Saat Keluarga Kami Membahas Mahar, Sahabat Perempuan Tunanganku Mengundi Rp10.000—Lalu Satu Notifikasi Bank Membongkar Penghinaan yang Mereka Rancang Bertahun-Tahun

Avatar penulis
Cerita 03
16 menit baca 2,544 tayangan
Auto Draft
Indeks

Saat Keluarga Kami Membahas Mahar, Sahabat Perempuan Tunanganku Mengundi Rp10.000—Lalu Satu Notifikasi Bank Membongkar Penghinaan yang Mereka Rancang Bertahun-Tahun

Bagian 1 — Undian Mahar Rp10.000 Membuat Mereka Tertawa, Tetapi Kotak yang Terjatuh Membuktikan Lima Tahun Hubungan Kami Hanyalah Permainan Penghinaan

Aku masih ingat suara tawa mereka malam itu.

Bukan karena ada lelucon yang benar-benar lucu.

Mereka tertawa karena harga diriku baru saja dihargai sepuluh ribu rupiah.

Pertemuan keluarga kami diadakan di sebuah restoran keluarga di Bandung. Seharusnya malam itu menjadi pembicaraan sederhana mengenai tanggal akad, mahar, dan rencana resepsi.

Ayah dan Ibu datang dari Garut sejak siang.

Ibu bahkan membawa dodol buatan sendiri untuk keluarga calon suamiku.

Sementara aku duduk di sebelah tunanganku, Raka Mahendra, pria yang sudah lima tahun bersamaku.

Aku mengira malam itu adalah awal kehidupan baru.

Sampai Nadine, sahabat perempuan Raka sejak SMA, mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil.

“Supaya adil seperti biasanya,” katanya sambil tertawa.

Aku langsung merasa tidak nyaman.

Aku mengenal kotak itu.

Selama lima tahun berpacaran, hampir semua pengeluaran yang berhubungan denganku diputuskan melalui undian dari kotak tersebut.

Raka menyebutnya permainan untuk membuktikan bahwa hubungan kami tidak didasarkan pada uang.

Nadine memasukkan tangannya.

“Wah!”

Dia mengangkat selembar kertas.

“Rp10.000!”

Semua orang di keluarga Raka tertawa.

Nadine menepuk meja.

“Om, Tante, cepat terima. Mahar calon menantunya sudah ditentukan!”

Aku menoleh kepada Raka.

Kupikir dia akan menghentikannya.

Sebaliknya, dia mengambil ponselnya.

Beberapa detik kemudian—

Ting!

Ponsel Ayah berbunyi.

Transfer masuk: Rp10.000.

Raka tersenyum seolah baru menyelesaikan transaksi bisnis.

“Pak, Bu, berarti secara simbolis sudah diterima.”

Wajah Ayah membeku.

Ibu menggenggam tasnya erat.

Raka kemudian berkata dengan tenang, “Ada satu hal yang ingin saya sampaikan. Sejak pacaran, saya dan Alya menggunakan sistem undian untuk urusan pengeluaran. Menurut saya itu sangat adil.”

Aku menatapnya.

Dia melanjutkan.

“Nanti setelah menikah, biaya untuk keluarga Alya, kebutuhan anak, hadiah untuk orang tua, bahkan liburan keluarga juga sebaiknya mengikuti sistem yang sama.”

Nadine mengangkat gelasnya.

“Biar tidak ada yang memanfaatkan Raka.”

Kalimat itu membuat meja mendadak sunyi.

Aku mengambil ponsel Ayah.

Kukembalikan Rp10.000 itu.

Kemudian aku berdiri.

“Pernikahannya batal.”

Senyum Raka menghilang.

“Apa?”

“Aku tidak akan menikah denganmu.”

Raka bersandar ke kursinya.

“Kamu serius membatalkan pernikahan hanya karena mahar sepuluh ribu?”

“Bukan karena jumlahnya.”

“Lalu?”

Aku menatap kotak undian itu.

“Karena setelah lima tahun, kamu masih merasa harga diriku pantas dijadikan permainan.”

Ibunya, Bu Ratih, langsung mendengus.

“Sudah saya duga.”

Beliau menatap orang tuaku.

“Kalau sejak awal masalahnya uang, kenapa tidak bicara terus terang?”

Ayah hendak menjawab.

Aku menahan tangannya.

Bu Ratih melanjutkan, “Kami sebenarnya tidak keberatan Raka menikahi siapa pun. Tetapi keluarga juga harus tahu diri.”

Nadine tersenyum.

“Tante, jangan keras begitu. Mungkin Mbak Alya cuma kecewa hasil undiannya kecil.”

Kemudian dia menatapku.

“Bagaimana kalau kita ulang?”

Dia mengguncang kotak kayu itu.

“Ayo. Siapa tahu kali ini harga Mbak Alya naik.”

Beberapa sepupu Raka tertawa kecil.

Aku menatap Raka.

“Kalau dia melakukan ini lagi, kamu akan membiarkannya?”

Raka mengusap kening.

“Alya, jangan memperbesar masalah.”

Nadine sudah mengambil kertas kedua.

Dia membukanya perlahan.

“Waduh.”

Dia tertawa.

“Rp2.000.”

Ibu menunduk.

Aku melihat matanya memerah.

Nadine mendorong kertas itu ke arahku.

“Turun delapan ribu. Jangan-jangan memang lagi diskon.”

Aku berdiri begitu cepat sampai kursiku bergeser.

“Nadine.”

“Apa?”

“Cukup.”

Dia justru merangkul bahu Raka.

“Rak, calon istrimu galak juga.”

Raka tertawa kecil.

“Jangan ganggu dia terus.”

Tapi tangannya tidak menyingkirkan tangan Nadine.

Saat itu aku teringat sesuatu.

Tiga bulan sebelumnya, ketika aku membersihkan remah makanan di pipi Raka dengan tangan, dia refleks menjauh.

Katanya dia tidak nyaman wajahnya disentuh.

Tetapi sekarang Nadine mencubit pipinya sambil tertawa.

Dan Raka sama sekali tidak keberatan.

Ada rasa dingin yang perlahan menjalar di dadaku.

Lima tahun.

Aku tiba-tiba mempertanyakan seluruh lima tahun itu.

Saat pertama kali Ayah harus menjalani pemeriksaan jantung, aku pernah meminta Raka meminjamiku Rp3 juta.

Nadine mengambil undian.

Hasilnya Rp20.000.

Raka memberiku Rp20.000.

Aku akhirnya meminjam uang koperasi kantor.

Saat aku demam berdarah dan harus dirawat, undian menghasilkan Rp50.000.

Ketika ulang tahunku, undiannya Rp15.000.

Saat kami berencana liburan ke Yogyakarta, undiannya Rp30.000.

Raka membatalkan hotel dan mengajakku naik bus kota keliling Bandung sebagai “tantangan kencan murah”.

Aku menerimanya.

Karena aku benar-benar percaya itu permainan adil.

Aku bahkan sering tertawa bersamanya.

Sampai malam itu.

Nadine hendak memasukkan kertas kembali.

Tangannya menyenggol kotak.

Kotak kayu jatuh.

Puluhan gulungan kertas berserakan di lantai.

Aku membungkuk.

Mengambil satu.

Rp5.000.

Yang kedua.

Rp10.000.

Ketiga.

Rp20.000.

Keempat.

Rp2.000.

Aku mulai membuka semuanya.

Tidak ada satu pun yang melebihi Rp50.000.

Tanganku gemetar.

“Nadine…”

Dia tidak lagi tertawa.

Aku menatap Raka.

“Jadi selama ini undiannya sudah diatur?”

Tidak ada jawaban.

Aku merasa seperti ditampar.

“Lima tahun?”

Raka akhirnya berdiri.

“Alya, dengarkan dulu.”

“LIMA TAHUN?”

Suaraku pecah.

Nadine menyilangkan tangan.

“Ya sudah, kalau sudah ketahuan, buat apa pura-pura lagi?”

Aku menatapnya.

Dia tersenyum dingin.

“Awalnya aku cuma ingin memastikan kamu bukan perempuan yang mendekati Raka karena uang.”

“Dengan menipuku?”

“Kalau kamu memang tidak matre, seharusnya tidak masalah.”

Aku hampir tidak percaya.

Nadine kemudian membuka ponselnya.

“Waktu kamu meminta pinjaman tiga juta untuk pemeriksaan ayahmu, malam itu kami habiskan hampir dua puluh juta di klub.”

Aku menatap Raka.

Dia menghindari mataku.

“Waktu kamu opname, kami sedang staycation di Bali.”

Nadine tertawa kecil.

“Villa kami sebelas juta semalam.”

Dadaku terasa sesak.

“Dan waktu ulang tahunmu?”

“Oh.”

Nadine berpikir sebentar.

“Kami beli jam tangan untuk Raka.”

“Berapa?”

“Sekitar empat puluh delapan juta.”

Aku menatap laki-laki yang selama lima tahun selalu berkata hidup sederhana membuat cinta kami lebih tulus.

Ternyata hanya hidupku yang harus sederhana.

Ayah berdiri.

“Sudah.”

Tangannya gemetar.

“Kami pulang.”

Bu Ratih mencibir.

“Memang sebaiknya begitu. Dari awal kami juga tidak pernah meminta keluarga kalian memaksakan diri masuk ke keluarga kami.”

Nadine menambahkan, “Orang kampung kalau sudah melihat keluarga berada memang suka lupa posisi.”

Ayah berbalik.

Wajahnya memerah.

Lalu tiba-tiba tangannya mencengkeram dada.

“Ayah?”

Tubuhnya limbung.

“Ayah!”

Aku menangkap bahunya, tetapi tubuh Ayah terlalu berat.

Dia jatuh di samping meja.

Ibu menjerit.

Aku merogoh tas Ayah, mencari obat yang selalu dibawanya.

Tanganku gemetar hebat.

“Pak! Pak, dengar Alya!”

Nadine berdiri beberapa langkah dari kami.

Bukannya membantu, dia malah berkata,

“Jangan mulai drama lagi.”

Aku menatapnya tak percaya.

“Telepon ambulans!”

Bu Ratih tidak bergerak.

Aku mengeluarkan ponsel sendiri dan menghubungi layanan darurat.

Beberapa menit kemudian petugas medis tiba.

Namun saat mereka hendak masuk, Nadine berdiri di depan pintu ruangan privat.

“Sebentar.”

Petugas itu bingung.

“Pasiennya di dalam, Mbak?”

Nadine menunjuk Ayah.

“Pastikan dulu ini bukan sandiwara. Nanti keluarga kami yang ditagih.”

Aku kehilangan kesabaran.

Kudorong bahunya menjauh.

“AYAHKU BISA MATI!”

Nadine kehilangan keseimbangan dan jatuh ke sofa.

Tepat saat itu pintu terbuka.

Raka masuk.

Nadine langsung memegang lengannya.

“Rak, dia mendorong aku.”

Raka melihat Nadine.

Kemudian melihat Ayahku yang terbaring di lantai.

Untuk sesaat wajahnya berubah.

Tapi Nadine berbisik,

“Jangan tertipu lagi.”

Dan Raka justru menatapku.

“Alya, minta maaf sama Nadine.”

Aku membeku.

“Apa?”

“Minta maaf. Setelah itu kita selesaikan masalah ini.”

Aku menatapnya beberapa detik.

Kemudian tersenyum.

Bukan karena lucu.

Tetapi karena akhirnya aku memahami lelaki yang hendak kunikahi.

“Aku tidak akan menikah denganmu.”

Aku mengikuti tandu Ayah keluar.

Raka mengejarku.

Dia mencengkeram pergelangan tanganku.

“Kamu akan menyesal.”

Aku melepaskan tangannya.

“Aku sudah menyesal.”

“Menyesal apa?”

Aku menatapnya untuk terakhir kali.

“Menyesal membuang lima tahun hidupku untukmu.”

Dua puluh menit kemudian, Ayah masuk ruang tindakan darurat.

Petugas administrasi meminta deposit rumah sakit.

Aku segera membuka aplikasi bank.

Aku punya tabungan darurat Rp42 juta.

Uang yang tidak pernah kusentuh.

Tetapi saldo yang muncul hanya—

Rp186.400.

Aku menyegarkan layar.

Sekali.

Dua kali.

Lalu kulihat riwayat transaksi.

Dua belas menit sebelumnya:

Rp41.500.000 — transaksi kartu tambahan.

Merchant: sebuah butik perempuan premium di Bandung.

Kartu tambahan itu hanya dipegang satu orang.

Raka.

Aku langsung meneleponnya.

Dia mengangkat pada panggilan ketiga.

Di belakangnya terdengar musik dan tawa.

“Raka.”

“Hm?”

“Kembalikan uangku.”

“Uang apa?”

“Empat puluh satu setengah juta.”

Dia diam sebentar.

Lalu tertawa kecil.

“Oh, itu.”

Tanganku membeku.

“Raka, Ayah sedang ditangani. Itu uang darurat.”

“Sudah kepakai.”

“Untuk apa?”

Dari belakang terdengar suara perempuan.

Suara yang sangat kukenal.

Nadine.

“Rak, bilang sekalian saja!”

Kemudian Raka mengatakan satu kalimat yang membuat seluruh tubuhku dingin.

“Anggap saja itu ganti rugi karena kamu sudah mempermalukan Nadine.”

Aku menutup mata.

Tetapi sebelum aku sempat menjawab, ponselku berbunyi lagi.

Sebuah email masuk dari bank.

PERMINTAAN PENCAIRAN DANA INVESTASI: Rp275.000.000.

Aku menatap nama pemohon.

Bukan namaku.

Raka Mahendra.

Dan di bawahnya terdapat salinan tanda tangan persetujuan.

Tanda tanganku.

Padahal aku tidak pernah menandatangani apa pun.

#DramaKeluarga #KisahPengkhianatan #CeritaIndonesia #HubunganToxic #KarmaItuNyata

Bagian 2 — Tanda Tanganku Dipalsukan untuk Mencairkan Rp275 Juta, Tetapi Rekaman Bank Membuka Alasan Sebenarnya Raka Mempertahankanku Selama Lima Tahun

Aku langsung menghubungi nomor resmi bank.

“Blokir semua transaksi.”

Petugas meminta verifikasi.

Untungnya pencairan Rp275 juta belum selesai karena jumlahnya besar dan membutuhkan pemeriksaan tambahan.

Aku menjelaskan bahwa tanda tanganku dipalsukan.

Rekening investasi langsung dibekukan.

Setelah itu aku menelepon Dewi, sepupuku yang bekerja sebagai konsultan hukum.

Aku tidak menangis lagi.

Entah karena terlalu takut atau terlalu marah.

“Aku butuh bantuan.”

Dewi datang ke rumah sakit empat puluh menit kemudian.

Aku menunjukkan semua bukti.

Riwayat kartu.

Email pencairan.

Dokumen dengan tanda tangan palsu.

Dewi membaca semuanya tanpa bicara.

Kemudian dia bertanya,

“Kenapa Raka punya akses ke kartu tambahanmu?”

“Dulu dibuat untuk keperluan persiapan pernikahan.”

“PIN?”

“Dia tahu.”

“Rekening investasi?”

“Seharusnya tidak.”

Dewi menatapku.

“Berarti dia punya dokumenmu.”

Aku teringat sesuatu.

Dua minggu sebelumnya Raka meminta fotokopi KTP, NPWP, dan contoh tanda tanganku.

Katanya wedding organizer membutuhkannya untuk kontrak vendor.

Ternyata bukan untuk pernikahan.

Beberapa jam kemudian kondisi Ayah stabil.

Dokter mengatakan kami datang tepat waktu.

Aku baru bisa bernapas lega.

Biaya awal akhirnya dibantu Dewi, dan aku langsung menggantinya setelah memindahkan dana dari rekening lain yang hanya atas namaku.

Pukul sebelas malam, Raka muncul.

Bersama Nadine.

Nadine membawa tas belanja besar.

Aku mengenali logo butik dari transaksi Rp41,5 juta.

Dia benar-benar datang ke rumah sakit memakai barang yang dibeli menggunakan uangku.

“Alya.”

Raka mendekat.

“Kita bicara.”

“Tidak ada yang perlu dibicarakan.”

Dia merendahkan suara.

“Jangan kekanak-kanakan. Kita sebentar lagi menikah.”

“Tidak.”

“Aku sudah bilang tadi hanya emosi.”

Aku mengangkat ponsel.

“Lalu Rp275 juta ini juga karena emosi?”

Wajahnya berubah.

Nadine berhenti tersenyum.

Raka menarik napas.

“Aku bisa jelaskan.”

“Silakan.”

Dia melihat Dewi.

“Berdua saja.”

“Tidak.”

Raka akhirnya berkata, “Dana itu rencananya untuk DP ruko.”

“Ruko siapa?”

Dia diam.

Nadine menjawab,

“Ruko kami.”

Aku menatapnya.

“Kami?”

Nadine terlihat sadar dia salah bicara.

Raka langsung menyela.

“Aku mau buka bisnis. Nadine membantu.”

“Kenapa memakai uangku?”

“Nanti setelah menikah, semuanya juga jadi milik bersama.”

Aku hampir tertawa.

“Jadi sebelum menikah pun kamu sudah mengambilnya?”

“Alya, jangan pakai kata mengambil.”

“Lalu apa nama yang tepat untuk memalsukan tanda tangan?”

Wajah Raka mengeras.

Untuk pertama kalinya aku melihat sisi dirinya yang selama ini tersembunyi.

“Aku sudah menghabiskan lima tahun untuk hubungan ini.”

Aku menatapnya.

“Begitu juga aku.”

“Tapi kamu mendapatkan banyak keuntungan.”

“Keuntungan apa?”

“Koneksi. Lingkungan. Status.”

Aku terdiam.

Raka melanjutkan,

“Jangan pura-pura tidak mengerti. Kalau bukan karena aku, kamu cuma peneliti kontrak dari keluarga biasa.”

Kalimat itu justru membuat semuanya menjadi jelas.

Bukan Nadine saja yang memandang rendahku.

Raka juga.

Sejak awal.

Dewi berdiri.

“Saya sarankan Anda pergi sebelum keamanan rumah sakit mengantar Anda keluar.”

Raka menatapnya.

“Ini urusan keluarga.”

“Belum keluarga.”

Dewi menunjuk dokumen di ponselku.

“Dan setelah pemalsuan ini diproses, kemungkinan besar tidak akan pernah menjadi keluarga.”

Nadine tertawa sinis.

“Proses? Cuma tanda tangan.”

Dewi menatapnya.

“Bagus. Ulangi kalimat itu nanti kalau diminta keterangan.”

Nadine langsung diam.

Mereka pergi.

Keesokan paginya aku mendatangi bank bersama Dewi.

Petugas menunjukkan dokumen permohonan.

Fotokopi identitasku.

Contoh tanda tangan.

Bahkan ada surat persetujuan yang terlihat sangat meyakinkan.

Aku bertanya,

“Siapa yang menyerahkan?”

Petugas memeriksa sistem.

“Permohonan awal dikirim melalui perantara.”

“Siapa?”

Dia menunjukkan nama sebuah perusahaan.

Aku mengenalnya.

Perusahaan milik ayah Raka.

Jantungku berdetak lebih cepat.

Ini bukan tindakan impulsif Raka.

Keluarganya tahu.

Pihak bank kemudian memeriksa rekaman kunjungan terkait dokumen tersebut.

Di salah satu rekaman terlihat Raka datang bersama seorang perempuan.

Nadine.

Mereka duduk hampir satu jam.

Tetapi bagian paling mengejutkan bukan itu.

Petugas menunjukkan dokumen lain.

“Ada satu hal lagi, Bu Alya.”

“Apa?”

“Rekening investasi Ibu pernah digunakan sebagai bukti kemampuan finansial untuk pengajuan fasilitas kredit bisnis.”

Aku menatapnya.

“Berapa?”

“Rp1,8 miliar.”

Aku merasa darahku berhenti mengalir.

“Untuk bisnis apa?”

Petugas memutar layar.

Nama perusahaan tercantum jelas.

PT Nara Lifestyle Indonesia.

Direktur: Nadine Prameswari.

Komisaris: Raka Mahendra.

Aku membaca tanggal pendiriannya.

Delapan bulan lalu.

Delapan bulan sebelum pernikahan kami.

Lalu Dewi menunjuk satu halaman.

“Alya.”

Aku melihatnya.

Di sana tertulis namaku sebagai calon penjamin tambahan.

Tanda tanganku kembali dipalsukan.

Tetapi ada sesuatu yang jauh lebih buruk.

Lampiran berikutnya mencantumkan sebuah aset sebagai jaminan tambahan.

Rumah orang tuaku di Garut.

Aku sampai berdiri.

“Tidak mungkin.”

Rumah itu atas nama Ayah.

Namun salinan sertifikatnya pernah kuberikan kepada Raka.

Dia mengatakan dokumen itu diperlukan untuk mengurus administrasi setelah menikah karena Ayah berencana menghibahkan sebagian tanah kepadaku.

Dewi membaca berkas itu lama.

Kemudian menatapku.

“Alya, kita harus bergerak sekarang.”

“Kenapa?”

Dia menunjuk tanggal.

“Karena kalau dokumen berikut ini benar, mereka bukan cuma mencoba memakai tabunganmu.”

Aku membaca kalimat terakhir.

Persetujuan pengikatan jaminan dijadwalkan hari Senin.

Hari itu Jumat.

Artinya kami hanya punya tiga hari.

Dan tepat ketika aku memotret dokumen tersebut, ponselku berbunyi.

Pesan dari Raka.

Kalau kamu tetap membatalkan pernikahan, jangan salahkan aku kalau orang tuamu kehilangan lebih dari sekadar calon menantu.

Di bawah pesan itu ada satu foto.

Foto sertifikat asli rumah Ayah.

Bukan fotokopi.

Sertifikat yang seharusnya tersimpan di lemari besi rumah kami.

Bagian 3 — Raka Mengancam Rumah Orang Tuaku Demi Bisnis Nadine, Tetapi Satu Kesalahan Mereka Membuat Semua Bukti Berbalik Menghancurkan Keluarganya Sendiri

Aku tidak membalas pesan Raka.

Itulah kesalahan yang dia harapkan dariku.

Dia ingin aku panik.

Memohon.

Datang sendirian.

Sebaliknya, Dewi menyuruhku menyimpan seluruh percakapan dan menyiapkan kronologi.

Ayah langsung meminta kerabat kami memeriksa lemari besi di rumah.

Sertifikat memang hilang.

Tetapi Raka melakukan satu kesalahan besar.

Tiga minggu sebelumnya dia pernah datang ke rumah orang tuaku.

Katanya ingin mengambil beberapa dokumen pernikahan.

Rumah tetangga memiliki CCTV yang menghadap langsung ke teras.

Rekaman memperlihatkan Raka datang membawa tas tipis.

Ketika pulang, tas itu terlihat jauh lebih tebal.

Kami mengumpulkan semuanya.

Rekaman CCTV.

Email bank.

Permohonan pencairan.

Tanda tangan palsu.

Pesan ancaman.

Transaksi Rp41,5 juta.

Dokumen kredit PT Nara Lifestyle Indonesia.

Dan foto sertifikat yang dikirim Raka sendiri.

Senin pagi, tidak ada penandatanganan jaminan.

Yang ada justru pemeriksaan dokumen dan laporan resmi.

Pihak bank membekukan proses kredit setelah menemukan ketidaksesuaian persetujuan.

Raka meneleponku tujuh belas kali.

Aku tidak mengangkat.

Nadine mengirim pesan panjang.

Katanya aku menghancurkan masa depan mereka hanya karena “masalah hubungan”.

Aku hanya meneruskan pesan itu kepada Dewi.

Dua hari kemudian Bu Ratih datang ke rumah sakit.

Kali ini tidak ada pakaian mewah.

Tidak ada tatapan merendahkan.

“Alya.”

Beliau duduk di depanku.

“Tante minta masalah ini diselesaikan secara kekeluargaan.”

Aku menatapnya.

“Keluarga siapa?”

Beliau terdiam.

“Raka salah. Tante akui.”

“Bukan hanya Raka.”

Wajahnya berubah.

Aku meletakkan salinan dokumen perusahaan di meja.

“Perusahaan suami Tante menjadi perantara dokumen.”

Beliau langsung pucat.

“Tante tidak tahu.”

“Mungkin.”

Aku mengangguk.

“Makanya biarkan pemeriksaan menentukan siapa yang tahu dan siapa yang tidak.”

Beliau mulai menangis.

“Alya, kalian hampir menikah.”

“Hampir.”

“Lima tahun bukan waktu sebentar.”

Aku tersenyum tipis.

“Benar.”

“Jadi tolong ingat semua kebaikan Raka.”

Aku memandang perempuan yang beberapa hari lalu menyebut keluargaku tidak tahu diri.

“Tante juga ingat satu hal.”

“Apa?”

“Ketika Ayah saya jatuh sambil memegang dada, Tante bahkan tidak mau memanggil kendaraan.”

Beliau tidak bisa menjawab.

Aku berdiri.

“Percakapan kita selesai.”

Kasus itu tidak selesai dalam sehari.

Tetapi satu per satu semuanya terbuka.

Pengajuan kredit PT Nara Lifestyle dibatalkan.

Sertifikat Ayah ditemukan di tempat penyimpanan dokumen perusahaan keluarga Raka dan dikembalikan melalui proses resmi.

Pencairan Rp275 juta tidak pernah berhasil.

Untuk transaksi Rp41,5 juta, bukti menunjukkan kartu tambahanku digunakan tanpa persetujuan untuk membeli barang-barang Nadine.

Setelah proses sengketa dan pengembalian transaksi, sebagian besar dana berhasil kembali.

Yang paling ironis justru bisnis Nadine.

Selama ini dia selalu berbicara seolah uang tidak berarti apa-apa.

Ternyata bisnis barunya sangat bergantung pada kredit yang ingin mereka dapatkan menggunakan aset orang lain.

Tanpa fasilitas itu, pembukaan toko dibatalkan.

Kontrak sewa bermasalah.

Beberapa pemasok meminta pembayaran di muka.

Hubungan Nadine dan keluarga Raka juga mulai retak ketika masing-masing saling menyalahkan tentang siapa yang mengusulkan penggunaan dokumenku.

Untuk urusan pemalsuan dan pengambilan dokumen, aku tidak mencabut laporan.

Aku juga tidak meminta hukuman tertentu.

Aku hanya menyerahkan semuanya kepada proses hukum.

Tiga bulan kemudian, Raka menungguku di luar gedung tempatku bekerja.

Dia terlihat berbeda.

Lebih kurus.

Tidak lagi memakai jam mahal yang dulu dibelinya saat aku berjuang mencari biaya pemeriksaan Ayah.

“Alya.”

Aku berhenti beberapa meter darinya.

“Aku cuma mau bicara lima menit.”

“Bicara.”

Dia menunduk.

“Aku salah.”

Aku diam.

“Aku pikir selama ini aku sedang menguji kamu.”

“Tidak.”

Dia mengangkat kepala.

“Kamu sedang menikmati kekuasaan karena tahu aku mencintaimu.”

Wajahnya menegang.

Aku melanjutkan,

“Kamu membuatku merasa harus membuktikan bahwa aku pantas dicintai hanya karena keluargaku tidak sekaya keluargamu.”

“Aku dipengaruhi Nadine.”

Aku hampir tersenyum.

“Jangan hina dirimu sendiri lebih jauh dengan menyalahkan perempuan lain atas keputusanmu.”

Dia terdiam.

Kemudian berkata,

“Kalau aku benar-benar berubah, masih ada kemungkinan?”

Aku memandang lelaki yang pernah kukira akan menjadi ayah dari anak-anakku.

Aneh.

Tidak ada lagi rasa marah.

Yang tersisa hanya jarak.

“Tidak.”

“Alya…”

“Aku memaafkan diriku sendiri karena pernah mempercayaimu.”

Aku menarik napas.

“Tapi itu tidak berarti aku harus memberimu kesempatan kedua.”

Aku berjalan pergi.

Enam bulan kemudian, Ayah sudah jauh lebih sehat.

Aku membantu Ayah dan Ibu memperbaiki rumah mereka di Garut, bukan karena rumah itu mewah, tetapi karena setelah hampir kehilangan tempat tersebut aku baru sadar betapa banyak kenangan yang tersimpan di sana.

Aku juga mendapatkan posisi penelitian tetap di kampus setelah proyek yang kukerjakan selama dua tahun mendapat pendanaan baru.

Untuk pertama kalinya setelah lima tahun, aku membeli tiket liburan menggunakan uangku sendiri.

Tidak ada undian.

Tidak ada seseorang yang menentukan apakah aku pantas makan di restoran bagus.

Tidak ada yang menghitung harga hadiah untuk mengukur apakah aku matre.

Aku mengajak Ayah dan Ibu ke Yogyakarta.

Malam terakhir, kami makan di sebuah restoran kecil dekat Malioboro.

Ayah tiba-tiba mengeluarkan uang Rp10.000.

Dia meletakkannya di meja.

“Ini mahar kamu dulu, kan?”

Aku menatapnya.

Kemudian kami bertiga tertawa.

Ibu memukul pelan lengan Ayah.

“Jangan bercanda begitu.”

Ayah tersenyum kepadaku.

“Dulu Ayah marah sekali.”

“Aku tahu.”

“Tapi sekarang Ayah malah bersyukur.”

“Kenapa?”

“Karena kalau malam itu mereka pura-pura baik, mungkin kamu benar-benar menikah dengannya.”

Aku terdiam.

Ayah benar.

Kadang penghinaan terbesar justru menyelamatkan kita dari kesalahan terbesar.

Aku mengambil uang Rp10.000 itu.

Lalu kuberikan kepada pelayan sebagai tambahan tip.

Ayah tertawa.

“Lho, kok diberikan?”

Aku menatap kedua orang tuaku.

“Karena sekarang uang sepuluh ribu itu sudah kembali ke harga sebenarnya.”

“Memangnya apa?”

Aku tersenyum.

“Cuma uang sepuluh ribu.”

Bukan harga seorang perempuan.

Bukan harga sebuah pernikahan.

Dan jelas bukan harga diriku.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku pulang tanpa merasa harus membuktikan apa pun kepada siapa pun.

Aku tidak menang karena Raka kehilangan bisnis, karena Nadine kehilangan toko impiannya, atau karena keluarga mereka akhirnya harus menghadapi akibat perbuatan sendiri.

Aku menang ketika akhirnya memahami satu hal sederhana:

Orang yang benar-benar mencintaimu tidak akan terus-menerus menguji apakah kamu layak dicintai.

Dia akan memperlakukanmu seolah sejak awal dia sudah tahu jawabannya.

#DramaIndonesia #KisahKeluarga #PengkhianatanCinta #HargaDiriPerempuan #CeritaViral