Di Hari Pernikahanku, Ibu Mertua Menukar Amplop Restu Rp15 Juta dengan Koin Seratus Rupiah—Lalu Suamiku Mengancam Membatalkan Akad di Depan Seluruh Keluarganya dan Kamera Undangan

Avatar penulis
Cerita 03
15 menit baca 1,098 tayangan
Auto Draft
Indeks

Di Hari Pernikahanku, Ibu Mertua Menukar Amplop Restu Rp15 Juta dengan Koin Seratus Rupiah—Lalu Suamiku Mengancam Membatalkan Akad di Depan Seluruh Keluarganya dan Kamera Undangan

Bagian 1 — Koin Seratus Rupiah Itu Diletakkan di Telapak Tanganku Saat Sungkeman, dan Semua Orang Menunggu Aku Tersenyum Seolah Penghinaan Itu Restu

Aku bahkan belum resmi menjadi istri Raka ketika ibunya sudah menunjukkan seperti apa posisiku kelak di keluarga mereka.

Pagi itu, aula sebuah hotel di Bekasi dipenuhi bunga melati, kain putih gading, dan keluarga yang sibuk mengambil foto.

Akad dijadwalkan pukul sembilan.

Namun sebelum penghulu masuk, keluarga Raka meminta satu prosesi kecil dilakukan lebih dulu.

Itu bukan adat resmi.

Menurut Bu Ratna, ibu Raka, itu hanya tradisi keluarga mereka.

Calon menantu perempuan akan menyematkan bunga melati pada kebaya calon ibu mertua, menerima sebuah “amplop pangestu”, lalu untuk pertama kalinya memanggilnya “Ibu” di depan keluarga besar.

Sejak dua bulan sebelumnya, Bu Ratna sendiri mengatakan nominalnya.

“Di keluarga kami biasanya lima belas juta. Bukan soal uang, Nadira. Ini tanda bahwa seorang ibu menerima menantunya sebagai anak.”

Aku tidak pernah meminta.

Bahkan aku sempat mengatakan tidak perlu.

Tetapi Bu Ratna bersikeras karena kakak iparku, Maya, juga menerima uang pangestu ketika menikah dengan kakak Raka tiga tahun lalu.

Jadi pagi itu aku mengikuti prosesi tersebut.

Aku memasangkan bunga kecil di dada Bu Ratna.

Ia tersenyum lebar ke arah kamera.

Lalu ia membuka tas tangannya.

Semua orang menunggu amplop.

Namun yang jatuh ke telapak tanganku justru sebuah koin seratus rupiah yang kusam.

Beberapa orang tertawa kecil karena mengira itu lelucon.

Bu Ratna menutup tanganku sambil berkata lembut,

“Jangan lihat nilainya.”

“Ini jauh lebih berharga daripada uang.”

Katanya, koin itu diberikan almarhumah neneknya ketika ia menikah puluhan tahun lalu.

Katanya lagi, selama ini koin tersebut disimpan di dasar lemari sebagai lambang keberuntungan.

“Mama ingin memberikannya kepadamu.”

Aku menatap koin itu.

Lalu sesuatu menarik perhatianku.

Tahun cetaknya.

Aku mengangkat wajah.

“Bu, nenek meninggal tahun berapa?”

Wajah Bu Ratna bergerak sedikit.

“Apa?”

“Almarhumah nenek yang katanya memberikan koin ini waktu Ibu menikah.”

Ia terdiam.

Raka langsung menyela.

“Nadira, kenapa malah tanya begitu?”

Aku menunjukkan koin tersebut.

“Karena ini koin keluaran 2016.”

Beberapa orang yang tadi tersenyum langsung mendekat.

Aku melanjutkan dengan tenang.

“Raka pernah cerita neneknya meninggal tahun 2007.”

Suasana mendadak berubah.

Sepupu Raka yang berdiri di belakang bahkan spontan berbisik,

“Lho…”

Bu Ratna menarik napas.

Lalu dalam hitungan detik, senyumnya berubah menjadi wajah terluka.

“Jadi kamu sedang menginterogasi Mama di hari pernikahanmu sendiri?”

“Aku hanya bertanya.”

“Bisa saja Mama salah ingat!”

Aku mengangguk.

“Bisa.”

Kemudian kukembalikan koin itu.

“Kalau begitu simpan saja.”

Tangannya tidak segera menerima.

“Nadira?”

“Tradisi keluarga ini katanya pertukaran simbolis. Ibu memberi restu, calon menantu memanggil Ibu.”

Aku tersenyum.

“Kalau bagi Ibu simbolnya seratus rupiah, aku rasa kita tidak perlu memaksakan prosesi ini.”

Tawa kecil yang tadi terdengar langsung lenyap.

Wajah Bu Ratna merah.

Seorang tante Raka segera ikut campur.

“Ya ampun, Nadira. Masa cuma gara-gara uang receh suasana pernikahan dibuat begini?”

Tante yang lain menambahkan,

“Orang tua memberi apa pun diterima saja. Yang penting berkahnya.”

Aku menoleh kepadanya.

“Tante Siska, bukankah waktu menantu Tante masuk keluarga tahun lalu, Tante memberi gelang emas dan uang sepuluh juta?”

Ia langsung diam.

Aku menatap tante lainnya.

“Dan waktu putrinya Om Bayu menikah bulan Februari, keluarga calon suaminya memberi uang pangestu dua puluh juta karena Om bilang itu soal penghargaan.”

Om Bayu pura-pura sibuk melihat ponsel.

Barulah aku kembali memandang Bu Ratna.

“Tiga tahun lalu Kak Maya menerima dua puluh lima juta dari Ibu.”

“Kenapa aku mendapat seratus rupiah?”

Bu Ratna tersenyum kaku.

“Maya berbeda.”

“Berbeda bagaimana?”

“Maya datang membawa banyak hal ke keluarga ini.”

Aku hampir tertawa.

Kak Maya masuk membawa sebuah mobil bekas.

Aku tidak bermaksud membandingkan harta, tetapi karena Bu Ratna sendiri yang memulai pembicaraan itu, aku menjawab,

“Apartemen tempat Raka tinggal dua tahun terakhir milik keluargaku.”

“Uang muka mobil Raka juga dipinjam dari ayahku dan belum dikembalikan.”

“Dari total biaya pernikahan ini, keluargaku membayar hampir dua ratus juta.”

Aku menunjuk koin di tangannya.

“Jadi sebenarnya yang sedang dinilai seratus rupiah itu siapa?”

Wajah Bu Ratna langsung pucat.

Raka meraih lenganku.

“Nadira, cukup.”

Nada suaranya rendah.

Tapi bukan karena ia marah pada ibunya.

Ia marah kepadaku.

“Kamu bikin Mama malu di depan semua orang.”

Aku menatapnya.

“Yang memulai penghinaan ini aku?”

“Tidak ada yang menghina kamu!”

“Kalau benar tidak ada maksud apa-apa, kenapa harus berbohong bahwa koin keluaran 2016 berasal dari nenek yang meninggal sembilan tahun sebelumnya?”

Raka tidak menjawab.

Bu Ratna mulai menangis.

Tangis yang begitu cepat hingga aku hampir kagum melihatnya.

“Mama cuma ingin sesuatu yang berbeda…”

“Mama pikir Nadira akan mengerti…”

“Mama tidak menyangka calon menantu Mama menghitung semuanya pakai uang.”

Dan ajaibnya, kalimat terakhir itulah yang langsung mengubah suasana.

Orang-orang mulai memandangku seperti aku baru saja meminta rumah dan tanah.

Raka mengusap wajahnya kasar.

“Kita sudah pacaran lima tahun.”

“Sekarang kamu mau merusak semuanya cuma karena lima belas juta?”

Aku menggeleng.

“Aku tidak marah karena tidak mendapat lima belas juta.”

“Aku marah karena kalian sengaja membuat sebuah janji, menggantinya dengan penghinaan, lalu menyuruhku tersenyum agar kalian terlihat baik.”

Raka tertawa pendek.

“Kamu selalu pintar membalikkan keadaan.”

Lalu ia mengucapkan kalimat yang akhirnya membuat seluruh perasaanku kepadanya berubah.

“Kalau segini saja kamu tidak bisa mengalah untuk keluargaku, mungkin kita tidak perlu lanjut akad.”

Ibunya berhenti menangis selama sepersekian detik.

Hanya sepersekian detik.

Tetapi aku melihatnya.

Begitu juga Kak Maya.

Bu Ratna benar-benar mengira aku akan takut.

Bahwa setelah lima tahun pacaran, setelah undangan dibagikan, katering dibayar, hotel dipenuhi tamu, aku pasti akan menelan apa pun daripada pulang sebagai perempuan yang gagal menikah.

Aku menatap Raka beberapa detik.

“Baik.”

Ia mengernyit.

“Apa?”

“Kalau itu pilihanmu, kita tidak perlu lanjut.”

Raka benar-benar membeku.

Bu Ratna buru-buru maju.

“Jangan bicara sembarangan! Pernikahan bukan permainan.”

Aku hampir menjawab ketika Sinta, sahabatku yang sejak tadi berada di meja penerima tamu, berlari menghampiriku.

Wajahnya tegang.

“Nad.”

“Aku perlu bicara.”

“Sekarang.”

Ia menarikku sedikit menjauh, lalu menunjukkan layar ponselnya.

Ada pesan dari bagian keuangan hotel.

Sisa pembayaran ballroom sebesar Rp37.800.000 belum masuk.

Aku mengerutkan kening.

“Itu tidak mungkin.”

Dua hari sebelumnya aku sudah memastikan uangnya tersedia di rekening khusus biaya pernikahan.

Sinta membuka mobile banking yang tadi kuberikan kepadanya untuk mengecek pembayaran vendor.

Saldo rekening itu tinggal kurang dari tiga juta.

Dadaku seketika dingin.

Semalam, pukul 23.48, ada transfer Rp40.000.000.

Tujuannya sebuah rekening bernama:

Aldi Pratama.

Adik kandung Raka.

Di kolom catatan transaksi tertulis pendek:

Talang dulu. Nanti ganti dari amplop tamu Nadira.

Aku membaca kalimat itu dua kali.

Lalu tiga kali.

Raka berdiri hanya beberapa meter dariku.

Baru beberapa menit sebelumnya ia menyebutku mata duitan karena mempertanyakan lima belas juta.

Sementara semalam, tanpa memberitahuku, ia mengambil empat puluh juta dari rekening pernikahan kami untuk adiknya.

Dan berencana menggantinya menggunakan uang hadiah dari tamu yang datang untuk pernikahan kami.

Aku mengangkat kepala.

“Raka.”

Ia melihat ekspresiku.

Wajahnya langsung berubah.

Aku mengangkat ponsel.

“Kenapa uang ballroom ada di rekening Aldi?”

Untuk pertama kalinya pagi itu, Raka benar-benar kehilangan kata-kata.

Dan Bu Ratna yang berdiri di belakangnya malah berbisik,

“Raka… kamu belum bilang ke dia?”

Saat itulah aku sadar.

Bukan hanya Raka yang tahu.

Mereka semua sudah tahu.

#DramaKeluarga #CeritaPernikahan #KisahMenantu #RahasiaKeluarga #CeritaViralIndonesia

Bagian 2 — Saat Raka Menyebutku Mata Duitan, Aku Membuka Catatan Biaya Pernikahan dan Menemukan Satu Transfer yang Tak Seharusnya Ada di Sana

Aku meminta semua orang keluar dari ruang rias kecuali Raka, Bu Ratna, ayahku, ibuku, dan Sinta.

Aku tidak berteriak.

Justru Raka yang mulai duluan.

“Aldi sedang ada masalah.”

“Masalah apa?”

“Showroom motornya harus bayar supplier.”

“Jadi kamu mengambil uang ballroom?”

“Aku pinjam!”

“Tanpa bertanya kepadaku?”

Raka menekan rahangnya.

“Rekening itu untuk pernikahan kita berdua.”

“Dan hampir seluruh isi rekening itu berasal dari keluargaku.”

Ayahku, Pak Damar, akhirnya bertanya,

“Kapan dikembalikan?”

Raka diam.

Bu Ratna menjawab menggantikannya.

“Nanti setelah acara selesai.”

“Dari mana?”

Tidak ada jawaban.

Aku menunjukkan catatan transfer.

“Dari amplop tamu?”

Bu Ratna mendadak kesal.

“Memangnya kenapa? Setelah menikah, semuanya juga untuk keluarga.”

Aku menatapnya.

“Keluarga siapa?”

“Ya keluarga kalian!”

“Kenapa utang bisnis Aldi menjadi tanggung jawab pernikahanku?”

Wajahnya mengeras.

“Aldi itu adik suamimu.”

“Belum.”

Ruangan menjadi sunyi.

Aku sengaja mengucapkan kata itu perlahan.

“Akad belum berlangsung.”

Raka menatapku tajam.

“Kamu sekarang mengancam?”

Aku tertawa kecil.

“Tadi kamu yang pertama mengatakan akad tidak perlu dilanjutkan.”

Ia langsung terdiam.

Ayahku meminta rekening koran lengkap.

Ketika Sinta membukanya, kami menemukan dua transfer lain.

Rp8 juta kepada vendor dekorasi ulang tahun anak kakak Raka tiga minggu sebelumnya.

Rp6,5 juta untuk cicilan mobil Bu Ratna.

Total lebih dari Rp54 juta keluar dari rekening pernikahan tanpa sepengetahuanku.

Raka buru-buru berkata,

“Aku akan ganti semuanya.”

“Kapan?”

“Setelah menikah.”

Jawaban itu membuatku menatapnya lama.

“Mengapa harus setelah menikah?”

Ia tidak menjawab.

Namun ponselnya yang terletak di meja tiba-tiba menyala.

Sebuah pesan WhatsApp masuk dari Aldi.

Karena layar belum terkunci, kalimatnya terbaca jelas.

Bang, sertifikat rumah Depok jadi dibawa Nadira hari ini? Bu Ratna bilang minggu depan tinggal tanda tangan buat jaminan kredit.

Tidak ada seorang pun berbicara.

Aku merasa seolah semua suara dari ballroom di luar ruangan mendadak menghilang.

Rumah Depok.

Rumah peninggalan kakekku.

Aset yang sejak awal perkenalan sudah beberapa kali ditanyakan Bu Ratna.

Berapa luasnya.

Atas nama siapa.

Sudah lunas atau belum.

Aku selalu mengira itu sekadar basa-basi.

Aku mengambil ponsel Raka sebelum ia sempat meraihnya.

“Jaminan kredit apa?”

“Nadira, jangan—”

“Jaminan kredit apa?”

Bu Ratna memotong,

“Jangan membesar-besarkan.”

Aku menoleh kepadanya.

“Rumahku mau dijaminkan untuk apa?”

Ia mulai kehilangan kesabaran.

“Aldi ingin memperbesar showroom. Peluang bisnis seperti itu tidak datang dua kali.”

“Dan kalian sudah memutuskan memakai rumahku?”

“Bukan memakai!”

Bu Ratna menaikkan suara.

“Hanya dijadikan jaminan sementara.”

Aku hampir tidak percaya.

“Tanpa bertanya kepadaku?”

“Kalau dibicarakan sebelum menikah, kamu pasti banyak pertimbangan.”

Kalimat itu keluar begitu saja dari mulutnya.

Begitu selesai mengucapkannya, ia sadar telah mengatakan terlalu banyak.

Ayahku berdiri.

Wajahnya jauh lebih menakutkan ketika tenang.

“Jadi rencananya memang menunggu anak saya sah menjadi istri dulu?”

Bu Ratna mulai gugup.

“Kita kan keluarga…”

Ayahku memotong.

“Belum.”

Kata yang sama seperti milikku.

Raka mencoba mengambil kembali kendali.

“Nad, dengar dulu.”

“Aku memang mau bicara soal rumah itu setelah akad.”

“Kenapa setelah akad?”

“Karena kupikir kamu akan lebih mudah memahami tanggung jawab sebagai istri.”

Aku menatap laki-laki yang sudah bersamaku lima tahun.

Tiba-tiba aku merasa seperti sedang melihat orang asing.

Jadi itulah semuanya.

Koin seratus rupiah pagi ini bukan sekadar lelucon kejam.

Itu tes.

Kalau aku diam ketika dipermalukan, berarti aku cukup mudah ditekan.

Kalau aku tetap tersenyum, mereka bisa melanjutkan tahap berikutnya.

Uang pernikahan.

Amplop tamu.

Rumah.

Apa lagi setelah itu?

Gajiku?

Tabunganku?

Warisan orang tuaku?

Aku menyerahkan ponsel Raka kembali.

“Tidak ada akad hari ini.”

Raka berubah pucat.

Bu Ratna menjerit,

“Kamu gila?! Tamu sudah ratusan!”

“Aku tahu.”

“Makanan sudah disiapkan!”

“Silakan dimakan.”

“Keluarga besar sudah datang dari Semarang!”

“Suruh mereka makan juga.”

Bu Ratna menghantam tasnya ke meja.

“Kamu mempermalukan keluarga kami!”

Aku menatapnya.

“Bu Ratna, lima belas menit lalu Ibu memberiku koin seratus rupiah untuk menunjukkan bahwa saya tidak berharga.”

“Sekarang Ibu marah karena saya tidak mau menyerahkan rumah miliaran rupiah untuk keluarga Ibu.”

“Aneh sekali ukuran harga diri keluarga ini.”

Raka mendekat.

“Nadira, jangan ambil keputusan saat emosi.”

“Aku justru baru pertama kali berpikir dengan sangat jernih.”

Ia menurunkan suara.

“Aku cinta kamu.”

Aku menatapnya.

“Kamu cinta aku atau aset yang datang bersamaku?”

Wajahnya kaku.

Saat itulah pintu terbuka.

Pak Hendra, ayah Raka, berdiri di sana.

Sejak pagi ia hampir tidak ikut campur.

Aku pikir ia tidak mengetahui apa pun.

Namun di tangannya ada sebuah map cokelat.

Ia berjalan masuk, meletakkannya di meja, lalu berkata,

“Kalau Nadira memang mau tahu semuanya, buka ini.”

Bu Ratna mendadak menjerit.

“Pak, jangan!”

Pak Hendra tidak memandang istrinya.

“Sudah cukup.”

Aku membuka map tersebut.

Di dalamnya ada fotokopi sertifikat rumah Depok milikku yang entah diperoleh dari mana.

Ada formulir pengajuan kredit.

Ada simulasi pinjaman Rp750 juta.

Dan di halaman terakhir sudah tercetak namaku sebagai:

Pemberi Persetujuan Agunan.

Kolom tanda tangan masih kosong.

Namun di sampingnya sudah tertempel satu catatan kecil tulisan tangan Bu Ratna.

Setelah akad. Biar Raka yang bicara. Jangan sebelum sah.

Tanganku tidak gemetar lagi.

Sekarang aku tahu persis apa yang harus kulakukan.

Dan kali ini, bukan pernikahanku yang akan mereka atur.

Aku yang akan menentukan bagaimana semuanya berakhir.

Bagian 3 — Aku Tidak Membatalkan Pernikahan karena Uang, tetapi karena Mereka Sudah Merencanakan Hidupku Sebagai Dompet Keluarga Sejak Sebelum Akad Dimulai Pagi Itu

Aku keluar dari ruang rias masih memakai kebaya pengantin.

Ketika aku memasuki ballroom, lebih dari tiga ratus tamu sudah duduk.

Pembawa acara langsung berdiri.

Raka mengejarku dari belakang.

“Nadira, jangan lakukan ini di depan semua orang.”

Aku berhenti.

“Aku juga berharap semua masalah ini tidak dilakukan di belakangku.”

Aku meminta mikrofon.

Tidak ada pidato panjang.

Aku tidak menceritakan semua keburukan keluarga Raka.

Aku hanya mengatakan fakta yang perlu diketahui para tamu.

“Bapak, Ibu, keluarga, dan teman-teman. Saya mohon maaf. Akad yang dijadwalkan pagi ini tidak akan dilanjutkan.”

Ruangan langsung riuh.

Bu Ratna mulai menangis di belakangku.

Aku melanjutkan,

“Keputusan ini bukan karena perbedaan jumlah uang pangestu.”

“Keputusan ini saya ambil karena beberapa menit lalu saya mengetahui dana pernikahan digunakan tanpa persetujuan saya dan keluarga saya.”

“Selain itu, ada rencana menjadikan rumah pribadi saya sebagai jaminan kredit bisnis keluarga setelah akad dilakukan, tanpa pernah meminta izin kepada saya.”

Suara gaduh perlahan mereda.

Pak Hendra maju.

Dan di luar dugaan semua orang, ayah Raka mengambil mikrofon.

“Apa yang dikatakan Nadira benar.”

Bu Ratna menjerit memanggil suaminya.

Pak Hendra tetap melanjutkan.

“Saya baru mengetahui dokumen kredit tersebut tadi malam.”

“Saya meminta agar rencana itu dihentikan.”

“Ternyata pagi ini saya mengetahui uang pernikahan juga sudah dipakai.”

Kemudian ia membungkuk ke arah keluargaku.

“Saya minta maaf.”

Tidak ada lagi yang bisa disebut kesalahpahaman.

Kak Maya, istri kakak Raka, tiba-tiba berdiri dari kursinya.

“Aku juga mau bicara.”

Ia menatap Bu Ratna.

“Waktu aku menikah dulu, Mama meminta aku menyerahkan seluruh amplop pernikahan karena katanya itu tradisi keluarga.”

Beberapa orang mulai berbisik.

Kak Maya melanjutkan,

“Aku diam tiga tahun karena kupikir cuma aku yang mengalami.”

“Kemudian Mama meminta suamiku menjual mobil hadiah dari orang tuaku untuk menutup utang Aldi.”

“Saya tidak mau Nadira mengalami hal yang sama.”

Wajah Bu Ratna kehilangan warna.

Orang-orang yang satu jam sebelumnya menyebutku materialistis kini menghindari tatapanku.

Bahkan Tante Siska yang paling keras membelanya tadi pagi tidak berkata apa-apa lagi.

Raka menarikku ke sisi panggung.

“Kita bisa memperbaiki ini.”

Aku menggeleng.

“Aku akan mengembalikan uangnya.”

“Masalahnya bukan hanya uang.”

“Aku akan batalkan pengajuan kredit.”

“Masalahnya bukan hanya rumah.”

Raka mulai menangis.

“Nadira, lima tahun.”

“Ya.”

Aku menatapnya.

“Lima tahun aku mengenalmu.”

“Dan butuh satu pagi untuk mengetahui bahwa ketika ibumu menghinaku, kamu memilih membuatku diam.”

“Ketika keluargamu mengambil uang kita, kamu menyembunyikannya.”

“Ketika mereka ingin memakai rumahku, kamu memilih menunggu sampai aku sah menjadi istrimu karena menurutmu setelah itu aku akan lebih mudah ditekan.”

Aku melepaskan cincin tunangan dari jariku.

“Kamu tidak kehilangan pernikahan ini karena ibumu.”

“Kamu kehilangan pernikahan ini karena setiap kali harus memilih, kamu memilih ikut merencanakannya.”

Aku meletakkan cincin itu di tangannya.

Akad dibatalkan.

Tapi makanan tidak dibuang.

Ayahku meminta katering tetap menyajikan semuanya.

“Orang-orang sudah datang jauh-jauh,” katanya. “Biarkan mereka makan.”

Hari yang seharusnya menjadi pesta pernikahan berubah menjadi makan siang keluarga paling canggung dalam sejarah hidupku.

Namun anehnya, ketika melepas sanggul di kamar hotel, aku tidak merasa hidupku hancur.

Aku merasa baru saja lolos.

Tiga hari kemudian, Aldi mengembalikan Rp40 juta setelah Pak Hendra menolak memberikan bantuan apa pun lagi sebelum uang itu dikembalikan.

Raka menjual motornya dan mengembalikan dua pengeluaran lain dari rekening pernikahan.

Seluruh biaya pembatalan vendor yang menjadi tanggung jawab pihaknya juga dilunasi secara bertahap.

Ayahku tidak mengambil satu rupiah pun lebih dari yang memang menjadi hak kami.

Pak Hendra kemudian memisahkan pengelolaan keuangannya dari Bu Ratna dan menolak menjaminkan aset keluarga untuk showroom Aldi.

Pengajuan kredit Rp750 juta otomatis berhenti karena sertifikat rumahku tidak pernah berada di tangan mereka.

Sementara itu, cerita tentang “koin pusaka” akhirnya menjadi bahan pembicaraan keluarga besar.

Bukan karena aku menyebarkannya.

Koin itu sendiri yang membongkar kebohongan.

Tahun 2016 masih tercetak jelas di permukaannya.

Bu Ratna berhenti datang ke beberapa acara keluarga selama berbulan-bulan.

Bukan karena aku meminta siapa pun menjauhinya.

Ia hanya tidak sanggup menghadapi orang-orang yang pernah ia ajak menertawakanku.

Raka menghubungiku puluhan kali.

Aku memblokirnya setelah satu pesan terakhir.

Ia menulis,

Aku seharusnya membelamu pagi itu.

Aku hanya membalas sekali.

Bukan hanya pagi itu. Kamu seharusnya tidak ikut merencanakannya sejak awal.

Setelah itu aku tidak pernah menjawab lagi.

Sebelas bulan kemudian, aku memakai uang yang sebelumnya kusiapkan untuk renovasi rumah setelah menikah untuk membuka studio desain interior kecil bersama Sinta di Depok.

Kami mulai dari tiga orang.

Lalu menjadi tujuh.

Rumah peninggalan kakek tetap atas namaku.

Tidak pernah menjadi jaminan siapa pun.

Pada ulang tahunku yang ketiga puluh, ayah memberiku sebuah kotak kecil.

Aku membukanya.

Di dalamnya ada koin seratus rupiah baru.

Aku menatap ayah bingung.

Ia tertawa.

“Biar kamu ingat satu hal.”

“Apa?”

“Kadang kita harus kehilangan pesta ratusan juta untuk menyadari bahwa harga diri tidak boleh ditawar bahkan seratus rupiah.”

Aku tertawa sampai menangis.

Koin itu masih kusimpan sampai hari ini.

Bukan sebagai pusaka.

Bukan sebagai simbol pernikahan yang gagal.

Tetapi sebagai pengingat bahwa pada pagi ketika semua orang menyuruhku diam demi menjaga malu keluarga orang lain, aku memilih menyelamatkan hidupku sendiri.

Dan keputusan terbaik dalam hidupku ternyata bukan mengatakan “iya” di depan penghulu.

Melainkan berani mengatakan,

“Tidak.”

Sebelum semuanya terlambat.