Aku Sengaja Mengaku Hanya Dapat 531, Lalu Ayah Mengusirku Saat Ia Menyiapkan Pesta untuk Anak Tirinya
Bagian 1
Aku menatap angka 703 di layar ponsel cukup lama sebelum menelepon Ayah dan berkata, “Nilainya 531.”
Jawabannya hanya membutuhkan beberapa detik.
“Jangan pulang lagi. Keluar dari rumah Papa.”
Aku tidak membantah. Tidak menangis. Malam itu juga aku memasukkan barang-barangku ke dalam satu koper dan pergi.
Seminggu kemudian, Ayah menghabiskan hampir Rp180 juta untuk pesta kelulusan Lila, anak perempuan istrinya, yang mendapat nilai 589.
Di depan ruangan penuh kerabat dan rekan kerja, Ayah mengangkat gelas.

“Lila sudah membuat Papa bangga. Rasanya semua kerja keras Papa selama ini terbayar.”
Aku berdiri di antara para tamu di bagian belakang.
Diam.
Sebab tidak seorang pun di ruangan itu tahu bahwa nilainya bukan 531.
Dan aku punya alasan untuk berbohong.
Semua bermula malam pengumuman hasil seleksi.
Cahaya layar ponsel menerangi wajahku.
Nama lengkapku tertera di bawahnya: Alya Pratama.
Aku membaca angka itu tiga kali untuk memastikan mataku tidak salah. Skor itu cukup untuk membuatku diterima di jurusan yang kuinginkan di salah satu perguruan tinggi negeri di Bandung.
Selama dua tahun terakhir aku belajar hampir setiap malam.
Bukan karena Ayah memaksaku.
Justru karena aku sudah lama belajar untuk tidak terlalu berharap kepadanya.
Aku mematikan layar.
Dari ruang keluarga terdengar suara televisi dan tawa Rina, ibu tiriku.
“Nilai Lila 589, Pak. Lumayan sekali. Dengan jalur yang sudah kita siapkan, kampusnya aman.”
Ayah tertawa kecil.
“Yang penting dia masuk. Nanti kita buat acara besar. Sekali-sekali keluarga kita harus kelihatan berhasil.”
Rina terdengar senang.
“Kalau urusan program ke Inggris nanti beres, lebih bagus lagi.”
Ayah menjawab tanpa ragu.
“Pasti beres. Lila itu anak Papa juga.”
Aku duduk di ujung tempat tidur.
Lila itu anak Papa juga.
Kalimat itu sebenarnya tidak salah.
Ayah menikahi Rina delapan tahun setelah Ibuku meninggal. Lila datang bersama Rina. Waktu itu usianya sebelas tahun dan aku dua belas.
Aku tidak pernah membenci Lila.
Kami juga tidak pernah benar-benar dekat.
Masalahnya bukan karena Ayah menyayanginya.
Masalahnya adalah selama beberapa tahun terakhir aku perlahan merasa bahwa kasih sayang Ayah kepadaku selalu mempunyai syarat.
Nilai bagus.
Tidak merepotkan.
Tidak banyak bertanya.
Tidak menolak.
Aku membuka nomor Ayah dan meneleponnya.
Dua kali nada sambung terdengar sebelum ia mengangkat.
“Halo?”
Nada suaranya terdengar terganggu.
“Pa, hasilnya sudah keluar.”
“Berapa?”
Aku melihat kembali angka 703.
“531.”
Di ujung sana terdengar tarikan napas.
Lalu sunyi.
“Alya.”
“Iya.”
“Papa membiayai sekolahmu selama ini untuk dapat angka segitu?”
Aku tidak menjawab.
Suaranya meninggi.
“Kamu tahu tidak teman-teman Papa semua tanya anak Papa masuk mana? Sekarang Papa harus jawab apa?”
Aku menggenggam ponsel lebih erat.
“Pa…”
“Kamu memang dari dulu susah diarahkan. Belajar katanya belajar, ternyata hasilnya begini.”
Ia berhenti sebentar.
Kemudian mengatakan kalimat yang sebenarnya sudah kuduga akan keluar.
“Jangan pulang.”
Aku tetap diam.
“Rumah ini bukan tempat orang yang cuma bikin malu.”
Lalu, lebih keras:
“Kalau memang merasa sudah dewasa, keluar saja. Urus hidupmu sendiri.”
Telepon ditutup.
Aku menatap layar yang kembali gelap.
Aneh, aku tidak terkejut.
Mungkin karena dua minggu sebelumnya aku sudah kehilangan sesuatu yang lebih besar daripada tempat tinggal.
Aku kehilangan sisa keyakinanku bahwa Ayah masih melihatku sebagai anaknya, bukan sebagai sesuatu yang bisa digunakan.
Sehari setelah ulang tahunku yang kedelapan belas, aku melewati ruang kerja Ayah.
Pintunya tidak tertutup rapat.
Aku hendak terus berjalan ketika mendengar Rina menyebut namaku.
“Alya sudah delapan belas tahun.”
Langkahku berhenti.
“Rumah peninggalan ibunya itu mau dibiarkan begitu saja sampai kapan?”
Ayah menjawab pelan.
“Memangnya kenapa?”
“Lila kalau jadi ikut program ke Inggris butuh biaya besar. Biaya awalnya saja ratusan juta.”
Suara Rina terdengar makin rendah.
“Rumah itu di lokasi bagus. Kalau dijual sekarang, paling tidak Rp4 miliar lebih.”
Dadaku terasa dingin.
Rumah yang mereka bicarakan adalah rumah milik Ibuku.
Sebelum meninggal, Ibu sudah mengatur semuanya melalui surat wasiat dan dokumen kepemilikan.
Rumah itu diwariskan kepadaku.
Namaku tercantum sebagai penerima hak.
Selama aku masih di bawah umur, semua urusan penting berkaitan dengan aset itu harus mengikuti prosedur wali dan tidak bisa sekadar diputuskan Ayah sendiri.
Ibu juga meminta dokumen asli surat wasiat disimpan oleh orang yang menangani urusan hukumnya.
Aku baru saja berusia delapan belas tahun.
Dan rupanya Rina sudah menghitungnya.
Ayah berkata, “Rumah itu dari ibunya untuk Alya. Suratnya jelas.”
“Dia baru lulus SMA.”
Rina terdengar kesal.
“Dia tahu apa soal rumah sebesar itu?”
“Aku ini istrinya kamu. Delapan tahun aku yang mengurus rumah ini. Masa untuk sekolah Lila saja kamu masih memikirkan harta istri yang sudah meninggal?”
Sunyi cukup lama.
Kemudian Ayah mengembuskan napas.
“Sudahlah.”
“Jadi bagaimana?”
“Biar Papa pikirkan.”
Rina tidak berhenti.
“Jangan cuma dipikir.”
Ayah akhirnya menjawab, “Nilai Alya juga belum tentu bagus. Kalau dia tidak masuk kampus yang dia mau, dia akan tetap bergantung sama Papa.”
Aku menahan napas.
“Nanti Papa bicara baik-baik. Kalau perlu suruh dia tanda tangan surat pengurusan. Anak itu kalau ditekan sedikit biasanya diam.”
Aku mundur perlahan dari pintu.
Tanganku dingin.
Malam itu aku masuk kamar dan mengunci pintu.
Aku duduk di lantai sampai hampir satu jam.
Bukan karena nilai rumah itu.
Bukan karena Lila.
Yang sulit kuterima adalah cara Ayah membicarakanku.
Seolah-olah kegagalanku justru akan memudahkannya.
Seolah-olah ia sedang menunggu saat aku lemah.
Hari berikutnya, sebelum mereka kembali masuk ke ruang kerja, aku menaruh ponsel lama di tempat tersembunyi dekat pintu.
Aku mengaktifkan perekam suara.
Aku tahu tindakanku mungkin tidak menyelesaikan apa pun.
Tapi aku membutuhkan sesuatu yang membuatku yakin bahwa aku tidak salah dengar.
Beberapa jam kemudian aku mengambilnya kembali.
Malam itu, di kamarku, aku mendengarkan semuanya menggunakan earphone.
Suara Rina lebih jelas.
“Kalau dia tanda tangan surat kuasa pengurusan, nanti sisanya lebih gampang.”
Ayah berkata, “Jangan langsung bilang soal jual rumah. Bilang saja untuk administrasi karena dia sudah delapan belas.”
“Kalau dia baca?”
“Dia tidak pernah teliti soal dokumen.”
Rina tertawa kecil.
“Kalau nilainya jelek, lebih gampang lagi.”
Ayah menjawab dengan nada yang sangat tenang.
“Kalau perlu Papa suruh dia keluar dulu. Biar dia tahu hidup tanpa rumah ini tidak gampang.”
Aku menghentikan rekaman.
Beberapa menit aku hanya duduk.
Kemudian kubuat beberapa salinan.
Satu kusimpan di ponsel.
Satu di penyimpanan daring.
Satu lagi kukirim ke email yang jarang kupakai.
Aku tidak pernah mendengarkan rekaman itu lagi sampai malam pengumuman nilai.
Setelah telepon Ayah berakhir, aku menyalakan lampu kamar.
Barang milikku tidak banyak.
Beberapa pakaian.
Laptop lama.
Buku.
Aku memasukkannya ke koper.
Dari laci paling bawah meja belajar, kuambil sebuah kotak kayu kecil.
Di dalamnya ada foto Ibu.
Ada pula salinan surat wasiat yang pernah diberikan kepadaku.
Dokumen aslinya masih disimpan oleh pihak yang dulu membantu Ibu mengurus warisan.
Aku kemudian membuka tempat penyimpanan yang selama ini Ayah kira tidak kuketahui.
Di sanalah sertifikat rumah dan beberapa dokumen keluarga disimpan.
Ibu pernah memberitahuku lokasi itu bertahun-tahun lalu.
“Kamu tidak perlu mengurus semuanya sekarang,” katanya waktu itu. “Tapi kamu harus tahu apa yang menjadi milikmu.”
Aku mengambil dokumen yang memang berkaitan denganku.
Kartu identitas.
Kartu ATM.
Berkas sekolah.
Sertifikat rumah.
Salinan wasiat.
Beberapa ribu rupiah dalam rekening tabunganku bukan jumlah besar, tapi aku juga punya sekitar Rp6 juta dari uang pemberian ulang tahun dan hasil membantu teman belajar selama kelas dua belas.
Cukup untuk bertahan sementara.
Aku menarik ritsleting koper.
Di ruang keluarga, Rina dan Lila sedang tertawa.
Mereka membicarakan restoran untuk pesta kelulusan.
Aku keluar membawa koper.
Tidak seorang pun menghentikanku.
Di depan pintu aku sempat menoleh.
Ayah bahkan tidak keluar dari ruang kerjanya.
Aku membuka pintu.
Malam Bandung terasa dingin.
Aku pergi tanpa menoleh lagi.
Setelah berjalan cukup jauh, ponselku bergetar.
Pesan dari Tante Ratih.
Tante Ratih adalah sahabat terdekat Ibu.
Sejak Ibu meninggal, dialah satu-satunya orang dewasa yang tidak pernah membuatku merasa harus menjadi anak sempurna untuk boleh meminta bantuan.
“Alya, Tante bikin sop. Kamu jadi ke sini?”
Aku membalas:
“Aku ke sana sekarang, Tante.”
Aku memesan mobil daring.
Sekitar empat puluh menit kemudian aku tiba di sebuah kompleks apartemen lama tempat Tante Ratih tinggal.
Unitnya berada di lantai lima.
Lift sedang rusak.
Aku menyeret koper menaiki tangga sampai napasku hampir habis.
Tante Ratih membuka pintu bahkan sebelum aku selesai mengetuk untuk kedua kalinya.
Tatapannya langsung jatuh pada koper.
“Alya?”
Aku tersenyum tipis.
“Boleh tinggal di sini beberapa hari?”
Ia segera menarik koperku masuk.
“Kamu tanya apa begitu? Masuk.”
Begitu pintu ditutup, ekspresinya berubah.
“Ayahmu lagi?”
Aku melepas sepatu.
“Dia mengusirku.”
“Apa?”
Aku menunjukkan riwayat telepon dan pesan singkat terakhir dari Ayah yang isinya hampir sama dengan ucapannya.
Jangan kembali kalau cuma mau mempermalukan keluarga.
Tante Ratih duduk di sampingku.
“Karena hasil ujian?”
Aku mengangguk.
“Aku bilang nilaiku 531.”
Tante Ratih mengernyit.
Bagian 2 berlanjut di kolom komentar di bawah jika ingin lanjut membaca. 👇
Bagian 2
“Kamu bilang?”
Tante Ratih menatapku beberapa detik.
“Bukan kamu dapat 531?”
Aku membuka kembali laman hasil ujian dan menyerahkan ponsel kepadanya.
Tante Ratih membacanya dua kali.
“Ya Tuhan, Alya.”
Ia tidak langsung tersenyum.
Justru ekspresinya semakin serius.
“Kenapa kamu bohong?”
Aku mengambil earphone dari tas.
“Karena ini.”
Kami mendengarkan rekaman itu bersama.
Tante Ratih tidak memotong sampai selesai.
Setelahnya ia meletakkan ponsel di meja dengan sangat pelan.
“Jadi mereka mau memakai rumah ibumu untuk biaya Lila.”
“Sepertinya begitu.”
“Dan ayahmu tahu?”
Aku menatapnya.
“Tante dengar sendiri.”
Tante Ratih menutup mata sesaat.
Aku sudah menyiapkan diri kalau ia menyuruhku berdamai, pulang, atau memahami bahwa Ayah sedang tertekan.
Ia tidak melakukannya.
“Besok kita urus dokumenmu dulu.”
“Tante tahu harus ke mana?”
“Ibumu pernah memberi nomor orang yang menyimpan surat wasiat aslinya. Tante masih punya.”
Keesokan paginya kami menemui Pak Arief, orang yang dulu membantu Ibu menyiapkan dokumen warisan.
Ia sudah jauh lebih tua daripada yang kuingat.
Ia membaca salinan yang kubawa, memeriksa sertifikat, lalu mendengarkan bagian rekaman yang berkaitan dengan rencana menjual rumah.
“Ayahmu tidak bisa sekadar menjual rumah ini karena menganggap dirinya orang tua,” katanya.
Ia tidak menjanjikan semuanya mudah.
Ia juga tidak mengatakan rekaman itu otomatis menyelesaikan masalah.
Ia hanya menjelaskan apa yang perlu kulakukan agar tidak membuat situasi lebih buruk.
“Jangan tanda tangan surat yang belum kamu pahami. Jangan serahkan dokumen asli. Simpan salinannya di tempat berbeda. Kalau ada pihak yang datang membawa dokumen terkait rumah ini, jangan mengambil keputusan di tempat.”
Aku mengangguk.
“Kalau Ayah bilang cuma surat administrasi?”
“Baca dulu.”
Pak Arief menatapku.
“Dan kalau kamu tidak setuju, kamu boleh bilang tidak.”
Kalimat sederhana itu terasa aneh di telingaku.
Selama bertahun-tahun, di rumah Ayah, “tidak” selalu terdengar seperti bentuk pembangkangan.
Hari itu aku memindai semua dokumen penting dan menyimpan beberapa salinan.
Aku juga mengganti kata sandi email dan akun perbankanku.
Dua hari berikutnya Ayah tidak menelepon.
Pada hari ketiga, sebuah pesan masuk.
“Alya, Papa sudah tenang. Pulang. Kita bicarakan kuliahmu.”
Aku membaca tanpa menjawab.
Lima menit kemudian ia mengirim lagi.
“Minggu depan ada acara Lila. Datang. Jangan bikin keluarga tambah malu.”
Lalu satu kalimat lain:
“Bawa KTP. Ada beberapa administrasi yang perlu kamu tanda tangani.”
Aku memotret layar.
Tante Ratih membacanya dan hanya berkata, “Jangan buru-buru jawab.”
Malam itu Rina mengirim sebuah berkas.
Nama dokumennya terdengar biasa: Surat Kuasa Pengurusan Aset Keluarga.
Aku membuka halaman pertama.
Namaku tertera sebagai pemberi kuasa.
Nama Ayah sebagai penerima kuasa.
Di halaman kedua terdapat kalimat yang memberi wewenang untuk mengurus pemasaran, negosiasi, dan proses pengalihan rumah peninggalan Ibu.
Tanganku berhenti di layar.
Mereka bahkan tidak lagi menunggu aku pulang untuk memperkenalkan dokumen itu.
Aku menyimpan salinan.
Kemudian aku menjawab Rina.
“Aku tidak akan tanda tangan.”
Balasannya datang hampir seketika.
“Jangan keras kepala. Ini buat keluarga.”
Aku tidak meneruskan percakapan.
Malam berikutnya, Lila mengirim pesan.
Hubungan kami tidak buruk, tapi ia jarang menghubungiku lebih dulu.
“Kak, datang ya ke acara minggu depan. Papa sudah pesan ballroom.”
Aku mengetik:
“Semoga acaranya lancar.”
Beberapa saat kemudian muncul pesan lain.
“Mama lagi stres soal biaya program Inggris. Aku juga sebenarnya belum yakin mau pergi.”
Aku menatap layar.
Lalu bertanya:
“Kenapa Mama stres?”
Tiga titik muncul cukup lama.
“Katanya uangnya nanti dari rumah lama punya keluarga.”
Aku tidak langsung membalas.
Lila mengirim lagi.
“Bukannya itu rumah Papa yang dulu ditempati Mama kandung Kak Alya?”
Aku membaca kalimat itu dua kali.
Jadi Lila bahkan tidak tahu.
Sebelum aku menjawab, satu pesan baru muncul.
“Mama sudah bayar uang tanda jadi agen pendidikan. Katanya setelah rumah itu terjual, sisanya langsung dilunasi.”
Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇
Bagian 3
Aku tidak tidur cepat malam itu.
Bukan karena marah kepada Lila.
Justru pesannya membuat satu hal menjadi jelas.
Rina dan Ayah bukan hanya membicarakan rumah itu di antara mereka.
Mereka sudah membuat rencana keuangan berdasarkan penjualan rumah yang belum pernah kusetujui.
Aku menjawab Lila hampir setengah jam kemudian.
“Rumah itu warisan dari Ibuku. Bukan rumah Papa.”
Pesanku dibaca.
Tidak ada balasan selama beberapa menit.
Lalu:
“Serius?”
“Iya.”
“Kak, aku benar-benar tidak tahu.”
“Aku tahu.”
Ia menelepon.
Aku sempat ragu sebelum mengangkat.
“Halo?”
Suara Lila terdengar lebih pelan daripada biasanya.
“Kak, Mama bilang rumah itu aset keluarga.”
“Rumah itu ditinggalkan Ibu untukku.”
“Papa tahu?”
Aku memejamkan mata.
“Tahu.”
Di ujung sana hening.
Lila bertanya, “Terus Mama bilang mau dijual?”
“Iya.”
“Dan Kak Alya setuju?”
“Tidak.”
Lila mengembuskan napas panjang.
“Aku tidak tahu harus bilang apa.”
“Kamu tidak perlu bilang apa-apa.”
“Tapi uang program Inggris…”
“Lila.”
Aku memotong sebelum ia meneruskan.
“Aku tidak menyalahkan kamu karena Mama dan Papa tidak cerita yang sebenarnya. Tapi aku juga tidak akan menjual rumah itu.”
Ia diam.
“Baik.”
Hanya itu.
Aku tidak tahu apakah ia kecewa, marah, atau takut.
Tapi untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, aku sadar masalahnya tidak akan selesai hanya dengan melindungi sertifikat.
Ayah sudah menganggap keputusan tentang hidupku bisa dibuat tanpa aku.
Kalau aku terus menghindar, ia mungkin tidak bisa menjual rumah dengan mudah, tetapi ia akan terus mencoba menemukan cara agar aku merasa bersalah sampai akhirnya menyerah.
Aku harus mengatakan tidak secara langsung.
Pesta Lila dilaksanakan Sabtu malam di sebuah hotel di Bandung.
Tante Ratih tidak menyukai gagasan aku datang.
“Kalau tujuanmu cuma membuktikan nilaiku lebih tinggi dari Lila, Tante akan larang.”
“Bukan.”
“Lalu?”
“Ayah minta aku datang dan membawa KTP. Dia pasti mau bicara soal surat itu.”
Tante Ratih menatapku cukup lama.
“Kamu bisa menolak dari sini.”
“Aku tahu.”
“Kenapa tetap pergi?”
Aku memegang map tipis berisi salinan dokumen.
“Karena selama ini setiap kali Papa meninggikan suara, aku berhenti bicara. Aku tidak mau urusan rumah Ibu berakhir begitu juga.”
Tante Ratih akhirnya mengangguk.
“Kalau ada yang membuatmu tidak nyaman, keluar. Jangan merasa harus menyelesaikan semuanya dalam satu malam.”
Aku pergi bersama Tante Ratih, tetapi kami sepakat ia tidak perlu menempel di sampingku.
Ruangan pesta jauh lebih besar daripada yang kubayangkan.
Ada layar besar dengan foto-foto Lila sejak kecil.
Meja penuh makanan.
Karangan bunga dari beberapa rekan kerja Ayah.
Di dekat panggung terpajang foto Lila dengan tulisan ucapan selamat masuk perguruan tinggi.
Belakangan aku tahu biaya acaranya hampir Rp180 juta.
Jumlah yang bahkan sulit kubayangkan untuk sebuah pesta.
Aku berdiri di bagian belakang.
Ayah tidak langsung melihatku.
Ketika acara utama dimulai, ia naik ke panggung.
Rina berdiri di sebelah Lila.
Ayah mengangkat gelas.
“Lila sudah membuat Papa bangga.”
Beberapa orang bertepuk tangan.
“Rasanya semua kerja keras Papa selama ini terbayar.”
Aku melihat wajahnya dari kejauhan.
Tidak ada kemarahan yang meledak di dalam diriku.
Yang ada justru sebuah pertanyaan sederhana.
Kalau ia benar-benar percaya nilai menentukan apakah seorang anak pantas dibanggakan, lalu apa yang akan ia katakan kalau tahu anak yang diusirnya mendapat 703?
Tepuk tangan kembali terdengar.
Aku tetap diam.
Persis seperti seminggu terakhir.
Setelah pidato selesai, seorang sepupu Ayah mengenaliku.
“Alya?”
Ia mendekat.
“Kamu datang juga. Katanya hasilmu kurang bagus?”
Aku belum sempat menjawab ketika Ayah muncul.
Wajahnya berubah saat melihatku.
“Kamu akhirnya datang.”
Ia tidak menyapaku dengan hangat.
Hal pertama yang ditanyakannya justru:
“KTP bawa?”
Aku menatapnya.
“Bawa.”
“Bagus. Ikut Papa sebentar.”
Aku mengikuti Ayah ke sebuah ruang kecil di samping ballroom.
Rina sudah berada di sana.
Di atas meja ada map cokelat.
Aku hampir tertawa karena situasinya persis seperti yang kuduga.
Rina langsung membuka map.
“Alya, kita tidak usah memperpanjang masalah.”
Ia mendorong beberapa lembar kertas ke arahku.
“Papa kamu sudah menjelaskan semuanya?”
“Belum.”
“Intinya sederhana. Rumah peninggalan ibumu tidak ada yang menempati. Daripada dibiarkan, lebih baik dijual.”
Aku tidak menyentuh kertas itu.
“Untuk biaya Lila?”
Rina tidak terlihat malu.
“Untuk kebutuhan keluarga.”
Ayah duduk di sebelahnya.
“Alya, kamu masih muda. Nanti Papa tetap bantu biaya kuliahmu.”
Aku menatapnya.
“Kalau aku tanda tangan?”
“Jangan bicara seperti itu.”
“Tapi itu maksud Papa, kan?”
Ia mengerutkan dahi.
“Kamu dapat 531. Pilihan kampusmu juga terbatas. Kita bisa carikan tempat yang sesuai. Papa masih mau bantu.”
Aku mengeluarkan ponsel.
Lalu menunjukkan hasil ujian.
Ayah awalnya hanya melihat sekilas.
Kemudian ia mengambil ponsel dari tanganku.
Matanya berhenti pada angka itu.
Ia membacanya lagi.
“Apa ini?”
“Hasilku.”
“Kenapa kamu bilang 531?”
“Karena aku mau tahu apa yang akan Papa lakukan kalau Papa pikir aku gagal.”
Wajahnya perlahan memerah.
“Kamu mempermainkan Papa?”
“Aku cuma menyebut satu angka.”
“Ini bukan permainan!”
Suaranya mulai naik.
“Papa sudah memberi tahu keluarga kalau kamu tidak berhasil. Kamu tahu berapa banyak orang yang…”
Ia berhenti.
Aku menatapnya.
“Yang apa? Menganggap Papa gagal sebagai orang tua?”
Rina ikut bicara.
“Jadi sejak awal kamu sengaja bikin masalah?”
Aku menggeleng.
“Bukan sejak awal.”
Aku membuka rekaman.
Ayah melihat layar ponsel dan tiba-tiba diam.
Aku memutar bagian pendek.
Suara Ayah sendiri keluar dari speaker.
“Kalau nilainya jelek, lebih gampang. Kalau perlu Papa suruh dia keluar dulu…”
Aku menghentikannya.
Tidak perlu memutar lebih banyak.
Wajah Ayah berubah.
Rina adalah orang pertama yang bereaksi.
“Kamu merekam pembicaraan kami?”
“Aku mendengar namaku dan rumah Ibuku dibicarakan.”
“Itu percakapan pribadi!”
“Aku tidak akan menyebarkannya.”
Aku meletakkan ponsel di meja.
“Tapi aku juga tidak akan berpura-pura aku tidak tahu.”
Ayah berdiri.
“Alya, dengar dulu. Papa tidak berniat mengambil rumahmu.”
Aku melihat kertas di meja.
“Suratnya memberi Papa kuasa menjual rumah.”
“Itu cuma untuk memudahkan.”
“Memudahkan siapa?”
Ia tidak menjawab.
Rina mengetuk meja dengan jarinya.
“Kamu tidak melihat keadaan keluarga sekarang. Lila punya kesempatan bagus. Biaya programnya besar. Rumah itu selama ini juga tidak kamu pakai.”
Aku menoleh kepadanya.
“Kalau barang tidak sedang kupakai, bukan berarti jadi milik orang lain.”
“Aku tidak bilang jadi milik kami.”
“Tapi Tante sudah membayar uang tanda jadi dengan mengandalkan rumah itu.”
Wajah Rina langsung berubah.
Aku tahu Lila belum memberitahunya bahwa kami sudah bicara.
“Lila cerita?”
“Dia pikir rumah itu milik Papa.”
Rina menoleh kepada Ayah.
Ayah mengusap wajah.
“Alya, kalau rumah itu dijual, bukan berarti semua uangnya untuk Lila.”
Aku hampir tersenyum.
“Itu tidak membuatnya lebih baik.”
“Ada bagian yang tetap bisa Papa sisihkan untukmu.”
“Dari rumahku sendiri?”
Kalimat itu membuat ruangan hening.
Ayah tidak lagi berteriak.
Ia duduk kembali.
“Apa yang kamu mau?”
Pertanyaan itu membuatku berhenti.
Bukan karena aku tidak tahu jawabannya.
Justru karena untuk pertama kalinya ia bertanya.
“Aku tidak akan menjual rumah.”
“Alya…”
“Aku juga tidak akan memberi surat kuasa.”
“Dengarkan dulu.”
“Aku sudah mendengarkan.”
Aku mengambil map tipis dari tas.
Di dalamnya ada surat pernyataan sederhana yang sudah kubaca bersama Pak Arief.
Tidak ada ancaman.
Tidak ada bahasa besar.
Hanya penegasan bahwa aku tidak memberi persetujuan kepada Ayah, Rina, atau pihak lain untuk menawarkan, menjual, menjaminkan, atau mengalihkan rumah atas namaku.
Aku meletakkannya di meja.
“Aku datang supaya Papa tidak bisa bilang nanti kalau aku tidak pernah menjelaskan.”
Ayah membaca.
Rina bahkan tidak menyentuhnya.
“Jadi kamu lebih pilih rumah daripada keluarga?”
Aku menatap Rina.
Pertanyaan itu biasanya efektif kepadaku.
Dulu aku akan buru-buru menjelaskan bahwa bukan begitu maksudku.
Malam itu aku hanya bertanya balik.
“Kenapa mempertahankan barang yang memang milikku berarti aku meninggalkan keluarga?”
Ia terdiam.
Tiba-tiba pintu terbuka.
Lila berdiri di sana.
Gaun pesta yang dipakainya masih sama seperti di panggung.
“Mama.”
Rina langsung berdiri.
“Kamu ngapain ke sini?”
“Aku cari Papa. Tamu dari kantor sudah mau pulang.”
Tatapan Lila jatuh ke dokumen di meja.
Lalu kepadaku.
“Mama memang mau jual rumah Kak Alya?”
“Bukan urusanmu.”
“Tapi buat biaya aku, kan?”
“Lila.”
“Aku tanya saja.”
Rina terlihat kesal.
“Semua orang tua mau memberikan yang terbaik untuk anaknya.”
Lila menatap Ayah.
“Papa tahu itu rumah Kak Alya?”
Ayah tidak menjawab.
Lila mengangguk perlahan, seolah jawaban itu sudah cukup.
“Aku kira rumah itu punya Papa.”
“Sekarang bukan waktunya,” kata Rina.
“Kalau aku tahu uang sekolahku dari rumah peninggalan ibunya Kak Alya, aku tidak akan setuju.”
Rina menatapnya tajam.
“Kamu pikir biaya sekolah luar negeri tumbuh di pohon?”
“Aku bisa tidak pergi.”
“Kita sudah bayar tanda jadi!”
“Itu keputusan Mama.”
Suasana berubah.
Aku tidak merasa menang.
Melihat Lila dan Rina mulai bertengkar justru membuatku tidak nyaman.
Aku memasukkan ponsel ke tas.
“Aku pulang.”
Ayah langsung menoleh.
“Alya.”
Aku berhenti di pintu.
“Papa belum selesai bicara.”
“Aku sudah selesai soal rumah.”
“Terus kuliahmu?”
“Aku urus.”
“Dengan uang apa?”
Pertanyaan itu tepat mengenai bagian yang paling kutakuti.
Aku memang belum punya jawaban lengkap.
Tabunganku tidak akan cukup untuk kehidupan kuliah bertahun-tahun.
Tante Ratih juga bukan orang kaya.
Namun untuk pertama kalinya aku menyadari sesuatu.
Tidak punya semua jawaban sekarang bukan alasan untuk menyerahkan satu-satunya aset yang Ibu tinggalkan kepadaku.
“Aku cari cara.”
Aku membuka pintu.
Ayah berkata dari belakang.
“Kamu kira hidup sendirian gampang?”
Aku menoleh sekali.
“Tidak.”
Lalu aku pergi.
Aku tidak mengatakan aku bisa hidup tanpa siapa pun.
Aku juga tidak mengatakan aku tidak membutuhkan Ayah.
Aku hanya pergi sebelum rasa takut membuatku kembali duduk dan menandatangani sesuatu.
Di perjalanan pulang, Tante Ratih tidak banyak bertanya.
Ia hanya memastikan aku baik-baik saja.
Setelah kami sampai, aku duduk di meja makan dan mulai membuat daftar pengeluaran.
Biaya kuliah.
Transportasi.
Makan.
Buku.
Tempat tinggal.
Angkanya membuat kepalaku pening.
Tante Ratih membawa dua cangkir teh.
“Takut?”
Aku mengangguk.
“Bagus.”
Aku menatapnya.
Ia tertawa kecil.
“Kalau tidak takut sama sekali, Tante malah khawatir kamu belum menghitung dengan benar.”
Aku ikut tersenyum.
Malam itu kami tidak membuat rencana hidup lima tahun.
Kami hanya membuat rencana untuk tiga bulan.
Aku akan tinggal sementara bersama Tante Ratih.
Aku menghubungi kampus untuk menanyakan mekanisme pembayaran dan penyesuaian UKT berdasarkan keadaan keluarga yang sebenarnya.
Aku juga mulai menawarkan les matematika untuk siswa SMA.
Nilai 703 yang kusembunyikan dari Ayah justru membuat beberapa orang tua tertarik.
Minggu pertama hanya ada dua murid.
Jumlahnya kecil.
Tapi itu uang yang berasal dari pekerjaanku sendiri.
Sementara itu, urusan keluarga menjadi lebih berisik.
Dua hari setelah pesta, grup WhatsApp keluarga mulai ramai.
Seorang paman menulis bahwa anak tidak seharusnya “menghitung-hitung harta dengan orang tua.”
Seorang bibi mengatakan Ayah pasti punya alasan.
Ada yang bertanya kenapa aku berbohong soal nilai.
Ada pula yang berkata, kalau memang mendapat 703, aku seharusnya membuat Ayah bangga daripada mempermalukannya.
Aku membaca semuanya sekali.
Lalu menulis satu pesan.
“Rumah yang dibicarakan adalah warisan dari Ibu dan tercatat sebagai hak saya. Saya tidak setuju rumah itu dijual. Saya tidak akan membahas lebih jauh di grup keluarga.”
Setelah itu aku membisukan grup.
Aku tidak mengirim rekaman.
Aku tidak mengunggah dokumen.
Aku tidak menjelaskan nilai 703.
Aku sudah terlalu lama hidup dengan kebutuhan untuk membuat semua orang mengerti versiku.
Sekarang aku hanya perlu memastikan keputusan tentang milikku tidak dibuat oleh mereka.
Seminggu kemudian, masalah baru muncul.
Ayah menelepon sebelas kali dalam satu sore.
Aku tidak langsung mengangkat.
Pada panggilan kedua belas, aku menjawab.
“Ada apa?”
“Besok Papa mau ke rumah peninggalan ibumu.”
“Untuk apa?”
“Ada orang mau lihat.”
Aku berdiri dari kursi.
“Aku tidak menjual.”
“Papa tahu.”
“Kalau tahu, kenapa ada orang mau lihat?”
“Mereka cuma kenalan.”
Aku menarik napas.
“Jangan bawa calon pembeli ke sana.”
“Alya, jangan berlebihan.”
“Papa masih punya kunci?”
Ia diam.
Pertanyaan itu sudah cukup.
Malam itu aku menelepon Pak Arief.
Keesokan paginya aku dan Tante Ratih pergi ke rumah peninggalan Ibu.
Rumah itu sudah lama kosong.
Cat di beberapa bagian mulai kusam.
Halaman depannya penuh daun kering.
Tetapi ketika membuka pintu, aku masih mengenali bau lemari kayu di ruang tengah.
Di sanalah Ibu dulu menyisir rambutku sebelum sekolah.
Aku tidak membiarkan diriku terlalu lama tenggelam dalam ingatan.
Aku memeriksa kunci.
Kemudian memanggil tukang untuk mengganti silinder pintu depan dan pintu belakang.
Aku juga memberi tahu penjaga lingkungan bahwa tidak ada satu pun penjualan atau kunjungan calon pembeli yang kuizinkan.
Sore harinya Ayah datang.
Ia berdiri di depan pagar dan mencoba kunci lamanya.
Tidak bisa.
Ia meneleponku.
“Kamu ganti kunci?”
“Iya.”
“Kamu serius sampai sejauh ini?”
Aku berada di dalam rumah.
“Papa membawa orang?”
Ada dua orang menunggu di dekat mobilnya.
Salah satunya membawa map.
Ayah menurunkan suara.
“Mereka cuma mau lihat kondisi.”
“Suruh pulang.”
“Alya.”
“Rumah ini tidak dijual.”
“Apa susahnya biarkan mereka lihat?”
“Karena Papa akan membuat mereka berpikir ada kemungkinan transaksi.”
Ia terdiam.
Aku berdiri di balik pintu.
Beberapa bulan lalu, suara Ayah yang tinggi sudah cukup membuatku membuka pintu.
Hari itu tanganku memang gemetar, tetapi kuncinya tetap kupegang.
Akhirnya dua orang itu pergi.
Ayah masih berdiri beberapa menit.
Kemudian ia berkata melalui telepon:
“Buka. Papa mau bicara.”
“Kalau soal menjual rumah, tidak.”
“Bukan.”
Aku ragu.
Lalu membuka pintu pagar, tetapi tidak menyerahkan kunci kepadanya.
Kami duduk di teras.
Ayah melihat sekeliling.
“Rumah ini dulu Papa juga sering datang.”
“Aku tahu.”
“Ibumu keras kepala.”
Aku menatapnya.
Ia tersenyum tipis.
“Mirip kamu.”
Aku tidak membalas.
Beberapa detik kemudian ia berkata, “Kenapa kamu tidak bilang saja dari awal kalau dapat 703?”
Aku menatap halaman.
“Kalau aku bilang, apa Papa batal meminta rumah?”
Ayah tidak langsung menjawab.
Itulah jawaban yang sebenarnya.
Aku melanjutkan.
“Kalau aku dapat 531, rumah ini tetap milikku.”
“Alya, Papa marah waktu itu.”
“Papa sudah merencanakan mengusirku sebelum tahu nilainya.”
Wajahnya menegang.
Aku tidak perlu memutar rekaman lagi.
Ia sudah tahu aku memilikinya.
“Papa cuma bicara karena Rina terus mendesak.”
“Aku mendengar suara Papa.”
“Ayah juga manusia. Bisa salah bicara.”
“Aku tahu.”
Aku menatapnya.
“Tapi surat kuasa itu sudah dibuat.”
Ia mengusap kedua tangannya.
Untuk pertama kalinya sejak kecil aku melihat Ayah tanpa kemarahan atau wibawa yang biasanya membuatku takut.
Ia tampak lelah.
“Rina sudah membayar Rp65 juta untuk agen pendidikan Lila.”
“Aku tahu.”
“Uangnya susah kembali.”
Aku tidak menjawab.
“Papa juga sudah bayar pesta. Ada biaya lain.”
“Kenapa Papa cerita itu kepadaku?”
“Karena keadaan kita tidak sesederhana yang kamu pikir.”
Aku hampir tertawa, tetapi tidak jadi.
“Papa mengeluarkan uang sebelum rumah ini menjadi milik Papa.”
“Alya…”
“Itu keputusan Papa.”
Ia menatapku tajam.
“Jadi kamu tidak peduli keluarga kesulitan?”
“Aku peduli.”
“Kalau peduli, bantu.”
“Bantu berbeda dengan menyerahkan rumah.”
“Lalu kamu maunya Papa bagaimana?”
Aku berpikir sebentar.
“Jangan buat keputusan memakai milikku.”
Ayah melihat ke halaman.
Tidak ada pidato panjang.
Tidak ada permintaan maaf.
Beberapa menit kemudian ia berdiri.
Sebelum pergi, ia berkata, “Papa kecewa kamu merekam Papa.”
Aku mengangguk.
“Aku juga kecewa perlu melakukannya.”
Ia pergi.
Masalahnya tidak selesai hari itu.
Rina tetap marah.
Selama beberapa minggu ia mengirim pesan panjang yang isinya kurang lebih sama: aku egois, tidak tahu berterima kasih, dan membuat masa depan Lila berantakan.
Aku berhenti membaca setelah pesan ketiga.
Lila sendiri justru menghubungiku lagi.
Ia memutuskan menunda program Inggris.
Bukan semata-mata karena rumah tidak dijual.
Setelah tahu keseluruhan biayanya, ia mengaku sebenarnya sejak awal ragu.
“Mama yang paling semangat,” katanya ketika kami bertemu di sebuah kedai kopi.
“Aku takut bilang aku tidak mau.”
Aku memandangnya.
Ternyata kami memiliki ketakutan yang berbeda terhadap orang tua yang sama.
“Sekarang Mama marah?” tanyaku.
“Banget.”
“Kamu menyesal?”
Ia mengaduk minumannya.
“Sedikit.”
Aku tertawa kecil.
Ia ikut tertawa.
Kemudian wajahnya kembali serius.
“Kak, aku minta maaf.”
“Kamu tidak tahu.”
“Tapi aku menikmati semuanya tanpa tanya.”
Aku menggeleng.
“Kalau waktu itu aku di posisimu, mungkin aku juga percaya orang tua sendiri.”
Lila menatap meja.
“Aku masih akan kuliah di sini dulu. Kalau suatu hari mau ke luar negeri, aku cari beasiswa atau kerja setelah lulus.”
Aku tidak tahu apakah rencana itu akan berhasil.
Tapi setidaknya sekarang itu rencananya sendiri.
Hubunganku dengan Ayah jauh lebih sulit.
Dua bulan pertama kami hampir tidak bicara.
Ia tidak lagi membayar kebutuhan sehari-hariku.
Awalnya itu menyakitkan.
Bukan hanya karena uang.
Ada bagian kecil dalam diriku yang tetap menunggu ia datang, meminta maaf, lalu mengatakan bahwa aku boleh pulang.
Itu tidak terjadi.
Aku mulai mengajar empat murid les.
Kemudian enam.
Jadwalku padat, tapi penghasilannya cukup membantu makan dan transportasi.
Untuk pembayaran kuliah pertama, Tante Ratih meminjamkan sebagian uang.
Aku menuliskannya sebagai utang di buku catatan.
Ia sempat protes.
“Aku bukan bank.”
“Aku tahu.”
“Terus kenapa dicatat?”
“Biar aku tidak pura-pura lupa.”
Ia menggeleng sambil tersenyum.
Aku juga memutuskan tidak langsung tinggal di rumah Ibu.
Rumah itu terlalu besar untukku sendiri dan biaya perawatannya tidak sedikit.
Dengan bantuan orang yang direkomendasikan Pak Arief, aku menyewakannya secara resmi untuk jangka waktu tertentu kepada sebuah keluarga.
Aku membaca kontraknya sampai tiga kali.
Ketika pembayaran sewa pertama masuk ke rekening atas namaku, aku tidak merasa kaya.
Aku justru merasa lega.
Rumah itu tidak perlu dijual untuk memberi manfaat.
Sebagian uangnya kupakai membayar kembali pinjaman Tante Ratih.
Sebagian kusimpan untuk biaya pendidikan dan perawatan rumah.
Ayah tidak mempunyai akses ke rekening itu.
Enam bulan setelah pesta Lila, Ayah mengirim pesan.
“Ada waktu makan siang?”
Aku menatap layar cukup lama.
Kemudian bertanya:
“Untuk bicara rumah?”
Jawabannya datang beberapa menit kemudian.
“Bukan.”
Kami bertemu di warung makan sederhana dekat kampus.
Ayah datang lebih dulu.
Ia terlihat lebih kurus.
Aku duduk di hadapannya.
Awalnya kami membicarakan hal-hal kecil.
Kuliahku.
Pekerjaannya.
Lila.
Kemudian ia meletakkan sendok.
“Papa sudah berhenti meminta rumah itu.”
Aku menatapnya.
“Aku tahu.”
“Rina masih marah.”
Aku tidak menanggapi.
Ayah melanjutkan.
“Waktu itu Papa pikir… rumah itu tetap ada di dalam keluarga. Jadi kalau dipakai untuk Lila, tidak ada yang benar-benar kehilangan.”
Aku menunggu.
“Papa salah.”
Aku tidak bergerak.
Permintaan maaf yang kutunggu selama berbulan-bulan akhirnya datang tanpa musik, tanpa tangis, dan tanpa kalimat indah.
“Papa salah karena menganggap kamu pasti akan menurut.”
Aku menatap wajahnya.
Ia menghindari pandanganku.
“Papa juga salah mengusir kamu.”
Aku bertanya, “Kalau nilainya benar-benar 531, Papa masih merasa salah?”
Ia terdiam cukup lama.
“Iya.”
Aku tidak tahu apakah itu sepenuhnya benar atau jawaban yang sekarang ingin ia percaya.
Tapi aku menghargai bahwa ia tidak mencoba menjelaskan lagi.
“Papa tidak minta kamu melupakan.”
Aku mengangguk.
“Bagus.”
Ia hampir tersenyum.
“Kamu masih galak.”
“Baru enam bulan.”
Kali ini ia benar-benar tersenyum tipis.
Kami tidak berpelukan.
Aku juga tidak pulang ke rumahnya hari itu.
Hubungan yang retak karena bertahun-tahun bukan sesuatu yang bisa diperbaiki lewat satu makan siang.
Namun setelah itu Ayah mulai menghubungiku sesekali tanpa menanyakan uang, rumah, atau tanda tangan.
Kadang aku membalas.
Kadang tidak.
Ia belajar menerima itu.
Rina tidak pernah benar-benar meminta maaf kepadaku.
Aku juga tidak menuntutnya.
Kami bertemu hanya saat perlu.
Lila dan aku justru menjadi lebih dekat setelah tidak lagi tinggal serumah.
Sesekali ia mengirim foto tugas kuliahnya dan mengeluh tentang dosen.
Aku mengirim foto tumpukan soal murid les.
Kami masih bisa bertengkar soal hal kecil.
Tapi rumah Ibu tidak pernah lagi menjadi sesuatu yang ia anggap bagian dari masa depannya.
Hampir setahun setelah malam aku pergi membawa koper, aku datang ke rumah peninggalan Ibu untuk melakukan pemeriksaan sebelum memperpanjang kontrak sewa.
Penyewanya merawat tempat itu dengan baik.
Cat pagar diperbarui.
Tanaman di depan tumbuh rapi.
Aku berdiri sebentar di teras.
Dulu aku pernah bersumpah bahwa ketika kembali, aku akan mengambil semua yang menjadi milikku, sampai pokok dan bunganya.
Sekarang kalimat itu terdengar terlalu marah.
Pada akhirnya aku tidak mengambil apa pun dari Ayah.
Aku hanya berhenti memberikan sesuatu yang bukan haknya.
Sebelum pergi, aku memeriksa pintu depan.
Kunci baru berputar dengan lancar.
Aku menarik pintu sampai tertutup, memastikan rumah itu aman, lalu memasukkan kuncinya ke dalam tas milikku sendiri.
Menurutmu, apakah Alya masih layak memberi Ayah kesempatan memperbaiki hubungan setelah ia merencanakan penjualan rumah warisan itu?
Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.
