Suamiku Membayarku Rp45 Miliar Agar Dia Bisa Hidup dengan Selingkuhannya yang Hamil Anak Kembar

Avatar penulis
Cerita 04
17 menit baca 830 tayangan
Suamiku Membayarku Rp45 Miliar Agar Dia Bisa Hidup dengan Selingkuhannya yang Hamil Anak Kembar
Indeks

Suamiku Membayarku Rp45 Miliar Agar Dia Bisa Hidup dengan Selingkuhannya yang Hamil Anak Kembar

Suamiku memberiku Rp45 miliar agar aku menyingkir dan membiarkannya hidup bersama selingkuhannya yang sedang mengandung anak kembar.

Aku tidak menangis.

Aku menandatangani surat cerai itu, meninggalkan cincin pernikahanku di atas meja, lalu pergi.

Suamiku Membayarku Rp45 Miliar Agar Dia Bisa Hidup dengan Selingkuhannya yang Hamil Anak Kembar

Beberapa minggu kemudian, ibu mertuaku tiba-tiba berdiri di depan pintu rumahku dengan wajah pucat dan memohon agar aku kembali.

Aku hanya mengajukan satu pertanyaan.

—Anak kembarnya dalam bahaya… atau kalian akhirnya mengetahui bahwa selama ini aku bukan masalahnya?

Wajahnya seketika kehilangan warna.

Namaku Nadira Prameswari.

Malam ketika pernikahanku selama dua belas tahun berakhir, suamiku meletakkan surat perjanjian perceraian di samping piring makan malamku yang belum kusentuh.

Gerakannya begitu tenang.

Sama seperti ketika ia meletakkan laporan keuangan di meja ruang rapat.

—Rp45 miliar, Nadira.

Raka Mahendra menatapku tanpa berkedip.

—Kamu tanda tangan malam ini. Setelah itu kita menjalani kehidupan masing-masing.

Aku mengangkat kepala perlahan.

Raka mengenakan setelan biru tua yang sempurna. Rambutnya tertata rapi. Jam tangan mahal melingkar di pergelangan tangannya.

Dia sama sekali tidak terlihat seperti seorang pria yang akan mengakhiri pernikahan dua belas tahun.

Dia terlihat seperti direktur perusahaan yang baru saja menyelesaikan akuisisi sebuah properti.

Di ujung meja makan duduk ibunya, Ratna Mahendra.

Sementara di dekat jendela besar rumah kami di Pondok Indah, Jakarta Selatan, berdiri seorang perempuan bernama Citra Anindya.

Mantan kepala hubungan masyarakat jaringan hotel milik keluarga Mahendra.

Usianya dua puluh tujuh tahun.

Usia kandungannya sudah tujuh bulan.

Dan dia sedang mengandung anak kembar perempuan.

Satu tangannya mengusap perut besarnya.

Tangannya yang lain menyentuh sebuah bros mutiara tua yang terpasang di gaunnya.

Aku langsung mengenalinya.

Raka memberikan bros itu kepadaku pada ulang tahun pernikahan kami yang kesepuluh.

Enam bulan kemudian, bros tersebut tiba-tiba menghilang.

Saat kutanyakan, Raka berkata mungkin para pekerja renovasi rumah tidak sengaja membuangnya.

Aku menatap bros itu beberapa detik.

Lalu tersenyum tipis.

—Brosku juga termasuk dalam paket perceraian?

Tangan Citra langsung berhenti.

Dia menunduk.

Rahang Raka mengeras.

—Jangan membuat semuanya lebih sulit, Nadira.

Aku menatapnya.

—Sulit untuk siapa?

Ratna mengetuk dokumen di meja dengan ujung kukunya.

—Kamu seharusnya bersyukur. Rp45 miliar bukan uang sedikit untuk perempuan yang keluar dari pernikahan tanpa pernah memberikan keturunan kepada keluarga Mahendra.

Kalimat itu lagi.

Kalimat yang selama bertahun-tahun digunakan keluarga ini untuk menghancurkan harga diriku.

Aku perempuan yang bermasalah.

Aku istri yang tidak mampu memberikan pewaris.

Selama bertahun-tahun aku menjalani suntikan hormon.

Pemeriksaan.

Obat-obatan.

Prosedur menyakitkan.

Aku duduk sendirian di ruang tunggu klinik fertilitas sementara Raka hampir selalu memiliki alasan yang sama.

Rapat.

Pertemuan investor.

Perjalanan bisnis.

Aku pernah menjalani prosedur medis dan terbangun sendirian.

Raka bahkan tidak datang menjemputku.

Dia mengirim sopir.

Namun setiap kali usaha kami gagal, keluarga Mahendra hanya melihat satu orang untuk disalahkan.

Aku.

Aku membuka dokumen perceraian.

Isinya sangat rinci.

Aku harus melepaskan posisiku di dewan komisaris Mahendra Hospitality Group.

Aku harus meninggalkan rumah di Pondok Indah.

Aku tidak boleh mengajukan tuntutan tambahan terhadap aset keluarga Mahendra.

Aku juga diwajibkan merahasiakan penyebab sebenarnya dari perceraian kami.

Sebagai gantinya:

Rp45 miliar.

Aku membaca halaman terakhir.

Lalu berkata tenang,

—Pengacaraku sudah memeriksanya.

Raka mengernyit.

—Pengacaramu?

Aku mengeluarkan pulpen dari tasku.

—Dokumen ini sudah diterimanya tiga hari lalu.

Untuk pertama kalinya malam itu, ekspresi percaya diri Raka berubah.

Hanya sedikit.

Tetapi aku melihatnya.

Aku menandatangani halaman pertama.

Halaman kedua.

Ketiga.

Kemudian halaman terakhir.

Tidak ada tangan gemetar.

Tidak ada air mata.

Setelah selesai, kulepaskan cincin pernikahan dari jariku.

Cincin yang kupakai selama dua belas tahun.

Aku meletakkannya tepat di atas tanda tanganku.

Citra mengembuskan napas panjang.

Seolah-olah dia baru memenangkan pertandingan yang sebenarnya tidak pernah kuikuti.

Aku berdiri.

—Barang-barangku sudah ada di mobil.

Raka ikut berdiri.

—Apa?

Aku mengambil tas.

—Aku sudah berkemas tiga hari lalu.

—Nadira, tunggu.

Aku hampir tertawa.

Tiga hari lalu dia mengirimkan dokumen perceraian.

Tiga hari pula aku mempersiapkan kepergianku.

Namun entah kenapa, dia masih terkejut melihatku benar-benar pergi.

Ratna menyandarkan tubuhnya di kursi.

Senyumnya dingin.

—Setidaknya pergilah dengan bermartabat. Jangan membuat drama.

Tanganku sudah menyentuh gagang pintu ketika aku berhenti.

Aku berbalik.

—Drama?

Ruangan mendadak sunyi.

—Apakah itu drama ketika aku terbangun sendirian setelah operasi dan Raka hanya menyuruh sopir menjemputku?

Tidak ada yang menjawab.

Aku memandang Ratna.

—Apakah itu drama ketika Ibu mengatakan kepada teman-teman arisan bahwa mungkin Tuhan punya alasan mengapa perempuan tertentu tidak pantas menjadi ibu?

Raka menoleh tajam kepada ibunya.

—Mama pernah mengatakan itu?

Ratna mengangkat dagu.

—Mama hanya—

Aku memotongnya.

—Atau apakah itu drama ketika aku kehilangan kehamilanku sendirian di rumah sakit sementara suamiku mengatakan sedang berada di Surabaya untuk negosiasi pembelian hotel?

Raka membeku.

Wajah Citra berubah.

—Apa yang baru saja kamu katakan? —tanya Raka.

Aku menatapnya.

—Aku pernah hamil.

Raka menggeleng.

—Tidak.

—Delapan minggu.

Dia menatapku seperti baru pertama kali melihatku.

—Nadira…

—Jantungnya sudah berdetak.

Suara Raka berubah.

—Kenapa kamu tidak pernah memberitahuku?

Pertanyaan itu seharusnya menyakitiku.

Dulu mungkin iya.

Tetapi aku sudah menangisi malam itu bertahun-tahun lalu.

Air mataku untuk Raka sudah habis jauh sebelum surat perceraian itu muncul.

—Aku meneleponmu sebelas kali malam itu.

Citra perlahan menutup matanya.

Gerakan kecil itu menjawab pertanyaan yang tidak pernah perlu kuucapkan.

Aku menatapnya.

Kemudian kembali menatap Raka.

—Ponselmu mati karena malam itu kamu bersamanya.

Raka langsung memandang Citra.

—Citra?

Perempuan itu tidak mampu menatapnya.

Ruangan menjadi begitu sunyi sampai suara pendingin udara terdengar jelas.

Aku melanjutkan,

—Kehamilanku berakhir malam itu.

Raka menarik kursi seperti membutuhkan sesuatu untuk menopang tubuhnya.

—Setelah keguguran, dokter menyarankan pemeriksaan lebih lengkap. Termasuk pemeriksaan genetik.

Ratna yang sejak tadi terlihat tenang tiba-tiba menegang.

Hanya sepersekian detik.

Tetapi aku melihatnya.

Dan saat itulah aku tahu sesuatu yang selama bertahun-tahun hanya menjadi kecurigaanku.

Ratna mengetahui sesuatu.

Aku memandang Raka.

—Dokter menemukan kelainan genetik tertentu yang secara signifikan meningkatkan risiko kegagalan kehamilan.

Raka menelan ludah.

—Dari kamu?

Aku tersenyum tipis.

—Bukan.

Aku menatap matanya.

Dari kamu.

Tangan Ratna menyenggol gelas.

Gelas kristal itu jatuh ke lantai.

PRANG!

Pecahannya berserakan di atas marmer.

Semua orang menoleh kepadanya.

Namun aku tidak.

Karena mataku masih tertuju kepada Raka.

Wajahnya perlahan kehilangan warna.

—Apa maksudmu?

Aku meraih tas.

—Persis seperti yang kamu dengar.

—Tapi Citra sedang hamil anak kembar.

Aku memandang perut Citra.

Kemudian kepada Ratna.

—Benar.

Aku berjalan menuju pintu.

Sebelum keluar, aku berhenti sekali lagi.

—Semoga kali ini kalian melakukan pemeriksaan yang seharusnya kalian lakukan sejak awal.

Lalu aku pergi.

Aku tidak tahu bahwa kalimat terakhir itu akan kembali menghantui keluarga Mahendra hanya beberapa minggu kemudian.

Karena pada suatu sore, ketika hujan mengguyur Jakarta, bel rumah baruku berbunyi berkali-kali.

Saat kubuka pintu, Ratna berdiri di sana.

Tidak ada sopir.

Tidak ada tas mahal.

Tidak ada wajah angkuh yang selama dua belas tahun kukenal.

Rambutnya berantakan.

Matanya bengkak.

Tangannya gemetar.

—Nadira…

Aku menatapnya tanpa berkata apa-apa.

Ratna maju satu langkah.

—Kamu harus ikut Mama.

Aku hampir menutup pintu.

Namun kalimat berikutnya membuat tanganku berhenti.

—Ini tentang bayi-bayi Citra.

Aku menatap wajahnya yang pucat.

Lalu bertanya dengan suara pelan,

Anak kembarnya dalam bahaya… atau kalian akhirnya mengetahui bahwa selama ini aku bukan masalahnya?

Ratna tidak mampu menjawab.

Dan dari ekspresinya saja, aku tahu:

mereka akhirnya menemukan sesuatu yang jauh lebih buruk daripada yang pernah kubayangkan.

BAGIAN 2 — RAHASIA YANG DISEMBUNYIKAN SELAMA 32 TAHUN

Ratna tidak menjawab pertanyaanku.

Dia hanya berdiri di depan pintu rumah kontrakanku di Kemang dengan wajah pucat, sementara air hujan menetes dari ujung rambutnya.

Aku belum pernah melihat ibu mertuaku seperti itu.

Selama dua belas tahun mengenalnya, Ratna Mahendra selalu tampak sempurna.

Bahkan ketika ayah Raka meninggal, dia menerima para pelayat dengan kebaya rapi dan punggung tegak.

Namun sore itu, tangannya gemetar.

—Nadira, tolong ikut Mama ke rumah sakit.

Aku tetap berdiri di ambang pintu.

—Kenapa?

Bibirnya bergerak, tetapi tidak ada suara keluar.

—Citra mengalami perdarahan.

Dadaku menegang.

Apa pun yang telah dilakukan perempuan itu kepadaku, aku tidak pernah menginginkan sesuatu terjadi pada bayi-bayinya.

—Bagaimana kondisi mereka?

—Dokter berhasil menghentikannya. Bayinya masih bertahan.

Aku mengembuskan napas perlahan.

—Lalu kenapa Ibu datang mencari saya?

Ratna menatapku.

—Karena dokter melakukan pemeriksaan tambahan.

Aku langsung mengerti.

—Genetik?

Ratna mengangguk.

—Raka juga diperiksa.

Hening.

Suara hujan memenuhi jarak di antara kami.

Kemudian Ratna berbisik,

—Hasilnya sama seperti yang kamu katakan.

Aku tidak merasa puas.

Tidak ada kemenangan.

Hanya rasa lelah.

—Jadi sekarang Ibu percaya?

Ratna menggeleng cepat.

—Bukan hanya itu.

Dia mengeluarkan sebuah amplop dari tasnya.

—Dokter menemukan sesuatu yang lain.

Aku tidak mengambilnya.

—Apa?

Ratna menatapku tepat di mata.

—Kelainan yang dimiliki Raka kemungkinan besar diwariskan dari garis ayah.

Aku mengerutkan kening.

Ayah Raka, Surya Mahendra, sudah meninggal lima tahun lalu.

—Lalu?

Ratna menggigit bibirnya.

—Ayah Raka pernah menjalani pemeriksaan genetik.

Aku terdiam.

—Kapan?

—Tiga belas tahun lalu.

Jantungku seperti berhenti satu detik.

Tiga belas tahun lalu.

Sebelum aku menikahi Raka.

Aku menatap perempuan di depanku.

—Jadi Ibu sudah tahu?

Ratna mulai menangis.

—Nadira…

—IBU SUDAH TAHU?

Suara itu keluar lebih keras daripada yang kuinginkan.

Ratna menutup wajahnya.

Dan untuk pertama kalinya, aku mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang menghantuiku selama bertahun-tahun.

Mereka tahu.

Mereka membiarkanku menjalani semua itu.

Suntikan.

Obat hormon.

Prosedur.

Rasa sakit.

Rasa malu.

Komentar-komentar keluarga.

Malam-malam ketika aku duduk di kamar mandi sambil bertanya apa yang salah dengan tubuhku.

Mereka tahu.

Aku mundur.

—Pergi.

—Nadira, dengarkan dulu—

—Pergi dari rumah saya.

—Ada sesuatu yang lebih besar.

Aku hampir menutup pintu.

Kemudian Ratna berkata,

—Raka bukan anak kandung Surya.

Tanganku berhenti.

Aku menatapnya.

—Apa?

Ratna seperti kehilangan kekuatan di kakinya.

—Raka bukan anak biologis suami Mama.

Aku tidak mengerti.

—Kalau begitu bagaimana kelainan itu bisa—

Ratna menangis semakin keras.

—Itulah masalahnya.

Dia menyerahkan amplop itu kepadaku.

Kali ini aku mengambilnya.

Di dalamnya ada salinan hasil pemeriksaan laboratorium.

Aku membaca beberapa baris.

Kemudian sebuah nama membuatku membeku.

Dr. Hendra Wiratama.

Aku mengenal nama itu.

Bukan karena dia dokter.

Tetapi karena selama hampir dua puluh tahun, Hendra Wiratama merupakan dokter pribadi keluarga Mahendra.

Dia pula yang dulu merekomendasikan klinik fertilitas untukku.

Aku mengangkat kepala.

—Apa hubungannya Dokter Hendra?

Ratna tidak menjawab.

Aku melihat ketakutan di wajahnya.

Dan tiba-tiba aku tidak ingin mengetahui jawabannya.

Namun dia tetap mengatakannya.

—Dia ayah biologis Raka.

Aku menatap Ratna lama sekali.

—Apa?

—Mama melakukan kesalahan ketika masih muda.

Aku menurunkan amplop.

Semua potongan kecil mulai tersusun.

Dokter Hendra.

Pemeriksaan.

Rahasia keluarga.

—Jadi kelainan itu berasal dari Dokter Hendra?

Ratna mengangguk.

—Kami baru mengetahuinya setelah Raka diperiksa lagi.

—Kami?

Ratna menunduk.

—Dokter Hendra masih menyimpan sebagian catatan medis lamanya.

Aku tertawa kecil.

Bukan karena lucu.

Karena aku tidak percaya.

—Luar biasa.

Aku menatap perempuan yang pernah menyebutku perempuan gagal.

—Selama bertahun-tahun Ibu mempermalukan saya karena tidak bisa memberikan keturunan kepada keluarga Mahendra. Padahal anak Ibu sendiri bahkan bukan keturunan biologis keluarga Mahendra.

Ratna memejamkan mata.

Kalimat itu menghantamnya lebih keras daripada teriakan.

Tetapi aku belum selesai.

—Dan yang paling buruk, Ibu tahu ada masalah genetik.

—Mama takut.

—Takut apa?

—Kalau Surya mengetahui semuanya.

Aku menatapnya.

—Jadi untuk menjaga rahasia Ibu, saya yang harus menjadi kambing hitam?

Ratna menangis.

Aku tidak merasa kasihan.

Belum.

—Pulanglah.

—Raka ingin bertemu kamu.

—Saya tidak ingin bertemu dia.

—Dia sudah tahu semuanya.

Aku menatap hujan di belakang Ratna.

Kemudian dia mengatakan sesuatu yang membuatku berubah pikiran.

—Dia juga baru tahu bahwa Mama menyembunyikan hasil pemeriksaanmu bertahun-tahun lalu.

Aku menoleh.

—Menyembunyikan?

Ratna mengangguk.

—Dokter Hendra mengirim hasilnya kepada Mama sebelum kamu menerimanya.

Darahku terasa dingin.

—Kenapa?

Ratna tidak mampu menatapku.

—Mama meminta dia mengubah kesimpulan awal.

Aku tidak langsung memahami kalimat itu.

Kemudian aku memahaminya.

Dan saat itu juga, seluruh tubuhku gemetar.

Bukan karena sedih.

Karena marah.

—Jadi laporan yang mengatakan saya kemungkinan besar penyebab keguguran itu…

Ratna menangis.

—Tidak sepenuhnya benar.

Aku menutup mata.

Dua belas tahun.

Aku membawa rasa bersalah selama hampir dua belas tahun karena sebuah kebohongan.

Aku mengambil mantel.

—Kita ke rumah sakit.


Raka berada di kamar VIP sebuah rumah sakit swasta di Jakarta Selatan ketika aku tiba.

Bukan sebagai pasien.

Dia duduk di kursi dekat jendela.

Setelan mahalnya sudah hilang.

Dia mengenakan kemeja putih kusut.

Ketika melihatku, dia berdiri.

—Nadira.

Aku tidak menjawab.

Citra berada di kamar berbeda untuk observasi.

Bayi-bayinya masih di dalam kandungan dan kondisinya sudah lebih stabil.

Aku berdiri beberapa meter dari Raka.

—Kamu tahu?

Dia mengangguk.

Matanya merah.

—Baru hari ini.

Aku meletakkan salinan laporan di meja.

—Ibumu mengaku mengubah hasil pemeriksaanku.

Raka menunduk.

—Aku tahu.

—Dan?

Dia tidak menjawab.

—Dua belas tahun, Raka.

—Aku tahu.

—Tidak. Kamu tidak tahu.

Aku mendekatinya.

—Kamu tidak tahu rasanya menyuntikkan hormon ke tubuh sendiri setiap malam. Kamu tidak tahu rasanya melihat darah di kamar mandi lalu berpikir tubuhmu baru saja membunuh anakmu sendiri.

Raka menangis.

Aku tetap berbicara.

—Dan kamu tidak tahu rasanya mendengar suamimu berkata, “Kita coba lagi,” lalu lima menit kemudian menerima telepon dari selingkuhannya.

Dia menutup wajah.

—Aku minta maaf.

—Jangan.

Dia menatapku.

—Jangan menggunakan dua kata itu untuk membersihkan dua belas tahun.

Raka mengangguk perlahan.

Kemudian berkata,

—Ada sesuatu yang harus kamu tahu tentang Citra.

Aku diam.

—Anak-anak itu bukan anakku.

Aku mengira salah mendengar.

—Apa?

—Hasil tes menunjukkan aku bukan ayah biologis mereka.

Aku benar-benar tidak bisa berkata-kata.

Raka tertawa getir.

—Lucu, kan?

Tidak.

Sama sekali tidak.

—Siapa ayahnya?

—Aku tidak tahu.

Pintu terbuka.

Citra berdiri di sana dengan wajah pucat, ditemani seorang perawat.

—Aku tahu.

Kami menoleh.

Citra meminta perawat meninggalkannya.

Kemudian dia masuk perlahan.

—Ayah bayi-bayi ini adalah mantan tunanganku.

Raka menatapnya.

—Kamu bilang hubungan itu selesai dua tahun lalu.

—Aku bohong.

Air mata mengalir di wajah Citra.

—Ketika aku mengetahui aku hamil, dia sudah pergi ke luar negeri. Dia tidak mau bertanggung jawab.

Raka berdiri.

—Jadi kamu memilihku?

Citra mengangguk sambil menangis.

—Aku takut.

—Kamu menghancurkan pernikahanku karena kamu takut?

Citra menatapku.

—Tidak.

Aku mengerutkan kening.

—Apa maksudmu?

—Pernikahan kalian sudah hancur sebelum aku datang.

Raka menatap tajam.

Tetapi Citra melanjutkan.

—Aku memang bersalah. Tapi jangan jadikan aku alasan untuk semua yang kamu lakukan kepada Nadira.

Ruangan menjadi sunyi.

Citra menatap Raka.

—Kamu yang mendekatiku. Kamu yang mengatakan pernikahanmu sudah selesai. Kamu yang bilang Nadira hanya tinggal karena uang dan status.

Aku memandang Raka.

Dia tidak membantah.

Citra melepaskan bros mutiara dari bajunya.

Dia berjalan kepadaku.

Tangannya gemetar ketika meletakkannya di telapak tanganku.

—Dia memberikannya kepadaku. Aku tidak tahu ini milikmu.

Aku menatap bros itu.

Benda kecil yang pernah membuatku merasa dikhianati.

Anehnya, sekarang tidak berarti apa-apa.

Aku menutup telapak tanganku lalu mengembalikannya.

—Simpan saja.

Citra terkejut.

—Aku tidak mau.

—Aku juga tidak.

Aku meletakkannya di meja.

Untuk pertama kalinya, benda itu tidak menjadi milik siapa pun.

Seperti pernikahanku.

Sudah selesai.


Tiga bulan kemudian, anak kembar Citra lahir dengan selamat.

Dua perempuan kecil.

Alya dan Aluna.

Mereka membutuhkan pengawasan medis, tetapi tidak mengalami kondisi berat seperti yang sempat dikhawatirkan.

Ayah biologis mereka akhirnya kembali ke Indonesia setelah keluarganya mengetahui keadaan Citra.

Aku tidak tahu apakah hubungan mereka akan berhasil.

Itu bukan urusanku.

Raka tidak menikahi Citra.

Dan aku tidak pernah kembali kepada Raka.

Tetapi ternyata hidup masih menyimpan satu kejutan untukku.

Enam bulan setelah perceraian, aku sedang bekerja di kantor kecil perusahaan konsultasi hotel yang kubangun menggunakan sebagian uang penyelesaian perceraian.

Ponselku berbunyi.

Nomor klinik.

Aku hampir tidak mengangkatnya.

—Bu Nadira?

—Ya.

—Kami sedang melakukan audit arsip lama setelah pergantian manajemen. Kami menemukan sesuatu dari berkas Ibu.

Aku langsung tegang.

—Apa?

—Ada sampel embrio beku yang tercatat atas nama Ibu.

Aku berdiri.

—Tidak mungkin.

Dokter menjelaskan.

Bertahun-tahun sebelumnya, saat menjalani program fertilitas, beberapa embrio telah terbentuk.

Aku diberi tahu semuanya tidak layak berkembang.

Ternyata tidak.

Satu embrio telah dinilai sehat.

Dan berdasarkan pemeriksaan ulang, embrio itu tidak membawa kelainan genetik yang dikhawatirkan.

Tanganku mulai gemetar.

—Kenapa saya tidak pernah diberi tahu?

Hening beberapa detik.

—Catatan menunjukkan ada permintaan penghentian proses dari pihak keluarga.

Aku tahu siapa.

Ratna.

Malam itu aku duduk sendirian sampai matahari terbit.

Aku berusia tiga puluh delapan tahun.

Aku sudah menerima kemungkinan bahwa aku tidak akan pernah menjadi ibu.

Dan sekarang, tiba-tiba, masa lalu mengetuk pintuku lagi.

Namun ada satu masalah.

Embrio itu berasal dariku dan Raka.

Aku meneleponnya.

Kami bertemu di sebuah kafe.

Aku menjelaskan semuanya.

Raka tidak berkata apa-apa selama hampir satu menit.

Kemudian matanya berkaca-kaca.

—Kamu ingin menggunakannya?

—Aku belum tahu.

Dia mengangguk.

—Apa pun keputusanmu, aku akan menandatangani dokumen yang diperlukan.

Aku terkejut.

—Begitu saja?

Raka menatap cangkir kopinya.

—Dulu aku selalu mengira menjadi ayah berarti memiliki anak yang membawa nama Mahendra.

Dia tersenyum pahit.

—Sekarang aku bahkan tidak tahu apa arti nama itu.

Kemudian dia menatapku.

—Tapi kalau embrio itu suatu hari menjadi anak… dia tidak berutang apa pun kepadaku. Dan kamu juga tidak.

Itulah pertama kalinya sejak perceraian aku melihat Raka sebagai manusia yang benar-benar memahami akibat perbuatannya.

Bukan berarti aku memaafkannya.

Tetapi kebencian di dalam diriku mulai terasa terlalu berat untuk terus kubawa.


Setahun kemudian, aku berdiri di depan jendela apartemenku sambil menggendong seorang bayi perempuan.

Namanya Kirana.

Aku memilih nama itu karena berarti cahaya.

Prosesnya tidak mudah.

Aku menjalani banyak pemeriksaan.

Aku memilih menjalani kehamilan dengan pengawasan ketat.

Dan ketika Kirana akhirnya lahir, aku menangis begitu keras sampai dokter mengira aku kesakitan.

Padahal bukan.

Aku menangis karena selama bertahun-tahun seseorang membuatku percaya bahwa tubuhku adalah sebuah kegagalan.

Namun bayi kecil di dadaku tidak membuktikan bahwa aku akhirnya menjadi perempuan yang “sempurna”.

Dia membuktikan sesuatu yang jauh lebih penting.

Bahwa nilai diriku tidak pernah bergantung pada apakah aku bisa menjadi ibu atau tidak.

Kirana bukan hadiah karena aku bertahan.

Dia hanyalah kehidupan baru yang kebetulan mendapat kesempatan kedua.

Raka datang melihatnya sekali.

Dia berdiri di depan pintu kamar rumah sakit dengan tangan kosong.

Tidak membawa bunga.

Tidak membawa hadiah mahal.

—Boleh aku melihatnya?

Aku mengangguk.

Dia mendekati tempat tidur.

Ketika melihat Kirana, bibirnya gemetar.

—Dia mirip kamu.

—Syukurlah.

Raka tertawa kecil sambil menangis.

Kemudian Kirana membuka matanya.

Raka tidak mencoba menggendongnya.

Dia hanya berdiri di sana.

—Nadira…

Aku menatapnya.

—Terima kasih karena memberinya kesempatan hidup.

Aku menggeleng.

—Jangan berterima kasih kepadaku. Jadilah orang yang suatu hari pantas dia kenal.

Raka mengangguk.

Sebelum pergi, dia berhenti di pintu.

—Aku dulu memberimu Rp45 miliar karena kupikir uang bisa membeli jalan keluar dari sebuah kesalahan.

Aku tidak berkata apa-apa.

—Ternyata uang itu justru membayar kebebasanmu dariku.

Aku tersenyum tipis.

—Itu satu-satunya investasi bagus yang pernah kamu buat untukku.

Dia tertawa kecil.

Kemudian pergi.


Ratna tidak bertemu Kirana selama hampir setahun.

Bukan karena aku melarangnya.

Dia sendiri tidak berani meminta.

Sampai pada ulang tahun pertama Kirana, sebuah paket tiba.

Tidak ada perhiasan.

Tidak ada barang mahal.

Hanya sebuah kotak kayu kecil.

Di dalamnya ada puluhan surat.

Satu surat untuk setiap ulang tahun Kirana sampai usia dua puluh satu.

Di bagian paling atas ada surat untukku.

Aku membukanya.

Tulisan tangan Ratna tidak lagi serapi dulu.

Nadira,
aku menghabiskan sebagian besar hidupku melindungi nama keluarga sampai lupa melindungi manusia di dalamnya.

Aku menyebutmu gagal karena aku terlalu pengecut mengakui kegagalanku sendiri.

Aku tidak meminta menjadi nenek Kirana. Hak itu bukan milikku.

Aku hanya ingin dia suatu hari tahu bahwa neneknya pernah melakukan kesalahan besar, dan akhirnya belajar bahwa cinta yang membutuhkan kebohongan untuk bertahan bukanlah cinta.

Aku berhenti membaca.

Ada satu kalimat terakhir.

Kalau suatu hari Kirana bertanya siapa yang menyelamatkan keluarga ini, jangan katakan Raka. Jangan katakan aku. Katakan ibunya menyelamatkan dirinya sendiri dengan berani pergi.

Aku menangis.

Bukan untuk pernikahanku.

Bukan untuk Raka.

Bahkan bukan untuk Ratna.

Aku menangisi Nadira yang dulu.

Perempuan yang duduk sendirian di ruang tunggu rumah sakit dan percaya dirinya kurang.

Aku berharap bisa kembali kepadanya.

Memeluknya.

Dan berkata:

“Tidak ada yang salah denganmu.”

Kirana mulai menangis dari kamar.

Aku menyeka air mata dan berjalan menghampirinya.

Di dinding ruang tamu tidak ada foto keluarga Mahendra.

Tidak ada bros mutiara.

Tidak ada cincin pernikahan.

Hanya sebuah foto sederhana.

Aku menggendong Kirana setelah kelahirannya.

Wajahku lelah.

Rambutku berantakan.

Mataku bengkak.

Namun aku tersenyum.

Di bawah foto itu kusimpan satu benda dari kehidupan lamaku.

Salinan perjanjian perceraian.

Bukan karena aku masih marah.

Tetapi karena suatu hari, ketika Kirana sudah cukup dewasa, aku ingin menunjukkan kepadanya dan berkata:

—Dulu seseorang memberiku Rp45 miliar agar aku pergi dari hidupnya.

Lalu aku akan menunjuk foto kami.

—Dia mengira hari itu aku kehilangan keluarga.

Aku akan tersenyum.

—Padahal hari itu adalah pertama kalinya aku mulai membangun keluarga yang tidak memintaku menghancurkan diriku sendiri agar pantas dicintai.

Dan mungkin itulah kejutan terbesar dari semuanya.

Aku dulu berpikir kisahku berakhir ketika suamiku memilih perempuan lain.

Ternyata tidak.

Kisahku baru dimulai ketika untuk pertama kalinya aku memilih diriku sendiri.