Suamiku Merayakan Kematianku—Tanpa Tahu Aku Berdiri di Luar Jendela dan Merekam Semuanya

Avatar penulis
Cerita 04
21 menit baca 851 tayangan
Suamiku Merayakan Kematianku—Tanpa Tahu Aku Berdiri di Luar Jendela dan Merekam Semuanya
Indeks

Suamiku Merayakan Kematianku—Tanpa Tahu Aku Berdiri di Luar Jendela dan Merekam Semuanya

Entah karena keberuntungan atau karena Tuhan belum mengizinkanku pergi, aku berhasil selamat dari kecelakaan itu.

Ketika akhirnya aku pulang dalam keadaan basah kuyup, pakaian penuh lumpur, dan kaki lecet karena berjalan berjam-jam, aku mendengar suara suamiku bersulang bersama keluarganya.

—Remnya putus. Sekarang semuanya akan jadi milik kita.

Aku tidak menerobos masuk.

Aku tidak berteriak.

Aku bahkan tidak mengetuk pintu.

Suamiku Merayakan Kematianku—Tanpa Tahu Aku Berdiri di Luar Jendela dan Merekam Semuanya

Aku hanya berdiri diam di luar rumah, mengeluarkan ponsel cadanganku, lalu merekam setiap kata yang mereka ucapkan tentang uang asuransi jiwaku senilai Rp16 miliar.

Mereka mengira istri yang selama ini mereka anggap lemah sudah mati.

Yang tidak mereka ketahui adalah…

akulah orang yang sebenarnya memegang kendali atas hampir seluruh uang yang selama ini menopang hidup mereka.


—Kalau kamu terus mengemudi, kita tidak akan selamat melewati tikungan berikutnya!

Perempuan tua di sampingku mencengkeram pergelangan tanganku.

Namanya Bu Sari.

Usianya sekitar tujuh puluh tahun. Aku menemukannya berjalan sendirian di pinggir jalan ketika hujan deras mengguyur kawasan Sentul, Bogor.

Aku berhenti karena tidak tega melihatnya kehujanan.

Sekarang hujan menghantam kaca depan mobil pikap tua milik suamiku begitu keras hingga wiper hampir tidak mampu membersihkan pandangan.

Jalan menurun di depan kami licin.

Pikap mulai bergeser ke samping.

—Lepaskan tangan saya! —teriakku panik.— Kita bisa keluar jalur!

Aku menginjak pedal rem sekuat tenaga.

Pedalnya langsung amblas sampai hampir menyentuh lantai.

Tidak ada tekanan.

Tidak ada perlambatan.

Tidak ada apa-apa.

Jantungku serasa berhenti.

Aku menarik rem tangan sambil memutar setir.

Ban belakang kehilangan traksi.

Mobil berputar.

Bu Sari menjerit.

Aku melihat pembatas jalan semakin dekat.

Di baliknya terdapat lereng curam yang turun puluhan meter.

Pikap akhirnya berhenti miring hanya beberapa langkah dari tepi jalan.

Tanganku gemetar hebat.

Untuk beberapa detik, aku bahkan tidak bisa bernapas.

Bu Sari justru menoleh ke arah bawah dashboard.

Wajahnya berubah.

—Nduk… keluar dari mobil sekarang.

—Kenapa?

—Saya mencium bau minyak rem.

Aku menatapnya.

—Apa?

—Keluar dulu. Cepat.

Nada suaranya membuatku tidak berani membantah.

Aku membuka pintu, lalu membantu Bu Sari turun.

Kami berjalan menuju bagian jalan yang lebih tinggi dan berlindung di dekat tebing berbatu.

Belum sampai satu menit kemudian, suara klakson panjang terdengar dari arah tikungan.

Sebuah truk pengiriman besar muncul dari balik hujan.

Pengemudinya kehilangan kendali.

—Minggir! —teriakku.

Kami merapat ke batu.

Truk itu menghantam bagian belakang pikapku.

Benturannya begitu keras hingga pikap terdorong melewati pembatas jalan.

Aku hanya bisa menatap ketika kendaraan itu jatuh ke jurang.

Beberapa detik kemudian…

BRAK!

Cahaya api muncul dari bawah.

Asap hitam perlahan naik di tengah hujan.

Lututku langsung lemas.

Kalau Bu Sari tidak memaksaku keluar…

aku masih berada di dalam kendaraan itu.

Dan pada saat itulah sebuah pikiran mengerikan muncul di kepalaku.

Pagi tadi, suamiku, Arga Mahendra, bersikeras agar aku pergi sendiri mengecek salah satu gudang lama perusahaan di Bogor.

—Pakai pikap lama saja, Nadira. Sudah aku suruh periksa. Kondisinya aman.

Aku masih ingat senyumnya ketika menyerahkan kunci.

—Hati-hati kalau lewat jalan menurun. Lagi musim hujan.

Saat itu aku tidak curiga.

Tetapi tiga hari sebelumnya, Arga tiba-tiba bertanya sesuatu yang tidak biasa.

—Dokumen asuransi jiwa kamu disimpan di mana?

Aku tertawa.

—Kenapa tiba-tiba tanya begitu?

—Cuma memastikan dokumen keluarga kita rapi.

Nilai polis itu…

Rp16 miliar.

Tubuhku terasa lebih dingin daripada hujan yang membasahi bajuku.

Aku merogoh tas dan mengambil ponsel.

Ada empat panggilan tak terjawab dari Arga.

Tidak lama kemudian, dia menelepon lagi.

Aku menjawab.

—Halo?

—Nadira! Kamu di mana? Aku dari tadi telepon! Aku khawatir setengah mati!

Nada suaranya terdengar panik.

Tetapi setelah delapan tahun menikah dengannya, aku mengenal setiap perubahan kecil dalam suaranya.

Panik itu terdengar…

terlalu sempurna.

Seperti sudah dilatih.

Aku menarik napas.

Lalu sebuah ide muncul.

—Arga… —kataku dengan suara gemetar.— Remnya… remnya tidak berfungsi…

Di ujung sana dia terdiam.

Hanya sepersekian detik.

Tapi aku mendengarnya.

Lalu dia berseru,

—Apa?! Nadira, dengarkan aku! Kamu di mana?!

Aku sengaja membuat napasku terdengar kacau.

—Aku… mobilnya… aku tidak bisa…

Lalu aku menjerit.

Dan mematikan telepon.

Setelah itu, aku tidak mengaktifkan ponsel utama lagi.

Bu Sari membawaku menuju sebuah warung kecil tidak jauh dari jalan utama.

Pemilik warung membantuku membersihkan luka di telapak kaki dan menghubungi kerabat Bu Sari.

Aku menolak ketika mereka menawarkan untuk membawa aku ke rumah sakit.

Aku hanya meminta satu hal.

Tumpangan sejauh mungkin menuju Jakarta.

Aku harus memastikan sesuatu.

Beberapa jam kemudian, setelah berganti kendaraan dua kali dan berjalan cukup jauh karena jalan macet akibat hujan, aku akhirnya sampai di depan rumahku di Pondok Indah, Jakarta Selatan.

Aku basah kuyup.

Celana panjangku kotor terkena lumpur.

Telapak kakiku lecet.

Tanganku masih gemetar.

Aku hanya ingin membuka pintu dan melihat wajah Arga.

Tetapi sebelum tanganku menyentuh pagar…

aku mendengar musik.

Aku berhenti.

Dari dalam rumah terdengar suara orang tertawa.

Kemudian…

pop!

Suara botol sampanye dibuka.

Aku berdiri membeku.

Suamiku mengira aku baru saja jatuh ke jurang.

Mengapa ada pesta di rumahku?

Aku berjalan perlahan mengitari sisi rumah.

Lampu ruang keluarga menyala terang.

Tirai samping tidak tertutup sempurna.

Aku mendekat.

Dan melihat ke dalam.

Apa yang kulihat membuat rasa sakit di kakiku seketika menghilang.

Arga duduk santai di sofa.

Dan di pangkuannya duduk Rani Kusuma.

Sahabat terbaikku.

Perempuan yang menjadi pendamping pengantinku saat kami menikah.

Perempuan yang datang ke rumah ketika aku sakit.

Perempuan yang selama tiga tahun terakhir hampir setiap minggu menelepon hanya untuk bertanya,

—Kamu baik-baik saja, Nad?

Sekarang lengannya melingkari leher suamiku.

Di ruangan itu juga ada kakak Arga dan dua kerabat dekatnya.

Di atas meja terdapat makanan, beberapa gelas, dan sebuah botol sampanye.

Mereka sedang merayakan sesuatu.

Rani tertawa.

—Waktu kamu pura-pura panik di telepon tadi, aku hampir tidak bisa menahan tawa.

Tubuhku membeku.

Arga tersenyum.

Lalu mengangkat gelasnya.

—Aku sendiri yang membuat selang remnya bocor.

Aku merasa seluruh dunia berhenti bergerak.

Arga melanjutkan,

—Dengan hujan sebesar tadi, polisi pasti menganggapnya kecelakaan. Mobil tua, jalan licin, jurang. Selesai.

Kakaknya bertanya,

—Kamu yakin dia benar-benar jatuh?

Arga tertawa kecil.

—Aku dengar dia menjerit sebelum telepon terputus.

Mereka semua tertawa.

Aku menutup mulut dengan tangan agar tidak mengeluarkan suara.

Arga mengangkat gelas lebih tinggi.

—Begitu Nadira resmi dinyatakan meninggal, aku akan mengurus klaim asuransi.

Rani tersenyum.

—Rp16 miliar.

—Betul.

Arga mencium pipinya.

—Cukup untuk menyelamatkan perusahaan, membayar seluruh utang, menjual rumah ini, lalu kita pindah ke Eropa seperti yang kita rencanakan.

Rani mencium bibirnya.

Kemudian dia mengatakan sesuatu yang jauh lebih menyakitkan daripada kecelakaan tadi.

—Akhirnya. Tiga tahun pura-pura jadi sahabat si yatim piatu polos itu tidak sia-sia.

Dadaku seperti dihantam benda berat.

Tiga tahun.

Berarti perselingkuhan mereka bukan sesuatu yang baru.

Selama tiga tahun, perempuan itu duduk di meja makanku.

Memelukku ketika aku menangis.

Mendengar keluhanku tentang pernikahanku.

Bahkan pernah berkata,

—Arga beruntung punya istri seperti kamu.

Dan sepanjang waktu itu…

dia tidur dengan suamiku.

Aku memandang Arga melalui kaca.

Laki-laki yang selama delapan tahun kubangunkan sarapan.

Yang kubantu ketika bisnisnya hampir bangkrut.

Yang harga dirinya selalu kujaga karena dia merasa tidak nyaman menikah dengan perempuan yang berasal dari keluarga jauh lebih berada.

Aku sengaja hidup sederhana.

Jarang memakai barang mewah.

Tidak pernah membicarakan aset keluargaku.

Bahkan ketika perusahaannya hampir tutup, aku memastikan bantuan datang melalui berbagai perusahaan investasi agar Arga tidak merasa sedang hidup dari uang istrinya.

Aku mengira sedang menjaga harga dirinya.

Ternyata…

aku hanya sedang membiayai laki-laki yang merencanakan kematianku.

Tanganku merogoh tas.

Aku mengambil ponsel kedua yang hampir tidak pernah diketahui siapa pun.

Aku menyalakan kamera.

Lalu merekam.

Setiap kata.

Setiap tawa.

Setiap pengakuan.

Arga kembali berbicara.

—Begitu akta kematiannya keluar, semuanya beres.

Kakaknya tertawa.

—Rumah ini juga jadi milikmu?

Arga mengangguk percaya diri.

—Tentu saja. Aku suaminya.

Aku hampir tertawa mendengarnya.

Kasihan sekali.

Mereka benar-benar tidak tahu.

Ada satu hal besar yang bahkan Arga tidak pernah pahami sepenuhnya tentang istrinya.

Nama lengkapku adalah Nadira Prameswari Mahendra.

Sebelum menikah, orang mengenalku sebagai Nadira Prameswari.

Tetapi hampir tidak ada orang di lingkungan Arga yang mengetahui bahwa keluarga Prameswari bukan sekadar keluarga kaya.

Ayahku adalah pendiri Prameswari Group, sebuah konglomerasi yang memiliki perusahaan di bidang properti, logistik, perkebunan, investasi, dan pergudangan.

Setelah ayah dan ibuku meninggal, publik diberi tahu bahwa pengelolaan perusahaan dipegang oleh jajaran direksi profesional.

Itu memang benar.

Tetapi ada satu fakta yang tidak pernah dipublikasikan.

Aku adalah pemegang saham pengendali Prameswari Group.

Dan sejak dua tahun lalu…

aku juga menjadi ketua dewan yang bekerja sepenuhnya di balik layar.

Lebih ironis lagi?

Perusahaan Arga masih berdiri hanya karena tiga perusahaan anak milik Prameswari Group terus memberikan proyek kepadanya.

Pinjaman yang menyelamatkan perusahaannya tahun lalu?

Uangku.

Kontrak distribusi yang dibanggakan Arga kepada semua temannya?

Aku yang menyetujuinya.

Gudang yang dipakai perusahaannya dengan tarif sangat murah?

Milik salah satu anak perusahaanku.

Bahkan rumah Pondok Indah tempat mereka sekarang merayakan kematianku…

tidak pernah menjadi milik Arga.

Rumah itu dimiliki oleh perusahaan keluarga melalui sebuah trust.

Dia bahkan tidak tercatat sebagai pemilik.

Dan polis asuransi senilai Rp16 miliar yang ingin mereka perebutkan?

Arga memang tercatat sebagai penerima manfaat.

Tapi hanya jika kematianku terbukti bukan akibat tindakan kriminal yang melibatkannya.

Aku menatap layar ponsel.

Video sudah merekam hampir sembilan menit.

Cukup.

Lebih dari cukup.

Aku membuka aplikasi pesan terenkripsi dan mencari satu nama.

Dimas Santoso.

Pengacara keluarga sekaligus direktur kepercayaan yang menangani hampir seluruh aset pribadiku.

Aku mengetik:

Pak Dimas, mulai malam ini bekukan seluruh fasilitas, kontrak, dan akses keuangan yang berhubungan dengan Arga Mahendra dan perusahaannya. Jangan beri penjelasan kepada siapa pun sampai saya menghubungi Anda lagi.

Aku berhenti.

Lalu menambahkan satu kalimat.

Anggap Nadira Mahendra sudah meninggal malam ini. Yang akan kembali besok adalah Nadira Prameswari.

Pesan terkirim.

Kurang dari satu menit kemudian, tiga titik muncul.

Balasannya singkat.

Dipahami, Bu Nadira. Akan saya jalankan sekarang.

Aku memasukkan ponsel kembali ke tas.

Di dalam rumah, Arga menarik Rani mendekat dan menciumnya.

Semua orang tertawa.

Mereka mengangkat gelas.

—Untuk hidup baru! —kata Rani.

Arga tersenyum lebar.

—Untuk kebebasan.

Aku berdiri di luar jendela dalam hujan, melihat suamiku bersulang untuk kematianku.

Anehnya…

aku tidak lagi ingin menangis.

Karena mereka masih mengira malam itu adalah awal dari kehidupan baru mereka.

Mereka tidak tahu kartu kredit perusahaan Arga akan berhenti berfungsi sebelum tengah malam.

Mereka tidak tahu tiga kontrak terbesar perusahaannya akan dibekukan pada pagi hari.

Mereka tidak tahu pihak bank akan menerima pemberitahuan audit darurat.

Dan yang paling penting…

mereka tidak tahu bahwa perempuan yang mereka coba bunuh masih berdiri kurang dari lima meter dari mereka.

Hidup.

Merekam semuanya.

Dan siap pulang bukan sebagai istri lemah yang bisa mereka manfaatkan…

melainkan sebagai perempuan yang memiliki kekuasaan untuk meruntuhkan seluruh kebohongan mereka.

Aku mundur perlahan dari jendela.

Untuk pertama kalinya malam itu, aku tersenyum.

Karena Arga benar tentang satu hal.

Malam itu memang ada seseorang yang mati.

Tetapi bukan aku.

Yang mati adalah Nadira yang selama bertahun-tahun mencintainya tanpa syarat.

Dan besok pagi…

Arga akan bertemu dengan perempuan yang menggantikannya.

 

BAGIAN 2

Aku tidak pulang ke rumah malam itu.

Setelah meninggalkan halaman belakang, aku berjalan dua blok dalam hujan sebelum sebuah mobil hitam berhenti di depanku.

Pak Dimas turun sendiri.

Begitu melihat kondisiku, wajahnya langsung berubah.

—Bu Nadira…

—Jangan tanya dulu.

Aku masuk ke mobil.

Tanganku masih menggenggam ponsel kedua.

—Saya punya rekamannya.

Pak Dimas tidak bertanya lebih jauh.

Dia hanya menyalakan pemanas, memberikan jaketnya kepadaku, lalu berkata,

—Kita langsung ke kantor aman.

Di tengah perjalanan, aku menyerahkan ponsel kepadanya.

Dia memasang earphone.

Sepuluh menit kemudian, wajahnya mengeras.

—Pengakuan langsung.

Aku mengangguk.

—Termasuk Arga mengaku merusak selang rem.

Pak Dimas menatapku.

—Kalau begitu kita tidak hanya bicara soal perceraian atau penipuan.

Aku memandang hujan di luar jendela.

—Saya tahu.

—Ini percobaan pembunuhan.

Kata itu terasa berat.

Tetapi anehnya, untuk pertama kalinya malam itu, aku tidak merasa takut.

Aku merasa marah.

Bukan marah karena Arga memilih Rani.

Bukan bahkan karena mereka berpesta setelah mengira aku mati.

Aku marah karena selama bertahun-tahun aku mengecilkan diriku agar seorang laki-laki merasa besar.

Aku menahan diri untuk tidak menyebut nama keluargaku di depan teman-temannya.

Aku datang ke acara bisnisnya dengan gaun sederhana.

Aku menolak menggunakan sopir keluarga.

Aku bahkan membiarkan orang mengira aku hanya istri yang “beruntung menikah dengan pengusaha”.

Dan balasannya?

Dia mencoba membunuhku demi uang yang pada dasarnya bahkan berasal dari keluargaku sendiri.

Begitu tiba di salah satu apartemen milik perusahaan di Kuningan, Pak Dimas langsung menghubungi kepala keamanan internal Prameswari Group.

Kami tidak membuang waktu.

Rekaman diperbanyak.

Riwayat keuangan diperiksa.

Dokumen perusahaan Arga dibuka kembali.

Dan sebelum matahari terbit, sesuatu yang jauh lebih buruk ditemukan.

Arga bukan hanya bangkrut.

Dia telah memindahkan uang dari perusahaannya ke tiga rekening berbeda selama hampir dua tahun.

Sebagian dikirim ke rekening atas nama Rani.

Sebagian lagi digunakan untuk membayar vila di Bali, tiket pesawat, perhiasan, dan uang muka sebuah apartemen di Barcelona.

Pak Dimas meletakkan hasil cetak transaksi di meja.

—Mereka benar-benar berencana pergi.

Aku melihat salah satu transfer.

Rp1,8 miliar.

Ke rekening Rani.

Tiga bulan lalu.

Pada tanggal yang sama ketika Rani datang ke rumahku sambil membawa kue ulang tahun dan berkata,

“Semoga kamu dan Arga selalu bahagia.”

Aku tertawa kecil.

Bukan karena lucu.

Kadang-kadang hati yang sudah terlalu sakit memang tidak punya reaksi lain.

—Berikan semua ini kepada polisi.

Pak Dimas mengangguk.

—Ada satu lagi.

Dia menggeser sebuah berkas ke arahku.

Aku membuka halaman pertama.

Lalu tubuhku membeku.

Itu salinan permohonan pinjaman dengan jaminan aset.

Di bagian tanda tangan tertulis namaku.

Nadira Prameswari Mahendra.

Tapi aku tidak pernah menandatanganinya.

—Ini palsu.

—Kami juga yakin begitu.

—Berapa?

—Hampir Rp27 miliar.

Aku menatap Pak Dimas.

—Arga memalsukan tanda tangan saya?

—Sepertinya dilakukan beberapa kali.

Aku memejamkan mata.

Tiba-tiba semuanya menjadi jelas.

Pertanyaan soal polis asuransi.

Desakan agar aku menggunakan pikap.

Rencana pindah ke Eropa.

Arga tidak hanya ingin uang asuransi.

Dia butuh kematianku untuk mengubur pemalsuan tanda tangan itu.

Kalau aku mati, dia mungkin berharap tidak ada orang yang akan menggugat dokumen-dokumen tersebut.

Aku membuka mata.

—Kita jangan tangkap mereka dulu.

Pak Dimas menatapku.

—Bu Nadira?

—Saya ingin mereka yakin rencananya berhasil.

—Kenapa?

Aku berdiri.

—Karena kalau mereka merasa aman, mereka akan melakukan kesalahan lagi.

Dan mereka memang melakukannya.

Pagi itu, berita tentang kecelakaan di jalan Sentul mulai beredar.

Sebuah kendaraan jatuh ke jurang dan terbakar.

Identitas pengemudi belum dikonfirmasi.

Mobil terdaftar atas nama salah satu perusahaan Arga.

Pihak berwenang masih melakukan pemeriksaan.

Arga langsung menghubungi rumah sakit, polisi, bahkan beberapa media lokal.

Dia berakting seperti suami putus asa.

Menurut laporan yang kemudian kuterima, dia bahkan menangis di depan petugas.

Rani datang ke rumah dengan mengenakan pakaian gelap.

Tetangga melihatnya memeluk Arga.

Betapa mengharukan.

Sekitar pukul sepuluh pagi, masalah pertama mereka muncul.

Kartu perusahaan Arga ditolak.

Dua jam kemudian, salah satu klien terbesar membatalkan jadwal pengiriman.

Menjelang sore, bank meminta klarifikasi atas audit mendadak.

Arga menelepon kepala keuangannya sebanyak belasan kali.

Lalu menelepon Pak Dimas.

Aku sedang duduk di seberang Pak Dimas saat telepon itu masuk.

Dia menyalakan speaker.

—Pak Dimas! Ada masalah besar. Beberapa perusahaan Prameswari tiba-tiba menghentikan pembayaran.

Pak Dimas menjawab tenang.

—Kami sedang melakukan evaluasi.

—Evaluasi apa? Sekarang bukan waktunya! Istri saya kemungkinan meninggal!

Aku hampir tersenyum.

Pak Dimas berkata,

—Saya turut prihatin.

Arga mengembuskan napas keras.

—Nadira pernah bilang keluarga Prameswari kenal dengan Anda. Tolong bantu saya bicara dengan mereka.

Aku menatap Pak Dimas.

Dia menjawab,

—Saya rasa dalam waktu dekat Anda akan berbicara langsung dengan pihak yang paling berkepentingan.

Arga tidak memahami kalimat itu.

—Maksudnya?

—Nanti Anda akan tahu.

Telepon ditutup.

Malam berikutnya, polisi sudah memiliki salinan rekaman.

Aku juga memberikan keterangan secara diam-diam.

Bu Sari ikut diperiksa sebagai saksi.

Dia menceritakan bagaimana rem gagal, bagaimana dia mencium minyak rem, dan bagaimana truk kemudian mendorong kendaraan kami ke jurang.

Pemeriksaan mekanis terhadap puing kendaraan menemukan sesuatu yang sangat penting.

Selang rem memang rusak.

Bukan karena usia.

Bukan karena benturan.

Ada tanda potongan pada bagian tertentu.

Bukti fisik.

Rekaman suara.

Riwayat transaksi.

Pemalsuan dokumen.

Kami sudah punya semuanya.

Tetapi masih ada satu hal yang menggangguku.

Bu Sari.

Saat kami pertama kali bertemu, dia berjalan sendirian di tengah hujan deras di jalan yang hampir tidak dilewati pejalan kaki.

Kenapa?

Dua hari setelah kecelakaan, aku menemuinya.

Dia sedang tinggal sementara di rumah keponakannya di Bogor.

Begitu melihatku, dia tersenyum.

—Akhirnya kamu datang.

Aku duduk di depannya.

—Bu Sari… saya harus bertanya sesuatu.

—Tentang kenapa saya ada di jalan itu malam tersebut?

Aku terdiam.

Dia tersenyum tipis.

Lalu berjalan ke sebuah lemari kecil.

Dari dalamnya, dia mengeluarkan kotak kayu tua.

Dia meletakkannya di hadapanku.

—Buka.

Di dalamnya ada beberapa foto lama.

Salah satu foto menunjukkan seorang pria muda berdiri di depan gudang kecil bersama beberapa pegawai.

Aku langsung mengenalinya.

Ayahku.

Dadaku sesak.

—Ini… Ayah saya.

Bu Sari mengangguk.

—Namanya Pak Surya Prameswari.

Aku menatapnya.

—Anda mengenal Ayah?

Air mata memenuhi matanya.

—Saya pernah bekerja untuk beliau.

Aku tidak bisa bicara.

Bu Sari menunjuk seorang perempuan muda di foto.

—Itu saya.

Ternyata puluhan tahun lalu, ketika Prameswari Group masih kecil, Bu Sari bekerja sebagai staf administrasi di gudang pertama ayahku.

Suaminya meninggal ketika anak mereka masih kecil.

Dia hampir kehilangan rumah.

Ayahku diam-diam membantu membayar utangnya dan memberi beasiswa sekolah kepada putranya.

—Ayahmu pernah bilang kepada saya, “Kalau suatu hari Ibu melihat anak saya dalam kesulitan dan saya sudah tidak ada, tolong jangan biarkan dia sendirian.”

Tanganku mulai gemetar.

—Tapi bagaimana Ibu tahu saya akan lewat jalan itu?

Wajah Bu Sari berubah serius.

—Saya tidak tahu.

Dia menarik napas.

—Saya sedang menunggu keponakan saya setelah bus yang saya tumpangi berhenti karena masalah mesin. Saya berjalan mencari tempat berteduh. Lalu kamu berhenti.

Aku menatapnya lama.

Jadi bukan jebakan.

Bukan rencana.

Bukan seseorang yang dikirim menyelamatkanku.

Hanya sebuah kebetulan yang hampir mustahil.

Bu Sari menyentuh tanganku.

—Saya baru sadar kamu anak Pak Surya setelah melihat nama lengkapmu di kartu yang jatuh dari tasmu.

Air mataku jatuh.

Selama dua hari terakhir aku merasa sendirian.

Orang tuaku telah meninggal bertahun-tahun lalu.

Suamiku ingin membunuhku.

Sahabatku mengkhianatiku.

Namun di tengah badai, seorang perempuan yang pernah ditolong ayahku puluhan tahun lalu justru menjadi orang yang menyelamatkan hidupku.

Bu Sari tersenyum sambil menangis.

—Mungkin kebaikan memang selalu menemukan jalan pulang, Nduk.

Untuk pertama kalinya sejak kecelakaan, aku benar-benar menangis.

Bukan karena Arga.

Bukan karena Rani.

Aku menangis karena rindu kepada ayahku.

Tiga hari kemudian, saatnya mengakhiri semuanya.

Arga mengadakan pertemuan keluarga di rumah Pondok Indah.

Dia mengundang notaris, pengacara pribadi, dan beberapa kerabat.

Alasannya?

Mereka ingin mulai mengurus asetku.

Cepat sekali.

Tubuhku bahkan belum “ditemukan”.

Aku berdiri di dalam mobil bersama Pak Dimas dan dua penyidik.

—Siap? —tanya Pak Dimas.

Aku mengangguk.

Pintu rumah terbuka.

Aku masuk.

Percakapan di ruang keluarga langsung berhenti.

Gelas jatuh dari tangan seseorang.

Rani berdiri begitu cepat hingga kursinya hampir terbalik.

Wajah Arga memutih.

Dia menatapku seperti melihat hantu.

—Na… Nadira?

Aku melepaskan kacamata hitamku.

—Halo, Arga.

Dia mundur satu langkah.

—Kamu…

—Masih hidup?

Tidak ada yang menjawab.

Aku berjalan ke tengah ruangan.

—Maaf mengecewakan pesta kalian.

Rani mulai menangis.

—Nadira, aku bisa jelaskan—

Aku menatapnya.

—Jelaskan tiga tahun tidur dengan suamiku atau jelaskan kenapa kamu menerima transfer Rp1,8 miliar tiga bulan lalu?

Mulutnya terbuka.

Tidak ada suara keluar.

Arga tiba-tiba bergerak mendekat.

—Sayang, dengarkan aku. Semua ini salah paham.

Aku tertawa.

—Salah paham?

Aku mengeluarkan ponsel.

Lalu memutar rekaman.

Suara Arga memenuhi ruangan.

“Aku sendiri yang membuat selang remnya bocor.”

Wajah ibunya berubah pucat.

Suara berikutnya terdengar.

“Begitu Nadira resmi dinyatakan meninggal, aku akan mengurus klaim asuransi.”

Rani mulai terisak.

Arga hanya berdiri seperti patung.

Aku menghentikan rekaman.

—Masih salah paham?

Dia berbalik seolah hendak pergi.

Dua penyidik masuk dari pintu.

—Pak Arga Mahendra, mohon tetap di tempat.

Kepanikan pecah.

Ibunya berteriak.

Kakaknya mencoba menelepon seseorang.

Rani memohon sambil menangis.

Arga menatapku dengan kebencian.

—Kamu menjebak aku.

Aku mendekat.

—Tidak.

Aku menatap tepat ke matanya.

—Aku hanya selamat.

Dia menggertakkan gigi.

—Kamu pikir kamu menang? Perusahaanku punya aset. Aku bisa bangkit.

Aku tersenyum.

Inilah saat yang selama ini kutunggu.

—Perusahaanmu?

Aku mengeluarkan sebuah berkas.

—Gudangmu milik Prameswari Logistics.

Berkas kedua.

—Tiga kontrak terbesarmu berasal dari anak perusahaan Prameswari Group.

Berkas ketiga.

—Pinjaman yang menyelamatkan bisnismu dua tahun lalu berasal dari dana investasi keluargaku.

Arga menatapku tanpa berkedip.

Aku melanjutkan,

—Dan rumah yang kamu pikir akan kamu warisi setelah aku mati?

Aku menoleh ke sekitar ruang keluarga.

—Milik trust keluarga Prameswari.

Rani memandang Arga.

—Kamu bilang rumah ini milikmu.

Aku hampir tertawa.

Arga tidak menjawab.

Aku mengeluarkan satu dokumen terakhir.

—Dan mengenai Rp16 miliar dari polis asuransi…

Aku meletakkannya di atas meja.

—Ada klausul kriminal. Kalau penerima manfaat terlibat dalam kematian tertanggung, dia kehilangan hak atas klaim.

Aku menatapnya.

—Jadi bahkan kalau rencanamu berhasil dan aku benar-benar mati, kamu tidak akan mendapatkan uang itu.

Wajah Arga runtuh.

Tetapi kejutan terbesar belum selesai.

Pak Dimas masuk membawa map merah.

—Bu Nadira, hasil pemeriksaan tanda tangan sudah keluar.

Aku membukanya.

—Pemalsuan terkonfirmasi.

Arga menelan ludah.

Ibunya menatapnya.

—Pemalsuan apa?

Aku menoleh kepada wanita yang selama bertahun-tahun menganggapku tidak cukup baik untuk anaknya.

—Anak Ibu menggunakan tanda tangan saya untuk memperoleh pinjaman hampir Rp27 miliar.

Dia menutup mulut.

Untuk pertama kalinya, tidak ada satu pun anggota keluarga Arga yang membelanya.

Rani tiba-tiba berteriak,

—Semua ini ide Arga!

Arga menoleh tajam.

—Diam!

—Tidak! Kamu bilang cuma mau menakut-nakuti dia!

Aku menatap Rani.

—Tadi kamu bilang tiga tahun pura-pura menjadi sahabatku akhirnya membuahkan hasil.

Dia terdiam.

Aku mengangguk kecil.

—Sayangnya, kamu mengatakannya saat kamera menyala.

Penyidik membawa Arga pergi.

Rani menyusul untuk diperiksa.

Beberapa bulan kemudian, proses hukum berjalan.

Perusahaan Arga bangkrut setelah audit menemukan lebih banyak pelanggaran.

Sebagian aset disita untuk membayar kewajiban kepada pekerja dan kreditur.

Aku memastikan satu hal:

karyawan biasa tidak kehilangan hak mereka hanya karena pemiliknya serakah.

Rumah Pondok Indah tidak kujual.

Aku mengubahnya menjadi pusat pelatihan dan dana bantuan bagi perempuan korban kekerasan ekonomi dan keluarga.

Ruang keluarga tempat mereka pernah bersulang atas kematianku kini menjadi ruang konsultasi hukum gratis.

Ironis.

Tapi aku menyukainya.

Rani akhirnya mengirim surat panjang kepadaku.

Dia meminta maaf.

Mengatakan bahwa awalnya dia hanya iri.

Lalu Arga menjanjikan kehidupan mewah.

Aku membaca surat itu sekali.

Kemudian menyimpannya sebagai barang bukti tambahan.

Aku tidak membalas.

Tidak semua permintaan maaf membutuhkan jawaban.

Setahun kemudian, aku kembali ke Sentul.

Bukan sendirian.

Bu Sari duduk di sebelahku.

Kami berhenti di dekat lokasi kecelakaan.

Pagar jalan sudah diperbaiki.

Tidak ada bekas api.

Tidak ada puing kendaraan.

Hanya pepohonan hijau, suara burung, dan kabut tipis.

Aku membawa sebuah kotak kecil.

Di dalamnya terdapat foto ayahku yang dulu diberikan Bu Sari.

Aku memandang jurang.

—Dulu saya pikir malam itu menghancurkan hidup saya.

Bu Sari menatapku.

—Sekarang?

Aku tersenyum.

—Sekarang saya pikir malam itu mengembalikan hidup saya.

Dia menggenggam tanganku.

Aku kemudian memberikan sebuah amplop kepadanya.

Bu Sari langsung menggeleng.

—Saya tidak mau uangmu.

—Bukan untuk Ibu.

Dia membuka amplop itu.

Di dalamnya ada dokumen pendirian yayasan pendidikan atas nama suaminya yang telah meninggal.

Dana awalnya berasal dari keluargaku.

Yayasan itu akan memberikan beasiswa kepada anak-anak dari keluarga pekerja gudang dan sopir logistik.

Bu Sari menatapku dengan mata penuh air.

—Kenapa namanya memakai nama suami saya?

Aku tersenyum.

—Karena Ayah saya menolong keluarga Ibu dulu.

Ibu menyelamatkan hidup saya sekarang.

Saya rasa sudah waktunya kebaikan itu berjalan ke keluarga lain.

Bu Sari menangis.

Aku juga.

Sebelum kami pulang, aku berdiri sekali lagi di tepi jalan.

Aku memikirkan perempuan yang pernah ada di dalam pikap itu.

Perempuan yang mengira cinta berarti harus mengecilkan dirinya.

Perempuan yang menyembunyikan kekuatan agar suaminya tidak merasa terancam.

Perempuan yang percaya bahwa menjadi istri baik berarti terus memberi, bahkan ketika tidak pernah dihargai.

Perempuan itu memang mati malam itu.

Arga benar.

Hanya saja dia salah memahami kematian siapa yang sedang dirayakannya.

Yang mati bukan tubuhku.

Yang mati adalah rasa takutku.

Kebutuhanku untuk mendapatkan persetujuan orang lain.

Dan kebiasaanku meminta maaf karena menjadi perempuan yang kuat.

Sekarang aku tidak lagi menyembunyikan namaku.

Di setiap rapat besar, aku memperkenalkan diri dengan jelas.

Nadira Prameswari.

Bukan sebagai istri seseorang.

Bukan sebagai anak seseorang.

Tapi sebagai diriku sendiri.

Dan setiap kali aku melihat foto lama Ayah dan Bu Sari di gudang kecil puluhan tahun lalu, aku selalu teringat satu hal:

Kita tidak pernah tahu ke mana sebuah kebaikan akan pergi.

Mungkin ia menghilang selama bertahun-tahun.

Mungkin kita mengira tidak ada yang mengingatnya.

Tetapi suatu hari, di tengah hujan deras, di jalan yang licin, ketika rem gagal dan hidup kita tinggal beberapa meter dari jurang…

kebaikan itu bisa kembali.

Bukan dalam bentuk uang.

Bukan dalam bentuk kekuasaan.

Melainkan dalam bentuk tangan seorang perempuan tua yang mencengkeram pergelangan kita dan berkata:

“Keluar dari mobil sekarang.”

Dan terkadang…

satu tangan seperti itu cukup untuk mengubah seluruh hidup seseorang.

TAMAT.