Saat Ikan yang Kubeli Diberikan Diam-Diam kepada Adik Ipar, Aku Berhenti Membeli Daging—Delapan Belas Hari Kemudian Ibu Mertua Menangis karena Rahasia Rekening Terbongkar
Bagian 1 — Ibu Mertua Memberikan Ikan Mahal yang Kubeli kepada Putrinya, Suamiku Menyebutku Pelit, Maka Sejak Besok Aku Mengubah Isi Meja Makan
Aku membuka freezer dan berdiri cukup lama di depannya.
Dua ekor kakap merah yang kubeli pagi tadi sudah tidak ada.
Aku menarik laci bawah, memeriksa rak samping, bahkan membuka kantong plastik berisi makanan beku satu per satu.
Kosong.
Yang tersisa hanya sebungkus bakso lama dan setengah kantong kacang tanah yang dibawa Ibu Mertua dari kampung beberapa bulan lalu.
“Bu, ikannya di mana?”
Ibu Mertua, Bu Yati, sedang melipat pakaian di ruang tengah.
Tanpa menoleh, dia menjawab santai.
“Tadi Rina mampir. Ibu suruh bawa pulang.”
Tanganku berhenti di gagang freezer.
“Dua-duanya?”
“Memangnya kenapa kalau dua-duanya?”
Bu Yati akhirnya menoleh.
“Anaknya Rina suka ikan. Anak kecil perlu makanan bergizi supaya cepat besar.”
Aku menarik napas.
Dua ikan itu kubeli seharga Rp186.000 di pasar ikan dekat kantorku.
Aku sengaja keluar saat jam istirahat dan berjalan hampir dua puluh menit karena suamiku, Dimas, belakangan sering mengeluh perutnya tidak nyaman.
Rencananya satu ikan akan kukukus malam ini.
Satunya lagi akan kubuat sup saat akhir pekan.
“Aku cuma ingin tahu kenapa Ibu tidak bertanya dulu.”
Bu Yati langsung memasang wajah tidak senang.
“Rina itu adiknya Dimas. Bukan orang lain.”
Aku tidak menjawab.
Pukul tujuh malam, Dimas pulang.
Begitu masuk, dia melihat meja makan.
“Katanya malam ini masak ikan?”
“Ikannya dibawa Rina.”
Belum sempat Dimas bertanya, Bu Yati langsung menyela.
“Dari pulang kerja dia sudah menanyakan ikan terus. Ibu jadi serba salah cuma gara-gara dua ekor ikan.”
Aku menatap Bu Yati.
Aku hanya bertanya dua kali.
Dimas meletakkan tas kerjanya agak keras.
“Ya sudah, dikasih ya dikasih. Kenapa harus dibesar-besarkan?”
“Mas tahu siapa yang membeli?”
“Kamu.”
“Kalau begitu, salah kalau aku berharap ditanya sebelum barang yang kubeli diberikan kepada orang lain?”
Dimas mengembuskan napas panjang.
“Nadia, itu makanan rumah.”
“Justru karena makanan rumah, bukankah seharusnya orang yang membelinya diberi tahu?”
“Cuma ikan.”
Nada suaranya mulai meninggi.
“Aku seharian kerja. Pulang malah disuruh mendengarkan perhitungan dua ekor ikan. Kamu sekarang kok makin pelit?”
Pelit.
Entah kenapa satu kata itu terasa lebih menyakitkan daripada hilangnya ikan tadi.
Bu Yati ikut menambahkan.
“Zaman Ibu jadi menantu, ayam di rumah saja kalau adik ipar datang pasti didahulukan untuk mereka. Perempuan sekarang baru beli sedikit sudah merasa semuanya miliknya.”
Aku menatap mereka berdua.
Lalu aku mengangguk.
“Baik.”
Malam itu aku membuat telur dadar, tumis kangkung, dan sambal.
Dimas makan beberapa suap.
“Tidak ada lauk lain?”
“Tidak.”
“Bukannya kemarin ada daging sapi?”
“Sudah Ibu berikan kepada Rina tiga hari lalu.”
Sendok Bu Yati berhenti.
“Itu karena suaminya Rina sedang banyak kerja. Ibu kasihan mereka tidak sempat belanja.”
Aku tersenyum tipis.
“Oh.”
Dimas menatapku tajam.
“Kalau makan, ya makan. Tidak usah menyindir.”
Aku menghabiskan nasi tanpa berkata lagi.
Setelah mencuci piring, aku mendengar percakapan mereka dari dapur.
Bu Yati berkata cukup keras.
“Ibu tinggal di rumah anak sendiri, masa mengambil dua ikan saja harus izin?”
Dimas menjawab,
“Sudahlah, Bu. Jangan dipikirkan. Nadia mungkin sedang stres di kantor.”
Aku berdiri di depan wastafel.
Air mengalir membasahi tanganku.
Hari itu aku justru baru menerima bonus kinerja sebesar Rp3,5 juta.
Aku membeli ikan menggunakan sebagian uang bonus itu.
Dan untuk pertama kalinya setelah enam tahun menikah, aku bertanya dalam hati:
Sebenarnya siapa yang selama ini terlalu banyak mengalah?
Keesokan paginya, aku bangun seperti biasa.
Aku pergi ke pasar.
Tetapi kali ini aku melewati penjual ayam.
Melewati penjual daging.
Melewati kios ikan.
Aku hanya membeli bayam, tahu, tempe, tiga mentimun, dan tomat.
Total Rp42.000.
Saat sarapan tersaji, Bu Yati memandang meja.
“Cuma begini?”
“Ada tahu dan tempe. Proteinnya cukup.”
Bu Yati mencicipi sayur bening tanpa semangat.
Dimas bahkan tidak duduk.
Dia mengambil kunci mobil.
“Siang aku makan di kantor.”
“Baik.”
Sebelum pergi, dia berkata,
“Malam beli ayam.”
Aku tidak menjawab.
Enam tahun kami menikah.
Bu Yati tinggal bersama kami hampir tiga tahun sejak ayah Dimas meninggal.
Setiap bulan Bu Yati menerima uang pensiun sekitar Rp3,8 juta. Rumah lamanya di Semarang juga disewakan dengan pemasukan sekitar Rp2,4 juta per bulan.
Dimas bilang uang itu biarkan dipegang ibunya untuk hari tua.
Aku setuju.
Cicilan rumah kami sekitar Rp6,7 juta per bulan dan dibayar Dimas.
Sedangkan listrik, air, internet, iuran lingkungan, kebutuhan dapur, gas, dan sebagian besar keperluan rumah menjadi tanggung jawabku.
Rata-rata Rp4,5 juta sampai Rp5 juta setiap bulan.
Selain itu, aku dan Dimas sama-sama memasukkan Rp2,5 juta ke rekening tabungan keluarga.
Di atas kertas semuanya tampak adil.
Tetapi angka tidak mencatat waktu.
Angka tidak mencatat bahwa aku yang pulang kerja mampir ke pasar.
Aku yang mengantar Bu Yati ke dokter.
Aku yang memesan obatnya.
Aku yang bangun tengah malam ketika tekanan darahnya turun dan membuatkan teh hangat.
Angka juga tidak mencatat berapa banyak barang rumah kami yang pindah ke rumah Rina.
Satu kardus susu datang, setengahnya dibawa.
Parcel Lebaran dari kantorku belum dibuka, Rina bilang anaknya suka biskuit, lalu satu kotak besar ikut masuk ke bagasi mobilnya.
Dimas mendapat dua dus minyak goreng dari kantor.
Bu Yati memberikan satu dus penuh kepada Rina.
Awalnya aku selalu diam.
Karena Dimas selalu mengatakan kalimat yang sama.
“Kita keluarga.”
Aku percaya.
Sampai akhirnya aku sadar, kalimat itu hanya berlaku ketika barang milikku harus dibagi.
Siang itu aku membeli sebuah buku catatan.
Di halaman pertama kutulis semua pengeluaran dapur hari itu.
Lalu entah kenapa aku teringat rekening bersama kami.
Aku membuka aplikasi bank.
Menurut perhitunganku, tabungan itu seharusnya sudah sekitar Rp128 juta.
Saldo yang muncul membuatku mengira aplikasi bank sedang bermasalah.
Rp61.740.000.
Aku memeriksa lagi.
Tetap sama.
Jantungku mulai berdebar.
Aku mengunduh mutasi rekening selama dua belas bulan terakhir.
Ada transfer Rp25 juta tujuh bulan lalu.
Keterangan: Pinjaman Rina.
Transfer Rp18 juta empat bulan lalu.
Keterangan: Kursus.
Kemudian Rp21 juta enam minggu lalu.
Tanpa keterangan.
Semuanya dilakukan melalui akses rekening yang biasa digunakan Dimas.
Aku hanya tahu transfer pertama.
Waktu itu Rina mengaku suaminya kehilangan pekerjaan dan meminta bantuan Rp12 juta.
Aku setuju.
Dimas ternyata mengirim Rp25 juta.
Dan setelah itu masih ada dua transaksi yang tidak pernah dibicarakan denganku.
Aku mencetak mutasi rekening di minimarket dekat kantor.
Kertas itu kumasukkan ke buku catatan.
Sore harinya aku kembali membeli tahu, tempe, dan sayuran.
Ketika melihat belanjaanku, Bu Yati langsung berkata,
“Jangan masak sayur terus. Dimas tidak suka.”
“Kalau Dimas ingin lauk lain, dia bisa membelinya.”
Wajah Bu Yati berubah.
“Kamu istrinya. Masa urusan makan suami disuruh beli sendiri?”
Aku meletakkan tas belanja.
“Aku sudah mengurusnya enam tahun.”
“Baru enam tahun sudah merasa berjasa?”
Aku menatapnya.
“Kalau Ibu bosan tahu dan sayur, Ibu boleh membeli makanan apa pun menggunakan uang Ibu. Nanti aku masakkan.”
Bu Yati berdiri.
“Kamu sedang menghukum Ibu?”
“Tidak.”
Aku mengeluarkan buku catatan dari tas.
“Aku cuma mulai memisahkan mana kewajibanku dan mana yang selama ini dianggap kewajibanku.”
Malam itu Dimas pulang dan melihat tumis sawi, tahu kecap, serta tempe goreng di meja.
Dia langsung kehilangan selera.
Hari ketiga sama.
Hari keempat sama.
Hari keenam, Dimas mulai makan di luar.
Hari kedelapan, Bu Yati memesan ayam goreng lewat aplikasi dan sengaja memakannya di depanku.
Aku tidak bereaksi.
Hari kesepuluh, beliau mengeluh biaya makanan pesan antar mahal.
Aku tetap tidak bereaksi.
Hari ketiga belas, Bu Yati menelepon Rina.
Aku mendengarnya berkata,
“Kalau kamu sempat, bawakan Ibu sedikit ikan atau ayam.”
Aku tidak tahu apa jawaban Rina.
Yang kutahu, malam itu tidak ada siapa pun yang datang.
Hari kedelapan belas, aku pulang membawa bayam dan tahu seperti biasa.
Begitu pintu kubuka, terdengar suara tangisan dari ruang tengah.
Bu Yati duduk di sofa.
Dimas berdiri di depannya.
Rina juga ada di sana.
Wajah mereka tegang.
Di atas meja terdapat buku catatan abu-abuku.
Dan lembar mutasi rekening yang kusimpan di dalamnya sudah terbuka.
Dimas menatapku.
“Kamu diam-diam memeriksa rekening kita?”
Aku meletakkan belanjaan.
“Itu rekening kita. Kenapa aku harus diam-diam untuk memeriksanya?”
Rina tiba-tiba berdiri.
“Kak Nadia, jangan bawa aku ke masalah rumah tangga kalian.”
Aku menatapnya.
“Aku belum menyebut namamu.”
Ruangan mendadak sunyi.
Lalu mataku jatuh pada satu benda lain di meja.
Sebuah map cokelat.
Di sudutnya tertulis nama sebuah dealer mobil.
Aku mengambilnya.
Dimas langsung bergerak.
“Nadia, jangan—”
Terlambat.
Di dalam map itu ada salinan kuitansi uang muka sebuah mobil senilai Rp64 juta.
Nama pembeli:
Rina Prameswari.
Dan tepat di bawahnya terdapat bukti pembayaran dari rekening bersama milikku dan Dimas.
Aku mengangkat kepala.
“Jadi Rp21 juta terakhir bukan pinjaman?”
Tak seorang pun menjawab.
Aku membalik halaman berikutnya.
Lalu aku melihat sesuatu yang membuat darahku seperti berhenti mengalir.
Ada tanda tanganku di sana.
Padahal aku tidak pernah menandatangani dokumen itu.
Bersambung ke Bagian 2.
#DramaKeluarga #KisahRumahTangga #CeritaMenantu #KonflikKeluarga #CeritaViral
Bagian 2 — Tanda Tanganku Muncul di Dokumen Mobil Adik Ipar, Tetapi Pengakuan Suamiku Malah Membuka Kebohongan yang Jauh Lebih Besar
Aku meletakkan dokumen itu di meja.
“Siapa yang menandatangani ini?”
Tidak ada yang menjawab.
Aku menunjuk tanda tangan yang menyerupai milikku.
“Dimas?”
Dimas mengusap wajah.
“Itu cuma formalitas.”
Aku hampir tertawa.
“Memalsukan tanda tangan istrimu sekarang disebut formalitas?”
Rina langsung menyela.
“Kak, mobil itu bukan untuk gaya-gayaan. Aku perlu untuk antar jemput anak dan kerja.”
“Lalu kenapa uangku harus dipakai?”
“Itu uang keluarga.”
Aku menoleh kepada Dimas.
Kalimat yang sama lagi.
Uang keluarga.
Barang keluarga.
Rumah keluarga.
Tetapi keputusan selalu dibuat tanpa aku.
“Berapa total uang yang kalian berikan kepada Rina?”
Dimas diam.
“Jawab.”
“Tidak semuanya pemberian.”
“Berapa?”
Bu Yati tiba-tiba menangis.
“Jangan bentak suamimu!”
Aku menatap beliau.
“Aku tidak sedang membahas ikan lagi, Bu.”
Tangisnya berhenti sesaat.
“Aku sedang membahas puluhan juta rupiah yang hilang dari rekening rumah tanggaku.”
Dimas akhirnya duduk.
“Sekitar enam puluh empat juta.”
Aku membuka catatanku.
“Mutasi yang kutemukan totalnya enam puluh empat juta. Jadi tidak ada transaksi lain?”
Dimas mengangguk cepat.
“Tidak ada.”
Aku menatapnya beberapa detik.
Aku mengenal suamiku.
Enam tahun hidup bersama membuatku tahu satu kebiasaannya.
Kalau berbohong, dia selalu menjawab terlalu cepat.
Aku mengeluarkan ponsel.
“Baik. Besok kita ke bank.”
Dimas langsung menatapku.
“Untuk apa?”
“Ganti akses rekening. Mulai sekarang setiap penarikan harus sepengetahuan dua pihak.”
“Nadia, jangan berlebihan.”
“Kalau memang tidak ada yang disembunyikan, kenapa berlebihan?”
Rina mengambil tas.
“Aku pulang saja.”
“Tunggu.”
Aku menghentikannya.
“Kapan uang itu kamu kembalikan?”
Wajahnya berubah.
“Kak Dimas bilang tidak perlu buru-buru.”
“Aku tidak bertanya apa kata Dimas.”
“Kami keluarga!”
Untuk pertama kalinya aku meninggikan suara.
“Kalau keluarga, kenapa kalian harus memalsukan tanda tanganku?”
Rina membisu.
Aku meminta semua bukti transfer dikembalikan ke dalam map.
Kemudian aku masuk kamar.
Malam itu Dimas tidur di sofa.
Keesokan harinya, aku pergi ke bank sendirian.
Dari petugas bank, aku mengetahui rekening bersama itu ternyata terhubung dengan satu layanan pembayaran otomatis yang didaftarkan beberapa bulan sebelumnya.
Aku meminta riwayat lengkap.
Ada pembayaran rutin Rp3,2 juta setiap bulan.
Sudah berjalan lima bulan.
Tujuan pembayaran bukan cicilan rumah kami.
Melainkan cicilan mobil Rina.
Tanganku dingin.
Artinya bukan hanya uang muka yang dibayar dari tabungan keluarga.
Cicilan bulanannya pun diam-diam dibebankan ke sana.
Ketika aku pulang, Bu Yati sedang sendirian.
Aku meletakkan salinan transaksi di meja.
“Ibu tahu soal cicilan ini?”
Beliau tidak menjawab.
Aku sudah mendapat jawabannya.
“Ibu tahu.”
Bu Yati mulai menangis.
“Ibu cuma kasihan Rina.”
“Kasihan?”
“Suaminya penghasilannya tidak tetap. Anak mereka sekolah. Rina butuh kendaraan.”
“Lalu kenapa tidak menggunakan uang Ibu?”
Pertanyaanku membuatnya terdiam.
“Ibu punya uang pensiun. Ada uang sewa rumah. Kalau Ibu begitu ingin membantu putri Ibu, kenapa uang tabunganku yang digunakan?”
Wajah Bu Yati memerah.
“Itu berbeda.”
“Berbeda bagaimana?”
“Itu uang Ibu untuk hari tua!”
Aku tertawa kecil.
Akhirnya keluar juga.
“Jadi uang Ibu harus aman untuk hari tua. Tapi uangku boleh dipakai membeli mobil Rina?”
Bu Yati tidak mampu menjawab.
Malamnya Dimas pulang.
Aku menunjukkan transaksi cicilan.
Dia langsung tahu semuanya sudah terbongkar.
“Aku berniat menggantinya.”
“Kapan?”
“Nanti setelah kondisi Rina membaik.”
“Lima bulan kamu menyembunyikannya.”
“Aku takut kamu tidak setuju.”
“Jadi kamu tahu aku tidak setuju, lalu tetap melakukannya?”
Dimas kehilangan kesabaran.
“Karena kamu selalu menghitung semuanya!”
Aku terdiam.
Dia terus bicara.
“Uang, makanan, listrik, belanja. Semua dihitung. Hidup denganmu rasanya seperti hidup dengan auditor!”
Aku memandang laki-laki yang sudah kunikahi enam tahun itu.
Kemudian aku berkata pelan,
“Kalau begitu mulai bulan depan, kita benar-benar hitung semuanya.”
Dimas mengernyit.
Aku mengeluarkan satu lembar kertas.
Mulai bulan berikutnya, biaya rumah dibagi berdasarkan penghuni.
Aku hanya menanggung bagianku.
Tabungan bersama dibekukan sementara.
Belanja pribadi masing-masing ditanggung sendiri.
Dan uang yang digunakan untuk Rina harus dikembalikan.
Dimas meremas kertas itu.
“Kamu mau menghancurkan keluarga cuma karena uang?”
Aku menggeleng.
“Bukan.”
Aku menunjuk dokumen mobil.
“Yang menghancurkan keluarga adalah orang yang memalsukan tanda tangan istrinya.”
Saat itulah ponsel Rina yang tertinggal di meja berbunyi.
Layar menyala.
Sebuah pesan WhatsApp muncul.
Dari kontak bernama Mas Arif Dealer.
“Bu Rina, untuk proses jual mobilnya besok jadi, ya? Setelah lunas, sisa uang sekitar Rp38 juta akan kami transfer ke rekening pribadi sesuai permintaan.”
Aku membaca pesan itu dua kali.
Bu Yati berdiri pucat.
Dimas membeku.
Aku menatap mereka.
“Jadi mobil yang katanya sangat dibutuhkan itu… mau dijual?”
Pintu depan tiba-tiba terbuka.
Rina yang baru kembali mengambil ponselnya berdiri di ambang pintu.
Begitu melihat wajah kami, dia tahu semuanya sudah terbongkar.
Namun kalimat pertamanya justru membuatku benar-benar kehilangan rasa hormat kepadanya.
“Uangnya nanti memang buat aku. Kak Dimas sudah setuju.”
Bagian 3 — Adik Ipar Berniat Menjual Mobil yang Dibeli dengan Tabunganku, Lalu Satu Keputusan Membuat Suami dan Ibu Mertua Kehilangan Semua Kenyamanan
Aku tidak berteriak.
Aku justru menjadi sangat tenang.
“Dimas, benar?”
Dimas tidak berani menatapku.
Rina mendekati ibunya.
“Aku bisa jelaskan.”
“Silakan.”
Rina menarik napas.
Ternyata suaminya memiliki utang usaha.
Mobil itu memang dibeli menggunakan uang kami, tetapi beberapa bulan kemudian mereka kesulitan membayar utang.
Rina berencana menjual mobil.
Setelah sisa pembiayaan dilunasi, uang yang tersisa akan digunakan menutup sebagian utang suaminya.
“Kenapa tidak bicara denganku?”
Rina menjawab,
“Karena pasti Kakak tidak mengizinkan.”
Aku tersenyum.
Persis seperti Dimas.
Semua orang tahu aku tidak akan setuju.
Karena itu solusinya bukan berdiskusi.
Melainkan menyembunyikannya.
Aku mengambil semua dokumen.
“Mulai sekarang jangan lakukan transaksi apa pun atas mobil itu sebelum masalah uang dan tanda tanganku selesai.”
Rina panik.
“Tapi kami harus bayar utang minggu ini!”
“Itu bukan utangku.”
Bu Yati kembali menangis.
“Nadia, tolonglah adikmu sekali ini.”
Aku menatapnya.
“Sudah berapa kali, Bu?”
Beliau terdiam.
“Susu, sembako, minyak, daging, ikan, uang puluhan juta, uang muka mobil, cicilan mobil. Yang mana yang disebut sekali?”
Tidak ada jawaban.
Aku kemudian melakukan sesuatu yang selama ini selalu kutunda.
Aku memisahkan keuanganku sepenuhnya.
Gajiku masuk ke rekening pribadi.
Tagihan rumah kubayar sesuai porsiku.
Aku berhenti membayar kebutuhan pribadi Bu Yati dan Dimas.
Bukan karena ingin menyiksa mereka.
Aku hanya berhenti menanggung sesuatu yang tidak pernah mereka hargai.
Untuk masalah tanda tangan, aku berkonsultasi dengan pihak bank dan penasihat hukum.
Begitu Dimas sadar masalah itu bisa memiliki konsekuensi serius, sikapnya berubah.
Dia tidak lagi menyebutku pelit.
Dia meminta maaf.
Berkali-kali.
Tetapi aku memberi satu syarat.
Semua uang yang dipakai tanpa persetujuanku harus dikembalikan.
Rina harus membatalkan rencana penjualan mobil secara diam-diam.
Mobil kemudian dijual melalui proses yang disepakati bersama.
Setelah kewajiban pembiayaan diselesaikan, bagian dana yang berasal dari rekening keluarga dikembalikan.
Kekurangannya menjadi utang tertulis Rina dan Dimas kepadaku.
Bu Yati akhirnya menggunakan sebagian tabungannya sendiri untuk membantu putrinya.
Beliau menangis ketika mentransfer uang.
Saat itulah aku akhirnya memahami sesuatu.
Selama menggunakan uangku, membantu anak perempuan terasa seperti bentuk kasih sayang.
Begitu harus menggunakan uang sendiri, tiba-tiba setiap rupiah terasa berat.
Dimas juga harus mengambil sebagian tabungan pribadinya untuk menutup uang yang sudah dia keluarkan tanpa izinku.
Untuk pertama kalinya, konsekuensi dari keputusannya benar-benar keluar dari kantongnya sendiri.
Tiga bulan kemudian, sebagian besar uangku sudah kembali.
Sisanya dicicil setiap bulan berdasarkan perjanjian tertulis.
Bagaimana dengan pernikahanku?
Aku tidak langsung bercerai.
Tetapi aku juga tidak berpura-pura semuanya baik-baik saja.
Kami menjalani konseling pernikahan.
Aku memberikan batas yang jelas kepada Dimas.
Tidak ada transaksi keuangan atas nama kami tanpa persetujuan bersama.
Tidak ada barang rumah yang diberikan kepada siapa pun tanpa bertanya.
Dan tidak ada lagi kalimat “kita keluarga” untuk membenarkan tindakan sepihak.
Dimas menyetujuinya.
Bukan hanya dengan mulut.
Dia mulai ikut belanja.
Membayar setengah kebutuhan dapur.
Mengurus ibunya ketika kontrol kesehatan.
Dan setiap kali Rina meminta bantuan, jawabannya berubah dari,
“Ambil saja.”
Menjadi,
“Aku diskusikan dulu dengan Nadia.”
Bu Yati?
Pada minggu pertama setelah uang dipisahkan, beliau masih sering mengeluh.
Pada minggu kedua, beliau mulai membeli lauk menggunakan uangnya sendiri.
Pada minggu ketiga, suatu sore beliau pulang dari pasar membawa dua ekor ikan.
Beliau berdiri di dapur cukup lama sebelum berkata,
“Nadia, Ibu beli ikan. Satu untuk kita. Satunya… Ibu tadinya mau kasih Rina.”
Aku diam.
“Tapi Ibu sudah telepon dia. Kalau dia mau, besok Ibu belikan pakai uang Ibu sendiri.”
Itu bukan permintaan maaf yang sempurna.
Tetapi aku tahu beliau sedang belajar.
Malam itu aku memasak ikan tersebut.
Kami bertiga makan bersama.
Tidak ada yang mengambil makanan untuk dibawa ke rumah orang lain.
Tidak ada yang membuka lemari tanpa bertanya.
Beberapa bulan kemudian, Rina mendapatkan pekerjaan baru dan mulai membayar utangnya secara rutin.
Suaminya menjual beberapa peralatan usaha untuk menyelesaikan kewajibannya sendiri.
Tidak ada keajaiban.
Tidak ada orang mendadak kaya.
Tidak ada pula seseorang yang datang menyelamatkan kami.
Hanya ada konsekuensi.
Dan batas yang akhirnya ditegakkan.
Suatu malam Dimas bertanya kepadaku,
“Kamu masih ingat dua ikan waktu itu?”
Aku tertawa kecil.
“Tentu.”
“Kalau waktu itu Ibu tidak memberikannya kepada Rina, mungkin semua ini tidak terjadi.”
Aku menggeleng.
“Masalahnya tidak pernah benar-benar tentang ikan.”
Dimas terdiam.
Aku melanjutkan,
“Ikan itu cuma membuatku sadar bahwa selama ini kalian menganggap kebaikanku sebagai sesuatu yang otomatis tersedia.”
Dia menunduk.
“Maaf.”
Kali ini aku menerima permintaan maafnya.
Bukan karena satu kata itu cukup.
Melainkan karena selama berbulan-bulan setelahnya, tindakannya akhirnya sesuai dengan ucapannya.
Dan buku catatan abu-abu yang dulu kupakai mencatat harga tahu, sayur, dan uang yang hilang?
Aku masih menyimpannya.
Di halaman terakhir aku menulis satu kalimat:
Keluarga bukan tempat seseorang bebas mengambil milikmu tanpa izin. Keluarga seharusnya menjadi tempat orang paling mengerti cara menghargai batasmu.
Sejak hari itu aku tetap memasak untuk keluargaku.
Kadang ayam.
Kadang ikan.
Kadang hanya tahu dan sayur.
Bedanya, sekarang ketika makanan berada di atas meja, tidak ada lagi yang menganggap pengorbananku sebagai kewajiban yang tidak perlu dihargai.
Dan ternyata, yang membuat sebuah rumah terasa nyaman bukan seberapa mahal lauk yang tersaji.
Melainkan apakah orang-orang yang duduk di meja itu masih saling menghormati.

