapa?”
“Pada diriku sendiri.”
Ia mengusap mata.
“Tapi lebih mudah marah pada kakakmu.”
Ruangan hening.
“Arga datang padaku beberapa bulan setelah kakakmu meninggal. Dia bilang kamu terlalu banyak mendengar nasihat Martin dan direksi lama. Dia bilang setelah menikah, dia bisa membuat struktur kepemilikan lebih fleksibel.”
“Dan Paman percaya?”
“Aku ingin percaya.”
Aku mengangguk pelan.
“Karena itu menguntungkan Paman.”
Ia tidak membantah.
“Aku salah.”
“Ya.”
“Nadira, aku siap mundur.”
Aku menatapnya.
“Mundur bukan hukuman.”
Ia terkejut.
“Lalu?”
“Kita audit seluruh transaksi yang melibatkan Paman.”
Ia mengangguk perlahan.
“Kalau ada pelanggaran hukum, prosesnya tetap jalan.”
Wajahnya pucat.
“Tapi kita keluarga.”
Aku menatapnya lama.
“Justru karena selama ini orang memakai kalimat itu untuk menutupi semuanya.”
Ia tidak mampu menjawab.
Seminggu kemudian, Surya resmi mengundurkan diri dari dewan komisaris.
Audit menemukan beberapa transaksi bermasalah, tetapi juga membuktikan sesuatu yang tidak kuduga.
Arga ternyata lebih jauh masuk ke jaringan vendor daripada Surya.
Ia menggunakan kedekatannya denganku untuk mengumpulkan informasi, tetapi sebagian uang yang diterimanya dari vendor tidak pernah diketahui Surya.
Arga bukan sekadar pion.
Ia merancang jalannya sendiri.
Tiga bulan kemudian, penyelidikan resmi dimulai.
Aku tidak mengikuti setiap detail.
Aku menyerahkan semuanya kepada pengacara dan auditor.
Aku tidak ingin hidupku selanjutnya tetap berputar di sekitar Arga.
Bu Ratna sempat datang ke rumah.
Ia berdiri di depan pagar selama hampir satu jam.
Ketika akhirnya aku keluar, perempuan yang dulu selalu bicara dengan penuh keyakinan itu tampak jauh lebih kecil.
“Nadira,” katanya, “tolong hentikan semua ini.”
“Aku tidak bisa.”
“Arga bisa kehilangan masa depannya.”
Aku memandangnya.
“Dia hampir mengambil masa depanku.”
“Itu berbeda.”
Aku tersenyum.
“Bagi seorang ibu, mungkin.”
Bu Ratna mulai menangis.
“Kamu pernah mencintainya.”
“Benar.”
“Bukankah itu berarti sesuatu?”
Aku memikirkan pertanyaannya.
“Berarti.”
Aku menjawab.
“Artinya aku pernah memberikan kepercayaan dengan sungguh-sungguh.”
Aku menatapnya lurus.
“Tapi cinta bukan izin untuk berkhianat.”
Ia pergi tanpa berkata lagi.
Enam bulan setelah pernikahan yang tidak pernah terjadi itu, aku kembali ke ballroom hotel yang sama.
Bukan untuk menikah.
Perusahaan mengadakan acara penghargaan bagi karyawan yang sudah bekerja lebih dari dua puluh tahun.
Di atas panggung, aku melihat wajah-wajah yang dulu dikenal Ayah.
Teknisi.
Akuntan.
Sopir.
Operator pelabuhan.
Orang-orang yang ikut membangun perusahaan bahkan sebelum aku mengerti apa arti kata bisnis.
Di barisan depan duduk Martin.
Di sampingnya, sebuah kursi kosong.
Aku sengaja membiarkannya begitu.
Ketika tiba waktuku memberi sambutan, aku memakai jam tangan Ayah.
Tali kulitnya sudah diperbaiki.
Aku berdiri di depan ratusan orang.
“Ayah saya pernah mengatakan bahwa perusahaan bukan gedung, rekening, atau nama keluarga.”
Aku menarik napas.
“Perusahaan adalah orang-orang yang memilih datang setiap hari dan menjaga kepercayaan satu sama lain.”
Aku melihat kursi kosong itu.
“Beberapa bulan terakhir mengajarkan saya bahwa kehilangan kepercayaan terasa lebih menyakitkan daripada kehilangan uang.”
Ruangan sunyi.
“Tapi saya juga belajar sesuatu.”
Aku tersenyum.
“Kehilangan orang yang salah kadang bukan kehilangan.”
Beberapa orang mulai bertepuk tangan.
Aku melanjutkan,
“Kadang itu adalah ruang yang akhirnya terbuka agar kita bisa kembali menemukan diri sendiri.”
Tepuk tangan memenuhi ballroom.
Malam itu, setelah semua orang pulang, aku berdiri sendirian di balkon hotel.
Jakarta berkilau di bawah.
Martin datang membawa dua cangkir teh.
“Pernah membayangkan malam ini seharusnya seperti apa?”
Aku tersenyum.
“Dulu, iya.”
“Menyesal?”
Aku melihat jam tangan Ayah.
“Tidak.”
Lalu aku berkata,
“Aneh ya. Hari ketika pernikahanku batal dulu terasa seperti hari terburuk dalam hidupku.”
Martin mengangguk.
“Sekarang?”
Aku memandang lampu kota.
“Sekarang aku pikir itu hadiah terakhir Ayah.”
Martin tersenyum.
“Bagaimana bisa?”
Aku menyentuh jam tangan itu.
“Kalau aku tidak lupa membawa jam ini…”
Aku berhenti.
“…aku tidak akan pulang.”
Hening.
Aku baru benar-benar memikirkan kebetulan itu.
Aku sebenarnya sudah meletakkan jam itu di tas malam sebelumnya.
Aku yakin.
Sangat yakin.
Namun pagi hari, jam itu kembali berada di dalam brankas rumah.
Aku pernah mengira mungkin aku sendiri yang lupa.
Beberapa hari kemudian aku bertanya kepada Mbak Wati, pengurus rumah yang sudah bekerja bersama keluarga kami sejak aku SMP.
Jawabannya membuatku terdiam.
Pagi sebelum pernikahan, ia melihat Bu Ratna masuk ke ruang kerjaku ketika aku sedang mandi.
Katanya, Bu Ratna mengatakan ingin mencari charger.
Tidak ada yang mencurigainya.
Sampai sekarang.
Berarti mungkin Bu Ratna sendiri yang mengeluarkan jam itu dari tasku dan mengembalikannya ke brankas.
Mungkin karena ia ingin memastikan aku tidak membawa barang “tua” milik Ayah ke pesta.
Mungkin karena ia menganggapnya jelek.
Mungkin hanya tindakan kecil yang tidak pernah ia pikirkan dua kali.
Tapi tindakan itulah yang membuatku pulang.
Tindakan Bu Ratna sendiri.
Aku mulai tertawa pelan.
Martin menatapku.
“Kenapa?”
Aku menggeleng.
“Tidak apa-apa.”
Ternyata mereka hampir berhasil.
Mereka sudah menyusun rencana.
Menyiapkan dokumen.
Mengatur akses.
Membayangkan masa depanku tanpa bertanya kepadaku.
Namun orang yang tanpa sengaja menghancurkan seluruh rencana itu justru Bu Ratna sendiri.
Karena ia memindahkan satu jam tangan tua.
Benda yang dianggapnya tidak penting.
Peninggalan seorang pria yang mereka kira sudah tidak bisa lagi melindungiku.
Aku memandang jarum jam yang terus bergerak.
Tik.
Tik.
Tik.
Ayah memang sudah pergi.
Tapi ajarannya tetap tinggal.
Dan untuk pertama kalinya sejak kematiannya, aku tidak merasa sendirian.
Aku merasa bebas.
Bukan karena aku mempertahankan rumah.
Bukan karena perusahaan tetap menjadi milikku.
Bukan pula karena Arga akhirnya harus menghadapi akibat dari pilihannya.
Aku bebas karena akhirnya aku mengerti sesuatu yang seharusnya kupahami sejak lama.
Keluarga bukanlah orang yang berkata, “Kamu tidak akan sendirian lagi,” lalu menggunakan ketakutanmu untuk mengendalikanmu.
Keluarga adalah orang yang mengajarkanmu berdiri sendiri sehingga ketika suatu hari mereka tidak lagi ada di sampingmu, kamu tetap tahu siapa dirimu.
Aku mengangkat pergelangan tangan.
Jam tua Ayah menunjukkan hampir tengah malam.
Aku tersenyum.
“Pulang, yuk.”
Martin mengangguk.
“Kemana?”
Aku memandang kota sekali lagi.
“Ke rumah.”
Dan untuk pertama kalinya, kata itu tidak lagi berarti tempat yang pernah kurencanakan untuk dibagi dengan Arga.
Rumah adalah hidup yang hampir kuserahkan kepada orang lain.
Dan sekarang—
aku mengambilnya kembali.
