BAGIAN 2 — Raka Memasuki Gudang 17 untuk Menyelamatkan Putranya, Tetapi Sebuah Rekaman Lama Membalikkan Semua Dugaan tentang Istri dan Adiknya
Raka membaca pesan itu untuk kedua kalinya. Tangannya mengepal begitu kuat hingga kertas di genggamannya kusut.
“Kalau kau ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada adikmu, datanglah ke Gudang 17 sendirian.”
—Anakku di mana?
Tak ada jawaban.
Raka berlari keluar melalui pintu belakang. Halaman kosong. Gerbang kecil di samping pagar terbuka sedikit, tetapi tak terlihat siapa pun.
—Pak Raka!
Sari menyusul.
—Jangan pergi sendirian.
—Mereka membawa anak saya.
—Justru karena itu Bapak tidak boleh melakukan apa yang mereka inginkan.
Raka menatap Sari.
—Kau bilang tahu Gudang 17. Di mana tempat itu?
Sari terdiam beberapa detik sebelum menjawab.
—Di kompleks penyimpanan lama milik perusahaan keluarga Bapak. Gudang itu sudah tidak digunakan selama bertahun-tahun.
Raka mengenal tempat tersebut.
Setelah ayahnya meninggal, sebagian bangunan lama perusahaan ditutup. Gudang 17 termasuk di antaranya.
Namun ada sesuatu yang tidak masuk akal.
—Bagaimana kau tahu?
Wajah Sari berubah.
—Karena saya pernah bekerja di kompleks itu.
Raka membeku.
—Kapan?
—Enam tahun lalu.
Enam tahun.
Tahun yang sama ketika adiknya meninggal.
Raka menatap perempuan itu tajam.
—Siapa sebenarnya kau?
Sari menelan ludah.
—Saya akan menjelaskan semuanya. Tapi sekarang kita harus menemukan putra Bapak.
Raka tidak punya waktu untuk memaksanya bicara.
Dia mengambil kunci mobil.
Sebelum pergi, diam-diam dia mengirim lokasi Gudang 17 dan foto pesan ancaman kepada seorang pengacara keluarga yang selama bertahun-tahun dia percaya.
“Hubungi pihak berwenang. Jangan telepon saya.”
Lalu dia berangkat.
Perjalanan terasa sangat panjang.
Ketika akhirnya tiba di kompleks gudang lama, matahari mulai turun. Sebagian bangunan dipenuhi lumut dan tanaman liar.
Gudang 17 berada paling belakang.
Pintunya tertutup.
Raka memasukkan kunci yang diberikan putranya.
Klik.
Pintu terbuka.
—Ayah!
Suara itu terdengar dari dalam.
—Ayah!
Raka langsung berlari.
Putranya duduk di sebuah kursi dekat meja kayu. Anak itu tidak terluka, hanya terlihat ketakutan.
Raka memeluknya erat.
—Kamu tidak apa-apa?
—Aku takut, Yah.
—Siapa yang membawamu?
Anak itu menunjuk ke sudut ruangan.
Seseorang keluar dari balik rak.
Mantan pekerja keluarga itu.
Pria yang menghilang enam tahun lalu.
Raka berdiri di depan anaknya.
—Jangan dekati dia.
Pria tersebut justru mengangkat kedua tangannya.
—Saya tidak berniat menyakiti anak Anda.
—Kau membawanya dari rumahku!
—Saya memang salah karena menakutinya. Tetapi saya membutuhkan Anda datang tanpa istri Anda.
Raka nyaris menerjangnya.
—Kenapa?
Pria itu menunjuk sebuah laptop di meja.
—Karena istri Anda sudah mencari benda ini selama enam tahun.
Di samping laptop terdapat sebuah kartu memori kecil.
Raka terpaku.
—Apa itu?
—Bukti yang disembunyikan adik Anda.
Pria tersebut menarik kursi.
—Enam tahun lalu saya bekerja sebagai teknisi kendaraan perusahaan. Adik Anda menemukan adanya transaksi palsu. Uang perusahaan dipindahkan melalui beberapa rekening yang dibuat atas nama pemasok fiktif.
—Dan istriku terlibat?
Pria itu menggeleng.
—Itulah bagian yang selama ini Anda salah pahami.
Raka terdiam.
—Apa maksudmu?
—Foto yang Anda lihat memang menunjukkan saya bertemu istri Anda. Tetapi kami bukan sedang merencanakan kecelakaan.
Pria itu membuka laptop.
Sebuah video muncul.
Dalam rekaman tersebut terlihat istri Raka sedang menangis sambil menyerahkan dokumen kepada pria itu.
Suaranya terdengar:
—Bawa ini kepada adiknya Raka. Jangan sampai orang lain menemukannya.
Raka mundur setengah langkah.
—Kalau begitu kenapa dia berbohong?
—Karena dia juga menyimpan rahasia.
Pria itu membuka file berikutnya.
Kini terlihat seseorang memasuki garasi keluarga pada malam sebelum kecelakaan.
Bukan istri Raka.
Bukan pula pria tersebut.
Melainkan kepala pelayan yang tadi menemukan gelang di kamar Sari.
Raka merasa darahnya membeku.
Video memperlihatkan wanita itu membuka pintu garasi dan menyerahkan sesuatu kepada seorang pria lain.
Kemudian rekaman berhenti.
—Siapa pria itu?
—Mantan kepala keuangan perusahaan keluarga Anda.
Raka mengenal jabatan itu.
Orang tersebut mengundurkan diri beberapa minggu setelah kematian adiknya dan kemudian pindah entah ke mana.
—Mereka mencuri uang?
—Ya. Adik Anda mengetahuinya.
—Lalu kecelakaannya?
Pria itu menunduk.
—Saya tidak pernah bisa membuktikan bahwa kecelakaan itu disengaja. Saya hanya menemukan bahwa kendaraan tersebut diperiksa tanpa izin pada malam sebelumnya. Karena saya teknisi terakhir yang tercatat menangani kendaraan, semua bukti bisa diarahkan kepada saya. Saya panik dan pergi.
Raka menatapnya dengan marah.
—Kau seharusnya pergi ke polisi.
—Saya tahu. Dan saya menyesalinya setiap hari.
Tiba-tiba terdengar suara pintu gudang.
Sari masuk sambil terengah-engah.
—Pak Raka!
—Kenapa kau mengikuti saya?
—Karena ada sesuatu yang belum Bapak ketahui.
Sari berjalan menuju sebuah lemari besi kecil di sudut gudang.
Dia memasukkan kombinasi angka.
Pintu terbuka.
Di dalamnya terdapat map cokelat.
Raka menatapnya.
—Bagaimana kau tahu kombinasinya?
Air mata memenuhi mata Sari.
—Karena adik Bapak yang memberikannya kepada saya.
Raka membeku.
Sari menyerahkan map itu.
—Saya bukan sekadar mantan pekerja gudang. Saya adalah teman dekat adik Bapak. Dialah yang meminta saya menyimpan salinan dokumen jika sesuatu terjadi padanya.
—Kenapa kau baru muncul sekarang?
—Karena enam tahun lalu saya takut. Saya masih sangat muda. Setelah dia meninggal, seseorang mengancam keluarga saya. Saya pergi.
Sari menatapnya dengan penuh penyesalan.
—Setahun lalu saya kembali karena ingin menyelesaikan apa yang tidak berani saya lakukan dulu. Saya sengaja melamar bekerja di rumah Bapak untuk mencari ponsel dan bukti yang tersisa.
Raka membuka map.
Di halaman pertama terdapat daftar transaksi.
Di halaman terakhir ada tulisan tangan adiknya.
“Kalau sesuatu terjadi padaku, jangan salahkan orang yang terlihat paling bersalah. Cari orang yang mengendalikan uang.”
Raka belum sempat membaca lebih jauh ketika suara tepuk tangan terdengar dari pintu.
Semua orang menoleh.
Kepala pelayan berdiri di sana.
Di belakangnya ada seorang pria berusia sekitar lima puluhan.
Raka langsung mengenalinya dari foto lama perusahaan.
Mantan kepala keuangan.
Wanita itu tersenyum dingin.
—Akhirnya semua bukti terkumpul di satu tempat.
Kemudian dia mengunci pintu gudang dari dalam.
Dan pria di sebelahnya menatap map di tangan Raka.
—Serahkan dokumen itu. Setelah itu, mungkin kita masih bisa menyelesaikan semuanya tanpa ada orang lain yang kehilangan keluarganya.
(Lanjutkan ke BAGIAN 3….)
