Sehari Setelah Bercerai, Mantan Suamiku Menggelar Pernikahan Baru; Saat Aku Liburan ke Malaysia, Ibunya Menyuruhku Pulang Merawatnya—Lalu Polisi Mengetuk Pintu Hotelku dengan Satu Pertanyaan yang Membuat Darahku Dingin

Avatar penulis
Cerita 03
17 menit baca 2,720 tayangan
Indeks

Sehari Setelah Bercerai, Mantan Suamiku Menggelar Pernikahan Baru; Saat Aku Liburan ke Malaysia, Ibunya Menyuruhku Pulang Merawatnya—Lalu Polisi Mengetuk Pintu Hotelku dengan Satu Pertanyaan yang Membuat Darahku Dingin

Bagian 1 — Baru Sehari Menjadi Mantan Istri, Aku Diminta Pulang Merawat Raka, tetapi Polisi Malaysia Justru Menanyakan Mengapa Ia Dilaporkan Hilang di Jakarta

“Alya… ini Ibu. Kamu sekarang bisa bicara sebentar?”

Aku membuka mata dengan malas.

Saat itu aku sedang berbaring di sofa dekat jendela kamar hotel lantai dua puluh satu di Kuala Lumpur. Di luar kaca, hujan tipis menempel seperti embun pada gedung-gedung tinggi.

Aku baru satu malam berada di Malaysia.

Liburan lima hari ini kubeli sebagai hadiah untuk diriku sendiri setelah delapan tahun menjalani pernikahan yang perlahan-lahan membuatku lupa bagaimana rasanya hidup untuk diri sendiri.

Kemarin pukul 10.20 WIB, aku dan Raka Adinata mengambil Akta Cerai yang sudah berkekuatan hukum tetap dari Pengadilan Agama Jakarta Selatan.

Pukul 13.00, aku pulang ke apartemen.

Pukul 18.40, koperku sudah masuk bagasi pesawat.

Dan pagi tadi, melalui foto yang dikirim seorang teman lama, aku melihat mantan suamiku mengenakan beskap krem di sebuah gedung pernikahan di Bekasi.

Raka menikah lagi.

Kurang dari dua puluh empat jam setelah kami resmi berpisah.

Aku tidak menangis.

Justru aku tertawa kecil ketika melihat fotonya.

Pria itu memang selalu membenci ruang kosong.

Ketika kehilangan istri, dia tidak mencari tahu apa yang salah.

Dia hanya mencari perempuan berikutnya untuk mengisi kursi yang baru saja kutinggalkan.

“Kalau ada urusan, bicara saja, Bu Ratih,” jawabku sambil mengaktifkan speaker.

Di ujung telepon terdengar napas berat.

“Kamu di mana?”

“Malaysia.”

“Malaysia?”

Suaranya langsung meninggi.

“Kamu malah liburan?”

Aku menatap langit kelabu di luar jendela.

“Saya sudah bukan menantu Ibu. Jadi saya rasa jadwal liburan saya tidak perlu meminta izin.”

Hening beberapa detik.

Lalu Bu Ratih berkata cepat.

“Raka masuk rumah sakit.”

Tanganku yang hendak mengambil kopi berhenti.

“Masuk rumah sakit?”

“Iya. Kondisinya tidak bisa bangun dari tempat tidur. Kamu pulang sekarang juga. Ambil penerbangan malam ini.”

Aku sampai harus memastikan aku tidak salah dengar.

“Kenapa saya?”

“Karena kamu paling tahu kebiasaannya! Obatnya, makanannya, alerginya. Kamu delapan tahun hidup sama dia!”

Aku tertawa pendek.

“Dan kemarin kami resmi bercerai.”

“Kamu jangan keras kepala!”

Suara Bu Ratih makin tajam.

“Bagaimanapun juga Raka pernah jadi suamimu. Masa kamu tega membiarkan dia sakit?”

Aku duduk tegak.

“Bukankah hari ini dia menikah?”

Telepon mendadak sepi.

Aku melanjutkan.

“Suruh istrinya yang baru menjaga.”

“Itu bukan urusanmu!”

“Benar. Sama seperti rumah sakit Raka juga bukan urusan saya.”

“Alya!”

Aku langsung memotongnya.

“Bu Ratih, dengarkan baik-baik. Hubungan hukum saya dengan putra Ibu sudah selesai. Harta sudah dibagi. Tidak ada tanggungan bersama. Tidak ada anak. Tidak ada utang atas nama bersama yang saya akui.”

Aku berhenti sejenak.

“Kalau Raka sakit, hubungi istrinya.”

“Kalau dia sekarat pun, yang menandatangani tindakan medis bukan saya lagi.”

Aku memutus telepon.

Jantungku memang sedikit lebih cepat, tetapi bukan karena khawatir pada Raka.

Melainkan karena ada sesuatu yang terasa janggal.

Kenapa Bu Ratih begitu panik?

Raka baru saja menikah.

Di sana ada istri baru, ibu kandung, adik laki-laki, bahkan puluhan saudara yang tadi memenuhi gedung pernikahannya.

Mengapa orang pertama yang dicari justru mantan istri yang sudah berada di negara lain?

Aku baru saja meletakkan ponsel ketika bel kamar berbunyi.

Sekali.

Dua kali.

Kemudian tiga ketukan pendek menyusul.

Aku melihat jam.

11.47 waktu Malaysia.

Aku tidak memesan room service.

Aku berjalan ke pintu dan mengintip melalui lubang kecil.

Seorang supervisor hotel berdiri di luar.

Di sampingnya ada dua orang berseragam kepolisian Malaysia dan seorang perempuan berkemeja putih dengan kartu identitas tergantung di leher.

Rasa kantukku hilang seketika.

Aku membuka pintu setengah.

“Ya?”

Supervisor hotel berbicara lebih dulu.

“Puan Alya Prameswari?”

“Saya.”

Perempuan berkemeja putih menunjukkan identitas.

Ia memperkenalkan diri sebagai petugas yang membantu koordinasi konsuler Indonesia.

Salah satu polisi kemudian menjelaskan bahwa kepolisian Indonesia meminta konfirmasi keberadaanku karena namaku muncul dalam laporan orang hilang yang memiliki kemungkinan keterkaitan dengan perjalanan ke Malaysia.

Aku membeku.

“Orang hilang?”

Petugas itu menatapku.

“Raka Adinata.”

Aku nyaris tertawa karena absurditasnya.

“Tidak mungkin.”

“Kenapa?”

“Sepuluh menit lalu ibunya baru menelepon saya dan mengatakan Raka sedang dirawat di rumah sakit.”

Ketiga orang di depanku langsung saling memandang.

Petugas konsuler mengangkat wajah.

“Ibunya mengatakan begitu?”

“Jelas sekali.”

“Rumah sakit mana?”

“Dia tidak menyebutkan.”

Kami masuk ke kamar.

Aku menunjukkan riwayat panggilan Bu Ratih.

Petugas mencatat waktu dan nomornya.

Kemudian sebuah tablet diletakkan di meja.

Di layar terdapat salinan laporan dari Jakarta.

Raka seharusnya hadir di resepsi pernikahannya pukul 11.00.

Akad sudah dilakukan pagi hari dalam lingkup keluarga.

Tetapi sekitar pukul 09.15, Raka mengatakan ingin keluar sebentar.

Sejak itu dia tidak kembali.

Telepon mati.

Mobil tertinggal.

Tasnya masih berada di ruang pengantin.

Istri barunya, Nadira, akhirnya membuat laporan setelah keluarganya gagal menghubunginya selama beberapa jam.

Aku semakin bingung.

“Kalau begitu kenapa nama saya masuk?”

Petugas tidak langsung menjawab.

Ia menggeser layar.

Sebuah tangkapan layar WhatsApp muncul.

Foto profilnya adalah fotoku.

Nama pengirimnya:

Alya.

Pesannya dikirim kepada Raka malam sebelum pernikahan.

Kalau besok kamu tetap menikah, jangan salahkan aku kalau kamu tidak pernah sampai ke pelaminan.

Aku menatap layar hampir sepuluh detik.

“Itu bukan saya.”

Ada pesan kedua.

Delapan tahun tidak bisa kamu buang dalam satu hari.

Kemudian pesan ketiga.

Aku sudah menyiapkan tempat. Kamu akan mengerti setelah semuanya terlambat.

Tenggorokanku terasa kering.

“Saya tidak pernah mengirim ini.”

Polisi bertanya datar.

“Apakah nomor ini milik Anda?”

Aku melihat nomor yang tercantum.

Bukan.

Dua digit terakhir berbeda dari nomor pribadiku.

Seseorang menggunakan fotoku.

Namaku.

Dan cara bicara yang sengaja dibuat seolah-olah seorang mantan istri yang tidak rela ditinggalkan.

Aku langsung membuka WhatsApp.

“Ini nomor asli saya. Raka bahkan sudah saya blokir tiga minggu lalu.”

Aku menunjukkan daftar perangkat tertaut, riwayat keamanan, serta percakapan terakhir kami yang berhenti ketika pengacara menyelesaikan pembagian aset.

Petugas memotretnya sebagai dokumentasi.

Lalu polisi mengajukan pertanyaan lain.

“Apakah mantan suami Anda mengetahui Anda pergi ke Kuala Lumpur?”

“Ya. Saya pernah menyebutnya ketika menyelesaikan dokumen perceraian.”

“Hotel ini?”

Aku mengerutkan kening.

“Tidak.”

“Nomor kamar?”

“Mustahil.”

Petugas itu kemudian mengeluarkan selembar cetakan.

“Nama hotel Anda ditemukan dalam catatan digital Raka.”

Darahku seperti turun ke kaki.

“Apa?”

“Selain itu, ditemukan reservasi penerbangan Jakarta–Kuala Lumpur atas nama Raka Adinata untuk pagi ini.”

Aku menatapnya tanpa berkedip.

“Tetapi dia tidak naik pesawat?”

“Reservasinya dibatalkan beberapa jam sebelum keberangkatan.”

Ia berhenti sebentar.

Lalu mengajukan satu pertanyaan yang membuat kulit tengkukku meremang.

“Bu Alya, apakah Anda tahu kenapa dua hari sebelum perceraian, rekening lama atas nama Anda menerima transfer sebesar Rp846 juta dari rekening perusahaan tempat Raka bekerja?”

Aku hampir menjatuhkan gelas.

“Rekening apa?”

Petugas menyebut nama sebuah bank.

Aku mengenalnya.

Itu rekening yang dulu kami buat ketika baru menikah.

Rekening yang sudah tidak kugunakan hampir empat tahun.

Kartu ATM-nya pernah dipegang Raka untuk pembayaran cicilan mobil.

Aku bahkan tidak ingat nomor rekeningnya.

“Saya tidak tahu apa pun soal Rp846 juta.”

Polisi mengamati wajahku.

“Dana itu masuk pukul 14.18 dua hari sebelum perceraian.”

“Lalu?”

“Enam jam kemudian, sebagian besar uang ditarik dan dipindahkan ke tiga rekening berbeda.”

Tanganku mulai dingin.

“Siapa yang melakukan?”

“Itulah yang sedang diselidiki.”

Aku berdiri dan mengambil laptop.

“Periksa semuanya. Email saya, tiket pesawat, transaksi kartu, lokasi ponsel. Saya berangkat dari Jakarta kemarin malam. Saya tidak menyentuh rekening itu bertahun-tahun.”

Petugas konsuler menatapku cukup lama.

“Kami tidak menahan Anda.”

“Tetapi?”

“Kepolisian Jakarta meminta Anda hadir untuk pemeriksaan karena ada dua perkara yang sekarang saling bertabrakan.”

Ia mengangkat dua jari.

“Raka dilaporkan hilang.”

“Dan uang perusahaan dalam jumlah besar melewati rekening lama atas nama Anda.”

Aku menelan ludah.

Baru saat itulah aku memahami sesuatu.

Telepon Bu Ratih tadi bukan sekadar permintaan seorang ibu agar mantan menantunya merawat anaknya.

Kalau Raka benar-benar berada di rumah sakit…

berarti Bu Ratih mengetahui lokasi pria yang sedang dicari polisi.

Dan bila dia begitu memaksaku pulang, mungkin tujuan sebenarnya bukan agar aku merawat Raka.

Mungkin mereka membutuhkan aku berada di tempat tertentu.

Pada waktu tertentu.

Dengan namaku tercatat di sana.

Aku segera membuka perekam panggilan otomatis yang selama ini kugunakan untuk telepon pekerjaan.

Rekaman Bu Ratih masih tersimpan.

Ketika kuputar bagian terakhir, terdengar satu kalimat yang sebelumnya tak terlalu kuperhatikan.

Suara Bu Ratih terdengar berbisik kepada seseorang sebelum telepon terputus:

“Kalau Alya pulang dan datang ke sini, semuanya bisa kita bereskan.”

Aku mematikan rekaman.

Ruangan mendadak sunyi.

Polisi di depanku tidak lagi mencatat.

Ia hanya menatapku.

Dan untuk pertama kalinya sejak perceraian itu selesai, aku merasa delapan tahun pernikahanku mungkin belum benar-benar melepaskanku.

Seseorang sedang mencoba menyeret namaku kembali ke dalam keluarga Raka.

Kali ini bukan sebagai istri.

Melainkan sebagai orang yang akan mereka korbankan.

Aku membeli tiket penerbangan pertama kembali ke Jakarta, tetapi kali ini aku pulang bukan untuk merawat Raka—aku pulang untuk mencari tahu siapa yang sedang menyiapkan lubang untuk mengubur namaku.

#DramaKeluarga #KisahRumahTangga #RahasiaKeluarga #PengkhianatanSuami #CeritaViral


Bagian 2 — Rekaman Rumah Sakit dan Bukti Transfer Membuka Rahasia Pernikahan Kilat Raka, Sementara Namaku Disiapkan Sebagai Kambing Hitam Utama Mereka Sejak Awal

Pukul 08.10 keesokan paginya, aku sudah duduk di ruang pemeriksaan Polres Jakarta Selatan.

Di seberang meja ada seorang penyidik bernama AKP Mahendra.

Di sebelahnya duduk Nadira.

Istri baru Raka.

Perempuan itu masih mengenakan cat kuku merah muda dari pernikahannya kemarin, tetapi wajahnya pucat dan bengkak karena kurang tidur.

Begitu melihatku, ia langsung berdiri.

“Jadi kamu benar-benar ada di Malaysia?”

Aku mengangguk.

Nadira menatap penyidik.

“Berarti Raka bohong.”

“Bohong soal apa?” tanyaku.

Nadira menggigit bibir.

“Tiga hari sebelum kami menikah, dia bilang kamu terus menerornya.”

Ia menunjukkan tangkapan layar yang sama.

Nomor palsu.

Foto profilku.

Ancaman palsu.

“Raka bilang mantan istrinya tidak bisa menerima perceraian.”

Aku hampir tertawa.

Justru Raka yang sejak sebulan lalu terus mendesak proses administrasi agar cepat selesai.

Aku kemudian mengetahui alasannya.

Dia ingin menikahi Nadira secepat mungkin.

Bukan karena cinta sebesar itu.

Ayah Nadira baru saja menjual sebidang tanah keluarga di Cikarang.

Sebagai hadiah pernikahan, keluarga Nadira memberikan Rp350 juta untuk uang muka rumah.

Uang itu ditransfer langsung ke rekening Raka dua hari sebelum akad.

Penyidik menggeser beberapa dokumen ke arah kami.

Dalam waktu kurang dari empat jam, uang tersebut sudah berpindah lagi.

Sebanyak Rp290 juta masuk ke rekening perusahaan vendor bernama PT Aruna Kreasi Mandiri.

Aku mengenal nama itu.

“Ini perusahaan adiknya Raka.”

Penyidik mengangguk.

“Pemiliknya Bagas Adinata.”

Perutku langsung mengeras.

Bagas adalah orang yang selama bertahun-tahun membuat rumah tanggaku tidak pernah benar-benar tenang.

Setiap bisnisnya gagal, Raka menyebutnya “sedang butuh bantuan”.

Setiap utangnya jatuh tempo, Bu Ratih berkata, “Kalian kan keluarga.”

Enam bulan lalu aku bahkan pernah menemukan surat penjaminan pinjaman Rp600 juta dengan tanda tanganku yang ditiru.

Itulah titik ketika aku memutuskan mengajukan cerai.

Ternyata masalahnya jauh lebih besar.

AKP Mahendra membuka halaman berikutnya.

Perusahaan tempat Raka bekerja menemukan delapan invoice fiktif selama sembilan bulan.

Total kerugiannya lebih dari Rp1,4 miliar.

Sebagian pembayaran menuju perusahaan Bagas.

Rp846 juta lainnya masuk ke rekening lama yang masih tercatat atas namaku.

“Akses rekeningnya dari mana?” tanyaku.

“Mobile banking diaktifkan kembali menggunakan nomor lama yang tercatat ketika rekening dibuat.”

Aku langsung teringat.

Nomor itu sudah tidak kupakai sejak empat tahun lalu.

Dulu Raka membelikannya sebagai nomor kedua.

Setelah aku tidak menggunakannya, kartu tersebut tidak pernah kutanyakan lagi.

Ternyata nomor itu tetap aktif.

Dan dikuasai Raka.

Semua mulai tersusun.

Rekening atas namaku.

Nomor telepon lama.

Pesan ancaman menggunakan fotoku.

Perjalanan palsu ke Malaysia.

Seseorang sedang menyusun jejak digital untuk menciptakan satu cerita sederhana:

Mantan istri yang marah karena suaminya menikah lagi.

Mantan istri menerima uang besar.

Mantan suami kemudian menghilang.

Aku menjadi tersangka sempurna.

“Lalu kenapa ibunya bilang Raka masuk rumah sakit?” tanya Nadira.

Mahendra belum sempat menjawab ketika seorang anggota masuk membawa tablet.

“Pak, kami dapat.”

Sebuah rekaman CCTV diputar.

Lokasinya sebuah klinik swasta kecil di Bogor.

Pukul 04.23 pagi.

Sebuah mobil Toyota hitam berhenti di belakang gedung.

Bagas turun lebih dulu.

Bu Ratih keluar dari pintu penumpang.

Kemudian dua orang membantu seorang pria turun dari kursi belakang.

Wajahnya terlihat jelas ketika terkena lampu.

Raka.

Kaki kanannya dibalut seadanya.

Dia hidup.

Dia tidak hilang.

Dan ibunya memang tahu persis di mana dia berada.

Aku menatap Nadira.

Wajah perempuan itu berubah merah.

“Kenapa mereka menyembunyikannya?”

Penyidik memperbesar bagian berikutnya.

Raka didaftarkan dengan nama Arman Prasetyo.

Pembayaran pertama dilakukan tunai.

Tidak menggunakan BPJS.

Tidak menggunakan identitas asli.

Kemudian muncul rekaman lain.

Pukul 07.16.

Bu Ratih berdiri di lorong sambil menelepon.

Waktu pada CCTV sama persis dengan panggilan yang kuterima di Malaysia.

Beberapa menit kemudian Bagas datang membawa sebuah map.

Kamera menangkap tulisan pada halaman paling atas ketika map terbuka.

SURAT PERNYATAAN PENANGGUNG JAWAB PEMBIAYAAN.

Nama yang tercetak di bawahnya:

ALYA PRAMESWARI.

Aku sampai berdiri dari kursi.

“Itulah sebabnya mereka menyuruh saya datang?”

Mahendra mengangguk pelan.

“Kemungkinan besar.”

Mereka membutuhkan tanda tanganku.

Atau setidaknya membutuhkan rekaman CCTV yang menunjukkan aku datang menemui Raka setelah ia dilaporkan hilang.

Kalau aku panik dan langsung kembali kemarin, orang-orang itu bisa mengatakan aku mengetahui lokasi Raka sejak awal.

Mungkin mereka akan menyodorkan dokumen dengan alasan administrasi rumah sakit.

Mungkin tanda tanganku akan digunakan untuk memperkuat cerita tentang uang Rp846 juta.

Bu Ratih tidak meminta mantan menantunya pulang karena kasih sayang.

Dia sedang memanggil kambing hitamnya sendiri datang ke kandang.

Namun ada satu pertanyaan yang belum terjawab.

“Kenapa Raka masuk klinik?”

Mahendra memandang anggota tadi.

Rekaman ketiga diputar.

Kali ini dari CCTV sebuah minimarket dekat Cibubur.

Raka terlihat berlari keluar membawa tas.

Beberapa detik kemudian dua pria mengejarnya.

Raka naik sepeda motor Bagas.

Dalam kepanikan, dia menerobos pembatas parkir dan jatuh.

Tidak ada penculikan.

Tidak ada serangan misterius.

Raka terluka ketika mencoba kabur dari dua auditor internal perusahaannya yang sudah menemukan kejanggalan transaksi.

Saat itulah Nadira menutupi wajahnya.

“Dia meninggalkan pernikahan kami karena ketahuan mencuri?”

Mahendra belum menjawab.

Pintu ruang pemeriksaan tiba-tiba terbuka.

Seorang anggota masuk dengan napas terburu.

“Pak, tim sudah sampai klinik.”

Aku menggenggam sisi meja.

“Raka ada di sana?”

Anggota itu mengangguk.

Lalu wajahnya berubah serius.

“Ada, Pak.”

“Tapi mereka menemukan sesuatu di kamar rawatnya.”

“Apa?”

Petugas itu meletakkan sebuah ponsel di atas meja.

“Ponsel kedua milik Raka.”

“Di dalamnya ada draft pesan yang belum sempat dikirim.”

Pesan itu ditujukan kepada polisi.

Isinya hanya tiga kalimat.

Kalau sesuatu terjadi pada saya, cari Alya Prameswari.

Dia menerima uang perusahaan.

Dia tidak pernah memaafkan saya karena menikah lagi.

Aku menatap layar sampai napasku terasa panas.

Jadi bukan sekadar memanfaatkan namaku.

Raka sudah menyiapkan aku sebagai jalan keluar terakhirnya.

Dan dia hampir berhasil.


Bagian 3 — Saat Raka Akhirnya Ditemukan, Satu Rekaman CCTV Membalik Semua Tuduhan, dan Keluarganya Kehilangan Lebih Banyak daripada yang Mereka Rebut Dariku

Sore itu aku melihat Raka lagi untuk pertama kalinya setelah perceraian.

Bukan di rumah sakit.

Bukan pula di gedung pernikahan.

Dia duduk menggunakan kursi roda di ruang pemeriksaan, kaki kanan memakai penyangga, wajahnya pucat.

Bu Ratih duduk tidak jauh darinya.

Bagas berada di kursi lain.

Tidak ada satu pun dari mereka yang berani menatapku lama.

Raka akhirnya berbicara.

“Alya, aku bisa jelaskan.”

Aku tersenyum.

“Delapan tahun menikah denganmu, aku selalu mendengar kalimat itu setelah masalah sudah terlalu besar.”

Penyidik mulai menunjukkan bukti satu per satu.

Rekening perusahaan.

Invoice fiktif.

Aktivasi ulang mobile banking.

Nomor telepon lamaku.

Tangkapan layar ancaman palsu.

Draft laporan yang menyebut namaku.

Rekaman klinik.

Dokumen penanggung jawab biaya atas namaku.

Kemudian muncul bukti yang menghancurkan alasan terakhir Raka.

CCTV sebuah ATM memperlihatkan Bagas menarik uang dari rekening lama atas namaku menggunakan kartu yang selama ini kusangka sudah tidak aktif.

Pada rekaman berbeda, Raka sendiri terlihat bersamanya.

Tanggalnya dua hari sebelum kami mengambil Akta Cerai.

Raka mencoba berkata bahwa aku mengetahui semuanya.

Mahendra langsung meletakkan riwayat lokasiku.

Pada jam yang sama, aku sedang melakukan presentasi di kantor Kuningan bersama sebelas orang.

Ada absensi elektronik.

CCTV gedung.

Rekaman rapat.

Tidak ada ruang untuk cerita mereka.

Lalu Nadira memberikan pukulan terakhir.

Dia menyerahkan seluruh percakapannya dengan Raka.

Di salah satu pesan, seminggu sebelum pernikahan, Raka menulis:

Yang penting aku sudah lepas dari Alya sebelum audit kantor selesai.

Pesan berikutnya lebih buruk.

Kalau ada masalah, rekening lama itu masih atas namanya.

Ruangan menjadi sunyi.

Aku menatap pria yang delapan tahun pernah tidur di sebelahku.

Ternyata selama ini aku salah tentang satu hal.

Aku pikir Raka adalah laki-laki lemah yang tidak bisa berkata tidak kepada keluarganya.

Sebenarnya dia bukan sekadar lemah.

Dia terbiasa membiarkan orang lain membayar harga dari setiap pilihan buruknya.

Ketika Bagas gagal bisnis, aku yang diminta membantu.

Ketika Bu Ratih butuh uang, tabunganku yang dianggap cadangan keluarga.

Ketika rumah tangga kami hancur, aku yang disebut terlalu perhitungan.

Dan ketika kejahatan mereka mulai terbuka…

sekali lagi aku yang hendak dijadikan pelindung.

Kali ini gagal.

Penyelidikan berlangsung beberapa minggu.

Perusahaan Raka melaporkan dugaan penggelapan dan penggunaan dokumen transaksi palsu.

Rekening-rekening terkait dibekukan untuk pemeriksaan.

Dokumen dengan tanda tanganku diperiksa ahli.

Hasilnya memastikan tanda tangan tersebut bukan buatanku.

Jejak perangkat juga menunjukkan transaksi dilakukan dari ponsel Raka dan Bagas.

Bu Ratih akhirnya mengakui bahwa dialah yang meminta Raka bersembunyi di klinik dengan nama palsu.

Katanya, dia hanya ingin memberi waktu kepada anaknya.

“Dia anak saya,” ucapnya sambil menangis.

Aku menatapnya tanpa kemarahan.

“Mungkin itulah masalahnya, Bu.”

“Setiap kali Raka melakukan kesalahan, Ibu tidak pernah membiarkannya menghadapi akibatnya.”

“Ibu selalu mencari seseorang untuk menanggungnya.”

“Dulu saya.”

“Kemarin Nadira.”

“Besok siapa?”

Bu Ratih tidak menjawab.

Nadira sendiri memilih mengakhiri pernikahannya dengan Raka melalui jalur hukum setelah seluruh bukti keuangan terbuka.

Uang Rp350 juta dari keluarganya tidak seluruhnya kembali, tetapi sebagian berhasil diamankan setelah rekening tujuan dibekukan.

Aku dan Nadira tidak menjadi teman.

Kami tidak perlu.

Namun sebelum pergi dari kantor polisi suatu sore, dia menghampiriku.

“Aku pernah membencimu,” katanya.

“Raka membuatku percaya kamu perempuan posesif yang tidak bisa menerima dia bahagia.”

Aku menjawab sederhana.

“Dia butuh kita saling membenci supaya tidak ada yang membandingkan ceritanya.”

Nadira mengangguk.

Itu terakhir kali kami bertemu.

Beberapa bulan kemudian, proses hukum terhadap Raka dan Bagas berlanjut berdasarkan hasil penyidikan dan audit perusahaan. Bu Ratih juga diperiksa atas keterlibatannya dalam penyembunyian Raka serta dokumen-dokumen yang digunakan selama rangkaian kejadian itu.

Aku tidak mengikuti setiap sidangnya.

Tidak perlu.

Untuk pertama kalinya setelah delapan tahun, akibat dari perbuatan keluarga itu bukan lagi tagihan yang masuk ke rumahku.

Aku mengganti nomor telepon.

Menutup rekening lama.

Mengubah seluruh akses digital.

Menjual beberapa barang yang masih mengingatkanku pada pernikahan itu.

Lalu aku kembali bekerja.

Tiga bulan kemudian, aku juga kembali ke Kuala Lumpur.

Hotel yang sama.

Kamar yang berbeda.

Kali ini tidak ada polisi di depan pintu.

Tidak ada telepon dari Bu Ratih.

Tidak ada seorang pun yang memerintahkanku membeli tiket pulang untuk merawat laki-laki yang sudah memilih perempuan lain sehari setelah perceraian.

Malam pertama, aku duduk di dekat jendela sambil memandang kota.

Ponselku berbunyi sekali.

Sebuah email masuk dari bank.

Rekening bersama lama Anda telah resmi ditutup.

Aku membaca kalimat itu dua kali.

Lalu tersenyum.

Bukan karena Raka akhirnya menerima akibatnya.

Bukan pula karena keluarganya kehilangan uang dan nama baik yang selama ini mereka lindungi mati-matian.

Hal yang paling melegakan justru jauh lebih sederhana.

Mereka sudah tidak punya apa pun lagi atas namaku.

Tidak ada rekening.

Tidak ada kartu.

Tidak ada tanda tangan.

Tidak ada hubungan hukum.

Tidak ada alasan untuk memanggilku pulang.

Aku membuka pintu balkon.

Udara malam Kuala Lumpur menyentuh wajahku.

Dulu kupikir perceraian adalah akhir dari sebuah keluarga.

Ternyata bagiku, perceraian adalah saat pertama kali aku berhenti menjadi tempat pembuangan konsekuensi orang lain.

Raka menikah lagi sehari setelah kami berpisah karena dia ingin membuktikan bahwa aku mudah digantikan.

Pada akhirnya, justru dialah yang memberiku bukti paling jelas bahwa keputusanku pergi adalah keputusan terbaik dalam hidupku.

Dan malam itu aku akhirnya menghabiskan liburanku sampai hari terakhir.

Bukan sebagai mantan istri Raka.

Bukan sebagai mantan menantu Bu Ratih.

Bukan sebagai perempuan yang hampir dijadikan kambing hitam.

Aku pulang seminggu kemudian hanya dengan satu identitas yang benar-benar masih penting bagiku:

Alya Prameswari—pemilik hidupku sendiri.