Setelah Lima Tahun Membesarkan Tiga Putra, Satu Kalimat Dokter Membuat Arga Diam-Diam Meminta Tes DNA
Bagian 1
Arga Santoso baru saja menutup hasil pemeriksaan kesehatannya ketika dokter yang memeriksanya mengucapkan sesuatu di ujung koridor yang membuat langkahnya berhenti.
“Kasihan juga Pak Arga. Dengan kondisi bawaan seperti ini, kemungkinan memiliki anak kandung nyaris tidak ada.”
Padahal di rumah, tiga anak laki-laki memanggilnya Ayah.
Dan istrinya mungkin sedang mengandung anak keempat.
Beberapa menit sebelumnya, semuanya masih terasa biasa.

Ruang tunggu VIP sebuah pusat pemeriksaan kesehatan di Surabaya itu dipenuhi cahaya kuning lembut. Bau disinfektan bercampur aroma kopi dari mesin otomatis di dekat meja resepsionis.
Arga duduk di sofa kulit sambil membaca hasil medical check-up tahunan yang diwajibkan perusahaan.
Di sebelahnya berdiri Reza Pratama, sekretaris eksekutif yang sudah bekerja dengannya hampir enam tahun.
“Pak, ada yang kurang baik?” tanya Reza ketika melihat Arga berhenti cukup lama di halaman terakhir.
Arga melipat laporan itu.
“Tidak.”
Ia memasukkannya ke dalam tas kerja.
“Rapat jam tiga mundurkan setengah jam. Saya masih ada urusan.”
“Baik.”
Reza menyerahkan kopi hitam yang tadi dipesan Arga, lalu berjalan menuju lift untuk menghubungi kantor.
Arga sendiri berbelok ke bagian kebidanan dan kandungan.
Pagi itu ia sengaja meminta Nadira, istrinya, ikut melakukan pemeriksaan.
Dua minggu terakhir Nadira lebih sering mengantuk, beberapa kali tidak menghabiskan sarapan, dan mengeluh mual saat mencium bau minyak goreng.
Arga mengenali pola itu.
Tiga kali sebelumnya, semuanya dimulai hampir sama.
Ia menduga Nadira hamil lagi.
Baru beberapa langkah memasuki koridor, Arga melihat dokter yang tadi memeriksanya duduk di bangku dekat ruang perawat.
Dokter Harun berusia sekitar lima puluhan. Di sampingnya ada seorang perawat muda yang sedang membantu memeriksa beberapa berkas.
Arga sebenarnya berniat lewat saja.
Lalu ia mendengar namanya.
“Pak Arga Santoso ini masih muda,” kata dokter itu. “Sayang sekali.”
Perawat mengangkat kepala.
“Kenapa, Dok?”
Dokter Harun membuka kembali salah satu lembar pemeriksaan.
“Viabilitas spermanya nol. Dari pemeriksaan awal, polanya mengarah pada kelainan yang sudah lama, kemungkinan besar bawaan. Kalau hasil ini dikonfirmasi pemeriksaan lanjutan, sulit sekali baginya punya anak biologis.”
Perawat tampak heran.
“Tapi saya pernah melihat beliau datang bersama istri dan anak-anaknya. Katanya punya tiga putra.”
Dokter Harun terdiam sebentar.
Kemudian ia hanya berkata, “Nah. Itu yang membuat saya heran.”
Tidak ada tuduhan langsung.
Tidak ada kalimat tentang perselingkuhan.
Namun justru kalimat yang tidak selesai itu terasa lebih buruk.
Arga tidak bergerak.
Udara dari pendingin ruangan menyentuh tengkuknya, tetapi punggung kemejanya mulai terasa basah.
Tangannya mencengkeram pegangan tas.
Tiga anak.
Raka, empat tahun.
Bima, dua tahun delapan bulan.
Danu, baru sebelas bulan.
Kalau dirinya memang tidak pernah memiliki sperma yang mampu membuahi, anak-anak itu anak siapa?
Ingatan datang tanpa diminta.
Nadira yang menangis bahagia ketika tes kehamilan pertama menunjukkan dua garis.
Nadira duduk di tempat tidur sambil menyusui Raka tengah malam.
Nadira terbaring pucat setelah melahirkan Danu dan mengalami perdarahan sampai dokter meminta keluarga bersiap kalau transfusi tambahan diperlukan.
Arga bahkan masih ingat tangannya sendiri gemetar ketika menandatangani persetujuan tindakan.
Semua itu nyata.
Rasa sakit Nadira nyata.
Kelahiran ketiga anak itu nyata.
Yang tiba-tiba tidak lagi terasa pasti hanya satu hal.
Hubungan darahnya dengan mereka.
“Pak Arga?”
Suara Reza muncul dari belakang.
Arga menoleh.
Reza berdiri beberapa meter darinya sambil memegang tablet.
“Bapak masih di sini? Saya kira sudah menemui Bu Nadira.”
Arga menarik napas.
Wajahnya kembali datar.
“Belum.”
Ia berjalan melewati ruang pemeriksaan kandungan.
Pintu kaca di sana tidak tertutup penuh.
Dari celahnya, Arga melihat Nadira duduk di depan dokter perempuan sambil memegang selembar hasil USG.
Ada senyum kecil di wajahnya.
Dokter sedang menjelaskan sesuatu.
Nadira mendengarkan sambil sesekali mengangguk.
Arga berdiri selama tiga detik.
Ia tidak masuk.
Bukan karena tidak ingin tahu.
Justru karena terlalu ingin tahu.
Ia takut pertanyaan pertama yang keluar dari mulutnya bukan tentang kesehatan Nadira.
Ia takut akan bertanya, “Anak siapa yang sedang kamu kandung?”
Arga berbalik.
“Pak?” Reza mengejarnya.
“Kita pergi.”
“Tapi Bu Nadira…”
“Dia bawa mobil sendiri.”
Reza tidak bertanya lagi.
Pukul tiga sore, Arga tidak kembali ke kantor.
Ia menyetir sendiri menuju rumah sakit swasta lain di bagian timur Surabaya.
Di sana tidak ada ruang VIP.
Tidak ada pegawai yang mengenalnya.
Ia mengambil nomor antrean poli andrologi seperti pasien lainnya.
“Ada keluhan tertentu, Pak?” tanya petugas.
“Saya ingin pemeriksaan fertilitas lengkap.”
Beberapa jam berikutnya ia menjalani pemeriksaan ulang.
Darah.
Analisis semen.
Pemeriksaan hormon.
Dokter juga menyarankan pemeriksaan lanjutan untuk memastikan apakah masalah tersebut memang telah berlangsung sejak lama.
“Kalau hasil lengkap, paling cepat besok siang,” kata petugas laboratorium.
“Bisa dipercepat?”
“Kami usahakan sebelum pukul sepuluh pagi.”
“Berapa pun biayanya, tidak masalah. Saya hanya butuh hasil yang benar.”
Keluar dari rumah sakit, Arga berhenti di area parkir.
Sudah hampir lima tahun ia tidak merokok.
Nadira tidak suka bau asap rokok.
Beberapa bulan setelah menikah, Arga berhenti total.
Sore itu ia membeli sebungkus dari minimarket dekat pintu keluar rumah sakit.
Ia menyalakan satu batang, mengisap dua kali, kemudian hanya membiarkannya terbakar di antara jari.
Ponselnya bergetar.
Nadira.
Arga menatap nama itu beberapa detik sebelum menjawab.
“Kamu pulang jam berapa?” suara Nadira terdengar lembut. “Aku masak sop iga. Raka dari tadi tanya Ayah makan di rumah atau tidak.”
“Aku ada makan malam dengan klien.”
Sebenarnya tidak ada.
“Oh.”
Nadira diam sebentar.
“Kalau begitu jangan terlalu banyak minum kopi. Tadi tensimu juga sempat tinggi, kan?”
“Tidak apa-apa.”
“Pulang jangan nyetir sendiri kalau capek.”
“Ya.”
Setelah sambungan terputus, Arga mematikan rokok di asbak luar gedung.
Ia duduk di dalam mobil tanpa menyalakan mesin.
Lima tahun sebelumnya, Nadira berjalan ke arahnya mengenakan kebaya putih sederhana saat akad mereka.
Ia bukan perempuan yang banyak menuntut.
Tidak pernah meminta mobil mewah.
Tidak pernah mempermasalahkan Arga pulang larut.
Kalau Arga harus keluar kota empat hari, Nadira hanya mengirim foto anak-anak dan mengingatkannya makan.
Teman-teman Arga sering berkata ia beruntung.
Arga juga percaya begitu.
Bahkan mungkin terlalu percaya.
Ia menjadikan rumah sebagai sesuatu yang selalu ada ketika ia pulang, tanpa pernah bertanya berapa banyak hal yang terjadi ketika ia tidak berada di sana.
Namun satu hal tetap tidak dapat ia terima.
Kesibukannya tidak mungkin mengubah hasil laboratorium.
Arga menyalakan mobil.
Ia tidak pulang.
Ia menuju kantor.
Gedung perusahaan sudah jauh lebih sepi ketika ia tiba.
Di lantai direksi hanya beberapa lampu yang masih menyala.
Reza sedang membereskan dokumen di ruang sekretariat.
Melihat Arga datang, ia langsung berdiri.
“Pak Arga? Saya kira Bapak pulang.”
“Ada sesuatu yang harus kamu urus.”
Reza mengambil tablet.
“Untuk rapat besok?”
“Bukan.”
Arga masuk ke ruangannya.
Reza mengikuti dan menutup pintu.
Arga duduk di belakang meja.
Ia memperhatikan orang yang selama bertahun-tahun mengatur jadwal penerbangannya, reservasi hotel, rapat, bahkan beberapa kali membantu Nadira ketika Arga terlalu sibuk untuk mengurus urusan keluarga.
“Reza.”
“Ya, Pak?”
“Saya mau tes DNA untuk Raka, Bima, dan Danu.”
Tablet di tangan Reza turun beberapa sentimeter.
“Apa?”
Arga menatapnya.
“Ketiganya.”
Reza tidak langsung menjawab.
Arga melanjutkan dengan suara rendah.
“Kamu cari laboratorium yang kredibel. Cari tahu prosedurnya. Saya tidak mau hasil yang meragukan.”
“Pak Arga, apa terjadi sesuatu?”
“Itu bukan bagian yang perlu kamu tanyakan.”
Reza menelan ludah.
“Baik.”
“Satu hal lagi.”
Arga bersandar.
“Tidak seorang pun boleh tahu.”
Reza mengangguk pelan.
“Termasuk Bu Nadira?”
“Terutama Nadira.”
Untuk beberapa detik, tidak ada suara apa pun di ruangan itu.
Kemudian Reza menunduk.
“Baik, Pak.”
Arga tidak mengatakan apa-apa lagi.
Namun saat sekretarisnya berbalik menuju pintu, untuk pertama kali selama hampir enam tahun bekerja bersama, Arga melihat tangan Reza gemetar.
Bagian 2 berlanjut di kolom komentar di bawah jika ingin lanjut membaca. 👇
Bagian 2
Reza belum sampai ke pintu ketika Arga memanggilnya lagi.
“Besok pagi kirim pilihan laboratoriumnya ke saya.”
Reza berhenti.
“Pak, mungkin sebaiknya Bapak menunggu hasil pemeriksaan kedua dulu.”
Arga mengangkat mata.
“Kamu tadi bilang akan mengurusnya.”
“Saya akan urus. Saya cuma berpikir… tes seperti ini bisa mengubah banyak hal.”
Kalimat itu membuat Arga diam.
Bukan karena isinya salah.
Melainkan karena Reza terdengar seolah sedang meminta waktu.
“Justru karena bisa mengubah banyak hal, saya ingin fakta.”
Reza tidak membantah lagi.
Malam itu Arga tidur di hotel.
Ia tidak ingin pulang dengan wajah yang tidak mampu ia kendalikan.
Pukul tujuh pagi Nadira mengirim foto Raka sedang mengenakan seragam taman kanak-kanak.
Di belakangnya, Bima memegang sendok dengan tangan terbalik, sedangkan Danu duduk di kursi makan sambil mengacak bubur.
Pesannya sederhana.
Raka bilang Ayah janji Sabtu mau ajari dia naik sepeda. Jangan lupa.
Arga menatap foto itu lama.
Ia tidak tahu apakah orang bisa berhenti menjadi ayah hanya karena satu lembar hasil laboratorium mengatakan darah mereka berbeda.
Pukul sembilan lewat dua belas, rumah sakit kedua menelepon.
Arga datang sendiri.
Dokter androlog yang menemuinya tidak banyak berbasa-basi.
“Kami mengulang analisisnya dua kali karena angka awalnya sangat rendah.”
Dokter memutar layar komputer.
“Hasilnya konsisten. Tidak ditemukan sel sperma hidup yang dapat membuahi.”
Arga menjaga suaranya tetap stabil.
“Bisa terjadi belakangan?”
“Ada kondisi yang muncul karena penyakit atau pengobatan tertentu. Tetapi dari hasil hormon dan beberapa temuan lain, kami justru mencurigai kondisi ini sudah berlangsung lama.”
“Sejak sebelum saya menikah?”
“Kemungkinannya begitu. Tetapi saya menyarankan pemeriksaan lanjutan sebelum menarik kesimpulan absolut.”
Arga melihat angka-angka di layar.
“Kalau begitu, apakah mungkin saya memiliki tiga anak biologis secara alami?”
Dokter tidak langsung menjawab.
“Dengan hasil seperti ini, kemungkinannya sangat kecil.”
Arga mengangguk.
Ia tidak meminta kalimat yang lebih keras.
Siang harinya Reza mengirimkan informasi laboratorium DNA independen.
Arga memilih salah satu yang prosedurnya paling jelas.
Ia juga memutuskan satu hal lain.
Reza tidak akan memegang hasil akhirnya.
Untuk pengambilan sampel, Arga membawa ketiga anaknya dua hari kemudian dengan alasan pemeriksaan kesehatan keluarga. Sebagai ayah yang tercatat dalam dokumen mereka, ia menandatangani formulir yang diperlukan.
Raka takut melihat cotton swab.
“Ayah juga?”
“Iya.”
“Kalau Ayah duluan, Raka mau.”
Arga membuka mulut dan membiarkan petugas mengambil sampel dari bagian dalam pipinya.
Raka langsung tertawa.
“Cuma begitu?”
“Cuma begitu.”
Bima malah meminta dua kali karena mengira kapas itu seperti permen.
Danu menangis sebentar lalu diam setelah digendong Arga.
Di dalam mobil, ketiganya berebut biskuit.
Arga duduk di depan sambil mendengarkan suara mereka dari belakang.
Tidak ada satu pun dari anak-anak itu yang bersalah.
Ia berulang kali mengingatkan dirinya tentang hal tersebut.
Tiga hari kemudian, hasil dikirim ke alamat surel pribadi Arga.
Ia menunggu sampai pintu ruang kerjanya terkunci.
Berkas pertama milik Raka.
Arga membaca kesimpulannya dua kali.
Kemudian berkas Bima.
Lalu Danu.
Tidak ada kata-kata dramatis.
Hanya bahasa laboratorium yang dingin.
Profil genetik yang diperiksa tidak mendukung hubungan ayah biologis.
Pada masing-masing berkas tercantum kesimpulan yang sama.
Probabilitas paternitas: 0%.
Arga menutup laptop.
Lima menit berlalu sebelum ia membuka mata lagi.
Lalu ia mengambil ponsel dan menelepon Reza.
“Masuk ke ruangan saya.”
“Sekarang, Pak?”
“Sekarang.”
Tiga menit kemudian Reza berdiri di depan mejanya.
Arga tidak menunjukkan hasil DNA.
Ia hanya bertanya satu hal.
“Kapan terakhir kali kamu bertemu Nadira tanpa saya?”
Wajah Reza berubah.
Dan untuk pertama kalinya, Arga tidak membutuhkan hasil laboratorium untuk mengetahui bahwa ada sesuatu yang belum diceritakan kepadanya.
Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇
Bagian 3
Reza tidak segera menjawab.
Arga membiarkannya berdiri.
Biasanya ia tidak suka permainan diam dalam rapat. Kalau seorang manajer membawa masalah, Arga selalu meminta angka, tanggal, dan solusi.
Tetapi kali ini ia ingin melihat berapa lama Reza membutuhkan waktu untuk memilih kebohongan.
“Bu Nadira kadang menghubungi saya soal jadwal Bapak,” akhirnya Reza berkata.
“Itu bukan pertanyaan saya.”
Reza menunduk.
Arga mengulang lebih pelan.
“Kapan terakhir kali kamu bertemu Nadira tanpa saya?”
“Beberapa minggu lalu.”
“Di mana?”
“Di rumah Bapak.”
“Untuk apa?”
“Bu Nadira minta saya mengantar dokumen asuransi kendaraan.”
Arga mengangguk.
Alasan itu mungkin benar.
Selama bertahun-tahun, Reza memang terlalu sering menjadi perpanjangan tangannya.
Kalau Arga lupa mengirim dokumen, Reza yang mengantar.
Kalau mobil Nadira harus masuk bengkel sementara Arga sedang di Jakarta, Reza yang mencarikan kendaraan pengganti.
Ketika ulang tahun Raka yang kedua Arga masih terjebak rapat dengan pemasok sampai malam, Reza bahkan pernah membelikan kue atas instruksi Arga.
Dulu semua itu terasa efisien.
Sekarang Arga bertanya-tanya berapa banyak ruang dalam rumah tangganya yang telah ia kosongkan sendiri, lalu tanpa sadar diisi orang lain.
Ia membuka laci meja dan mengeluarkan tiga amplop.
Bukan hasil DNA.
Hanya tiga lembar fotokopi akta kelahiran anak-anaknya.
Ia menaruhnya berjajar.
“Raka lahir empat tahun lalu.”
Reza menatap meja.
“Bima dua tahun delapan bulan.”
Reza tidak bergerak.
“Danu sebelas bulan.”
Arga bersandar.
“Kalau ada sesuatu yang harus saya tahu, sekarang waktunya.”
“Saya tidak mengerti maksud Bapak.”
“Kamu mengerti.”
Reza menggeleng.
Arga tidak meninggikan suara.
“Keluar.”
Reza tampak terkejut.
“Pak?”
“Mulai hari ini, semua jadwal pribadi saya ditangani staf lain. Aksesmu ke kalender keluarga, alamat pengiriman rumah, dan dokumen pribadi saya dicabut.”
“Pak Arga, saya…”
“Saya belum menuduh kamu apa pun.”
Itulah yang membuat Reza berhenti bicara.
“HR akan menghubungimu tentang perubahan tugas sementara. Sampai saya selesai memastikan beberapa hal, kamu tidak perlu masuk ke ruang kerja saya kecuali dipanggil.”
Wajah Reza memucat.
Namun ia hanya berkata, “Baik.”
Setelah pintu menutup, Arga menyimpan salinan hasil DNA dalam folder terpisah.
Ia juga mengganti kata sandi email pribadi, akun penyimpanan digital, serta akses dokumen rumah tangga yang selama ini sebagian pernah diketahui Reza karena alasan pekerjaan.
Baru setelah itu ia menelepon Nadira.
“Malam ini aku pulang.”
Nadira terdengar lega.
“Kamu akhirnya selesai juga? Raka tadi pagi marah karena katanya Ayah sekarang tinggal di kantor.”
“Aku pulang setelah anak-anak tidur.”
Ada jeda.
“Kita perlu bicara.”
Nada suara Nadira berubah.
“Bicara apa?”
“Nanti.”
Arga memutus sambungan sebelum dirinya mulai bertanya melalui telepon.
Ia masih membutuhkan satu langkah lagi.
Hari berikutnya ia membawa salinan pemeriksaan fertilitas dan DNA kepada dokter di rumah sakit ketiga untuk pendapat independen.
Dokter itu tidak menjanjikan kepastian dari satu lembar laporan.
Ia memeriksa riwayat kesehatan Arga, bertanya tentang penyakit, operasi, obat-obatan, dan riwayat keluarganya.
Kemudian ia menyarankan beberapa tes konfirmasi.
Hasilnya keluar dua hari kemudian.
Tidak banyak yang berubah.
Dokter menyebut kondisi Arga sangat mungkin telah ada jauh sebelum pernikahannya.
“Kalau Bapak ingin mengambil keputusan keluarga berdasarkan hal ini,” katanya, “jangan hanya berdasarkan satu laboratorium. Tetapi pemeriksaan kami mendukung hasil rumah sakit sebelumnya.”
Arga menunjukkan hasil DNA ketiga anaknya.
Dokter membaca sebentar.
“Untuk persoalan paternitas, sebaiknya Bapak konsultasikan hasil ini dengan laboratorium yang melakukan pemeriksaan dan, kalau akan dipakai dalam proses hukum, tanyakan prosedur yang sesuai.”
“Secara sederhana?”
Dokter meletakkan berkas itu kembali.
“Secara sederhana, hasil ini tidak mendukung bahwa Bapak adalah ayah biologis mereka.”
Arga sudah mengetahui jawabannya.
Tetapi mendengarnya dari orang lain tetap berbeda.
Malam itu ia pulang pukul sembilan lewat.
Rumah mereka sunyi.
Lampu ruang keluarga masih menyala.
Tiga mobil mainan berjejer tidak rapi di dekat sofa.
Ada gelas plastik Raka di meja.
Nadira duduk menunggunya.
Ia mengenakan pakaian rumah dan rambutnya diikat seadanya.
Tidak tampak seperti perempuan yang selama beberapa hari terakhir terus dibayangkan Arga sebagai orang asing.
Justru itulah yang menyakitkan.
Ia masih tampak seperti istrinya.
“Kamu makan?” tanya Nadira.
“Tidak usah.”
“Kamu beberapa hari ini kenapa?”
Arga duduk di seberangnya.
Ia mengeluarkan hasil pemeriksaan fertilitas terlebih dahulu.
Nadira membaca bagian atasnya.
Wajahnya langsung kehilangan warna.
Arga melihat perubahan itu.
Ia belum menunjukkan tes DNA.
Belum bertanya tentang siapa pun.
Namun Nadira sudah tahu mengapa laporan itu berbahaya.
“Kamu pernah tahu soal ini?” tanya Arga.
Nadira menaruh kertas itu dengan tangan perlahan.
“Arga…”
“Pernah?”
Nadira tidak menjawab.
Arga mengambil tiga amplop berikutnya.
Ia meletakkannya di meja.
“Ketiganya bukan anak biologisku.”
Nadira menutup mulut.
Tidak ada teriakan.
Tidak ada piring pecah.
Hanya bunyi pendingin ruangan dan jam dinding.
Arga menunggu.
Ketika Nadira akhirnya bicara, suaranya nyaris berbisik.
“Kamu tes mereka?”
“Iya.”
“Tanpa bilang aku?”
Arga menatapnya beberapa detik.
“Kalau itu yang pertama ingin kamu bahas malam ini, kita tidak akan ke mana-mana.”
Nadira mulai menangis.
Arga tidak menyuruhnya berhenti.
Ia juga tidak menghiburnya.
“Siapa ayah mereka?”
Nadira mengusap wajah.
“Arga, tolong…”
“Nama.”
Nadira menunduk.
Arga sebenarnya sudah mempunyai dugaan.
Tetapi ketika nama itu akhirnya keluar, ia tetap merasa seperti mendengar sesuatu patah.
“Reza.”
Arga tidak bergerak.
“Ketiganya?”
Nadira mengangguk sangat kecil.
“Ketiganya.”
Arga memandang ketiga amplop di meja.
Raka.
Bima.
Danu.
Lalu ia teringat Nadira keluar dari ruang kandungan beberapa hari lalu.
“Kamu hamil lagi?”
Nadira langsung menangis lebih keras.
Arga tidak bertanya untuk kedua kalinya.
Jawabannya sudah terlihat.
“Berapa minggu?”
“Delapan.”
“Reza?”
Nadira mengangguk.
Arga berdiri.
Ia berjalan ke jendela.
Dari lantai bawah terdengar suara Danu menangis sebentar. Mungkin terbangun lalu ditenangkan pengasuh.
Arga menunggu suara itu berhenti.
“Sejak kapan?”
“Tahun pertama kita menikah.”
“Kenapa?”
Nadira menggeleng cepat.
“Aku tidak merencanakannya.”
“Aku tidak tanya apakah kamu merencanakannya.”
Arga menoleh.
“Aku tanya kenapa hubungan itu terus berjalan sampai kamu hamil empat kali.”
Nadira terdiam.
Lalu jawabannya keluar tidak sekaligus.
Pada tahun pertama pernikahan, Arga hampir selalu bepergian.
Perusahaan sedang membuka dua gudang baru.
Ada minggu ketika ia hanya berada di rumah satu malam.
Nadira awalnya sering mengeluh.
Arga biasanya meminta maaf lalu kembali bekerja.
Setelah beberapa bulan, Nadira berhenti mengeluh.
Reza justru menjadi orang yang sering datang karena urusan Arga.
Mengantar dokumen.
Membawa barang.
Menjemput berkas.
Memastikan hadiah ulang tahun dikirim tepat waktu.
Hubungan itu dimulai dari percakapan.
Kemudian makan siang yang tidak pernah diceritakan kepada Arga.
Lalu satu pertemuan yang menurut Nadira seharusnya hanya terjadi sekali.
“Ketika tahu aku hamil Raka, aku takut,” katanya.
“Kamu takut pada siapa?”
“Kamu.”
“Aku pernah memukulmu?”
“Tidak.”
“Pernah mengancam?”
“Tidak.”
“Jadi kamu takut pada akibat pilihanmu sendiri.”
Nadira tidak menjawab.
Ia mengatakan setelah Raka lahir, dirinya benar-benar berniat mengakhiri hubungan dengan Reza.
Selama beberapa bulan mereka hampir tidak bertemu di luar urusan kerja.
Tetapi Arga kembali tenggelam dalam pekerjaan.
Reza kembali menjadi penghubung antara kantor dan rumah.
Mereka mulai berbicara lagi.
Kemudian hubungan itu berulang.
Arga duduk kembali.
“Bima?”
Nadira menangis.
“Iya.”
“Dan setelah Bima kamu masih melanjutkan?”
“Aku tahu aku salah.”
“Danu?”
“Iya.”
Arga memejamkan mata sebentar.
“Ketika kamu hampir meninggal saat melahirkan Danu, aku menunggu di luar ruang operasi empat jam.”
“Aku tahu.”
“Aku menelepon dokter tiga kali.”
“Aku tahu.”
“Aku menggendong Danu sepanjang malam karena kamu masih di ruang observasi.”
Nadira tidak mampu menatapnya.
Arga menekan jari ke pelipis.
“Dan Reza?”
Nadira terdiam.
“Dia tahu Danu anaknya?”
“Iya.”
“Dia tahu ketiganya?”
“Iya.”
Arga tertawa pendek tanpa humor.
Sekarang beberapa hal menjadi masuk akal.
Reza yang selalu mengingat tanggal imunisasi.
Reza yang pernah membawa mainan terlalu mahal untuk ulang tahun Raka.
Reza yang terlihat lebih panik daripada staf lain ketika Danu harus dirawat karena demam tinggi.
Dulu Arga menganggap itu loyalitas seorang sekretaris yang telah lama bekerja bersama keluarga.
Ternyata ia sedang melihat seorang ayah berdiri beberapa langkah dari anak-anaknya sendiri.
“Kenapa tidak pergi dengan dia?”
Pertanyaan itu membuat Nadira mengangkat wajah.
“Apa?”
“Kalau kalian sudah punya hubungan bertahun-tahun, tiga anak, sekarang empat, kenapa tetap tinggal denganku?”
Nadira menghapus air mata.
“Aku mencintaimu.”
Arga menatapnya lama.
“Aku tidak tahu apa definisi cintamu, Nadira.”
“Aku memang salah, tapi rumah ini, anak-anak…”
“Jangan pakai anak-anak sebagai jawaban untuk pilihan yang kamu buat sebelum mereka bisa bicara.”
Nadira terdiam.
Setelah beberapa saat, ia mengaku ada alasan lain.
Reza tidak pernah meminta Nadira meninggalkan Arga.
Ia menyayangi anak-anak, tetapi selalu mengatakan keadaan akan menjadi kacau kalau semuanya terbongkar.
Kariernya bergantung pada pekerjaannya.
Orang tuanya juga tidak mengetahui hubungan itu.
Nadira sendiri takut kehilangan rumah tangga yang selama ini terlihat stabil.
Arga memahami sesuatu dari jawaban itu.
Mereka berdua menikmati dua hal berbeda darinya.
Nadira mendapatkan keamanan keluarga.
Reza mendapatkan kedekatan tanpa tanggung jawab terbuka.
Dan Arga, tanpa mengetahuinya, membiayai serta menjaga struktur yang memungkinkan semuanya tetap berjalan.
Ia tidak merasa lebih bodoh setelah menyadarinya.
Ia merasa lelah.
“Aku akan tinggal di apartemen sementara.”
Nadira langsung berdiri.
“Arga, jangan.”
“Anak-anak tetap di sini malam ini.”
“Kamu mau meninggalkan mereka?”
Arga menatapnya tajam.
“Jangan pernah katakan itu lagi.”
Nadira terdiam.
“Mereka tidak tahu apa-apa. Raka baru empat tahun. Bima bahkan belum mengerti kenapa sepatunya harus dipakai kanan-kiri. Danu baru belajar jalan.”
Arga memasukkan kembali dokumen ke dalam tas.
“Apa pun yang terjadi antara kita, jangan seret mereka ke dalamnya.”
“Kamu masih mau jadi ayah mereka?”
Pertanyaan itu membuat Arga berhenti.
Ia tidak langsung menjawab.
Akhirnya ia berkata, “Aku sudah jadi ayah mereka sejak mereka lahir. Aku belum tahu bentuknya nanti seperti apa. Tapi aku tidak akan membuat tiga anak kecil membayar kebohongan orang dewasa.”
Arga naik ke lantai dua sebelum pergi.
Ia masuk ke kamar Raka.
Anak itu tidur miring sambil memeluk bantal kecil berbentuk mobil.
Arga membetulkan selimutnya.
Di kamar sebelah Bima tidur dengan satu kaki keluar dari kasur.
Danu berada di ranjang bayi.
Tidak satu pun wajah mereka berubah hanya karena Arga mengetahui hasil DNA.
Raka tetap anak yang menunggunya mengajari naik sepeda.
Bima tetap akan berlari ke pintu setiap mendengar suara mobil Arga.
Danu tetap akan mengangkat kedua tangan minta digendong.
Arga keluar tanpa membangunkan siapa pun.
Keesokan harinya ia menemui advokat keluarga.
Ia tidak meminta pengacara itu “menghancurkan” Nadira.
Ia membawa fakta.
Akta pernikahan.
Akta kelahiran.
Hasil DNA.
Laporan medis.
Kehamilan Nadira.
Ia ingin tahu langkah apa yang sebaiknya dihindari sebelum keputusan dibuat.
Advokat itu membaca berkas tanpa banyak ekspresi.
“Yang pertama, jangan mengambil keputusan tentang status anak hanya karena emosi hari ini.”
“Saya tidak berniat mengusir mereka.”
“Bagus. Mereka masih kecil. Apa pun proses orang dewasa, kepentingan mereka harus dipisahkan dari konflik perkawinan.”
Arga mengangguk.
“Kalau saya mengajukan perceraian?”
“Kita bisa membicarakan prosedurnya. Tapi soal status hukum anak, pengasuhan, dan hubungan biologis punya aspek yang berbeda. Jangan membuat asumsi sendiri.”
“Saya juga tidak ingin anak-anak mendengar ini dari keluarga atau pegawai.”
“Itu penting.”
Advokat itu menutup map.
“Dan satu lagi. Kalau Bapak ingin hasil DNA dipakai untuk tujuan hukum, nanti ikuti prosedur formal yang sesuai. Jangan hanya bergantung pada pemeriksaan privat.”
Arga setuju.
Ia belum tahu keputusan akhirnya soal semua dokumen.
Tetapi untuk pertama kalinya sejak mendengar percakapan dokter, ia merasa memiliki urutan langkah yang masuk akal.
Tidak perlu berteriak.
Tidak perlu mempermalukan siapa pun di media sosial.
Tidak perlu membawa masalah itu ke grup keluarga.
Fakta cukup berat tanpa ditambah tontonan.
Siang harinya Reza meminta bertemu.
Arga memilih ruang rapat kecil di kantor.
Bukan ruang pribadinya.
HR sudah memindahkan Reza sementara dari tugas yang memberinya akses langsung pada Arga.
Reza datang tanpa membawa tablet.
Ia duduk di seberang meja.
“Bu Nadira sudah bicara dengan Bapak?”
“Sudah.”
Reza menunduk.
“Jadi Bapak tahu.”
“Sekarang saya ingin dengar dari kamu.”
Reza mengusap kedua tangannya.
“Saya tidak punya pembelaan.”
“Bagus. Berarti kita bisa menghemat waktu.”
Reza menarik napas.
“Raka, Bima, dan Danu anak saya.”
Arga mengangguk.
“Kehamilan sekarang?”
Reza tidak menjawab.
Itu sudah cukup.
“Apa kamu berniat bertanggung jawab?”
“Saya…”
Arga menunggu.
Reza terlihat seperti seseorang yang selama bertahun-tahun mampu hidup nyaman justru karena tidak pernah dipaksa menjawab pertanyaan itu.
“Saya sayang mereka.”
“Itu bukan pertanyaan saya.”
“Saya tidak pernah bermaksud mengambil mereka dari Bapak.”
“Bukan itu juga.”
Arga mencondongkan badan.
“Empat kali kamu membuat anak dengan istri saya. Tiga sudah lahir. Satu masih dikandung. Jadi saya tanya lagi. Apa kamu berniat bertanggung jawab?”
Reza menelan ludah.
“Iya.”
“Kamu akan mengakui hasil tes kalau nanti diminta melalui prosedur resmi?”
Reza terdiam beberapa detik.
“Iya.”
“Biaya yang selama ini saya keluarkan untuk anak-anak tidak akan saya jadikan alat tawar-menawar. Mereka tumbuh bersama saya. Tapi mulai sekarang, kamu tidak bisa lagi hidup seolah persoalan ini hanya hubungan rahasia antara dua orang dewasa.”
Reza mengangguk.
“Pak Arga…”
“Satu lagi.”
Arga membuka sebuah map.
“Urusan pekerjaan akan ditangani HR berdasarkan aturan perusahaan. Saya tidak akan memecat kamu hanya dengan membanting meja.”
Reza mengangkat kepala.
“Tapi kamu tidak akan kembali menjadi sekretaris saya.”
Reza menunduk kembali.
“Saya mengerti.”
“Tidak, saya rasa baru sekarang kamu mulai mengerti.”
Arga berdiri.
Pertemuan selesai.
Dalam dua minggu berikutnya hidup mereka tidak berubah dengan cara dramatis.
Justru itulah yang paling aneh.
Raka tetap berangkat sekolah.
Bima tetap menolak makan sayur.
Danu masih terbangun tengah malam.
Arga tetap bekerja.
Nadira tetap menjalani pemeriksaan kehamilan.
Bedanya, Arga tidak lagi tinggal di kamar yang sama dengannya.
Ia menyewa apartemen kecil sekitar lima belas menit dari rumah agar tetap mudah menemui anak-anak.
Setiap sore kalau tidak ada rapat, ia datang.
Pertama kali Raka bertanya kenapa Ayah tidak tidur di rumah, Arga hanya berkata, “Ayah dan Ibu sedang menyelesaikan masalah orang dewasa.”
“Raka salah?”
Arga langsung berjongkok.
“Tidak.”
“Bima salah?”
“Tidak.”
“Danu?”
“Juga tidak.”
Raka berpikir sebentar.
“Ibu salah?”
Arga hampir menjawab terlalu cepat.
Ia menahan diri.
“Ayah dan Ibu yang akan menyelesaikannya. Kamu tidak perlu memilih siapa pun.”
Raka menerima jawaban itu dengan cara anak kecil menerima banyak hal.
Ia menunjuk sepeda kecil di halaman.
“Kalau begitu Ayah jadi ajari aku?”
Arga memegang sadelnya.
“Jadi.”
Selama hampir satu jam ia berlari kecil di belakang sepeda Raka.
Beberapa kali anak itu jatuh.
Beberapa kali Arga ingin memegang terlalu kuat.
Akhirnya ia belajar melepaskan sedikit demi sedikit.
Tiga minggu kemudian, orang tua Nadira datang.
Arga setuju bertemu di rumah setelah anak-anak tidur.
Ibu Nadira menangis begitu melihatnya.
“Arga, Ibu malu.”
Arga tidak tahu harus menjawab apa.
Ayah Nadira justru duduk diam cukup lama sebelum berkata, “Kami tidak akan membela apa yang dilakukan Nadira.”
Nadira menunduk.
Namun pembicaraan berubah ketika ibunya mulai membicarakan anak-anak.
“Kalau bisa jangan cerai dulu. Kasihan mereka. Raka sudah dekat sekali sama kamu.”
Arga mengangguk.
“Dia memang dekat dengan saya.”
“Kalau begitu demi anak…”
Arga mengangkat tangan pelan.
“Saya tahu anak-anak tidak bersalah. Tapi mempertahankan bentuk perkawinan yang sudah tidak punya kepercayaan tidak otomatis membuat mereka aman.”
Ibunya terdiam.
“Saya tidak akan menghilang dari hidup mereka besok pagi. Tetapi saya juga tidak bisa berpura-pura tidak mengetahui apa-apa.”
Nadira menatapnya.
“Kalau aku benar-benar mengakhiri semuanya dengan Reza?”
Arga tidak marah mendengar pertanyaan itu.
Beberapa bulan sebelumnya mungkin ia akan melihatnya sebagai pintu untuk memperbaiki rumah tangga.
Sekarang kalimat itu terdengar terlambat.
“Masalahnya bukan apakah hubunganmu dengan Reza berhenti minggu ini.”
Nadira menahan napas.
“Lima tahun aku hidup dalam sesuatu yang kenyataannya berbeda dari yang kamu tunjukkan. Tiga kali kamu melahirkan anak dan membiarkanku percaya mereka anak biologisku. Sekarang kamu hamil lagi.”
Arga berhenti sebentar.
“Aku tidak tahu cara kembali ke hubungan sebelum semua ini, karena hubungan itu ternyata tidak pernah benar-benar ada seperti yang kupikirkan.”
Nadira menangis.
Orang tuanya tidak menyela.
Malam itu, untuk pertama kali, Arga mengatakan keputusannya dengan jelas.
Ia akan mengajukan perceraian.
Bukan malam itu.
Bukan sebagai ancaman.
Ia sudah mendiskusikan langkah awal dengan advokat dan ingin semuanya dilakukan tanpa membuat anak-anak menjadi senjata.
Nadira meminta waktu.
Arga memberikannya untuk memproses kenyataan, bukan untuk mengubah keputusannya.
Ada perbedaan besar antara keduanya.
Reza mengundurkan diri dari perusahaan sebulan kemudian.
HR sebenarnya masih menyelesaikan perubahan penempatan dan beberapa pelanggaran terkait penggunaan waktu kerja untuk urusan pribadi, tetapi Reza memilih pergi.
Arga tidak menghalangi.
Ia juga tidak menelepon perusahaan lain untuk menghancurkan karier Reza.
Baginya, hubungan kerja mereka sudah selesai.
Yang belum selesai adalah tanggung jawab Reza sebagai ayah biologis.
Atas saran masing-masing kuasa hukum, pemeriksaan paternitas formal dilakukan kembali untuk tiga anak.
Hasilnya sama.
Reza adalah ayah biologis mereka.
Untuk kehamilan keempat, pengaturan hukum dan tanggung jawab akan dibicarakan setelah kelahiran dengan prosedur yang tepat.
Nadira pernah bertanya apakah Arga akan meminta namanya dihapus dari kehidupan ketiga anak itu.
Arga menjawab jujur.
“Aku belum tahu semua akibat hukumnya. Tapi aku tahu satu hal.”
Nadira menunggu.
“Aku tidak mau bangun besok dan membuat Raka kehilangan ayah yang ia kenal karena aku sedang marah padamu.”
Nadira menangis lagi.
“Tapi mereka harus tahu suatu hari nanti.”
“Iya.”
“Kapan?”
“Bukan sekarang. Bukan lewat pertengkaran. Dan bukan dari orang yang ingin menyakiti salah satu dari kita.”
Mereka berkonsultasi dengan profesional untuk menentukan cara menjelaskan situasi kepada anak-anak sesuai usia mereka.
Tidak ada satu pertemuan yang langsung menyelesaikan semuanya.
Raka terlalu kecil untuk memahami hubungan biologis.
Bima bahkan belum tertarik pada penjelasan apa pun yang lebih panjang dari dua kalimat.
Danu tidak mengerti sama sekali.
Karena itu orang-orang dewasa yang harus menahan ego mereka.
Arga mulai menyadari bahwa keputusan paling sulit bukan perceraian.
Keputusan paling sulit adalah menerima dua kebenaran yang tampaknya bertentangan.
Ketiga anak itu bukan darahnya.
Ketiga anak itu tetap anak-anak yang telah ia besarkan.
Ia berada di ruang bersalin ketika Raka lahir.
Ia yang pertama kali mengajari Bima mengatakan “mobil”.
Ia tidur di kursi rumah sakit ketika Danu demam.
DNA dapat menjelaskan asal biologis.
DNA tidak bisa menghapus empat tahun sarapan, demam, ulang tahun, rengekan, cerita sebelum tidur, dan tangan kecil yang secara otomatis mencari tangannya ketika menyeberang jalan.
Enam bulan setelah hari di koridor rumah sakit itu, proses perceraian Arga dan Nadira masih berjalan.
Tidak semua hal sudah rapi.
Kehamilan Nadira sudah besar.
Hubungannya dengan Reza juga tidak berubah menjadi kisah romantis yang indah.
Justru setelah rahasia terbuka, keduanya mulai berhadapan dengan hal-hal yang selama ini dapat mereka hindari.
Biaya.
Waktu.
Tanggung jawab.
Pengasuhan.
Keputusan tentang tempat tinggal.
Reza tidak lagi hanya datang ketika nyaman.
Ia harus hadir dalam pembicaraan sulit.
Nadira juga tidak bisa lagi menyandarkan seluruh struktur keluarga pada Arga sambil menyembunyikan kehidupan lain.
Arga sendiri tidak kembali menjadi pria yang sama.
Bukan karena ia mendadak lebih dingin.
Ia justru mulai menyadari betapa sering dirinya menggunakan pekerjaan sebagai alasan untuk tidak hadir.
Ia tidak menyalahkan dirinya atas perselingkuhan Nadira.
Pilihan itu tetap milik Nadira dan Reza.
Namun ia tidak lagi ingin menjalani hidup dengan asumsi bahwa menyediakan uang sudah sama dengan hadir.
Setiap Sabtu pagi kini ia mematikan notifikasi kantor selama beberapa jam.
Raka akhirnya bisa naik sepeda tanpa roda bantu.
Hari pertama ia berhasil mengayuh sendiri sampai ujung kompleks, anak itu berteriak begitu keras sampai satpam menoleh.
“Ayah! Lihat!”
Arga berdiri di dekat pagar sambil tertawa.
“Ayah lihat.”
Raka berputar terlalu cepat dan hampir menabrak pot tanaman.
Arga refleks berlari.
Raka berhasil mengerem sendiri.
“Aku bisa!”
“Iya.”
Raka turun dari sepeda.
“Ayah besok tidur di rumah?”
Pertanyaan itu masih datang sesekali.
Arga berjongkok.
“Belum.”
“Kenapa?”
“Karena Ayah punya rumah lain sekarang.”
Raka tampak kecewa.
“Tapi Ayah tetap datang?”
Arga mengulurkan tangan.
“Selama kamu mau ketemu Ayah, Ayah akan datang.”
Raka memegang tangannya.
“Aku selalu mau.”
Arga tidak menjawab.
Ia hanya menggenggam tangan kecil itu sambil berjalan kembali menuju rumah.
Di teras, Nadira berdiri dengan perut kehamilan yang sudah jelas terlihat.
Mereka tidak lagi berbicara sebagai suami istri yang sedang mencoba kembali bersama.
Mereka berbicara sebagai dua orang dewasa yang harus belajar membuat keputusan untuk anak-anak tanpa bersembunyi di balik kebohongan.
Kadang pembicaraan mereka masih buruk.
Kadang Nadira menangis.
Kadang Arga harus menghentikan percakapan dan pulang karena ia merasa amarahnya mulai mengambil alih.
Tidak ada penyembuhan sempurna.
Tidak ada satu permintaan maaf yang dapat menutup lima tahun.
Namun ada satu perubahan yang tidak kecil.
Sekarang semua orang yang seharusnya bertanggung jawab mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Tidak ada lagi sekretaris yang diam-diam menjadi ayah.
Tidak ada lagi istri yang mempertahankan dua kehidupan.
Tidak ada lagi suami yang menyerahkan hampir seluruh hidup rumah tangganya kepada jadwal kerja lalu menganggap semuanya akan baik-baik saja dengan sendirinya.
Malam itu sebelum pulang, Arga membantu Raka memasukkan sepeda ke garasi.
Dulu ada satu set kunci cadangan rumah yang selalu disimpan Reza karena alasan “kalau sewaktu-waktu Pak Arga perlu sesuatu diantar”.
Kunci itu sudah dikembalikan berbulan-bulan lalu.
Arga menutup pintu garasi.
Raka berdiri di sampingnya sambil memegang helm kecil.
“Ayah yang kunci?”
Arga mengangguk.
“Iya.”
Ia memutar kunci sekali.
Memastikan pintunya benar-benar terkunci.
Kemudian ia menggandeng Raka kembali ke dalam sebelum berpamitan kepada Bima dan Danu.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Arga tidak lagi membiarkan orang lain memegang kunci atas nama dirinya.
Menurutmu, apakah Arga benar mempertahankan hubungan sebagai ayah bagi ketiga anak meski akhirnya mengetahui mereka bukan anak biologisnya?
Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.
