BAGIAN 2 — DUA ANAK YANG DISEMBUNYIKAN SUAMIKU MEMBAWAKU KE SEBUAH RUMAH, TETAPI PEREMPUAN DI BALIK PINTU JUSTRU MEMBONGKAR KEBOHONGAN YANG LEBIH BESAR
Aku membaca pesan itu sekali lagi.
“Besok pagi jangan lupa bawa dokumen kedua anak itu. Kalau Nisa menemukan mereka sebelum rumah selesai ditandatangani, semua rencana kita akan berakhir.”
Kedua anak itu.
Tanganku gemetar.
Aku mengangkat wajah dan menatap suamiku.
—Anak siapa?
Dia tidak menjawab.
—Aku bertanya, anak siapa?
Suamiku maju hendak mengambil ponselnya, tetapi aku mundur.
—Berikan ponselku.
—Jawab dulu.
—Nisa, jangan membuat keributan di rumah orang tuaku.
Aku hampir tertawa.
Setelah semua yang kubaca, dia masih mengkhawatirkan pesta.
—Kamu mengambil tabunganku. Kamu berbohong tentang investasi. Kamu membeli rumah atas nama perempuan lain. Sekarang ada dua anak yang tidak pernah kuketahui. Dan yang kamu pikirkan adalah pesta?
Pintu dapur terbuka.
Adik ipar perempuanku berdiri di sana.
Di belakangnya ada beberapa anggota keluarga.
Rupanya suara kami terdengar sampai ruang makan.
Suamiku langsung berkata:
—Tidak ada apa-apa. Kembali saja ke luar.
Namun aku menatap adik iparku.
—Kamu tahu tentang kedua anak itu?
Wajahnya memucat.
Suamiku membentak:
—Jangan jawab!
Saat itulah ayah mertuaku datang.
—Apa sebenarnya yang terjadi?
Aku meletakkan ponsel di atas meja dan menunjukkan dokumen rumah itu.
—Tanyakan kepada anak Bapak kenapa dia mengambil tabunganku untuk membeli rumah atas nama perempuan ini.
Ruangan mendadak sunyi.
Ibu mertuaku mengambil dokumen tersebut.
—Siapa perempuan ini?
Untuk pertama kalinya aku melihat suamiku benar-benar panik.
—Ini masalahku dan Nisa.
Ayah mertuaku membalas dengan dingin:
—Kalau kamu menggunakan uang istrimu sambil membawa nama keluarga, ini bukan lagi hanya masalah kalian.
Suamiku meraih ponselnya lalu pergi.
Aku tidak mengejarnya.
Malam itu, aku membawa kedua anakku pulang.
Suamiku tidak ikut.
Aku hampir tidak tidur.
Pukul lima lewat sedikit, sebuah pesan masuk dari adik iparku.
Sebuah alamat.
Di bawahnya hanya ada kalimat:
“Kalau Kakak ingin tahu semuanya, datanglah sebelum pukul delapan. Jangan datang sendirian.”
Aku meminta kakak perempuanku menemaniku.
Kami tiba di sebuah kawasan sederhana di pinggir kota.
Alamat itu membawa kami ke sebuah rumah kecil dengan pagar putih.
Aku mengetuk pintu.
Seorang perempuan berusia sekitar empat puluh tahun membukanya.
Ketika melihatku, wajahnya langsung berubah.
—Kamu Nisa?
Aku membeku.
—Anda mengenal saya?
Dia menunduk.
—Masuklah.
Di ruang tengah terdapat dua tas sekolah kecil.
Di dinding tergantung foto dua anak laki-laki, mungkin berusia sembilan dan sebelas tahun.
Dadaku sesak.
—Mereka anak suamiku?
Perempuan itu langsung menggeleng.
—Bukan.
Satu kata itu membuatku semakin bingung.
—Lalu siapa mereka?
Dia duduk perlahan.
—Mereka anak kakak perempuan suamimu.
Aku tidak mengerti.
Selama delapan tahun menikah, aku tidak pernah mendengar suamiku memiliki kakak perempuan.
Perempuan itu memperkenalkan dirinya sebagai Sari. Dia menjelaskan bahwa lebih dari sepuluh tahun lalu, kakak perempuan suamiku menikah tanpa persetujuan keluarga. Hubungan mereka memburuk. Beberapa tahun kemudian, perempuan itu dan suaminya meninggal dalam kecelakaan.
Mereka meninggalkan dua anak.
Sari adalah adik dari ayah kedua anak tersebut dan sejak itu merawat mereka.
Aku menatap foto di dinding.
—Kalau begitu kenapa semuanya harus disembunyikan dariku?
Sari mengeluarkan sebuah map.
—Karena rumah itu sebenarnya bukan untukku.
Dia mendorong map tersebut ke arahku.
Di dalamnya terdapat salinan surat warisan.
Tanah tempat rumah mertua berdiri ternyata dulu sebagian tercatat atas nama kakak perempuan suamiku. Setelah dia meninggal, hak tertentu beralih kepada kedua anaknya.
Aku mulai memahami.
—Suamiku ingin membeli rumah untuk mereka?
—Awalnya, ya.
Sari menatapku dengan mata berkaca-kaca.
—Dia datang enam bulan lalu. Katanya dia ingin memperbaiki kesalahan keluarga. Dia ingin membeli rumah kecil untuk kedua keponakannya.
Aku terdiam.
Untuk sesaat, ada bagian dalam diriku yang berharap semua ini hanyalah kesalahpahaman.
Namun Sari kemudian berkata:
—Tapi dua bulan lalu rencananya berubah.
Dia mengambil ponselnya dan menunjukkan percakapan.
Suamiku meminta Sari menandatangani beberapa dokumen.
Katanya dokumen itu diperlukan agar rumah bisa dibeli atas nama Sari untuk kepentingan anak-anak.
Namun Sari curiga dan membawa dokumen itu kepada seorang kenalan yang memahami masalah hukum.
Ternyata salah satu dokumen bukan sekadar pembelian rumah.
Itu adalah surat persetujuan pelepasan klaim kedua anak terhadap bagian warisan keluarga.
Jika ditandatangani, kedua anak itu akan kehilangan hak atas aset yang nilainya jauh lebih besar daripada rumah kecil tersebut.
Aku merasa mual.
—Jadi rumah ini…
—Sebagai ganti agar kami diam.
Sari menatapku.
—Dan uang muka rumah berasal dari tabunganmu.
Aku menutup mata.
Sekarang semuanya masuk akal.
Suamiku bukan sedang melindungi kedua anak itu.
Dia sedang membeli hak mereka dengan uangku.
—Kenapa Anda mengirim pesan tadi malam?
Sari terkejut.
—Pesan apa?
Aku menunjukkan tangkapan layar.
Dia membaca lalu menggeleng.
—Aku memang mengirim pesan tentang dokumen anak-anak. Tapi aku tidak tahu dia mengambil uangmu. Dia bilang uang itu miliknya.
Aku bertanya:
—Apa yang akan terjadi pagi ini?
Sari menunjuk jam.
—Pukul sembilan, kami seharusnya bertemu notaris.
Aku berdiri.
—Jangan tanda tangani apa pun.
Dia menatapku.
—Aku memang tidak berniat menandatanganinya.
Saat itu terdengar suara mobil berhenti di depan rumah.
Sari mendekati jendela.
Wajahnya langsung pucat.
—Dia datang.
Suamiku turun dari mobil bersama adik laki-lakinya.
Di tangannya ada map hitam.
Beberapa detik kemudian, pintu diketuk keras.
—Sari! Buka pintunya!
Aku berdiri di balik ruang tengah.
Kakakku menggenggam tanganku.
Sari membuka pintu.
Suamiku masuk.
Begitu melihatku, langkahnya berhenti.
—Nisa?
Aku meletakkan salinan surat pelepasan hak waris di atas meja.
—Jadi ini yang sebenarnya kamu takutkan aku temukan?
Wajahnya berubah.
—Kamu tidak mengerti.
—Kalau begitu jelaskan.
Dia menatap Sari.
—Kamu yang memanggilnya?
Sari berdiri tegak.
—Aku tidak akan membiarkanmu mengambil hak anak-anak itu.
Suamiku membanting map hitam ke meja.
—Aku sedang menyelamatkan aset keluarga!
Aku menatapnya.
—Dengan uangku?
Dia berbalik kepadaku.
—Kalau tanah itu jatuh ke tangan mereka, orang tuaku bisa kehilangan sebagian rumah.
—Mereka adalah keponakanmu.
—Mereka bahkan tidak mengenal keluarga ini!
Tiba-tiba terdengar suara kecil dari lorong.
—Kami mengenal.
Semua orang menoleh.
Dua anak laki-laki berdiri di sana.
Yang lebih besar memegang tangan adiknya.
Matanya merah.
—Ibu selalu bilang Kakek dan Nenek suatu hari akan mencari kami.
Tidak seorang pun mampu menjawab.
Dan tepat ketika suasana menjadi sunyi, terdengar mobil lain berhenti.
Aku menoleh ke jendela.
Ayah dan ibu mertuaku turun.
Adik iparku rupanya telah memberi tahu mereka.
Ketika pintu terbuka dan ibu mertuaku melihat kedua anak itu, tubuhnya seperti kehilangan tenaga.
Dia menutup mulut dengan kedua tangan.
—Ya Tuhan…
Anak yang lebih besar menatapnya.
Lalu mengeluarkan sesuatu dari sakunya.
Sebuah foto lama.
—Apakah Nenek mengenal ibu kami?
Ibu mertuaku mulai menangis.
Dan untuk pertama kalinya sejak semua kebohongan terbongkar, aku melihat suamiku benar-benar ketakutan.
Karena rahasia itu kini bukan lagi miliknya untuk dikendalikan.
(Lanjutkan ke BAGIAN 3….)
