Ibu Memberiku Rp1,15 Miliar Sebelum Menikah dan Berpesan Jangan Pernah Kehilangan Pegangan—Tiga Bulan Kemudian, Keluarga Suamiku Datang Membawa Rencana untuk Uang Itu

Avatar penulis
Cerita 03
17 menit baca 4,552 tayangan
Ibu Memberiku Rp1,15 Miliar Sebelum Menikah dan Berpesan Jangan Pernah Kehilangan Pegangan—Tiga Bulan Kemudian, Keluarga Suamiku Datang Membawa Rencana untuk Uang Itu
Indeks

Ibu Memberiku Rp1,15 Miliar Sebelum Menikah dan Berpesan Jangan Pernah Kehilangan Pegangan—Tiga Bulan Kemudian, Keluarga Suamiku Datang Membawa Rencana untuk Uang Itu

Bagian 1 — Baru Tiga Bulan Menikah, Kakak Ipar Meminta Rp1,15 Miliar untuk Membeli Ruko, Lalu Suamiku Membuka Rekeningku di Depan Semua Orang

Sehari sebelum akad nikah, Ibu masuk ke kamarku ketika hampir semua orang di rumah sudah tidur.

Gaun kebayaku tergantung di dekat lemari.

Kotak seserahan memenuhi sudut kamar.

Dari ruang tengah masih terdengar suara Ayah dan beberapa saudara membicarakan persiapan acara besok.

Ibu menutup pintu.

Kemudian beliau duduk di sampingku dan menyerahkan sebuah map cokelat.

“Apa ini, Bu?”

“Buka.”

Di dalamnya ada buku tabungan, bukti deposito yang sudah dicairkan, dan dokumen transfer.

Aku melihat angka di halaman terakhir.

Rp1.150.000.000.

Aku langsung menatap Ibu.

“Bu, ini uang dari mana?”

Ibu tersenyum, tetapi matanya berkaca-kaca.

“Sebagian dari tabungan Ibu dan Ayah. Sebagian dari penjualan tanah kebun peninggalan Mbah.”

Aku buru-buru menutup map itu.

“Aku tidak bisa menerima sebanyak ini.”

Ibu menahan tanganku.

“Bisa.”

“Ini bukan untuk membeli mobil. Bukan untuk diberikan kepada suamimu. Bukan juga supaya kamu terlihat kaya.”

Suara Ibu pelan.

“Ini peganganmu.”

Aku tertawa kecil.

“Bu, Ardi bukan orang seperti itu.”

Namaku Nabila.

Saat itu aku berusia 29 tahun dan bekerja sebagai staf keuangan di sebuah perusahaan distribusi alat kesehatan di Bandung.

Ardi adalah laki-laki yang sudah kupacari hampir tiga tahun.

Dia sabar.

Tidak pernah kasar.

Bahkan selama persiapan pernikahan, dia selalu berkata bahwa uangku tetap uangku dan kami akan membangun rumah tangga bersama dari penghasilan masing-masing.

Keluarganya juga terlihat baik.

Ibunya, Bu Ratna, selalu memanggilku “Nak”.

Kakaknya, Dimas, bahkan membantu mengurus beberapa keperluan pernikahan kami.

Karena itu aku merasa Ibu terlalu khawatir.

Namun beliau hanya berkata satu kalimat.

“Nabila, orang tidak selalu berubah setelah menikah.”

“Kadang-kadang setelah menikah, mereka hanya merasa sudah tidak perlu lagi menyembunyikan sifat aslinya.”

Kalimat itu terus kuingat.

Dua minggu setelah pernikahan, aku membuat keputusan yang tidak kuceritakan kepada Ardi.

Aku tidak membiarkan Rp1,15 miliar itu berada di rekening transaksi yang biasa kugunakan.

Aku membaginya.

Sebagian masuk deposito berjangka atas namaku.

Sebagian ditempatkan di instrumen investasi konservatif melalui lembaga resmi.

Sisanya kusimpan sebagai dana darurat di rekening lain yang hanya bisa kuakses sendiri.

Aku tidak melakukannya karena mencurigai suamiku.

Setidaknya saat itu aku berpikir begitu.

Aku hanya mengikuti pesan Ibu.

Ternyata Ibu menyelamatkanku jauh lebih cepat daripada yang pernah kubayangkan.

Tepat tiga bulan setelah menikah, pada Minggu pagi, Bu Ratna datang ke rumah kami.

Bukan sendirian.

Dimas dan istrinya, Siska, ikut datang.

Mereka membawa martabak, buah, dan dua kantong makanan.

Awalnya aku sama sekali tidak curiga.

Aku membuat teh.

Kami mengobrol soal pekerjaan.

Siska bercerita tentang anaknya yang akan masuk SD.

Kemudian Dimas mengeluarkan ponselnya.

“Nab, kamu pernah dengar proyek ruko baru dekat kawasan Kota Baru Parahyangan?”

Aku menggeleng.

Dia menunjukkan beberapa foto.

Deretan bangunan dua lantai.

Brosur pemasaran.

Simulasi cicilan.

“Lokasinya bagus banget.”

Aku tersenyum sopan.

“Mau beli, Mas?”

Dimas langsung tertawa.

“Makanya kita datang.”

Kita?

Aku menoleh kepada Ardi.

Suamiku tidak terlihat terkejut.

Saat itulah perasaanku mulai tidak enak.

Dimas menjelaskan panjang lebar.

Harga unit yang diincarnya sekitar Rp2,6 miliar.

Dia sudah memiliki sebagian uang muka.

Namun masih kurang sekitar Rp1,15 miliar untuk mendapatkan skema pembayaran yang katanya jauh lebih menguntungkan.

Angkanya membuat jari-jariku yang memegang cangkir berhenti bergerak.

Rp1,15 miliar.

Persis.

Tidak kurang Rp10 juta.

Tidak lebih Rp10 juta.

Persis jumlah yang diberikan orang tuaku.

Dimas menyandarkan tubuhnya.

“Kalau uangnya masuk sekarang, nanti setelah kredit cair aku cicil balik.”

Aku masih tersenyum.

“Kenapa membicarakannya dengan kami?”

Ruangan mendadak sunyi.

Bu Ratna yang menjawab.

“Ya karena kalian punya uangnya.”

Aku memandang beliau.

“Uang apa, Bu?”

Bu Ratna terlihat sedikit heran.

“Uang dari orang tuamu waktu menikah.”

Dadaku seperti ditusuk sesuatu.

Aku belum pernah memberi tahu Bu Ratna jumlahnya.

Aku bahkan tidak pernah memberi tahu Dimas.

Aku menoleh kepada Ardi.

Dia langsung mengambil gelas.

Tidak berani menatapku.

Aku akhirnya mengerti.

“Ardi yang cerita?”

Bu Ratna tertawa kecil.

“Lho, kalian sudah suami istri. Masa masalah uang masih rahasia-rahasiaan?”

Aku tidak menjawab.

Dimas buru-buru menambahkan.

“Ini bukan minta, Nab.”

“Pinjam.”

“Daripada uang sebanyak itu cuma diam di rekening, lebih baik diputar.”

Aku hampir tertawa.

Uang orang tuaku.

Tetapi mereka sudah menentukan bahwa uang itu “cuma diam”.

Siska ikut bicara.

“Kalau ruko itu jadi, nanti keluarga juga yang menikmati.”

Keluarga.

Kata itu terdengar begitu indah ketika digunakan untuk mengambil sesuatu milik orang lain.

Aku menatap Ardi.

“Menurut kamu bagaimana?”

Dia akhirnya mengangkat kepala.

“Mas Dimas bukan orang lain.”

“Dia kakakku.”

“Dulu waktu aku kuliah, dia banyak bantu aku.”

“Jadi kamu setuju?”

Ardi menghela napas.

“Kalau memang uangnya belum dipakai, kenapa tidak?”

Aku merasa sesuatu di dalam diriku runtuh perlahan.

Bukan karena dia ingin membantu kakaknya.

Melainkan karena tidak seorang pun bertanya apakah aku bersedia.

Mereka datang dengan angka.

Dengan brosur.

Dengan simulasi cicilan.

Artinya pembicaraan ini sudah terjadi sebelum mereka datang.

Aku sengaja bertanya,

“Kalau aku tidak setuju?”

Wajah Bu Ratna berubah.

“Nabila.”

Nada suaranya masih lembut, tetapi kehangatannya hilang.

“Dalam rumah tangga jangan terlalu menghitung mana uangmu, mana uang suami.”

Aku tersenyum tipis.

“Aneh, Bu.”

“Kenapa?”

“Kalau memang tidak boleh menghitung uang siapa, kenapa yang dibicarakan hari ini justru uang dari orang tua saya?”

Tidak ada yang menjawab.

Ardi terlihat kesal.

“Nab, jangan bikin suasana jadi tidak enak.”

“Aku cuma bertanya.”

Dimas menyela.

“Begini saja.”

“Buka rekeningnya.”

“Kalau uangnya memang masih ada, kita langsung hitung skemanya.”

Aku menatapnya.

Langsung?

Seolah keputusan sudah dibuat.

Ardi tiba-tiba berdiri.

“HP kamu mana?”

Aku menatapnya.

“Untuk apa?”

“Biar aku cek.”

Aku bahkan belum bergerak ketika dia mengambil ponselku yang sedang diisi daya di meja samping sofa.

“Ardi.”

Dia berhenti.

Namun hanya sebentar.

“Aku tahu PIN-mu.”

Kalimat itu membuat ruangan terasa dingin.

Dia membuka ponselku.

Kemudian aplikasi bank.

Bu Ratna bergeser mendekat.

Dimas ikut berdiri.

Mereka bertiga menatap layar seperti sedang menunggu sebuah brankas terbuka.

Aku tidak menghentikan mereka.

Aku justru ingin melihat wajah mereka.

Ardi memasukkan PIN.

Saldo rekening utama muncul.

Rp4.783.250.

Wajahnya berubah seketika.

Dimas mengernyit.

Bu Ratna maju satu langkah.

“Mana uangnya?”

Ardi menyegarkan aplikasi.

Sekali.

Dua kali.

Lalu membuka riwayat transaksi.

“Nabila.”

Suaranya mulai meninggi.

“Rp1,15 miliar itu ke mana?”

Aku mengambil ponselku dari tangannya.

“Sudah kupindahkan.”

“Ke mana?”

“Sebagian deposito. Sebagian investasi. Sebagian rekening darurat.”

Wajah Ardi memucat.

“Tanpa bilang aku?”

Aku menatapnya.

“Uang itu diberikan orang tuaku kepadaku sebelum kita menikah.”

Dimas langsung menyela.

“Bisa dicairkan, kan?”

Aku menggeleng.

“Sebagian tidak bisa dicairkan tanpa penalti besar. Dan aku tidak berniat mencairkannya.”

Untuk pertama kalinya pagi itu, topeng keramahan Bu Ratna benar-benar jatuh.

Beliau meletakkan cangkir dengan keras.

“Kamu sengaja menyembunyikan uang dari suamimu?”

“Tidak.”

“Aku mengamankan uang milikku.”

“Sekarang kamu sudah menikah!”

Suara beliau meninggi.

“Jangan bertingkah seperti masih hidup sendiri!”

Aku belum sempat menjawab ketika Ardi memukul meja dengan telapak tangannya.

“Terus aku harus bilang apa ke Mas Dimas?!”

Aku terdiam.

Bukan karena takut.

Karena akhirnya aku mendengar hal yang paling ingin kuketahui.

Bukan:

“Kenapa kamu tidak percaya padaku?”

Bukan:

“Kenapa kita tidak membicarakannya?”

Yang dia khawatirkan adalah bagaimana menjelaskan kepada kakaknya bahwa uangku tidak bisa diberikan.

Aku berdiri.

“Ardi, jawab satu pertanyaan.”

“Apa?”

“Sejak kapan kamu menjanjikan uang itu kepada mereka?”

Wajahnya langsung kaku.

Bu Ratna memotong.

“Tidak ada yang menjanjikan!”

Aku tetap menatap suamiku.

“Ardi?”

Dia diam.

Dimas mengambil brosur dari meja.

“Sudahlah. Kalau memang tidak mau membantu, bilang saja.”

Dia sengaja menekankan kata membantu.

Seolah aku orang paling egois di ruangan itu.

Aku menarik napas.

Lalu tiba-tiba Siska berkata,

“Mas, kalau begini bagaimana dengan uang renovasi rumah Ibu yang kemarin?”

Dimas langsung menoleh tajam.

“Diam.”

Terlambat.

Aku menatap Siska.

“Renovasi apa?”

Wajahnya pucat.

Bu Ratna berdiri.

“Tidak ada hubungannya dengan kamu.”

Tetapi satu kata itu sudah membuka sesuatu dalam ingatanku.

Renovasi.

Tahun lalu, empat bulan sebelum pernikahanku, Ayah mengalami serangan jantung ringan dan harus menjalani tindakan medis.

Saat itu Ardi pernah berkata keluarganya sedang tidak punya uang ketika aku meminjam Rp80 juta untuk menutup sementara biaya rumah sakit sebelum deposito Ayah cair.

Aku tidak pernah mempermasalahkannya.

Aku bahkan merasa bersalah sudah bertanya.

Sekarang aku menatap Bu Ratna.

“Rumah yang direnovasi itu rumah keluarga di Garut?”

Tidak ada jawaban.

“Renovasinya kapan?”

Ardi berdiri.

“Nab, sudah.”

“Kapan?”

Siska menunduk.

Lalu menjawab sangat pelan.

“Tahun lalu.”

Aku merasa darah di tubuhku menjadi dingin.

“Bulan berapa?”

Dimas membentak istrinya.

“Siska!”

Namun Siska sudah terlanjur berkata.

“Sekitar waktu sebelum kalian lamaran.”

Aku langsung mengambil ponsel.

Ardi mencoba menahanku.

“Kamu mau ngapain?”

Aku membuka percakapan lama kami.

Dan menemukan pesan yang dikirim Ardi pada malam Ayah masuk rumah sakit.

Maaf, Nab. Keluargaku benar-benar sedang tidak punya dana. Kalau ada, aku pasti bantu Ayahmu.

Aku mengangkat layar.

“Waktu Ayahku masuk rumah sakit, kalian bilang tidak punya uang.”

Tak seorang pun menjawab.

Aku menatap Dimas.

“Berapa biaya renovasi rumah itu?”

Siska mulai menangis.

Dimas mengepalkan tangan.

Bu Ratna menyuruhku berhenti.

Tetapi justru Ardi yang akhirnya mengucapkan sesuatu yang membuat seluruh tubuhku membeku.

“Nab… waktu itu uangnya memang ada.”

Aku menatap suamiku.

“Ada berapa?”

Dia tidak menjawab.

“Ardi.”

Aku mendekat.

“ADA BERAPA?”

Bibirnya bergerak.

“Sekitar…”

Dia menelan ludah.

“Rp680 juta.”

Aku merasa suara di ruangan itu lenyap.

Ayahku terbaring di rumah sakit.

Aku menjual gelang pemberian Nenek dan meminjam uang dari kantor karena kekurangan biaya sementara.

Dan pada minggu yang sama…

keluarga suamiku memegang Rp680 juta.

Aku hanya bertanya satu hal.

“Uang sebanyak itu dipakai untuk apa?”

Ardi menutup mata.

Lalu Dimas menjawab dari belakangku.

“Untuk rumah Ibu.”

Aku menoleh.

Dia menatapku tanpa rasa bersalah.

“Dan kalau harus memilih lagi, kami tetap akan memilih keluarga kami.”

Saat itulah aku sadar.

Selama ini mereka tidak pernah menganggap aku bagian dari keluarga.

Mereka hanya menganggap uangku bagian dari keluarga mereka.

Bersambung ke Bagian 2: Nabila mulai memeriksa dari mana Rp680 juta itu berasal—dan menemukan nama suaminya pada transaksi yang seharusnya tidak pernah terjadi.

#DramaKeluarga #KisahRumahTangga #CeritaIndonesia #KonflikKeluarga #KisahViral

Bagian 2 — Aku Menelusuri Rp680 Juta yang Mereka Sembunyikan Saat Ayahku Dirawat, Tetapi Satu Transfer Membuktikan Suamiku Sudah Berbohong Sebelum Menikah

Malam itu aku tidak bertengkar lagi.

Justru ketenanganku membuat Ardi gelisah.

Setelah Dimas dan keluarganya pulang, dia berkali-kali mencoba menjelaskan.

“Nab, dengar dulu.”

Aku membuka laptop.

“Silakan.”

“Uang Rp680 juta itu bukan sepenuhnya uang tunai keluarga.”

“Lalu?”

“Mas Dimas jual mobil. Ibu cairkan deposito. Aku juga ikut sedikit.”

Aku berhenti mengetik.

“Kamu ikut berapa?”

Ardi diam.

Aku menatapnya.

“Berapa?”

“Rp120 juta.”

Aku tertawa kecil.

Empat bulan sebelum menikah, Ardi mengaku tabungannya hampir habis untuk biaya pernikahan.

Bahkan sebagian uang muka vendor gedung dibayar olehku.

“Dari mana kamu punya Rp120 juta?”

Dia tidak menjawab.

Itulah kesalahan berikutnya.

Aku bekerja di bidang keuangan.

Angka yang tidak cocok selalu membuatku ingin mencari penyebabnya.

Keesokan harinya aku membuka seluruh dokumen lama yang masih kusimpan.

Transfer biaya pernikahan.

Pembayaran vendor.

Catatan pinjaman.

Percakapan WhatsApp.

Aku tidak mengakses rekening Ardi.

Aku hanya memeriksa transaksi yang pernah melibatkan rekeningku sendiri.

Dan aku menemukan sesuatu.

Enam bulan sebelum menikah, aku pernah mentransfer Rp150 juta kepada Ardi.

Waktu itu dia mengatakan uang tersebut untuk booking rumah kecil yang akan kami tempati setelah menikah.

Rencana pembelian batal dua minggu kemudian.

Ardi mengatakan developer mengembalikan dana dan uangnya akan disimpan untuk kebutuhan pernikahan.

Aku percaya.

Tetapi sekarang aku mencari bukti pengembaliannya.

Tidak pernah ada Rp150 juta yang kembali ke rekeningku.

Aku memanggil Ardi malam itu.

“Dana booking rumah kita dulu dikembalikan ke rekening siapa?”

Dia langsung pucat.

“Kenapa tiba-tiba bahas itu?”

“Jawab.”

“Ke rekeningku.”

“Lalu uangnya?”

“Nab…”

Aku meletakkan seluruh bukti transfer di meja.

“Rp150 juta dariku masuk ke rekeningmu.”

“Rumah batal.”

“Developer mengembalikan uang.”

“Empat minggu kemudian kamu menyumbang Rp120 juta untuk renovasi rumah ibumu.”

Ardi menunduk.

Aku hampir tidak percaya.

“Jadi itu uangku?”

“Tidak semuanya.”

Jawaban itu bahkan lebih menyakitkan daripada pengakuan.

Berarti sebagian memang uangku.

“Berapa?”

“Sekitar Rp95 juta.”

Aku menutup mata.

Saat Ayah sakit, aku pernah meminta bantuan Rp80 juta.

Ardi mengatakan tidak punya.

Padahal sebelumnya dia mengambil Rp95 juta dari uangku sendiri untuk rumah ibunya.

“Kenapa?”

Ardi mulai menangis.

“Ibu bilang rumah itu sudah rusak. Atap bocor. Mas Dimas juga sudah keluar banyak uang.”

“Kenapa tidak bilang kepadaku?”

“Aku takut kamu tidak setuju.”

Aku menatapnya lama.

“Jadi kamu tahu aku mungkin tidak setuju, lalu kamu tetap menggunakan uangku tanpa izin.”

“Itu sebabnya kamu berbohong.”

Dia memegang tanganku.

Aku menariknya.

“Nab, aku salah.”

“Aku akan ganti.”

“Kapan?”

Dia diam lagi.

Aku belum selesai.

Aku menelepon developer lama dan meminta dokumen transaksi yang secara sah berkaitan dengan pembayaran atas namaku.

Dua hari kemudian aku mendapatkan salinan bukti pembatalan.

Dan di situlah kebohongan yang lebih besar muncul.

Dana yang dikembalikan bukan Rp150 juta.

Setelah potongan administrasi, jumlahnya Rp143,5 juta.

Seluruhnya masuk ke rekening Ardi.

Rp95 juta masuk ke renovasi.

Sisanya?

Aku bertanya lagi.

Kali ini Ardi akhirnya mengaku.

Dia memberikan Rp35 juta kepada Dimas untuk menutup cicilan mobil.

Sisanya digunakan untuk kebutuhan pribadi dan beberapa pembayaran pernikahan.

Aku menatap laki-laki yang baru tiga bulan menjadi suamiku.

Tiba-tiba aku mengerti kenapa keluarganya begitu yakin Rp1,15 miliar milikku bisa digunakan.

Karena sebelumnya mereka sudah berhasil melakukannya.

Sekali.

Dan aku tidak tahu.

Mereka mengira bisa mengulanginya.

Namun masalah belum selesai.

Sore berikutnya, Siska datang sendirian.

Wajahnya sembap.

“Aku minta maaf soal kemarin.”

Aku mempersilahkannya masuk.

Dia mengeluarkan ponsel.

“Ada sesuatu yang harus kamu lihat.”

Itu tangkapan layar grup WhatsApp keluarga mereka.

Percakapan dua minggu sebelum Bu Ratna datang ke rumahku.

Dimas menulis:

Pastikan dulu uang Nabila masih di rekening. Kalau masih ada, kita ajukan ruko minggu depan.

Bu Ratna membalas:

Ardi bilang aman. Dia tahu PIN dan rekeningnya.

Tanganku mulai dingin.

Lalu muncul pesan Ardi.

Suamiku sendiri.

Tenang saja. Setelah menikah uang begitu juga akhirnya dipakai keluarga. Nabila paling awalnya marah sedikit.

Aku tidak menangis.

Aku hanya memotret layar itu.

Namun Siska belum selesai.

“Ada lagi.”

Dia menggulir ke atas.

Satu bulan sebelum pernikahanku, Bu Ratna pernah menanyakan sesuatu.

Kalau nanti uang dari orang tua Nabila sudah masuk, jangan langsung dipakai. Tunggu beberapa bulan supaya dia tidak curiga.

Aku membaca kalimat itu tiga kali.

Rencana meminta uangku ternyata bukan muncul Minggu pagi itu.

Mereka sudah membicarakannya sebelum aku menjadi istri Ardi.

Dan tepat ketika aku hendak meminta Siska mengirim semua tangkapan layar itu, pintu rumah terbuka.

Ardi berdiri di sana.

Wajahnya berubah saat melihat Siska.

“Apa yang kamu tunjukkan ke Nabila?”

Siska berdiri.

Ardi berjalan cepat dan mencoba mengambil ponselnya.

Aku menghalangi.

“Jangan sentuh dia.”

“Nabila, kamu jangan percaya semuanya!”

Aku mengangkat ponselku.

“Sudah terlambat.”

“Aku sudah punya salinannya.”

Wajah Ardi kehilangan warna.

Lalu aku mengucapkan kalimat yang sejak kemarin sudah kuputuskan.

“Besok aku menemui pengacara.”

Ardi membeku.

Tetapi yang membuatku semakin yakin adalah jawabannya.

Bukan permintaan maaf.

Bukan penyesalan.

Dia justru berkata,

“Kalau kamu membawa masalah keluarga ke hukum, Ibu bisa hancur.”

Aku menatapnya.

“Menarik.”

“Ayahku hampir tidak bisa menjalani tindakan tepat waktu karena aku kekurangan uang, kamu tidak takut Ayahku hancur.”

“Tapi sekarang setelah kebohongan kalian terbongkar…”

“…baru kamu takut keluargamu hancur.”

Bagian 3 — Keluarga Suamiku Menuntut Aku Membatalkan Perceraian Demi Menjaga Nama Baik, Tetapi Bukti Rp95 Juta Membuat Mereka Kehilangan Lebih dari Ruko

Tiga hari kemudian aku menemui Maya, teman kuliahku yang sekarang bekerja sebagai advokat.

Aku membawa semuanya.

Bukti transfer Rp150 juta.

Dokumen pembatalan dari developer.

Percakapan dengan Ardi.

Tangkapan layar grup keluarga.

Maya membaca satu per satu.

Kemudian dia bertanya,

“Kamu masih mau mempertahankan pernikahan ini?”

Aku tidak langsung menjawab.

Aku hanya teringat satu malam.

Ayah berada di ruang perawatan.

Ibu duduk di kursi lorong sambil memegang tas berisi dokumen rumah sakit.

Aku menelepon Ardi dan berkata aku kekurangan uang sementara.

Dia menjawab:

Maaf, keluargaku juga sedang kesulitan.

Padahal sebagian uangku berada di tangannya.

Saat itu aku akhirnya tahu jawabanku.

“Tidak.”

Aku tidak ingin membalas mereka dengan teriakan.

Aku ingin semuanya selesai dengan dokumen.

Melalui pendampingan hukum, aku menuntut pertanggungjawaban atas Rp95 juta milikku yang digunakan tanpa persetujuanku dan memulai proses perpisahan secara resmi.

Ardi panik.

Bu Ratna lebih panik lagi.

Tiga hari setelah surat dari pengacaraku diterima, mereka datang ke rumah orang tuaku.

Bu Ratna menangis di depan Ibu.

“Nabila cuma emosi.”

Ibu menatap beliau.

“Anak saya bekerja meminjam uang ketika suami Anda memegang uang miliknya sendiri.”

Ruangan langsung sunyi.

Dimas mencoba mengambil alih.

“Bu, jangan dibesar-besarkan. Rp95 juta bisa kami kembalikan.”

Aku menatapnya.

“Kalau bisa dikembalikan, kenapa dulu tidak dikembalikan?”

Dia tidak menjawab.

“Dan ruko?”

Wajahnya mengeras.

“Tidak jadi.”

Ternyata Dimas sudah membayar tanda jadi Rp40 juta karena terlalu yakin uangku akan tersedia.

Ketika Rp1,15 miliar tidak bisa mereka dapatkan, pengajuan pembiayaannya gagal memenuhi skema yang dia rencanakan.

Sebagian uang tanda jadi hangus sesuai ketentuan pemesanan yang dia setujui.

Untuk pertama kalinya aku tidak merasa bersalah.

Itu bukan kerugianku.

Itu harga dari keputusan yang dia buat menggunakan uang yang bahkan belum pernah menjadi miliknya.

Ardi kemudian mencoba cara lain.

Dia datang ke kantorku.

Mengirim bunga.

Menunggu di parkiran.

Meminta teman-teman kami membujukku.

Akhirnya aku bersedia bertemu satu kali di sebuah kafe, ditemani Maya di meja lain.

“Nab, aku benar-benar menyesal.”

Aku mengangguk.

“Aku percaya.”

Matanya langsung berbinar.

“Tapi penyesalanmu tidak mewajibkanku kembali.”

Wajahnya jatuh.

“Aku bisa berubah.”

“Mungkin.”

“Aku akan mengembalikan semuanya.”

“Itu kewajibanmu, bukan bukti bahwa aku harus tetap menjadi istrimu.”

Dia mulai menangis.

“Aku cuma terlalu memikirkan keluargaku.”

Aku menatapnya.

“Bukan.”

“Kamu boleh memikirkan keluargamu.”

“Masalahnya, untuk membantu mereka kamu mengambil hak orang lain.”

Aku berdiri.

Percakapan selesai.

Beberapa bulan kemudian, melalui penyelesaian yang didampingi secara hukum, uang Rp95 juta itu dikembalikan kepadaku.

Ardi harus menjual mobilnya dan mencicil sebagian kekurangannya.

Aku tidak mengambil satu rupiah pun dari harta keluarganya.

Aku hanya mengambil kembali yang memang milikku.

Proses perpisahan kami akhirnya selesai.

Rp1,15 miliar pemberian orang tuaku tetap aman.

Aku juga mengubah seluruh PIN, akses rekening, email pemulihan, dan dokumen keuangan yang sebelumnya pernah diketahui Ardi.

Setahun kemudian, deposito pertamaku jatuh tempo.

Hari itu aku membawa Ibu dan Ayah makan siang di sebuah restoran kecil di Lembang.

Setelah makan, aku menyerahkan sebuah amplop kepada mereka.

Ayah membukanya.

Di dalamnya ada bukti pembayaran uang muka sebuah rumah sederhana yang kubeli atas namaku sendiri.

Ibu menatapku.

“Kamu yakin?”

Aku tersenyum.

“Yakin.”

Rumah itu tidak besar.

Tidak ada kolam renang.

Tidak berada di kompleks mewah.

Tetapi ada tiga kamar, halaman kecil, dan jendela dapur yang menghadap ke pegunungan.

Aku menyiapkan satu kamar khusus untuk Ayah dan Ibu setiap kali mereka datang.

Saat kami berdiri di ruang tamu yang masih kosong, Ibu tiba-tiba mengusap dinding lalu menangis.

“Ada apa, Bu?”

Beliau menggeleng.

“Dulu Ibu kasih uang itu supaya kamu punya jalan pulang kalau suatu hari keadaan buruk.”

Aku memeluknya.

“Ternyata uang itu bukan untuk membawaku pulang, Bu.”

Ibu menatapku.

Aku tersenyum.

“Uang itu membuatku cukup kuat untuk pergi ketika sebuah rumah sudah tidak layak disebut rumah.”

Aku tidak menjadi kaya mendadak.

Aku juga tidak merasa menang karena pernikahanku berakhir.

Ada malam-malam ketika aku tetap menangis.

Ada rasa malu.

Ada pertanyaan tentang kenapa aku tidak melihat tanda-tandanya sejak awal.

Tetapi perlahan aku mengerti sesuatu.

Pernikahan seharusnya membuat dua orang membangun kepercayaan.

Bukan membuat satu orang kehilangan hak untuk berkata, “Ini milikku, dan keputusan tentangnya tetap membutuhkan persetujuanku.”

Enam bulan setelah pindah ke rumah baru, aku mendapat promosi menjadi supervisor keuangan.

Ayah sudah jauh lebih sehat.

Ibu mulai menanam cabai dan daun bawang di halaman belakang setiap kali menginap.

Suatu Minggu pagi, aku berdiri di dapur membuat bubur ayam.

Matahari masuk melalui jendela.

Tidak ada orang yang membuka ponselku tanpa izin.

Tidak ada keluarga yang menghitung tabunganku.

Tidak ada yang membuat rencana menggunakan uangku sebelum bertanya kepadaku.

Hanya ada suara Ibu dari halaman.

“Nabila! Cabainya sudah tumbuh!”

Aku tertawa.

“Iya, Bu!”

Aku berjalan keluar.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa tidak sedang melarikan diri dari siapa pun.

Aku sudah sampai di rumah.

Rumah yang tidak dibangun dari janji.

Tidak dibangun dari rasa takut.

Dan tidak dibangun dari uang yang dirampas atas nama keluarga.

Rumah itu dibangun dari satu keputusan sederhana yang dulu hampir kuanggap berlebihan:

Jangan pernah menyerahkan seluruh pegangan hidupmu hanya karena seseorang sudah memanggilmu istri.