Di Syukuran Sebulan Putraku, Ibu Mertua Menendang Amplop Ayahku ke Lantai—Lalu Satu Pertanyaan Tentang Modal Perusahaan Membuat Suamiku Menjatuhkan Gelas di Depan Semua Tamu dan Wajahnya Pucat Seketika
Bagian 1 — Ibu Mertuaku Menyuruh Ayahku Mengambil Uang yang Ia Injak, tetapi Ayah Justru Menanyakan Siapa Pemilik Modal Pertama Perusahaan Suamiku Lima Tahun Lalu
“Ambil lagi uangmu, Pak Hadi.”
Suara ibu mertuaku terdengar jelas di tengah ballroom Hotel Majapahit, Surabaya.
“Kalau cuma tujuh puluh lima juta rupiah, tidak usah dibuat seolah-olah hadiah besar untuk cucu keluarga Pradana.”
Semua percakapan berhenti.
Sendok yang tadi beradu dengan piring mendadak tak terdengar lagi.
Di depan hampir seratus tamu, Ratih Pradana berdiri dengan amplop putih yang baru saja diberikan ayahku.
Ia membuka amplop itu tanpa izin.
Menghitung isinya.
Lalu menjatuhkan beberapa ikatan uang ke lantai.
Aku sampai mengira mataku salah melihat ketika ujung sepatu hak tingginya mendorong satu ikatan uang ke arah ayahku.
“Besan kakakku memberi cucunya rumah di Citraland,” katanya sambil tertawa kecil. “Nilainya miliaran. Ini?”
Ia menunjuk uang di lantai.
“Tujuh puluh lima juta?”
Beberapa kerabat dari pihak suamiku saling pandang.
Ayahku, Hadi Santoso, berdiri diam.
Usianya enam puluh tiga tahun.
Ia datang dari Madiun menggunakan kereta pagi, membawa koper kecil dan mengenakan jas abu-abu yang hanya dipakainya saat acara penting.
Sebelum menyerahkan amplop tadi, ia sempat menggendong putraku, Rafi, sambil berkata dengan mata berbinar,
“Kakek tidak pandai memilih barang bayi. Uangnya disimpan saja. Nanti kalau Rafi butuh sekolah, buku, atau apa pun, pakai dari Kakek.”
Ayah bahkan sempat meminta maaf karena merasa hadiahnya sederhana.
Dan sekarang uang itu berada di lantai.
Diinjak.
Aku langsung berdiri.
“Bu Ratih.”
Suamiku, Arman Pradana, segera menangkap pergelangan tanganku.
“Alya.”
Aku menepis tangannya.
“Suruh ibumu mengambil uang itu.”
“Alya, jangan sekarang.”
Aku menatapnya.
“Jangan sekarang?”
Dadaku seperti terbakar.
“Jadi kapan? Setelah semua tamu pulang dan tidak ada yang melihat bagaimana ayahku dihina?”
Arman merendahkan suara.
“Hari ini acara Rafi. Jangan dirusak.”
Aku sampai tertawa karena tak percaya.
“Aku yang merusak?”
Ratih mendengar percakapan kami.
Ia menoleh, lalu memasang wajah tersinggung.
“Kenapa kau bicara seperti itu kepada suamimu?”
Aku menunjuk uang di lantai.
“Karena Ibu mempermalukan ayah saya.”
Ratih mendengus.
“Saya hanya bicara kenyataan.”
Ia kemudian menoleh kepada para tamu.
“Kalian semua tahu Arman sekarang punya perusahaan distribusi bahan bangunan dengan cabang di empat kota. Apartemen yang ditempati Alya saja dibeli keluarga kami.”
Beberapa orang mengangguk canggung.
Ratih semakin percaya diri.
“Sejak menikah, anaknya Pak Hadi ini hidup enak. Mobil ada. ART ada. Liburan ada. Saya cuma heran, sudah mendapat menantu seperti Arman, masa keluarga perempuan masih tidak tahu diri?”
Darahku naik ke kepala.
“Ayah saya tidak pernah meminta apa pun dari keluarga Ibu.”
“Oh?”
Ratih tersenyum sinis.
“Karena memang tidak punya apa-apa untuk diminta balik.”
Ia menatap ayahku dari kepala sampai kaki.
“Kita ini keluarga pengusaha, Pak Hadi. Lingkungan kami berbeda. Kalau memang kemampuan Bapak segitu, tidak masalah. Tetapi jangan bungkus uang kecil dengan amplop tebal supaya kelihatan hebat.”
Aku melangkah maju.
Namun sebelum sempat mengatakan sesuatu, ayah memegang lenganku.
“Alya.”
Aku menoleh.
Wajahnya tenang.
Terlalu tenang.
“Ayah…”
“Biarkan.”
“Dia menginjak uang Ayah.”
“Uang bisa dibersihkan.”
Tatapan ayah kemudian beralih kepada Arman.
“Tapi ada beberapa hal yang kalau sudah kotor, susah dibersihkan.”
Arman tiba-tiba terlihat gelisah.
Ayah membungkuk.
Aku mengira ia akan mengambil seluruh uang yang berserakan.
Ternyata tidak.
Ia hanya mengambil selembar uang seratus ribu yang terkena bekas sol sepatu Ratih.
Ayah mengusap permukaannya dengan saputangan.
Lalu bertanya,
“Arman.”
Suamiku menelan ludah.
“Ya, Yah?”
“Kamu belum pernah cerita kepada ibumu?”
Ruangan terasa semakin dingin.
Ratih langsung menyela.
“Cerita apa?”
Ayah tetap menatap Arman.
“Lima tahun lalu.”
Tangan Arman yang memegang gelas berhenti.
Ayah melanjutkan,
“Ketika gudang pertamamu disita pemilik gedung, dua pemasok menghentikan barang, dan bank menolak tambahan kredit…”
Wajah Arman berubah.
Aku menoleh cepat kepadanya.
Aku tahu bisnis Arman pernah hampir gagal.
Tapi cerita yang kuketahui berbeda.
Menurutnya, seorang investor lama ayahnya masuk dan memberikan modal.
Itulah cerita yang selama ini dipercaya semua orang.
Ayah bertanya lagi,
“Kamu belum bilang kepada ibumu siapa yang menyiapkan Rp7,8 miliar agar perusahaanmu tidak tutup?”
Gelas terlepas dari tangan Arman.
Pecah di lantai.
Prang!
Seisi ballroom membeku.
Ratih menatap putranya.
“Rp7,8 miliar?”
Arman tidak menjawab.
“Arman.”
Ratih semakin keras.
“Uang apa?”
“Mama, nanti saja.”
“Nanti bagaimana?”
Ratih menunjuk ayahku.
“Dia sedang mengaku-ngaku membiayai perusahaanmu!”
Ayah tersenyum kecil.
“Aku belum mengaku apa pun, Bu Ratih.”
Ratih mendekat.
“Jangan mentang-mentang anak Anda menikah dengan keluarga kami lalu sekarang ingin mengaku berjasa.”
Ayah mengangguk perlahan.
“Bagus.”
Ia mengeluarkan ponsel.
“Kalau begitu kita cocokkan saja dengan dokumennya.”
Arman langsung berdiri.
“Yah.”
Untuk pertama kalinya malam itu, nada suamiku terdengar panik.
“Tidak perlu.”
Ayah menatapnya.
“Kenapa?”
“Ini acara keluarga.”
“Lima menit lalu ibumu bilang kita bukan keluarga yang setara.”
Beberapa tamu menundukkan kepala.
Arman memegang bahu ayah.
“Yah, please.”
Aku hampir tidak mengenali suamiku sendiri.
Selama tujuh tahun kami bersama, Arman selalu terlihat yakin.
Bahkan ketika perusahaan rugi, wajahnya tidak pernah seperti sekarang.
Pucat.
Takut.
Dan yang membuatku semakin curiga, ia bukan takut kepada ayahku.
Ia takut sesuatu terbuka di depanku.
Aku menarik tangannya dari bahu ayah.
“Apa yang sebenarnya terjadi lima tahun lalu?”
Arman diam.
Aku bertanya lagi.
“Uang Rp7,8 miliar itu dari siapa?”
“Alya…”
“Jawab.”
Ratih malah tertawa.
“Pasti pinjaman biasa. Sekarang bapakmu mau membesar-besarkan.”
Ayah menghela napas.
“Kalau hanya pinjaman biasa, saya tidak akan datang membawa ini.”
Ia membuka tas dokumen tipis yang sejak tadi diletakkan di kursinya.
Arman langsung bergerak.
“Yah!”
Namun ayah sudah mengeluarkan sebuah map cokelat.
Di bagian depan tertulis nama sebuah kantor notaris di Surabaya.
Di bawahnya ada tanggal lima tahun lalu.
Dan satu nama yang membuatku membeku.
Alya Hadi Santoso.
Namaku.
Aku meraih map itu.
“Apa ini?”
Arman menahan lenganku.
“Jangan dibuka sekarang.”
Aku menatapnya.
“Kenapa namaku ada di sini?”
“Aku bisa jelaskan.”
“Kapan?”
Suaraku bergetar.
“Setelah lima tahun?”
Ratih ikut mendekat.
“Apa isinya?”
Aku membuka lembar pertama.
Bukan surat pinjaman biasa.
Bukan bukti transfer biasa.
Judulnya membuat ujung jariku mendadak dingin.
Perjanjian Pengalihan Hak Ekonomi dan Jaminan Penyertaan Modal.
Ada nama ayahku.
Ada nama Arman.
Dan pada halaman berikutnya…
ada rincian sebuah aset di Jalan Raya Darmo yang dulu diwariskan mendiang ibuku kepadaku.
Aku menatap ayah.
“Bukankah ruko Mama sudah dijual sebelum kita menikah?”
Ayah tidak menjawab.
Aku berbalik kepada Arman.
Karena lima tahun lalu, dialah yang mengatakan kepadaku bahwa ruko peninggalan Mama harus dilepas karena sengketa sertifikat.
Aku mempercayainya.
Bahkan aku pernah menandatangani beberapa dokumen yang katanya diperlukan untuk penyelesaian sengketa.
Dadaku seperti dihantam.
“Apa hubungannya ruko Mama dengan perusahaanmu?”
Arman mundur selangkah.
“Alya, dengarkan aku dulu.”
Tepat saat itu ponsel Arman yang tergeletak di meja menyala.
Sebuah pesan masuk.
Nama pengirimnya:
Pak Yudha — Notaris.
Aku hanya sempat membaca dua baris sebelum Arman menyambar ponselnya.
Pak Arman, Pak Hadi sudah meminta salinan asli akta dan surat kuasa lama. Kalau Bu Alya mengetahui tanda tangannya digunakan untuk…
Layar menghilang.
Arman memasukkan ponselnya ke saku.
Terlambat.
Aku sudah melihatnya.
Ayah juga.
Aku merasakan tengkukku dingin.
“Digunakan untuk apa?”
Arman diam.
Aku semakin keras.
“Tanda tanganku digunakan untuk apa?”
Ayah menatapku lama.
“Alya, Ayah sebenarnya ingin merahasiakan ini karena waktu itu kamu baru mengalami keguguran. Ayah takut kamu tidak sanggup menerima semuanya sekaligus.”
Mataku mulai panas.
“Menerima apa?”
Ayah mengambil kembali map itu.
Ia membuka halaman terakhir.
Arman langsung mendekat.
“Yah, jangan.”
Ayah menatap menantunya.
“Lima tahun saya menunggu kamu mengatakan sendiri.”
Arman menggeleng.
“Please.”
“Kamu memilih diam.”
Lalu ayah beralih kepadaku.
“Sebelum Ayah jelaskan uang Rp7,8 miliar itu berasal dari mana…”
Ia menunjuk tanda tangan pada dokumen.
“…kamu harus tahu lebih dulu apa yang dilakukan suamimu dengan warisan ibumu ketika perusahaan ini hampir bangkrut.”
Dan untuk pertama kalinya sejak menikah, aku melihat Arman benar-benar ketakutan kepadaku.
Bagian 2 — Dokumen Lama Membuktikan Suamiku Membangun Bisnis dari Aset Warisanku, dan Ibunya Masih Berani Menuduh Ayahku Mencuri Nama Keluarga Mereka di Depan Tamu
“Aset itu tidak pernah sengketa.”
Kalimat ayah membuat telingaku berdenging.
Aku menatap alamat ruko dalam dokumen.
Ruko dua lantai di Darmo.
Tempat Mama membuka toko kain selama hampir dua puluh tahun.
Sebelum meninggal, Mama mewariskannya kepadaku.
Arman dulu mengatakan bangunan itu bermasalah karena ada klaim dari kerabat jauh.
Katanya pilihan terbaik adalah menjualnya cepat.
Aku percaya.
Ternyata ayah berkata,
“Ruko itu dijadikan jaminan.”
Aku menatap Arman.
“Untuk perusahaanmu?”
Ia mengusap wajah.
“Alya, situasinya waktu itu sangat buruk.”
“Jawab pertanyaanku.”
“Iya.”
Seketika kakiku seperti kehilangan tenaga.
Aku menarik kursi lalu duduk.
Ayah menjelaskan semuanya.
Lima tahun lalu, perusahaan Arman hanya tinggal beberapa minggu dari gagal bayar.
Total kewajibannya hampir Rp6 miliar.
Bank tidak mau menambah plafon.
Seorang pemasok mengancam membawa perkara ke pengadilan.
Arman kemudian datang kepada ayah.
Bukan sekali.
Empat kali.
Ia meminta bantuan.
Ayah bersedia.
Tetapi bukan sebagai hadiah.
Ayah menggadaikan deposito usaha miliknya dan memasukkan Rp7,8 miliar sebagai penyertaan modal darurat.
Sebagai perlindungan, Arman menandatangani perjanjian bahwa 40 persen hak ekonomi perusahaan akan dialihkan kepada pihak yang ditunjuk ayah apabila dana tidak dikembalikan sesuai jadwal.
Nama penerimanya?
Aku.
“Kenapa aku tidak pernah tahu?”
Ayah menunduk.
“Karena Arman minta waktu.”
Aku tertawa hambar.
“Tentu.”
Namun masih ada bagian yang lebih buruk.
Agar bank bersedia menahan proses penagihan beberapa bulan, Arman menggunakan ruko peninggalan Mama sebagai tambahan jaminan.
Surat kuasa yang kutandatangani ternyata bukan surat penyelesaian sengketa.
Itu kuasa terbatas yang disisipkan di antara beberapa dokumen.
“Aku memang tanda tangan…”
Air mataku jatuh.
“Tapi aku tidak pernah diberi tahu untuk apa.”
Ayah mengangguk.
“Itu sebabnya Ayah menyuruh notaris menyimpan semua rekaman konsultasi.”
Arman cepat berkata,
“Aku memang salah. Tetapi aku tidak mencuri aset itu!”
“Tidak?”
Aku berdiri.
“Kau berbohong bahwa warisan ibuku bermasalah. Kau menyuruhku menandatangani dokumen saat aku baru keluar dari rumah sakit. Lalu kau menggunakan aset itu untuk menyelamatkan perusahaanmu!”
Ratih malah maju.
“Jangan membesar-besarkan!”
Aku menatapnya tak percaya.
Ia berkata,
“Kalau Arman tidak melakukan itu, sekarang kalian tidak akan menikmati hidup seperti ini.”
Aku sampai kehilangan kata-kata.
Ratih kemudian menunjuk ayah.
“Dan saya tidak percaya soal empat puluh persen itu. Perusahaan ini memakai nama Pradana. Dibangun anak saya. Tiba-tiba orang luar datang mengaku punya hak?”
Ayah menatapnya datar.
“Nama di papan kantor tidak menghapus isi akta.”
Ratih mendengus.
“Saya bisa panggil pengacara.”
“Silakan.”
Ayah mengeluarkan lembar lain.
“Pengacara perusahaan mungkin justru ingin membaca ini.”
Arman memejamkan mata.
Itu laporan pembayaran.
Selama lima tahun, dana Rp7,8 miliar tidak pernah benar-benar dikembalikan.
Arman hanya membayar sebagian kecil sebagai “imbal hasil”.
Bahkan tiga tahun terakhir pembayaran berhenti.
Artinya, klausul pengalihan hak ekonomi sudah dapat dieksekusi.
Ratih menoleh kepada putranya.
“Kenapa kau tidak bayar?”
Arman akhirnya meledak.
“Karena uang perusahaan dipakai ekspansi!”
“Ekspansi?”
Aku berkata pelan,
“Termasuk rumah Mama di Pakuwon yang selalu Ibu bilang dibeli dari keberhasilan Arman?”
Ratih terdiam.
Aku melihat jawaban dari wajahnya.
Ayah membuka dokumen lain.
“Sebagian arus kas perusahaan juga dipakai sebagai uang muka rumah atas nama Bu Ratih.”
Semua orang langsung menoleh.
Wajah Ratih merah.
“Itu bohong!”
Ayah menunjuk nomor transaksi.
“Silakan cek.”
Aku melihat Arman.
“Kau menggunakan perusahaan yang diselamatkan memakai warisan ibuku… untuk membeli rumah ibumu?”
“Alya, bukan seperti itu.”
“Lalu seperti apa?”
Arman berjalan mendekatiku.
“Aku berniat mengganti semuanya.”
“Kapan?”
Aku mundur.
“Saat Rafi kuliah?”
Ratih tiba-tiba berkata,
“Sudahlah! Toh semua tetap dinikmati satu keluarga.”
Aku menoleh kepadanya.
“Satu keluarga?”
Aku menunjuk uang ayah yang masih berserakan.
“Lima belas menit lalu Ibu menyuruh ayah saya menyimpan uangnya untuk biaya pemakaman.”
Ratih terdiam.
Aku meneruskan,
“Ibu bilang keluarga saya miskin.”
Tidak ada yang berani bicara.
“Padahal rumah yang Ibu banggakan dibeli dari perusahaan yang bertahan karena uang ayah saya dan aset ibu saya.”
Wajah Ratih mulai kehilangan warna.
Ayah kemudian mengambil satu flashdisk kecil dari map.
Arman langsung pucat.
“Apa itu?”
Aku bertanya.
Ayah menjawab,
“Salinan rekaman pertemuan di kantor notaris.”
Arman memegang lengan ayah.
“Tidak perlu diputar.”
Ayah menatapnya.
“Kenapa?”
“Aku mengaku salah.”
“Bukan itu alasannya.”
Arman membeku.
Ayah kemudian berkata sesuatu yang membuat suasana berubah total.
“Masalah terbesar bukan penggunaan ruko Alya.”
Aku menatapnya.
“Ada lagi?”
Ayah mengangguk.
“Setelah perusahaan mulai untung, Arman pernah meminta saya menandatangani pelepasan seluruh hak.”
Aku melihat suamiku.
“Dan?”
“Ayah menolak.”
Ayah mengangkat flashdisk.
“Dua minggu setelah itu, muncul surat pelepasan dengan tanda tangan Ayah.”
Aku merinding.
“Tanda tangan palsu?”
Arman langsung berteriak,
“Aku tidak membuatnya!”
Semua orang kembali sunyi.
Ayah bahkan belum menuduhnya.
Tapi Arman sudah membela diri.
Aku menatap suamiku.
Ayah berkata pelan,
“Besok pagi ada rapat pemegang saham dan pemeriksaan dokumen perusahaan.”
Ratih maju.
“Tidak ada yang boleh mengambil perusahaan anak saya!”
Ayah tersenyum tipis.
“Bu Ratih masih belum memahami masalahnya.”
“Apa lagi?”
“Kalau rekaman di flashdisk ini sesuai dengan dokumen yang ditemukan notaris…”
Ayah memandang Arman.
“…besok bukan lagi soal siapa yang memiliki perusahaan.”
Ia berhenti.
“Melainkan siapa yang harus menjelaskan pemalsuan dokumen itu kepada polisi.”
Arman tiba-tiba meraih flashdisk dari tangan ayah.
Namun sebelum jarinya menyentuhnya, seseorang dari meja belakang berdiri.
Itu Dimas.
Direktur keuangan perusahaan Arman.
Wajahnya pucat.
Dengan suara gemetar ia berkata,
“Pak Hadi…”
Semua mata beralih kepadanya.
“Saya rasa Bapak tidak perlu menunggu besok.”
Arman langsung berteriak,
“Dimas, diam!”
Tetapi Dimas sudah mengeluarkan ponselnya.
“Saya masih menyimpan pesan Pak Arman malam ketika surat pelepasan itu dibuat.”
Bagian 3 — Saat Rekaman Notaris Diputar, Suamiku Kehilangan Kendali Perusahaan, Ibu Mertuaku Kehilangan Wajah, dan Aku Akhirnya Membawa Anakku Pulang tanpa Menoleh Lagi
Arman menerjang ke arah Dimas.
Dua sepupunya langsung menahan.
“Berikan ponselnya!”
“Kenapa?”
Aku berdiri di depan Dimas.
“Bukankah tadi kau bilang tidak tahu siapa yang membuat surat itu?”
Arman berhenti.
Dimas membuka percakapan lama.
Tanggalnya tiga tahun lalu.
Pesan pertama berasal dari nomor Arman.
Pak Hadi tidak akan tanda tangan. Pakai file tanda tangan yang ada di dokumen lama. Saya cuma butuh surat ini untuk ditunjukkan ke calon investor.
Pesan berikutnya:
Jangan masukkan ke sistem resmi dulu.
Tanganku dingin.
Ratih mulai menggeleng.
“Tidak mungkin.”
Dimas menyerahkan ponsel kepada ayah.
“Saya tidak berani melawan waktu itu. Tetapi saya simpan semuanya.”
Arman menatapnya penuh kebencian.
“Kau menghancurkan perusahaan sendiri!”
Dimas justru menjawab,
“Bukan saya yang membuat surat palsu, Pak.”
Kalimat itu menutup mulut Arman.
Ayah lalu meminta staf hotel menghubungkan laptop ke layar ballroom.
Aku sempat ingin menghentikannya.
Bukan karena ingin melindungi Arman.
Aku hanya merasa terlalu lelah.
Namun ayah berbisik,
“Alya, setelah malam ini kamu tidak boleh lagi mendengar versi mereka lalu meragukan ingatanmu sendiri.”
Aku mengangguk.
Rekaman lama diputar.
Kualitas gambarnya biasa.
Namun suaranya jelas.
Arman duduk di ruang notaris lima tahun lalu.
Aku tidak ada di sana.
Ia berkata,
“Pak Hadi, Alya jangan tahu dulu. Kondisi mentalnya sedang buruk setelah kehilangan bayi. Saya takut dia makin stres.”
Lalu terdengar suara ayah.
“Kalau menggunakan aset Alya, dia harus tahu.”
Arman menjawab,
“Saya akan bicara setelah perusahaan stabil.”
Rekaman berikutnya diambil beberapa bulan kemudian.
Arman kembali berkata,
“Kalau Alya tahu sekarang, rumah tangga kami bisa rusak.”
Ayah menjawab,
“Yang merusak rumah tangga bukan kebenaran, Man. Kebohonganmu.”
Aku menutup mulut.
Lima tahun.
Selama lima tahun ayah menepati permintaan Arman karena mengira menantunya akan mengaku sendiri.
Arman tidak pernah melakukannya.
Sebaliknya, setiap kali keluarganya merendahkan ayahku, ia diam.
Ketika Ratih mengejek rumah sederhana ayahku di Madiun, Arman diam.
Ketika Ratih berkata keluargaku “menumpang naik kelas”, Arman diam.
Ketika ayah memberi hadiah pernikahan sederhana dan Ratih menyebutnya memalukan, Arman juga diam.
Karena selama ibunya percaya keluarga kami tidak memiliki apa-apa, Arman bisa terus menjadi pahlawan dalam cerita yang dibuatnya sendiri.
Aku melepas cincin kawinku.
Kutaruh di atas meja.
“Alya.”
Arman mendekat.
“Aku salah. Tapi semua kulakukan supaya kita punya masa depan.”
Aku menatapnya.
“Jangan gunakan kata kita.”
Ia terdiam.
“Kau menyelamatkan perusahaanmu.”
Aku menunjuk Ratih.
“Kau membiarkan ibumu mengira keluargaku hidup dari kalian.”
Lalu kutunjuk ayah.
“Padahal orang yang kalian hina malam ini adalah orang yang menyelamatkanmu ketika semua bank menutup pintu.”
Ratih tiba-tiba berubah nada.
“Alya, masalah suami istri jangan dibawa terlalu jauh.”
Aku hampir tersenyum.
Beberapa menit lalu perempuan ini menyuruh ayahku membeli peti mati dengan uang hadiahnya.
Sekarang ia bicara soal keluarga.
Aku membungkuk.
Mengambil satu per satu ikatan uang ayah dari lantai.
Ratih terlihat tidak nyaman.
Aku membersihkan bekas sepatu dari salah satunya.
Kemudian kuberikan kembali kepada ayah.
“Yah.”
Ayah menerimanya.
Ratih berbisik,
“Sebenarnya saya tadi hanya emosi…”
Ayah mengangkat tangan.
“Tidak perlu meminta maaf kepada saya kalau hanya karena sekarang tahu saya punya uang.”
Ratih membeku.
“Permintaan maaf yang datang setelah tahu status seseorang bukan penghormatan.”
Tidak ada seorang pun yang membelanya.
Esok paginya, rapat luar biasa perusahaan tetap dilaksanakan.
Aku datang bersama ayah, notaris, dua penasihat hukum, dan auditor independen.
Berdasarkan perjanjian penyertaan modal yang masih sah serta kegagalan memenuhi kewajiban pembayaran, hak ekonomi sebesar 40 persen yang selama ini dijaminkan resmi dialihkan sesuai ketentuan.
Namun aku tidak menjadi direktur.
Aku tidak ingin hidupku berikutnya dihabiskan mengurus perusahaan Arman.
Aku hanya meminta satu hal:
Audit penuh.
Hasilnya jauh lebih buruk dari perkiraan.
Ada penggunaan kas perusahaan untuk cicilan properti pribadi.
Ada pembayaran kepada perusahaan milik sepupu Ratih tanpa pekerjaan yang jelas.
Ada pencatatan biaya fiktif.
Dan ada surat pelepasan hak dengan tanda tangan ayah yang berdasarkan pemeriksaan awal tidak cocok dengan dokumen asli.
Arman dicopot dari posisi direktur utama melalui keputusan para pemegang saham.
Dimas bersedia memberikan seluruh korespondensi yang ia simpan.
Masalah surat palsu diteruskan melalui jalur hukum.
Aku tidak meminta siapa pun “menghancurkan” Arman.
Aku hanya berhenti melindunginya dari akibat pilihannya sendiri.
Rumah Ratih di Pakuwon kemudian ikut diperiksa karena sebagian pembayarannya berasal dari transaksi perusahaan yang sedang diaudit.
Orang-orang yang malam itu tertawa ketika ia mempermalukan ayahku?
Tidak ada lagi yang berani memujinya sebagai ibu dari pengusaha sukses.
Tiga minggu kemudian Arman datang ke rumah ayah di Madiun.
Ia berdiri di depan pagar hampir satu jam.
“Alya.”
Aku keluar sambil menggendong Rafi.
Wajahnya jauh lebih kurus.
“Aku mau memperbaiki semuanya.”
Aku menggeleng.
“Beberapa hal bisa diperbaiki.”
Aku melihatnya lurus-lurus.
“Tapi kepercayaan bukan invoice yang bisa dilunasi setelah jatuh tempo.”
Ia menangis.
Untuk pertama kalinya aku melihatnya menangis.
Namun anehnya, hatiku tidak lagi goyah.
“Aku masih mencintaimu.”
Katanya.
Aku menjawab,
“Mungkin.”
“Tapi selama lima tahun kau lebih mencintai citra dirimu daripada kejujuran kepadaku.”
Proses perceraian kami berjalan beberapa bulan.
Hak pengasuhan utama Rafi berada padaku dengan akses bertemu yang tetap diatur untuk Arman selama ia memenuhi kewajibannya sebagai ayah.
Hak ekonomiku di perusahaan tidak kutarik menjadi uang pribadi seluruhnya.
Sebagian keuntungan kumasukkan ke dana pendidikan Rafi.
Sebagian lagi kupakai membuka kembali ruko peninggalan Mama setelah kewajiban jaminannya diselesaikan.
Aku mengubah lantai bawah menjadi toko tekstil kecil dan ruang kerja.
Ayah membantuku memilih rak.
Pada hari pertama toko dibuka, ia datang paling pagi.
Tangannya membawa amplop yang sama seperti malam syukuran itu.
Aku tertawa.
“Masih tujuh puluh lima juta?”
Ayah ikut tertawa.
“Bukan.”
Ia menyerahkannya kepadaku.
Di dalamnya hanya ada selembar uang seratus ribu.
Uang yang dulu diinjak Ratih.
Sudah dibersihkan.
Sudah dilaminasi.
Di bawahnya, ayah menulis dengan pena:
Harga uang ini tetap seratus ribu. Harga martabatmu ditentukan oleh siapa yang kau izinkan menginjaknya.
Aku menatap ayah lama sekali.
Lalu kupeluk dia.
Rafi yang belum mengerti apa-apa ikut tertawa dari gendongan.
Di luar, papan toko peninggalan Mama baru saja dipasang.
Tidak ada nama Pradana.
Tidak ada jejak keluarga yang pernah membuatku merasa kecil.
Hanya namaku sendiri.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tidak merasa kehilangan keluarga.
Aku justru merasa akhirnya pulang.
#DramaKeluarga #CeritaKehidupan #KisahRumahTangga #PerempuanBerani #CeritaViralIndonesia

