Aku Menikahi Pilot yang Hanya Pulang Setahun Sekali, Lalu Ayahku Memakai Nama Keluarganya untuk Menyelamatkan Perusahaan

Avatar penulis
Cerita 01
26 menit baca 301 tayangan
Aku Menikahi Pilot yang Hanya Pulang Setahun Sekali, Lalu Ayahku Memakai Nama Keluarganya untuk Menyelamatkan Perusahaan
Indeks

Aku Menikahi Pilot yang Hanya Pulang Setahun Sekali, Lalu Ayahku Memakai Nama Keluarganya untuk Menyelamatkan Perusahaan

Bagian 1

Ibuku mengenalkanku kepada seorang pilot yang penghasilannya hampir Rp5 miliar setahun, tetapi hanya mendapat satu kali cuti panjang untuk pulang ke Indonesia setiap tahun.

Aku baru duduk dua puluh menit di meja perkenalan itu ketika satu pikiran terus menggangguku.

Kalau suamiku hanya pulang setahun sekali, bukankah aku akan hidup seperti orang yang tidak punya pasangan?

Kami makan di sebuah restoran hotel di kawasan Sudirman. Dari jendela di belakang laki-laki yang duduk di depanku, gedung-gedung Jakarta terlihat kecil di bawah cahaya sore.

Aku tidak tertarik melihatnya.

Namanya Arga Wicaksana.

Aku Menikahi Pilot yang Hanya Pulang Setahun Sekali, Lalu Ayahku Memakai Nama Keluarganya untuk Menyelamatkan Perusahaan

Ia seorang kapten pilot untuk perusahaan kargo internasional, bertugas dengan basis di luar negeri. Kontraknya membuat sebagian besar waktunya habis di rute jarak jauh, dan cutinya dikumpulkan menjadi satu blok panjang setiap tahun.

Kemeja putihnya sederhana, tetapi potongannya rapi. Ia duduk tegak, berbicara seperlunya, dan sejak kami bertemu belum sekali pun mencoba membuat dirinya terdengar lebih menarik.

Aku justru menyukai bagian itu.

Setidaknya ia tidak menjual cerita.

Aku sedang menyusun kalimat sopan untuk menolak ketika Arga meletakkan sendoknya.

“Rania,” katanya. “Sebelum kita bicara terlalu jauh, saya punya dua syarat.”

Kaki Ibu menyentuh pergelangan kakiku dari bawah meja.

Aku tahu artinya.

Jangan macam-macam.

Aku menatap Arga. “Silakan.”

Ia tampak sedikit terkejut karena aku tidak tersinggung.

“Pertama, kalau kita menikah, saya tidak akan mengatur pekerjaanmu, teman-temanmu, atau kegiatanmu. Selama tidak merugikan rumah tangga, hidupmu tetap milikmu.”

Aku tidak langsung menjawab.

Sejak pembicaraan soal pernikahan dimulai enam bulan sebelumnya, hampir semua laki-laki yang dikenalkan kepadaku menanyakan hal yang sama.

Apakah setelah menikah aku bersedia berhenti bekerja?

Apakah aku keberatan kalau pergaulanku dikurangi?

Apakah aku siap lebih banyak berada di rumah?

Aku sudah enam tahun bekerja sebagai konsultan desain dan mengelola studio kecil bersama dua teman. Ayah menganggap pekerjaanku sebagai kesibukan sebelum menikah, bukan karier.

Bahkan Ibu pernah berkata, “Kalau sudah dapat suami mapan, buat apa capek-capek mengejar proyek?”

Arga menjadi laki-laki pertama yang justru berkata bahwa ia tidak ingin mengambil pekerjaanku.

“Yang kedua?” tanyaku.

Ia menatapku tanpa tersenyum.

“Rekening tempat gaji saya masuk akan saya serahkan untuk kebutuhan rumah tangga. Tempat tinggal yang sudah saya siapkan juga akan menjadi rumahmu. Untuk aset yang memang saya janjikan atas namamu, pengurusannya tetap lewat notaris sesuai prosesnya.”

Aku semakin bingung.

Ia melanjutkan sebelum aku sempat bertanya.

“Saya cuma meminta satu hal sebagai gantinya.”

“Apa?”

“Ibu saya tinggal di residensi lansia dengan perawatan medis di Sentul. Kondisi fisiknya tidak memungkinkan tinggal sendirian, sementara saya hampir selalu di luar negeri.”

Suaranya tetap datar, tetapi untuk pertama kalinya aku melihat sesuatu berubah di wajahnya.

“Saya berharap dua kali sebulan kamu bersedia menjenguk beliau. Tidak perlu mengurus hal medis. Temani makan, ajak bicara, lihat apakah ada sesuatu yang beliau butuhkan.”

Aku diam.

Bukan karena permintaannya berat.

Justru karena terlalu sederhana.

Ia tidak meminta aku berhenti bekerja.

Tidak meminta aku segera mempunyai anak.

Tidak meminta aku menjadi istri yang selalu menunggu di rumah.

Ia memberiku ruang, lalu meminta aku menggantikan sesuatu yang tidak mampu ia lakukan sendiri.

Hadir untuk ibunya.

Mataku terasa panas.

Ayahku, Surya Hartono, sedang berusaha menyelamatkan perusahaan konstruksi miliknya dari masalah arus kas. Beberapa proyek terlambat membayar, fasilitas kredit mulai diperketat, dan ia mendadak sangat rajin mengatur perkenalanku dengan laki-laki dari keluarga yang dianggap berguna.

Aku tahu persis kenapa namaku akhirnya sampai ke keluarga Wicaksana.

Bukan karena Ayah khawatir aku kesepian.

Aku sedang menjadi aset yang bisa dinegosiasikan.

Sementara laki-laki asing di depanku justru mengatakan bahwa hidupku tidak perlu berhenti hanya karena menikah dengannya.

Ibu kembali menendang kakiku.

“Rania,” bisiknya, nyaris tanpa menggerakkan bibir. “Jawab.”

Aku menarik napas.

“Baik.”

Arga menunggu.

Aku mengangkat wajah dan mengulanginya dengan lebih jelas.

“Saya mau menikah dengan Anda.”

Ibu langsung mengembuskan napas panjang.

Wajah Arga berubah sepersekian detik. Bukan bahagia, lebih seperti seseorang yang sudah menyiapkan diri menerima penolakan lalu mendapati jawabannya berbeda.

“Baik,” katanya.

Makan malam itu selesai tidak lama kemudian.

Tidak ada percakapan romantis. Arga bahkan tidak menanyakan makanan kesukaanku.

Sebelum pergi, ia mengatakan penerbangannya berangkat pagi-pagi sekali keesokan harinya.

Pertemuan pertama kami berakhir lebih mirip penutupan kesepakatan dibanding awal hubungan.

Begitu sampai di rumah, Ibu menarikku ke ruang keluarga.

“Kamu tahu keluarga Wicaksana itu siapa?”

“Aku tahu sedikit.”

“Sedikit?” Wajahnya berseri-seri. “Mereka memang tidak suka tampil di media, tapi jaringan bisnisnya luas. Keluarganya lama di Jakarta. Kalau hubungan dengan mereka baik, masalah perusahaan Bapakmu bisa jauh lebih ringan.”

Aku menatapnya.

“Nah. Jadi memang itu yang penting.”

Senyumnya berkurang.

“Jangan mulai lagi, Rania.”

“Ibu bahkan belum bertanya aku suka atau tidak.”

“Laki-lakinya baik, pekerjaannya bagus, penghasilannya jelas. Kamu diberi kebebasan. Apa lagi?”

“Bahagia, mungkin?”

Ibu menghela napas seperti aku sedang sengaja mempersulit hidupnya.

“Kebahagiaan itu dibangun setelah menikah. Yang penting fondasinya bagus.”

Aku tidak membalas.

Aku sudah terlalu sering mendengar kata keluarga dipakai untuk menjelaskan kenapa aku harus menuruti sesuatu yang tidak pernah kupilih.

Seminggu kemudian, setelah rangkaian pernikahan yang sangat sederhana dan pencatatan resmi selesai, aku dan Arga benar-benar menjadi suami istri.

Tidak ada resepsi besar.

Tidak ada pesta hotel.

Tidak ada bulan madu.

Kami hanya makan siang bersama keluarga inti, menandatangani dokumen yang diperlukan, lalu pulang membawa bukti bahwa hidup kami secara hukum telah berubah.

Di parkiran, telepon Arga berdering.

Ia berbicara singkat, kemudian menyerahkan sebuah kartu debit dan satu set kunci kepadaku.

“Ini rekening tempat pembayaran saya masuk. PIN awalnya tanggal lahirmu. Nanti kamu ganti sendiri.”

Aku memandang kartu itu.

“Dan ini?”

“Unit apartemen di Senopati yang saya ceritakan. Lantai paling atas. Semua kebutuhan dasar sudah ada.”

“Sekarang?”

“Sekarang.”

Ia melirik jam.

“Sore ini saya harus berangkat. Jadwal berikutnya langsung menyambung ke beberapa rute.”

Aku masih memegang kunci ketika ia mulai berjalan.

“Arga.”

Ia menoleh.

Ada satu pertanyaan yang sejak malam pertama belum berhenti menggangguku.

“Kenapa saya?”

Ia tidak menjawab cepat.

“Keluarga saya pasti punya pilihan lain yang lebih cocok.”

“Itu bukan pertanyaan saya.”

Ia menatapku beberapa detik.

“Karena waktu makan malam itu, semua orang di meja seperti sedang menghitung sesuatu.”

Aku mengerutkan kening.

“Kecuali kamu.”

“Lalu?”

“Tatapanmu tenang. Kamu tidak mencoba menyenangkan saya.”

Jawaban itu terdengar aneh, tetapi ia tidak menjelaskan lagi.

“Jaga dirimu.”

Setelah itu ia masuk ke mobil yang sudah menunggu.

Kurang dari satu jam setelah kami resmi menikah, suamiku pergi.

Sebulan berikutnya, keberadaan Arga dalam hidupku hampir hanya terlihat dari dua hal.

Namanya di dokumen pernikahan.

Dan notifikasi rekening.

Jumlah yang masuk membuatku beberapa kali memeriksa layar karena takut salah membaca.

Namun aku tidak menyentuh uang itu kecuali untuk biaya apartemen dan kebutuhan yang memang berkaitan dengan rumah.

Aku juga belum pindah ke Senopati.

Aku masih tinggal di rumah orang tuaku, bekerja seperti biasa, dan mencoba memahami bagaimana rasanya menikah dengan seseorang yang bahkan belum pernah menelepon untuk bertanya apakah aku sudah makan.

Sementara itu, keadaan perusahaan Ayah mendadak membaik sedikit.

Bukan karena keluarga Wicaksana menanam modal.

Tidak ada uang yang masuk dari mereka.

Tetapi setelah kabar pernikahanku menyebar, beberapa mitra bisnis yang sebelumnya ragu menjadi lebih terbuka. Undangan pertemuan bertambah. Dua proyek yang lama tertunda akhirnya bergerak.

Ayah tidak pernah mengaku menggunakan nama keluarga suamiku.

Ia tidak perlu.

Perubahan sikapnya kepadaku sudah cukup menjelaskan semuanya.

Dulu kalau aku terlambat turun makan malam, ia hampir tidak menyadari.

Sekarang ia sendiri menarikkan kursi.

“Ran, ambil ikan ini. Kamu suka, kan?”

Aku menatap lauk yang diletakkannya ke piringku.

Ia bahkan salah mengingat.

Aku tidak suka ikan dengan saus itu.

“Banyak-banyak komunikasi dengan keluarga Arga,” katanya. “Terutama ibunya. Kalau hubungan keluarga dekat, urusan lain biasanya ikut mudah.”

Aku menurunkan sendok.

“Nah, itu.”

Ayah menatapku. “Apa?”

“Aku ada sesuatu untuk Bapak.”

Aku mengambil kartu debit milikku sendiri dari dompet dan mendorongnya ke tengah meja.

“Di rekening ini ada Rp3 miliar.”

Ibu langsung menoleh.

Ayah tidak menyentuh kartu itu.

“Untuk apa?”

“Dulu biaya kuliah dan hidupku di luar negeri sekitar Rp1,5 miliar. Bapak berkali-kali bilang itu investasi.”

Wajahnya mulai berubah.

“Aku mengembalikan dua kali lipat.”

“Rania.”

“PIN-nya tahun perusahaan Bapak berdiri.”

Ayah mendorong kursinya ke belakang.

“Apa maksudmu?”

“Mulai hari ini, aku tidak mau lagi mendengar bahwa aku berutang hidup kepada perusahaan itu.”

Tangannya menghantam meja.

Piring bergetar.

“Sudah merasa hebat setelah menikah dengan keluarga Wicaksana?”

Ibu berdiri cepat.

“Surya, jangan keras-keras. Rania, ambil kartunya. Kalian ini ayah dan anak.”

Aku tetap duduk.

Ayah menunjuk wajahku.

“Kamu kira setelah menikah kamu bisa membuang keluarga sendiri?”

“Bapak yang lebih dulu mengubah hubungan kita menjadi transaksi.”

“Aku membesarkanmu!”

“Dan setiap kali aku tidak menurut, Bapak menghitung berapa banyak uang yang pernah Bapak keluarkan untukku.”

“Karena kamu tidak tahu terima kasih!”

Aku berdiri.

Suara Ayah semakin tinggi, tetapi untuk pertama kalinya aku tidak merasa perlu memenangkan perdebatan.

Aku hanya ingin menutup tagihan yang selama bertahun-tahun dipakai untuk mengatur hidupku.

“Rp3 miliar itu lebih dari yang Bapak keluarkan untuk pendidikanku.”

Aku mendorong kartu itu sekali lagi ke arahnya.

“Kalau hubungan kita memang harus dihitung dengan uang, anggap ini pembayaran lunas untuk lebih dari dua puluh tahun.”

Bagian 2 berlanjut di kolom komentar di bawah jika ingin lanjut membaca. 👇

Bagian 2

Ayah menatapku beberapa detik, lalu menyapu kartu itu dari meja.

Kartu tersebut jatuh ke lantai.

“Keluar kalau itu yang kamu mau.”

Ibu memegang lengannya. “Surya.”

“Biar.”

Aku mengambil kartu itu, memasukkannya kembali ke dompet, lalu naik ke kamar tanpa mengatakan apa-apa.

Malam itu aku mengemas pakaian.

Baru saat melihat dua koper berdiri di samping pintu, Ibu benar-benar percaya aku akan pergi.

“Rania, jangan begini.”

“Aku hanya pindah ke tempatku sendiri.”

“Bapakmu sedang banyak tekanan.”

“Aku juga sudah bertahun-tahun hidup di bawah tekanannya.”

Ibu menunduk.

Lalu ia mengatakan kalimat yang sudah bisa kutebak.

“Keluarga tetap keluarga.”

Aku mengangguk.

“Karena itu seharusnya keluarga tidak menggunakan pernikahan anaknya sebagai fasilitas bisnis.”

Keesokan harinya aku pindah ke apartemen Senopati.

Tempat itu terasa terlalu rapi untuk disebut rumah. Lemari penuh gantungan kosong, dapur hampir tidak pernah dipakai, dan satu-satunya tanda bahwa Arga pernah tinggal di sana adalah beberapa buku penerbangan di ruang kerja.

Aku mengirim pesan kepadanya.

Aku sudah pindah ke apartemen. Aku juga sudah bicara dengan keluargaku. Mulai sekarang aku tidak mengizinkan mereka menggunakan namamu untuk kepentingan perusahaan.

Balasannya datang hampir empat jam kemudian.

Baik. Kalau ada pihak dari keluargamu menghubungi saya atau kantor keluarga, saya kabari kamu.

Tidak ada pertanyaan lain.

Aneh sekali, tetapi kalimat pendek itu justru membuatku lega.

Dua hari kemudian aku menepati janjiku untuk pertama kali.

Aku pergi ke Sentul menemui ibu Arga.

Namanya Ratna Wicaksana.

Tubuhnya lebih kecil daripada yang kubayangkan. Ia berjalan menggunakan tongkat dan tinggal di sebuah residensi lansia swasta yang memiliki perawat, fisioterapi, serta dokter yang datang beberapa kali seminggu.

Ia menatapku dari kepala sampai kaki.

“Jadi kamu Rania.”

“Iya, Bu.”

“Arga menyuruhmu datang?”

Aku tersenyum kecil. “Salah satu syarat dia mau menikahi saya adalah saya datang dua kali sebulan.”

Ibu Ratna mendengus.

“Anak itu benar-benar tidak tahu cara bicara dengan perempuan.”

Aku hampir tertawa.

Pertemuan pertama kami hanya berlangsung empat puluh menit.

Pertemuan kedua satu jam.

Pada kunjungan ketiga, Ibu Ratna sudah menyuruhku membawakan katalog kain karena ia tahu aku bekerja di bidang desain.

Pada kunjungan keempat, kami berdebat soal warna sofa ruang bersama sampai salah satu perawat menahan tawa.

Tanpa kusadari, aku mulai datang bukan hanya untuk memenuhi kesepakatan.

Arga juga mulai mengirim pesan lebih sering.

Awalnya hanya tentang ibunya.

Apakah Ibu masih mengeluh soal terapi?

Tolong bilang jangan melewatkan obat sore.

Kemudian pesannya berubah sedikit.

Proyek hotelmu jadi?

Kamu masih sering pulang malam?

Sampai suatu malam ia menulis sesuatu yang berbeda.

Ayahmu menghubungi kantor keluarga minggu lalu. Katanya Hartono Konstruksi ingin menjajaki kerja sama.

Aku duduk lebih tegak.

Aku tidak tahu.

Saya menduga begitu. Tidak ada yang kami setujui.

Aku menelepon Ayah.

Ia tidak menjawab.

Keesokan siangnya Ibu menelepon dan meminta aku pulang makan malam.

“Ayahmu cuma ingin bicara.”

“Kalau soal perusahaan, bilang saja lewat telepon.”

“Dia cuma butuh kamu membantu mengenalkan beberapa orang.”

“Aku tidak mau.”

“Ran, puluhan orang bekerja di perusahaan itu.”

“Kalau perusahaan butuh modal, perusahaan harus menunjukkan laporan keuangan kepada bank atau investor. Bukan memakai nama suamiku.”

Ibu terdiam.

Tiga hari kemudian Arga mengirim sebuah dokumen PDF.

Pesannya hanya satu kalimat.

Ran, saya perlu kamu lihat halaman terakhir.

Judul dokumennya adalah proposal kerja sama Hartono Konstruksi dengan salah satu perusahaan investasi yang mengenal keluarga Wicaksana.

Di halaman pembuka tertulis bahwa perusahaan Ayah mendapat “dukungan hubungan strategis keluarga”.

Aku menggulir sampai halaman terakhir.

Di sana ada namaku.

Rania Hartono Wicaksana.

Di bawahnya tercetak kalimat bahwa aku mengetahui dan mendukung pembicaraan tersebut sebagai penghubung keluarga.

Lalu ada sebuah tanda tangan.

Bentuknya mirip tanda tanganku.

Tetapi aku tahu persis aku tidak pernah membubuhkannya.

Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇

Bagian 3

Aku membaca halaman terakhir itu tiga kali.

Bukan karena aku tidak mengerti.

Aku justru terlalu mengerti.

Tanda tangannya dibuat dari contoh lama.

Ada satu lekukan kecil pada huruf R yang dulu selalu kubuat ketika masih kuliah. Sudah hampir empat tahun aku mengubah bentuk tanda tangan untuk dokumen kerja.

Seseorang mengambil versi lama dan menempelkannya ke proposal itu.

Aku menyimpan salinan PDF ke dua tempat, lalu menelepon Arga.

Ia mengangkat pada dering kedua.

“Sudah lihat?”

“Sudah.”

“Itu tanda tanganmu?”

“Bukan.”

Tidak ada suara beberapa detik.

Lalu ia bertanya, “Mau saya hentikan semua pembicaraan?”

Pertanyaan itu mengejutkanku.

Ia tidak berkata akan mengurus semuanya.

Ia bertanya apa yang kuinginkan.

“Iya. Tapi bukan karena kamu marah kepada Ayahku.”

“Saya memang marah.”

Aku hampir tersenyum meski sedang kesal.

“Maksudku, sampaikan saja secara profesional bahwa aku tidak pernah memberi kuasa.”

“Baik.”

“Aku akan mengurus bagian keluargaku.”

“Kalau perlu bantuan?”

“Aku kabari.”

“Baik.”

Aku menutup telepon dan langsung menelepon Ayah.

Kali ini ia menjawab.

“Kamu akhirnya mau bicara?”

“Aku baru menerima proposal perusahaan.”

Ia diam sangat singkat.

Terlalu singkat untuk berpura-pura tidak tahu.

“Proposal yang mana?”

“Yang memakai namaku.”

“Oh, itu.”

Aku memejamkan mata.

“Siapa yang memasukkan tanda tanganku?”

“Jangan membesar-besarkan.”

“Siapa?”

“Itu cuma draft.”

“Draft dikirim ke pihak luar.”

“Ayah sedang menyelamatkan perusahaan.”

“Dengan tanda tangan palsu?”

“Bahasamu jangan sembarangan.”

Aku berdiri dari kursi kerja dan berjalan ke jendela.

Dari lantai tinggi itu, suara kendaraan di bawah hampir tidak terdengar.

Ayah melanjutkan, suaranya lebih rendah.

“Kamu pikir proyek bisa berjalan hanya dengan niat baik? Orang butuh keyakinan. Nama keluarga Wicaksana memberi keyakinan.”

“Jadi Bapak memang sengaja.”

“Tidak ada yang dirugikan.”

“Aku dirugikan.”

“Kamu anak saya.”

“Dan saya tidak pernah memberi izin.”

Nada suaranya berubah.

“Jangan sok formal dengan Ayah sendiri.”

“Aku akan bicara formal kalau Bapak memakai namaku di dokumen bisnis.”

Ia tertawa pendek.

“Sekarang kamu merasa punya kuasa karena suamimu kaya?”

Aku tidak menjawab tuduhannya.

“Mulai hari ini, jangan gunakan namaku, nama Arga, atau keluarga Wicaksana dalam proposal apa pun.”

“Kalau kamu tidak membantu, perusahaan bisa kehilangan fasilitas pembiayaan.”

“Itu risiko perusahaan.”

“Ini juga perusahaan yang membiayai hidupmu.”

“Makanya aku sudah mencoba membayar kembali uang yang selalu Bapak hitung.”

“Kamu pikir Rp3 miliar bisa mengganti darah?”

Kalimat itu membuatku hampir tertawa.

Dua hari sebelumnya, saat aku menawarkan uang itu, Ayah mengatakan darah tidak memberiku hak untuk menolak perintahnya.

Sekarang darah dipakai lagi karena uang tidak lagi berhasil.

“Aku tidak bilang bisa,” kataku. “Tapi darah juga tidak memberi Bapak hak menandatangani sesuatu atas namaku.”

Ia menutup telepon.

Malam itu aku tidak tidur nyenyak.

Bukan karena takut Ayah akan berbuat lebih jauh.

Aku justru mulai melihat pola yang selama ini terlalu dekat untuk kusadari.

Saat kecil, jika aku mendapatkan nilai bagus, Ayah akan berkata sekolah mahal tidak sia-sia.

Saat aku memilih jurusan desain, ia mengingatkan bahwa biaya kuliahku berasal dari perusahaan.

Saat aku menolak bekerja penuh waktu di kantornya, ia mengatakan aku tidak tahu membalas budi.

Saat perusahaan kesulitan, pernikahanku berubah menjadi kesempatan.

Setiap pemberian selalu datang dengan nota yang baru dikeluarkan ketika aku tidak patuh.

Pagi berikutnya aku membuat janji dengan seorang advokat yang beberapa kali membantu kontrak studionku.

Namanya Bima.

Aku membawa salinan proposal, pesan dari Arga, dan beberapa dokumen yang menunjukkan bentuk tanda tanganku sekarang.

Bima membaca tanpa dramatis.

“Dokumen ini belum tentu membuat kamu otomatis menanggung kewajiban apa pun,” katanya. “Tapi bagian yang memakai nama dan tanda tanganmu harus diluruskan. Apalagi sudah dikirim ke pihak ketiga.”

“Apa yang sebaiknya saya lakukan?”

“Kita buat pemberitahuan tertulis. Isinya jelas bahwa kamu tidak pernah memberi kuasa, tidak pernah menandatangani dokumen tersebut, dan tidak menjamin kewajiban perusahaan ayahmu.”

“Perlu laporan polisi?”

“Jangan lompat ke sana dulu kalau tujuanmu menghentikan penggunaan dokumen dan belum ada kerugian lebih jauh. Kita amankan posisi kamu, kumpulkan bukti, lalu lihat respons mereka.”

Itulah yang kulakukan.

Bukan ancaman.

Bukan unggahan media sosial.

Bukan mempermalukan Ayah di depan relasi bisnisnya.

Aku hanya mencabut sesuatu yang tidak pernah kuberikan.

Surat pemberitahuan dikirim ke perusahaan Ayah, pihak yang menerima proposal, dan kantor keluarga Arga.

Arga menegaskan dari pihaknya bahwa keluarga Wicaksana tidak memberikan jaminan, rekomendasi kredit, ataupun komitmen investasi kepada Hartono Konstruksi.

Selesai.

Setidaknya seharusnya begitu.

Tiga hari kemudian Ibu datang ke apartemen.

Ketika kubuka pintu, wajahnya terlihat lelah.

“Kamu benar-benar mengirim surat pengacara?”

“Surat pemberitahuan.”

“Ayahmu malu sekali.”

“Aku tidak mengirimnya ke semua orang. Hanya pihak yang menerima dokumen.”

“Dia bilang satu investor mundur.”

“Mereka mundur karena ternyata dukungan yang diklaim perusahaan tidak ada.”

Ibu masuk tanpa menunggu dipersilakan.

Ia duduk di sofa dan meletakkan tas di pangkuannya.

“Rania, Ibu tahu cara Bapakmu salah.”

Itu pertama kalinya aku mendengar kalimat tersebut.

“Tapi?”

Ia menatapku.

“Tapi kalau perusahaan jatuh, banyak pegawai ikut terkena.”

Aku duduk di hadapannya.

“Aku paham.”

“Kalau kamu mau bicara dengan Arga sekali saja…”

“Tidak.”

“Dengar dulu.”

“Aku sudah dengar sejak kecil.”

Ia terdiam.

Aku melanjutkan dengan suara lebih pelan.

“Kalau perusahaan perlu restrukturisasi, jual aset yang tidak penting. Negosiasi dengan kreditur. Cari investor dengan laporan yang jujur. Kurangi proyek. Banyak cara yang menyakitkan, tapi legal.”

“Rumah kita mungkin harus dijual.”

Aku menatapnya beberapa detik.

Untuk pertama kalinya, ancaman itu tidak langsung membuatku panik.

Rumah masa kecilku besar. Tanahnya mahal. Ayah selalu mengatakan rumah itu simbol kerja kerasnya.

Kalau perusahaan benar-benar kekurangan uang, masuk akal jika sebagian aset keluarga harus ikut menanggung keputusan bisnis yang ia buat.

“Kalau memang harus,” kataku, “itu lebih masuk akal daripada meminta aku mempertaruhkan nama suamiku untuk mempertahankan rumah sebesar itu.”

Mata Ibu memerah.

“Kamu berubah.”

“Ya.”

Ia tampak terpukul.

Aku segera menambahkan, “Bukan karena Arga.”

Ibu menatapku.

“Aku cuma tidak tinggal di bawah atap Bapak lagi.”

Kalimat itu membuat kami sama-sama diam.

Sebelum pulang, Ibu bertanya apakah uang Rp3 miliar itu masih ada.

“Ada.”

“Kamu masih mau memberikannya?”

Aku mengangguk.

“Itu uangku sendiri. Kalau Bapak menerimanya sebagai penyelesaian soal biaya pendidikanku, aku tetap akan transfer. Tapi tidak ada syarat lain.”

Dua hari kemudian rekening tujuan dikirim oleh bagian keuangan perusahaan.

Tidak ada pesan dari Ayah.

Aku mentransfer uang itu.

Setelahnya aku menyimpan bukti transfer dan tidak pernah membicarakannya lagi.

Hubunganku dengan Ibu Ratna berkembang di arah yang sama sekali berbeda.

Ia tidak banyak bertanya tentang pertengkaranku dengan Ayah.

Aku tahu ia sudah mendengar sebagian dari Arga, tetapi ia menunggu sampai suatu sore aku sendiri yang menceritakannya.

Kami sedang duduk di teras residensi setelah sesi fisioterapinya.

“Bapakmu menghubungi saya kemarin,” katanya tiba-tiba.

Tanganku berhenti membuka botol air.

“Untuk apa?”

“Katanya ingin bersilaturahmi.”

Aku menahan napas.

Ibu Ratna tersenyum miring.

“Saya sudah tua, Ran. Belum pikun.”

“Dia minta apa?”

“Tidak langsung.”

“Tetap saja.”

“Dia bilang sayang sekali keluarga kita belum sempat membicarakan kemungkinan kerja sama.”

Aku menutup mata sebentar.

“Maaf.”

“Kenapa kamu yang minta maaf?”

“Karena dia melibatkan Ibu.”

“Dia menelepon saya. Bukan kamu yang menyuruh.”

Ibu Ratna mengambil botol air dari tanganku.

“Saya bilang ke bapakmu, kalau urusan bisnis, bicara ke orang bisnis. Saya tinggal di sini karena lutut dan jantung saya rewel, bukan karena saya mau jadi komisaris lagi.”

Aku tertawa.

Ia ikut tertawa kecil.

Lalu wajahnya berubah serius.

“Arga bilang kamu menolak dia turun tangan lebih jauh.”

“Iya.”

“Bagus.”

Aku menoleh.

“Saya kira Ibu akan bilang seharusnya saya biarkan suami membantu.”

“Bantuan bukan masalah.”

Ia mengangkat telunjuk.

“Yang berbahaya itu ketika seseorang menyelesaikan semua masalahmu sampai kamu tidak punya suara sendiri.”

Kalimat itu tinggal di kepalaku cukup lama.

Malamnya Arga menelepon.

Bukan pesan.

Telepon.

Aku sempat mengira ada sesuatu terjadi pada ibunya.

“Bu Ratna baik-baik saja?” tanyaku begitu mengangkat.

Arga tertawa pelan.

Itu pertama kalinya aku mendengar dia tertawa.

“Baik. Saya menelepon bukan karena Ibu.”

“Lalu?”

“Boleh telepon istri sendiri tanpa alasan?”

Aku bersandar ke kepala ranjang.

“Secara hukum sepertinya boleh.”

“Akhirnya kamu bercanda.”

“Jangan dibiasakan.”

Percakapan pertama itu berlangsung sebelas menit.

Yang kedua hampir setengah jam.

Kemudian kami mulai menelepon satu sama lain seminggu sekali.

Arga masih sering berada di zona waktu yang berbeda. Kadang aku berbicara dengannya ketika di Jakarta sudah malam dan di tempatnya matahari baru naik.

Ia mulai bertanya tentang pekerjaanku.

Aku mulai tahu hal-hal kecil tentang dirinya.

Ia tidak suka makanan terlalu manis.

Ia selalu membaca manual dari halaman pertama sampai terakhir.

Ia bisa menerbangkan pesawat besar melintasi beberapa negara tetapi berkali-kali lupa membeli sabun sebelum habis.

Ia juga ternyata tidak sedingin yang kukira.

Hanya sangat terbiasa hidup sendiri.

Suatu malam, sekitar lima bulan setelah pernikahan kami, aku bertanya sesuatu yang sejak awal kusimpan.

“Kenapa dulu kamu membuat pernikahan kita terdengar seperti kontrak kerja?”

Ia tidak langsung menjawab.

“Agar jelas.”

“Bukan itu.”

Aku mendengar suara kursi bergerak di ujung sana.

“Arga, kamu memberi istrimu rekening, rumah, kebebasan, lalu pergi. Seolah kalau semua kebutuhan sudah tersedia, tugasmu selesai.”

Ia diam lama.

“Apa saya salah?”

“Sedikit.”

“Berarti banyak.”

Aku tertawa kecil.

Kemudian ia berkata, “Saya memang berpikir begitu.”

Aku tidak menyela.

“Jadwal saya buruk. Saya tidak bisa menjanjikan hadir setiap minggu. Saya juga tidak mau menikah lalu menyuruh seseorang berhenti hidup hanya untuk menunggu saya.”

“Itu bagian yang masuk akal.”

“Bagian yang tidak?”

“Kamu mengira tidak mengatur hidupku sama dengan menjadi suami yang baik.”

Suara Arga menjadi sangat pelan.

“Padahal?”

“Padahal tidak hadir tetap tidak hadir.”

Percakapan itu berhenti beberapa detik.

Aku hampir menyesal mengatakannya.

Lalu ia menjawab, “Baik.”

Aku mengerutkan kening.

“Baik apa?”

“Saya dengar.”

“Cuma itu?”

“Saya tidak tahu jawaban yang bagus.”

“Untuk sekali ini, jawaban jujur cukup.”

Setelah malam itu, sesuatu berubah.

Bukan secara dramatis.

Arga tetap terbang.

Aku tetap tinggal sendiri.

Tetapi ia mulai mengirim pesan bukan hanya ketika perlu menanyakan ibunya.

Kalau ia punya waktu lima belas menit sebelum briefing, ia menelepon.

Jika aku sedang presentasi proyek, ia tidak mengganggu lalu mengirim pesan beberapa jam kemudian.

Bagaimana hasilnya?

Ketika aku mengeluh salah satu klien mengubah konsep untuk kelima kalinya, ia tidak menawarkan uang supaya aku berhenti bekerja.

Ia hanya berkata, “Kalau saya penumpangnya, mungkin saya sudah minta turun dari proyek itu.”

Aku mulai menunggu teleponnya.

Dan itu membuatku takut dengan cara yang berbeda.

Aku menikahi Arga karena transaksi tersebut terasa aman.

Ia jauh.

Ia tidak meminta banyak.

Aku tidak perlu berharap.

Semakin aku mengenalnya, semakin besar kemungkinan aku memiliki sesuatu untuk kehilangan.

Sementara itu, perusahaan Ayah mulai merasakan akibat dari keadaan sebenarnya.

Tanpa dukungan keluarga Wicaksana, satu fasilitas pembiayaan tidak diperpanjang sesuai jumlah yang ia inginkan.

Ayah terpaksa menjual sebuah gudang yang sudah lama tidak produktif dan mengurangi beberapa proyek baru.

Perusahaannya tidak hancur.

Tidak ada pegawai yang tiba-tiba kehilangan semuanya dalam satu hari.

Bisnisnya hanya menjadi lebih kecil.

Itu rupanya jauh lebih menyakitkan bagi Ayah dibanding kebangkrutan yang selalu ia jadikan ancaman.

Ia harus mengakui bahwa perusahaan tidak sebesar yang selama ini ingin ia tunjukkan.

Enam bulan setelah surat pemberitahuan dikirim, ia meneleponku sendiri.

“Bisa bertemu?”

Aku hampir mengatakan tidak.

Lalu bertanya, “Soal apa?”

“Perusahaan.”

“Kalau soal aku menjadi jaminan, jawabannya tetap tidak.”

“Bukan.”

Kami bertemu di kantor lamanya.

Aku belum pernah masuk ke sana sejak sebelum menikah.

Dinding ruang rapat masih dipenuhi foto proyek dan penghargaan. Beberapa kursi kosong karena staf sudah dipindahkan ke lantai lain untuk menghemat biaya.

Ayah terlihat lebih tua.

Bukan menyedihkan.

Hanya lebih manusiawi.

Ia meletakkan satu map di depanku.

“Apa ini?”

“Pernyataan bahwa perusahaan tidak akan memakai namamu atau nama keluarga suamimu dalam proposal tanpa persetujuan tertulis.”

Aku membuka map itu.

Dokumennya pendek.

Tidak ada permainan kata.

Aku membacanya sampai selesai.

“Kenapa sekarang?”

Ayah bersandar.

“Karena pengacara perusahaan bilang lebih baik semuanya jelas.”

Aku hampir tertawa.

Bahkan permintaan maaf pun masih harus datang melalui bahasa bisnis.

Namun setidaknya kali ini ada tindakan.

Ia menatap meja.

“Proposal itu seharusnya tidak dikirim.”

Aku menunggu.

“Staf mengambil tanda tangan dari dokumen lama karena saya bilang masukkan saja dulu.”

“Jadi Bapak yang menyuruh.”

“Iya.”

Itu mungkin satu-satunya pengakuan yang akan kudapat.

Aku menutup map.

“Terima kasih sudah mengatakan itu.”

Ayah menatapku untuk pertama kalinya sejak aku masuk.

“Kamu masih marah?”

“Masih.”

Ia mengangguk kecil.

“Ayahmu memang keras kepala.”

“Aku tahu.”

“Perusahaan sedang dibenahi.”

“Bagus.”

Ia mengusap dahinya.

“Aku tidak akan minta bantuan Arga lagi.”

“Bagus.”

Ia terlihat kesal mendengar jawabanku yang pendek.

Lalu sesuatu yang hampir lucu terjadi.

Ia menghela napas.

“Kalau tidak soal perusahaan, apakah ayah boleh telepon anak sendiri?”

Aku menatapnya cukup lama.

“Boleh.”

Wajahnya sedikit lega.

“Tapi kalau pembicaraannya berbelok ke bisnis, aku akan tutup.”

Ia hampir protes.

Kemudian menahannya.

“Baik.”

Aku tidak memeluknya.

Ia tidak meminta maaf sambil menangis.

Kami hanya menandatangani dokumen yang seharusnya tidak pernah diperlukan antara ayah dan anak.

Anehnya, justru dari sana hubungan kami mempunyai kesempatan kecil untuk menjadi sesuatu selain transaksi.

Hampir sebelas bulan setelah pernikahan, Arga akhirnya pulang.

Hari itu aku sedang di apartemen ketika bel pintu berbunyi.

Aku melihat layar kamera pintu dan berdiri membeku beberapa detik.

Suamiku ada di luar.

Dengan koper.

Ia sebenarnya memiliki kunci.

Aku membuka pintu.

“Kenapa pakai bel?”

Arga mengangkat bahu.

“Kamu yang tinggal di sini.”

“Ini juga rumahmu.”

“Sudah hampir setahun saya tidak masuk.”

Aku bergeser.

“Masuk sebelum tetangga mengira aku mengusir suami sendiri.”

Ia tertawa.

Rasanya aneh melihat seseorang yang selama berbulan-bulan kukenal dari layar telepon tiba-tiba berdiri di ruang tamu.

Arga terlihat sedikit lebih kurus.

Ada garis lelah di bawah matanya.

Ia menurunkan koper lalu memandang sekeliling.

“Kamu mengganti sofa.”

“Sofa pilihanmu keras sekali.”

“Saya bahkan tidak memilih. Interior designer yang pilih.”

“Berarti interior designer itu harus introspeksi.”

Ia duduk di sofa baru dan menekannya dengan telapak tangan.

“Ini lebih enak.”

Malam pertama kami tidak berubah menjadi adegan romantis besar.

Kami makan mi dari restoran dekat apartemen karena aku terlambat pulang dari studio.

Arga salah meletakkan piring bersih.

Aku memindahkannya.

Ia membuka satu lemari dan bertanya tiga kali barang disimpan di mana.

Kami seperti dua orang asing yang secara kebetulan sudah menikah sebelas bulan.

Tetapi tidak terasa buruk.

Dua hari kemudian ia ikut menemaniku ke Sentul.

Ibu Ratna memeluk anaknya, lalu memukul lengannya pelan.

“Kurus.”

“Bu, baru ketemu sudah kritik.”

“Kamu bayar orang mahal-mahal untuk kasih makan, tetap kurus.”

Arga menunjukku.

“Dia juga bilang begitu.”

Aku mengangkat tangan.

“Jangan bawa saya.”

Ibu Ratna tersenyum melihat kami.

Sepulang dari sana, Arga tidak langsung menyalakan mobil.

Ia duduk beberapa detik dengan kedua tangan di setir.

“Terima kasih.”

“Untuk apa?”

“Ibu.”

“Itu kesepakatan kita.”

“Saya tahu.”

Ia menatapku.

“Tapi kamu melakukan lebih dari yang saya minta.”

Aku memandang keluar jendela.

“Aku suka menemani Ibu.”

“Dia juga suka kamu.”

Aku mengangguk.

Arga menarik napas.

“Ada hal lain yang ingin saya bicarakan.”

Nada suaranya membuatku menoleh.

“Kontrak saya akan selesai tujuh bulan lagi.”

“Lalu?”

“Saya bisa memperpanjang dengan skema yang sama.”

Aku menunggu.

“Atau mengajukan perpindahan basis. Penghasilan turun. Jadwal tidak langsung bagus, tapi peluang pulang lebih sering ada.”

Aku terdiam.

“Karena aku?”

“Sebagian.”

“Jangan.”

Keningnya berkerut.

“Jangan mengubah karier hanya karena merasa berutang.”

“Saya tidak merasa berutang.”

“Lalu?”

Ia tersenyum kecil.

“Saya mulai tidak suka pulang cuma setahun sekali.”

Kalimat itu sederhana.

Justru karena itu aku mempercayainya.

“Kalau pindah basis memang baik untuk hidupmu juga, lakukan,” kataku. “Kalau tidak, jangan memakai pernikahan kita sebagai alasan.”

“Bagaimana kalau saya bilang saya ingin pernikahan ini benar-benar jadi pernikahan?”

Aku menatapnya.

Ia tidak mengalihkan pandangan.

“Dulu saya pikir caranya gampang,” katanya. “Saya tidak mengatur hidupmu. Saya menyediakan uang. Kamu menemui Ibu. Kita tidak saling menyusahkan.”

“Efisien.”

“Dingin sekali kalau kamu yang bilang.”

“Memang dingin.”

Ia mengangguk.

“Saya salah.”

Aku tidak menjawab cepat.

Aku tidak ingin membuat satu permintaan maaf berubah menjadi penghapus sebelas bulan kesepian.

“Apa yang kamu inginkan sekarang?” tanyaku.

“Mencoba.”

“Mencoba apa?”

“Menjadi suamimu, bukan orang yang namanya tercantum di dokumen.”

Aku menunduk melihat tanganku.

“Kalau kita mencoba, ada hal yang harus berubah.”

“Sebutkan.”

“Pertama, aku tidak mau memegang seluruh penghasilanmu seolah itu pengganti kehadiranmu.”

Ia mengangguk.

“Kita buat rekening rumah tangga terpisah.”

“Setuju.”

“Kedua, kalau ada keputusan besar tentang aset atau keluarga, kita bicara dulu.”

“Setuju.”

“Ketiga, ibumu tetap boleh aku kunjungi.”

Kali ini ia tersenyum.

“Itu bahkan tidak perlu dibicarakan.”

“Dan terakhir.”

“Apa?”

“Kalau kamu sibuk, bilang sibuk. Jangan menghilang sebulan lalu menganggap transfer uang sudah cukup memberi kabar.”

Ia menunduk sebentar.

“Yang itu paling memalukan.”

“Bagus kalau sadar.”

Ia tertawa pelan.

“Rania.”

“Hmm?”

“Kalau semuanya berjalan baik, apakah kamu masih menganggap pernikahan kita transaksi?”

Aku berpikir.

“Awalnya, iya.”

“Sekarang?”

Aku memandang laki-laki yang hampir setahun lalu duduk di seberang meja restoran dan menawarkan kebebasan seolah sedang membahas klausul kontrak.

“Sekarang belum tahu.”

Ia mengangguk.

Tidak kecewa.

Tidak memaksaku memberi jawaban yang lebih indah.

“Cukup.”

Tujuh bulan kemudian, permohonan perpindahan basis Arga disetujui.

Bukan ke Jakarta.

Ia mendapat penempatan regional yang membuat jadwalnya tetap sibuk, tetapi tidak lagi membuatnya hanya bisa pulang satu kali setahun.

Penghasilannya memang berkurang.

Tidak ada yang mati karena itu.

Kami juga akhirnya membuka rekening rumah tangga bersama.

Gajinya tetap masuk ke rekening pribadinya.

Pendapatanku tetap masuk ke rekeningku.

Setiap bulan kami sama-sama mentransfer jumlah yang sudah disepakati untuk kebutuhan bersama.

Itu jauh kurang romantis dibanding menyerahkan kartu hitam dengan PIN tanggal lahir.

Anehnya, justru terasa lebih seperti pernikahan.

Perusahaan Ayah masih berjalan.

Lebih kecil.

Lebih hati-hati.

Rumah orang tuaku akhirnya tidak dijual karena penjualan gudang dan restrukturisasi cukup membantu menurunkan beban.

Ayah tidak pernah kembali menjadi orang yang bisa mengaturku hanya dengan satu kalimat.

Kadang ia masih mencoba.

Kalau pembicaraan mulai berbelok ke relasi Arga, aku tinggal berkata, “Pak.”

Satu kata saja.

Biasanya ia langsung mengubah topik.

Ibu mulai datang ke apartemen bukan untuk membicarakan perusahaan, melainkan membawa makanan terlalu banyak.

Hubungan kami belum sempurna.

Mungkin tidak akan pernah.

Tetapi setidaknya sekarang, ketika mereka menelepon, aku tidak langsung bertanya dalam hati apa yang mereka inginkan dariku.

Ibu Ratna tetap tinggal di Sentul karena ia merasa lebih aman dengan perawat dan fasilitas medis di sana.

Aku masih datang dua kali sebulan.

Kadang lebih.

Suatu sore ia memandang kalender kunjunganku yang tertempel di sisi lemari.

“Dulu Arga menyuruhmu datang dua kali sebulan, ya?”

“Iya.”

“Sekarang?”

Aku memasukkan buah ke kulkas kecil.

“Sekarang tidak ada yang menyuruh.”

Ia tersenyum.

Beberapa hari kemudian Arga harus berangkat lagi.

Sebelum pergi, ia berdiri di dekat pintu dengan koper yang sama seperti saat pertama pulang.

Aku mengambil kunci mobil dari meja.

“Dokumen penerbangan?”

“Ada.”

“Paspor?”

“Ada.”

“Obat sakit kepala?”

Ia menepuk saku samping tas.

“Ada.”

Aku mengangguk.

Arga mengangkat alis.

“Tidak tanya kartu debit?”

Aku menatapnya.

“Kenapa?”

“Dulu itu benda pertama yang saya serahkan.”

Aku tertawa.

“Sekarang simpan sendiri.”

Ia mendekat, mencium keningku singkat, lalu membuka pintu.

Sebelum masuk lift, ia berbalik.

“Saya pulang enam minggu lagi.”

“Sudah kutulis di kalender.”

Pintu lift tertutup.

Aku kembali ke dalam dan mengunci pintu.

Di meja dekat dapur tidak ada kartu gaji yang ditinggalkan sebagai pengganti seorang suami.

Hanya ada dua cangkir yang belum sempat kami cuci, kunci rumahku, dan kalender dengan satu tanggal enam minggu lagi yang sudah diberi lingkaran.

Menurutmu, apakah Rania benar memberi ayahnya kesempatan tetap menjadi keluarga setelah kepercayaannya disalahgunakan?

Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.