Bagian 3 — Ketika Bukti Transfer, Pesan WhatsApp, dan Surat Utang Dibuka di Meja, Suamiku Baru Mengerti Bahwa Aku Tidak Lagi Menunggunya Pulang ke Rumah

Avatar penulis
Cerita 02
13 menit baca 195 tayangan
Bagian 3 — Ketika Bukti Transfer, Pesan WhatsApp, dan Surat Utang Dibuka di Meja, Suamiku Baru Mengerti Bahwa Aku Tidak Lagi Menunggunya Pulang ke Rumah
Indeks

Bagian 3 — Ketika Bukti Transfer, Pesan WhatsApp, dan Surat Utang Dibuka di Meja, Suamiku Baru Mengerti Bahwa Aku Tidak Lagi Menunggunya Pulang ke Rumah

Dua orang yang datang bersama Dimas ternyata bukan penagih.

Mereka staf lapangan dari perusahaan pembiayaan.

Dimas rupanya mengetahui bahwa aku sudah mengajukan keberatan mengenai surat persetujuan pasangan.

Ia membawa mereka ke rumah dengan harapan aku akan menandatangani dokumen baru.

Ketika melihat kursi roda di ruang tamu, salah seorang staf langsung tampak tidak nyaman.

Dimas berjalan lebih dulu.

“Sari, kita selesaikan baik-baik.”

Aku memandangnya.

“Duduk.”

Nada suaraku membuatnya berhenti.

Mungkin selama ini Dimas terbiasa melihatku menjelaskan, membujuk, atau mengalah.

Hari itu aku tidak melakukan satu pun.

Nisa duduk di samping meja makan dengan laptop terbuka.

Bu Yanti berdiri di dekat dapur.

Aku meminta dua pegawai itu memperkenalkan diri.

Salah satunya bernama Pak Reza.

Ia menjelaskan bahwa perusahaan menerima pengajuan keberatan dariku. Karena Dimas datang ke kantor mereka sore itu dan mengatakan masalah tersebut hanya “kesalahpahaman suami istri”, mereka bersedia menemui kami.

Aku hampir tersenyum.

“Kesalahpahaman yang mana?”

Dimas menyela.

“Jangan bikin suasana seperti sidang.”

Aku mengabaikannya.

Aku membuka dokumen di laptop.

“Pak Reza, apakah perusahaan Bapak memiliki tanda tangan persetujuan pasangan atas nama saya?”

“Iya.”

“Apakah staf pernah bertemu langsung dengan saya ketika dokumen itu dibuat?”

Pak Reza diam sebentar.

“Berdasarkan data sementara, proses dokumen melalui pihak pemohon.”

“Berarti tidak.”

Ia tidak membantah.

Aku menunjukkan KTP-ku.

“Apakah ada video verifikasi dari saya?”

“Tidak ada di berkas yang saya lihat.”

“Apakah ada rekaman telepon saya menyetujui pembiayaan enam puluh delapan juta?”

“Tidak.”

Aku mengangguk.

“Kalau begitu saya nyatakan lagi: saya tidak pernah menandatangani persetujuan tersebut.”

Dimas langsung berkata,

“Sari, modal itu buat usaha kita juga.”

Aku menoleh.

“Usaha siapa?”

“Kita menikah.”

“Menikah bukan berarti tanda tanganku boleh kamu salin.”

“Saya akan tanggung cicilannya!”

“Kalau memang kamu mau tanggung sendiri, kenapa perlu tanda tanganku?”

Dimas terdiam.

Aku lalu membuka foto percakapannya dengan Arman.

Kalimat itu terpampang jelas di layar.

Kalau susah ketemu Sari, scan saja tandatangannya. Yang penting berkas cair dulu.

Pak Reza membaca sampai selesai.

Wajahnya berubah.

Ia meminta agar foto percakapan itu dikirim melalui email resmi mereka.

Dimas berdiri.

“Itu chat pribadi!”

Nisa menutup laptop perlahan.

“Yang dibicarakan di chat itu tanda tangan orang lain.”

“Ini urusan keluarga!”

Aku menjawab,

“Tidak lagi sejak kamu membawa namaku ke dokumen utang.”

Suasana menjadi sunyi.

Pak Reza kemudian menjelaskan bahwa keberatanku akan dilanjutkan ke pemeriksaan internal dan perusahaan tidak bisa meminta aku menandatangani ulang apa pun saat itu.

Aku meminta satu hal.

“Mohon dicatat bahwa saya tidak mengakui tanda tangan tersebut.”

Ia mengangguk.

“Kami catat, Bu.”

Dimas mencoba bicara lagi setelah mereka pergi.

“Kamu puas sekarang?”

Aku hampir tidak percaya.

“Puas?”

“Kamu bikin usahaku bisa berhenti.”

Aku menatap orang yang sudah menikah denganku selama delapan tahun.

Di wajahnya tidak ada kekhawatiran bahwa aku mungkin terjebak utang yang tidak pernah kusetujui.

Yang ia pikirkan tetap usaha.

Aku bertanya,

“Uang lima belas juta dari Bapak ke mana?”

Wajahnya berubah sepersekian detik.

Itu sudah cukup menjadi jawaban.

“Aku pakai dulu.”

“Untuk?”

“Cash flow.”

“Jadi kamu bilang ke Bapak itu untuk operasiku.”

“Aku memang rencana ganti.”

“Kapan?”

Ia mengangkat suara.

“Kamu pikir bisnis itu gampang?”

“Aku tidak pernah bilang gampang.”

“Kalau nggak ada tambahan modal waktu itu, aku kehilangan kontrak besar!”

Aku menatapnya tenang.

“Dan karena itu kamu memakai namaku tanpa izin?”

Dimas mengusap rambut dengan kasar.

“Aku suamimu.”

Kalimat itu keluar seolah merupakan kartu terakhir.

Aku menjawab,

“Justru karena kamu suamiku, seharusnya kamu menjadi orang terakhir yang memalsukan persetujuanku.”

Untuk pertama kalinya, ia tidak memiliki jawaban.

Aku meminta ia pergi.

Dimas tertawa pendek.

“Ini juga rumahku.”

“Kontrak sewanya atas namaku.”

“Kita suami istri.”

“Dan kamu sudah hampir dua minggu tidak tinggal di sini.”

“Aku kerja!”

“Silakan kembali bekerja.”

Ia menatapku cukup lama.

Lalu pergi.

Malam itu aku tidak tidur.

Bukan karena takut.

Bukan juga karena berharap Dimas kembali meminta maaf.

Aku sibuk mengganti semuanya.

PIN mobile banking.

Kata sandi email.

Kode e-commerce.

Akun penyimpanan cloud.

Aku memeriksa salinan KTP, NPWP, kartu keluarga, rekening, semua dokumen yang mungkin pernah diakses Dimas.

Nisa membantuku membuat daftar.

Tidak ada lagi “nanti”.

Tidak ada lagi “mungkin”.

Hanya dokumen.

Tanggal.

Nominal.

Dan bukti.

Dua hari kemudian, Pak Rasyid datang bersama Bu Ratna, kakak Dimas.

Aku terkejut melihatnya.

Beliau masih berjalan menggunakan tongkat.

“Pak seharusnya istirahat.”

Pak Rasyid duduk perlahan.

“Bapak justru datang karena sudah terlalu lama tidak tahu yang sebenarnya.”

Bu Ratna membawa tas berisi buah, bubur kacang hijau, dan beberapa lauk rumahan.

Tidak ada yang menyuruhku memaafkan Dimas.

Tidak ada yang berkata “namanya juga suami”.

Itu membuatku lega.

Pak Rasyid membuka teleponnya dan menunjukkan beberapa percakapan lain.

Setelah meminta lima belas juta untuk “biaya operasiku”, Dimas dua kali lagi meminta uang.

Tiga juta rupiah untuk “perawat Sari”.

Dua juta untuk “obat yang tidak ditanggung”.

Pak Rasyid menolak permintaan terakhir karena uangnya sendiri mulai menipis.

Aku tidak pernah menerima uang itu.

Bu Yanti bahkan kubayar sendiri.

Pak Rasyid menunduk.

“Bapak malu.”

Aku langsung menjawab,

“Bapak tidak melakukan itu.”

“Tapi dia anak Bapak.”

“Pilihan Dimas bukan pilihan Bapak.”

Beliau menatapku cukup lama.

Mungkin itulah pertama kalinya kami berbicara bukan sebagai mertua dan menantu, melainkan dua orang yang baru menyadari telah dipakai sebagai alasan oleh orang yang sama.

Beberapa hari berikutnya, potongan cerita mulai tersusun.

Arman bersedia menjelaskan semuanya.

Usaha instalasi peralatan dapur yang dijalankan Dimas ternyata mulai bermasalah hampir enam bulan sebelumnya.

Ada proyek apartemen yang pembayarannya tertunda.

Dimas lalu menerima beberapa pekerjaan baru dengan uang muka untuk menutup kebutuhan proyek lama.

Ketika uang berputar semakin sempit, ia mencari pembiayaan tambahan.

Arman sebenarnya sudah menyarankan agar mereka mengurangi proyek.

Dimas menolak.

Ia ingin mempertahankan citra bahwa usaha mereka sedang berkembang.

Kepadaku, ia mengatakan semua keuntungan masih “tertanam di barang”.

Kepada ayahnya, ia mengatakan aku membutuhkan biaya pengobatan.

Kepada Arman, ia mengatakan aku sudah menyetujui tambahan utang.

Kepada orang-orang di tempat rehabilitasi, ia mengaku harus bolak-balik merawatku.

Semua orang mendapat cerita berbeda.

Tidak ada perempuan lain.

Tidak ada kehidupan rahasia mewah.

Anehnya, kenyataan itu justru membuatku lebih kecewa.

Aku sempat berpikir mungkin akan lebih mudah memahami jika ternyata Dimas berselingkuh.

Setidaknya ada satu alasan besar yang terlihat jelas.

Ternyata bukan.

Ia hanya memilih dirinya sendiri.

Berkali-kali.

Dalam keputusan kecil.

Dalam kebohongan kecil.

Dalam setiap kesempatan ketika ia bisa jujur tetapi memilih jalan yang paling nyaman baginya.

Itulah yang perlahan menghancurkan semuanya.

Pada hari kedua puluh, aku menjalani kontrol.

Dokter mengizinkan latihan gerak lebih banyak, tetapi kakiku masih belum boleh menahan beban penuh.

Nisa mengantarku.

Setelah pulang, aku melihat pesan Dimas.

“Bapak gimana? Aku masih repot di Bogor.”

Aku membaca kalimat itu dua kali.

Pak Rasyid sedang duduk di ruang tamuku.

Beliau datang sejak pagi karena Bu Ratna harus menghadiri acara keluarga dekat rumah kami dan tidak ingin meninggalkannya sendirian terlalu lama.

Aku menunjukkan pesan tersebut.

Pak Rasyid tidak marah.

Beliau hanya menghela napas.

“Jangan jawab.”

Aku memang tidak menjawab.

Dimas kembali mengirim pesan dua hari kemudian.

“Kalau orang leasing datang jangan tanda tangan apa pun. Tunggu aku.”

Aku mengarsipkan chat-nya.

Sementara itu perusahaan pembiayaan mulai memeriksa dokumen.

Aku mengirim surat keberatan tertulis dan seluruh bukti yang kumiliki.

Setelah kondisiku memungkinkan keluar rumah lebih lama, Nisa menemaniku meminta bantuan hukum untuk memastikan namaku tidak dianggap menyetujui kewajiban yang tidak pernah kubuat.

Aku juga membuat laporan mengenai penggunaan tanda tanganku tanpa izin.

Aku tidak menambahkan cerita.

Tidak melebih-lebihkan.

Aku hanya menyerahkan apa yang bisa kubuktikan.

Beberapa minggu kemudian, perusahaan pembiayaan mengirim surat bahwa mereka menerima adanya sengketa persetujuan pasangan dan tidak akan memperlakukan dokumen yang kupersoalkan sebagai persetujuan dariku selama proses pemeriksaan berjalan.

Mereka kemudian berurusan langsung dengan Dimas sebagai pihak peminjam.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, suatu masalah yang dibuat Dimas tidak otomatis jatuh ke pundakku.

Pada malam hari kedua puluh delapan, semuanya akhirnya bertemu di ruang yang sama.

Dimas pulang hampir pukul sebelas.

Ia tidak memberi kabar.

Mungkin masih menganggap rumah itu tempat yang bisa dimasukinya kapan saja.

Aku sedang duduk di kursi roda.

Pak Rasyid duduk di sofa.

Bu Ratna sedang membuat teh di dapur.

Pintu terbuka.

Dimas masuk sambil melepas helm.

Begitu melihat ayahnya, ia berhenti.

Kunci jatuh dari tangannya.

Wajahnya pucat.

“Pak?”

Pak Rasyid menatapnya.

“Kamu dari Bogor?”

Dimas tidak menjawab.

Ayahnya mengangkat ponsel.

“Kamu bilang ke istrimu dua hari lalu kamu sibuk mengurus Bapak di Bogor.”

“Pak, dengar dulu—”

“Bapak sudah dua puluh hari tidak menginap di tempat rehabilitasi.”

Suara beliau tidak keras.

Justru itu yang membuat ruangan semakin dingin.

Dimas melirikku.

“Kamu sengaja bawa Bapak ke sini?”

Aku menjawab,

“Bapak datang karena ingin melihat kondisiku.”

“Kenapa nggak bilang?”

Aku hampir tertawa.

“Supaya kamu tidak banyak pikiran.”

Kalimat yang dulu ia gunakan kepadaku akhirnya kembali kepadanya.

Dimas mengatupkan rahang.

Pak Rasyid meletakkan sebuah map cokelat di meja.

Di dalamnya ada bukti transfer lima belas juta.

Percakapan WhatsApp.

Salinan dokumen pembiayaan.

Dan surat keberatanku.

“Uang ini ke mana?”

Dimas melihat bukti transfer.

“Pak, aku bisa jelaskan.”

“Bapak tanya ke mana.”

“Buat usaha.”

“Kenapa bilang buat operasi Sari?”

Dimas tidak menjawab.

Pak Rasyid melanjutkan,

“Bapak pernah susah berjalan. Sekarang Sari juga susah berjalan. Kamu tahu rasanya?”

“Pak—”

“Yang Bapak tanya sederhana.”

Beliau menunjuk kakiku.

“Waktu istrimu bahkan tidak bisa ke kamar mandi sendiri, kamu ada di mana?”

Dimas menunduk.

Aku kira akan merasa puas melihatnya seperti itu.

Ternyata tidak.

Aku hanya merasa lelah.

Dimas kemudian menatapku.

“Aku salah. Oke? Aku akui.”

Aku diam.

“Aku tertekan. Usaha hampir jatuh. Aku tidak bisa mikir.”

“Aku juga sedang kesakitan.”

“Aku tahu.”

“Tidak. Kamu tidak tahu.”

Aku menggerakkan kursi roda sedikit lebih dekat.

“Kalau kamu tahu, kamu tidak akan meninggalkan ember di depan kamar mandi lalu pergi berhari-hari.”

Dimas membeku.

Ia mungkin sudah lupa.

Aku tidak.

“Kalau kamu tahu, kamu tidak akan membiarkanku menghitung berapa teguk air yang boleh kuminum malam hari supaya aku tidak perlu pergi ke toilet.”

Tidak ada seorang pun berbicara.

“Kalau kamu tahu, kamu tidak akan meminta uang kepada ayahmu memakai operasiku sebagai alasan.”

Matanya mulai merah.

“Dan kalau kamu tahu arti menjadi suami, kamu tidak akan menyalin tanda tanganku untuk menyelamatkan bisnis yang bahkan tidak pernah kamu jelaskan kepadaku.”

Dimas duduk perlahan di kursi dekat pintu.

“Aku akan perbaiki.”

Aku menggeleng.

“Yang rusak bukan hanya uang.”

“Kita delapan tahun menikah, Sar.”

“Aku tahu.”

“Masa semuanya selesai karena satu kesalahan?”

Aku memandangnya.

“Satu?”

Ia diam.

Aku menyebutkannya satu per satu.

Berbohong tentang ayahnya.

Meninggalkan aku setelah operasi.

Mengambil uang Pak Rasyid atas namaku.

Mengatakan ada perawat tinggal di rumah padahal tidak.

Menyembunyikan utang.

Menggunakan tanda tanganku tanpa izin.

Tidak pernah pulang kecuali mengambil pakaian.

Lalu tetap berbohong setelah semuanya hampir terbuka.

“Aku tidak mengakhiri rumah tangga karena satu kesalahan.”

Aku menarik napas.

“Aku mengakhirinya karena setelah puluhan kesempatan untuk berhenti, kamu terus memilih melakukan kesalahan berikutnya.”

Malam itu Dimas tidak menginap.

Sebelum pergi, Pak Rasyid mengatakan sesuatu kepadanya.

“Utangmu jangan kamu pindahkan lagi ke perempuan yang bahkan biaya pengobatannya dia bayar sendiri.”

Dimas mengangguk tanpa menatap siapa pun.

Beberapa minggu berikutnya tidak mudah.

Aku tidak berubah menjadi perempuan kuat hanya karena satu malam berhasil berbicara tegas.

Ada pagi ketika aku bangun dan masih ingin menelepon Dimas karena terbiasa.

Ada malam ketika aku bertanya pada diri sendiri apakah aku terlalu keras.

Delapan tahun bukan waktu singkat.

Ada juga kenangan baik.

Kami pernah mengumpulkan uang receh untuk membeli kulkas pertama.

Pernah kehujanan bersama di Yogyakarta saat bulan madu.

Pernah tertawa karena memasak rendang terlalu asin.

Tetapi kenangan baik bukan kontrak yang mewajibkan seseorang bertahan ketika kepercayaan sudah dihancurkan.

Aku mengajukan gugatan cerai setelah kondisiku cukup kuat.

Pada proses mediasi, Dimas datang dengan kemeja yang dulu kubelikan saat ulang tahunnya.

Ia terlihat jauh lebih kurus.

Usahanya memang sedang bermasalah.

Arman memilih keluar dari kemitraan setelah mengetahui ada pembiayaan yang tidak dijelaskan dengan jujur.

Beberapa proyek harus dikurangi.

Dimas menjual sebagian peralatan untuk membayar kewajiban.

Pak Rasyid juga berhenti memberikan uang.

Bukan karena membenci anaknya.

Beliau mengatakan,

“Kalau Bapak terus menutup lubang yang kamu buat, kamu tidak akan pernah belajar berhenti menggali.”

Di ruang mediasi, Dimas berkata,

“Aku mau mulai dari awal.”

Aku menjawab,

“Aku juga.”

Ia sempat tersenyum.

Mungkin salah paham.

Aku melanjutkan,

“Tapi bukan bersamamu.”

Wajahnya jatuh.

Aku tidak menikmatinya.

Namun aku juga tidak menarik kata-kataku.

Proses hukum mengenai dokumen pembiayaan berjalan terpisah.

Setelah pemeriksaan internal dan bukti komunikasi diberikan, perusahaan tidak membebankan kewajiban sebagai penjamin kepadaku.

Dimas tetap harus menyelesaikan kewajibannya sebagai peminjam.

Masalah tanda tangan itu menjadi urusannya sendiri untuk dipertanggungjawabkan.

Aku tidak menyelamatkannya.

Aku juga tidak menghancurkannya.

Aku hanya berhenti berdiri di depan konsekuensi yang seharusnya mengenai dirinya.

Itulah bentuk batas yang paling sulit kupelajari.

Empat bulan setelah kecelakaan, aku sudah bisa berjalan menggunakan tongkat.

Enam bulan kemudian, aku kembali bekerja hampir penuh.

Perusahaan mengizinkanku menjalani sistem hybrid selama masa pemulihan.

Aku pindah ke rumah kontrakan yang lebih kecil, dekat rumah Nisa.

Tidak mewah.

Hanya dua kamar.

Tapi kamar mandinya memiliki pegangan di dinding.

Tidak ada ambang tinggi.

Cahaya pagi masuk langsung dari jendela dapur.

Bu Yanti masih sesekali datang.

Bukan untuk memandikanku lagi.

Kadang hanya mengantar sayur atau mampir minum teh.

Suatu sore ia melihat kursi toilet portabel yang dulu kubeli masih tersimpan di gudang kecil.

“Sudah nggak dipakai?”

Aku tertawa.

“Sudah lama.”

“Jual saja.”

Aku berpikir sebentar.

Akhirnya aku memberikannya kepada keluarga seorang pasien yang baru menjalani operasi.

Ketika mereka datang mengambil, aku tidak merasa malu melihat kursi itu.

Aku justru teringat bagaimana benda sederhana tersebut pernah mengembalikan sedikit martabat ketika tubuhku tidak bisa diajak bekerja sama.

Pak Rasyid tetap menghubungiku.

Setelah perceraian selesai, aku sempat berkata beliau tidak perlu lagi merasa berkewajiban menelepon.

Beliau menjawab,

“Status di surat boleh berubah. Orang yang pernah baik sama Bapak tidak otomatis jadi orang asing.”

Kami tidak sering bertemu.

Tapi setiap Lebaran beliau masih mengirim pesan.

Dan aku masih membalas.

Dimas?

Terakhir aku mendengar, ia bekerja kembali sebagai teknisi pemasangan sambil mencicil utangnya.

Usaha besar yang dulu begitu mati-matian ia pertahankan akhirnya dilepas.

Beberapa orang bilang ia banyak berubah.

Aku tidak mencari tahu.

Perubahan Dimas tidak lagi menentukan hidupku.

Suatu pagi, hampir delapan bulan setelah operasi, aku berdiri di kamar baru sambil membawa segelas air.

Aku berjalan menuju kamar mandi.

Tanpa walker.

Tanpa tongkat.

Tanpa memegang dinding.

Satu langkah.

Dua.

Tiga.

Empat.

Lima.

Enam.

Aku berhenti di depan pintu.

Tiba-tiba aku teringat pagi ketika enam langkah yang sama membuatku menangis karena ember dan sapu menghalangi jalan.

Saat itu aku merasa benar-benar sendirian.

Sekarang lantai di depanku bersih.

Tidak ada siapa pun yang perlu kupanggil.

Tidak ada janji “nanti aku pulang” yang harus kutunggu.

Aku masuk ke kamar mandi, menaruh gelas di dekat wastafel, lalu menatap diriku sendiri di cermin.

Bekas operasi di kakiku masih ada.

Pernikahanku juga meninggalkan bekas yang tidak terlihat.

Tetapi keduanya sudah tidak sakit seperti dulu.

Aku akhirnya memahami satu hal.

Hari ketika Dimas meninggalkanku dalam keadaan tidak bisa berjalan memang terasa seperti hari terburuk dalam hidupku.

Ternyata bukan.

Hari itu justru memaksaku melihat sesuatu yang selama bertahun-tahun tidak pernah berani kuhitung.

Berapa banyak uang yang kubayar sendiri.

Berapa banyak tanggung jawab yang kupikul sendiri.

Berapa banyak alasan yang kubuat untuk membenarkan seseorang.

Dan berapa lama aku menunggu seorang suami pulang ke rumah, sementara sebenarnya ia sudah lama meninggalkan pernikahan kami sebelum kakinya benar-benar melangkah keluar dari pintu.

Aku tidak mendapat kembali delapan tahun itu.

Aku juga tidak mendapat akhir yang sempurna.

Yang kudapat jauh lebih sederhana.

Namaku kembali menjadi milikku.

Uangku berada di bawah kendaliku.

Rumahku terasa aman.

Tubuhku bisa berjalan lagi.

Dan setiap kali aku haus di malam hari, aku minum sebanyak yang kuinginkan.

Aku tidak lagi menghitung tegukan.

Aku tidak lagi menghitung jam sampai seseorang pulang.

Aku hanya minum, mematikan lampu, lalu tidur.

Dengan tenang.